Thursday, March 12, 2015

"Turun, lu!"

“Kota ya, bang!” Ibu-ibu itu berteriak namun tidak ikut naik ke dalam angkutan umum saya. Mungkin seorang perempuan muda yang baru saja naik ini adalah kerabatnya, jadi ibu-ibu tadi hanya menemani saja.

Perempuan muda itu menjadi penumpang saya yang pertama di hari ini. Memang, hari sudah tidak terlalu pagi sementara saya tadi dipaksa istri untuk menyelesaikan makan pagi sebelum pergi. Ya, jadi saya baru saja berangkat dan baru saja mulai berusaha sepenuh hati mencari rejeki. Beruntunglah, tak lama keluar rumah, saya sudah mendapatkan penumpang. Semoga hari ini lancar. Amin. Doa saya dalam hati.

Sesungguhnya, saya baru dua minggu menjadi supir angkutan umum. Sebelumnya, saya mengais rejeki dari profesi sebagai tukang ojek. Penghasilan menjadi tukang ojek sebenarnya lumayan. Lagipula, motor yang dipakai adalah motor milik sendiri, tidak seperti angkutan umum ini. Saya dulu juga berhasil mendapatkan beberapa langganan yang sudah percaya sama saya. Setidaknya, saya punya perkiraan berapa banyak uang yang minimal bisa saya dapatkan dalam satu hari. Sayangnya, saya menjadi salah satu korban pembegalan. Motor saya raib padahal tinggal sedikit lagi saya melunaskan cicilan.

Sedih rasanya jika mengingat kembali peristiwa itu. Waktu itu sudah pukul 10 malam dan saya baru saja mengantarkan seorang penumpang. Ketika saya hendak pulang ke rumah, saya melihat seorang perempuan muda berdiri di depan sebuah warung tenda dengan tas ransel tersampir di pundaknya —saya kira ia baru pulang kuliah atau main, entahlah— melambaikan tangan ke arah saya.

“Ojek, pak?”
“Iya, ke mana Mba?”
“Ke daerah Cengkareng, pak.”
“Wah, jauh amat. Saya sudah mau pulang Mba. Cuma sampai sekitaran Teluk Gong saja. Maaf ya, naik taksi saja Mba.”
“Yah, pak. Tolong ya Pak, saya belum sempat ambil uang dan supir saya masih di jalan karena ban mobilnya pecah. Dari tadi juga saya belum melihat ada taksi lewat sini.”
“Mari saya antar sampai ke pangkalan taksi saja kalau begitu.”
“Ngg, sampai rumah saja ya Pak?” perempuan muda bertas ransel itu memohon dan wajahnya terlihat cemas. Saya jadi ingat anak saya yang sedang bersekolah di kampung. Saya kemudian mengangguk sambil mengira-ngira apa yang akan saya katakan pada istri saya jika saya pulang amat larut.

Ketika perempuan muda itu sudah menyebutkan alamat lengkapnya —yang saya tidak paham betul—, saya langsung tancap gas. Saya sudah meminta perempuan itu untuk mengarahkan saya ke tujuannya karena saya tidak mau membuang-buang waktu untuk pura-pura tahu alamat namun nantinya tersesat. Rekan-rekan saya sesama tukang ojek sepertinya banyak yang begitu. Pura-pura tahu alamat, namun akhirnya berputar-putar karena kesasar, dan lalu justru meminta ongkos lebih pada penumpangnya. Kalau saya, tidak tega rasanya.

Setelah sampai ke alamat perempuan muda itu —yang perjalanannya cukup memakan waktu—, saya langsung melesat kembali menuju rumah saya yang masih jauh letaknya. Untung saja, saya masih ingat jalan pulang dan kalau tidak salah, ada satu jalan pintas yang pernah saya lalui dulu sekali. Saya memutuskan untuk lewat jalan itu, dan apesnya, di situlah motor saya dirampas oleh dua orang tidak bertanggung jawab. Kondisi jalanan sudah cukup sepi dan memang keberadaannya sedikit jauh dari kawasan perumahan. Saya hampir celaka. Saya mencoba melawan dengan sekuat pertahanan diri yang saya miliki namun ternyata mereka membawa alat-alat yang mengerikan —pedang dan pisau lipat kalau saya tidak salah lihat—. Saya yang sudah lelah, tak sanggup lagi melawan, akhirnya pasrah menyerahkan motor saya. Profesi tukang ojek ternyata juga tidak bisa dijadikan senjata, melihat lokasi saya diserang cukup jauh dari kampung tempat tinggal saya.

