Saturday, January 31, 2015

Untuk MFK: Cepat Sembuh!

Memang, nggak akan ada yang pernah tahu kapan seseorang bisa terserang penyakit dan kapan ia akan sembuh. Nggak akan ada yang pernah tahu, wujud penyakit seperti apa yang mungkin saja menyerang. Kita cuma bisa mencegah dan mungkin berjaga-jaga. -sederet kalimat yang entah dicetuskan siapa
Faqih, akhirnya kamu membuktikan kata-kata di atas itu benar adanya. Semua kaget kamu sakit, semua nggak nyangka kamu tiba-tiba tergolek lemas tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Mata kamu terbuka, tetapi kamu tidak menatap pasang mata teman-teman yang datang. Kamu hanya memandang lurus ke atas. Tangan kamu bergerak, tapi tak sedikitpun kamu bisa membalas sentuhan tangan teman-teman yang peduli sama kamu. Kamu hanya menggenggam telepon genggammu dengan erat, itupun karena suster yang menyarankan. Mulut kamu membuka namun kamu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Kepalamu menoleh kiri kanan tapi tak sejenakpun kamu mengalihkan pandanganmu kepada mereka yang datang. Mengapa kamu terlihat begitu kosong, Faq?

Faqih, saya teringat, beberapa waktu lalu kita sempat lebih dari sekali berbalas pesan singkat. Saya memang tak sesering itu mencipta komunikasi dengan kamu, tapi obrolan di pesan singkat itu membuat kita banyak bercerita. Dari obrolan itu, saya tau kamu pernah kena penyakit dan sedang dalam proses penyembuhan. Kamu kuat, loh Faq. Buktinya, kamu berhasil menjalani proses pemulihan hingga hampir lima bulan. Lalu, kamu juga bilang kalau kamu punya keinginan bekerja di Google. Ya ampun, Faq, kamu nggak bisa kerja di Google kalau kamu nggak sembuh dari sakitmu sekarang juga! Masih melalui obrolan singkat itu juga, kita mencoba membuat rencana jalan-jalan singkat kan, Faq? Hang out ala ala anak gaul Jakarta, Faq. Waktu itu saya minta kamu temenin saya ke Citos di saat teman-teman yang lain nggak bisa, tapi kamu juga ikutan nggak bisa, terus kita malah mau jalan-jalan di lain waktu. Ya kan Faq? Isi obrolan singkat yang kita lakukan itu masih saya ingat Faq, meskipun sebelumnya kita super jarang ngobrol kayak gitu.

Faqih, sepulang saya dan Vina jenguk kamu hari ini tanggal 31 Januari, saya kembali buka foto-foto saya pas gladi resik wisuda. Waktu itu, kamu sama Sekar nyamperin saya ngasih selamat. Dengan gaya kamu yang khas dan gaya Sekar yang ceria, kita foto-foto di atas rumput Rotunda. Foto itu sempat kamu upload ke Path dan kamu jadiin profile picture di Line. Wajah kamu yang penuh ekspresi tapi tetap sok cool gimana gitu. 

Faqih, menjelang Natal 2013 dan Tahun Baru 2014 lalu, kita juga pernah kumpul di kosan Sophia buat tukeran kado sama Melyssa, Vina, Sekar. Di situ kita semua mengungkapkan penilaian kita satu sama lain. Di situ juga kita kasih kamu birthday surprise yang salah satu fotonya sudah di-frame sama Sekar dan sudah dipajang di meja tulis kamar saya. Di situ, kamu jadi satu-satunya cowok, terus memegang kue (martabak mini aja kalau nggak salah) dan kamu mengembangkan senyum yang kelihatan gigi rapinya. Kita emang nggak pernah kumpul-kumpul lagi setelah itu, tetapi bagaimana kita mau kumpul-kumpul lagi kayak gitu kalau kamunya sakit, Faq?

Faqih, keluarga kamu sayang kamu, teman-teman juga sayang kamu. Tolong sembuh ya Faq. Jangan nggak ngenalin kita semua kayak sekarang. Jangan susah makan, jangan melihat ke langit-langit kamar terus, jangan diam aja Faq. Gerak ya Faq, ngomong, kenalin kita lagi ya Faq. Jangan tinggal di rumah sakit terus Faq. Kamu pasti bisa sembuh, semua orang membagikan semangatnya untuk kamu biar kamu lekas sembuh. 

Faqih, saya tahu, tulisan ini nggak akan dibaca sama kamu di tengah perjuangan kamu melawan sakit kamu sekarang. Tapi setidaknya, di saat kamu sembuh nanti, kamu bisa baca tulisan ini dan kamu tahu, betapa saya, dan pastinya Sekar, Melyssa, Vina, Sophia, dan juga teman-teman kamu yang lain serta keluarga kamu, begitu sayangnya sama kamu dan mau memberikan dukungannya buat kamu supaya kamu cepat pulih.

Sembuh ya Faq, kita semua berdoa buat kesembuhan kamu. Sembuh dan wujudkan cita-cita kamu kerja di Google dan cita-cita kamu yang lain. Sembuh ya Faq, FAQIH harus SEMBUH!

*doain Faqih (JIP UI 2010) ya teman-teman supaya dia lekas sembuh. Amin.

Saturday, January 24, 2015

Butuh Cerdas Untuk Mengikuti Drama KPK-Polri Bulan Januari.

Semenjak Komjen Budi Gunawan diusulkan sebagai cakapolri oleh Presiden Jokowi dan diikuti penetapannya sebagai tersangka oleh KPK, media mulai terus diramaikan dengan berita-berita terbaru tentang beliau. Perdebatan juga muncul tak hanya di kalangan tokoh publik dan tokoh ternama, melainkan juga melalui berbagai media sosial yang digunakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Begitulah dampak kebebasan berpendapat di jaman serba terbuka sekarang ini. Apa saja bisa disampaikan dan disuarakan dengan bebas menggunakan media yang bertebaran.

Saya rasa semuanya sudah tahu bahwa Komjen BG ditetapkan sebagai tersangka SATU hari sebelum Fit & Proper Test dilakukan oleh DPR. Dari situ, kemudian munculah dugaan bahwa penetapan tersangka Komjen BG oleh KPK sebagai salah satu langkah yang berbau-bau politik. Sulit memang untuk mengabaikan dugaan itu, mengingat penetapan Komjen BG sebagai tersangka dugaan rekening gendut terkesan sangat mendadak. Padahal, kasus itu merupakan kasus dari bertahun-tahun lalu, mungkin bahkan dari waktu saya masih cuek dengan berita-berita terkait negara.

