Wednesday, November 12, 2014

Kejutan Hidup adalah Mati.

Pagi ini aku disambut oleh berita duka. Berita kepergiannya menghadap sang Maha.

Aku tak pernah berkenalan dengan orang yang ada di berita itu secara langsung, namun setidaknya aku mengenalnya.

Ia adalah seorang lelaki dengan suara yang amat indah. Beberapa kali aku sempat bertemu dengannya di wisma dalam berbagai kesempatan. Suaranya menggelegar dan amat membuat merinding ketika ia menyanyi dan memuliakan Tuhan. Tidak hanya sopran, tapi suara tenor, alto, dan bass ia kuasai dengan baik. 

Tak pernah mengenalnya secara langsung mungkin menjadi salah satu alasan mengapa aku tak memiliki banyak momen dengannya. Aku hanya ingat saat-saat dimana ia menyumbangkan suara dalam berbagai perayaan. Pengakuan akan suara yang begitu sempurna datang dari semua warga wisma. Sayang teramat sayang, mulai hari ini suara itu takkan lagi terdengar. Suara itu akan segera menemani Dia yang maha penyayang di atas sana. Suaranya akan menjadi lagu yang teramat indah di belahan Surga.

Ketika jiwa meninggalkan raga untuk menghadap Sang Pencipta di waktu yang tak pernah siapapun dapat menduga, itulah mati. Itulah kejutan hidup yang disiapkan oleh-Nya di suatu waktu yang menjadi rahasia-Nya sendiri. Kejutan yang hanya akan datang sekali, tak mungkin berkali-kali.

Kejutan yang berkali-kali tak kita sebut mati. Melainkan adalah hidup. Melainkan adalah saat ketika kita bisa bangun di pagi hari, mampu menghela nafas dan beraktivitas. Mampu meniti langkah mencari bahagia, merangkai riwayat dan menjadi berkat.

Aku tak tau kapan kejutan hidup itu akan datang. Yang aku tau, selama kejutan yang berkali-kali ini masih aku dapat, aku hanya harus meniti langkah mencari bahagia, merangkai riwayat dan menjadi berkat. 


Selamat jalan, kawan. Bahagiamu mungkin telah kau cipta, riwayatmu sudah selesai kau rangkai, dan orang-orang pasti sudah mampu merasakan berkat atas kehadiranmu. Kini, bahagia senantiasalah di atas sana.

Sampai jumpa lagi untuk berkenalan. Di waktu yang entah kapan.

"Hidup tidak sekali. Kamu hidup setiap hari dan mati yang hanya sekali."

Tuesday, November 11, 2014

Berbeda. Teringat. Bukan mengingat.

Tak direncanakan, jariku mengetik judul film itu di kolom Youtube. Seketika, memoriku otomatis bergerak mundur. Mengingat kembali film yang beberapa tahun lalu kusaksikan bersama dia. Film lokal yang berhasil membuatku banjir air mata. Bukan karena dialog yang terlalu indah ataupun kisah cinta yang begitu drama. Lebih karena kisah kami sama, namun menuntut akhir yang berbeda.

Ceritanya begitu nyata, tidak berlebihan seperti drama dua jam di televisi-televisi swasta. Ceritanya begitu nyata, sampai aku merasa menjadi tokoh di dalamnya. Ceritanya begitu sama. Sama dengan kisah yang kupunya.

Aku dan dia berbeda, sama seperti mereka punya cerita.
Akan tetapi, aku dan dia mencoba berusaha. Berusaha mengejar akhir yang berbeda dengan apa yang ditampilkan di layar bioskop itu. Sampai akhirnya, mau tidak mau usaha itu tidak berbuah indah. Yang ada sekarang, aku dan dia terpisah. Terpisah karena berbeda. Persis sama seperti film itu. Sama.

Jika saat itu aku banjir air mata karena aku memaksakan akhir yang berbeda, sekarang tidak lagi. Aku memang masih tersentuh menyaksikan film itu, tapi aku tak lagi tersedu-sedu. Aku tau, bahwa aku tak harus lagi memperjuangkan akhir yang berbeda. Aku sudah punya akhirku sendiri dengan dia bertahun yang lalu. Sama akhirnya, sama seperti film itu.

Aku hanya teringat. Namun, tak ingin lagi mengingat.

Monday, November 10, 2014

Ketika visi dan mimpi masih bersembunyi.

