Showing posts with label friendship. Show all posts
Showing posts with label friendship. Show all posts

Saturday, January 31, 2015

Untuk MFK: Cepat Sembuh!

Memang, nggak akan ada yang pernah tahu kapan seseorang bisa terserang penyakit dan kapan ia akan sembuh. Nggak akan ada yang pernah tahu, wujud penyakit seperti apa yang mungkin saja menyerang. Kita cuma bisa mencegah dan mungkin berjaga-jaga. -sederet kalimat yang entah dicetuskan siapa
Faqih, akhirnya kamu membuktikan kata-kata di atas itu benar adanya. Semua kaget kamu sakit, semua nggak nyangka kamu tiba-tiba tergolek lemas tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Mata kamu terbuka, tetapi kamu tidak menatap pasang mata teman-teman yang datang. Kamu hanya memandang lurus ke atas. Tangan kamu bergerak, tapi tak sedikitpun kamu bisa membalas sentuhan tangan teman-teman yang peduli sama kamu. Kamu hanya menggenggam telepon genggammu dengan erat, itupun karena suster yang menyarankan. Mulut kamu membuka namun kamu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Kepalamu menoleh kiri kanan tapi tak sejenakpun kamu mengalihkan pandanganmu kepada mereka yang datang. Mengapa kamu terlihat begitu kosong, Faq?

Faqih, saya teringat, beberapa waktu lalu kita sempat lebih dari sekali berbalas pesan singkat. Saya memang tak sesering itu mencipta komunikasi dengan kamu, tapi obrolan di pesan singkat itu membuat kita banyak bercerita. Dari obrolan itu, saya tau kamu pernah kena penyakit dan sedang dalam proses penyembuhan. Kamu kuat, loh Faq. Buktinya, kamu berhasil menjalani proses pemulihan hingga hampir lima bulan. Lalu, kamu juga bilang kalau kamu punya keinginan bekerja di Google. Ya ampun, Faq, kamu nggak bisa kerja di Google kalau kamu nggak sembuh dari sakitmu sekarang juga! Masih melalui obrolan singkat itu juga, kita mencoba membuat rencana jalan-jalan singkat kan, Faq? Hang out ala ala anak gaul Jakarta, Faq. Waktu itu saya minta kamu temenin saya ke Citos di saat teman-teman yang lain nggak bisa, tapi kamu juga ikutan nggak bisa, terus kita malah mau jalan-jalan di lain waktu. Ya kan Faq? Isi obrolan singkat yang kita lakukan itu masih saya ingat Faq, meskipun sebelumnya kita super jarang ngobrol kayak gitu.

Faqih, sepulang saya dan Vina jenguk kamu hari ini tanggal 31 Januari, saya kembali buka foto-foto saya pas gladi resik wisuda. Waktu itu, kamu sama Sekar nyamperin saya ngasih selamat. Dengan gaya kamu yang khas dan gaya Sekar yang ceria, kita foto-foto di atas rumput Rotunda. Foto itu sempat kamu upload ke Path dan kamu jadiin profile picture di Line. Wajah kamu yang penuh ekspresi tapi tetap sok cool gimana gitu. 

Faqih, menjelang Natal 2013 dan Tahun Baru 2014 lalu, kita juga pernah kumpul di kosan Sophia buat tukeran kado sama Melyssa, Vina, Sekar. Di situ kita semua mengungkapkan penilaian kita satu sama lain. Di situ juga kita kasih kamu birthday surprise yang salah satu fotonya sudah di-frame sama Sekar dan sudah dipajang di meja tulis kamar saya. Di situ, kamu jadi satu-satunya cowok, terus memegang kue (martabak mini aja kalau nggak salah) dan kamu mengembangkan senyum yang kelihatan gigi rapinya. Kita emang nggak pernah kumpul-kumpul lagi setelah itu, tetapi bagaimana kita mau kumpul-kumpul lagi kayak gitu kalau kamunya sakit, Faq?

Faqih, keluarga kamu sayang kamu, teman-teman juga sayang kamu. Tolong sembuh ya Faq. Jangan nggak ngenalin kita semua kayak sekarang. Jangan susah makan, jangan melihat ke langit-langit kamar terus, jangan diam aja Faq. Gerak ya Faq, ngomong, kenalin kita lagi ya Faq. Jangan tinggal di rumah sakit terus Faq. Kamu pasti bisa sembuh, semua orang membagikan semangatnya untuk kamu biar kamu lekas sembuh. 

Faqih, saya tahu, tulisan ini nggak akan dibaca sama kamu di tengah perjuangan kamu melawan sakit kamu sekarang. Tapi setidaknya, di saat kamu sembuh nanti, kamu bisa baca tulisan ini dan kamu tahu, betapa saya, dan pastinya Sekar, Melyssa, Vina, Sophia, dan juga teman-teman kamu yang lain serta keluarga kamu, begitu sayangnya sama kamu dan mau memberikan dukungannya buat kamu supaya kamu cepat pulih.

