Wednesday, March 11, 2015

Selingkuh (Adultério) by Paulo Coelho: Takut Berubah, Takut Pula Bosan

Pada akhirnya saya tergoda oleh karya Paulo Coelho. Pada akhirnya, saya penasaran dengan penulis yang banyak melahirkan karya populer dunia itu. Pada akhirnya, saya membeli satu karyanya yang berjudul Selingkuh (judul aslinya Adultério, dan bukunya ditulis oleh Paulo Coelho dalam bahasa Portugis). Pada akhirnya, saya menghabiskan 4 hari untuk menyelesaikan halaman per halaman Adultério yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa yang pastinya saya mengerti dengan (cukup) baik, bahasa Indonesia. Pada maha akhirnya, saya pernah juga membaca karya Paulo Coelho.
Lalu, akankah saya membaca karyanya yang lain?

SINOPSIS

Adultério bercerita tentang seorang wanita yang memiliki kesuksesan dalam karirnya sebagai jurnalis, mempunyai keluarga yang harmonis, jika belum tentu bisa dikatakan bahagia, dengan seorang suami yang masuk daftar orang terkaya di Swiss, dan dikaruniai dua orang anak. Hidupnya bisa dinilai sempurna dan tak bercela, sebelum akhirnya wanita bernama Linda ini menyadari ada satu bagian dalam hidupnya yang masih kosong. Kesadaran yang timbul setelah ia melakukan sebuah wawancara dengan seorang narasumber yang mementingkan gairah hidup daripada menjadi bahagia. Dari sana, Linda mulai memiliki ketakutan-ketakutan yang sukar dijelaskan, tetapi selalu muncul membangunkannya setiap malam. Pelan-pelan ia menyadari, ia hanya takut pada masa ketika segala yang ia miliki berubah, semisal hilang atau lenyap. Celakanya, ia juga takut bilamana ia hanya selalu menjalani rutinitas yang sama setiap harinya —mengurus suami dan anak-anak, menjadi ibu serta istri dan wanita karir yang hebat— tanpa pernah mencecap adanya sesuatu yang ‘berbeda’. Kekhawatiran akan dua hal yang sama sekali bertolakbelakang ini akhirnya membawa Linda ke dalam petualangan-petualangan hidup, yang bahkan ia sendiri tak pernah sadar ia sanggup melakukannya. Linda mulai jatuh cinta lagi pada cinta monyetnya kala remaja. Dari sinilah semua bermula.

***

Adultério menggunakan sudut pandang Linda sebagai pencerita, sehingga saya merasa seperti kawan yang mendengar curahan hati Linda secara langsung. Latar waktu yang digunakan sekiranya sudah cukup modern, melihat bahwa perangkat canggih seperti iPad turut disebutkan dalam berbagai potongan cerita. Yang menarik adalah penggunaan latar tempat di dalam novel ini. Linda dalam Adultério berhasil mengajak saya untuk membayangkan suasana kota Jenewa, dan beberapa daerah lainnya di Swiss. Imajinasi saya berhasil diajak ‘main’ untuk memperoleh visualisasi pemandangan yang sejatinya indah dan menenangkan pikiran.

Membaca Adultério membuat saya terkadang geregetan. Saya tidak habis pikir dengan pola pikir seorang Linda yang justru terus mencari cara untuk mencari gara-gara dalam hidupnya. Namun, jika dikaitkan dengan permasalahan yang dia hadapi setiap malam, saya mulai bisa menerima bahwa Linda hanya mencoba mencari cara selain menenggak obat-obatan dan berusaha menggunakan pikirannya sebagai manusia, untuk keluar dari kubangan permasalahan yang ia rasakan dalam hidupnya.

Keputusan yang dianggap Linda merupakan solusi untuk menyelesaikan masalahnya ternyata justru merupakan awal dari munculnya masalah yang lain lagi. Uniknya, hal ini justru menambah semangat Linda, seolah ia siap untuk menghadapi masalah-masalah yang kemungkinan besar dapat menyerangnya setiap saat. Mengapa? Karena melakukan suatu tindakan yang berbeda dari tindakan yang biasa adalah sebuah cara untuk mengatasi permasalahannya, bagi Linda. Kebosanan akan melulu melakukan tindakan dan rutinitas yang sama persis setiap harinya telah membuat Linda menjadi orang yang (sangat) berani. Berani untuk berpaling.

Wawancara dengan seorang politikus yang merupakan mantan kekasih menjadi pintu masuk menduanya Linda dari suaminya. Namanya Jacob, lelaki yang kemudian menjadi pembangkit gairah baru dalam hidup Linda. Linda seperti dibutakan karenanya, ia hampir melakukan tindakan yang bahkan mampu membahayakan hidup orang lain. Dan herannya, ia senang melakukan itu semua. Linda seperti menemukan oase di tengah padang gurun. Linda mendapatkan kembali gairah hidupnya setelah bertemu Jacob. Linda merasa, ia telah menjadi pribadi yang lain, dan untuk hal ini, ia berhasil membebaskan diri dari kegiatan yang sama dan terus sama setiap harinya.

