Saturday, August 11, 2012

The (Un)Reality Show by Clara Ng


Imagine having these people as roomates...

Ini adalah cerita tentang delapan orang biasa-biasa saja (seperti yang disangka oleh tim kreatif televisi)

...dipilih secara acak...
(seperti yang disangka oleh produser televisi juga)

...tanpa audisi...

... untuk tinggal bersama di sebuah rumah untuk direkam,
kemudian ditonton oleh jutaan penduduk Indonesia
sebagai acara hiburan, meraup rating,
meningkatkan citra stasiun televisi
serta

keingintahuan untuk melihat apa yang terjadi
ketika orang-orang tersebut tidak bertingkah sesuai dengan skrip cerita
dan mulai bersikap berdasarkan realitas.

...as the reality did not out exactly as it had been expected.

Karena pada akhirnya ini adalah...

THE (UN) REALITY SHOW

Bacaan sepintas di bagian belakang novel THE (UN)REALITY SHOW karya Clara Ng inilah yang membuat gue tertarik untuk membeli buku yang bersampul biru dan bergambar seluloid film ini. Sebenarnya, gue nggak langsung beli buku ini ketika kali pertama gue ngeliat buku ini tertata rapi di Gramedia. Gue hampir empat kali bolak-balik ke Gramedia, pulang membawa buku yang berbeda, tapi tetap belum berminat untuk membeli buku Clara Ng yang berjudul The (Un)Reality Show ini. Naaaaahhh, untuk yang kesekian kalinya, AKHIRNYA, sodara-sodara, saya beli juga buku ini bersama dengan kedua buku lainnya (Ibuk by Iwan Setyawan dan Petualangan Tom Sawyer by Mark Twain). Pada saat itu ada promo, beli tiga novel Non-TEENLIT, akan mendapatkan sebuah novel gratis. Akhirnya, karena gue beli 3 novel, gue dapet novel gratis yang ditulis oleh Meg Cabot, berjudul Queen of Babble, hemm, lumayan seru novelnya, biarpun gratis. Hihi. 

sumber: http://www.gramediapustakautama.com/
 Oke, sekian yaaaa prolognya. Yang mau gue sampein via tulisan ini sebenarnya adalah, komentar gue akan novel The (Un)Reality Show ini. Ini adalah novel pertama Clara Ng yang gue baca. Gue pikir terbitnya baru, ternyata udah dari Februari 2005 juga udah terbit, tapi gue baru bacanya sekarang-sekarang, bahkan baru selesai baca hari Rabu kemaren, hehe. 

Sebelumnya, gue akan menceritakan sedikit hal yaaa mengenai novel ini. Novel ini bercerita tentang sebuah stasiun TV bernama TPTV yang sedang mencari ide untuk membuat program TV yang tidak biasa supaya dapat memperoleh rating yang tinggi dan dapat membuat gebrakan baru di dunia pertelevisian. Program yang akhirnya tercetus adalah program The (Un)Reality Show, dimana peserta pada program ini berjumlah 8 orang (4 perempuan dan 4 laki-laki) yang dipilih secara acak dan harus tinggal di sebuah rumah yang telah disediakan selama 7 minggu. Tiap minggu, mereka akan diberikan sebuah tantangan yang berbeda-beda dan mereka harus melewati tantangan itu semua. Selama waktu tersebut, mereka bertingkah laku dan berkegiatan sesuai dengan keseharian mereka tanpa dibekali script. Mudahnya, mereka harus berinteraksi satu sama lain tanpa script alias apa adanya di sebuah rumah yang ditinggali bersama-sama, dan semua interaksi serta kegiatan mereka itu ditonton oleh seluruh penonton di Indonesia. Bayangkan, 8 karakter dalam satu rumah hidup berdampingan, dan menghasilkan kejadian-kejadian yang lucu, aneh, bahkan bisa bikin kita ketawa ngakak guling-guling.

Oke, dari awal cerita hingga hampir tiba di ending, gue cukup terkesan dengan alur ceritanya. Gue emang nggak terlalu suka novel yang menguras otak untuk memikirkan alur ceritanya yang berat dan berliku-liku, dan (awalnya gue pikir) novel ini nggak seperti itu. Menurut gue novel ini bercerita dengan gaya bahasa yang ringan dan mudah dimengerti. Tapi jangan salah, gue agak menggunakan sebagian otak gue untuk berpikir keras menyimpulkan ending dari novel ini. Yap, for me, ending dari novel ini sedikit (bahkan sangat) membingungkan!!!

