Showing posts with label stories of my own life. Show all posts
Showing posts with label stories of my own life. Show all posts

Friday, January 1, 2016

Jumpa Lagi Sama Resolusi

Nggak kerasa, sudah satu tahun jedanya sejak tulisan ini dirilis. Tulisan yang, iseng-iseng memaparkan evaluasi resolusi 2014 menyambut 2015. Tulisan yang, waktu barusan dibaca lagi, bikin pikiran ini jadi flashback dengan sendirinya. Plus bikin mikir juga, "kenapa waktu cepet banget berlalunya ya?"

Anyway, lantas bagaimana dengan evaluasi resolusi 2015 menyambut 2016?


Friday, January 2, 2015

Goodbye 2014. Welcome, 2015!

Goodbye, 2014!

Cepat sekali waktu berjalan. Tahun 2014 sudah berlalu saja dan sekarang giliran tahun 2015 yang ada di depan mata.
Seperti penggalan caption yang saya tulis di Path,
2014 has been a great year for me. I have got good and bad things, created happy and sad memories. I laughed and I cried. Now it's time for me to be ready in facing 2015.
Siap nggak siap, 2015 memang sudah harus dihadapi! Dan untuk menghadapi 2015, kita harus banyak berkaca dari kejadian yang kita alami di tahun 2014. Nah, melalui tulisan ini, saya ingin terlebih dahulu kembali mengingat resolusi saya pada awal tahun 2014 kemarin. Sejauh manakah resolusi saya bisa saya realisasikan?

1. Kewajiban di PMKAJ US dapat diselesaikan dengan baik, bisa merangkul teman-teman semuanya. Jadi, kalau sudah lengser, tetap terjalin persahabatan yang erat.

---Puji Tuhan, bulan September kemarin, kewajiban di PMKAJ US sebagai Koordinator II bisa selesai. Tidak semulus jalan aspal, memang. Tetapi, akhirnya kepengurusan ini dapat diteruskan juga ke kepengurusan yang baru. Suka duka sedih senang saya dapatkan di kepengurusan ini, dengan kesulitan dan kemudahan yang ada, masa kepengurusan saya, Ganda, Lia, dan Ajeng bisa selesai juga dengan baik.

---Bersyukur juga dengan teman-teman dekat yang saya jumpai di PMKAJ US, yang bahkan masih rindu bercerita hingga saat ini. Persahabatan memang hukumnya wajib banget buat dijalin. 

2. Boyfriend?

---Puji Tuhan, masih dikasih kesempatan sama Tuhan buat menikmati kebebasan. Jadi, pacarnya (mungkin) masih disimpan untuk dimunculkan di waktu terbaik. Satu yang saya yakini, semua indah pada waktunya. Tul, nggak?

3. Keliling Indonesia (Bali, Lombok, Sulawesi, Kalimantan)

---Resolusi yang ini sayangnya tak dapat terlaksana sedikit-pun. Meskipun demikian, saya meyakini keinginan saya untuk menjelajah dapat terealisasi di tahun 2015. Semoga benar adanya, ya.

---Saya hanya sempat memiliki kesempatan untuk mengunjungi Pulau Harapan di Kepulauan Seribu. Indah dan cantik pantainya memang benar-benar membuat saya nagih lagi untuk ke pulau-pulau dan pantai-pantai lain di Indonesia. (Baca ceritanya di sini)

4. Jurnal beres, biar ijazah bisa segera di tangan.

---Kenyataannya masih berbalik 180 derajat dari resolusi yang saya buat. Jurnal tak tersentuh. Ijazah nihil didapat. Tapi, lagi-lagi Tuhan masih memberi saya tahun 2015 untuk menyelesaikan resolusi saya yang satu ini. Semoga ijazah bisa cepat saya dapatkan ya!

5. Kerja bener di BreadLife. Kalau ada kesempatan, baru loncat cari kerjaan lain.

---11 bulan sudah saya selesaikan dengan baik di BreadLife. Pindahnya bukan karena punya kerjaan lain, tapi memang kontrak akan segera habis dan lagi saya punya banyak keinginan yang ingin saya capai di tahun ini. Tentu butuh fokus dan waktu yang banyak, sehingga tak akan bisa saya bagi fokus saya sambil bekerja dan mencapai rencana-rencana itu. Doakan saja.

6. Tetep nulis! Nulis buat GenSindo, buat blog, nulis cerpen atau novel!

---Menulis sudah pasti. Menulis buat GenSindo belum lagi hingga saat ini. Menulis buat blog, rajin sekali. Sempat berhenti dua bulan karena kesibukkan di dunia kerja, tapi selanjutnya bisa saya atasi. Kebanyakan menulis tentang makanan, sih. Menulis novel belum berhasil, namun untuk cerpen, saya sudah menghasilkan beberapa.

7. Kalau bisa, ngurusin badan! hehehe

---Beberapa bulan terakhir, saya memutuskan untuk tidak mengkonsumsi nasi. Hasilnya meskipun nggak drastis, tapi berat badan saya turun. Hehe, nggak kurus-kurus amat, tapi setidaknya nggak lebay lagi gendutnya. 

8. Tetep sehat dan nggak boleh terkapar sakit parah.

---Bisa juga saya jaga kesehatan saya di tahun ini. Beberapa kali sakit, tapi nggak parah-parah amat, sekadar radang tenggorokan atau demam. Sakit hepatitis seperti beberapa tahun lalu untungnya nggak terulang lagi. Puji Tuhan.

9. Nggak pernah telat alias ON TIME terus.

---Selama kerja, beberapa kali saya masih telat. Entah karena macet, kesiangan, ataupun terjebak banjir. Tetapi, selebihnya ON TIME terus dong! Kemajuan loh ini.

10. Peduli lingkungan (nggak buang sampah sembarangan), lebih peduli terhadap masyarakat kecil.

---Bersyukurnya, di tahun ini saya bisa terus menahan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan, melainkan mencari tempat sampah terlebih dahulu sebelum membuangnya.

---Kepedulian saya terhadap masyarakat kecil masih belum maksimal di tahun ini.

11. Les bahasa Prancis dan mendapatkan sertifikat B2.

---Saya nggak berhasil bagi waktu antara kerja dan les bahasa Prancis, apalagi untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian DELF B2. Tetapi, DELF B2 harga mati untuk didapatkan, sih. Semoga tahun 2015. Amin.

