Monday, July 14, 2014

Bebek Tepi Sawah: Fisik Jakarta Suasana Bali.

Pergi ke sini (lagi-lagi) tanpa rencana. Tanggal 18 Juni (agak lama juga ya), saya pulang kantor nebeng temen sampai Living World. Tadinya iseng mau jalan-jalan aja sambil makan malam sama mama (ketemuan di sini untuk pulang bareng), tapi akhirnya nggak jadi jalan-jalan malah cuma makan malam di restoran Bebek yang udah terkenal seantero Jakarta. Lumayan.

Cukup sering lalu lalang di depan restoran ini ternyata membuat saya akhirnya tergoda untuk masuk mencoba. Kata temen-temen yang udah pernah, restoran ini enak tapi...menguras tabungan. Seenak apa bebeknya dan sejauh apa mengurasnya ini yang bikin saya penasaran, *dasar aja sok mau coba-coba*.

Berbekal rasa penasaran dan godaan yang selalu datang setiap mampir ke Living World, akhirnya saya dan mama masuk dan memilih tempat duduk dekat jendela pembatas area dalam dan area luar restoran.

Setelah menu dihadapkan di meja, saya dan mama segera menentukan pilihan. Memang, menu bebek yang terpampang di halaman muka ini membuat saya agak terbelalak dengan harganya yang mendekati seratus ribu rupiah satu porsi. Penasaran akan rasanya, saya pesan satu porsi. Iya, semua hanya karena rasa penasaran dan kecintaan...pada bebek...



Langsung saya review saja, ya!


1. Tepi Sawah Crispy Duck (IDR 92.5)

Our signature traditional duck with choices of deep fried or grilled served with rice, Balinese vegetable, and sambals (sambal merah, sambal mattah, sambal goreng)


Satu porsi.
Satu porsi Tepi Sawah Crispy Duck ini terdiri dari bebek 1/2 ekor, nasi, sayur dimasak khas Bali, dan sambal. Kita berhak nyobain tiga sambal dengan tiga rasa yang berbeda. Ada yang pedes banget, pedes biasa, dan nggak terlalu pedes. 

Yang spesial dari bebeknya itu garing di luar, tapi lembut di dalam. Tekstur bebeknya dari luar itu super garing sampai-sampai saya mikir saya nggak bisa makan bebeknya karena keras. Ternyata, ketika bebeknya dikoyak dagingnya, lembut banget. 

The Sambals!
Karena satu porsi terdiri dari setengah ekor, saya bisa bagi dua sama mama saya. Ukuran bebeknya cukup besar dan bumbunya terasa. Saya makan bebeknya dengan sambal yang super pedas. Rasanya super enak! Saya jadi mengerti mengapa harganya sampai bikin kantong tipis. Memang rasanya enak dan suasana restorannya nyaman, mungkin bisa digolongkan ke dalam kategori 'sebanding'. 'Mungkin' loh ya, soalnya kalau boleh jujur, saya rasa memang harganya masih terlalu mahal. Namun, jika menikmati, kenapa tidak mencoba sesekali?

2. Gurame Bakar (IDR 65)

Try our speciality of ikan gurame! With the choices of deep-fried or grilled, served with shrimp paste chilli

The gurame!
Kalau yang ini, gue nggak bisa bilang ini mahal. Harganya dimana-mana hampir mendekati. Mau di rumah makan Sunda, di rumah makan khusus seafood, di rumah makan chinese food, maupun di rumah makan khas masakan Indonesia.

Pesan makanan ini sama sekali nggak rugi. Ikan guramenya enak, nggak amis, terasa fresh, dan yang paling penting bumbunya super kerasa! I couldn't describe it well, but rasa kecapnya terasa banget sampai ke dalam daging ikannya. Ukuran ikannya cukup untuk dimakan dua sampai tiga orang. Silahkan dicoba karena nggak mungkin bikin kecewa :D

3. Signature Mocktail --> Legian (IDR 27.5)

Our signature of mocktail, made from the muddled of whole kiwi, lychee, and fresh lime. Totally refreshing!