Buat yang udah baca novel ini, mungkin kenal dengan 8 karakter super unik yang memiliki ciri khas masing-masing. Ada Wendy (cewek tomboy berkacamata, memiliki pengetahuan yang luas tentang puisi dan karya sastra, serta hobi tertawa sekencang-kencangnya), Azuza (cilik berumur 10 tahun yang sudah mempunyai filsafat sendiri, bahkan sudah mengenal istilah-istilah seks), Meiying (ibu rumah tangga yang jenuh dengan kehidupan rumah tangga dan kebiasaannya mengurus anak), Tara (wanita yang paling seksi dan jago meramal kehidupan dengan kartu Tarot), Primus (laki-laki yang dianggap paling tampan oleh wanita-wanita di sekelilingnya), Feivel (laki-laki yang ternyata mempunyai pacar laki-laki alias gay), Jodi (laki-laki berperawakan pendek dan sangat risih dengan seorang gay), serta Richard (mantan nara pidana yang pendiam). Selain 8 karakter itu, mungkin nama Hannah, Robert, dan Friska juga tidak asing di telinga kalian yang sudah baca novel ini. 

Naaaahh, hubungan antara Hannah-Robert-Friska dan kedelapan tokoh ini lah yang agak membingungkan. Awalnya, gue berpikir bahwa Hannah-lah (yang memiliki 8 bahkan lebih identitas dalam dirinya) yang menulis cerita mengenai kedelapan tokoh ini hingga pada akhirnya cerita tersebut difilmkan oleh seorang sutradara bernama Sofyan. Namun, begitu melihat sosok Friska ada di dalam scene terakhir film di novel ini, gue berpikiran bahwa Friska ternyata fiktif juga, kan dia ada di bagian film. Kalau Friska adalah tokoh fiktif sutradara, bukankah Hannah dan Robert fiktif pula? Nah loh, bingung sama apa yang saya omongin? Sama, saya juga bingung. Bingung akan ending-nya yang singkat, yang menggantung, yang membuat saya penasaran sepenasaran-penasarannya.

Gue bahkan sampe kirim e-mail dua kali ke mbak Clara Ng, mention dia beberapa kali di twitter hanya untuk menanyakan ending yang sebenarnya. Cuma, mungkin gue emang begitu annoying kali ya buat dia (hehe), makanya e-mail gue belom dibales-bales sampe sekarang.

Lepas bicara tentang ending , novel ini cukup menghibur banget buat dibaca. Cuma siap-siapin hati aja kalo udah mau nyampe ending-nya. Karena, ending dari novel ini bisa menimbulkan berbagai reaksi terhadap pembacanya. Sesuai pendapat para pembaca yang gue temukan hasil googling di situs : http://www.goodreads.com/book/show/1516383.The_Un_Reality_Show , gue nemuin bahwa ada-ada aja pembaca yang salut sama endingnya, suka, bahkan cinta sama endingnya. Ada juga tapi orang-orang .yang bingung, bahkan kecewa dengan endingnya, (just like me)

But, untuk mengetahui kualitas suatu buku, kalian tentu harus membacanya terlebih dahulu, bukan? Jadi, bacalah buku ini untuk mengetahui kualitas buku ini! Apakah bagus? Atau malah justru sebaliknya. Kalian yang membaca, kalian-lah yang menentukan apakah buku ini cukup oke atau nggak buat dibaca. Kalo buat gue, buku ini OKE-OKE aja kok buat dibaca, hihi.

PS: Kalo udah ngerti endingnya, comment yaaa hahaha, jadi gue ikutan ngerti :D

SALAM PEMBACA NOVEL

Caring for ourself, Caring for the other(s) ♥


Hari ini (tepatnya tadi pagi), gue mengalami suatu kejadian yang bikin gue keki setengah mati. Lewat kejadian yang meng-eki-kan ini, gue jadi (sedikit) sadar mengenai gimana sebenarnya sifat dan sikap orang-orang banyak di sekitar kita. Nggak semua bagian masyarakat sih, tapi beberapa aja, mungkin sebagian besar. Mungkin.

Jadi begini, tadi pagi, gue lagi menumpang KRL Commuter Line Jatinegara - Depok. Gue naik dari Stasiun Duri, maklum gue baru dari rumah gue nan asri di Tangerang. Oke, back to the topic~. Jadi, kira-kira sampai di Stasiun Lenteng Agung (Which means dua stasiun lagi, gue bakal nyampe St.UI), naiklah seorang bapak-bapak yang sudah agak tua (mungkin umur 45-55 tahun-an) dan buta. Oke, gue ulang, BUTA. Dia dibantu seorang anak laki-laki di Stasiun Lenteng Agung, yang ga ikutan naik ke kereta, cuma bantuin bapak-bapak itu sampe naik ke dalam KRL aja.

