Friday, January 25, 2013

Writing Project.

Iseng-iseng buka link dari sebuah posting-an teman di FB. Ternyata ada ajakkan kepada para mahasiswa/ kepada siapapun untuk ikut serta dalam sebuah proyek menulis.

Intinya, proyek ini mengajak siapapun untuk berkontribusi menulis kisah inspiratif yang pernah dialami. Harus kisah nyata. Nantinya, kisah-kisah ini akan diterbitkan menjadi sebuah buku. Keuntungannya akan diamalkan.

Seru!

Setelah baca posting-an itu, terpikir olehku untuk ikut serta mengirimkan kisah-kisah hidupku. Semoga saja tulisan itu bisa aku ciptakan sebelum tanggal deadline dan bisa menjadi inspirasi untuk orang lain di luar sana. :)
 
LINK-nya:
http://ketikamerekabercerita.blogspot.com/ 

Vakansi di Jogjakarta. (Part III)

Hari 6, Sabtu 19 Januari 2013
GUDEG YU DJUM - Malioboro - Bakpia Pathok 25

Tiba sudah rangkaian perjalanan ini semakin dekat dengan akhir. Sabtu ini merupakan hari paling santai sepanjang perjalanan kami. Sabtu pagi, Edith dan Yoseph berkunjung ke rumah Budhe mereka, sehingga hanya tinggal Aan, Dimas, aku, dan Maltal di rumah. Mbak Nun dan Otheb harus ke Solo, sedang Stella memiliki rencana sendiri dengan teman-temannya di Jogjakarta.
Akhirnya, aku, Dimas, dan Aan memutuskan untuk menukarkan tiket pulang ke Stasiun Lempuyangan sambil mengantarkan Stella bertemu dengan seorang teman yang menjemputnya. Setelahnya, kami bertiga mencari makanan pagi sebelum nanti makan siang bersama dengan Edith dan Yoseph. Kami hanya membeli roti dan makanan ringan di minimarket lalu pulang ke rumah sambil menunggu Edith dan Yoseph pulang. Benar-benar seperti tinggal bersama. Saling menunggu satu sama lain. Sempat terbersit di pikiranku, betapa serunya jika di Depokpun kami tinggal bersama seperti itu. 

Pukul makan siang tiba bertepatan dengan sampainya Edith dan Yoseph di rumah. Kami berenam lalu memutuskan untuk mencari Gudeg sebagai makan siang dan jatuhlah pilihan kami di rumah makan Gudeg Yu Djum. Nasi Gudeg lengkap dengan telur dan ayam bagian paha bawah hanya menghabiskan 20 ribu rupiah. Kami kenyang dan kembali bersemangat!

Gudeg YU DJUM!
Pernah dengar mitos Beringin Kembar yang ada di alun-alun Selatan Jogjakarta?


Ya, setelah makan, kami berenam memutuskan pergi ke alun-alun Selatan untuk menjajal mitos tersebut. Konon katanya, jika kita dapat melewati jalan di antara dua beringin kembar itu, permohonan kita akan terkabul. Lalu, aku dan teman-teman tertarik untuk mencoba. Dimas yang mencoba pertama kali tidak berhasil, Aan, aku, dan Edith yang menyusulnya juga tidak berhasil. Maltal, yang terakhir kali mencoba langsung berhasil untuk pertama kalinya. Sungguh, Maltal beruntung. Aku dan yang lain masih penasaran. Yoseph yang ikut menyebrangi beringin itu juga belum berhasil. Ajaibnya, Aan dan Dimas berhasil pada kesempatan ketiga. Aku berhasil pada kesempatan keempat. Haha. Rasa penasaranku terjawab sudah. Mungkin lain kali, aku ingin mencobanya lagi?

Masing-masing menunggu gilirannya untuk jalan melewati beringin kembar.

Finally, aku bisa melewati beringin kembar :)

me and Maltal :)


Dari beringin kembar, kami menuju Jalan Malioboro. Surganya oleh-oleh. Teman-temanku yang lain, kelihatannya tidak terlalu tertarik untuk belanja oleh-oleh, tapi aku, aku justru menanti kesempatan ini. Ada yang menitipkan oleh-oleh aksesoris padaku. Aku sendiri memang suka mengoleksi benda-benda dari kota lain, minimal kaos oblong. Meskipun nantinya hanya aku pakai untuk tidur, tapi yang penting aku membawa sesuatu dari Jogja. Aku beli kaos oblong untuk aku, ibuku, ayahku, opa dan oma. Harganya dari 150 ribu/5 potong hanya bisa aku tawar sampai mentok di angka 130 ribu/5 potong. Gantungan kunci, tas Jogja, dan aksesoris lainnya pun aku beli dengan upaya tawar-menawar yang susah payah. Itulah seninya belanja di kaki lima. Harus jago tawar menawar.

Aku, Maltal, Edith, dan Dimas yang merupakan BPH KMK UI 2013 memutuskan untuk membeli gelang bermotif sama. Kalau dipikir-pikir, tindakan membeli gelang serupa ini unyu juga ya. Tapi, menarik. Mudah-mudahan saja kami akan selalu kompak menjalankan KMK UI setahun ke depan bersama pengurus lainnya. Amin.

Usai dari Malioboro, kami berenam meluncur ke Jalan K.S Tubun untuk berburu bakpia di Bakpia Pathok 25. Katanya, bakpia ini paling enak! Aku beli 4. Kacang Ijo 1 kotak, Keju 2 kotak, dan Aneka Rasa 1 kotak. Totalnya 88 ribu rupiah. Itu harga diskon. Harga sebenarnya 100 ribu rupiah. Hanya saja, karena kami membawa kendaraan, jadi masing-masing kotak dapat potongan harga 3 ribu rupiah. Bakpia ini memang paling enak. 

Stella yang sudah selesai bertemu teman-temannya, datang menemui kami di tempat bakpia ini, dan kami bertujuh pulang ke rumah.

Rencananya, malam itu kami akan makan bakmi Jawa. Tapi, hujan deras turun, dan ujung-ujungnya kami hanya memesan McDonalds. Haha. Jauh-jauh ke Jogjakarta, ujung-ujungnya McD. Namun apa daya, namanya hujan deras mengguyur Jogja.
Tak terasa, itu hari terakhir kami di Jogjakarta, esoknya kami harus pulang ke Jakarta, dan ya, selamat datang kembali realita.