Karena makanannya udah dipesan cukup untuk saya sama mama saja, jadi kita beralih ke minuman. Minuman yang berjudul Legian ini isinya ada buah kiwi dan leci. Rasanya manis-manis asam, dan segar! Potongan buahnya juga nggak pelit. Habis makan-makanan berkolesterol tinggi, minuman ini bisa jadi penetralisir. Hehe. 

Setelah melakukan investigasi ke meja-meja di sebelah saya, banyak juga loh yang memesan minuman Legian ini. Kayaknya saya nggak salah pilih. Minuman spesial di sini ternyata.

4. Ice Lemongrass (IDR 30)

Easy way to promote your body detoxification in natural way with lemongrass while enjoy it with our local brown sugar.

Karena ada kata-kata 'detoxification' di deskripsi minuman ini, saya langsung tergoda untuk memesan. Maklum, saat itu sepertinya saya sedang membutuhkan minuman-minuman sehat yang bisa mengeluarkan racun nakal di tubuh saya. Badan saya sedang tidak enak. Butuh yang segar sekaligus sehat. Rasa serai/sereh yang pekat serta sedikit rasa manis menjadi campuran yang menyegarkan lewat minuman ini. Hmm.

Kiri: Ice Lemongrass; Kanan: Legian
Secara keseluruhan, Bebek Tepi Sawah ini cocok menjadi restoran keluarga kala makan malam karena menyajikan suasana Bali seperti konsep yang diusungnya. Rasa bebeknya enak dan didukung tekstur daging yang empuk dan kulit yang garing. Guramenya paling juara, malah lebih juara melebihi bebeknya. Sambalnya mantap, pedas, dan nggak bikin moncor.

Harga makanan selain menu bebek-nya cukup bersaing dengan restoran-restoran sejenis, tapi khusus untuk menu bebeknya, memang masih cukup mahal.

Penasaran? Yuk mari dicoba :)

Bebek Tepi Sawah Living World
Living World Mall Alam Sutera Boulevard Kav.21
Serpong, Tangerang - Indonesia
Ph: +62 21 29211919

Bebek Tepi Sawah Restaurant Ubud
Jl. Raya Goa Gajah, Br Teges, Peliatan
Ubud 80571 Bali - Indonesia
Ph: +62 361 975656

Bebek Tepi Sawah Restaurant Tuban
Jl. Raya Tuban, Krisna Wisata Kuliner 2nd Floor
Tuban 80361 Bali - Indonesia
Ph: +62 361 767251

Bebek Tepi Sawah Restaurant Kuta
Jl. Kartika Plaza, Bintang Bali Hotel Arcade
Kuta 80361 Bali - Indonesia
Ph: +62 361 8465717

Bebek Tepi Sawah Cilandak Town Square
Ground floor Cilandak Town Square
Jl. TB Simatupang Jakarta Selatan
Ph: (021) 2904 2818

Bebek Tepi Sawah Pondok Indah Mall 2
Jalan Metro Pondok Indah Blok IIIB, 3rd Floor

Jakarta, Indonesia

http://www.bebektepisawahrestaurant.com/
Instagram: @bebektepisawah

Tuesday, July 8, 2014

Merinding Menjelang 9 Juli...

Tadinya, saya tak mau menulis.
Tadinya, saya tak mau bersuara. Ya, lewat tulisan inipun sebenarnya saya tidak bersuara, tapi nyatanya, ini suara saya.

Semua berangkat dari bulu halus di tangan saya yang selalu berdiri ketika menyaksikan video-video di YouTube mengenai capres pilihan saya, capres nomor dua. Beragam video kreatif karya anak bangsa ini baru mulai saya tonton justru pada saat proses pemilihan presiden mulai memasuki masa tenang, yakni pada hari Minggu yang lalu, 6 Juni 2014.

Saya tidak pernah mengira bahwa saya akan menjadi sepeduli ini dan seberharap ini terhadap calon presiden pilihan saya. Saya hanya ingin Indonesia menjadi satu dan tidak terpecah belah menjadi beberapa kubu yang justru saling membenci dan melontar fitnah.