12. Bisa diijinin bawa mobil sendiri kemana-mana.

---Yeay beberapa kali sih sudah sempat diijinin bawa sendiri kemana-mana. Tapi emang nggak sering-sering amat. Namanya juga mobilnya masih minjem orang. Hehe.

Itu dia keduabelas resolusi yang saya tulis di agenda saya pada awal tahun lalu. Meskipun hasilnya nggak maksimal dan masih ada beberapa resolusi yang tidak berhasil saya lakukan, namun saya berterimakasih karena saya masih diberikan tahun 2015 untuk memperbaiki dan merealisasikan keinginan-keinginan saya yang tertunda. Semoga semua impian dapat diwujudkan di tahun 2015 ini, baik impian saya maupun impian kalian yang sedang membaca barisan kalimat ini.

Kehidupan saya di 2014 memang dapat dikatakan sangat terpaku pada dunia kerja. Rutinitas yang saya jalani selalu sama setiap harinya, hanya hari libur dan weekend yang berbeda. Namun begitu, banyak pelajaran dan kejadian-kejadian menyenangkan yang mengiringi langkah saya di tahun 2014 kemarin. Banyak teman baru, banyak pengalaman baru, banyak cerita baru, dan banyak memori baru yang perlahan mengisi ruang penyimpanan otak saya. Semuanya pasti memiliki keunikan tersendiri dibanding tahun sebelumnya maupun tahun yang akan datang. So, terima kasih sangat untuk kamu, 2014!
And also, thank you for those who completed my journey, whose name were written in my 2014 'unseen' journal.
WELCOME, 2015!
HAPPY NEW YEAR 2015!

Monday, August 12, 2013

5 Agustus - 11 Agustus 2013. Random Java Trip. (Part II)

Hari III: Kamis, 8 Agustus 2013.
Sarapan pemandangan Bromo, dinner santai di kota Batu.

Nah, mulai deh cerita wisata ke kawasan Bromonya.
Jadi, di hari Kamis dini hari, kita semua dibangunin jam 3 pagi. Dari malam sebelumnya, kita udah nyewa JIP buat wisata hari Kamis-nya. Kita akan berwisata ke 4 tempat.

1. Liat SunRise/ Matahari Terbit dari Penanjakan.

Deket gunung Bromo, yang (katanya) namanya Penanjakan, kita semua bisa nunggu buat lihat matahari terbit. Pas gue ke sana kemaren sih, tempat ini rame banget. Pada rela nungguin dari jam 5 bahkan jam 4 pagi buat ngeliat sunrise yang katanya tercantik ini. Ada bule-bule juga, dan ada bule dari Prancis! Coba gue nekat dikit, atau sok-sok SKSD gitu, hmm, ngobrol kali gue ama tuh bule. *eaa pede*

Setelah ngeliat sunrisenya, emang cantik banget sih. Cinta banget gue sama ini negara. Pemandangannya cakep-cakep banget! :")

Matahari Terbit
2. Ke kawah Bromo yang dikelilingi oleh Lautan Pasir seluas 10 kilometer persegi.

Nah, di kawasan ini, gue nggak kesampean buat ngeliat kawah Bromo dari deket, soalnya akses ke sana cuma dua: jalan kaki atau naik kuda. Kalo jalan kaki, bisa makan waktu satu jam. Kalo naik kuda, guenya nggak punya nyali. Haha. Denger-denger, harga sewa kudanya berkisar antara Rp 80.000,- - Rp 100.000,-. Kalo naik kuda sih, tentu lebih cepet jadinya. Tapi, mau naik kuda/jalan kaki, buat ngeliat kawah Bromonya, tetep harus lanjut naik 250 anak tangga. 

Kemaren, akhirnya gue cuma ngeliat dari bawah aja tuh akses ke kawah Bromonya. Lalu sarapan bentar minum sereal. Foto-fotoin bukit-bukit yang ada di sekitar lautan pasirnya juga.

Hamparan Lautan Pasir yang mengelilingi area bawah Kawah Bromo
Area kawah Bromo dilihat dari bawah
Hmm, suatu waktu nanti gue harus balik lagi nih ke sini! Ihiy!!!

3. Padang Savana.

Di sebelah jauh lagi dari lautan pasir yang gue ceritain di poin nomor 2, kita bisa ketemu apa yang namanya Savana. Dikelilingi bukit-bukit yang super duper hijau, lalu beralaskan pasir-pasir yang ditumbuhin rumput-rumput hijau nan asri. Katanya bapak Djoko (yang nganterin kita kemana-mana make JIP-nya), tempat ini sering dijadiin tempat syuting film. 


Yang dipanggil Bapak Djoko
Gue juga nih make buat syuting. Syuting film pribadi tapi. Huft.

Padang Savana
Tapi, di sini tuh bagus banget. The most beautiful view for that morning-lah pokoknya! Bayangin aja, sekeliling lo perbukitan semuaaaaaa, rumput-rumput semuaaa. Dan luaaaaaaaaaaaaas banget! Tuhan Maha Besar, euy!

4. Pasir Berbisik

Nggak tau juga kenapa tempat ini dinamakan Pasir Berbisik. Katanya sih karena pasir-pasirnya kalau ketiup angin, bisa menghasilkan suara-suara bisik-bisik merdu begitu. Hehe. Tapi, lepas dari latar belakang namanya, tempat ini cakep juga lho! Bukan pasir pantai doang yang bisa keren, pasir di sini bisa jauh lebih keren! Pasirnya berundak-undak gitu membentuk bukit-bukit kecil, dan halusnyaaaaaaaa banget-banget. Betah betah betahhhhh!!!

Pasir Berbisik
Yah, tapi cuma 4 tempat yang bisa gue kunjungin kemaren. Selain itu, gue dibonusin pemandangan-pemandangan oke di sekitaran Bromo, dan juga sempet berhenti sebentar di kawasan yang (katanya) dinamakan Bukit Cinta. Baguuuusnya bagus banget. Nggak ngerti lagi sama kawasan ini, pemandangannya cakep-cakep banget. 

Area yang katanya Bukit Cinta
Untuk anggaran yang kemarin dikeluarin ketika berwisata Bromo ini adalah sbb:

1. Sewa JIP+Pengendara-nya: Rp 700.000,- untuk keliling ke 4 tempat di kawasan Bromo
2. Karena kemaren sama sekali nggak bawa jaket tebal, akhirnya gue, Papa, Mama nyewa. @ Rp 20.000,-
3. Karena dari tempat pemberhentian JIP, gue, Papa, Mama nggak mau jalan kaki ke Penanjakan, kita naik ojek. @ Rp 40.000,- PP naik turun/ojek.