Hari 7, Minggu 20 Januari 2013
PULANG

Sudah 6 hari kami habiskan di Jogjakarta. 5 hari mungkin yang paling tepat, karena 1 harinya kami habiskan di perjalanan. Sekarang saatnya kami pulang ke Jakarta. Ke rumah masing-masing, bukan lagi ke rumah Edith di Jogja. Saatnya kami hadapi realita dan setumpuk pekerjaan yang menanti di Jakarta.
Ya, Jakarta, kami pulang! Dengan menggunakan kereta Ekonomi AC pagi pukul 07.30, kami berangkat pulang. Meskipun tadinya ketar-ketir ketinggalan kereta, karena kami baru meluncur dari rumah pukul 07.15, toh pada akhirnya kereta itu masih berjodoh juga dengan kami.

Tiket pulang.
16.00, hawa Jakarta kembali menyapa kami. Jakarta yang sedang dilanda bencana banjir. Jakarta yang penuh kesibukan. Jakarta dan bukan Jogjakarta. Keduanya berbeda, tapi masing-masing punya cerita.
Terima kasih Jogjakarta untuk 7 hari yang istimewa. Terima kasih untuk berbagai sudut kotamu yang sanggup membuatku tersenyum bahagia. Terima kasih untuk ketenangan kotamu yang membawa rasa tentram untukku. Terima kasih Terima kasih JOGJAKARTA.

Kisahku ini mungkin bukanlah kisah yang sempurna bagi kalian. Tapi kisah ini sangat sempurna untuk selalu kusimpan dalam ruang kecil di dalam otak serta hatiku.
Terima kasih untuk teman-teman sekalian.
Untuk Edith, Maltal, Dimas, Aan, Stella, Otheb, Mbak Nun, Cungkring, dan Yoseph yang membuat sepotong kisah ini menjadi lebih indah dan berwarna. 

Sampai jumpa lagi, Jogjakarta!

Vakansi di Jogjakarta. (Part II)

Hari 3, Rabu 16 Januari 2013.
Bakso ITO, Candi Borobudur, restoran jeJamuran, ANGKRINGAN JOGJA.

Ya, saatnya kumulai lagi kisahku di hari ketiga kami di Jogja. Hari ini, kami berencana mengunjungi Candi Borobudur. Awalnya, teman-temanku tidak tertarik lagi mengunjungi candi ini. Bosan katanya. Sudah terlalu sering. Aku, justru kebalikannya, aku ingin sekali berkunjung ke Candi Borobudur, karena aku hanya pernah sekali mengunjungi Candi ini, dulu lama sekali ketika aku masih SMP. Tapi, saat itu aku berpikir, masa aku harus memaksakan kehendakku melihat Borobudur, sedangkan yang lain tidak berencana ke sana. Namun, akhirnya, entah dengan diskusi yang bagaimana, kami putuskan untuk mengunjungi juga Candi Borobudur. Lega. Bisa lagi kuinjakkan kakiku di bangunan yang dulu katanya adalah salah satu keajaiban dunia ini.

Kami berangkat pukul 9 atau 10 pagi, aku tak ingat pasti. Yang jelas, kami makan pagi di tempat makan 'Bakso ITO'. Tadinya, aku pikir ini adalah bakso daging sapi, ternyata bukan. Ini adalah bakso babi. Haha. Ini memang kesukaanku. Kalau bakso sapi, mungkin aku akan bingung memutuskan menu mana yang aku pilih, karena, yaa aku sedang pantang sapi semenjak terkena penyakit hepatitis beberapa bulan lalu. Semangkok bakso di bakso ITO kurang lebih berharga Rp 18.000,- meskipun ada juga yang lebih dari 20ribu, tapi hanya beberapa menu saja. Selesai makan, kami langsung menuju Candi Borobudur. Tapi, Mbak Nun tidak ikut. Ia harus pulang ke Solo. Total kami kembali tujuh orang.

Lagi-lagi, harus kukatakan ingatanku payah. Aku lupa, dari jam berapa sampai jam berapa kami menikmati keindahan Borobudur. Yang aku ingat, di sana, kami puas berfoto-foto hingga akhirnya perut kami yang lapar memaksa kami untuk meninggalkan Candi berlatar agama Buddha itu.

Indahnya borobudur.



Tempat makan yang hari itu menarik hati kami adalah rumah makan jeJamuran. Semua menu makanannya merupakan hasil olahan Jamur. Di tempat ini, kita bisa menemukan rendang jamur, tongseng jamur, jamur goreng penyet, sate jamur, jamur cah asam manis, dan masih banyak menu-menu jamur lainnya. Kami, yang memang terdiri dari orang-orang doyan makan, memesan bermacam-macam menu olahan jamur itu. Harganya? Lagi-lagi tidak terlalu mahal. Kenyang sekali perut kami siang (atau sore?) itu. Puji Tuhan.


Atas: jamur asam manis, jamur goreng tepung shitake, tongseng jamur, dan sate jamur. Bawah: rendang jamur dan jamur goreng penyet.
 
Makanan yang kami pesan:
1. Nasi Putih (tentunya) @ Rp 3.182,-
2. Sate Jamur Kancing @ Rp 12.273,-
3. Tongseng Jamur @ Rp 8.182,-
4. Rendang Jamur @ Rp 8.182,-
5. Jamur Goreng Tepung Shitake @ Rp 15.455,-
6. Asam Manis Shitake @ Rp 15.455,-
7. Jamur Goreng Penyet @ Rp 12.727,-

Minumannya:
1. Tea @ Rp 6.364,-
2. Honey Lime Tea @ Rp 8.182,-
3. Wedang Jejamuran (bagus untuk kesehatan, berfungsi sebagai obat) @ Rp 10.000,-
4. Aloe Vera Squash @ Rp 16.364,-
5. Tape Ketan @ Rp 4.091,-
6. Soda Gembira @ Rp 10.000,-

menu lainnya.
*harga belum termasuk PPn.

Pulang dari jeJamuran, kami mampir dulu ke rumah untuk beristirahat sebentar, dan malamnya, kami putuskan untuk menengok angkringan-angkringan pinggir jalan di Jogjakarta. Kisahku mungkin tak bisa sepenuhnya sempurna, karena, yaaaah, aku (lagi-lagi) lupa nama jalan tempat berdirinya tenda angkringan yang kami kunjungi. Yang aku tahu, angkringan itu dekat sekali dengan stasiun Lempuyangan kalau tidak salah, dan sepanjang jalanan ini, yang aku lihat hanyalah angkringan dan angkringan. Tinggal pilih salah satu yang mana yang paling menarik hati, dan duduklah di selembar tikar, nikmatilah suasana Jogja!

