Tuesday, December 1, 2015

Merindu Syukur, Mengucap Amin

Satu kata ketika saya rehat mengisi konten di blog ini selama tepat dua bulan: RINDU.

Saya rindu menyusun kata membentuk kalimat demi menyusun satu tulisan yang padu.
Saya rindu mencurahkan pikiran, pendapat, atau apapun itu namanya yang maju mundur di dalam tempurung.
Saya rindu saja. Hanya itu.


Ada alasan, mengapa saya absen begitu lama. Dasarnya, saya sedang ingin fokus menata dan meniti karir saya sebagai pencari berita. Ya, saya berhasil bergabung untuk bekerja di media. Senang? Ya, mungkin, teramat?

Saya ingat, berbulan lalu, tepatnya di bulan Mei 2015, saya mulai mencari-cari info lowongan pekerjaan. Sebagai reporter, jurnalis, kuli tinta, atau apapun itu sebutannya saya embat. Saya mengejar berbagai media yang sekiranya bisa membuat saya betah dan rela bertahan lama, mungkin minimal 2 tahun? Entah.

Saya rapihkan CV saya dan saya sebarkan lamaran ke sebanyak mungkin media yang membuka lowongan. Klik, klik, send. Itu yang setiap hari saya kerjakan.

Berminggu setelahnya, satu media mengundang saya untuk ikut ujian psikotes selama satu hari penuh. Saya harus bersaing dengan (katanya) 300-400 orang yang juga punya minat bekerja di sana. Medianya bergengsi, namun sering menuai kontroversi. Terkenal akan cover majalahnya yang pedas dan cerdas, juga ternama akan wartawannya yang cadas. TEMPO namanya.

Saya kemudian mengikuti proses seleksi CAREP (Calon Reporter) TEMPO 2015, dan meninggalkan beberapa lowongan lainnya yang tersedia. Saya enggak memilih untuk lari sana lari sini karena saya takut bingung pilah-pilih lowongan ini itu.
Kalian juga pasti setuju, memilih itu sangat tidak mengenakkan, tentu.

Terhitung mulai Juni 2015, saya akhirnya fokus mengikuti rangkaian proses di TEMPO, mulai dari psikotes yang tadi saya sebutkan (lolos), hingga 3 tahap berikutnya yang menyusul. Sayangnya, saya gagal di tahap ke-4. Kalian tahu itu tahap apa? TOEFL! Ya, saya gagal di salah satu cabang tes bahasa Inggris itu.

Malu, marah, kesal, sebal, semuanya campur aduk ketika saya tahu saya gagal. Saya bertanya-tanya, adakah saya begitu bodoh dalam berbahasa Inggris? Saya lolos seleksi wawancara dengan redaktur, saya lolos seleksi wawancara panel. Tapi, saya gagal dalam ujian TOEFL. Saya marah, terlebih karena saya membawa keinginan saya masuk TEMPO ke dalam doa. Kalian tahu, waktu itu saya sudah terlalu haus ingin bekerja. Ketika ditolak, padahal saya sudah berusaha, wajarkah bila saya marah?

Sulit untuk mengatur pikiran untuk menyulut nilai positif. Ketika tahu saya tidak lolos ke tahap terakhir, saya hanya bisa marah, negatif, dan juga pesimis. Apa saya enggak boleh jadi reporter? Atau, memang saya enggak bisa kerja di media? Entahlah~

Lama-kelamaan, seiring dengan hari-hari bebas dan menyenangkan yang saya punya sebelum bekerja, saya mulai bisa melupakan kekecewaan itu. Saya mulai kembali optimis. Saya pikir, kalau saya saja bisa meluluhkan hati redaktur untuk mengijinkan saya masuk ke tahap seleksi berikutnya, masa iya saya enggak punya kapabilitas itu? Sisi putih dalam diri saya kemudian timbul. Sisi itu lantas berbisik pada saya, "Tuhan punya rencana lain yang lebih indah."
Maka, setelahnya saya tak lagi membantah.

TEMPO menolak saya? Enggak apa-apa. Media lain masih banyak, bukan? Itulah yang saya harapkan. Saya kirimkan lamaran ke macam-macam media lagi. Saya buat cantik CV saya. Saya warnai ia dengan unsur warna merah muda, warna yang saya suka. Saya poles dia hingga jadi sesimpel mungkin dan enak dibaca. Saya munculkan satu kalimat yang menggambarkan keinginan kuat saya. Saya ingin jadi jurnalis. Saya ingin.

Saya kirimkan CV dan lamaran ke media-media berita 'hard news' yang saya incar. TV, koran, kanal online, semua! Masih, enggak ada yang memberikan balasan. Saya jadi pesimis lagi. Optimisnya cuma sesaat saja, ternyata. Kayaknya, saya harus mulai mencari alternatif. Kalau enggak berpindah haluan media, kalau enggak, ya saya melamar pekerjaan non jurnalis sekalian. Saya di ujung tanduk. Saya rasanya hampir nyerah.

Akhirnya saya ambil pilihan yang pertama. Saya pilih untuk melamar di media-media yang, saya tahu media itu bukanlah media berita (hard news) yang memungkinkan saya nongkrong di pengadilan, kementerian, atau di istana negara, namun yang sekiranya bisa membuat saya betah, enjoy, dan bekerja lama-lama.

Saya mulai membuka lagi kanal-kanal penyedia lowongan, dan saya ajukan lamaran saya ke media-media yang sebelumnya tidak saya jadikan pilihan. Salah satunya, media tempat saya mencari uang jajan dan sumber tabungan, sekarang.

Sebelum saya mengklik "apply" ke media-media "pelarian" itu, saya selalu berujar pada diri saya sendiri:

Kalau saya memang harus di sini, saya akan jalani. 