Banyak pertanyaan dalam hidup yang semakin dalam dan jauh kamu pikirkan, ternyata tak akan kamu temukan jawabnya.
Tidak semudah mencari informasi di internet lewat wikipedia atau ensiklopedi lain.
Tidak semudah seperti menghilangkan rasa lapar dengan mi instan atau rasa haus dengan es teh manis.
Lebih, lebih dari itu.

Hidup bagiku ternyata jauh lebih rumit daripada hanya mengerjakan sebuah anyaman yang nantinya jadi tikar.
Ternyata jauh lebih rumit daripada bersusahpayah bangun pagi mengejar angkutan umum untuk berangkat kerja.

Tak ada yang bisa mengerti hidupku untuk apa, untuk siapa, untuk mencapai apa, bahkan diriku sendiri tak mampu mendapatkan jawabannya. 

Segala rutinitas ini aku lakukan untuk apa? Untuk siapa? Aku bangun pagi, berjalan di bawah matahari yang perlahan naik, menumpang kendaraan sampai akhirnya tiba di tempatku menghabiskan pagi hingga sore. Pekerjaan setiap hari selalu datang silih berganti untuk aku kerjakan agar nantinya akhir bulan aku mendapat gaji. Aku pulang dengan rasa lelah dan kantuk, menunggu pulau kapuk menyambut tubuhku merebah di atasnya yang empuk. Lalu, ini semua untuk apa?

Aku butuh visi. Aku butuh tujuan. Lantas apa tujuanku? Entahlah.
Aku memang tak mau jadi seonggok daging hidup yang bernafas dan berjalan setiap harinya hanya untuk mengejar sesuatu yang bahkan aku tak tahu apa. Tapi, lantas aku mau apa? Materi? Cinta? Persahabatan? Tahta? Atau, bahagia? Ya! Jelas saja aku ingin bahagia! Tapi, lantas apa bahagiaku itu? Apa bahagiaku sama dengan bahagia yang ada di kepala banyak orang di sekitarku? Apa bahagiaku cukup dengan melihat angka di rekeningku setiap bulan berubah naik turun? Apa bahagiaku cukup dengan mendapatkan cinta yang bahkan jika kupanjanglebarkan bahasannya akan semakin membuat kepalaku pusing? Apa bahagiaku cukup melihat nantinya aku bergelar panjang atau memangku jabatan yang disegani semua orang? Entahlah jawabku. Aku tak tahu. Hahaha, ya jelas. Apa mimpi yang membuatmu bahagia wahai aku?

Aku bagai berjalan di pesisir pantai yang tak berujung sekarang. Dengan segala pikiranku yang mengawang. Dengan segala pertanyaan yang tak terselesaikan. Dengan rutinitas yang itu-itu saja dan membuat bosan.

Aku hanya butuh jawaban atas pertanyaan tentang hidupku yang kurasa hanya hidupku dan aku yang dapat menjawabnya. Semua hanya berputar di situ. Hanya berputar pada bagaimana aku menjalani hidupku dan untuk apa hidupku. Bagaimana aku mencapai tujuanku. Bagaimana aku mencapai visiku. Bagaimana aku mewujudkan mimpiku. Tapi, aaargh, aku bahkan tak tahu bagian yang paling penting dari semua itu! Apa visiku? Apa tujuan hidupku? Apa mimpiku? Apa? 

Yah, tapi kurasa, aku belum cukup mampu mengenal diriku, apalagi kujawab itu?

Pusingku semakin menjadi. Ah, sudah mari aku cukupkan saja. Bisa sepakatkah kita jika aku berkesimpulan bahwa hanya visi, mimpi, dan tujuan hidup yang dapat menjawab semua pertanyaanku tentang hidup? Bahagiaku seharusnya ada, pada visiku, mimpiku, dan tujuanku. Langkahku akan kupakai untuk menggapai semua itu hingga akhirnya melekat pada riwayatku. Ya, dan tampaknya setelah pusing ini mereda, segera, aku harus mulai mencari itu. Menemukan visi, mimpi, dan tujuanku. Apa lagi kalau bukan itu? 

(Di tengah kepenatan, 10 November 2014)

Wednesday, November 5, 2014

Wisma SY: Tua namun Teduh. Luas namun Hangat.

5 November 2014.

Sudah 25 tahun umurnya sekarang. Semakin dewasa dan semakin matang.

Namanya Wisma Sahabat Yesus. Orang kebanyakan memanggilnya Wisma SY atau hanya sekadar SY saja.