Puas nggak puas keliling tempat wisata di Bromo, kita turun juga balik ke penginapan. Nggak pake mandi dan cuma ganti baju, kita akhirnya bergegas ke Malang. Tadinya, niat sarapan di daerah Lumajang. Tapi sepanjang Lumajang nggak ketemu makanan sama sekali sampai ujung-ujungnya di Malang baru nemu tempat makan. Maklum, hari Kamis tanggal 8 Agustus euy, Lebaran, jadi wajar kalo jarang yang buka. Sejauh mata memandang dan mobil berkeliling, kita ketemu satu tempat makan yang buka di Malang. Dan itu adalah ...................................... DANDEE'S Resto di Jalan KH Agus Salim, Malang. Ini adalah tempat makan steak serta makanan-makanan yang berbahan dasar ayam. Jujur, tak seperti yang saya harapkan. Yang saya harapkan adalah menyantap sesuatu yang khas Malang, tapi ujung-ujungnya steak-steak juga. Yasudah makan aja, daripada perut kosong, ta?

Setelah memesan berbagai jenis steak dan makan, hmm, lumayan enak juga. Harga juga standard. 

Tenderloin Steak: Rp 27.500,-;
Sirloin Steak: Rp 25.500,-;
Chicken Steak: Rp 21.000,-;
French Fries: Rp 10.000,-

Makan selesai dan perut sudah terisi. Lanjutlah perjalanan kita menuju kota Batu. Yang diandelin ya google Maps! lagi. Sempet disuruh keluar masuk gang pula sama si google Maps! ini. Bener-bener ngerjain. Meskipun begitu, nyampe juga sih ujung-ujungnya di kota Batu. 

Sampe di kota Batu masih sore tuh untungnya, langsunglah berkelana mencari tempat penginapan. Masuk keluar hotel, harganya banyak yang nggak cocok, terus banyak yang udah penuh juga. Huft, kami semua lelah. Eits, tapi pada akhirnya, bertemulah kita semua dengan HOTEL ASIDA yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman 99, Batu. Ada satu kamar yang masih kosong. Puji Tuhan.

Kamarnya bagus, kamar mandinya bagus, tempat tidurnya gede, dan yang terpenting, colokannya banyak! Hehe. Kami membayar Rp 800.000,- untuk sebuah Suite Room dan sehelai extra bed. Harga sebanding dengan pelayanan kok. Di dalam kamarnya ada ruang bincang-bincang yang dilengkapi 3 buah sofa; ada kulkas; ada TV. Bersih. Apik. Wangi. Breakfast dikasih untuk 3 orang. Tapi, hotel ini belum dilengkapi fasilitas Wi-Fi. 

Udah lega karena udah dapet hotel, terus udah wangi juga karena udah mandi, kita semua siap-siap deh ke Batu Night Spectacular (BNS) di Jalan Oro-Oro Ombo. Sebuah tempat wisata yang konon katanya paling hits di Batu. Ada juga Jatim Park I dan Jatim Park II yang nggak kalah bagus. Tapi, kemaren kita cuma ke BNS aja, nggak ke Jatim Park. Nggak cukup waktunya, hehe.




Bagian dalam BNS.
Harga tiket masuk BNS itu Rp 20.000,-/orang. Di dalamnya ternyata banyak wahana-wahana yang ditujukan untuk memacu adrenalin. Ada kursi terbang, sepeda udara, kora-kora, daaaaaaan masih banyak lagi yang gue sendiri udah lupa namanya.


Harga tiket masing-masing permainan palingan berkisar antara Rp 10.000,- - Rp 12.500,-. Ada Rumah Hantu dan Lampion Garden-nya juga. Lampion Garden-nya sendiri mungkin mirip Taman Pelangi kalo di Jogjakarta. Di BNS ini nggak cuma ada mainan/wahana-wahana doang, tapi ada juga Food Court yang biasanya dilengkapi pertunjukkan lampu-lampu laser gitu. Lalu ada kios-kios penjajaan souvenir-souvenir khas Batu juga. Tempat bermain yang menghibur banget deh pokoknya! 

Gue sendiri di BNS cuma main kursi terbang. Seru banget diterbang-terbangin gitu, diputer-puter ampe pala lumayan keliyengan dan tangan gemeteran kedinginan. Tapi herannya, gue nggak teriak-teriak histeris. Mungkin ketakutannya udah parah jadi cuma diem doang kali ya. Tapi, it was really fun! Nagih pengen nyoba mainan-mainan serem lainnya, tapi waktunya udah malem banget. Kan harus istirahat karena besoknya mau ke Solo. Hehe, jadilah pulang aja gue dan nggak sempet main mainan lainnya.




Sebelum pulang, gue mampir dulu ke Rumah Sosis Bandung yang ada tepat di seberang BNS. Beli sosis bakar dulu, hehe lumayan buat cemal-cemil. Selesai dari Rumah Sosis, kita akhirnya balik lagi ke jalan deket hotel buat beli makan malem. Kita beli makanan di rumah makan Iga Bakar. Gue lupa keluarga gue mesen apa aja, yang jelas, malam itu gue makan Nasi+Bebek Goreng lagi dan dilengkapi dengan segelas Teh Tarik hangat. Hehe.

Kita semua makannya di hotel aja sambil bersantai ria. Setelah perut kenyang, semua pun terbaring senang. Hari keempat perjalanan menanti!

Hari IV: Jumat, 9 Agustus 2013.
Dari santai sampai susah cari hotel.

Hotel ASIDA terlalu nyaman untuk ditinggalkan, tapi apa daya, kaki kan harus melanjutkan perjalanan. Iya nggak? Hehe. Setelah sarapan, jam 9 atau jam 10an pagi, kita check-out. Nah, mulai deh wisata kita di kota Batu.

Pertama, kita berencana mau metik apel di Kusuma Agrowisata di Jalan Abdul Gani Atas. Cuma aja, waktu hari itu, paket yang disediakan cuma paket metik strawberry doang, nggak ada yang metik apel.


Depannya Kusuma Agrowisata
Yaudah deh nggak jadi jalan-jalan di sana. Kita langsung cuss aja beli oleh-oleh khas Batu, terus bergegas ke Taman Rekreasi Selecta

Taman Rekreasi Selecta: Harga tiket masuknya Rp 15.000,-/orang dan untuk mobil Rp 5.000,-




 

Di Taman Rekreasi Selecta, gue sama Mama mainan sepeda bebek air. Bayarnya Rp 15.000,- untuk 15 menit. Ternyata pegel juga euy ngayuh sepeda bebek-bebek air itu. Hahaha. 