Saya sudah lapor polisi, tapi saya tak cukup peduli dan berani untuk menuntut keadilan. Wong saya tidak tahu banyak tentang lapor-melapor kejahatan begitu. Jadi, lebih baik saya memikirkan cara untuk tetap menyambung hidup tanpa kehadiran motor satu-satunya itu. Saya sudah ikhlas dan pasrah. Mana tahu, suatu saat nanti saya akan diberikan rejeki yang lebih baik lagi. Aduh, saya malah ngawur dan sok bijak begini.

Beberapa saat kemudian setelah kejadian, ketika saya bingung harus bekerja apa, ada-ada saja keberuntungan memihak. Tetangga saya mengajak saya bergelut di pekerjaan sebagai supir angkutan umum ini. Karena jasa yang ditawarkan hampir serupa, yakni sama-sama jasa transportasi, saya setuju dan menerima tawaran tersebut. Kemudian di sinilah saya sekarang, di balik kemudi angkutan umum berwarna merah yang beroperasi di sekitar Jakarta Utara.

Saya membunyikan klakson beberapa kali dan selalu berjalan lambat ketika melihat seorang atau segerombolan orang berdiri di pinggir jalan. Mungkin saja mereka ingin menumpang angkutan saya. Kadang-kadang, jika melewati pasar, saya bisa mengangkut beberapa penumpang. Namun pagi ini, saya baru berhasil mengangkut si perempuan muda dan satu orang ibu-ibu tua mengenakan baju tidur rumahan. Saya kemudian melihat jam kecil yang ada di atas dasbor mobil saya ini, dan menyadari bahwa hari sudah meraih pukul setengah sebelas. Jam-jam bagi orang-orang kantoran untuk duduk menghadapi pekerjaan dan jam-jam bagi ibu-ibu rumahan memasak makan siang bagi anggota keluarganya. Wajar kalau angkutan saya cukup sepi.

Saya memperhatikan penumpang perempuan muda yang sedang duduk diam mengamati keadaan dari balik kaca jendela. Saya juga memperhatikan ibu-ibu tua dengan aktivitas serupa. Keduanya duduk dalam diam dan sama-sama melihat sekitar. Penumpang-penumpang yang kesepian. Mengapa mereka tidak bercengkerama saja satu dengan yang lainnya? Ah, pasti akan aneh rasanya jika berbicara dengan orang yang tidak dikenal, bukan begitu?

Pandangan saya melihat lagi ke depan dan dari arah berlawanan, saya melihat angkutan dengan nomor sama perlahan mendekat ke arah angkutan saya, dan lajunya diperlambat. Supirnya ternyata si Oji, seorang laki-laki berkumis berjanggut tipis, wajahnya sedikit sangar, namun orangnya sangat baik sebenarnya. Ketika angkutan kami bersisihan, ia berhenti total sambil mengeluarkan tangan yang memegang selembar uang lima puluh ribuan. Saya juga mau tidak mau ikut berhenti dan membiarkan antrean kendaraan di belakang saya bertambah-tambah.

Terkadang, saya benci dengan adat supir-supir angkutan umum ini. Padahal, saya salah satu di antaranya. Mereka (dan juga saya) gemar berhenti sesuka hati ketika ada penumpang yang hendak naik maupun hendak turun. Atau ya dalam kondisi sekarang ini misalnya. Ketika Oji ini ingin menukar uang, ia langsung berhenti saja tanpa peduli kendaraan di belakangnya menumpuk menunggu giliran untuk lewat. Membuat saya harus berlaku serupa.

Saya mengeluarkan kumpulan uang yang terlipat, lusuh, lecek, serta tercampur dari berbagai nominal dari kantung kaos supir saya, berusaha mengumpulkan uang hingga berjumlah lima puluh ribu, sehingga bisa saya tukarkan dengan lembaran lima puluh ribuan yang Oji acungkan.

“Wah, Ji, uang gue nggak nyampe lima puluh ribu nih.” ucap saya sambil menghitung ulang. Dan memang benar, uang saya tidak sampai lima puluh ribu.