Empat tahun yang lalu saya berkenalan dengannya. Bermula dari acara Sehari Bersama KMK yang diadakan oleh Keluarga Mahasiswa Katolik Universitas Indonesia, saya menjejakkan kaki ke tempat yang akhirnya menjadi rumah kedua saya. Bahkan, kosan-pun akhirnya menjadi rumah ketiga saya. 

Kesejukkan, keramahan, dan keteduhan yang saya dapatkan. Tidak, jangan salah sangka. Saya tidak bermaksud melambungkan rumah tua nan luas itu. Saya memang beruntung karena berkesempatan mengecap berbagai macam pelajaran di dalamnya. Ditemani keteduhan dan keramahan orang-orang di dalamnya, saya menyerap ilmu yang tak akan pernah saya dapatkan di bangku kuliah.

Tak hanya manusia berkaki dua yang memiliki motto. Bangunan tak bergerak ini juga punya. Katanya, "There are no strangers here, only friends who haven't met". "Tiada orang asing di sini, hanya teman-teman yang belum saling bertemu." Ah, jadi ingin bersenandung rasanya.

Motto itu memang menjadi dasar pertemuan orang-orang yang singgah bahkan bermain dan menetap di dalamnya. Tatapan pertama saya dengan orang-orang yang ada di sana memang asing. Beberapa menit kemudian, sapaan dan teguran pun diluncurkan pada saya, sehingga saya tak lagi merasa asing. Saya nyaman dan terkesan.

Seiring dengan masa-masa perkuliahan yang semakin lama saya jalani, Wisma ini menjadi sahabat baru bagi saya. Menjelang lulus, wajah Wisma-pun kian berubah. Semakin banyak pihak yang sayang dan peduli terhadap keberlangsungan hidupnya. Ia dipoles, dipercantik, dan akhirnya menjadi semakin ramah kepada para penyayangnya.

Tak elok rasanya jika hanya berkata-kata, mari saya tunjukkan wujud rumah ini bagi kalian. Gambar yang akan kalian lihat adalah penampakkan Wisma yang saya abadikan bulan Juni lalu.

1. Halaman depan Wisma


Lahan yang biasanya dijadikan tempat parkir. Langkah pertama disapa oleh pohon-pohon rindang dan angin sepoi-sepoi


Lihat lelaki itu? Namanya Pramono atau Mas Pram. Di hadapannya ada Rooney, anjing lucu keturunan pitbull dengan wajah yang memelas. Kawannya banyak. Ada anjing-anjing lain, Borgo, Verita, Stella, dan Kepo.
2. Sekretariat Wisma SY

Ruangan ini tempat pertama kali saya ikut-ikutan rapat kepanitiaan. Kepanitiaan pertama kala itu yang saya ikuti adalah Porseni PMKAJ Unit Selatan. PMKAJ sendiri singkatan dari Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta. Mungkin kalian yang suka baca post saya sebelumnya, pasti sudah paham akan PMKAJ US itu sendiri.

Tempatnya kecil, namun cukup untuk rapat dan berkumpul. Menginap dan sekedar diskusi pun bisa dilakukan di ruangan ini. Tadinya, ruangan ini penuh barang-barang. Kepedulian (dan himbauan Romo Moderator)-lah yang akhirnya menggiring mahasiswa-mahasiswa untuk sama-sama merapikan, sehingga jadi tampak cantik seperti sekarang.

Tadinya tidak serapih ini. Sekarang sudah jauh lebih menyenangkan untuk disinggahi dan digunakan.
3. Perpustakaan Wisma SY

Tempat membaca. Tempat bertemu kawan. Tempat mengobrol panjang lebar. Tempat menumpang mengisi baterai telepon genggam ataupun komputer jinjing. Tempat menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan. Tempat beraneka ragam buku dan majalah disusun rapi, disediakan bagi para muda-mudi yang haus pengetahuan. Inilah perpustakaan Wisma SY. Tempat di mana ranah intelektual bertumbuh dan berkembang. Inilah bagian intellectual formation Wisma SY.

Lihat pintu abu-abu di sebelah kanan itu? Di dalamnya masih terdapat aneka buku yang dapat kita baca...
4. Aula Atas Wisma SY

Tempat yang digunakan (juga) untuk rapat, misa, atau bahkan penyelenggaraan suatu acara KMK-KMK. Siapa yang tak kenal dia, si Aula Atas dengan berbagai jendela yang menyerap angin bebas? 


Lihat luasnya?
5. Pendopo Wisma SY

Bisa dibilang, tempat ini merupakan primadonanya Wisma SY. Berbagai acara besar, termasuk misa bersama pasti diadakan di tempat ini. Tempat ngobrol, latihan, rapat, kaderisasi, semua pasti dilakukan di sini. Ah, betapa banyak cerita yang kau simpan, Pendopo?