Hal yang menarik adalah, peliknya kasus Komjen BG baik sebagai tersangka maupun sebagai cakapolri yang dipertanyakan kelayakannya ini seakan menjadi gerbong paling depan, yang diikuti gerbong-gerbong kasus lainnya. Sebut saja pengungkapan salah satu politisi PDI-P terkait dugaan pelanggaran etik pimpinan KPK, Abraham Samad, yang membuka isu tentang enam kali pertemuan beliau dengan PDI-P saat bursa cawapres Jokowi 2014 lalu. Gerbong yang menyusul di belakangnya ialah ketika wakil pimpinan KPK, Bambang Widjojanto, ditangkap oleh tim Bareskrim Polri pada hari Jumat, 23 Januari 2015 kemarin karena dugaan kasus pengarahan kesaksian palsu pada Pilkada Bupati Kotawaringin Barat. Nah, mengutip kata-kata Butet Kertaradjasa yang diungkapkan kepada media, "...segoblok-gobloknya orang Indonesia, meskipun Polri mengatakan itu bukan bagian dari skenario, tapi kita kan bukan orang goblok..." (Sumber - diakses pada 24 Januari 2015, 17:16).

Memang benar, di tengah kepemimpinan Presiden Jokowi sekarang, banyak orang-orang yang sudah mulai melek akan kondisi dan situasi politik juga situasi pemerintahan bangsa ini. Bahkan, kaum awam yang jarang baca berita seperti saya pun akan melihat kasus saling menersangkakan ini sebagai upaya politisasi - kriminalisasi yang disebabkan adanya kepentingan pihak-pihak tertentu. Lantas, bagaimanakah sikap kita seharusnya?

Jika kalian ingin mengetahui opini seorang awam yang sok tahu seperti saya, silahkan baca tulisan ini sampai selesai. Namun, jika kalian merasa yakin akan sikap yang sudah kalian ambil, silahkan tinggalkan tulisan ini. Saya sih nggak masalah. Ini tulisan iseng kok :)

Saya tidak menampik pandangan bahwa masyarakat saat ini sudah mulai kritis, sudah mulai berani menyuarakan pendapat, mulai terang-terangan menyampaikan dukungan maupun penentangan akan suatu hal maupun kejadian. Tapi hati-hati, apakah sikap kritis yang kita tampilkan itu benar-benar dilakukan karena peduli, atau justru hanya ikut-ikutan tren 'kritis' masa kini? Saya pribadi berusaha menjadi yang pertama dan menjauhi alasan kedua. Namun, demi sikap kritis yang benar-benar ditimbulkan karena peduli, jangan biarkan pandangan kita diusik oleh provokasi yang banyak dimanfaatkan oleh kalangan tertentu. Hati-hati.

Mengenai persoalan KPK-POLRI di bulan Januari ini, saya memiliki beberapa pandangan tersendiri yang akhirnya menggiring saya untuk mengambil satu sikap sebagai anggota masyarakat Indonesia. Saya memilih untuk menghasilkan tulisan ini. Saya memilih untuk berusaha mengajak kalian berpikir jernih. Mudah-mudahan usaha saya berhasil.

Keisengan saya ini muncul karena keresahan saya saat membaca begitu banyak status Facebook maupun Twitter dari netizen yang terkesan terburu-buru menyalahkan salah satu pihak. Baik menyalahkan pihak bapak Presiden, menyalahkan pihak KPK, maupun menyalahkan pihak Polri. Pertanyaan saya satu, sudahkah kesimpulan mereka itu dihasilkan dari kumpulan informasi dan data yang lengkap? Sudahkah sikap menyalahkan atau mendukung salah satu pihak didasarkan pada fakta yang memiliki bukti yang kuat? Ataukah sikap itu muncul hanya karena mereka (mungkin juga kalian) ingin ikut-ikutan dibilang sebagai rakyat yang kritis dan sedang mengawal jalannya pemerintahan?

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) BUKAN milik AS atau BW

Hadirnya KPK sebagai satu-satunya lembaga yang bertugas menumpas para koruptor membuat KPK memiliki senjata yang amat solid dan kuat, yap, harapan dan kepercayaan rakyat yang jelas-jelas antikorupsi. Harapan dan kepercayaan rakyat yang berbuah dukungan kuat pada KPK itu seolah membuat KPK dipandang sebagai malaikat negara dan lembaga negara yang 'super'. KPK selalu benar, begitu prinsipnya.

Harus diakui, pengungkapan berbagai kasus korupsi yang berhasil dilakukan oleh KPK seakan mampu memperkuat julukan 'malaikat' itu dari hari ke hari. Lantas pertanyaannya, apakah di dunia ini ada, sesuatu yang benar-benar berwujud 'malaikat'? Mungkin, KPK sebagai lembaga bisa kita juluki malaikat. Akan tetapi, bukan tidak mungkin kan ada pihak-pihak yang menjadikan KPK sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu? Pihak-pihak ini yang tidak cocok dijuluki malaikat.

Saya bukannya mendukung tindakan korupsi. Jelas, saya menentang. Akan tetapi, apakah tagar #SaveKPK yang disuarakan itu harus berarti kita #SaveSamad dan #SaveBW pula? Menurut saya, tidak.

Saya berani bilang, bukan berarti orang-orang yang menyerang Samad dan menyerang BW (atau mungkin menyerang komisioner KPK lain) mendukung yang namanya korupsi. Belum tentu, kawan. Kita boleh saja me'malaikat'kan KPK, tapi saya rasa, kurang tepat jika kita juga me'malaikat'kan para pimpinannya. Pimpinan KPK adalah manusia yang juga mungkin melakukan kesalahan. Dan untuk mengambil kesimpulan terkait pimpinan KPK, terkait mereka salah atau tidak, akan lebih baik jika kita berbicara berdasarkan bukti dan fakta. Mata kita pertama-tama harus terbuka. Akan tidak elok jika kesimpulan pikiran kita hanya berdasarkan pendapat media, maupun pendapat-pendapat pihak tertentu yang punya kekuatan mempengaruhi opini publik. Lagi-lagi hati-hati.