Sembuh ya Faq, kita semua berdoa buat kesembuhan kamu. Sembuh dan wujudkan cita-cita kamu kerja di Google dan cita-cita kamu yang lain. Sembuh ya Faq, FAQIH harus SEMBUH!

*doain Faqih (JIP UI 2010) ya teman-teman supaya dia lekas sembuh. Amin.

Wednesday, August 27, 2014

IND.USTRIE ID: Japanese-Indonesian at the corner of Bintaro.

Waktu-waktu buat ketemu temen deket, makan, ngobrol, dan cerita-cerita itu adalah waktu-waktu yang berharga banget buat dilewatin, setuju?

Nah, karena gue sangat amat setuju dengan pernyataan yang gue bikin sendiri di atas, makanya, hari Kamis tanggal 14 Agustus 2014 kemaren, gue sama temen-temen Random gue (Aan-Dimas) memutuskan untuk meet up di salah satu tempat makan di Bintaro.

Suasanya yang nyaman, desain interior yang menarik, dan makanan yang enak bikin kita jadi puas nyeritain apapun yang lewat di pikiran. Dari A-Z, kebahas semua! Hehe...








Nah, karena gue nulis ini bukan untuk membahas apa yang gue bahas, tetapi untuk membahas tempat gue meet up itu, makanya, silahkan disimak baik-baik ya cerita di bawah ini, apalagi kalau kalian butuh a cozy place di bilangan Bintaro.

Ind.ustrie ID. Yap! That's the name. Familiar? Tentu! Gue sempet ulas dia sekilas di postingan gue tentang Jakarta Culinary Passport 2014.

FYI, menu-menu di ind.ustrie ini ternyata menu masakan Jepang-Indonesia, kayak Udon, Ramen, dan Donburi... Variannya memang nggak terlalu banyak, tapiii, segitu aja gue udah susah milih. *loh*

Akhirnya, setelah membaca menu dari pojok kiri atas sampai pojok kanan bawah berkali-kali, gue Aan Dimas tekad menentukan pilihan makan malam kita.

1. Ind.ustrie Ramen (32) - English Breakfast Tea (15)



Tebak ini menu makan malamnya siapa? Tadaaaa, ini pilihannya Aan! Menurut Aan sih, Ramen ala Ind.ustrie ini enak dan punya ciri khas tersendiri. Menurut gue yang nyobain sesuap, kuah dari ramen Ind.ustrie ini gurih banget rasanya. Selintas mungkin mirip dengan ramen-ramen yang biasa dicoba, tapi ramen yang isinya toge, rumput laut, caisim, naruto maki dan chicken karaage ini emang tingkat kegurihannya beda. Mungkin karena bumbunya itu racikan Ind.ustrie sendiri dan bukan bumbu racikan yang lain. 





Untuk rasa tehnya, ya mungkin sama dengan rasa-rasa teh English Breakfast lainnya. Gue juga enggak icip-icip sih, so, I'm sorry, I couldn't describe it.

2. Katsu Curry Chicken (37) - Ind.ustrie Shake (30)






Beda yang dipesan Aan, beda juga yang dipesen Dimas. Kalau tadi Aan pesen menu ramen khas Ind.ustrie, Dimas pesen shake khas Ind.ustrie.

Gue sempet diberi icip-icipan Katsu Curry Chicken sama Dimas. Rasanya? Emm, nggak kalah sama Curry-Curry di restoran beken. Rasanya pas, terus Chicken Katsunya juga renyah. Nyobain sesendok jadi bikin gue nagih. Tapi sayang, Dimas lagi laper, jadi gue enggak tega buat minta lagi.



Maybe, next time gue akan pesen itu ketika gue berkunjung ke sana lagi. Hoho.

Soal minuman yang dipesen Dimas, bisa dibilang itu adalah salah satu minuman dengan racikan yang unik. Pernah denger atau minum 'tape' campur 'susu'? Kalau sudah, hmm oke. Kalau belum, hmm, kayaknya racikan ini boleh deh dicoba di sini. Unik tapi enak. Manis tapi nggak bikin enek.

Jujur sih, sebenarnya gue nggak suka sama 'tape'. Kalau Dimas, gue nggak tau juga dia suka apa enggak. Tapi, menurut gue, baik orang yang suka tape maupun nggak suka tape akan suka sama minuman ini. Bukan omongan lebay ini sih, tapi emang menurut gue kayak gitu. Wong gue yang segitu anti-nya sama tape bisa suka kok abis minum minuman pilihan Dimas ini. You wanna try?


3.Red Ramen (30) - Red Velvet (30)




Serba Red! Yeaaaayyy akhirnya sampai di pesanan akuu!