Luas dan terbuka menjadi alasan bagi setiap orang nyaman di sini. Angin dapat dihirup sebanyak-banyaknya. Hawa sejuk diciptakan oleh pepohonan disekitarnya. Bagaimana bisa tak teduh?

Pendopo menjadi bagian 'Friendship Formation' di Wisma SY.


Arah menuju pendopo. Lelaki yang duduk itu (meskipun gambar sedikit gelap) adalah Mas Henk Tay. Ia juga merupakan seorang yang amat sangat peduli dengan keberlangsungan Wisma SY ini...
Ternyata benar, rimbun tak selamanya seram kan? Wisma ini begitu bersahabat, hey kalian...

Inilah pendopo yang sedari tadi saya gaungkan... Wajah baru pendopo yang dibuat lebih ciamik lagi.
6. Barak Wisma SY

Kelelahan di Wisma SY dan ingin menginap? Barak ini pun disediakan sebagai jawaban (fasilitas) bagi mahasiswa. Barak ini terdapat persis di belakang pendopo Wisma SY.

Mereka yang tak bisa pulang ke rumah atau kosan, dapat menginap di barak (jika mau) dan akan merasakan udara malam Depok yang sejuk (tidak dingin dan tidak panas). Tempat tidur bertingkat disediakan sebagai tempat merebah diri. Kadang, seprai tak akan dipasangkan. Jadi, kita harus melayani diri sendiri. Ingat, orang mandiri adalah orang yang dapat melayani dirinya sendiri. Mau seprai, pasang sendiri dan setelah itu dicuci sendiri. Kebersihanpun harus dijaga sebagai bentuk rasa sayang terhadap Wisma SY.


Barak Wisma SY
7. Ruang Diskusi

Ruangan kecil yang terletak di dekat barak dan pendopo ini cukup memiliki fungsi yang beragam. Fungsi utamanya tentu menjadi ruangan tempat berdiskusi, sama seperti nama yang disematkan padanya. Berbagai fungsi lainnya adalah: tempat perkuliahan dan tempat konsumsi dihidangkan jika ada acara di Wisma SY.

Wangi-wangi makanan pasti sudah sering lalu lalang di ruangan ini. Begitupun dengan ilmu-ilmu keagamaan yang diajarkan dosen ke mahasiswa kelas Agama Katolik.



8. Kapel Wisma SY

Beralih ke ranah 'Spiritual Formation' (ingat ada dua ranah lainnya yang sudah disebutkan), Kapel ini menjadi tempat pribadi kita menghadap Tuhan. Meditasi pagi, Misa pagi, ataupun berdoa pribadi, dapat dilakukan di tempat ini ataupun di Gua Maria.

Lagi-lagi, tempat ini pun sudah dipoles dan diperbaharui. Tadinya tidak secantik sekarang.



9. Gua Maria Bunda Perdamaian

Masih di ranah  'Spiritual Formation' yang diusung Wisma SY, tempat ini adalah tempat pribadi kita memanjatkan doa pada Bunda Maria. Bertempat di area belakang Wisma SY, tempat ini dijauhkan dari suasana ramai yang berada di bagian tengah.

Pribadi-pribadi yang ingin berdoa tentunya dapat mendapatkan keheningan yang diperlukan untuk berkomunikasi personal dengan Bunda Maria.





10. Balai Bengong dan Area Belakang Wisma SY

Area ini dapat dimanfaatkan sebagai tempat mengadakan acara yang berkonsep 'Outdoor'. Dengan kemauan dan kepedulian untuk membuat area ini lebih cantik, dipastikan Garden Party yang menarik akan dapat dilaksanakan di area ini.



11. Pastoran

Mundur sedikit dari area belakang ke depan, pastoran ini biasanya dijadikan tempat berkumpul jika tamu-tamu Wisma SY sedang ramai berkunjung. Romo Moderator akan senantiasa menyantap makan pagi, siang, dan malamnya di sini sambil menonton televisi atau berbincang dengan para tamunya. Sofa dan kulkas menjadi pengisi ruangan ini. 

Pastoran ini berdampingan dengan Kapel Wisma SY, meskipun pintu penghubungnya sudah ditiadakan, sehingga tak lagi ada akses langsung ke Kapel dari Pastoran. 