Setelah naik ke kereta, bapak-bapak itu meraba-raba pake tongkatnya, dan dia tetap berdiri di dekat pintu KRL, sambil senderan di deket pintu kereta. Dia memilih untuk nggak duduk. Menurut gue, mungkin dia nggak tau kalo sebenarnya ada bangku kosong, jadi daripada dia (pikir kalo dia) menuh-menuhin jalan, mungkin dia memilih untuk lebih baik berdiri aja di dekat pintu masuk KRL itu. Naaaaaaah, posisi gue sama bapak-bapak itu kan agak jauh kaaaaan yaaaa, jadi gue (saat itu) berharap kalo ada orang-orang di sekitar bapak itu mau menawarkan bapak buta itu untuk duduk, secara bangku masih banyak yang kosong juga gitu. Tapiiiii, ternyata sama sekali nggak ada seorangpun yang bergerak. Gue meratiin sekitar gue terus sambil berpikir, ”masa iya sih, nggak ada banget orang yang mau bantuin dia duduk, at least ngasih tau dia deh, kalo sebenernya masih banyak bangku kosong di kereta itu”

Jujur (bukannya sok baik, sok pahlawan, atau sok suci, sueeeer bukan ini tujuan gue nulis ini), gue agak sedikit sebel sama orang-orang yang nggak mau beranjak dari bangku sekedar buat bantuin bapak-bapak itu, padahal yaaaaah, gue ngeliat banget kalo orang-orang tuh sadar ada bapak-bapak itu. Nggak lama kemudian, gue ngeliat bapak-bapak itu mulai nyelonjor pengen duduk di bawah lantai kereta deket pintu. Gue (yang ngeliat sekitar gue tetep nggak ada yang gerak) langsung gerak ke deket pintu tempat bapak-bapak itu berada dan langsung bantuin dia buat duduk di tempat yang selayaknya.

Tindakkan gue ini bukannya gue lakuin biar dianggep pahlawan atau gimana, cumaaaa, yaampun, sebagai manusia aja deh, masa tega sih liat bapak-bapak yang punya ”kecacatan” kayak gitu duduk di lantai kereta? Toh, menurut gue dia juga bayar gitu kan, dia juga beli tiket, dia sama kayak kita. Naluri gue nggak bisa aja ngeliat orang kayak gitu. Asli yaaa, sekali lagi gue bilang, gue bukannya mau dibilang pahlawan kesiangan atau gimana, cuma nggak tega aja gue sama orang-orang kayak gitu. Toh, ngebantu sedikit juga nggak merugikan kita kan? Coba deeeh yaa, buat lebih peduli terhadap apapun yang terjadi di sekitar lo. Orang-orang kan nggak semuanya sesempurna kita. Bahkan, kalau bisa dibilang, kita juga nggak sepenuhnya sempurna, toh?

Kejadian lain yang serupa mungkin lebih sering kita temuin di tempat lain dibanding di kereta. Di mana? Yap, di Transjakarta. Coba deh, kalo kita naik Transjakarta, pasti kita lebih milih tidur atau pura-pura tidur, biar kita nggak disuruh ngasih tempat duduk kalo ada yang lebih membutuhkan. Bener, nggak? Mungkin nggak semua pengguna Transjakarta seperti itu sih, tapi pasti ada aja deh yang begitu. Jujur, gue juga beberapa kali pernah kayak gitu. Pura-pura tidur, bersikap egois, supaya nggak ada orang yang mengganggu tempat duduk kita. Kadang-kadang, gue bersikap kayak gitu kalo gue udah capeeeeeeeee banget, sehingga bener-bener butuh duduk. Cuma kalo dipikir-pikir, semua orang yang naik Transjakarta juga pasti cape kaaaan. Apa salahnya, kita ngorbanin pegel kita sedikit, buat ngasih tempat duduk (setidaknya) ke orang-orang yang emang butuh tempat duduk, seperti lansia (perempuan atau laki-laki sekalipun), ibu-ibu hamil, atau ibu-ibu bawa anak. Coba pikirin, seandainya kita di posisi mereka, atau orang tua kita di posisi mereka. Butuh duduk, tapi nggak ada yang mau ngasih tempat duduk, sebel kaaan?
 
Gue bukan orang yang berhati mulia (banget-bangetan) dan bukan sok-sokan berlaku bak pahlawan, kok. Tapi, gue cuma cerita soal apa yang gue pikirin dan apa yang gue rasain. Kita hidup di dunia kan nggak sendirian. Apa salahnya sih kita sedikit menolong orang lain, mulai dari orang sekitar kita aja. Di jalan, di kendaraan umum, atau dimanapun juga. Menolong seperti ini nggak butuh modal banyak kan? Cukup rela dan ikhlas. Cukup.
 
Ayo, teman-teman, sama-sama kita sebisa mungkin kita hilangkan sikap egois kita, sikap cuek atau ketidakpedulian kita. Kenapa? Karena sebenarnya, banyak sekali orang di luar sana yang membutuhkan kepedulian dan kemurah-hatian kita. Toh, saya juga bukan sepenuhnya orang yang mulia dan murah hati. Namun, bisa kita mulai sama-sama dari sekarang, kan?