Selesai capek-capek ngayuh sepeda bebek air, kita cuma muter-muter bentar di sana. Tadinya berharap akan ngeliat Taman Bunga, tapi karena pada agak males jalan-jalan jauh, akhirnya cuma cuci-cuci mata sebentar liat bunga-bunga dan ikan-ikan di kolam serta akuarium, kita langsung cabut lagi deh.

Oma masih penasaran sama wisata metik apel, akhirnya dicariin Papa deh tempat buat metik apel dan makan apel sepuasnya. Ketemu tuh akhirnya setelah kita turun dari Taman Rekreasi Selecta, sebuah tempat memetik apel. Yaudah, cuma Papa sama Oma aja yang metik apel. Gue, Mama, Opa enggak ikutan karena nggak doyan. 

Tujuan selanjutnya itu kita mau ke Kediri. Mau ke Goa Maria Puh Sarang di sana. Sebelum itu, kita mampir dulu ke sebuah tempat makan bakso arema. Kurang banget kan rasanya kalo ke Malang tapi nggak nyobain bakso. Tempat makannya terletak di Jalan Patimura. Harga semangkok Bakso Malangnya Rp 9.000,- dan Bakso Campurnya Rp 17.000,- (ada bakso bakarnya juga). Enak banget yee bakso Malang itu! Ckck.



Usai dari Batu, kita cuss ke Kediri. Cukup perjuangan juga ke sana, karena sempet dibikin nyasar lagi sama google Maps! Jadi salah gitu doi nunjukkin jalannya. Huft. Perjalanan baru berhenti di tempat tujuan (Goa Maria Lourdes Puh Sarang) itu sekitar pukul 6 sore.


Hari sudah mulai gelap. Di sana pastinya kita berdoa kan. Nah, kurang lebih 30 menitlah kita doa, abis itu kita jajan-jajan souvenir dikit. Di sana, toko souvenirnya lengkaaaaaaaaaaaap banget. Berbagai jenis rosario, patung, dan aksesoris-aksesoris agama Katolik lainnya luengkap selengkap-lengkapnya. Bikin pengen borong semuanya! Hahaha. Doa udah, beli souvenir udah, bawa air suci udah, yaudah deh kita cabski menuju kota sebelah.


Itu yang digantung itu rosario semua loh. ;)
Rencananya kan lewat Madiun buat ke Solo, tapi nggak jadi. Kita jadinya lewat Ngawi. Nyampe di Ngawi itu udah jam 12an, dan kita rencananya nginep di Ngawi. Tapi, hotel Sukowati - yang direkomendasiin sama google sebagai hotel kece di Ngawi - juga ikutan penuh. Lanjutlah kita ke Sragen pengen nginep, tapi full juga hotelnya.

Mau nggak mau bablas juga deh ke Solo. Sampe di Solo sekitar jam 2 pagi, dan kita muter-muter cari hotel. Semuanya penuh. Sekalinya ada kosong, harganya mahal banget. Untunglah, karena kita nggak menyerah dan terus berusaha, ketemu juga sebuah hotel kosong. Namanya Orange Hotel, di Jalan Insinyur Sutami. Harga perkamarnya Rp 470.000,- untuk yang Deluxe Room. Yang lebih murah (Superior Room) udah penuh. 

Yasudah, puji Tuhan dapet tempat istirahat kan, kita langsung cuss tidur deeehhh. Hotelnya masih dalam tahap renovasi, jadi masih ada 'kurang-kurang' dikit di beberapa sisi. Tapi, keseluruhannya oke kok. Sarapan sepuasnya, tapi harus di restorannya, nggak bisa dianterin. Menunya ada telor balado, nasi goreng, mi goreng, dan pecel. Enak ;)

Hari V: Jumat, 10 Agustus 2013.
Belanja batik lalu bermalam di sepanjang jalan.

Bangun tidur ku langsung makan pagi. Abis makan pagi baru mandi. Abis mandi, lalu ke Pasar Klewer belanja batik. Seneng deh, bisa beli beberapa potong batik, meskipun cuma baju dan celana tidur yang dipake santai-santai. Tapi beli baju dan rok juga. Murah-murah dan banyak banget jenis batiknya. Seneng liatnya! Pasar Klewer pokoknya emang nggak ada matinya deh jadi pertokoan batik-batik. Lengkap terus puas gitu. Hehe. Dari Pasar Klewer, kita menuju ke hotel buat beres-beres dan check-out

Rencananya, langsung menuju Semarang buat makan siang dan beli lumpia, terus pulang ke Jakarta. Eh, ternyata kita malah muter-muter dulu nyari serabi di Jalan Slamet Riyadi, terus makan Bakso dulu di Bakso Garasi. Perut kenyang baru deh kita lanjut ke Semarang. Tapi oh tapi lagi, kita kena macet :(. Nyampe Semarangnya jadi maleeeeeeeeeeem banget, sekitar jam 9 jam 10 malam. Rencana mau makan seafood, malah jadinya nggak makan apa-apa. Baru ketemu tempat makan pas udah keluar Semarang. Makanannya juga standard banget. Hancur sudahlah harapan makan seafood di Semarang, cuma mau gimana lagi. Hehe. 

Selama perjalanan pulang ke Jakarta, nggak banyak yang bisa diceritain. Yang ada cuma kita semua yang nahan ngantuk. Mama sama Oma Opa sih tidur. Tapi gue pengennya nemenin Papa nyetir, cuma akhirnya ketiduran juga. Huft, perjalanan yang cukup melelahkan, tapi untungnya, hari MINGGU, 11 Agustus 2013, kita semua sampe juga dengan selamat di rumah tercinta. 

Oiya, ada satu lagi yang kelewatan. Pagi-pagi di Hari Minggu ini, akhirnya kita bisa makan seafood juga! Di Jalan By Pass Kali Anyar. Nggak tau juga sih itu di daerah mana, tapi seafoodnya lumayan enak. Makan Ikan Ayam-ayam Bakar, Ikan Bawal Bakar, Cumi Bakar, dan Cah Kangkung. Huft, perut kenyang selama perjalanan pulang.