Perutku yang memang berkapasitas banyak, memilih beberapa tusuk sate untuk dikonsumsi. Sate kulit, sate ati ampla, sate usus, menjadi benda-benda yang mengisi perutku malam itu. Sebungkus sego kucing isi teri menjadi teman dari si sate dan segelas susu coklat hangat menjadi pelengkap makan malamku. Sungguh, luar biasa sekali rasanya. Makanan murah dan enak, dinikmati sambil merasakan hawa malam Jogjakarta.

Malam itu aku pribadi pulang dengan rasa senang dan SYUKUR. Suasana itu tak mungkin dapat aku nikmati di Jakarta. 

Hari 4, Kamis 17 Januari 2012
SOLO
ES MASUK - Kupat Tahu - Serabi - Angkringan SOLO

Dilihat dari judulnya, mungkin kalian bisa menebak bahwa wisata di hari keempat itu kami habiskan dengan berwisata kuliner. Haha. Pagi-pagi kami langsung bergerak menuju Solo, menyambangi kediaman Mbak Nun. Sampai di rumah Mbak Nun, kami disuguhkan bakwan goreng serta sukun goreng. Buatan Mbak Nun serta Ibunya. Enak dan lumayan untuk mengisi perut kami yang tidak sempat sarapan. Di rumah Mbak Nun, kami mendiskusikan tempat makan, dan akhirnya diputuskan untuk makan di 'Es Masuk'. Itu tempat makan berisi makanan-makanan khas Jawa Tengah. Ada makanan yang namanya 'SELAT', semacam steak khas Jawa Tengah. Lalu, aku sendiri memesan Nasi Teamlo khas Solo. Harganya, lagi-lagi tidak tergolong mahal. 

Nasi Teamlo. Isinya ada wortel, jeroan sapi, telur, jamur, dan sedikit daging ayam.
Kenyang makan siang dan tak punya tujuan lain untuk berwisata, akhirnya kami berkunjung ke rumah Otheb di Solo. Bertemu dengan Budhe-nya Otheb, lalu sejenak beristirahat dan kembali mendiskusikan rencana perjalanan. Keputusan yang kami dapatkan adalah bahwa kami akan membeli Kupat Tahu serta Serabi Solo, setelahnya, kami akan berleha-leha di rumah Mbak Nun, sembari menunggu makan malam. Benar-benar perjalanan kuliner hari itu. Setelah sempat tidur siang sampai sore di rumah Mbak Nun dan menikmati hangatnya Serabi Solo dan Kupat Tahu, kami memutuskan untuk makan di angkringan di Solo. Namanya mungkin sama-sama angkringan. Tapi suasana dan menu makanannya sedikit bervariasi di angkringan Solo. Intinya, ketemu sate-satean itu lagi dengan jenis yang lebih beragam, EXACTLY tetap menyenangkan dan mengenyangkan. Mbak Nun yang tadinya tidak berencana ke Jogjakarta bersama kami, akhirnya memutuskan untuk ikut ke Jogja, karena besoknya, hari Jumat, kami akan melakukan perjalanan ke Gua Maria Tritis dan Pantai Indrayanti. Can't wait!

Hari 5, Jumat 18 Januari 2013
SOTO Boyolali - Gua Maria Tritis - Pantai Indrayanti - Makan Ikan Bakar - Nasi Babi

Tiba sudah aku kisahkan perjalananku pada hari kelima. Pagi-pagi kami berdelapan memutuskan untuk sarapan yang super kenyang di Soto Boyolali. Jadi, sotonya ini langsung dicampur dengan nasi, sehingga nasinya digenangi kuah. Itu sama sekali bukan kesukaannya Maltal, jadi pagi itu, Maltal, memutuskan untuk makan nasi pakai mi goreng. Hehe.

Perut sudah kenyang, kami siap untuk melanjutkan perjalanan ke Gua Mari Tritis dan Pantai Indrayanti di daerah Gunung Kidul. Jalanannya berkelok-kelok, namun untung perut kami semua sudah terisi, sehingga kami tidak merasa pusing. Edith, Mbak Nun, dan Stella memutuskan untuk tidur sepanjang perjalanan. Aan dan Maltal melakukan hal yang sama meskipun mereka tidak senyenyak yang lain. Dimas dan aku menemani Otheb menyetir mobil. Aku memang tidak suka tidur sepanjang perjalanan, kecuali rasa kantuk benar-benar sudah menyerang.

Sekitar pukul 1 siang, kami sampai di Gua Maria Tritis. Gua Marianya benar-benar 'Gua'. Terbentuk dari bebatuan alami di pegunungan. Ada seorang ibu, bernama ibu Sisca yang menceritakan beberapa petikan sejarah tentang Gua Maria Tritis. Aku menggunakan kesempatan berkunjung ke Gua Maria ini untuk memanjatkan doa. Semoga di tempat itu, doa yang aku panjatkan dapat terkabul suatu saat nanti.

Patung Maria di Gua Maria Tritis. Heran. Kenapa warna patungnya hitam?
Salib yang terdapat di Gua Maria Tritis

Kegiatan foto-foto yang sudah menjadi kebiasaan, tak dapat kami tolak lagi. Banyak foto yang dihasilkan di Gua Maria Tritis. Dan, hasil sekian kali 'jeprat-jepret' itu sudah cukup bagi kami sebelum kami melanjutkan perjalanan kami ke Pantai! Ya, Pantai Indrayanti yang atas rekomendasi beberapa orang merupakan pantai paling bagus akan segera kami kunjungi.


Jarak dari Gua Maria Tritis ke Pantai Indrayanti cukup jauh. Kami harus melewati beberapa pantai dulu, baru akhirnya tiba di Pantai Indrayanti. Kelelahan kami terbayar setelah melihat putihnya pasir dan birunya air laut. Untunglah cuaca saat itu cerah, sehingga kami tidak perlu repot-repot menghindar dari hujan atau semacamnya. Angin yang bertiup menyapu kulit tanganku dan, ah tak kuasa di tolak, rasa tenteram menjalar di sekujur tubuhku.