Caring for ourself, caring for the other(s)!

Thursday, August 9, 2012

SaBar KUKSA FIB

*Hal yang menyenangkan hati, banyak sekali bahkan kalau kita bermimpi sekarang ganti baju, agar menarik hati ayoo kita mencari temaaaaann :D*
Okeee, itu lirik lagu kartun Chibi Maruko Chan. Ada kaitannya dengan postingan gue kali ini? Tentu adaaaa :D.

Hal yang menyenangkan hati tuh emang ketika kita bertemu teman-teman baru (bukan berganti baju). Dan yang paling menyenangkan di tanggal 8 Agustus 2012 kemarin adalah, KUKSA FIB berhasil mengadakan acara Sahur Bareng !!! Iyeeeey!!!

Sahur Bareng KUKSA FIB itu proker pertama yang baru nongol pas kepengurusan gue. Ide Bina, bukan murni ide gue. Hehe, seneng banget rasanya kita sebagai kaum nonmuslim bisa juga melayani kaum yang beragama muslim. Hehehe.

Acara Sahur Bareng KUKSA itu semacam SOTR atau bekennya Sahur on the Road. Dilaksanain di Yayasan Bina Insan Mandiri yang terletak di area sekitar terminal Depok.
Acaranya seru bangeeeeett!!! Meskipun baru pertama dan kurang persiapan, tapi gue seneng, gue bisa ketemu bocah-bocah dan anak-anak SMP keatas yang mandiri dan apa adanya. Kagak jaim-jaiman, kagak malu-malu, yaaa apa adanya aje daaaaaaaah.

Acaranya rencananya dimulai jam 3 pagi, tapi berhubung ada miskomunikasi antara panitia dan pihak pengada makanan, jadi acaranya harus tertunda. Tadinya kan sepakat buat ngambil makanan sebanyak 70 porsi jam 3 pagi tanggal 8 Agustus, naaah karena kebiasaan orang Indonesia, jadi mikirnya makanan bakal diambil pagi-pagi tanggal 9 Agustusnyaaaaaaaaaah. Nah loooh kan, jadinya makanan yang 70 bungkus itu baru disiapin sekitar jam 3 pagi. Akhirnya, gue dan beberapa temen lain bantuin mbak-mbak warungnya bungkusin nasi hahaha.

Setelah kebut-kebutan bungkus nasi, jadilah 70 bungkus nasi yang isinya sayur, kentang, telur, dan nasi buat dibawa ke TKP. Kebut-kebutan mobil pun terjadi haha supaya ga telat sahurnya niiiih!! Pesertanya 10 orang dari KUKSA. Ada eykeeeeh, Bina, Inggit, Ginta, Echa, Camilla, Yohanna, Evan, Tera, dan Kak Dea. Kita sampe di TKP jam 03.30 pagi. Fiuuuh syukurlah nyampenya ga setelah subuh yaaa, kalo ga siapa yang mau sahur, hahaha :D
Menu SaBar KUKSA + segelas air mineral
 
Anak-anaknya dikumpulin gituuuu sama bapak-bapak yang ngoordinir disana di sebuah ruangan. Cewe dipisahin duduknya sama cowo. Tanpa kenalan dari anak-anak KUKSA (takut waktunya mepet), akhirnya anak-anak lucu itu langsung doa dan langsung makan! Ada juga orang yang udah bukan anak-anak lagi, remaja gitu duduknya di luar ruangan itu sambil mainan musik.
Ini barisan para cowo

Ini barisan para cewe

Gue nggak makan, karena emang perut gue lagi nggak enak pagi itu, jadi gue cuma minum air mineral sambil ngobrol-ngobrol sama anak kecil disana. Gue kenalan sama beberapa anak yang namanya Hamzah (anak ini udah SMP gitu, pendiem sekali, agak malu-malu, hehe), terus ada Aziz, ada Abdul, Bayu, Jerry, Dede, dan ada Adam. Anak yang namanya Adam ini talkative banget! Suka nyaut omongan gue gitu aja. Dia juga yang ngenalin beberapa orang serta dari mana asalnya. Kecil kecil cabe rawit sih kalo gue bilang. Udah gitu, anaknya lucu gitu, rambutnya udah ada yang putih-putih alias ubanan. Hahaha. Dari cerita dia, gue tau kalo beberapa anak sini ternyata bukan asli Depok. Beberapa dateng dari beberapa daerah, kebanyakan sih dari Jawa Barat. Ada yang dari Sukabumi, Cirebon, Tasikmalaya, ada yang dari Solo, banyaaak deh. Tapi ada juga sih, beberapa yang emang dari sekitar Depok.
Gue sama Adam, si anak periang