Sekarang, satu persatu kasus pimpinan KPK mulai dikuak ke permukaan. BW sudah dijadikan tersangka. AS sudah ditimpa isu tidak sedap terkait pelanggaran etik pimpinan KPK. Bisa-bisa, menyusul pula di belakangnya, kasus yang menimpa Adnan Pandu Praja pun diungkap. KPK terancam lumpuh karena boleh dibilang semua pimpinannya terancam 'diserang'. Saya setuju, kita harus dukung #SaveKPK. Tapi, saya menolak jika saya harus dukung #SaveSamad atau #SaveBW. Dan saya menyayangkan orang-orang yang mendukung #SaveSamad atau #SaveBW hanya karena orang-orang itu mendukung KPK.

KPK memang harus diselamatkan. KPK harus ada untuk terus memberantas korupsi. Tapi di sisi lain, kasus yang menimpa Abraham Samad dan Bambang Widjojanto harus tetap diungkap kebenarannya. Sulit untuk diabaikan karena sudah terlanjur diungkapkan.

Lagi-lagi, akan sangat terburu-buru jika kalian sudah menentukan sikap mendukung Samad atau BW tanpa tahu mereka itu sebenarnya benar atau salah. Saya bukan anak Samad jadi saya tidak tahu apakah ia benar atau tidak. Saya juga bukan isteri BW. Jadi saya tidak tahu BW benar atau salah. Yang pasti, asap tidak mungkin muncul kalau tidak ada api. Dan saya, memilih untuk menunggu kebenaran itu terungkap, nanti.

Satu hal sebelum saya membuka bahasan selanjutnya, kita harus SADAR pula bahwa, tuduhan yang dilayangkan pada Abraham Samad dan juga kasus yang menimpa BW adalah murni urusan personal yang menimpa per-pribadi, bukan menimpa KPK sebagai lembaga. Hanya saja, pihak-pihak yang 'tahu', sangat pintar (atau malah sebaliknya) memanfaatkan momen yang ada. Momen di mana Komjen BG sudah di-tersangka-kan terlebih dahulu. Momen di mana, kaum awam dapat menarik kesimpulan dengan cepat bahwa KPK dan POLRI sedang berbalas serangan dan adu kekuatan. Momen di mana, dengan mudahnya opini publik dapat digiring pada kesimpulan bahwa 'KPK DISERANG'. Karena ini memang masih momen di mana Samad dan BW masih menjadi komisioner KPK.

Jika memang KPK akan kehilangan para komisionernya, bisa saja KPK akan menjadi lumpuh. Tapi, menurut sok-tahu-nya saya, sepertinya kelumpuhan KPK sangat mungkin kok berlangsung hanya dalam waktu singkat. Atau mungkin tidak sampai lumpuh sudah divaksin duluan. Jadi, nantinya KPK akan tetap kembali dengan jajaran komisioner yang benar-benar baru untuk menjegal para koruptor yang berkeliaran.

Kesimpulannya, saya akan mendukung #SaveKPK dan tidak akan mendukung #SaveSamad - #SaveBW. Mudah saja untuk setuju dengan saya. Coba pikirkan, apakah kita akan ikut menyuarakan #SaveKPK jika seandainya kasus Samad dan BW diungkap setelah masa jabatan mereka berakhir nanti? Nah, semoga kelihatan ya pembedaannya.

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA (POLRI)

Jujur, saya sangat menyayangkan tindakan Bareskrim POLRI yang ikut memberikan predikat tersangka kepada salah satu pimpinan KPK, yakni BW. Tindakan yang sangat terkesan sebagai pembalasan akan predikat tersangka yang disematkan terlebih dahulu kepada Komjen BG sebagai calon petinggi POLRI. Meskipun BW nantinya terbukti salah, namun mengapa harus sekarang Bareskrim menangkap beliau? 

Haha, pertanyaan yang sama rasanya dapat dilemparkan juga ke KPK. Kalaupun Komjen BG memang bersalah, mengapa KPK menersangkakan beliau SATU hari sebelum Fit & Proper Test. Mengapa KPK tidak menersangkakan beliau jauh-jauh hari sebelumnya jika memang mereka sudah punya bukti ATAU menersangkakan beliau NANTI setelah dilantik?

Asumsi saya, tindakan tersangka-menersangkakan ini memiliki maksud terselubung. Ada maksud-maksud yang baru bisa diDUGA-DUGA oleh berbagai pihak tapi belum bisa mereka BUKTIKAN. Ada maksud-maksud yang (masih) hanya disimpan oleh mereka yang sedang 'bermain' di sana. Mungkin motif 'dendam'? Atau mungkin hanya pembalasan? Bisa juga adu kekuatan? Atau barangkali, ajang mencari perhatian? 

Hasilnya, tagar #SavePOLRI pun ikut muncul mendampingi #SaveKPK. Jelas, saya juga mendukung #SavePOLRI. Tapi, saya tidak mendukung jika ada yang nantinya ikut membuat #SaveBG. Komjen BG juga harus berjuang membuktikan jika dirinya merasa tidak bersalah. Kalau nantinya pun ia terbukti bersalah, maka dengan sendirinya jabatan KAPOLRI harus direlakan menjadi milik orang lain. Idealnya begitu, bukan?

Menurut saya, dengan kasus Komjen BG, bukan berarti institusi POLRI secara keseluruhan harus dicap buruk. Suka tidak suka, mau tidak mau, POLRI tetap dibutuhkan oleh masyarakat. Tak hanya #SaveKPK yang harus digembar-gemborkan, #SavePOLRI juga dong.

Meskipun banyak hal miring tentang kinerja polisi, tapi apakah kalian pernah membayangkan apa jadinya negara tanpa polisi, tanpa POLRI? Ada pencurian, kalian mau lapor ke siapa? Ada perampokan, kalian mau mengadu ke siapa? Ada pelecehan, perkosaan, penganiayaan, pembunuhan, kalian mau minta bantuan sama siapa?

Itulah mengapa kita tetap membutuhkan institusi POLRI. Lalu mengapa seolah-olah dukungan hanya diberikan kepada KPK semata dan POLRI menjadi pihak yang ditinggalkan? Jika orang-orang beranggapan mendukung BW sama saja mendukung KPK dan menyerang BW sama saja menyerang KPK serta mendukung korupsi, apakah jika orang-orang menentang Komjen BG, orang-orang mau dianggap membenci POLRI dan mendukung kejahatan?