Captured by Aan

Captured by Aan

Kami menghabiskan waktu cukup lama di Pantai. Berfoto-foto lagi dengan berbagai macam gaya dan kreasi yang diarahkan oleh pengarah gaya dadakan, Edith. Menunggu perut lapar untuk menikmati hidangan seafood pinggir pantai.


Pukul 4 sore, kami memesan menu hidangan laut, aku dan beberapa teman lain, memesan Paket Nasi Ikan Bakar, Otheb memesan Paket Nasi Udang Goreng, dan Edith yang katanya tidak suka ikan, memesan Paket Nasi Ayam Goreng. Harga masing-masing paket tersebut Rp 15.000,-. Tergolong murah memang. Rasanya juga tidak begitu buruk, hanya saja, ikan yang dibakar itu banyak sekali tulangnya. Aku juga tidak tahu itu ikan apa, tapi ya tetap aku makan saja, toh yang penting enak dan mengenyangkan. Maklum, perut sudah begitu lapar saat itu.

Selesai makan, perlahan-lahan langit mulai menjingga. Sunset sebentar lagi akan muncul. Momen-momen indah yang biasa dinikmati di pantai. Kami duduk di pinggir pantai untuk menunggu datangnya sunset. Ketika matahari perlahan turun, kami mulai berfoto-foto dengan berbagai macam gaya. Menarik sekali!

Matahari pun menghilang hingga tak terlihat lagi, senja mulai muncul. Maltal, Otheb, dan Aan yang butuh berbilas pun segera pergi ke kamar mandi untuk berbilas, sedangkan yang lain menunggu dengan sabarnya. Hari itu, ketika pulang, penat kami hilang berganti senang.

Pantai Indrayanti, you're such a really beautiful beach!

Karena hari itu hari Jumat, dan esoknya hari Sabtu, maka Yoseph, adik Edith bisa ikut kami jalan-jalan malam harinya. Yoseph mengajak kita semua untuk ke Kalimilk, salah satu tempat dengan produk utama susu, yang ada di Jalan Kaliurang (mungkin mirip Cimory?). Sayangnya, ketika tiba di Kalimilk, semua tempat terisi penuh, dan kami harus masuk Waiting List yang ke-6. Malas menunggu karena hari sudah terlalu malam, akhirnya kami memutuskan untuk makan di tempat serba B. B1 dan B2. Hehe.

Kami makan nasi Babi! Babi Kecap hanya berharga Rp 10.000,- sepiring, begitu pula dengan menu Babi Rica. Nasi putih sepuasnya hanya dihargai Rp 2.000,- satu orang. Tidak begitu mahal dibandingkan dengan restoran-restoran di Jakarta yang menyajikan menu Babi.

Perut kenyang, hatipun senang, begitu ucap salah seorang temanku dulu. Itu yang terjadi pada kami malam itu. Hati begitu senang menikmati pantai, makan seafood, makan nasi Babi pula! Haha.

Sungguh malam hari yang menyenangkan.
Tak dikira, waktu kami di Jogjakarta semakin sedikit. Hanya tinggal hari Sabtu besok. Tak apalah :)

Thursday, January 24, 2013

SUSHI-ING at SUSHI TEI.

FINALLY!

Haha, boleh lo bilang gue norak atau apapun. Nggak apa-apa. Yang jelas, hari ini akhirnya gue berkesempatan NYUSHI di SUSHI TEI. Asyiiiiik!

Udah lama banget gue penasaran nyobain SUSHI TEI. Tapi nggak pernah kesampean. Ada aja halangannya. Entah nggak ada waktu lah. Atau pas ada waktu, selera makan SUSHInya lah yang lagi nggak ada. Atau pas lagi ada waktu, ada selera, temen makannya lah yang nggak ada. ADA ADA AJA HALANGANNYA.

Tapi, akhirnya hari ini, waktu ada, selera ada, temen makannya ada, yakni NYOKAP. YEAAAAAAAH!

Menurut beberapa kabar, biasanya untuk makan di SUSHI TEI, pasti lo harus ngantri alias harus masukkin nama dulu di WAITING LIST. SO DO I. Gue juga ngantri. Nunggu giliran buat makan aja sampe 15 menit sendiri. Nggak papa deh, namanya juga perjuangan makan sushi :D.

Jam satu siang pas, gue sama nyokap dipanggil karena udah ada 1 tempat yang kosong. Duduklah kita, bolak balik menu lah kita, memilihlah kita. Dan, pilihan hati kami jatuh kepada... JENG JENG JENG JENG:
1. FUJI ROLL (Rp 29.000,-)
2. ABURI SALMON ROLL (Rp 75.000,-)
3. UNATAMA TOBIKO MAKI (Rp 40.000,-)
Syedaaaaaaaap! Hehe...

atas kiri: FUJI ROLL. atas kanan: UNATAMA. bawah: ABURI SALMON ROLL
Makanan di SUSHI TEI menurut gue jatohnya nggak terlalu mahal. Ya sebanding dengan apa yang lo dapet. Kenapa?

1. Suasana makan di SUSHI TEI itu nyaman banget.
2. Seporsi ABURI SALMON ROLL yang gue pesen itu, guedeeeeee dan banyaaaaaaak. Jujur, perut gue sampe penuh banget.
3. Pelayanannya nggak terlalu lama.

INTINYA, gue akan memasukkan SUSHI TEI ke dalam daftar RESTORAN WAJIB KUNJUNG SEBULAN SEKALI atau DUA BULAN SEKALI (Ini daftar juga baru gue bikin sekarang kayaknya). Hihi.

Tergantung kondisi kantong juga sih. Hehe.

LES MISERABLES.

Hari ini gue kembali merandom. Bedanya, kali ini sama nyokap. Teman ngedate paling setia, karena nyokap gue yang paling mengerti keadaan jomblo gue. Oke, ini curhat.

Kali ini, kita berdua nonton film LES MISERABLES di BLITZMEGAPLEX TERAS KOTA.
Udah beberapa hari, gue penasaran sama film ini. Tau sih, sedikit-sedikit tentang ceritanya, tapi nggak tau detilnya. Nah, gue, sebagai mahasiswa SASTRA PRANCIS, agak merasa malu ya kalau nggak tau cerita lengkap LES MISERABLES yang merupakan karya VICTOR HUGO ini. Hehe, akhirnya ya, memutuskan nonton film ini hari ini.