Gue pesen Red Ramen karena gue yakin, rasanya pasti pedes. Gue milih Red Velvet, karena penasaran model dan rasanya gimana.

Red Ramen yang gue jadikan makan malam ini rasanya nggak pedes-pedes amat ternyata. Tapiiii, biarpun pedesnya di luar ekspektasi, rasanya toh pas-pas aja di lidah. Masih enak buat dinikmati. Masih ngenyangin begitu sampai ke perut. Niat hati nambahin sambel dan bubuk cabe, sirna sudah setelah mencicipi rasa orisinil dari si Red Ramen ini.

Red Velvetnya agak berbeda dari biasanya. Ada campuran rasa coklatnya dan ada potongan buah strawberrynya juga. Since I don't really like minuman yang manis-manis, gue harus jujur kalau lidah gue nggak cocok dengan minuman ini. Masih kemanisan. Tapi, buat yang suka manis, mungkin minuman ini bisa gue rekomendasikan untuk dipesen... Hehe...




Selain tiga jenis makanan dan tiga jenis minuman yang gue sebutin di atas, kita juga mesen Chicken Karaage yang Super Hot (25). Makannya masih enak banget kalau lagi panas-panas. Bumbunya kerasa (terlebih yang suka rerempahan, pasti doyan), dan pedesnya oke plus cocok di lidah gue.



Untuk dessert, kita berhasil nyicipin Charlie Brownie khas Ind.ustrie ID. Enak banget! Coklatnya berasa banget di lidah, dan karena brownies yang hangat dipadu dengan es krim, jadi sensasinya enak gitu. 1 Charlie Brownie kita bagi tiga dan makannya sedikit-sedikit aja selama kita ngobrol! There's always space for dessert yaaa... :)





Fine then, ga ada salahnya banget kok mampir ke Ind.ustrie Id kalau lagi di daerah Bintaro. Dijamin ter-manja-kan lidahnya dan seleranya atas Ramen & Curry khas Jepang.


Ind.ustrie Id

Ruko Kebayoran Arcade 2 Blok B3 No 58
Bintaro, Jawa Barat, Indonesia

  • Tel: 021 2951 1772

Web: http://www.industrieid.com
Twitter: twitter.com/industrieid
Instagram: instagram.com/industrieid

Opening hours: 8.30 am - late
Ciao! See you Next Post!


Monday, June 23, 2014

Awal Mula. Air Laut. Pantai. Ombak.

Awal mula. Dua kata yang biasa bersama. Tapi ternyata katanya berbeda.
Tak soal bagi saya mana yang paling utama. Awal atau mula? Atau bahkan sepasang awal dan mula? Apa malah jangan-jangan mula dahulu baru awal, sehingga menjadi mula awal?

Cerita ini berkaitan dengan awal dan mula dalam hidup saya. Saya suka pantai. Tapi itu bukan awal maupun mula. Saya suka laut dan air laut. Tapi itu bukan awal maupun mula. Saya suka ombak. Tapi, lagi-lagi itu bukan awal maupun mula. Itu semua hanya akibat dari apa yang saya alami sebagai sebab. Sebab yang mungkin bisa jadi awal atau mula.

Bagaimana awal mula saya mencintai pantai, air laut, dan ombaknya?

Saya tidak dilahirkan di pesisir pantai. Saya tidak pula dibesarkan di atas kapal nelayan. Saya hanya tumbuh di keluarga yang sempat menjejalkan saya pemandangan pantai sejak saya duduk di kelas 6 SD. Awalnya, saya diajak ikut ke pantai Ancol. Tak lama, kami berganti hobi menjadi pengunjung setia Anyer dan Carita. Hampir satu dua kali dalam satu sampai dua bulan, saya diajak orang tua saya ke pantai. Pantai Ancol berlanjut ke Pantai Anyer dan tetangganya, Carita menjadi kunjungan favorit kami. Pernah juga ke Pantai Parang Tritis ketika saya berada di level yang sama. Kelas 6 SD. Semua dijalankan bersama keluarga. Senang rasanya.

Beranjak kuliah, sudah bisa bebas kemana-mana. Saya mulai pergi bersama teman-teman sebaya. Rencana yang tak begitu matang tapi untungnya terlaksana. Saya lihat pantai lagi. Saya lihat laut lagi. Saya dengar ombak lagi. Saya pergi ke pulau Tidung. Pulau yang paling terkenal dan dikagumi semua orang kala itu. Banyak orang berbondong-bondong dan berlomba-lomba main ke Pulau Tidung. Tak heran, airnya memang masih bersih. Bisa bebas snorkeling sampai tangan keriput.


Tidung!
Dalam perjalanan ini, saya berangkat berlima saat libur semester tiga. Kami memutuskan untuk memakai jasa travel di Jakarta karena memang tidak tau apa-apa. Puas hati ketika kami berhasil tiba di sana. Merasakan pasir pulau Tidung yang tadinya hanya kami lihat di mesin pencari Google.