Saya berpendapat, POLRI tetap dibutuhkan dan harus diselamatkan. Kecuali jika memang ada, pihak-pihak yang siap untuk memberlakukan hukum rimba di negara ini. 

JOKOWI

Pada akhirnya, banyak pihak, banyak kalangan dan lapisan masyarakat yang (tadinya) mendukung Jokowi menyatakan penyesalan terhadap pilihannya itu. Kalau boleh saya ngunek, "Woy! Mang gampang jadi presiden? Jangankan mimpin negara, mimpin diri sendiri aja belom tentu gue becus! Masih sukur Jokowi mau ngeribet-ribetin diri maju jadi Presiden. Kalopun doi jelek, setidaknya di kalangan capres kemaren, Jokowi meeen yang paling baek di antara yang laen. Dikata mimpin negara gampang kali."

Kalaupun ada yang gembar-gembor penyesalan, kekecewaan, kemarahan, penyayangan terhadap bapak asal Solo yang sedang memimpin negara itu, nah lalu siapa yang menurut mereka layak menjadi Presiden? Atau, solusi apa yang mereka bisa tawarkan seandainya mereka yang ada di posisi Presiden? Sudah ditekan partai pendukung, ditekan pendukung, ditekan ini ditekan itu, syukur-syukur tidak ditekan juga sama isteri sendiri. 

Saya pendukung Jokowi. Dan bukan berarti saya menutup mata terhadap celetukan-celetukan yang mengkritisi kinerja Jokowi. Tapi, PR baru bagi saya sebagai pihak yang harus bertanggung jawab karena telah memberikan suara pada Jokowi di pemilu kemarin adalah, bagaimana saya memilah-milih pandangan orang lain yang mengkritik. Kritik mana yang benar-benar kritik berdasarkan fakta, kritik mana yang hanya muncul karena ikut-ikutan saja tanpa fakta, dan kritik mana yang memang bertujuan menyadarkan Jokowi untuk menjaga negara Indonesia.

Memilah kritik dan opini yang memenuhi media-media Indonesia bukanlah sesuatu yang mudah. Salah-salah baca, bisa-bisa saya terlalu cepat mengambil kesimpulan. Salah-salah data, bisa-bisa saya malah mengkerdilkan pemikiran dan pandangan saya sendiri terhadap Jokowi. Dan saya rasa, itulah yang banyak terjadi pada sebagian pendukung Jokowi. 

Baru lebih sedikit dari tiga bulan Jokowi memimpin, dan sudah banyak kekecewaan yang datang dari sana sini terhadap sikap Jokowi. Mirisnya, kekecewaan ini seakan muncul hanya karena sikap Jokowi yang memilih diam dan 'aman' dalam dinamika KPK vs POLRI. Padahal, banyak juga loh hal-hal dan perubahan positif yang sudah dilakukan selama kepemimpinan Jokowi. Nah, semua itu tidak ikut dinilai juga?

Sebagai pendukung Jokowi, bukan berarti saya tidak mau mengkritik Jokowi. Hanya saja, karena saya tidak mau asal kritik, saya lebih memilih mengamati. Saya belum merasa memiliki fakta yang cukup untuk koar-koar mengkritik. Saya belum merasa 100% mengamati serta mengawasi kinerja Jokowi dan jajarannya selama tiga bulan ini. Sehingga, terlalu 'ikut-ikutan' dan terlalu cepat rasanya, jika saya melempar kritik begitu saja terhadap Jokowi.

Masih sebagai pendukung Jokowi, saya mendukung adanya kritik dan peringatan yang kiranya mau diberikan terhadap beliau. Tapi lagi-lagi, harus berlandaskan fakta dan data. Bukan asal kritik. Saya juga tidak setuju jika suatu pemerintahan berjalan aman-aman saja tanpa kritik, nanti justru bisa semena-mena dong. Kritik boleh diberikan. Sikap kritis boleh diterapkan. Asalkan, secara CERDAS dan beralasan.

Kita harus realistis. Kita harus secara sadar mengakui beberapa hal yang terjadi. Sadar bahwa kepentingan seringkali bermain. Sadar bahwa tipis kemungkinannya, jika seseorang yang dihantarkan ke jabatan tertinggi harus 'dipaksa' dan 'ditekan' untuk meninggalkan mereka yang mengantar. Baik meninggalkan pengantar dari kalangan atas maupun pengantar dari kalangan bawah. Sadar bahwa sulit menyatukan keinginan pendukung dari kalangan atas dengan keinginan pendukung dari kalangan bawah. Sadar bahwa tidak mudah menjadi seorang presiden seperti Jokowi.

Saya yakin (tahu karena sok tahu) Jokowi sedang berada di posisi yang sulit. Beliau sedang berusaha mencari titik temu paling memungkinkan. Titik temu yang paling aman dan paling tidak riskan untuk meredakan ketegangan berbagai pihak. Titik temu yang mampu memuaskan pendukung yang 'atas' maupun pendukung dari 'bawah'. Titik temu yang membuat jabatan 'presiden'-nya tidak diragukan. Dan kita harus kembali sadar bahwa itu semua tidak mudah. 

Saya sempat berdiskusi dengan seorang teman beberapa hari yang lalu. Ia mengatakan pada saya, bahwa ia sangat jarang menemukan orang yang bisa berada di posisi penuh tekanan, penuh hasutan kepentingan, dan menjadi cerdik dalam waktu bersamaan. Di situlah tantangan yang harus dihadapi oleh Jokowi.

Bisakah Jokowi menyenangkan semua pihak? Rasanya sulit. Jokowi bukan DEWA. Untuk itu, dia harus cerdik. Harus 'licik' dan pandai memainkan perannya secara cantik dan ciamik. Dengan -mau tidak mau- rela mengorbankan beberapa hal -mungkin menerima sindiran, mungkin kritikan, mungkin hinaan, ejekan, ledekan, dan lainnya-. Tapi saya yakin hingga hari ini, Jokowi tidak mungkin memilih mengorbankan kepentingan rakyat.

Dengan track record yang dicapai Jokowi hingga sekarang, saya punya keyakinan (dan semoga saya tidak kecewa nantinya) bahwa jabatan presiden yang dimiliki Jokowi akan beliau gunakan untuk mencapai kesejahteraan di Indonesia. Dan saya masih punya kesabaran untuk menunggu. Masih ada empat tahun lagi untuk menunggu dan sembilan bulan buat kritik kalau memang doi kerjanya lama-lama jadi nggak benar.