Ginta, gue, ADAM, dan Yohanna :D

Seusai makan, ternyata makanan masih sisa banyak, sekitar 18an bungkus gitu. Nah, gue tawarin deh buat mereka-mereka yang masih laper jangan malu-malu buat nambah. Ternyata, emang anak sana makannya banyak bangeet, haha. Pada ga malu-malu buat nambah, yihaaaaaaaaaa gue juga seneng liatnya! Hehe , makanan abis, merekapun seneng :D. Mereka ngambil makanan langsung dibuka langsung dimakan. Ada juga yang ngambil buat dikasihin ke temennya yang tadi belum sempet dikumpulin di ruangan. Sambil beberapa anak yang nggak mau nambah, bantuin beres-beresin ruangan itu sebelum nantinya shalat subuh, gue ngajak beberapa anak buat ngobrol lagi. Ada Paceh, Rizqi, Rio, sama Nanda. Beberapa nggak terlalu banyak mau cerita, cuma Paceh yang mau cerita. 

Dia (Paceh) udah lumayan lama jadi anak didik di Yayasan Bina Insan Mandiri. Dia cerita ke gue kalo dia seneng dan bersyukur banget bisa jadi salah satu anggota Yayasan ini. Dia bisa belajar, dia bisa kenal temen-temen yang lain, tapi dia masih bisa juga nyari duit sendiri. Yap! Paceh juga kerja jadi pengamen. Paceh asalnya dari PoCin (Pondok Cina), kawasan sekitar Depok juga. Dia cerita ke gue, kalo di Yayasan ini, nggak semua anak seneng kaya dia. Banyak juga yang kabur, nggak betah, bahkan memilih buat balik ke jalanan, nggak mau belajar. Paceh juga nggak tau kenapa pas gue tanya alesan temen-temennya kabur. Paceh sendiri udah sering ngajakkin anak-anak jalanan yang dia temuin buat dateng ke Yayasan Bina Insan Mandiri, cuma rata-rata pada nggak minat. Yaaa, kalo menurut gue, tiap orang punya pilihan masing-masing, tapi gue salut sama Paceh, masih mau belajar dan bersyukur. Mandiri lagi, masih mau ngamen buat ngisi kantong sendiri! :D

Selesai ngobrol-ngobrol sama Paceh, gue ketemu anak kecil, namanya Feri. Tapi pas ditanya namanya, dia gamau jawab. Tau kenapa? Dia cadel, jadi malu kalo harus ngomong Feri jadi Feyi. Haha, lucu banget anaknya, suka ngegandeng tangan orang dan ngegelayut gitu di tangan orang lain. Terus suka ketawa gitu anaknya. Haha, kocak banget deeeh!!!
Yohanna, PACEH, gue, FEYI :P

Nah, karena dari tadi gue cuma di dalem ruangan itu, akhirnya gue mutusin buat liat keadaan di luar. Di luar, gue nggak kalah kagumnya! Anak-anak yang gue bilang main musik di luar tadi, ternyata alat musiknya itu dari barang-barang bekas! Dari drum biru yang biasa buat ngisi aer atau bensin-bensin gitu, terus dari botol kaca yang diisi air dalam ukuran yang berbeda-beda sehingga bunyinya juga beda-benda, dari panci bekas, kaleng cat, dan kaleng-kaleng lainnya. Tapi permainan musiknya? Okeeee banget broooh!! Gue jadi inget SAFRIDUO, yang dulu terkenal. Sebelas duabelas sama permainan musik di Yayasan Bina Insan Mandiri ini. Mereka mainin beberapa lagu, satu diantaranya kayanya sih lagunya familiar gitu, tapi gue lupa judulnya apa. Di sini gue tampilin salah satu videonya yaaaa, (beberapa lagi bisa dilihat di account gue di YouTube). Kata Camilla, beberapa anak binaan di Yayasan ini berhasil masuk PTN, bahkan ada yang masuk UI. Salut bangeeeeeeet :”””). Tapi kasiannya, mereka tersandung masalah biaya. Kasian mereka, kuliah di negeripun masih dihambat oleh masalah biaya. Huftw



Setelah permainan musik ini yang akhirnya gue tau nama grupnya The Wrong Shock, gue kepengeeeeeeen banget ngadain foto bareng, gue minta tolong deh sama bapak-bapak yang ngoordinirnya, buat ngumpulin anak-anak biar bisa foto bareng. Tapi sayangnya hasilnya gelap, dan gue juga gatau kalo gelap soalnya bukan gue yang fotoin. Tapi gpp deh, hehe, gue seneng!!!