Kegelisahan saya mulai muncul ketika saya justru sedang menulis ulasan makanan seperti biasa di blog saya pada Sabtu lalu. Kemudian, entah ada angin apa yang menghembus kepala saya, tiba-tiba saya mulai berkicau di account twitter milik saya terkait kondisi kampanye yang sangat memprihatinkan. Semakin mendekati masa tenang, berbagai macam berita hitam makin tersebar luas seolah bukannya mempersatukan malah menebar benih kebencian.

Saya risih. Saya bingung, kemana kesadaran semua orang bahwa salah satu dari dua orang calon itu akan memimpin Indonesia? Kenapa justru benih kebencian yang disebarluaskan bukannya benih kedamaian menyambut pemilihan? Saya heran.

Keheranan saya menuntun saya bercuap di twitter dan lalu, salah seorang teman saya mengirimkan link salah satu video YouTube lewat mention ke account twitter saya. Video itu diunggah oleh salah satu pengguna YouTube yang memiliki account Edward Suhadi

Di dalam kumpulan video yang telah diunggah oleh beliau, terdapat hampir 20an lebih video yang menampilkan pendapat-pendapat beberapa orang dengan tema '60 detik buat kamu yang masih bingung'. Video ini yang menjadi sebab musabab kulit saya jadi meramang. Mereka menyatakan alasan mereka memilih dan mendukung nomor dua. Semuanya pengakuan pribadi. Semuanya menjawab pertanyaan mengapa mereka memilih nomor 2.

Semua video dengan tema itu kemudian saya tonton dan dengarkan. Saya merinding. Berulang-ulang kali saya bilang, saya merinding. Entah kenapa. Bahkan, beberapa video diantaranya membuat saya HAMPIR menitikkan air mata. Saya juga tidak tahu mengapa. Mungkin karena saya begitu terharu mendengar pengakuan singkat nan jujur itu. Singkat, sangat singkat. Pengakuan yang terlihat tulus. Pengakuan yang menjadi buah dari pengalaman yang kebanyakan mereka alami sendiri. Pengakuan dari rakyat biasa sampai artis yang kita kenal. Pengakuan yang saya rasa cukup untuk menggambarkan betapa saya dan banyak orang di luar sana punya harapan yang begitu tinggi kepada calon nomor dua.

Tak berhenti di situ saja, saya mulai mencari banyak lagi video tentang si calon nomor dua. Kebanyakan adalah lagu. Dan tercengangnya saya, di media video terbesar itu, saya menemukan beberapa lagu untuk Jokowi. Dari keroncong hingga jazz, dari yang biasa hingga musisi berkelas. Tak percaya? Mari saya beri linknya:
  1. REVOLUSI MENTAL by Various Artists (Barry Likumahuwa, Glenn Fredly, Ivan Saba, J-Flow, Dira Sugandi, Muhadkly, Sheggario, Indra Azis, Banyu Biru, Adityalogy, Monica Hapsari, Raesaka, Al Zaidy, Stereocase, Dmaz Brodjonegoro, Abdee Negara, Teddy Adhitya, dll)
  2. Salam Dua Jari Slank and Friends Revolusi Mental 
  3. Salam Dua Jari Full version
  4. Lagu Jokowi Presidenku
  5. Bersatu Padu Coblos Nomor Dua
  6. Flashmob 2000 penari di Bundaran HI
  7. Flashmob Kita Pasti Bisa
  8. Parodi menggunakan lagu Good Time
Belum lagi pengakuan beberapa orang lain yang saya dengar lewat video-video ini:
Bagaimana saya bisa tidak tersentuh dan terharu melihat dukungan kepada beliau yang sangat banyak? Memang, sangat tidak adil ketika saya hanya menonjolkan pilihan nomor dua. Tapi beliaulah pilihan saya.

Bukan hanya beliau yang membuat saya kagum akan cerita dan kisah perjalanan karir politiknya. Tapi juga orang-orang yang di belakangnya. Sebut saja Anies Baswedan dan Dahlan Iskan. Selain itu, para relawannya juga yang saya kira bisa buat sejarah. GBK dibuat penuh dan dibersihkan setelahnya. Golput akhirnya luluh untuk tidak terus menjadi golput. Semua itulah yang buat saya akhirnya tak sabar menanti si 9 Juli untuk datang ke TPS.