Saya yakin sampai hari ini, jabatan presiden yang dimiliki Jokowi akan digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan baik. Hanya saja, 'baik' untuk negara ini tidak mungkin dicapai dalam waktu singkat. Memimpin negara, apalagi Indonesia, tidak seinstan memasak Indomie. Banyak pihak-pihak yang tidak bisa tidak harus diubah 'mental'nya. Dan lagi, mengubah mental seseorang, tidak bisa semudah mengajarkan anak kecil belajar membaca.

Ingat, memimpin negara tidak semudah memimpin diri sendiri. Memimpin diri sendiri saja sudah sulit, bukan? Untuk itu, jadilah CERDAS dalam melayangkan kritik dan memberikan pandangan.

AKHIR KATA

Dengan tulisan iseng ini, saya hanya ingin mengajak kalian untuk menjadi bijak. Saya sendiri juga belum tentu bijak, tapi setidaknya kita harus mampu untuk 'membelalak'. Membuka mata lebar-lebar dan berusaha menemukan yang BENAR. Juga mampu untuk SADAR. Sadar dan mengakui bahwa kita semua butuh KPK dan butuh POLRI, juga butuh seorang Presiden. Sadar bahwa kritik dan sikap kritis bukanlah sebuah 'tren' melainkan bentuk tanggung jawab atas status kita sebagai bagian dari negara Indonesia. Sadar bahwa kita harus mengkritik dan mengawasi dengan cerdas, bukan dengan asal. Dan terakhir, sadar bahwa kita sama-sama punya harta yang namanya Indonesia. Sebuah negara yang harus kita jaga kesatuan persatuannya dan harus kita harumkan namanya.

Jangan sampai kritik dan opini yang tak cerdas memenuhi linimasa dan menjadi sorotan dunia. Sudah cukuplah presiden sebelumnya dibikin malu sama rakyatnya sendiri di media sosial, jangan sampai presiden yang ini juga. Malu sama negara lain, malu. 

Akhir kata, jangan terburu-buru berkesimpulan dan mendiskreditkan pihak-pihak tertentu, jika masih ada banyak hal yang belum jelas dan belum pasti.

Dukung, awasi, dan kritisi dengan CERDAS, bukan dengan BERINGAS.


Tulisan iseng yang diselesaikan pada 24 Januari 2015, 21:33
Ditulis oleh seorang yang suka sok tahu, bukan anak FH, bukan juga jebolan FISIP, sama sekali belum pantas dibilang cerdas, baru enam bulan belakangan suka baca berita (itupun jarang-jarang), dan sosok yang sedang berusaha meninggalkan kebiasaan plin-plan.

REFERENSI

Merupakan beberapa link yang saya usulkan untuk dibaca dan sudah saya baca sebelum menghasilkan tulisan di atas


Sebelum benar-benar berakhir,

Saya suka mengikuti linimasa @kurawa di twitter. Analisisnya CERDAS dan masuk akal. Akunnya tidak anonim. Dan beberapa hasil analisisnya terbukti benar. Memang, terlalu berpihak pada Jokowi. Hanya saja, saya yakin, @kurawa bisa realistis. 

Saturday, January 10, 2015

Suka-suka diam-diam.

Kata orang-orang kebanyakan, kalau suka sama orang itu gampang aja tinggal bilang. Nggak usah lama-lama disimpan, dipendam, apalagi didiamkan. Tinggal diutarakan. Kalau berbalas ya pacaran, kalau nggak berbalas ya tinggal cari yang lain lagi aja kan?

Tapi kalau untuk Sya, suka sama orang itu hukumnya diam-diam saja. Alhasil, mana ada yang bisa tau? Ya, begitulah Sya. Pengalaman yang membuatnya menganut prinsip itu. Dulu, ketika Sya suka sama orang dan ditunjukkan blak-blakan, orangnya justru menjauh. Padahal, orangnya duluan yang kasih-kasih Sya harapan. Kata teman-teman, Sya aja yang suka kegeeran. Tapi mungkin saja orang itu yang baiknya keterusan.

Contohnya aja Ren. Cowok yang ditemui Sya saat kuliah itu nggak cuma sekali bikin Sya kegeeran. Sering ngajak makan, sering nganterin pulang, sering kirim pesan, eh ujung-ujungnya pas Sya mulai ngasih sinyal suka sama Ren, Ren malah hilang. Aneh.

Atau yang lain lagi, misalnya si Tiya. Ini nama cowok loh, ya. Tiya ini sering banget ngajak Sya bercandaan. Ngajak Sya ngobrol pas Sya kesepian, atau ngajak Sya jalan-jalan plus ditraktir makan. Kalau yang ini, sebelum Sya kasih sinyal suka, untungnya Tiya udah jadian. Yaudah deh mereka dadah-dadahan.

Lama-lama Sya capek juga kegeeran. Lama-lama Sya nggak peduli lagi sama yang baiknya kebablasan. Lama-lama Sya nggak pernah mau capek-capek mikir lagi mereka yang baik itu sebenarnya lagi ngasih Sya harapan atau bukan. Tapi, lama-lama Sya justru kejebak sendiri sama yang dia pikirkan.

Kayaknya, Sya sekarang suka lagi sama orang yang baiknya keterusan. Tapi sayang, Sya nggak punya keberanian buat bilang. Nggak punya nyali buat blak-blakan. Nggak pernah mikir juga dia lagi dikasih harapan. Tapi lama-lama Sya malah jadi suka beneran. Tanpa alasan.

Cuma, lama-lama Sya memilih tetap diam. Lama-lama Sya tetap nggak mau mengungkapkan. Lama-lama, Sya malah takut semakin kegeeran. Lama-lama Sya mencoba lupakan, selama-lama itu juga Sya nggak berhasil melupakan.

Sya sekarang hanya bisa duduk saja menatap foto Sya sama oknum yang mencuri perhatian Sya. Nggak tau sampai kapan akan bertahan buat nggak bilang. Nggak tau akan sampai kapan tahan buat nggak mengungkapkan. Sementara saya, saya hanya bisa melihat Sya dari kejauhan. Saya tak bisa lagi menggenggam tangan Sya, atau bahkan menjaga dan memberi perhatian saya sama Sya. Bukan waktu saya lagi untuk membuat Sya kegeeran.