Perancis abad ke-19, saat Jean Valjean (Hugh Jackman) dibebaskan dari penjara setelah 19 tahun mendekam karena mencuri sepotong roti, pembebasan bersyarat untuk menciptakan kehidupan baru untuk dirinya sendiri, ia harus menghindari Inspektur kejam Javert (Russell Crowe), yang telah ditunjuk untuk membawanya ke keadilan.

Delapan tahun berlalu, Valjean menggunakan identitas baru dan hidup membujang sebagai pemilik pabrik yang kaya serta sebagai Walikota Montreuil-sur-Mer. Fantine, salah satu wanita yang bekerja di pabriknya, adalah seorang ibu tunggal yang mengirimkan semua uang kepada orang-orang yang merawat putrinya kecil, Cosette. Ketika para pekerja mengetahui bahwa ia memiliki anak diluar nikah, mereka menuntut pengusiran Fantine
Di jalanan, Fantine terjerumus dalam prostitusi untuk membiayai Cosette. Ia ditangkap namun Valjean menolongnya dan dan membawanya ke rumah sakit namun jiwa Fantine tak tertolong. Valjean berjanji untuk menemukan Cosette dan merawatnya, dimana semua itu mengubah hidup mereka selamanya 
http://www.21cineplex.com/data/gallery/pictures/135755746185322_300x430.jpg

Film ini berhasil membuat gue nangis. Bukan, bukan karena gue cengeng. Tapi cerita film ini emang mengharukan, kok! Nggak percaya? Tonton aja sendiri. Hehe.

Sebagian besar dialog di dalam film ini disampaikan lewat nyanyian. Nyanyiannya bukan lagu sembarangan pula. Nyanyian yang berseni. Nyanyian yang dibuat dari lirik yang padu banget. Ini mungkin menjadi ciri tersendiri yang menarik bagi film ini.

Dari segi pemain, semuanya oke-oke punya aktingnya. Ya jelaslah ya, yang jadi pemerannya aja bintang-bintang terkenal semua.

Meskipun berdurasi kurang lebih hampir 3 jam, film ini sama sekali nggak membosankan! Menurut gue pribadi sih, karena pada dasarnya, gue suka aja sama film yang banyak nyanyiannya. Tapi, bukan banyak nyanyian kayak film India juga. Hehe. Film Les Miserables ini HIDUP! MENGHARUKAN!

Gue nggak bisa mengulas banyak hal tentang film ini. Semua ditampilkan dengan begitu menarik. Dengan sangat musikal. Dengan sangat mempesona! Yang gue tau cuma 1 kata buat film ini: BAGUS!

Film ini buat gue menunjukkan betapa susahnya kita bisa mencairkan hati yang udah lama beku, kayak hatinya Javert.
Film ini mengajarkan bagaimana kita harus tetap memaafkan orang lain, sekalipun orang yang udah nyakitin hati kita.
Film ini, mengajarkan gue untuk tidak mencuri sepotong roti kalau nggak mau di penjara 20 tahun. Haha.

FILM INI HARUS LO TONTON!

Sumber: http://www.21cineplex.com/les-miserables-movie,3019,13LMIS.htm

Hansel and Gretel Witch Hunters.

Yap! This is the film I saw with Aan yesterday!

Augsburg, sebuah kota kecil di dekat hutan menjadi saksi bisu kelahiran cerita antara penyihir dan pemburu penyihir. Kakak beradik, Hansel (Jeremy Renner) dan Gretel (Gemma Arterton) memutuskan untuk menjalani hidup sebagai pemburu penyihir sejak kehilangan kedua orang tuanya, dan insiden tak terlupakan pada masa kecilnya yang membuat mereka trauma.
 
Cerita dimulai saat seorang Walikota Augsburg menunjuk Hansel dan Gretel untuk menangani wilayahnya dari tragedi penculikan anak dibawah umur, yang diduga merupakan ulah dari penyihir yang tinggal di dalam hutan. Warga setempat memanggilnya Muriel (Famke Janssen).
 
Pada permulaan mengawali tugasnya untuk memburu serta mencaritahu niat terselubung dari Muriel, Hansel dan Gretel harus meluruskan pemikirannya dengan Sheriff Berringer (Peter Stormare), yang diketahui tidak menginginkan kehadiran duo pemburu tersebut di wilayahnya.
 
Kedatangan kakak-beradik tersebut berdampak pro dan kontra bagi masyarakat Augsburg. Sementara mereka masih terus berusaha untuk menghentikan aksi keji dari Muriel. Dengan beberapa bantuan dari warga setempat yang menyambut baik kehadirannya, Hansel dan Gretel mencoba berbagai cara untuk melumpuhkan si penyihir. Hingga kemudian, Hansel dan Gretel menyadari hal yang seharusnya mereka sadari sejak dulu, dan justru menyingkap kebenaran yang terjadi di masa lalu mereka.

http://www.21cineplex.com/data/gallery/pictures/135824385313122_300x430.jpg
Sedikit pengakuan dari gue, I know these two characters, but I've never read the story about them! So, gue bener-bener nggak tau cerita ini cerita tentang apa. Yang gue tau (ini juga abis dikasih tau dikit sama Aan), Hansel dan Gretel adalah kakak adik yang tinggal di rumah kue dan kerjaannya ya berhubungan sama penyihir. Udah gitu doang.

Semua film yang gue tonton menurut gue selalu bagus. Di film Hansel and Gretel, selain tokohnya cantik dan ehm... ganteng, settingnya juga gue suka. Alur ceritanya nggak ngebosenin, malah cenderung bikin tegang, jadinya SERU!. Beberapa bagian dalam film ini juga nggak sulit ditebak. Jadi, ya nggak terlalu misterius lah filmnya. Setting tempat dan kotanya juga INDAH. 

Ada satu bagian di film ini, di mana si MINA, salah satu penyihir baik yang akhirnya meninggal (ups!spoiler), bener-bener NAKED. Dan gue agak takjub ternyata bagian ini bisa lulus sensor di Indonesia, hahaha.

Selama nonton film ini, gue mikir, bedanya penyihir sama vampir apa ya? Bunuhnya aja sama-sama harus dibakar. Hehe.

Yang jadi Muriel sebenernya cantik, tapi mukanya kalau pas berubah jadi penyihir, aduh nggak tahan seremnya. CKCKCK.