Setelah acara itu, kita-kita anak KUKSA ngadain evaluasi kecil-kecilan di KFC Lenteng Agung sampe jam 6 pagi. Dan alhasil, gue nggak tidur-tidur dari kemarennyaaaah. Sampe di kosan jam 6.30, mandi dan langsung tidur sampe jam 10, karena gue harus pergi lagi siangnyah.


Echa dan Inggit, si PO

Echa

Tera

Kita semuaaaaaah, Echa-Bina-Camilla-Inggit-KakDea-Gue-Tera


Hal yang menyenangkan hati, banyaaaaaaaaaaak sekali :D. Acara jalaaaan, (Thanks berat buat Tuhan Yesus atas lancarnya acara ini, juga yang besaaaaaaaar banget makasihnya buat Maria Inggita a.k.a Inggit selaku Project Officer dan Bina serta Kak Dea yang mau nyediain mobil buat transportasi kita-kita ke Yayasan Bina Insan Mandiri buat Sahur Bareng. Gak lupa Thanks berat lagi buat peserta-peserta yang ikut = Yohanna, Camilla, Echa, Evan, Ginta, Tera!!!), ketemu temen-temen baru, melihat bakat yang super hebaaaaaaaat dari anak-anak itu, huaaaaaaaaaaah pokoknya menyenangkan sekali berbagi. <3 <3<3

Monday, August 6, 2012

SOP BUAH bikinan MAMA ♥

Awal-awal bulan Agustus ini sepertinya saya sedang produktif-produktifnya menulis cerita di blog ini. Hehe, nggak apa-apa lah ya, daripada nggak menulis sama sekali seperti beberapa saat yang lalu :D

Tadi sore, saya sama mama saya pergi keliling kompleks sebentar mencari martabak keju. Kebetulan, mama saya masuk kerja hanya setengah hari. Tapi nggak ada seorangpun yang jualan martabak. Maklum, bulan puasa, lagi pula hari belum mencapai malam. Biasanya, kan, yang jualan martabak baru bermunculan sore hari menjelang malam.

Nah, sepanjang jalan, yang saya lihat hanya 3 jenis pedagang. Pedagang timun suri, pedagang gorengan, dan pedagang es buah!!!
Ketika melihat gerobak es buah di tengah hari yang panas, saya langsung pengen! Random sekali, memang. Tapi nggak ada yang bisa nyalahin, toh? Wong, hari emang lagi panaaaaaaaaas banget :D

Akhirnya saya nyeletuk, "Ma, beli es buah, yuk".
Mama saya bilang, "Di rumah banyak buah-buahan, kita bikin aja ya ntar di rumah, tinggal beli timun suri".

Naaah, martabak nggak dapet, tapi es buah dapet. Sampai di rumah, mama langsung ganti baju, ke dapur, bikinin es buah. Dan akhirnya, jadi deh sop buah bikinan mama saya.

Isinya : melon, lengkeng, buah naga merah, timun suri, es batu, dan sirup markisa ♥

New TUMBLER by J.CO ♥

Sekitar minggu lalu, gue jalan-jalan ke Mangga Dua Square sama keluarga gue. Family time gitu sekalian belanja, hehehe :D
Naah, beberapa saat sebelum jalan-jalan itu, gue lagi ngidam banget makan J.Co Donuts. Akhirnya, di Mangga Dua Square, gue beli donat di J.CO 1/2 lusin (6pcs). Gue nyobain donat yang ada blueberry-blueberrynya, terus Green Tea, sama Chocolate. I Chocolate and Blueberry

Pas bayar di kasir, gue ngeliat TUMBLER lucu gitu bentuknyaaa. Ada warna ungu, sama biru kalo gue ga salah. Gue jatuh hati banget sama TUMBLERnya, terus gue tanya harganya. Harganya IDR 99, free segelas minuman ukuran UNO, bebas minuman apa aja. Kebetulan, saat itu emang gue lagi pengen punya TUMBLER, tapi gue berencana mau beli di tempat lain. Gue pikir, yaudah deh nanti-nanti aja belinya. hehe

Pas nunggu bokap nyokap muter-muter, dan kaki gue pegel, akhirnya gue mampir lagi ke J.Co, mau beli minum. Tapi, karena makin jatuh hati sama TUMBLERnya, yaudah akhirnya, gue memutuskan buat beli. Untuk free minumannya, gue pilih Mochabella Freeze ukuran UNO. Voila! Finally, I have a new TUMBLER ♥


Katanya sih, ada warna coklat juga, tapi lagi kosong persediaannya. Yaudah, ungu juga unyuuu :D

IBUK (Part 2)