Dengan ketiadaan saya sekarang di dekat Sya, saya hanya berharap Sya bisa membuat orang itu peka sama apa yang lagi Sya rasakan. Jadi, Sya nggak lagi harus galau-galauan sendirian kayak yang sekarang Sya lakukan dan saya perhatikan. Karena saya tau, Sya hanya bisa suka-suka diam-diam.

Tuesday, January 6, 2015

Sebelum 'berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian' dilupakan.

Bagi kita yang mengenyam pendidikan Sekolah Dasar di Indonesia pada tahun 1990-an, pasti pernah belajar yang namanya peribahasa di kelas Bahasa Indonesia. Saya tidak begitu yakin kalau di tahun 2000-an sekarang pelajaran tersebut masih diajarkan.

Saya ingat, dulu saya pernah membeli buku berisikan 1700 peribahasa Indonesia demi keperluan pembelajaran saya ketika SD. Dan satu dari sekian banyak peribahasa yang saya ingat adalah sama seperti yang dikutip dalam judul tulisan ini, "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian". Artinya, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Sepenggal kalimat tersebut kemudian mengusik pikiran saya manakala saya menyaksikan Bapak Menteri Perhubungan di Kabinet Kerja, Ignasius Jonan, menegur Direktur Air Asia Indonesia atas prosedur yang keliru diterapkan. Bukan, bukan teguran tersebut yang mengusik saya. Saya justru terusik dengan ingatan saya bahwa saya pernah sangat antipati dengan sosok beliau. Beberapa tahun lalu.

Begini hubungannya. Dulu, ketika saya sedang menempuh masa-masa akhir pendidikan semester 6, saya mendapat kabar bahwa stasiun UI akan digusur. Saya sontak terkejut dan kecewa dengan PT KAI yang kala itu dipimpin oleh Bapak Jonan. Dalam waktu dekat, saya akan kehilangan berbagai pedagang. Bagaimana tidak, stasiun UI memang dikenal memiliki banyak kios di sekitar peron yang menawarkan berbagai macam jasa dan barang dagangan. Mulai dari  tempat print dan fotocopy, tempat makan, warung, tempat cetak souvenir, dan masih banyak lagi. Sulit untuk tidak merasa sedih saat membayangkan semua itu akan dihancurkan dalam waktu singkat. Jujur, kemudahan menemukan apa yang saya cari di peron itu menjadi salah satu faktor yang membuat saya kehilangan. Ditambah lagi, informasi yang saya dapat menerangkan bahwa para pedagang itu sudah lama menggantungkan rejekinya pada peron stasiun UI itu. Kemana mereka akan pindah setelah itu? Darimana sumber penghasilan mereka setelah mereka angkat kaki dari peron stasiun?

Kabar penggusuran itupun ramai diperbincangkan di media sosial twitter dan menimbulkan berbagai reaksi. Reaksi yang mendominasi tentu saja yang menolak penggusuran. Termasuk saya di dalamnya. Meskipun sepertinya hanya sedikit kelompok yang mendukung, toh akhirnya bangunan pedagang yang di peron dihabiskan semua. Pintu kecil yang biasa menjadi jalan pintas menuju Jalan Margonda juga ikut ditutup dan akhirnya membuat jarak tempuh saya ke kosan semakin jauh. Hal itu juga akhirnya berpengaruh pada lemahnya usaha yang mengambil lokasi di gang Pepaya (sebuah gang yang menghubungkan peron stasiun UI dengan Jalan Margonda). Saya berkesimpulan, suara mayoritas yang digadang-gadang tak berhasil pula didengarkan. Dan saya mulai antipati pada Bapak Jonan.

Tidak berselang begitu lama dari penggusuran stasiun UI, saya juga mendengar bahwa pedagang di stasiun-stasiun lain Jabodetabek juga digusur. Penolakan ada, namun tak terlalu terdengar. Area-area di stasiun-stasiun yang ada, berikut peronnya menjadi steril. Hanya minimarket yang kemudian bisa dibuat ada. Saya makin antipati.

Tak disangka-sangka, hanya dalam waktu beberapa minggu, lanjut ke beberapa bulan, saya melihat  dan merasa adanya perubahan. Positif. Stasiun-stasiun menjadi bersih dan rapi. Termasuk stasiun UI. Area bekas berdirinya kios di peron stasiun UI dirapikan dan ditata. Stasiun Pasar Minggu yang berjeda beberapa stasiun saja dari UI pun tampak lebih baik. Lebih elegan dan lebih mewah. Stasiun Sudirman apalagi. Ampun-ampun bagus dan tertatanya. Stasiun Poris yang letaknya di dekat rumah saya dan bukan menjadi stasiun di jalur utama saja, disulap menjadi lebih apik dan bagus.

Bukan hanya penampilan, kemajuan lain juga ternyata terdapat pada aspek pembelian tiket dan pembayaran kereta. KAI menerapkan sistem pembayaran dengan kartu, dan harga menjadi lebih murah karena aturan tarif berubah. Barangsiapa yang tidak memiliki kartu, tidak akan bisa memiliki akses untuk ke peron. Tidak ada lagi penumpang-penumpang gelap yang naik tanpa bayar. Unit KRL Ekonomi dan Ekspress ditiadakan, KRL Commuter Line ber-AC ditambahkan. Gerbong juga diperpanjang. Rute juga dibuat lebih mudah. Semua ternyata menjadi jauh lebih enak dan nyaman.

See? Kejadian ini membuat saya berbalik 180° memuji Pak Jonan. Keberaniannya mengambil sebuah tindakan dan keputusan membuat semua yang menolak akhirnya menjadi penikmat. Juga saya. Kalian yang seringkali atau bahkan rutin menumpang KRL pun pasti merasakan kemajuannya, bukan? Mungkin memang tak luar biasa sempurna, tapi jauh lebih baik dari sebelumnya. Jujur, saya jauh lebih bersyukur dengan keadaan KRL yang ada sekarang. Tak ada lagi tarif mahal, tak ada lagi perbedaan kelas kereta, semua kalangan bisa naik kereta dengan tarif yang terjangkau. Bayangkan, kendaraan lain apa yang bebas macet dan tarifnya tak lebih dari 6.000 rupiah? Atau bahkan paling mahal 7.000 rupiah?