Dua kamar tidur dilengkapi dua kamar kecil juga menjadi salah satu fasilitas yang disediakan Wisma SY jika ada tamu penting yang menginap. Beberapa kali saya juga pernah merasakan tinggal di kamar ini karena berbagai hal. Nyaman. Ajaibnya, saya selalu nyenyak tidur di sini dan selalu terbangun tepat waktu tanpa terlambat (jika ingin bepergian di pagi hari).





12. OFFICE ROMO

Tempat berjumpa romo moderator. Tempat meminta tanda tangan, menumpang menonton TV, dan tempat menjarah makanan simpanan romo moderator. Aaaah, terlalu banyak kenangan di sini. Dari curhat hingga melontarkan tawa canda.

13. Parkiran dan Toilet Wisma SY

Menempatkan motor. Membuang air kecil. Kedua tempat inilah jawabannya. Dibuat sedemikian bagus melalui proses renovasi kemarin. 


Motor dijejerkan di sini. Kunci ganda adalah hukum wajib. Demi keamanan dan kenyamanan bersama.

Toilet. Rapih. Bersih. Tinggal dijaga oleh pemakainya. Tak asal meninggalkan kotoran ataupun jejak kaki di daerah sini.

Gambar dan kata di atas apakah sudah jadi seragam dan searah sekarang? Pantaskah saya menyebutnya rumah kedua saya jika yang ditawarkan dan disediakan begitu banyak? Percayakah kalian, di umurnya yang baru, semakin ia akan merangkul kita yang belum mengenalnya?

25 tahun umurnya. Penampakannya dulu tak sebaik dan seindah sekarang. Tapi itulah proses yang dilaluinya sedemikian rupa. 

Romo Markus Yumartana, SJ adalah sosok yang ada dibalik semua perubahan wajah Wisma SY ini menjadi lebih cantik. Tentunya dengan dukungan berbagai pihak dan kalangan yang peduli terhadap Wisma SY. Terima kasih Romo, berkat jasa-jasanya membuat Wisma SY hingga seperti sekarang. Terima kasih telah menjadi kepala keluarga di rumah ini, tempat kedua setelah kampus, di mana saya banyak belajar dan mendapatkan banyak hal serta cerita.

Wajah dan umur barunya tentu tak mampu menutupi pengalaman, cerita, dan kisah hidup yang disimpan dalam memori yang tak terhingga. Tentunya banyak proses pendewasaan yang sudah dilalui oleh Wisma SY, hingga tak sedikit orang-orang berhasil yang berguru di dalam raganya. 

Sarana dan prasarana sudah disediakan. Tinggal siapa yang akan menggunakan dan tentunya merawat. Masihkah kita akan melihat Wisma yang seramah, seindah, dan sebaik ini di tahun mendatang? Di umurnya yang ke-30 nanti, ke-35, bahkan ke-50? Wisma tak akan seramah, seindah, dan sebaik ini lagi jika para penyayangnya tak sayang. Jika tak ada orang lagi yang peduli dan memperhatikan. Siapa lantas para penyayang itu? Entahlah, tapi pasti penyayang itu adalah mereka yang pernah dibangun olehnya dan diajak berpelukan dengannya.

Selamat ulang tahun ke-25 wahai sahabatku, Wisma Sahabat Yesus. Sudah sampai di umur perak, perjalananmu kini. Semoga cerita yang kau simpan, keramahan yang kau tawarkan, serta kesejukan yang kau sediakan akan selalu ada di setiap saat ku bertandang.




Dim Sum Inc Benton Junction: Perut Kenyang di Suasana Remang.

Kamis, 19 Juni 2014.

Waktu itu masih bisa bebas ngedate sama mama karena papa masih di luar kota. Jadinya, pulang kerja, saya sama mama meluncur ke Benton Junction di daerah Karawaci. Persis di dekat Supermal Karawaci. Konsepnya kurang lebih seperti Downtown Walk di Summarecon Mal Serpong atau Kemang Food Festival. 

Nah, dari semua cafe maupun restoran yang memenuhi area Benton Junction ini, saya tertarik untuk mencoba Dim Sum Inc yang konon katanya punya beragam menu dim sum, baik steamed dim sum maupun fried dim sum.



Setelah bolak-balik menu yang sebenarnya cukup sedikit untuk dibalik itu, akhirnya saya sama mama memutuskan untuk memesan sedikit saja pilihan makanan.

Here they are the review!