Meskipun hanya dua hari satu malam kami tinggal di sana, rasanya puas tak terkira. Makan hidangan laut (seafood), tinggal di rumah warga lengkap dengan pendingin udara, disuguhkan pemandangan pulaunya yang indah, bisa snorkeling sebebas-bebasnya dan main sepeda sepuasnya. Sedap!


Selesai dari Pulau Tidung, saya coba menjelajah pantai lagi ketika naik semester enam. Kali itu ke pantai Indrayanti bersama teman-teman yang berbeda. Kebetulan kami sedang merencanakan perjalanan ke Jogjakarta satu minggu lamanya. Pantai Indrayanti-pun jadi tujuan yang tak bisa dibilang tujuan utama. Ke sana tak sengaja. Bertemu pantai yang indah luar biasa. Pasirnya putih, airnya jernih. Hampir dua jam saya bermain di sana. Memang tak berenang dan tak mengambang di atas laut itu, tetapi aktivitas bermain pasir dan air laut, merenung menunggu matahari terbenam, sambil berbicara dan tertawa dengan teman-teman bahkan sahabat, adalah sebuah harta yang tak akan mampu saya beli dimanapun juga. Meskipun semua pantai rasanya sama dan air lautnya serupa, saya tetap akan membagi cinta saya pada pantai yang berbeda-beda. Saya sudah menjadi manusia yang sangat suka mengunjungi pantai-pantai baru yang tak biasa. Apakah ini masih di tataran awal saya menyukai pantai, air laut, dan ombak? Atau sudah masuk tataran mula? Atau bahkan sudah lewat masa awal mula-nya?


Di Pantai Indrayanti
Setelah pantai Indrayanti, beberapa kali saya mengunjungi pantai Anyer-Carita lagi. Beragam teman yang menemani. Pergi sama keluarga juga masih. Tentu, kalian tak boleh heran. Duo pantai Anyer-Carita memang pantai yang paling dekat untuk disambangi. Sayang, airnya sudah tak sejernih dulu lagi ketika saya masih kecil sekali.

Puncak saya mencintai pantai, air laut, dan ombak adalah perjalanan saya yang paling terakhir sebelum saya menulis celotehan ini. Pulau Harapan di Kepulauan Seribu. Meskipun tak ada pantai di sana, saya benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama dengan keindahan lautnya. Sungguh! Jernihnya aduhai di mata. Mata saya dapat melihat apa yang ada di bawah lapisan air laut tersebut. Ketika saya menggunakan perangkat pintar saya untuk mengabadikan gambar lautnya, saya terkagum-kagum sendiri dengan hasilnya. Bukan, bukan karena saya profesional dalam menyalin pemandangan itu ke layar telepon genggam saya, tapi justru keindahan itu yang ingin sekali rasanya mengabadikan diri ke dalam kehidupan saya. Setiap saya melihat jernihnya air laut di Pulau Harapan, saya rindu sekali ingin ke sana lagi.

Pulau Harapan
Perjalanan saya ke Pulau Harapan merupakan perjalanan saya yang agak ’nekat’. Tak menggunakan jasa travel seperti dulu ke Pulau Tidung. Tak memesan penginapan apapun. Bahkan baru memutuskan untuk berangkat adalah dihitung mundur 3 jam dari jadwal keberangkatan kapal di Muara Angke. Saya tak memikirkan sama sekali akan tidur di mana. Yang jelas adalah, saat itu saya benar-benar menginginkan pemandangan pantai, air laut, dan ombak. Saya ingin istirahat sejenak sambil melepaskan beban yang melekat. Rasanya, lega.

Kenekatan saya tak berbuah kemalangan, untungnya. Di kapal, saya bertemu tiga orang yang sudah hafal denah Kepulauan Seribu. Saya dan teman saya waktu itu diajak bermalam bersama dan berlibur bersama. Jumlah kami dari berdua berubah menjadi lima. Saya di ajak melihat keindahan Pulau Dolphin yang tak kalah cantiknya ketika kami melakukan perjalanan bersama. Kami turut melihat matahari terbenam di Pulau Bulat yang tak kalah eloknya.

Pulau Dolphin
Semenjak ini, saya jadi yakin, saya tak lagi di tataran awal dan mula. Saya tak lagi di tataran awal mula. Saya tak lagi di tataran awal atau mula. Saya sudah bermetamorfosis menjadi saya yang menjadi pengagum air laut, pantai, dan ombak. Semua ternyata bermula dari perjalanan pertama saya melihat pantai yang saya lupa kapan persis tepatnya. Saya sudah menjadi orang yang bertekad untuk bisa mengelilingi pulau sebanyak yang saya mampu. Saya ingin sekali menjadi makhluk Tuhan yang beruntung dapat melihat air laut, pantai, dan ombak di berbagai daerah di dunia. Saya ingin memanjakan indra perasa saya ketika saya merendamkan tangan saya di air laut. Saya ingin memandang pantai yang lebih luas dan lebih mengagumkan lagi dengan indra penglihatan yang saya punya. Saya ingin meningkatkan sensitivitas indra pendengaran saya ketika saya menikmati deru suara ombak. Ah, tak banyak yang saya inginkan, bukan? Hanya air laut, pantai, dan ombak. Sudah.