Itu baru salah satu kebijakan yang menurut saya menyusahkan di awal, menikmatkan di akhir. Lebih dari itu, memasuki pemerintahan baru 2014-2019, saya mengamati bahwa ada beberapa peraturan yang saya kira juga berdampak pada timbulnya kesulitan (di awal).

Sebut saja kenaikan harga BBM pada bulan Desember lalu. Kenaikan harga sebesar 2.000 rupiah per liter itu (meskipun sekarang sudah turun lagi) langsung menuai dampak yang terasa oleh rakyat bahkan bos-bos empunya usaha. Kendaraan umum langsung mahal ongkosnya. Harga bahan pokok naik. Ini itu juga ikut-ikutan menguras kantong. Entah memang terdesak untuk menaikkan harga atau hanya sekadar mengambil kesempatan, saya juga tidak tahu pasti. Efeknya langsung terasa. Tak hanya rakyat biasa, bos-bos juga kelimpungan karena dituntut menaikkan gaji karyawan. Semua terkena imbas karena harga BBM yang ditambah. Kritik banyak dilontarkan di saat pujian juga diserukan. Yang memang sudah antipati menjadi tambah benci, sebaliknya yang simpati ikut memberikan opini. 


Saya sendiri masuk ke dalam kelompok simpati. Berusaha mengerti meskipun saya sendiri jadi rugi. Transportasi yang biasanya 8.000 harus saya amini ketika berubah jadi 10.000. Begitupun dengan harga kebutuhan lain yang membuat anggaran harus digonta-ganti lagi. Namun, lebih daripada itu, saya punya apa yang dinamakan keyakinan. Keyakinan bahwa nantinya semua akan membaik. Ya, mungkin tak akan secepat naik jet ke Pulau Seribu, tapi perlahan-lahan, keadaan seperti ini pasti membaik karena ditujukan untuk tujuan baik. Pikiran positif saja dulu, subsidi BBM yang dialihkan, pasti akan digunakan untuk kepentingan yang lebih darurat. (Baca: Solusi BBM naik). Tapi tapi, kalau sampai menjelang akhir pemerintahan tak membaik, baru kita protes. Sekarang, mari ditunggu saja, toh belum genap setahun juga, loh mereka bekerja.


Terakhir, satu lagi contoh kebijakan tak populis yang bisa saya berikan sorotan. Pelarangan penggunaan motor di jalan protokol Ibu kota. Tentunya dan pastinya, hal ini akan dihujat sebagian besar para pengguna motor yang terbiasa nyaman pakai motor. Terbukti, sedikit opini pro dan banyak opini kontra memenuhi forum bahkan sosial media di tengah masyarakat. Ada yang berpikir bahwa mengapa harus motor yang disingkirkan dan bukannya mobil, karena mobil justru memakan ruas jalan lebih banyak? Ada yang merasa bahwa mengapa rakyat kecil harus dibiarkan menderita karena tidak boleh lagi menggunakan motor? Padahal, tidak semua rakyat kecil memiliki motor. Sepengetahuan saya, rakyat kecil itu justru bergantung pada angkutan umum, bahkan terkadang pada kakinya sendiri. Lagi-lagi saya yakin, kebijakan ini bukanlah kebijakan yang akan terus-terusan menyengsarakan. Hanya bersusah-susah di awal beradaptasi dengan kendaraan selain motor apakah begitu sulit dan membuat sengsara? Saya amat yakin, selama ini yang membuat macet justru adalah keberadaan motor. Mobil yang hanya berisi satu dua orang saja pasti juga mengambil andil, tapi tidak se-semrawut motor. Melihat motor pada hari kerja saja, sama seperti melihat gerombolan semut yang tak ada habisnya. Dan lagi-lagi menurut saya, apabila masyarakat pengguna motor bisa sedikit legowo dengan kebijakan ini, dan sedikit mau susah-susahan naik kendaraan umum, niscaya keteraturan akan bisa kita raih dalam waktu yang tidak lama-lama lagi. Semua butuh proses, memang. Tapi, apa salahnya kita mendukung dan kembali ke penggalan tulisan saya di atas, kalau sampai menjelang akhir pemerintahan, kebijakan ini tak menimbulkan dampak baik, baru kita ajukan protes.

Harapan saya hanya satu, bahwa pada akhirnya kita semua sama-sama mau untuk berakit-rakit dulu ke hulu. Baik masyarakatnya maupun berbagai elemen yang bekerja di pemerintahan. Toh, akan lebih enak berenang-renang ke tepian bersama-sama kan?

Friday, January 2, 2015

NEW YEAR, NEW BLOG!

Sejak beberapa bulan terakhir di tahun 2014, saya berpikiran untuk membuat sebuah blog lain yang terfokus hanya pada persoalan Mengunyah, Melangkah, dan Menjelajah.

Untuk itu, mulai tahun 2015, semua cerita terkait pengalaman saya Mengunyah, Melangkah, dan Menjelajah saya tuangkan di dalam laman baru saya yakni http://sendokransel.wordpress.com.

Semua cerita yang saya bagi di tahun 2014, tetap dapat dibaca di blog ini. Juga cerita selain cerita Mengunyah, Melangkah, dan Menjelajah yang akan saya bagi di tahun 2015 tetap bisa dibaca dan ditemukan di sini. Saya akan aktif menulis di keduanya.

So, happy reading!

Goodbye 2014. Welcome, 2015!

Goodbye, 2014!

Cepat sekali waktu berjalan. Tahun 2014 sudah berlalu saja dan sekarang giliran tahun 2015 yang ada di depan mata.
Seperti penggalan caption yang saya tulis di Path,
2014 has been a great year for me. I have got good and bad things, created happy and sad memories. I laughed and I cried. Now it's time for me to be ready in facing 2015.
Siap nggak siap, 2015 memang sudah harus dihadapi! Dan untuk menghadapi 2015, kita harus banyak berkaca dari kejadian yang kita alami di tahun 2014. Nah, melalui tulisan ini, saya ingin terlebih dahulu kembali mengingat resolusi saya pada awal tahun 2014 kemarin. Sejauh manakah resolusi saya bisa saya realisasikan?

1. Kewajiban di PMKAJ US dapat diselesaikan dengan baik, bisa merangkul teman-teman semuanya. Jadi, kalau sudah lengser, tetap terjalin persahabatan yang erat.