Adultério dari kaca mata saya seperti menampilkan sebuah pemaparan yang mempengaruhi saya untuk kembali merefleksikan hidup dari berbagai aspek kehidupan seorang manusia, seperti pencarian manusia akan rasa aman —termasuk keinginan besar untuk mencoba membahagiakan banyak pihak—, ketidakpuasan manusia akan segala pencapaian yang telah berhasil ditaklukan, hasrat terselubung manusia untuk selalu melakukan sesuatu yang ‘berbeda’ dan ‘menantang’ —tentunya sangat kontras dengan rasa aman yang digadang ingin dimiliki oleh setiap individu—, keinginan kuat manusia untuk menjadi pribadi yang bebas, serta potensi yang dimiliki setiap manusia untuk menyebabkan kondisi hancur.

Kadang kala, manusia memilih untuk tetap berada pada zona nyamannya karena merasa bahwa zona nyaman yang menjadi tempat ia berkubang adalah zona paling aman dan mampu memberikan semua yang dibutuhkan oleh seorang manusia. Itulah yang dialami Linda selama sepuluh tahun pernikahannya. Ia melakukan rutinitas yang sama setiap harinya tanpa pernah berpikiran untuk mengubahnya. Ia menjalani peran sebagai ibu dan istri yang baik demi membahagiakan keluarganya, demi untuk tampil sempurna. Ia tidak berani mencoba sesuatu yang lain karena takut bahwa akan memberikan perubahan keadaan. Akan tetapi, lambat laun Linda menyadari bahwa ia sedang terjebak dalam rasa amannya sendiri dan terperangkap dalam keinginannya untuk terus membahagiakan orang lain.

Lama-kelamaan, ketika seorang manusia —dalam Adultério, Linda adalah contoh— sudah mulai menemukan titik jenuh dalam rasa amannya, maka ia akan mulai merasa bosan dengan hidupnya yang monoton atau berpusar di rutinitas yang sama. Maka, rasa tidak puas dan keinginan untuk mencapai yang ‘lebih’ akan segera mengusik. Namun di sini, Adultério menampilkan bahwa manusia, sebelum memilih keluar dari rasa amannya, akan memiliki ketakutan yang amat besar untuk mengambil risiko bahwa keadaan yang akan ditemui di depan akan jauh berbeda dari keadaan di mana seorang manusia masih berkutat di zona amannya. Linda juga merasa takut bahwa semua akan berubah suatu saat nanti. Linda melewati krisis ini sebelum akhirnya memutuskan.

Lagi-lagi, manusia sulit dimengerti. Ketakutan Linda akan adanya perubahan pada akhirnya kalah dengan keinginannya sebagai seorang manusia untuk melakukan hal-hal yang menantang. Nyatanya, dalam Adultério, Linda berselingkuh. Linda menantang dirinya untuk menjadi seorang yang tidak setia dengan jalan berselingkuh. Berselingkuh baginya mampu membangkitkan dan menimbulkan semangat hidup baru. Linda mencoba menjadi pribadi yang bebas menentukan apa yang ia mau, sekalipun ia harus melewati berbagai tantangan dan mengambil risiko terburuk sekalipun.

Potensi menyebabkan hancur seperti yang saya singgung di atas pun nyata tampak di Adultério. Linda menjadi representasi manusia yang nyaris menyebabkan kehancuran. Setidaknya, kehancuran diri dan hidupnya sendiri. Linda nyaris menjebloskan diri ke dalam pusaran kehancuran, jika ia tidak segera menyadari perbuatannya. Kehancuran yang nyaris menimpa Linda pada akhirnya diselamatkan oleh kasih. Ya, kasih.

Saya lupa menyampaikan di atas bahwa aspek kehidupan manusia juga tidak dapat dipisahkan jauh-jauh dari yang namanya kasih. Adultério cukup banyak berbicara tentang kasih. Nafas kristiani cukup terasa dalam novel ini seiring munculnya beberapa kutipan maupun pembahasan ayat atau peristiwa alkitab di dalamnya. Penopangnya adalah unsur kasih. Bahwa Adultério menunjukkan kasih sebagai satu hal yang sejatinya dimiliki setiap individu dan kasih akan menyelamatkan.

Kasih itu pada akhirnya ditunjukan oleh suami sah Linda. Meskipun langkah Linda tinggal sedikit lagi untuk mengakui semua perbuatannya pada suaminya, dengan kasih yang terpancar dalam kata-kata dan perbuatan sang suami, niat Linda pun urung. Urung untuk mengakui, namun bukan urung untuk memperbaiki.

Menutup pembahasan saya tentang novel ini, Adultério sesungguhnya memiliki gagasan yang sederhana, namun ia mampu menampilkan kerumitan-kerumitan hidup manusia. Kisahnya jelas seputar manusia dan sifatnya, serta turut mengikutsertakan pembahasan manusia dan KASIH.


Adultério cukup membuat saya merenung dan ingin merefleksikan hidup saya sendiri. Bagaimana dengan kamu?

No comments:

Post a Comment

Thanks for leaving a comment :)