Hari-hari esok ini, saya hanya harus mampu menjadi berani melangkahkan kaki saya demi melihat eloknya pantai, air laut, dan ombak yang dimiliki dunia, terutama di tanah Indonesia. Saya yakin saya bisa. Ya, kita semua bisa.

Jadi, mana bagian Awal Mula – Awal dan Mula – Awal atau Mula saya?


Jawabannya sederhana. Rangkaian cerita singkat ini nyatanya merupakan sang Mula yang membuat saya akhirnya menjadi pengagum sosok pantai. Di kalimat penutup ini, saya menyadari kalau Mula dan Awal akan selalu menjadi Awal dan Mula. Awalnya, saya diajak oleh keluarga saya...dan kemudian cerita berulang dari awal. Mula ini yang akan membawa saya menjadi pengagum setia air laut, pantai, dan ombak. Ya, demikian.

Monday, June 16, 2014

Jakarta Culinary Pass-Time Across The Foodniverse : Heaven for FOODIES.

Yeay! Punya teman buat jalan-jalan kulineran itu asyik banget, terlebih kalau kulinerannya ke acara beginian. Beginian? Emang acara apa? Yap! An event called Jakarta Culinary Passport was bringing me and Fanya to an exploration of food industry in Jakarta! Happy!

Me and Fanya!
Acara yang diadakan di Grand Indonesia Shopping Town, Exhibition Mall West Mall 5th Floor ini dihelat mulai tanggal 5 hingga 8 Juni 2014. Diikuti oleh 57 tenants, event ini mengambil tema Time Across The Foodniverse.

Area event dibagi ke dalam 4 area. Ada area 20's - 50's yang diisi oleh makanan-makanan berat semacam nasi campur manado, makanan khas solo, rendang, sushi dengan isi makanan padang, bakso, dan lain-lain. Kemudian, kita dapat menemukan makanan-makanan berat tapi khas luar Indonesia di area 60's - 80's. Maksud gue dengan makanan-makanan berat khas luar Indonesia ini adalah taco, quesadilla, dll. Dua area terakhir adalah area 90's - 00's (pastry, churros, french cuisine, dll) dan area future yang diisi oleh dessert, pastry, and drinks.

Tadinya, gue sama Fanya mau pergi ke acara ini pas hari pertama, yaitu hari Kamis tanggal 5 Juni 2014, tapi berhubung kita berhalangan, akhirnya kita pergi pas hari ketiga, yaitu hari Sabtu tanggal 7 Juni 2014. We started from Depok at 12.30 pm and arrived at TransJakarta -TOSARI Station at 1.45 pm. Turun dari TransJakarta, kita langsung semangat berjalan kaki ke dalam Grand Indonesia. Maklum, perut udah nggak tahan euy, laper!

Sampai di Jakarta Culinary Passport, kita harus beli tiket masuk dulu (IDR 10). Tangan dicap dulu biar kece dan setelah semuanya selesai, kita siap menjelajah segala jenis makanan dari masa ke masa!!!


Ini tangan pegangan sama Fanya bukan sama...*lupakan...
Ramainya Jakarta Culinary Passport!
Let's check the review!!!

1. Belle et Petite

Macarons berlabel Belle et Petite ini sudah cukup terkenal sebenarnya di Instagram. Why did I say that? Karena, followersnya sudah mencapai 10 ribu lebih. Foto-foto yang ditampilkan di Instagram mereka memang menggoda dan lovely banget sih. Jadi mupeng banget kalau abis liat foto-fotonya. 

Jejeran macarons yang seolah berkata, "eat me, eat me more!" :)
Booth Belle et Petite
Gue sendiri udah lama follow Instagram mereka dan hanya bisa menikmati gambar-gambarnya aja tanpa pernah nyicipin rasa macarons-nya. Entah, gue emang agak nggak biasa aja untuk delivery kue-kue cantik begitu. Soalnya, berat di delivery charge-nya cyiiin. Hehe.

Bersyukur banget ketika tahu Belle et Petite mau buka di event Jakarta Culinary Passport ini. Akhirnya bisa nyobain macarons warna-warni ini tanpa perlu menunggu-nunggu untuk diantarkan ke rumah! Hmm, tinggal pilih warna dan rasanya, bungkus, makan, terus kenyang deh!