Tepat ketika Oji hendak menarik tangannya, sebuah motor muncul di antara saya dan Oji. Berusaha melewati jepitan angkutan umum saya dan angkutan umum milik Oji. Saya tahu, celahnya sangat kecil sehingga akan lebih baik sebenarnya jika motor itu bersabar di belakang mobil saya. Namun, ia tetap memaksa menyerobot sehingga timbul bunyi hentakan —seperti ada sesuatu yang terserempet— dan sontak kepala Oji muncul keluar jendela —bukan lagi tangannya— seraya mengumpat setengah berteriak,

“Woy, anjing lu! Sini lu balik!” segera setelah mengumpat, Oji langsung membuka pintu dan turun dari mobilnya. Membuat antrean kendaraan tambah-tambah macet saja. “Turun lu, bangsat!” Oji melanjutkan.
Saya melongokkan kepala saya ke luar jendela,
“Kayaknya punya gue yang berantakan ya, Ji?”
“Bukan, punya lu nggak kenapa-napa. Itu punya gue tuh yang kebaret panjang! Sial!” Oji berucap sambil melompat naik lagi ke dalam mobilnya. Kepalanya menoleh ke belakang —ke arah kaburnya motor— sekitar dua sampai tiga kali sebelum akhirnya ia benar-benar bersiap akan menjalankan kendaraannya kembali.
“Anjing emang itu orang Ji.” saya menimpali.

Sangat bukan saya. Namun, saya mencoba memposisikan diri sebagai Oji. Mengumpat orang yang menimbulkan masalah, saya rasa adalah jalan terbaik untuk menunjukkan pada Oji betapa saya memahami kejengkelannya. Walaupun pribadi saya mengatakan, tak sepenuhnya insiden barusan merupakan kesalahan si pengendara motor yang menyalip. Yang salah justru Oji (dan saya) karena justru berhenti seenak jidat memaksa motor itu untuk menyelipkan diri di celah yang teramat sempit. Hah, kejadian kecil begini bisa-bisanya membuat saya pusing.

Saya sempat melihat ke spion tengah untuk melihat keadaan antrean kendaraan di belakang saya yang sudah cukup menumpuk, sekaligus melihat keadaan penumpang saya. Perempuan muda itu, tentu saja terang-terangan menyiratkan kejengkelan meskipun dalam diam. Mungkin ia lelah melihat kelakuan supir-supir angkutan umum ibu kota. Beralih ke penumpang satunya, ibu-ibu tua itu justru sebaliknya. Ia tetap diam seolah kejadian barusan sudah berulang kali ia saksikan.

Saya tidak ingat betul berapa lama mobil saya dan mobil Oji berhenti dan bersisihan sehingga menahan laju kendaraan lainnya di belakang kami masing-masing. Saya juga tidak ingat berapa banyak bunyi klakson yang berbunyi membising selama kami berhenti. Yang saya ingat, saya mulai melaju kembali ketika Oji juga mulai berjalan, tanpa mendapatkan tukaran uang lima puluh ribuannya.

Sepanjang jalan, kepala saya seolah memaksakan diri untuk memusingkan hal remeh-temeh gara-gara kejadian barusan. Saya hanya mencoba meyakinkan diri akankah saya masih kuat dengan kehidupan Jakarta yang keras begini? Mulai dari pembegalan hingga perlunya saya berwatak keras dan sangar demi bertahan begini? Pekerjaan supir angkutan umum sekiranya membutuhkan mental petarung, juga tidak takut apapun. Mental pembalap gadungan yang nyalip-nyalip tidak takut diumpat. Saya? Sama begal saja keok. Apa saya sanggup? 

Saya kembali melihat ke spion tengah untuk melihat keadaan penumpang-penumpang saya yang masih duduk dalam diam. Perempuan muda itu masih dengan raut wajah jengkelnya. Ibu-ibu tua itu masih dengan raut wajah datarnya. Saya kembali melihat ke depan dan ada seorang laki-laki tua memegang sebatang rokok menghentikan kendaraan saya. Asap rokok menyeruak di dalam angkutan umum saya berbarengan dengan naiknya laki-laki tua itu ke dalam angkutan umum saya dan seketika timbul keinginan saya untuk merokok juga.

Saya berhenti di pinggir sebuah warung, untungnya kali ini tak menyebabkan kemacetan seperti tadi, membeli sebatang rokok saja hanya untuk mengisi rongga pernafasan, kemudian kembali melajukan kendaraan. Penumpang yang baru saja naik, dan kemampuan saya membeli rokok barusan menyadarkan saya satu hal. Hidup saya tetap harus berjalan, di manapun. Untuk saat ini, mungkin saya harus berjuang di Jakarta. Selanjutnya, mungkin saya dan istri bisa kembali ke kampung, tinggal bersama ibu mertua saya dan dua anak saya yang saat ini masih bersekolah.


Jakarta, saya tidak akan menyerah.

No comments:

Post a Comment

Thanks for leaving a comment :)