Saya bukan pengamat politik ataupun manusia yang melek politik. Tapi, dengan informasi yang coba saya kumpulkan dan dengan segala bukti di berbagai media yang coba saya kais satu demi satu, saya akhirnya memilih.

Saya memilih nomor dua dengan segala kerendahan hati beliau, dengan segala sifat kerakyatan beliau, dengan pengaruh beliau, dengan sifat kepemimpinan beliau, dengan tangan beliau yang merangkul bukan menunjuk. Dengan garis horizontal bukan garis vertikal. Dengan mengajak kerjasama dan bukan memerintah seenaknya.

Saya yakin, bukan hanya saya yang berharap. Saya yakin, banyak orang di luar sana yang juga penuh harap. 

Ini pilihan saya, dan saya harap, kalian juga yakin dengan pilihan kalian. Kumpulkan info sebanyak-banyaknya dan buka mata kalian dengan lebih luas lagi. Sukseskan pesta demokrasi 9 Juli untuk pemerintahan baru yang bersih.

Saya pada dua jari. 

PS: Awasi pemilihan presiden BESOK! Buka link ini --> LAWAN PILPRES CURANG!

Monday, July 7, 2014

Talaga Sampireun: Sensasi Makan Seafood di Tepi 'Telaga'.

Sebelumnya, gue nggak tau sama sekali kalau tempat makan ini nyatanya 'eksis'. Terletak di kawasan Bintaro, Talaga Sampireun ini ternyata sudah dikenal banyak orang sejak berdirinya tiga-empat tahun yang lalu. Hemm.



Gue sendiri mengenal tempat makan ini dari hasil kepo-kepo semua merchant Jakarta Pass. Iya, Talaga Sampireun adalah salah satu tempat makan yang bekerja sama dengan Jakarta Pass. Sayangnya, Jakarta Pass hanya berlaku weekdays di Talaga Sampireun, sementara weekend nggak berlaku. Lumayan sih, Jakarta Pass bisa membawa 15% discount pas makan di sini.

Talaga Sampireun ini ternyata merupakan bahasa Sunda yang artinya tempat singgah di tepi danau. Tempatnya teduh soalnya dikelilingi danau. Danau buatan sih ya kelihatannya. Di tengah-tengah danau ada air mancurnya. Di sekeliling danau, ada saung-saung yang bisa digunakan sebagai tempat makan dan berkumpul keluarga yang nyaman. Cuma (ada cumanya, nih), untuk makan di saung, kita harus memesan makanan dengan total minimal 800.000 rupiah. Alhasil, karena gue nggak mungkin makan sampai jumlah segitu, jadinya gue memilih untuk duduk di tempat lain yang masih bisa menghadap danau dan terdiri atas 1 meja serta 4 kursi. Cukup kok untuk makan berempat (waktu ke sini, papa gue nggak ikut soalnya :()


Seluas ini...
Talaga Sampireun ini luas banget dan memang pas untuk jadi tempat berkumpul keluarga kecil maupun keluarga besar. Kalau sama teman-teman, mungkin bisa cocok mungkin juga nggak. Yang serunya lagi, di Talaga Sampireun ini disediakan kursi roda. Jadi, Opa gue yang agak kesulitan dalam berjalan sangat amat dimudahkan dengan adanya kursi roda ini. 


Sesyahdu ini...
Lanjut ke pembahasan menu-menu yang gue pesen yaaa...

1. Gurame Terbang (IDR 79)

Gurame goreng yang dibentuk dalam posisi berdiri ini memang sepertinya sudah menjadi favorit semua orang di rumah makan Sunda manapun. Soalnya dimana-mana, menu ini pasti jadi chef-recommendation gitu. Masalahnya tinggal rasa si ikannya aja, cocok atau nggak sama lidah kita.



Di keluarga gue, yang paling suka sama gurame goreng terbang adalah Oma Opa gue. Jadinya gue pesen ini biar mereka bisa makan. Tekstur keseluruhan guramenya ini super garing, tulang-tulang di pinggir sampai ekornya bisa digerogotin kayak kerupuk. Seru banget dimakan sama sambel kecap yang mereka sediain. Cuma, rasa dari ikannya sendiri 'kurang' kalau menurut Oma Opa gue. Mungkin kurang sesuai selera kali ya.