Sampe di rumah sekitar pukul 1 siang. Semua tepar setelah beres-beresin barang. Tapi, yaaaa, satu hal yang pasti kita rasain selain rasa capek adalah: SENANG! Iyaaaa, seneng banget bisa Quality Time bareng-bareng gitu. Keluarga emang tempat yang paling nyaman, ya! :)

Hmm, sekian deh cerita perjalanan ke Jawa Tengah dan Timur kali ini. 
Sampai jumpa di cerita-cerita berikutnya, ya:)

SALAM OLEH-OLEH ;)

Sunday, August 11, 2013

5 Agustus - 11 Agustus 2013. Random Java Trip. (Part I)

Finally! Gue punya waktu juga buat jalan-jalan sama keluarga. Setelah sekian hari dan sekian minggu dilewatkan tanpa berada di rumah karena kegiatan yang begitu padat (sok sibuk!), akhirnya tanggal 5-11 Agustus 2013 gue bisa melewatkan waktu bersama Papa, Mama, Opa, dan Oma tercinta.

Nah, terinspirasi dari WSATCC yang merilis jurnal perjalanannya ke Eropa sana, gue juga ah mau bikin jurnal perjalanan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur ala gue. Hehe.
Mari, gue nggak sabar mau mulai cerita!

Awalnya, perjalanan ini dimulai dengan tumbuhnya rasa dongkol gue dulu. Gimana enggak dongkol coba? Gue kan tanggal 5 Agustus kemaren masih punya satu kegiatan dan gue udah jauh-jauh hari ngasih tau Mama, kalau seandainya gue baru bisa sampai di rumah sekitar jam 5-6 sore di tanggal 5 itu. Tapi oh tapi, pas tanggal 5 pukul 2 siang tiba, gue diminta oleh Mama dan Papa untuk sampai di rumah tepat pukul 3 sore!

Saat membaca pesan singkat lewat Whatsapp itu, gue lagi ribet sendiri menangani kegiatan gue, dan gue sendiri juga baru aja mau duduk menyantap makan siang. Akhirnya, dengan hati dongkol, gue habisin deh tuh makanan gue, dan meminta tolong seorang teman untuk nganterin gue ke luar jalan. Maklum, tempat gue saat itu agak masuk ke dalam gang.

Sampai di jalan besar, gue nunggu taksi. Ternyata, tak satupun taksi kosong lewat. Yang ada hanyalah taksi yang sudah berpenumpang. Apa boleh buat, gue sama dua orang teman (yang rencananya mau naik taksi bersama) akhirnya mutusin naik angkot. Kami nyasar. Kami turun dari angkot hendak mencari ojek. Gue duluan naik ojek, dan mereka belakangan. Kami gagal naik taksi berbarengan. Gue naik ojek dan minta bapak ojek untuk nganterin gue sampe ketemu taksi kosong. Bukan di pinggiran mal atau pinggir jalan, gue justru ketemu taksi kosong di lampu merah. Gue langsung ketok kaca si taksi dan minjem duit 10ribu buat bayar ojek. Langsunglah gue pindah ke dalam taksi sebelum si merah berubah jadi hijau. Akhirnya, dengan kondisi sang supir taksi yang nggak hafal jalan serta gue yang mulai ngantuk karena angin sepoy-sepoy, Tuhan ngijinin gue sampe juga di rumah pukul 4 kurang. Untungnya, Mama Papa masih nungguin. Ya iyalah, nggak mungkin ditinggal juga sih, emang tega? *pede*

Pukul 5 sore di tanggal 5 Agustus, perjalanan dimulai! 
Pukul 6 pagi di tanggal 6 Agustus, kami tiba di Semarang.
Yuk, mari disimak cerita perjalanan ini :)

Hari I: Selasa, 6 Agustus 2013.
Berawal di Semarang, terlelap di Surabaya.

Seperti yang tadi udah gue bilang, kami tiba di Semarang pukul 6 pagi. Iyaa, jam 6 lewat-lewat dikit lah. Sebelum tiba di Semarang, dan ketika gue terlelap, ternyata Mama Papa mampir di Brebes. Ngapain lagi kalau bukan beli telur asin. Mereka beli 10 butir. 7 butir telur asin biasa (3.000/butir) dan 3 butir telur asin asap (3.500/butir).

Gue sendiri sih, doyan enggak doyan sama telur asin. Kalau lagi mood ya makan, kalau lagi nggak mau, ya nggak makan. Dari ke-10 butir yang dibeli, gue cuma nyicip-nyicip dikit. Hehe.

Kami emang nggak berencana nginep di Semarang, maunya nginep di Surabaya. Alhasil, di Semarang kita cuma numpang lewat doang. Dari Semarang, ke Demak, kemudian Kudus - Pati - Rembang. Kami mampir dulu makan di Rembang, di Restoran Pringsewu. Sayangnya, saat gue makan dan singgah di restoran ini, HP mati, jadi nggak bisa mengabadikan foto-foto makanan ataupun tempatnya. 

Restoran Pringsewu ini melakukan publikasi bahkan dari jarak 67 km. Publikasinya menampilkan nama menu-menu yang menggiurkan, makanya gue sama Papa tertarik deh makan di sana. Eh, sampe di Pringsewu, ternyata nggak semua menunya tersedia, jadilah kami cuma memesan Cumi Goreng Tepung (Rp 49.500,-), Udang Goreng Tepung (Rp 57.500,-), ditambah sama Sapo Tahu Ayam (Rp 33.500,-). Hiks, mayan mahal tapi rasanya mayan lah buat ngisi perut. :'')

Dari Rembang, perjalanan lanjut ke Tuban. Di Tuban, gue bisa lihat Pantai Tuban dan gue baru tau kalau Pantai Tuban itu adalah bagian dari Pantai Utara. Hehe. Di Tuban, ada beberapa hal yang bisa dilakuin:

Pantai Tuban
1. Beli keripik kentang pedas dan kerupuk ikan tenggiri. Murah-murah serta enak-enak banget. Keripik kentang pedas harganya Rp 7.000,- terus kerupuk ikan tenggiri-nya juga Rp 7.000,-
2. Beli buah Lontar. Tau nggak buah Lontar? Hehe. Di deket rumah gue sih, harga satu buah Lontar utuh itu Rp 10.000,-. Di Tuban, dengan uang Rp 10.000,-, kita udah bisa bawa 5 buah Lontar utuh. Ckckck, murah banget!
3. Beli kerupuk bangka/kerupuk kemplang. Harganya Rp 16.000,-. Isinya banyak. Kerupuknya gurih! (promosi abis!). Sayaaangnya, gue lupa mereknya apa dan belinya di toko apa. ;)
4. Sepanjang jalan dari Tuban ke arah Gresik, gue ngeliat beberapa toko yang menjajakan hasil laut yang diasinin. Tapi, kita cuma beli terasi sama cumi kering aja. Padahal, kalo diliat, di sana banyak banget ikan-ikan segar yang diasinin, misalnya aja ikan kakap kering.
5. Berkunjung ke Klenteng Kwan Sing Bio. Klentengnya guedeeeeeee banget, dan banyak patung-patung gede yang kayaknya mewakili tradisi Cina banget. Setelah berkunjung ke google, katanya oh katanya, klenteng ini adalah yang termegah dan terbesar di Indonesia, bahkan di Asia. Wah, beruntung sekali bisa mampir ke sini! ;)

Berfoto di Klenteng Kwan Sing Bio
Selesai muter-muter Tuban, kita lanjut lagi ke Gresik dan berakhir di Surabaya. Pas sampai di Surabaya, waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Kita langsung deh gerak cari hotel. Sebelumnya sih, nanya-nanya dulu sama AA Google. Cukup kaget liat rate-nya yang bedaaaaaa banget sama Jakarta. Hotel-hotel yang gue kira harganya di atas 500 ribu, ternyata cuma 300an ribu. Mewah dan punya banyak fasilitas pula. Ckckck, seru sekali menginap di Surabaya ini.

SURABAYA! (Meskipun nggak tau nama tugunya)
Setelah menjelajah beberapa hotel, akhirnya kita jatuh hati sama Emerald Hotel yang terletak di jalan Ambengan. Harga kamar yang paling standard itu Rp 335.000,-/kamar. Fasilitasnya: Wi-Fi, colokan ada 4, TV Cable, Hot/Cold Water, Breakfast for 2 persons (dan punya banyak pilihan, ada nasi bali, nasi rawon, nasi soto, dsb.), dan AC. Kamarnya bersih dan bikin betah banget. FYI, dari hasil perjalanan kali ini, hotel ini yang paling oke dan 'layak' tinggal.

Interior kamar hotel Emerald.
Buat makan malem, gue sama Papa pengen banget makan bebek goreng. Namanya lagi di Surabaya, kurang aja kalo belom makan bebek goreng. Nah, gue googling lagi (anak google ceritanya!), terus ketemulah yang namanya bebek goreng HT, yang berlokasi di Jalan Karang Empat Besar. Katanya sih, enak banget! Akhirnya, gue pake google Maps!, buat menemukan si HT-HT itu. Sampe di TKP, ternyata tempatnya udah tutup. Semua makanan ludes. Pas ditanya besoknya doi buka jam berapa, doi malah jawab kalo mulai besok doi udah libur. Nasiiib!

Terus, gue googling lagi. Ketemulah rekomendasi baru. Namanya bebek goreng Cak Yudi. Katanya, berlokasi di Jalan Tanjung Tarowitan. Tapiii, di google Maps! lokasinya malah ngaco. Akhirnya, kita semua nyasar dengan perut yang masih lapar.:(

Nyari-nyari lagi di google, ada rekomendasi lain lagi, namanya bebek goreng LA di Jalan Dharmahusada. Sampai di Jalan Dharmahusada, nggak ketemu bebek goreng LA, malah ketemunya bebek goreng Anugerah Jaya. Lumayan rame sih, yaudah karena laparnya sudah tak bisa ditahan, makanlah kita di bebek goreng AJ. Rasanya Lumayan, Porsinya Lumayan, tapi pelengkapnya kurang. Biasanya kan kalo makan bebek goreng, ada sambelnya yang pedees banget, terus nasinya dikasih suwiran-suwiran bebek gitu kan?. Nah,kalo ini, cuma nasi+bebek tok. Hmm.

Soal harga, bebeknya dihargai Rp 20.000,-/potong, terus mesen sate babat juga (Rp 12.000,-). Mahal kah? Murah kah? Ya sudahlah~


Setelah perut kenyang dan hati senang, kita semua kembali deh ke penginapan untuk tidur dengan tenang! Besoknya, kita udah nyiapin beberapa agenda perjalanan juga. Yuk, lanjut ke cerita hari kedua!


Hari II: Rabu, 7 Agustus 2013.
Kuliner di Surabaya, tidur kedinginan di kawasan Bromo.

Kegiatan di pagi hari kedua: bangun tidur lalu mandi lalu sarapan lalu beres-beres dan bersiap check-out. Kembali bersiap dengan handphone di tangan, gue mulai nyari tempat-tempat wisata/kuliner yang bisa dikunjungin di Surabaya. Ketemulah beberapa rekomendasi seperti: Jembatan Merah, KyaKya, Pasar Atum, serta Masjid Cheng Hoo.

Pertama, kita berkunjung ke Jembatan Merah.
Lalu, ke kawasan pecinan KyaKya. Di kawasan ini, ternyata semuanya menutup tirai alias nggak ada yang jualan! Yaudah tuh, kita yang tadinya mau sarapan Chinese Food ala Surabaya harus membatalkan niat. Lanjutlah kita semua ke Pasar Atum. Cuma Papa sama Mama yang turun. Gue, Oma, Opa stay aja gitu di mobil. Mageeerr. Hehe. Berselang 30 menit, Papa Mama bawa sekantong bahan logistik buat selama perjalanan nanti menuju Bromo. 

Bahan-bahan Logistik yang dibeli diantaranya:
1. Mochi warna-warni, dibeliin 10 biji.



2. Bola-bola bakso udang goreng.
3. Makanan berbahan dasar daging Babi (Babi panggang manis, panggang garing, bakso goreng, sate, dan abon). 
4. Manisan buah Kana.