Harga macarons ini IDR 12/pc. Kalau beli 6 pcs jadi IDR 70, dan kalau beli 12 pcs jadi IDR 130. Kalau beli dikit rugi, beli kebanyakan sayang nggak ada yang makan. Akhirnya gue memutuskan untuk beli yang 6pcs aja. Berbagai rasa yang gue pilih adalah Burger, Cookies and Cream, Ovomaltine, Red Velvet, Nutella, and Green Tea. Sebelum milih-milih, gue nyoba tester-nya juga loh! Gue nyobain Milo yang akhirnya nggak masuk daftar pilihan.


Cookies and Cream, Green Tea, OvoMaltine, Rose, Nutella, Burger
Soal rasa, gue bahas satu-satu ya:

1. Burger
Macarons rasa ini enak. Manis. Dan ada keju di dalamnya, jadi gue nggak bisa bilang ini nggak enak. Selama ada keju, everything will be good for me. Haha.
Yang gue suka dari macarons Belle et Petite ini adalah teksturnya yang padat dan kalau dipegang pun akan terasa sedikit berat (untuk ukuran macarons yaaa). Nggak kayak macarons kebanyakan yang biasanya berasa super ringan gitu tengahnya. 

2. Cookies and Cream
Cookies and cream
Yang ini manis bangeeeett euy. Untungnya, karena gue makannya bagi dua sama Fanya, jadi nggak sempet ngerasa enek sama manisnya macarons ini. Gue nggak begitu cinta rasa manis, sih, jadi takutnya bakalan enek kalau harus makan macarons ini sebiji penuh. Rasa macarons yang ini cocok sekali buat yang suka makanan manis. Luarnya manis, dalamnya manis, dan krimnya pun manis! Soooo sweet!

3. Ovomaltine
Karena pada dasarnya Ovomaltine aja udah enak, macarons berwarna oranye terang ini jadinya ikutan enak di mulut. Coklatnya terasa daaannnn I can't say no more. Just keep biting and eating. This macarons was just too sweet! Hehe. Kalau makan yang ini, nggak akan enek meskipun manis. Karena sukaaa....

4. Red Velvet
This kind of macarons was also sweet. Gue suka macarons, tapi gue nggak suka kalau terlalu manis. Aneh ya? Haha, makanya harus ada unsur keju di dalamnya, baru deh gue nggak akan enek-enek. Di dalam Red Velvet ini gue nggak terlalu merasakan unsur kejunya. Entahlah, emang krim kejunya ada atau malah enggak ada. But, for me, it doesn't matter. Buktinya, satu biji habis aja masuk ke perut. Hahaha.
*Lupakan kebencian terhadap makanan terlalu manis sejenak.*

5. Nutella
Macarons + Nutella : Perfect Combination!
Nutella itu emang diapain aja enak. I never buy a jar of this Nutella jam but, every kind of dessert that is made with Nutella is just tooooo good to be bitten! Gue nggak akan pernah benci dan nggak suka sama Nutella. Chocolate mix with taste of Nut is a perfect match... I love this macarons so much!

6. Green Tea
Kalau Green Tea ini (lagi-lagi) terlalu manis buat gue. Sensasi Green Tea-nya memang terasa banget and Fanya loves that! Ini macarons yang dia suka baik pas nyoba di tester maupun pas bagi dua sama gue. Warna hijaunya mentereng asik gitu dan pas digigit rasanya manis kayak makan permen green tea.


Setiap macarons memang punya rasa manis dan ciri manisnya tersendiri. Tapi, yang paling recommended dari Belle et Petite, menurut gue memang adalah Nutella-nya dan menurut Fanya adalah Green Tea-nya.

Belle et Petite juga menyediakan rasa lain seperti Rose, Lemon, Blueberry, Milo, and many more. So, if you want to have this pleasurable experience, just give a contact to them.

Here they are the contacts!
Belle et Petite
Phone : 0878 7694 0331
Instagram : @belleetpetite
Email : belleetpetite@hotmail.com

2. Creamy Comfort

Sama kasusnya seperti Belle et Petite, akun Instagram Creamy Comfort juga udah lama banget gue follow. Tapi, sedihnya gue, nggak ada satupun produk Creamy Comfort yang gue coba atau cicipi *kode minta gratisan* hehe. Semua produknya cuma gue liat dari foto-fotonya yang bagus, yang well-captured, and,,,tempting.



Booth Creamy Comfort!
Sama bersyukurnya kayak liat Belle et Petite, gue juga akhirnya bersyukur bisa berkesempatan mampir ke booth Creamy Comfort, even this creamy-mousse-seller udah sering buka booth dimana-mana.