Tapi itu pendapat Opa Oma gue. Gue sendiri sih suka-suka aja, karena emang pada dasarnya, gue suka apa aja yang memang garing. Soal daging ikannya sendiri, menurut gue rasanya juga biasa-biasa aja. Nggak kurang. Nggak enak banget juga. Keunggulan dari menu ini terletak di kesegaran ikannya yang emang terasa. Mungkin aja yang dimasak ini adalah ikan gurame yang lagi berenang-renang, sehingga baru sebaru-barunya. Hehe.

Dari nilai 1-10, menu ini dikasih nilai 7.5. 

2. Ikan Gurame Bakar Bumbu Cobek (IDR 79)

Nggak lengkap kalau makan ikan goreng nggak ada ikan bakarnya juga. Jadilah gue memesan menu ini, Gurame Bakar Bumbu Cobek. Skenarionya, gue sama mama makan yang bakar. Opa sama Oma makan yang gurame goreng. Tapi, memang nggak serius-serius amat jalanin skenario itu, jadi ya semuanya saling comot juga. Opa gue yang paling getol makanin ikan bakar bumbu cobek ini. Salut deh ya, masih kuat makan pedes. Enak sih! Woohoo!



Gurame bakar bumbu cobek di TS ini enak. Bumbu bakar-bakarannya (manis, asin, dan bumbu ikannya) terasa di lidah. Udah bumbunya enak, sambel yang melapisi di atas badan ikannya juga pol pedesnya! Jujur, gue jauh lebih suka Gurame Bakarnya dibanding Gurame Gorengnya. Mama dan Opa juga mengakui hal itu. Kalau oma sih, emang nggak doyan ikan bakar. Jadi, nggak nyobain deh.



Dari nilai 1-10, menu ini dikasih nilai 8.5. 

3. Kepiting Bakar Daun TS (IDR 128)

Nggak berhenti di Gurame aja, kita juga mesen Kepiting Bakar. Setiap porsi terdiri dari satu kepiting (kepiting jantan) aja. Ukurannya sih jumbo, jadi puas. 



Kepiting ini dibakar pakai saus-saus dan bumbu-bumbu tertentu, terus dibungkus pakai daun TS. Daun TS ini mungkin maksudnya adalah daun yang tumbuh di sekitar Talaga Sampireun kali ya. Bodohnya aku tak bertanya lebih lanjut. Mhihi. 

Kepiting itu pada dasarnya kan enak ya. Bumbu-bumbunya agak spicy gimana gitu. Tapi yang ngeselin dari makan kepiting itu adalah satu. Yap, BUKANYA RIBET. Hahaha, butuh perjuangan buat bukain cangkang-cangkang itu kan yaa. Tapi, tak apalah, rasanya berbanding lurus dengan kesusahan kita mengumpulkan daging kepiting itu, kok. Hehe.


Dari nilai 1-10, menu ini dikasih nilai 8. 

4. Cumi bumbu mangga (IDR 59)

Akhirnya, hidangan laut lain yang kita pesen adalah cumi dan kita merelakan diri untuk tidak memesan udang lagi. 



Cumi goreng tepungnya enak. Tapi, cuma buat gue doang enaknya. Cuminya lunak dan mudah digigit soalnya. Mangga yang nemenin si cumi bisa digadoin juga, makanya seru. Asem-asem pedes. Beda lagi sama pendapat dari oma dan mama gue. Mereka bilang, cuminya kurang berasa bumbunya. Cenderung nggak ada rasanya malahan. Terus, kebanyakan tepung dan sedikit masih basah alias nggak garing. 

Oma dan mama gue akhirnya sedikit berkesimpulan kalau makanan yang digoreng-goreng di TS ini kurang oke dan kurang sesuai dengan selera mereka. Yang bener-bener jempolan justru yang bakar-bakar dan menu kepitingnya. Itu enak banget, sih.


Dari nilai 1-10, menu cumi ini dikasih nilai 7. 