Ujung-ujungnya, kita semua cuma ngegadoin makanan-makanan itu, tanpa sarapan seutuhnya. Yasudahlah yaaaa~
Lepas dari sana, kita menuju Masjid Cheng Hoo. Arsitekturnya 'cina' banget! Kalo gue nggak salah sih, Masjid Cheng Hoo nggak cuma ada di Surabaya aja, tapi di beberapa kota lain juga ada. Di sini kita nggak lama, gue cuma mau liat dari jauh masjidnya, soalnya kan unik. ;)



Jalanan di beberapa titik di Surabaya menarik hati untuk difoto juga loh. Seperti foto-foto di bawah nih:


Depan alun-alun Surabaya
Jalan Kapasan yang sepi sekali :)
Terakhir, sebelum kita pindah lokasi dari Surabaya, kita mau berburu oleh-oleh. GOOGLING lagi lah kita. Katanya sih ada di Jalan Genteng Besar. Dan untuk kedua kalinya, google Maps! menunjukkan arah yang salah. Akhirnya kita modal nekat muter-muter Tunjungan karena katanya Jalan Genteng Besar ini deket sama Tunjungan. Ketemu jugalah deretan toko oleh-oleh dan mata ini mulai berkilat-kilat penuh gairah oleh-oleh. Hehe.

Karena sebuah toko yang namanya toko BHEK (Jalan Genteng Besar No. 68) terlihat paling ramai, kita tergoda juga untuk melangkahkan kaki masuk ke sana. Kita disambut oleh deretan ikan bandeng asap yang digantung, lalu oleh deretan kue-kue kering serta camilan khas Surabaya. Gue sendiri cuma beli beberapa buat dibagi-bagiin, soalnya kalo banyak-banyak, bingung juga siapa yang mau abisin. ;)

Ikan Bandeng Asap yang menyambut


Almond Cheese Chips @ Rp 40.000,-
Lapis Legit Lusiana @ Rp 55.000,-
Kue Mente Keju @ Rp 35.000,-


Sesuai dengan rencana awal bahwa perburuan oleh-oleh ini adalah yang terakhir, kita langsung deh tancap gas ke Pasuruan, lalu mampir sebentar ke kawasan lumpur Sidoarjo/lumpur Lapindo. Suhu pusat lumpurnya mencapai 90 derajat Celcius. Kedalamannya sudah mencapai 14 meter. Sedih banget liatnya. Katanya, udah 25 pabrik yang terendam lumpur, dan juga rumah-rumah penduduk ludes. Ckckck. :(

Untuk melihat lumpur ini dari dekat, kita harus berhenti di pinggir jalan, naik tangga kayu dulu, dan membayar Rp 10.000,-/orang.

Ini sebelum naik ke atas buat liat lumpurnya. Penampakkan dari pinggir jalan.
Ini gambar lumpurnya yang punya kedalaman 14 meter. :(

Setelah nggak mau berlama-lama di kawasan lumpur itu, kita lanjut lagi jalan ke daerah Probolinggo buat nyari makan. Ketemu sebuah tempat makan, namanya Bromo Asri. Tempatnya lumayan bersih dan menunya beragam. Gue mesen nasi bumbu bali sama bebek goreng. Lokasi tempat makannya di Jalan Raya Banjarsari, Probolinggo. Harganya bersahabat nih kalo di sini! Nggak nyampe Rp 20.000,- per paketnya ataupun per potong bebeknya. ;)

Selesai makan dan perut terisi, yasudah, kita menuju tujuan utama kita, yakni tadadadadada: KAWASAN BROMO!!!

Nyampe di sekitaran sana sih udah menjelang malam, sekitaran pukul 8 atau 9 malam begitu. Papa naik ojek ke atas untuk cari hotel dan penginapan, tapi katanya udah penuh semua. Kita ujung-ujungnya nginep di penginapan berupa villa. Harganya Rp 700.000,- udah termasuk extra bed. Gue tidur di sofa, Papa Mama tidur di extra bed, Opa Oma tidur di kasur gede. Nasib deh kalo nyampenya udah malem begitu. Mungkin untuk kalian yang mau ke Bromo, harus book hotel dari jauh-jauh hari ya :)

Buat makan malem, Papa sama Mama beli nasi putih+telor ceplok+gado-gado buat kita ber5. Ya, kalo lauknya masih kurang, kan masih ada beberapa lauk yang tadi paginya dibeli di Pasar Atum, ;)

Suhu di Bromo dingin banget. Nggak mungkin kuat kalo nggak bawa jaket serta selimut, kecuali emang udah terbiasa tinggal di suhu ekstrim gitu kali ya. Gue aja sampe pake baju 3 lapis dan sweater. Kupluk dan syal juga nggak lupa dipake. Kaos kaki aja yang kurang karena nggak bawa. 

Lantainya dingin. Air mineral yang tadinya hangat, bisa jadi dingin kayak dimasukkin ke kulkas. Dinginnya super!

Sedikit yang bisa disaranin sebelum ke Bromo: bawa jaket supertebal, syal, kaos kaki, kupluk, selimut, dan baju yang tebel-tebel.

Cerita wisata Bromonya mana? Yuk ah, nanti dibaca di cerita hari ketiga aja yaw!

Friday, July 5, 2013

Masih ada TITIK TERANG.


Berikan kami Titik Terang
Bukakan kami jalan benderang
Kekasih hati genggam tanganku
Tataplah mataku menembus pusat jantungku



Titik Terang-Sidang Rakyat Dimulai.
Karya Ratna Sarumpaet - Satu Merah Panggung.
Rabu, 3 Juli 2013. 20.00. Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.



Entah apa yang membawa pikiran saya ingin sekali menonton pertunjukan ini.
Bermula dari kicauan Rio Dewanto di twitter beberapa waktu lalu yang menampilkan poster pementasan Titik Terang, saya langsung tertarik dan mencari teman yang juga ingin menonton. Setelah mendapatkan kawan yang akan menemani saya menyaksikan perhelatan ini, saya akhirnya tinggal menunggu tanggal.


Entah apa pula yang membawa saya pada suatu keberuntungan untuk hadir dalam jumpa Pers Titik Terang, Selasa, 25 Juni 2013 lalu. Rasanya, hasrat makin menggelora untuk menyaksikan pertunjukan yang akan digelar empat hari ini. Melalui jumpa Pers itu, saya mendapatkan gambaran mengenai apa isi cerita yang akan diceritakan. Ternyata, mengenai kehidupan suatu negeri yang begitu kaya akan hasil alam, namun rakyatnya masih mengalami kemiskinan. Ternyata, mengenai pemerintahan suatu negeri yang dirasa sudah carut marut, dan saatnya rakyat menampilkan kekuatannya untuk berontak.

Entah apa juga yang akhirnya membawa saya dan seorang teman sampai berhasil dan tak terhalang suatu apapun untuk menyaksikan TITIK TERANG pada hari pertama, Rabu 3 Juli 2013 kemarin. Sayangnya, karena kondisi saku yang harus disesuaikan, kami hanya dapat menyaksikan dari posisi kursi balkon. Namun tak apalah, toh penampilan selama kurang lebih dua jam itu masih bisa saya nikmati.