OVERALL, film ini layak buat ditonton kok. Buat yang suka tegang liat adegan berantem-beranteman (manusia sama penyihir), buat yang suka cuci mata liat pemain yang ganteng dan cantik, dan buat yang nggak takut liat muka penyihir yang serem-serem, disarankan banget untuk nonton film ini.

GOOD FILM :)

sumber: http://www.21cineplex.com/review/hansel-amp-gretel-witch-hunters-kakak-beradik-pemburu-penyihir,2794.htm

Wednesday, January 23, 2013

Cerita Random 23 Januari.

Lagi-lagi, entah ini kali ke berapa, gue sama Aan merandom bersama.

Biasanya, untuk melakukan random activity, kita pergi ke suatu tempat, mal atau daerah, terus nyari makan yang sama sekali belum pernah kita coba atau nonton film yang belum sama sekali kita tonton. Haha, saking gabutnya jadi ya ritual ini wajarlah ya.

Pilihan tempat untuk merandom kali ini adalah daerah Tebet, tepatnya sepanjang Jalan Tebet Utara Dalam dan Mal Kota Kasablanka. Sebenernya udah lama pengen ke Tebet. Mau nge-distro sama penasaran juga mau ke salah satu tempat penyewaan film-film Indie, namanya Indies Movies.
Akhirnya, setelah penantian lama, baru kesampean sekarang deh nebetnya! Yeay!

Sebelum edisi random with Aan yang ke Tebet ini, kita udh pernah merandom juga nyobain Kenny Rogers Roasters (udah pernah gue ceritain) dan edisi nyobain Pizza Marzano.
Hehe, sungguh kegabutan gue sama Aan ini membawa berkah bagi perut.

Untuk hari ini, kita janji ketemuan dulu jam 11 di stasiun Tebet. Berhubung gue pagi-pagi harus nebeng nyokap ke stasiun, jadinya gue udah sampe di tempat ketemuan jam 10.30. Alhasil, gue nungguin Aan yang masih belum sampai, dengan melakukan berbagai macam aksi yang nggak jelas. Baca blog orang, ngeliatin foto2 liburan, dan masih banyak lagi. Haha.

Jam 11.30, abis gue ama Aan ketemu, tempat pertama yg kita kunjungin adalah Comic Cafe. Dari awal nih cafe ada dan terbentuk, gw udh penasaran nyobain. Tapi belom pernah sempet. Hari ini kali ya baru diijinin nyicipin makan di Kafe Komik ini.
Masuk Comic Cafe, kondisinya masih sepiiiii banget. Gue sama Aan penasaran sama Lounge di lantai 2 yang buat baca-baca berbagai macem komik, tapi ternyata Lounge itu dibukanya baru jam 5 sore. Jadilah, kita, 2 makhluk yang penasaran ini cuma bisa menelan ludah dan memesan makan siang tanpa bisa baca komik. Haha gapapa deh. 
"Jadi ada alasan lain kan buat ke sini lagi." kata Aan sih gini.
Di sini, gue mesen Spider Spaghetti Tuna Aglio Olio sama Oreo Smoothies, Aan mesen Chicken Steak Maryland (kalo ga salah tulisannya gini, gw lupa ejaan yg bener gimana) sama Hot Lemon Tea. Hehe.
Our Lunch menu!
Nah, pas udah mau selesai makan, gw sama Aan bingung kan tuh mau kemana. Pengen lanjut makan Sushi-Ya di Jalan Tebet Raya tapi masih kenyang. Pengen nge-distro abis itu baru nyushi juga males karna muter2. Akhirnya setelah diskusi ngolorngidul, kita mutusin buat nonton film Hansel and Gretel: Witch Hunter aja di Kota Kasablanka XXI. Kita sama-sama belum pernah ke KoKas soalnya. Finally, gajadi nyushi deh hehe. 

Abis bayar makanan di Comic Cafe yang total semua harganya 88ribu rupiah, berangkatlah kita ke KoKas abis sempet mampir-mampir dikit ke beberapa distro. (Eits, gue dapet 1 potong baju loh di Endorse, hehe).

Sampe di KoKas, beli tiket nonton, terus jalan-jalan lagi ke lantai paling bawah. Beli cemilan di Tous Les Jours. Lalu makan Ice Cream di ColdStone. Kebetulan ada promo free upsize juga kan buat pengguna Credit Card BCA -Aan make soalnya- dan kita akhirnya mesen a cup of Dark Chocolate feat. Green Tea ice cream with Almond topping. Lumayan. (Apalagi free buat gue, hihi, Thanks kakAn!).


Emang dasar Random, abis nonton aja kita susah buat nentuin mau pulang naik apa. Akhirnya, abis ngorol ngidul lagi, kita mutusin buat naik taksi. Naik taksi dikit, terus gue turun di stasiun Manggarai dan lanjut naik kereta sampe rumah, sedangkan Aan naik taksi sampe rumah. Nunggu taksinya juga kita sempet pindah-pindah spot dulu dan agak lucu plus ribet sebenernya.

But, seriously, jalan-jalan random untuk mencoba sesuatu yang baru itu selalu menyenangkan buat gue.
Enfin, Thank you kak An sang teman random-nonton-makan for this another great day!

Tuesday, January 22, 2013

Vakansi di Jogjakarta. (Part I)

Begitu banyak ucapan Terima Kasih yang sebelumnya aku ucapkan kepada mereka yang terlibat dalam serangkaian perjalanan kemarin. Tak cukup rasanya jika tak aku bagi kisah 7 hari itu di sini.
Baiklah akan kumulai kisah ini dari awal sekali.

Hari 1, Senin 14 Januari 2013.
BEGINNING.
Kubuka mataku pukul 08.00 pagi. Kepalaku masih berputar karena biasanya tak sepagi itu aku bangun. Apalagi dalam keadaan libur begini. Tapi, memang harus kukorbankan egoku untuk bangun lebih pagi, karena hari ini, perjalananku akan dimulai. Hore!
Aku mandi dan kemudian mempersiapkan beberapa perlengkapan penting yang sebelumnya belum sempat aku masukkan ke dalam tas.
FIUH! Selesai berbenah, kutelepon salah satu perusahaan taksi untuk memesan satu.