5. Tumis bunga pepaya (IDR 27)

Cuma satu kata. PAHIT! Gue nggak suka dan nggak bisa makan banyak-banyak. Kalaupun makan, harus ditemenin sambel banyak-banyak. Kalau nggak, ampun deh. Haha.
Ini favorit oma mama dan opa gue banget sih tapi. Beda umur sih, ya... :'



Menu lainnya: 
6. Nasi Putih (IDR 9) -- OMG!
7. Teh Tarik (IDR 19)
8. Es Teh Tawar/ Teh Hangat Tawar (IDR 9) -- OMG juga!
9. Air Mineral (IDR 12)


SPOTTED! Bentuk wastafelnya unik-unik
Terlepas dari makanan-makanannya yang agak mahal, ketika kita memutuskan untuk makan di Talaga Sampireun, yang kita beli nggak cuma makanannya aja. Tapi juga suasanannya, suara gemericik airnya, pemandangannya, serta kegesitan dan keramahan pelayannya.

Di sini juga ada jaminan yang diberikan oleh TS. Kalau makanan yang dipesan datang setelah lebih dari jangka waktu yang ditentukan, maka pemesan berhak mendapatkan 'sesuatu' dari Talaga Sampireun (kalau nggak salah, produk gratis atau diskon)...

Tempatnya recommended abis buat kalian yang mau nyari suasanya syahdu bareng keluarga. Kumpul-kumpul, cerita-cerita, ketawa-ketawa, pas banget! 

Desir angin, gemericik air.
Wiati bulao diluhut hamparan pare
Angin ngahiliwir nyabak kana hate
Batara alam mukakeun gapura hidup
Talaga endah anu nyreset hate

(kutipan dari buku menu)

TALAGA SAMPIREUN

BINTARO
Blok B7/N1 Boulevard Bintaro Jaya
Kawasan Niaga Bintaro Sektor 7
(021) 745 3999; 0857 1159 6323
bb: 7A0DFC78
Reservation: (021) 745 3999 (reservation@talagasampireun.com)

ANCOL
Jalan Lapangan Golf 7 Ancol, Pademangan Utara
(021) 647 00400; 081 299 222 175
bb: 73CF595F 
Reservation: (reservation.ancol@talagasampireun.com)

www.talagasampireun.com
Instagram: @TalagaSampireun
Facebook: Talaga Smpireun

Wednesday, July 2, 2014

A Hwa Chinese Food: Makan Banyak, Perut Kenyang!

Sepertinya ada yang salah dengan judul yang gue bikin. Kalau makan banyak ya pasti perut kenyang. Nggak mungkin makan banyak, tapi perut nggak kenyang-kenyang. Bukan karet, kan, tuh perut? Hehe.

Gue memberi judul seperti itu tentu ada alasannya. Di A Hwa Chinese Food daerah Pluit, kita akan bisa makan banyak (sebanyak-banyaknya) dan perut kita akan kenyang (sekenyang-kenyangnya).

Gue nggak tau restoran ini udah terkenal banget atau belum, yang jelas, setiap ke sini pasti rame banget. Makanannya enak, harganya juga nggak terlalu mencekik. Semahal-mahalnya, satu orang bisa makan sampai lima menu dengan budget IDR 50/orang. Ya, kalau makannya rame-rame sih. Hehe.


Suasana A Hwa
Kebetulan, gue selalu berkunjung ke sini sama keluarga. Jadi, kita selalu berlima. Kunjungan terakhir sebelum gue menelurkan tulisan ini adalah kunjungan gue yang ketiga.

Kalau ke sini, menu yang juara itu emang Babi sama Bebek. Jadilah, gue pesen menu-menu itu dan beberapa menu lainnya.

Here they are, the review!

1. Bebek Peking Panggang (IDR 140/ekor)

Kalau mau makan bebek peking tapi kalian nggak bawa banyak orang, jangan pesan yang satu ekor. Gue berlima biasa pesan yang 1/4 ekor. Itu aja udah cukup kok buat bagi-bagi. Ya, kalau benar-benar cinta bebek, pesen 1/2 boleh lah.

