Friday, March 6, 2015

Tea For Two by Clara Ng: Kemunculan Sisi Buruk Pernikahan

Membongkar lagi kumpulan buku yang belum saya baca bahkan belum saya sentuh sama sekali sejak membeli, saya menemukan sebuah karya dari Clara Ng di barisan koleksi buku yang saya miliki. Tea For Two, begitu judul yang tertera di halaman depan. Jujur, desain bukunya kurang menarik selera saya untuk membaca karena hanya menampilkan foto wanita berambut pendek mengikuti seorang lelaki di depannya. Warna oranye —sangat bukan warna kesukaan saya— muram mendominasi keseluruhan tampilan buku. Namun, bukan hal itu sebenarnya yang mempengaruhi saya dulu ketika memutuskan untuk membelinya atau tidak. Adalah ceritanya seputar pernikahan dan KDRT yang menggugah saya. KDRT, pernikahan, dan wanita, tepatnya.

SINOPSIS

Seorang perintis perusahaan mak comblang Tea For Two bernama Sassy memutuskan untuk menikah setelah ia menjalani hubungan percintaan yang manis nan romantis bersama seorang pria bernama Alan. Sebelum menikah, Sassy menilai pernikahan adalah sebuah penawaran menggiurkan untuk memasukki tahap kehidupan baru, tahap yang penuh hal manis, penuh sisi baik. Penawaran yang menjadi dasar roda usahanya berputar.
Malang tak dapat dihadang, kehidupan pernikahan Sassy nyatanya amat berbeda dengan apa yang selama ini dibayangkan dalam benaknya. Kehidupan pernikahannya miris. Manis apalagi romantis tak lagi ada, melainkan pukulan, tinju, tamparan, dan kekerasan lain yang didera seorang Sassy. Tak hanya kekerasan fisik saja, batin Sassy pun perlahan turut menderita. Sahabat-sahabat Sassy dilarang mendekat oleh suami yang dulu mengobral kata cinta. Sassy hanya mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Mencoba bertahan dengan pilihan yang sudah ditetapkannya, sebelum akhirnya cahaya kebahagiaan perlahan menggeser pilihan Sassy.
***
Bukan Clara Ng namanya, jika bukunya tidak menawarkan kisah yang berbeda dari kisah roman kebanyakan. Tea For Two adalah buku ketiga Clara Ng yang saya baca. Sebelumnya, The (Un)reality Show dan DimSum Terakhir juga menawarkan rangkaian cerita yang sama sekali unik, berbeda, dan tak diduga.

Terlepas dari ide cerita Clara Ng yang tak bisa tak dibilang menarik itu, saya hanya merasa sedikit terganggu dengan gaya penulisan Clara Ng dalam Tea For Two. Narasi yang diceritakan dari sudut pandang orang ketiga serba tahu tidak disampaikan dengan tata bahasa yang indah. Pilihan kata yang digunakan tidak terlalu bervariasi, melainkan bisa dibilang sangat biasa. Saya seperti membaca roman remaja dengan kata-kata yang sama sekali tidak sulit dicerna. Kemudian, isi dialog dan percakapan antar tokoh terlihat cukup janggal jika dibandingkan dengan percakapan orang-orang Indonesia kebanyakan. Rasanya sangat aneh dan mengingat ini bukan novel terjemahan, saya agak sedikit terganggu dengan cara dialog-dialog itu disampaikan. Misalnya, dialog-dialog yang dilakukan antara tokoh Sassy dengan sahabatnya Naya. Jika saya membayangkan dialognya diucapkan secara nyata, maka akan menjadi sangat “tidak biasa”. Meskipun demikian, dengan mengabaikan pendapat saya yang (memang) subjektif tentang gaya dan cara Clara Ng merajut kisah Tea For Two ini, saya menemukan banyak hal menarik lainnya yang tetap mampu menggoda saya untuk membaca hingga halaman terakhir.

Tea For Two pada beberapa bagiannya mampu membuat saya tertawa sebab Clara Ng mampu menyusupkan aneka unsur komedi ke dalam kisah ini. Setidaknya, Tea For Two berhasil menjadi novel yang tidak membosankan dari segi cerita. Tentu, bukan dari unsur lucunya saja novel ini menjadi menarik, melainkan polemik yang terjadi dalam kehidupan Sassy —ketika lajang maupun sudah menikah— turut menggoda untuk diselami lebih dan lebih dalam lagi. Intinya, problematika kehidupan Sassy sejatinya melahirkan sebuah ide baru dalam kehidupan wanita pada masa-masa yang sedang bergulir sekarang.

Semua pembaca Tea For Two saya yakin sepakat bahwa tokoh Sassy telah membuka mata para wanita tentang rentannya seorang wanita mengalami perubahan jati diri setelah menikah (apakah lelaki juga sama?). Sassy yang telah menjelma menjadi seorang istri perlahan mulai meninggalkan Sassy yang lajang jauh di belakang. Bukan, bukan sesederhana itu perkataan yang saya maksud. Sassy seakan tidak mengenali dirinya sendiri. Sassy dipaksa, dituntut, bahkan ditekan secara fisik berikut mental untuk menuruti keinginan orang lain di luar dirinya. Ya, keinginan suaminya. Sassy didesak keadaan untuk memahami isi otak Alan, lelakinya. Sassy dijerumuskan ke dalam kehidupan pernikahan yang secara total mengubah seluruh hidupnya.

Tea For Two berusaha membuka sisi lain pernikahan yang masih minim terkuak. Pernikahan, sebenarnya seperti dua sisi uang koin. Dan tidak seorangpun bisa menyangka sisi mana yang akan muncul ketika koin tersebut dilemparkan ke udara. Tidak seorangpun menduga sisi mana yang akan menjadi warna pernikahannya. Sisi atas atau sisi bawah? Sisi depan atau sisi belakang? Sisi baik atau sisi buruk?

Seringkali, manusia mengira pernikahan akan selalu memunculkan sisi manis nan romantis. Padahal, ada satu sisi gelap yang jarang menang ketika dilemparkan ke udara. Sisi kelam yang sama sekali tidak manis apalagi romantis. Sisi inilah yang kemudian diangkat ke permukaan oleh Clara Ng dalam Tea For Two. Tea For Two mengenalkan, serta membuktikan pada kita betapa kejamnya sebuah sisi tanpa cahaya dalam sebuah pernikahan melalui isu Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Tak tanggung-tanggung, kekerasan fisik sekaligus kekerasan mental-psikologis ditimpakan pada Sassy, seorang wanita pendamba kehidupan pernikahan manis nan romantis.

Tea For Two bagi saya berhasil menjadi sarana komunikasi yang baik terhadap para lajang —terutama wanita— untuk menyampaikan gagasan bahwa menikah tidak selamanya indah. Menikah itu pilihan, begitupun dengan tidak menikah. Pilihan apapun yang diambil pada akhirnya akan sama-sama memunculkan hanya satu sisi mata uang ketika dilemparkan. Ambil pilihan menikah, seseorang harus tau bahwa di hadapannya belum pasti terbentang kehidupan pernikahan yang ideal seperti apa yang diharap imajinasi di kepala. Seseorang harus siap dengan apapun yang akan terjadi di ujung sana, sepahit atau semanis apapun kelanjutan pilihannya ke depan.

Akhir kata, Tea For Two adalah bacaan menarik (lagi-lagi saya tekankan, dari segi ceritanya), terlebih bagi mereka yang (akan) berencana menikah. Berminat?

No comments:

Post a Comment

Thanks for leaving a comment :)