Pukul 10.30, taksi datang dan menunggu depan rumahku. Aku harus memulai perjalananku ke perhentian pertama, halte Shuttle Bus Gading Serpong. Sebenarnya, bisa saja aku menggunakan angkutan umum, tapi mengingat pesan dari ibuku yang khawatir akan keadaanku dengan dua tas di tangan, kuputuskan mengikuti kata-katanya untuk menggunakan jasa taksi.
Sepanjang perjalanan, supir taksi yang kutumpangi tak henti-hentinya mengajakku bercerita. Ramah sekali orang ini, pikirku. Ia berpesan pula agar lain kali aku langsung saja menelepon dirinya jika aku butuh bepergian dengan taksi. Tenang, akan kuingat pesan itu, Pak.
Sampai di Gading Serpong, aku agak malas melangkahkan kakiku langsung ke halte Shuttle Bus. Maka, kuputuskan untuk singgah sebentar di Summarecon Mal Serpong. Aku memesan secangkir coklat dingin untuk menemani pagi hariku. Nyaman rasanya ketika cairan coklat dingin menyentuh tenggorokanku. Selesai dari situ, aku mampir ke toko roti untuk membeli sedikit bekal untuk di perjalanan.

Hap! Selesai sudah waktuku untuk berkeliling di mal. Edith, seorang teman yang berjanji untuk bertemu di halte Shuttle Bus itu sudah mengabariku bahwa ia akan segera sampai. Kulangkahkan kakiku keluar dari mal, dan siap menuju halte Shuttle Bus.

Sampailah aku di perhentian pertamaku. Setelah bertemu dengan Edith dan membeli tiket perjalanan, aku bersama Edith berangkat ke Kelapa Gading dengan menggunakan jasa Shuttle Bus Gading Serpong - Kelapa Gading. 2 jam perjalanan kuhabiskan dengan terlelap. Hanya sebentar aku sempat membuka mata untuk mengamati pemandangan Jakarta dari atas jalan tol.

Sampai di Kelapa Gading, aku bersama Edith berjalan menuju Mal Kelapa Gading, tempat kami berjanji untuk bertemu dengan dua orang teman lainnya, Maltal dan Dimas. Waktu itu kurang lebih sudah pukul 2 siang. Kami berempat segera meluncur ke tempat perhentianku yang ketiga, rumah Maltal. Di sana aku diijinkan untuk makan siang dan mencicipi kue buatan Maltal. Banana Cake dan Carrot Cake. Enak! Maltal ternyata pintar juga memasak kue.

Sembari menunggu sore hari, aku bermain dengan Nabilla, seorang anak perempuan kecil yang tinggal di rumah Maltal. Ia suka bercerita dan ternyata bahasa Inggrisnya bagus juga, meskipun ada saja salah-salah di beberapa kalimat. Tapi, aku nikmati saja percakapan random-ku dengan Nabilla, aku suka bermain dengan anak kecil. Maklum, aku kan tidak punya adik.

Pukul 5 sore, temanku yang lain bernama Aan mengajak kami berempat untuk bersama-sama pergi ke perhentianku yang keempat, Stasiun Senen. Aan, Dimas, Maltal, Edith, serta aku tiba di Stasiun Senen pukul setengah 6 sore. Setelah menukar tiket dan berkumpul dengan seorang teman perjalanan kami yang lain bernama Otheb, kami berenam pun memutuskan untuk mencari makan sambil menunggu teman perjalanan yang terakhir, Stella.

Pukul setengah 7 malam, kami sudah lengkap bertujuh. Ditemani obrolan singkat dan sedikit kue buatan maltal, kami menunggu menit-menit keberangkatan kami ke Jogja. Tidak sabar rasanya! Jogjakarta, aku akhirnya berkesempatan melihat dirimu.

Tepat pukul 19.30, kami telah menunggu kedatangan kereta kami di pinggir peron. Bunyi 'cuff cuff, cuff cuff' yang biasa terdengar dari kereta rupanya semakin mendekat. Ya, akhirnya kereta yang akan kami tumpangi sampai di depan mata! Kami bertujuh mantap melangkahkan kaki ke dalam kereta. Setelah menemui nomor bangku yang benar, kamipun duduk dengan tenang. AKHIRNYA, kami mantapkan langkah awal kami menuju Jogjakarta!

Tiket pergi ke Jogjakarta. Kereta Bisnis. Senja Utama Yogya.

Di kereta, waktu yang bergulir kami habiskan dengan berbincang, makan, bercerita, mendengarkan lagu, bahkan hanya sekedar diam dan tidur. Hampir 10 jam lamanya kami ada di dalam kereta sebelum akhirnya kami injakkan kaki kami di tanah Jogjakarta. Stasiun Tugu jadi titik awal perjalanan kami di daerah Istimewa ini. AKHIRNYA, SAMPAI juga aku di perhentian terakhirku. Senang!

Stasiun Jogjakarta :)

Pagi itu (atau Subuh itu), kami dijemput oleh adik dari Edith. Ya, di Jogjakarta ini, kami semua akan menginap di rumah Edith yang ditinggali oleh adknya bernama Yoseph. Terima kasih, Edith dan Yoseph :).
Badan yang hampir remuk dan pegal ini akhirnya dapat kami istirahatkan sejenak sebelum kami mulai perjalanan mengarungi Jogjakarta. 2 atau 3 jam mungkin cukup.

Hari 2, Selasa 15 Januari 2013.
KERATON - Warung Makan Bu Ageng - Taman Pelangi - House of Raminten

Susah payah kami semua bangun dari nyenyaknya tidur. Wajar, badan kami memang butuh istirahat, tapi, semangat yang membuncah pada akhirnya bisa membuat kami mandi dan siap untuk memulai perjalanan.

Memutuskan tempat awal yang akan kami kunjungi bukan hal yang memakan waktu lama. Dengan cepat, kami semua memutuskan untuk meluncur ke Keraton Ngayogyakarta. Kami hanya ber7. Yoseph, sayangnya tidak dapat ikut serta dalam perjalanan kami. 

Dulu sekali, waktu aku masih SMP, aku sempat mengunjungi Jogjakarta. Tapi, aku tidak berkesempatan mengunjungi Keraton. Aku hanya sempat mampir ke rumah seorang Sultan pada jaman dahulu. Ah, itu sudah lama sekali, aku sudah tak begitu ingat detil ceritanya.
Kesempatan mengunjungi Keraton kali ini membuat aku girang. Kami tidak langsung mengunjungi Keraton, tapi kunjungan ini diawali dengan melihat pameran benda-benda Jogjakarta. Ada kereta dan mobil jaman dahulu, gamelan dan seperangkat alat musik khas Jawa yang bisa aku nikmati. Sejumlah Rp 5.000,- saja yang aku keluarkan untuk tiket masuk melihat pameran ini plus Rp 3.000,- tambahan untuk mendapat ijin menggunakan kamera. Wisata yang tidak menguras banyak uang menurutku.