1. Mix Platter (IDR 99)

8 types of various steamed & fried dim sum, suitable for couple consist of har gau, shiu may, guo tie, dao sa pao, spring roll, crispy prawn ball, bean curd spring roll, and mayo prawn dumpling

Akhirnya memilih menu ini karena terdiri dari banyak macam dim sum. Ada yang dikukus dan ada juga gorengannya. Emang lebih sedikit sih porsinya, karena setiap jenis dim sum yang disajikan hanya terdiri dari dua pieces saja. Mama coba satu, saya juga coba satu. Begitu untuk semua jenis.

Jujur, nggak terlalu mengenyangkan, meskipun dimakan berdua. Jadinya, setelah makan ini, saya menambah seporsi dim sum lagi.


MIX PLATTER!
Untuk pemaparan di bawah ini, harga yang tertera itu adalah harga yang dikenakan kalau kita pesan porsi-an. Terdiri atas 3-4 pcs dim sum/porsi.

a. Har gau (IDR 19.9) --> pojok kanan atas
Thin and translucent dumplings filled with perfectly cooked shrimp
b. Shiu may (IDR 19.9) --> pojok kiri bawah
Small steamed chicken and prawn dumplings inside a thin wheat flour wrappers
c. Guo tie (IDR 19.9) --> pojok kiri atas
Steamed dumplings filled with mixed shrimp, chicken and vegetables
d. Dao sa pao (IDR 19.9) --> pojok kanan bawah
Pluffy steamed buns filled with sweet bean paste
e. Spring roll (IDR 19.9) --> sebelah kiri har gau
Fried prawn and chicken spring rolls wrapped with popiah
f. Crispy prawn ball (IDR 19.9) --> sebelah kiri dao sa pao
Thin sliced - deep fried fried wonton skin with prawn filling
g. Bean curd spring roll (IDR 19.9) --> sebelah kiri spring roll
Bean curd skin spring rolls with prawn and chicken filling
h. Mayo prawn dumpling (IDR 19.9) --> sebelah kanan shiu may
Fried prawn wonton served with mayonnaise

Saya tidak bisa merinci rasanya satu per satu lagi, karena selain lupa, rata-rata semua jenis dim sum ini memiliki bahan dasar yang sama, yakni udang. Sehingga, setiap rasa dari dim sum ini tampak mirip di lidah saya, hanya bentuk penyajiannya saja yang berbeda-beda. Ada yang digoreng berbentuk pangsit kecil-kecil kemudian ditambah mayonnaise, ada yang digoreng kemudian dibentuk bola, ada yang di-steam di dalam kulit khusus, dan ada yang diolah menjadi shiu may.


Add caption
Semuanya enak menurut saya. Pas untuk cemal-cemil berdua dan sebagai pengganti dinner juga (nge-dim sum buat saya selalu menjadi cemilan, bukan makanan kenyang untuk makan malam). Setiap jenis nggak ada yang memiliki tekstur keras dan semua terasa enak kalau dimakan selagi hangat. 

Pada dasarnya, makan dim sum di tempat ini benar-benar pas untuk pencinta dim sum. Pilihannya banyak, terutama yang isi udang. Beberapa pilihan lainnya tentu menyajikan dim sum yang berisi daging ayam atau campuran udang dan ayam.

2. Coriander Prawn dumpling (IDR 19.9)
Steamed dumplings filled with prawn, crabmeat, mushroom and coriander steam. 



Ini yang jadi tambahan saya di luar menu Mix Platter tadi. Sebenarnya, saya juga nggak bisa menemukan perbedaan rasa dari menu ini dengan menu-menu dim sum yang sebelumnya. Tapi, kalau dari campuran, jenis ini memiliki campuran olahan kepiting dan jamur di dalamnya. Enak.

3. Melon-honeydew juice (IDR 24.9)
Meskipun terlalu manis tapi fresh!

Suasana Dim Sum Inc. ini cukup remang-remang dan lebih menyesuaikan suasana malam. Mereka bertumpu pada cahaya seadanya ditambah dengan cahaya lilin yang disediakan di setiap meja. Ngedate lewat makan dim sum di sini kayaknya seru. Baik sama mama, maupun sama temen, terlebih lagi sama pacar. Hehe.

Pilihan makanan di sini, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, cukup banyak. Dim sumnya tergolong lengkap dan beragam. Selain itu, Dim Sum Inc. juga menyediakan menu standar lainnya, seperti nasi goreng, nasi hainam+ayam, bubur, spaghetti, dan masih banyak lagi. Masalah harga, standar Karawaci-lah yaaa. 