Berbicara tentang kata "Ibuk", saya kadang bete denger kata "Ibu", tanpa "k" yaaa.
Kenapa bete?
Soalnya,
setiap saya telfon customer service provider HP saya, saya dipanggil IBU
setiap saya masuk Department Store, selalu disapa "Selamat datang di _____, IBU"
setiap saya masuk toko buah, dan nanya-nanya sama mas-masnya, saya mendengar "Tunggu sebentar ya, IBU"
setiap saya ke Bank (pake sepatu kets nih padahal, udah gaya anak muda kece gitulah), disapanya "Selamat pagi, IBU, ada yang bisa dibantu?". Pas mau keluar dari Bank, "Terima kasih, IBU. Silahkan datang kembali"
pas ke rumah sakit kemaren, dipanggilnya "IBU"

Di mana di mana di mana, saya bisa dipanggil dengan panggilan selain "IBU"???
Emang muka saya setua itukah? :(

IBUK (Part 1)

Gue suka banget baca novel ♥. Novel drama, komedi, sampe novel yang berbicara mengenai kisah perjalanan hidup seseorang. Cuma, jangan pernah nyodorin gue novel yang horror, apalagi film horror Indonesia yang kemudian diterbitkan novelnya. Hehehe.

Bulan Januari, gue beli buku yang ditulis oleh Iwan Setyawan yang berjudul "9 Summers 10 Autumns". Novel ini bercerita tentang perjalanan seorang anak supir angkot yang merupakan anak ke-3 dari lima bersaudara yang akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan di New York, dan sukses membahagiakan keluarganya.
Buku ini terinspirasi dari kisah nyata yang dialami si Penulis. Tidak hanya terinspirasi, tetapi buku ini juga menginspirasi kita semua bahwa sebenarnya semua impian dapat terwujud dengan kegigihan, kedisiplinan, dan kerja keras. Kesederhanaan bukan berarti kemiskinan. Kemiskinan seseorang akan harta atau ketidakmampuan kehidupan ekonomi seseorang tidak berarti mereka miskin akan cinta.
sumber : http://frenda.wordpress.com/2011/11/15/9-summer-10-autumn-on-jakarta-to-kediri/
Novel ini berhasil membuat gue terharu. Sama seperti novel-novel mengharukan lainnya, gue kebiasaan buat nangis kalo baca cerita sedih. Alhasil, air mata bercucuran setelah selesai baca novel ini. Salut banget sama keluarga Iwan Setyawan, kegigihan kedua orangtuanya, dan kesabaran ke-4 saudaranya.

Dari segi penulisan, gue cuma bingung, kenapa Penulis menggunakan tokoh seorang bocah kecil berseragam merah putih yang menjadi media si Penulis bercerita. Padahal, rasanya mungkin bocah kecil itu fiktif (ya pasti fiktif menurut gue), tapi kenapa harus berseragam? Gue juga nggak tau :D. Tapi kemudian, bocah ini sekilas juga muncul di buku Iwan berikutnya yang berjudul, "Ibuk".

Awalnya, gue nggak berminat membeli buku Iwan yang baru, soalnya gue udah beli buku banyak buat stock baca pas liburan (such a novel freaky!!!) hehe. Tapi pas gue ke Gramedia, dan ada promo beli 3 novel gratis 1 (novel non teenlit), akhirnya gue beli deh novel "Ibuk" ini bersama 2 novel lain, jadinya gue dapet gratisan 1 deeeh :D

Naaaaahhh, baru pagi hari ini, gue berhasil menyelesaikan "Ibuk". Bukunya nggak kalah menginspirasi ternyata, mengharukan (juga). 
Kisah yang berawal dari sepasang suami istri yang sepakat mengarungi bahtera rumah tangga. Sepakat berlayar walau badai menghadang (seperti lirik lagu Ada Band) hehe. Lima anak kemudian terlahir dari rahim si istri yang kemudian dipanggil "Ibuk". Ibuk yang tidak lulus SD dan Bapak yang tidak lulus SMP bertekad bahwa kelima anaknya harus menyelesaikan pendidikan sampai ke bangku perguruan tinggi.

Sekilas, jika kita tidak tahu bahwa ini terinspirasi dari kisah nyata, mungkin kita (termasuk saya) berpikiran bahwa keinginan Bapak dan Ibuk ini adalah hal yang sangat sulit. Bagaimana bisa, lima orang anak disekolahkan dengan kondisi mereka yang hanya sebagai pasangan supir angkot dan ibu rumah tangga? Tapi, mereka bisa. Memang, kita harus sadar, tidak ada yang tidak mungkin jika semuanya dibalut dengan kegigihan dan berpondasikan cinta. Mereka bertujuh selalu bergandengan tangan ketika berlayar. Masalah demi masalah datang dan pergi ketika telah dapat diselesaikan. Impian Bapak dan Ibuk untuk menyekolahkan anak-anaknya dan memberikan yang terbaik, berhasil. Benar-benar kisah yang harusnya dapat menyadarkan kita semua untuk bersyukur akan kenikmatan hidup yang sekarang ini sudah sangat mudah didapat. (Cieilaaah).