Sampai akhirnya, media tempat saya bernaung sekarang yang langsung merespon cepat dua hari setelah saya mengirim CV (maaf jika menyebutnya "pelarian", nanti dulu, jangan tergesa-gesa berkesimpulan). Pertama, saya dipanggil untuk interview HRD. Lolos. Kedua, saya diminta untuk psikotes. Lolos. Ketiga, saya diminta mengirimkan contoh tulisan. Lolos, memang, tapi menunggunya super lama! 2 minggu? 3 minggu? Oh, saya bahkan lupa! Saya hampir pesimis (lagi) dan menyangka saya enggak diterima. Makin, makin, makin saya kacau. Hampir saya banting setir lagi sekalian. Marketing? Not a bad idea.


Untungnya, sebelum saya hampir angkat tangan (dan lambai ke kamera), saya dihubungi lagi oleh kantor saya yang sekarang. Saya dipanggil untuk masuk ke tahap selanjutnya, user interview. Satu hari setelah user interview, saya langsung mendapat kabar kalau saya diterima kerja. Waktu itu rasanya campur-campur kayak bubur. Saya senang, terharu, sekaligus lega. Meski tak dapat bekerja di media yang sukar-sukar bahasannya, toh saya tetap bisa mewujudkan keinginan saya berkutat dengan dunia peliputan, pemburuan berita, dan penulisan. Belum ada yang bikin saya menjadi sangat bersyukur waktu itu. Thank, God!

Nyatanya perjalanan enggak berhenti sampai di situ saja. Satu hari tepat sebelum saya menandatangani perjanjian kerjasama tenaga kerja, saya dihubungi dua media sekaligus yang mengundang wawancara. Dua-duanya merupakan media berita yang sama-sama saya mau, pula! Padahal, besoknya harus tanda tangan kontrak. Galau? Yes. Bimbang pun. Tapi ya sudah, mungkin belum rejeki. Lebih baik saya ambil yang pasti. Yang dua itu tadi, belum tentu juga seterusnya baik hati.

Besoknya, saya datang ke kantor. Saya selesaikan urusan administrasi. Dan resmi tanggal 1 Oktober, saya mulai bekerja di salah satu media yang ada di bawah naungan sebuah korporasi yang enggak bisa disebut kecil. Saya...senang. Enggak ada penyesalan sama sekali, apalagi gerutu-gerutuan.

Bagaimana bisa saya enggak senang kalau saya punya profesi yang jadi tempat menyalurkan hobi?

Pergi ke kantor, bertemu orang-orang asyik dan kreatif. Pergi ke kantor, enggak perlu perlente pakai kemeja dengan rok atau celana bahan? Sepatu hak tinggi? It's like a bad dream.

Saya hanya perlu menggunakan t-shirt dan jeans. Kerja rasa jalan-jalan ya, begini ini.
Saya bisa bertemu Tara Basro sampai Tora Sudiro. Pun Omesh, atau Indra Birowo. Bukan, saya bukan wartawan infotainment. Saya juga pernah, kok, ketemu mantan kapten timnas futsal, bung Veve, serta orang nomor 1 di DKI. Iya, Ahok.

Nggak jarang (meski nggak sering juga), saya bisa hemat jajan saya karena kalau liputan selalu ada makan siang atau makan malam. Tabungan kaos ini itu bertambah, apalagi kalau saya aktif di konferensi pers dan kerap mengajukan pertanyaan.
Enak! Setidaknya buat saya yang super menikmati keadaan saat ini.

Ya, akan tetapi, profesi ini jangan dikira enak aja tinggal haha hihi, menulis, terbit, jadi! Saya juga harus mengasah otak mencari isu terkini, yang anak-anak muda zaman sekarang gemari, atau ya yang setidaknya mengulik berita dari sisi yang tertutupi. Sama sekali enggak mudah untuk cepat beradaptasi. Sama sekali.

Tapi pada akhirnya. Kesimpulannya. Intinya. Ini pilihan. Ini yang saya suka. Ini yang buat saya enjoy. Enggak apa-apa saya enggak bisa nongkrong di pengadilan, kementerian, atau di istana negara. Enggak apa-apa, kalau muka saya enggak bisa nongol di TV waktu meliput arus mudik saat lebaran, atau tulisan saya enggak bisa muncul di koran harian. Sangat enggak apa-apa.

Karena di sini, hidup bisa lebih santai. Setidaknya hingga kini, saya merasa dihargai oleh perusahaan sebagai karyawan. Saya bersyukur dengan 'jajan' yang masuk ke rekening saya setiap bulan. Saya bekerja serius tapi santai. Saya menulis santai tapi serius. Saya cuma bisa mengucap syukur.

Meski mungkin ada yang menganggap saya sebelah mata. Bekerja di media "anak-anak dan remaja", enggak apa-apa. Saya aja enjoy, jadi, enggak ada peluang buat mereka mencela-cela. Paling tidak, saya bisa membuktikan saya bisa. Dan saya enggak perlu lagi berkutat dengan alternatif-alternatif pekerjaan lain. Marketing? It's a big no. Please.

Now and forward, saya mau berusaha beradaptasi di sini. Hingga saya bisa benar-benar punya nilai diri dan kapabilitas yang mumpuni. Semoga aja di bulan-bulan, di tahun-tahun berikutnya, saya makin betah menjalani kewajiban di tempat ini. Amini? Amin!

2 comments:

  1. Kalau saya memang harus di sini, saya akan jalani.

    This.

    Seneng banget bacanya, Cha. Sukses ya :D

    ReplyDelete

Thanks for leaving a comment :)