Kemarin ada sekitar 8 rasa yang ditawarkan oleh Creamy Comfort dan setelah dijelaskan secara singkat oleh staff-nya, gue dengan cepat memilih Strawberry Champagne karena gue suka strawberry dan strawberry juga suka gue. Jadi kita jodoh. Hehe. Nggak deng. Gue penasaran aja, kata staffnya, Strawberry Champagne ini adalah produk terbaru dan boleh banget buat gue coba (beli ya tapi beli, satuannya IDR 30...:p)

This Strawberry Champagne is the greatest & sweetest romance. This dessert is inspired from the simple but delicious cocktail. Fantastic sweet and tangy strawberry notes with a refreshing delightful champagne finish (paragraph was taken from its catalogue).

Jadi, di bagian paling atas dessert ini, ada creamy-mousse yang ditemani oleh potongan buah strawberry cantik, kemudian ada cairan sedikit (mungkin gue makannya setelah 3 jam tidak masuk kulkas, makanya ada yang encer). Bagian lapisan mousse-nya sendiri itu (kalau boleh dibilang) super lembut, creamy, dan enak. Sayang aja ukurannya kecil, jadinya nggak puas nikmatin mousse-nya, padahal enak gitu. Bagian paling bawah kita bisa menemukan lapisan brownies/serpihan kue coklat yang pas banget rasa coklatnya. Nggak manis. Nggak pahit. Yummy! *cara nikmatin ini yang paling pas: sendok sampai lapisan paling bawah biar semua campuran lapisannya bisa masuk mulut dan perpaduannya bisa dirasakan dengan baik.


Strawberry Champagne!
Aku mau lagi dong makan Creamy Comfort. Nggak ada yang mau beliin banget? *minta* 

Selain Strawberry Champagne, gue juga agak ngiler kalau lihat rasa lain yang terpampang di katalog Creamy Comfort, seperti Banoffee (Tasty, buttery digestive biscuit crust, stogged full of lucious toffee and sliced bananas, slathered with a rich topping of lightly sweetened double cream), kemudian ada Cookies and Cream (A creamy-mousse-like-pie filled with loads of oreo cookies and cream. Especially made for oreo lovers and those who wished for a black russian pie without all the alcohol), dan terakhir adalah yang ini --> Mudslide (Frosty Baileys-induced-mousse like pie on a nutty graham cracker crust. Perfect for those with a craving for irish creme).

*RASA-RASA YANG GUE SEBUTIN pengen gue cobain suatu saat nanti* :'')

Kalau mau pesan regular, bukan di bazaar-bazaar kayak gini, mereka menyediakan beberapa pilihan:


The Comfort Box (6 pcs for IDR 165 and 12 pcs for IDR 300) 
The Comfort Jar (12 pcs for IDR 420)
The Comfort Basket (16 pcs for IDR 560 and 30 pcs for IDR 900)

Kalau yang box, Creamy-Mousse (I have no idea how to call this kind of dessert)-nya diletakkan di dalam cup plastik gitu.

Kalau yang jar, ya di dalam jar (toples kaca gitu). Banyaknya juga beda, lebih banyak yang wadahnya menggunakan jar.
Ada juga pilihan untuk menikmati creamy-mousse-nya dari dalam gelas kaca gitu tapi lebih mini-mini ukurannya. Hmm, hmm...

Wanna order some? Contact them!


Phone/ WhatsApp : 0816 186 8060 // 021 582 7659
Email : creamycomfort@gmail.com

Wanna kepo? Check this account!


Twitter : @creamycomfort
Instagram : @creamycomfort

Delivery charges : IDR 40 - 80

3. Elevate Juicery


100% Cold Pressed
Raw & Mostly Organic

Lewatin booth ini sih rasanya seger banget. Gimana nggak, mereka menawarkan minuman-minuman segar yang terbuat dari buah dan sayuran. Warna-warnanya sih menarik gitu, fresh liatnya.

Elevate Juicery serves 100% cold pressed juice with no additional sugar, water, or preservatives and they are unpasteurized. Mereka juga sediain kue-kue yang dibuat tanpa telur dan susu. Egg and dairy free! Just for VEGAN nih menu-menunya.



Elevate Juicery
Ada beberapa varian minuman yang ditawarkan oleh Elevate Juicery dan di booth ini kita bebas buat nyobain dulu rasa dari masing-masing minuman. I tried the Green One and Green Two, but Fanya decided to have the Green Two. Gue sih minta nyobain aja dari si Fanya, hehe.

Rasanya itu kalau yang Green One katanya kuat banget. Gue sih pas nyobain, biasa aja. Emang sih, rasanya beda banget sama jus-jus buah kebanyakan. Maksudnya kuat mungkin karena "sayuran" banget kali ya rasanya. Tapi emang iya sih, sayuran banget. Nggak terlalu manis juga rasanya. Cuma, karena dinikmati selagi dingin, jadi bawaannya nggak begitu aneh, soalnya seger-seger aja. Selain Green One, rasa varian lain katanya lebih smooth, karena ada campuran-campuran bahan lain yang (mungkin) lebih bersahabat juga rasanya.


