Tuesday, February 24, 2015

Kebinatangan Manusia Dalam Novel Lelaki Harimau - Eka Kurniawan

SINOPSIS

Seorang lelaki dua bersaudara bernama Margio merasakan bahwa ada harimau bersemayam di dalam tubuhnya ketika ia mulai beranjak dewasa meninggalkan remaja. Lika-liku kehidupan keluarga yang carut-marut sudah menjadi makanan sehari-harinya, bahkan semenjak ia berusia bocah. Sebut saja kekerasan seorang ayah terhadap anak dan keluarganya hingga kemurungan seorang ibu yang berujung kesintingan kemudian berakhir perselingkuhan dengan tetangga. Selingkuhan ibunya yang dipikir mampu membuat bahagia tak lebih dari seorang pecundang mata keranjang. Cinta akan ibunya membuat harimau dalam lelaki ini bertindak menghabisi nyawa sang perebut hati ibunya dengan cara yang paling brutal.

CUAP-CUAP MENGULAS

Sudah lama saya nggak pernah baca novel dengan begitu serius. Meskipun nyatanya saya harus menghabiskan waktu hampir seminggu, novel berbobot 190 halaman ini habis juga saya lalap.

Alasan pemilihan novel ini sebagai salah satu anggota di daftar buku yang akan saya baca sebenarnya cukup sederhana. Pertama, rangkuman cerita di cover bagian belakang novel ini cukup menarik dan unik. Membuat saya penasaran untuk mendalami kisahnya. Kedua, novel ini saya rasa bukanlah sebuah novel percintaan remaja yang dulu menjadi makanan saya saat SMA. Ketiga, saya ingin mencoba mencicipi sebuah bacaan yang lumayan ‘berat’, atau setidaknya mampu membuat otak saya sedikit bekerja untuk mencerna kata per kata hingga rajutan kalimat di setiap paragrafnya. Dan saya rasa, Lelaki Harimau cukup mampu membebani otak saya dengan ceritanya yang rumit dan penuh kejutan.

Ketika mata dan otak saya berusaha bersinergi memahami permulaan cerita di halaman pertama, di situ saya langsung merasa lelah. Bahasa dan diksi yang digunakan terkesan cukup ‘jadul’. Latar yang digunakan juga tidak kalah kuno. Tidak ada penggunaan gadget. Hanya ada layar tancap bersama di lapangan. Latar tempat hanya di perkampungan (yang disebutkan sebagai kota) dan latar waktu sepertinya adalah masa-masa kala sinema Cintaku di Kampus Biru masih berjaya. Demi menghabiskan halaman-halaman selanjutnya, mau tidak mau saya harus menyesuaikan diri dan berusaha memahami gaya penulisan yang digunakan sang pengarang, Eka Kurniawan.

Seorang pembaca yang memberikan pengakuan di cover belakang novel ini menyebutkan bahwa novel ini serupa dengan kesimpangsiuran dan ketumpangtindihan bahasa-bahasa Byron, Kafka, Virgina Woolf, Edgar Alan Poe, Faulkner, Marquez, dan juga Morrison. Siapa mereka? Saya sendiri bahkan hanya pernah mendengar namanya namun tidak begitu tahu pasti seperti apa bahasa mereka. Yang pasti, novel ini dengan kerumitannya yang tak terbantahkan, mampu membuat saya tenggelam larut dalam kisahnya.

Dengan alur campuran yang digunakan, saya seolah dipermainkan sekali maju sekali mundur kemudian maju lagi, mundur beberapa langkah ke belakang, kemudian maju lagi hingga saya mencapai akhir cerita. Hebatnya, saya tidak pernah merasa dipermainkan dengan tak layak. Perpindahan setiap bagian kisahnya terlalu (atau bahkan sangat) halus. Penghubung antar kisah dibuat sedemikian saru sehingga saya kadang tidak sadar bahwa saya sedang dipaksa mundur ketika saya berada di satu peristiwa ataupun sebaliknya. Uniknya, titik awal dan titik akhir kisah ini hanya bertumpu pada satu peristiwa, yakni pembunuhan yang dilakukan Margio dengan begitu sadis —kemudian diketahui bahwa harimau di dalamnya lah yang berperilaku—.

Keseluruhan kisah yang dituangkan Eka di dalam novel ini membuat saya menganga begitu selesai membaca. Seluruh kekecewaan, kesadisan, kesedihan, berikut juga kesengsaraan bahkan nafsu birahi seperti dicampuradukkan menjadi satu rentetan kisah yang mencengangkan. Singkatnya, semua bermula dari hilangnya rasa suka ibu Margio karena tidak pernah dikirimi surat oleh ayah Margio saat mereka berdua sedang menjajaki hubungan jauh sebelum menikah, hingga pada akhirnya ibu Margio menjadi orang yang sangat kaku jika tidak bisa dijuluki sinting setelah menikah dengan lelaki yang kemudian menjadi ayah Margio, menyebabkan adanya perselingkuhan ibu Margio yang lanjut berbuah hati yang akhirnya mati, dan pada akhirnya si penanam benih ikut-ikutan dihabisi.

Sebelum cuap-cuap mengulas yang entah jelas atau tidak ini saya sudahkan, saya ingin memasukkan pemikiran seorang Bapak (atau Romo) yang sekali waktu saya ceritakan bahwa saya sedang membaca novel ini. Beliau menyampaikan bahwa dari judulnya, sepertinya novel ini akan menampilkan sisi ‘kebinatangan’ manusia. Dan ternyata memang begitu adanya. Sifat ‘kebinatangan’ yang bertindak tanpa berotak, diam karena tidak mampu (tidak mau) bersuara, mengamuk tanpa bisa diredam, juga mengabaikan akal sehat ketika birahi memuncak. Sifat ‘kebinatangan’ yang sadar atau tidak sadar, mungkin saja turut tinggal di dalam diri setiap manusia yang katanya makhluk paling bermartabat dan merupakan citraan penciptanya.

Lelaki Harimau berhasil menguliti sisi ‘kebinatangan’ manusia ini dengan sedemikian halus namun gamblang. Selain itu, Lelaki Harimau sarat pula dengan pesan moral yang bertema besar keluarga. Betapa nasib sebuah keluarga ditentukan dari sang nahkoda rumah tangga. Carut marut kah atau bahagia kah?

Lebih lanjut lagi kalau ditarik lebih jauh hingga ke akarnya, kesimpulan singkat yang bisa saya rangkum dari keseluruhan kisah ini adalah bahwa betapa sakralnya sebuah keterbukaan. Berbagai masalah datang silih berganti hanya karena tidak adanya keterbukaan. Ketidaksiapan seseorang membagi penatnya dan memutuskan untuk menyimpannya rapat terbukti justru jadi malapetaka yang maha dahsyat. Memancing sisi ‘kebinatangan’ dari seekor manusia keluar menampilkan kebuasannya. Bahagia pun sejatinya menjadi lenyap karena 'diam' sedemikian didewakan.

Memilih untuk membaca novel ini sama sekali bukanlah pilihan yang tidak tepat. Kita akan dibawa ke suasana amat lain dari suasana kehidupan penuh hiruk pikuk kendaraan, masuk dan menelusuri kehidupan yang amat terperikan, penuh kepedihan dan teramat kelam.


Kiranya apakah kalian berminat menjelajah kisah Margio?

1 comment:

Thanks for leaving a comment :)