Setelah puas berkeliling, ah, hujan pagi turun membasahi Jogjakarta. Aku dan teman-teman hanya bisa duduk-duduk di pinggiran untuk menunggu hujan reda. Maltal memilih untuk menyendiri. Ia tampaknya menikmati hujan. Biarkanlah ia kagumi rintik hujan yang turun, sedang aku, memilih untuk mencari kesibukan lain.
Awan tampaknya mengijinkan kami untuk melakukan perjalanan lebih lanjut, sehingga hujan tidak lagi sederas tadi. Kami ber7 melanjutkan perjalanan ini ke Keraton. Aku lupa berapa uang yang aku keluarkan untuk membayar tiket masuk. Yang aku ingat, untuk menggunakan kamera di Keraton, aku harus menambah biaya sebesar 1000 rupiah. Tak apalah.
Akhirnya, aku bisa melihat isi Keraton. Ada bedug khas jaman dulu, lukisan-lukisan, batik-batik, tempat duduk yang digunakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, dan masih banyak lagi!

Foto bersama di depan Keraton.

Meja dan kursi yang dulu digunakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VIII

Puas melihat harta sejarah di dalam Keraton ini, kami bertujuh melangkahkan kaki keluar kawasan Keraton, tepat pukul 13.15. Keraton Jogjakarta ditutup untuk wisatawan pukul 13.30.

Perut lapar pun sudah tak bisa ditahan lagi. Kami bergerak ke Rumah Makan yang bernama Warung Makan Bu Ageng atas rekomendasi Aan. Ternyata rumah makan ini milik Mas Butet Kertaradjesa, seniman kawakan itu. Ingin sekali aku berjumpa dengan beliau hanya untuk berfoto bersama dan akhirnya keinginanku terwujud. Aku dan teman-teman mendapatkan kesempatan untuk foto bersama. Senang sekali rasanya.



Di tempat makan itu, aku memesan Nasi Campur Lele Njingkrung. Seporsi Nasi Campur ini berisi abon ikan tuna, keripik kentang, areh, sambal Kutai, kerupuk legendar dan Lele goreng yang waktu itu aku daultakan menjadi lauk utama makan siangku. Nikmat. Untuk minumnya, aku pesan Es Cincau Hijau dan Es Lidah Buaya. Rakus memang, tapi aku rasa kedua minuman ini bermanfaat untuk meredakan panas dalam yang sering aku derita.




Di tempat ini, Nina, yang merupakan teman kami bertujuh, datang untuk menemui kami. Ia membawa seorang teman lain bernama Theo atau yang biasa dipanggil Cungkring. Nina ini tinggal di Solo dan ia datang ke Jogjakarta untuk ikut liburan bersama kami. Senang rasanya, personil kami bertambah ramai. Cungkring juga membantu kami dengan menceritakan tempat-tempat yang asik di Jogjakarta.

Usai makan siang, kami bertujuh plus Nina (Mbak Nun) pulang ke rumah Edith. Cungkring pulang juga namun tidak bersama kami. Di rumah, kami menghabiskan waktu untuk menunggu malam dengan bermain BANG! dan Saboteur. Permainan kartu yang menyenangkan dan lumayan menarik. Ini bisa jadi rekomendasi permainan untuk kalian, loh! 

Malam itu, kami putuskan untuk menyambangi wisata malam 'Taman Pelangi' dan makan malam di 'House of Raminten'. Taman Pelangi ini menyuguhkan bentuk-bentuk menarik yang dihiasi dengan lampu-lampu. Macam-macam karakternya. Dari tokoh kartun, binatang, sampai wajah Presiden. Kami mengitari Taman Pelangi dan menikmati setiap pijaran cahaya dari lampu-lampu yang ada. Menarik.

Contoh karakter di Taman Pelangi. Masih banyak karakter berlampu lainnya!

Wajah mantan Presiden RI: Ibu Megawati di Taman Pelangi


Puas berkeliling memandangi cahaya dan berfoto-foto, perut kami sudah minta diisi. Rasa penasaran kami terhadap House of Raminten pun terjawab pula malam itu. Ya, kami makan malam di House of Raminten. Katanya, tempat makan ini sudah sangat terkenal. Pelayan dan pelayanannya unik. Yang paling penting, harganya murah dan terjangkau! Setelah melihat dan menikmati sendiri, ternyata memang makanan di House of Raminten berpotensi membuat perut kenyang tanpa menyebabkan kantong mahasiswa seperti kami kering. Sego kucing yang aku pesan malam itu harganya hanya 1000 rupiah, lengkap dengan tempe teri serta sambal yang mantap! Awalnya, aku pikir sego kucingnya sedikit, makanya aku pesan sego kucing double. Ternyata, 2 sego kucing saja berhasil membuat perutku tambah maju. Apalagi, aku juga kalap malam itu dengan menambah pesanan sate ayam, sate ati ampla, tahu bacem, serta es krim rasa green tea. Haha. Untuk minumnya, aku pesan jeruk nipis madu hangat. Lagi - lagi untuk menyembuhkan panas dalam.
Di House of Raminten, Cungkring datang lagi untuk meramaikan suasana. Tapi, yang menginap di rumah hanya Mbak Nun, Cungkring pulang lagi setelah itu. Tidak ikut bersama kami.

ice cream green tea dan jeruk nipis madu hangat


Es krim bakar. ENAK!
Malam itu jumlah kami berdelapan plus Yoseph.
BANG! dan Saboteur menemani malam hari kami (lagi). Setelah lewat tengah malam, aku lupa pukul berapa, rasa kantuk sudah tak dapat ditahan lagi. Kami memutuskan untuk tidur.

Tidak semudah itu ternyata untuk memulai tidur, seorang teman ingin membagi cerita pada malam itu, sehingga kami, berlima dari kaum hawa, tidak tidur hingga menjelang subuh. Memang benar kata orang, wanita-wanita sangat suka bercerita. Haha.

Akhirnya, rasa kantuk sudah mendekati limit kesabaran, sehingga kami mau tidak mau harus tidur. Perjalanan hari ketiga segera menanti. :)