---Puji Tuhan, bulan September kemarin, kewajiban di PMKAJ US sebagai Koordinator II bisa selesai. Tidak semulus jalan aspal, memang. Tetapi, akhirnya kepengurusan ini dapat diteruskan juga ke kepengurusan yang baru. Suka duka sedih senang saya dapatkan di kepengurusan ini, dengan kesulitan dan kemudahan yang ada, masa kepengurusan saya, Ganda, Lia, dan Ajeng bisa selesai juga dengan baik.

---Bersyukur juga dengan teman-teman dekat yang saya jumpai di PMKAJ US, yang bahkan masih rindu bercerita hingga saat ini. Persahabatan memang hukumnya wajib banget buat dijalin. 

2. Boyfriend?

---Puji Tuhan, masih dikasih kesempatan sama Tuhan buat menikmati kebebasan. Jadi, pacarnya (mungkin) masih disimpan untuk dimunculkan di waktu terbaik. Satu yang saya yakini, semua indah pada waktunya. Tul, nggak?

3. Keliling Indonesia (Bali, Lombok, Sulawesi, Kalimantan)

---Resolusi yang ini sayangnya tak dapat terlaksana sedikit-pun. Meskipun demikian, saya meyakini keinginan saya untuk menjelajah dapat terealisasi di tahun 2015. Semoga benar adanya, ya.

---Saya hanya sempat memiliki kesempatan untuk mengunjungi Pulau Harapan di Kepulauan Seribu. Indah dan cantik pantainya memang benar-benar membuat saya nagih lagi untuk ke pulau-pulau dan pantai-pantai lain di Indonesia. (Baca ceritanya di sini)

4. Jurnal beres, biar ijazah bisa segera di tangan.

---Kenyataannya masih berbalik 180 derajat dari resolusi yang saya buat. Jurnal tak tersentuh. Ijazah nihil didapat. Tapi, lagi-lagi Tuhan masih memberi saya tahun 2015 untuk menyelesaikan resolusi saya yang satu ini. Semoga ijazah bisa cepat saya dapatkan ya!

5. Kerja bener di BreadLife. Kalau ada kesempatan, baru loncat cari kerjaan lain.

---11 bulan sudah saya selesaikan dengan baik di BreadLife. Pindahnya bukan karena punya kerjaan lain, tapi memang kontrak akan segera habis dan lagi saya punya banyak keinginan yang ingin saya capai di tahun ini. Tentu butuh fokus dan waktu yang banyak, sehingga tak akan bisa saya bagi fokus saya sambil bekerja dan mencapai rencana-rencana itu. Doakan saja.

6. Tetep nulis! Nulis buat GenSindo, buat blog, nulis cerpen atau novel!

---Menulis sudah pasti. Menulis buat GenSindo belum lagi hingga saat ini. Menulis buat blog, rajin sekali. Sempat berhenti dua bulan karena kesibukkan di dunia kerja, tapi selanjutnya bisa saya atasi. Kebanyakan menulis tentang makanan, sih. Menulis novel belum berhasil, namun untuk cerpen, saya sudah menghasilkan beberapa.

7. Kalau bisa, ngurusin badan! hehehe

---Beberapa bulan terakhir, saya memutuskan untuk tidak mengkonsumsi nasi. Hasilnya meskipun nggak drastis, tapi berat badan saya turun. Hehe, nggak kurus-kurus amat, tapi setidaknya nggak lebay lagi gendutnya. 

8. Tetep sehat dan nggak boleh terkapar sakit parah.

---Bisa juga saya jaga kesehatan saya di tahun ini. Beberapa kali sakit, tapi nggak parah-parah amat, sekadar radang tenggorokan atau demam. Sakit hepatitis seperti beberapa tahun lalu untungnya nggak terulang lagi. Puji Tuhan.

9. Nggak pernah telat alias ON TIME terus.

---Selama kerja, beberapa kali saya masih telat. Entah karena macet, kesiangan, ataupun terjebak banjir. Tetapi, selebihnya ON TIME terus dong! Kemajuan loh ini.

10. Peduli lingkungan (nggak buang sampah sembarangan), lebih peduli terhadap masyarakat kecil.

---Bersyukurnya, di tahun ini saya bisa terus menahan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan, melainkan mencari tempat sampah terlebih dahulu sebelum membuangnya.

---Kepedulian saya terhadap masyarakat kecil masih belum maksimal di tahun ini.

11. Les bahasa Prancis dan mendapatkan sertifikat B2.

---Saya nggak berhasil bagi waktu antara kerja dan les bahasa Prancis, apalagi untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian DELF B2. Tetapi, DELF B2 harga mati untuk didapatkan, sih. Semoga tahun 2015. Amin.

12. Bisa diijinin bawa mobil sendiri kemana-mana.

---Yeay beberapa kali sih sudah sempat diijinin bawa sendiri kemana-mana. Tapi emang nggak sering-sering amat. Namanya juga mobilnya masih minjem orang. Hehe.

Itu dia keduabelas resolusi yang saya tulis di agenda saya pada awal tahun lalu. Meskipun hasilnya nggak maksimal dan masih ada beberapa resolusi yang tidak berhasil saya lakukan, namun saya berterimakasih karena saya masih diberikan tahun 2015 untuk memperbaiki dan merealisasikan keinginan-keinginan saya yang tertunda. Semoga semua impian dapat diwujudkan di tahun 2015 ini, baik impian saya maupun impian kalian yang sedang membaca barisan kalimat ini.

Kehidupan saya di 2014 memang dapat dikatakan sangat terpaku pada dunia kerja. Rutinitas yang saya jalani selalu sama setiap harinya, hanya hari libur dan weekend yang berbeda. Namun begitu, banyak pelajaran dan kejadian-kejadian menyenangkan yang mengiringi langkah saya di tahun 2014 kemarin. Banyak teman baru, banyak pengalaman baru, banyak cerita baru, dan banyak memori baru yang perlahan mengisi ruang penyimpanan otak saya. Semuanya pasti memiliki keunikan tersendiri dibanding tahun sebelumnya maupun tahun yang akan datang. So, terima kasih sangat untuk kamu, 2014!
And also, thank you for those who completed my journey, whose name were written in my 2014 'unseen' journal.
WELCOME, 2015!
HAPPY NEW YEAR 2015!