Quote of the post: harga akan pas di kantong kalau di hati dan di perut juga bisa pas! ;)

DIM SUM INC.
24 HR. DIM SUM. BEER
Email : info@dimsum-inc.com
Twitter : @dimsum_inc
Facebook : /dimsuminc

Plaza Festival
H.R. Rasuna Said Kav. C22 Kuningan, Jakarta 12920

T/F +6221 5263178 

Kemang
Jl. Kemang Raya No. 20A

Kemang, South Jakarta
T/F +6221 7182249 

Benton Junction
Benton Junction #20-19
Jl. Boulevard Palem Raya No. 38, Lippo Village
TangerangBanten 15180

Jangan GR.

Lo cuma sering nyicipin kue rasa keju.
Tapi nggak pernah makan keju beneran.
Lo bertahan nggak makan keju beneran,
Padahal sekeliling lo keju enak.

Tunggal.

Mereka selalu bilang
sendiri itu nyaman
sendiri itu bebas
sendiri itu puas
sendiri itu tak punya batas.

Iya,
banyak yang ingin sendirian
tak ada yang memberi batasan
tak ada yang mengekang
tak ada yang menuntut macam-macam.

Tapi, apa jadi jika sendiri tanpa saudara?
Tanpa hadir yang tua maupun yang muda.
Tak ada tempat mengadu,
tak ada tempat bertukar,
tak ada tempat belajar.
Hanya bertopang pada diri sendiri
jika beruntung, dapat berilmu pada ayah ibu
jika tak beruntung, harus andalkan diri sendiri.

Sendiri tanpa saudara,
kata orang itu jauh menyenangkan.
Dimanja dibuai dengan apa saja,
diberikan semua yang didamba.
Eits, itu kata orang yang punya saudara.
Kata mereka yang tanpa saudara?
Sendiri bikin hidup sepi. Hidup jadi tak ada warna. Hidup jadi tak seenak mereka yang berdua bahkan bertiga.

Sendiri tak selamanya tragis.
Tapi, sendiri tanpa saudara. Tergolong miris.

Mereka yang sendiri tak bermaksud sinis,
mereka hanya ingin berseru dan menulis.
agar sadarlah wahai kalian yang tak sendirian.
Jangan mengeluh, apalagi bertengkar terus. 
Masih banyak mereka yang mau seperti kalian.
Sadarlah, wahai kalian! Sendirian tidak selalu menyenangkan meskipun mungkin penuh kebebasan.

Wednesday, August 27, 2014

IND.USTRIE ID: Japanese-Indonesian at the corner of Bintaro.

Waktu-waktu buat ketemu temen deket, makan, ngobrol, dan cerita-cerita itu adalah waktu-waktu yang berharga banget buat dilewatin, setuju?

Nah, karena gue sangat amat setuju dengan pernyataan yang gue bikin sendiri di atas, makanya, hari Kamis tanggal 14 Agustus 2014 kemaren, gue sama temen-temen Random gue (Aan-Dimas) memutuskan untuk meet up di salah satu tempat makan di Bintaro.

Suasanya yang nyaman, desain interior yang menarik, dan makanan yang enak bikin kita jadi puas nyeritain apapun yang lewat di pikiran. Dari A-Z, kebahas semua! Hehe...








Nah, karena gue nulis ini bukan untuk membahas apa yang gue bahas, tetapi untuk membahas tempat gue meet up itu, makanya, silahkan disimak baik-baik ya cerita di bawah ini, apalagi kalau kalian butuh a cozy place di bilangan Bintaro.

Ind.ustrie ID. Yap! That's the name. Familiar? Tentu! Gue sempet ulas dia sekilas di postingan gue tentang Jakarta Culinary Passport 2014.

FYI, menu-menu di ind.ustrie ini ternyata menu masakan Jepang-Indonesia, kayak Udon, Ramen, dan Donburi... Variannya memang nggak terlalu banyak, tapiii, segitu aja gue udah susah milih. *loh*

Akhirnya, setelah membaca menu dari pojok kiri atas sampai pojok kanan bawah berkali-kali, gue Aan Dimas tekad menentukan pilihan makan malam kita.

1. Ind.ustrie Ramen (32) - English Breakfast Tea (15)



Tebak ini menu makan malamnya siapa? Tadaaaa, ini pilihannya Aan! Menurut Aan sih, Ramen ala Ind.ustrie ini enak dan punya ciri khas tersendiri. Menurut gue yang nyobain sesuap, kuah dari ramen Ind.ustrie ini gurih banget rasanya. Selintas mungkin mirip dengan ramen-ramen yang biasa dicoba, tapi ramen yang isinya toge, rumput laut, caisim, naruto maki dan chicken karaage ini emang tingkat kegurihannya beda. Mungkin karena bumbunya itu racikan Ind.ustrie sendiri dan bukan bumbu racikan yang lain. 