Bebek!
Soal rasa, rasanya enak, dagingnya lembut. Rasa sausnya juga pas. Tapi, buat gue ada kurangnya. Kulitnya kurang garing, melainkan berminyak dan basah. Cocok buat orang yang suka banget sama tekstur kulit bebek yang berminyak dan berlemak. Enak sih emang, tapi akan jauh lebih enak kalau kulitnya garing. Gue pribadi soalnya lebih doyan yang kulitnya garing. Lebih nyesss... Selera orang kan beda-beda tapi yaaa. Hehe

2. Siobak (IDR 30/ons) dan Chasiu Madu (IDR 35/ ons)

Duet daging babi ini emang tiada tara enaknya. Siobak itu yang ada minyak-minyak babinya gitu. Warnanya coklat, biasanya garing. Di A Hwa, siobaknya garing dan enak. Sama enaknya kayak daging merah atau Chasiu Madunya. Chasiu ini sebenarnya juga ada yang biasa, alias ga ada embel-embel madu-nya. Bedanya, kalau chasiu madu itu lebih garing dan manis. Kalau yang biasa, lebih terasa 'daging'nya dan nggak segaring chasiu madu. 

Sio Bak + Chasiu Madu
Gue sendiri lebih suka yang chasiu madu karena manis dan garing. Lebih enak aja. Cuma emang lama-kelamaan pasti enek makannya kalau kebanyakan.

Sejujurnya, gue nggak pernah menemukan duet daging babi ini nggak enak. Seolah-olah, semua yang bikin daging ini, udah punya SOP sendiri gimana mengolah babi biar enak. Hmm..

3. Cumi Tauco Pete (IDR 45)

Cumi, ada tahunya juga kan tuuuuhh....
Tauconya enak. Cuminya lunak dan terasa fresh. Tapi, kurang asin buat gue. Maklum, standar keasinan gue agak jauh dari standar. Porsinya cukup banyak dan cukup banget buat ramean. Recommended enough...

4. Sop Hipio Bakso (IDR 45)

Ada hipio (katanya perut ikan), ada bakso ikan, ada sayur-sayuran juga macam sawi, wortel, dll. Kuahnya bening dan standar aja gitu rasanya. Kalau mau sesuai selera, bisa ditambahin kecap asin atau cabe hijau potong atau bumbu lainnya. Gue sendiri, selama ada cabe + kecap asin, lidah gue pasti aman terkendali. Makan babi ditemenin pake sayur kuah itu buat gue kombinasi yang pas banget. Biar nggak seret. 


Lagian, kalau udah bosen sama yang namanya Sapo ini Sapo itu, cobain sop bakso kuah aja sekali-kali. Biasanya, di Chinese Food Restaurant, bakso yang dipakai di sop bakso kuah adalah bakso ikan. 

5. To Miau Bawang Putih (IDR 37.5)

To Miau!
Rasanya standar sayur hijau pada umumnya. Harganya standar juga sih. Tapi standar orang Pluit, hoho. Untuk sayur, memang harga di A Hwa lumayan tinggi. Tapi emang porsinya banyak sih, cukup buat 5 orang.

6. Nasi Putih (IDR 6)

Nggak perlu review kan? :p

7. Chinese Tea (IDR 15)
Dihitung per-pot. Jadi, untuk berlima tetap IDR 15. Refill pula! Cocok untuk dijadiin pilihan minuman.


Overall, rasa makanan di A Hwa enak. Tapi khusus yang berbau-bau babi dan bebek aja. Yang lain, rasanya standar. Kalau yang belum pernah gue pesen, gue belum bisa bilang rasanya gimana. Untuk harga, beberapa menu bisa dibilang mahal, tapi beberapa menu bisa dibilang cukup murah atau standar. Anyway, di buku menunya tidak dicantumkan harga, jadi pesanlah ikan/babi/bebek yang harganya menurut gue cukup wajar. Nggak makan babi? Tenang, masih ada ayam, sapi dan berbagai jenis hidangan laut.

Udah penasaran? Yuk ke A Hwa.

A Hwa Chinese Food Restaurant (
Jalan Pluit Karang Timur Blok O VIII No. 64-65
Muara Karang
Tel: 021 668 1628