Keluarga yang benar-benar menginspirasi gue. Dari tadi gue cuma bisa bilang kalimat "buku ini menginspirasi" berulang-ulang, karena nyatanya buku ini memang memberikan inspirasi buat semua yang membacanya. Hidup adalah hampa tanpa cinta. Cinta adalah hampa tanpa kesabaran dan keikhlasan. Ibuk dan Bapak punya cinta yang sabar dan ikhlas.

Novel ini bagus banget menurut gue buat dibaca. Membuat kita bersyukur dengan kehidupan kita masing-masing. Masih ada yang lebih susah dari kita tapi bisa sukses. Banyak orang sekarang (termasuk gue) masih kurang bersyukur, ya kan? Liat orang begini, kita pengen. Liat orang begitu, kita juga pengen. Semua nggak pernah puas. Padahal, masih ada orang yang dengan sangat "pas-pasan" dan "seadanya" ternyata bisa jadi luar biasa!!!

Dalam novel ini, perjalanan hidup Iwan Setyawan dan keluarga digambarkan dan dikumpulkan menjadi suatu album kehidupan. Buku kenangan yang menyimpan memori-memori kehidupan mereka. Jatuh bangun keluarga mereka. Senang sedih perasaan mereka. Iwan meninggalkan kehidupan korporatnya di New York dan mengabdi untuk menulis serta menemani keluarganya di Batu, Malang (tempat hidupnya sejak kecil). Tokoh Ibuk dan Bapak menjadi pahlawan dalam buku ini. Dalam kehidupan Iwan.

Ayah dan Ibu kita juga pahlawan buat kita, bukan? Kita bisa menjadi Iwan-Iwan yang lain, meskipun tidak harus serupa, tidak harus mendapat pekerjaan di New York, tapi kita harus memberikan sesuatu yang membahagiakan buat mereka. Hehehe (bijaaak beneeer) . . :''''')

Salut buat Iwan Setyawan dan keluarganya. Salut untuk Ibuk juga salut untuk Bapak. Cinta kalian buat keluarga kalian patut diacungi jempol.

Yang belum sempet baca, atau nggak doyan baca, coba didoyan-doyanin dengan baca buku ini.
It's a very inspiring book.


Sunday, August 5, 2012

Kenny Rogers Roasters

Hari Selasa kemaren, kalo engga salah, tanggal 31 Juli 2012, gue sebenernya berencana ke Tebet sama Aan, temen baik gue (udah kayak kakak sendiri) di KMK UI, tapi karena sorenya ada rapat Misa Alam, jadi gue batal gitu ke Tebetnya.

Naaahh, akhirnya, kita ke Kenny Rogers aja deh di GI, buat sekalian makan siang. Emang udah target sih, kalo awal bulan harus ke sana, nyobain :D

Nah, ketemuan jam 12an, kita muter-muter nyari Kenny Rogers yang kata peta sih di lantai 3A WM, tapi ternyata pindah ke LG. Yaudeeee, kita cari deh ke LG, akhirnya ketemu ..

Setelah mbolak-mbalik menu, akhirnya kita sama-sama mutusin buat beli "Quarter Meal", isinya 1/4 potong ayam panggang + 3 dishes (boleh dipilih sendiri) and 1 pc muffin. Minumnya ada yang refill ada yang ngga, gue sama Aan milihnya yang refill. Hehe..
Selain itu, kita juga mesen Crispy Wonton, semacam cemil-cemilan gitu. Lumayan enak :p

Muffin-nya juga beda rasa, gue yang kismis, Aan sepertinya sih rasa keju.

Me and my Lunch :3

Gue mutusin buat milih 3 dishesnya : Potato Salad, Macaroni and Cheese, and Fresh Fruit Salad
Minumnya, refill. Iced Blackcurrant



Aan and his Lunch
Aan milih 3 dishesnya : Crisp Garden Salad, Garden Pasta Salad, and Mashed Potato
Minumnya Ice Lemon Tea


Naaaah, setelah makan selesai, saatnya bayaaar deeeh. If you have a BCA Credit Card, you'll get 20% discount, karena Aan punya, jadi kita diskon makannya. 1 orang jadi kena IDR 76. Awal bulan nggak papa lah ya, akhir bulan makan tempe lagi. hihi...

Makanannya enak banget, tapi enakkan kalo makan pas lagi panas-panas, kalo udah didiemin beberapa saat, ayamnya jadi dingin, sausnya juga jadi nggak enak. Kalau untuk dishes-nya yang paling yahud menurut gue itu Macaroni and Cheesenya, sueeer enak banget :D
Yuk boleh kakak-adek-om-tante dicoba :D


You have to taste it, guys!!!