Untuk rasa tehnya, ya mungkin sama dengan rasa-rasa teh English Breakfast lainnya. Gue juga enggak icip-icip sih, so, I'm sorry, I couldn't describe it.

2. Katsu Curry Chicken (37) - Ind.ustrie Shake (30)






Beda yang dipesan Aan, beda juga yang dipesen Dimas. Kalau tadi Aan pesen menu ramen khas Ind.ustrie, Dimas pesen shake khas Ind.ustrie.

Gue sempet diberi icip-icipan Katsu Curry Chicken sama Dimas. Rasanya? Emm, nggak kalah sama Curry-Curry di restoran beken. Rasanya pas, terus Chicken Katsunya juga renyah. Nyobain sesendok jadi bikin gue nagih. Tapi sayang, Dimas lagi laper, jadi gue enggak tega buat minta lagi.



Maybe, next time gue akan pesen itu ketika gue berkunjung ke sana lagi. Hoho.

Soal minuman yang dipesen Dimas, bisa dibilang itu adalah salah satu minuman dengan racikan yang unik. Pernah denger atau minum 'tape' campur 'susu'? Kalau sudah, hmm oke. Kalau belum, hmm, kayaknya racikan ini boleh deh dicoba di sini. Unik tapi enak. Manis tapi nggak bikin enek.

Jujur sih, sebenarnya gue nggak suka sama 'tape'. Kalau Dimas, gue nggak tau juga dia suka apa enggak. Tapi, menurut gue, baik orang yang suka tape maupun nggak suka tape akan suka sama minuman ini. Bukan omongan lebay ini sih, tapi emang menurut gue kayak gitu. Wong gue yang segitu anti-nya sama tape bisa suka kok abis minum minuman pilihan Dimas ini. You wanna try?


3.Red Ramen (30) - Red Velvet (30)




Serba Red! Yeaaaayyy akhirnya sampai di pesanan akuu!


Gue pesen Red Ramen karena gue yakin, rasanya pasti pedes. Gue milih Red Velvet, karena penasaran model dan rasanya gimana.

Red Ramen yang gue jadikan makan malam ini rasanya nggak pedes-pedes amat ternyata. Tapiiii, biarpun pedesnya di luar ekspektasi, rasanya toh pas-pas aja di lidah. Masih enak buat dinikmati. Masih ngenyangin begitu sampai ke perut. Niat hati nambahin sambel dan bubuk cabe, sirna sudah setelah mencicipi rasa orisinil dari si Red Ramen ini.

Red Velvetnya agak berbeda dari biasanya. Ada campuran rasa coklatnya dan ada potongan buah strawberrynya juga. Since I don't really like minuman yang manis-manis, gue harus jujur kalau lidah gue nggak cocok dengan minuman ini. Masih kemanisan. Tapi, buat yang suka manis, mungkin minuman ini bisa gue rekomendasikan untuk dipesen... Hehe...




Selain tiga jenis makanan dan tiga jenis minuman yang gue sebutin di atas, kita juga mesen Chicken Karaage yang Super Hot (25). Makannya masih enak banget kalau lagi panas-panas. Bumbunya kerasa (terlebih yang suka rerempahan, pasti doyan), dan pedesnya oke plus cocok di lidah gue.



Untuk dessert, kita berhasil nyicipin Charlie Brownie khas Ind.ustrie ID. Enak banget! Coklatnya berasa banget di lidah, dan karena brownies yang hangat dipadu dengan es krim, jadi sensasinya enak gitu. 1 Charlie Brownie kita bagi tiga dan makannya sedikit-sedikit aja selama kita ngobrol! There's always space for dessert yaaa... :)





Fine then, ga ada salahnya banget kok mampir ke Ind.ustrie Id kalau lagi di daerah Bintaro. Dijamin ter-manja-kan lidahnya dan seleranya atas Ramen & Curry khas Jepang.


Ind.ustrie Id

Ruko Kebayoran Arcade 2 Blok B3 No 58
Bintaro, Jawa Barat, Indonesia

  • Tel: 021 2951 1772

Web: http://www.industrieid.com
Twitter: twitter.com/industrieid
Instagram: instagram.com/industrieid

Opening hours: 8.30 am - late
Ciao! See you Next Post!