Titik Terang-Sidang Rakyat Dimulai adalah produksi pertama dari Satu Merah Panggung yang saya tonton. Sebelumnya ya, belum pernah.

Melalui Titik Terang ini, saya mulai mengagumi keberanian Umi Ratna dalam mengangkat dengan jujur dan apa adanya mengenai kondisi rakyat negeri tercinta. Kemiskinan, keterpurukan rakyat, korupsi, bahkan pelanggaran HAM yang menimpa para perempuan, TKI, dsb. Mengenai manipulasi politik, kebungkaman penguasa, dan berbagai kecurangan lainnya yang merugikan bangsa.

Saya merinding saat melihat tokoh Arma, putri seorang koruptor yang bahkan tak tahu kalau ayahnya koruptor. Saya termangu melihat keberanian tokoh Eddy yang membuat suatu pengakuan mengenai negaranya tercinta (yang kita tahu negara apakah itu). Saya melempar tawa saat melihat tokoh Ria, sang lonte yang cerdas menghadirkan kesaksiannya yang sarat akan isu. Saya tak berkedip menyaksikan jaksa muda pembela rakyat yang dihadirkan dalam sosok Arman, terlepas dari Rio Dewanto yang memerankannya. Saya terpukau melihat sesosok nenek tua yang yakin bahwa masih ada Titik Terang untuk negara ini.

Miris memang, ketika seseorang sadar bahwa satu-satunya jalan keluar mengakhiri penderitaan hanyalah kematian tanpa perlawanan. Sedangkan, pilihan untuk memperjuangkan hidup hanya membuat penderitaan semakin menyengsarakan. Lalu, apa yang harus dilakukan mereka yang tertekan bahkan tertindas? Ratna menjawabnya dengan sidang rakyat. Ya, bahwa kekuatan rakyat yang berdaulat dan kemudian bersatu melawan adalah kekuatan yang patut diwaspadai oleh mereka yang menganggap dirinya paling memegang kuasa.

"Berhati-hatilah pada amarah rakyat, karena ketika semua rakyat bersuara dan bertindak, habislah." adalah serangkaian kalimat yang dihasilkan oleh pikiran saya setelah menyaksikan pertunjukan ini.

Artistik yang apik, suara nyanyian anak-anak kecil yang begitu merdu, serta lagu yang mengiringi Titik Terang hanyalah bonus saja untuk saya sebagai penikmat. Namun, keberuntungan utama yang saya dapatkan terletak pada kesadaran yang kemudian muncul, serta mata yang mau membuka menyaksikan kondisi sebenarnya negeri ini. Kondisi-kondisi yang disalurkan Umi Ratna lewat dialog-dialog lugas para tokoh yang rasanya pasti membuat penonton menganga dan menganggukan kepala tanda setuju.

Akhir kata, saya, sebagai penonton yang menikmati karya Satu Merah Panggung 3 Juli kemarin, hanya ingin menyampaikan selamat. Selamat pada mereka semua yang bersama-sama, telah berhasil mencipta Sidang Rakyat ini. Selamat, selamat!

Tuesday, July 2, 2013

Random 1 Juli 2013: Bubur Ayam IMBA!

Siap-siap dengar cerita random ya! *lagilagicurhat*.

Jam 3 sore, tiba-tiba Dimas nanya gue lagi di mana. Menjawablah gue kalo gue lagi di Depok. Langsung diajak merandom. Baiklah. Siap. Laksanakan.

Juliet Coffee jadi sarana ke-random-an gue sama Dimas dan juga Aan siang itu.
Itu kali kedua gue ke sana. Pesanan gue sama. Ice Chocolate + Hazelnut syrup. Menu yang sebenarnya nggak ada. Tapi sebodolah, pesen aja. Itungannya yaa, yang nggak ada, diada-adain aja. :D

Ternyata, di Juliet Coffee ada menu minuman baru. Yaitu Gauda Frappe: Cheese + Milk. Enak. *nyicippunyadimas*. 

Cerita demi cerita terus terlontar dari masing-masing kita. Seneng! Suka banget cerita-cerita gitu sama mereka. :) Kabar baik datang dari Aan. Ya, kalo dia baca postingan ini, gue doain deh lo lancar-lancar aja prosesnya *proses apa ya silahkan tafsirkan sendiri*.

Setelahnya, sekitar pukul 5 sore, kita pindah deh ke Bubur Ayam Sinar Garut Boga Sari 3. Ini nih inti dari segala inti yang mau diceritain. 

Jadi, di Sinar Garut itu, Bubur Ayamnya terkenal banget. Enak! PARAH sih kalo kata Dimas. Tempatnya ada di kawasan Soerabi Bandung (Soerabi Enhaii yang pernah gue post di sini juga), tapi agak di belakangnya. Di Jalan Margonda, Depok juga. Nah, udah lama sih sebenernya denger desas-desus kelezatan bubur ini. Tapi belum pernah nyoba dan  akhirnya, hari ini kesampean nyobain juga. Ayey!

Tadi, gue pesen Bubur Ayam + Telur + Kornet. Harganya 20.000. Dimas dan Aan juga mesen bubur yang sama, sedangkan Anne (dia nyusul pas kita udah 15 menitan di Sinar Garut) mesen Bubur Ayam + Kornet + Keju seharga 23.000.

Berikut tampilannya:

Bubur Ayam + Telur + Kornet
Bubur ayam + kornet + keju

Rasanya jangan ditanya. Enak banget sih! Di buburnya itu, telurnya mentah gitu ternyata. Jadi, sebelum makan, harus diaduk dulu sama buburnya, baru deh telurnya berasa. Yang nggak bisa lihat dan bahkan makan kuning telur yang masih mentah gitu, mendingan mesen yang tanpa telur aja. Di buburnya, kita dikasih cheese sticknya juga. Uenak beneran, euy!

Kemudian, sambil menikmati bubur IMBA itu, datanglah seorang Ginta, dan jadilah kami ada berlima. Haha. Cukup randomkah? Ckck.

Terus, terus tapi gue harus pulang ke kediaman tersayang di Tangerang 1 jam kemudian. Yasudah, mau tak mau gue meninggalkan kebersamaan itu. Gpp lah ya! Hehe sudah cukup senang kok :)

Terima kasih semuanya pengisi hari-hariku sore kemarin! :)