Semua jus yang ditawarkan oleh Elevate berukuran 330 ml dengan harga IDR 50/each.


Colorful and Healthy!
If you're curious with the ingredients, here they are! Beberapa aja ya yang gue tampilkan di sini, kalau semuanya, banyak! Hehe


Green One (yang gue cobain dan yang Fanya pengen beli sebenarnya)
celery, spinach, romaine, lemon, apple
Green Two (yang Fanya akhirnya beli karena gue agak takut dengan rasa Green One, meskipun pas nyoba biasa aja)
bok choy, green beans, cucumber, lemon, apple
Root (kelihatannya lebih bersahabat rasanya)
beet, carrot, pineapple, lemon, ginger, pear
Pink Milk (kelihatannya paling enak dan segar)
root, almond milk, agave nectar


Menu and Price List and Green Two!
Selain minuman, tadi gue juga sempat singgung soal kue-kue Elevate. Kue-kue ini dibuat dan amat cocok untuk mereka yang vegetarian. Elevate Bakery are priced start from IDR 10 - IDR 150. Sempet nyobain tester banana breadnya dan agak gak sesuai rasanya sama gue. Gak cocok. Nggak manis dan terkesan hambar. Kue-kuenya lebih cocok buat yang diet dan yang menghindari gula, serta yang hidupnya mau selalu sehat. Kalau gue kaan...sehat mau, tapi makanannya nggak mau dijaga :(




Kalau penasaran dengan jusnya yang super sehat dan segar, bisa hubungi:


Twitter : @elevatejuicery
Instagram : @elevate juicery




Email : elevate.juicery@gmail.com

4. Burgreens

Looking for an healthy burger? Nah, this is what you want!

Sebenarnya, nama burgreens udah cukup lama terdengar di dunia kuliner lucu Jakarta. Gue kebetulan juga kenal sama salah satu orang di balik usaha Burgreens ini, jadi makin familiar deh.


Suasana BurGreens!
Gue udah sempat menemukan burgreens di Pop Up Market sama di Market & Museum, tapi belum pernah nyobain sama sekali. Akhirnya, gue memutuskan untuk nyobain ini di acara Jakarta Culinary Passport kemarin.

Burger di burgreens ini memiliki satu ciri khas: SEHAT. Dibuatnya dari bahan-bahan non-daging dan gue rasa (lagi-lagi) cocok untuk yang vegetarian atau mau hidup sehat.



How to make it...
Menu yang ditawarkan di sini nggak se-beragam kalau kita Dine-In langsung di outlet Burgreens, Rempoa. 

Salah satu yang ditawarkan dan yang gue pesen adalah Mini Trio (three mini burgreens --mereka menggunakan istilah burgreens untuk burger yang mereka buat-- which consist of Mighty Mushroom, Battle Beans, and Spinach Chickpeas).



Mini Trio Burgreens
Waduh, jenis apaan aja tuh?
Ini nih detil bahan-bahan baku di setiap jenis burgreens-nya:

Mighty Mushroom : Mushrooms, Oat, All-Natural Parmesan Cheese
Battle Beans : Red Beans, Black Beans, Chick Peas, All-Natural Parmesan Cheese
Spinach Chickpeas : Spinach, Chickpeas

Look!
Karena gue pesen Mini Trio, jadi gue bisa cobain semua rasa di atas. Masing-masing rasa di atas sebenarnya juga bisa dipesan satuan dengan ukuran lebih besar. Tapi, kalau seperti itu, kan jadinya nggak bisa nyobain semuanya. Hehe.

Dari ketiga rasa yang gue makan, menurut gue itu yang paling the best dan paling enak adalah yang ada Oat dan rasa keju-nya. Jadi, gue berasumsi kalau itu (mungkin) adalah jenis Mighty Mushroom.

Dua mini burgreens lainnya tak terdeteksi dengan pasti varian apa saja. Yang satu kurang cocok rasanya sama lidah gue (mungkin ini Spinach Chickpeas). Yang satu lagi cocok banget karena terasa kejunya (mungkin ini Battle Beans).





Kalau dine-in, customer dijamin akan kewalahan dalam mengambil keputusan menu apa yang akan dipesan. Menunya cukup banyak dan beragam. Ada salad, soup, steak, spaghetti. Semuanya dari bahan-bahan yang tidak mengandung daging. Selain itu, kalau burgreens alias burger sehat ini yang menjadi pesanan kita, kita bisa customize sendiri burgreens kita, mulai dari memilih Bun-nya (Whole Wheat, Burgreens Bun, Gluten-Free), sausnya (Light Garlic Sauce, Tofu Spread, Avocado), patty, etc.


Beberapa menu lain BURGREENS!
BURGREENS juga menyediakan smoothies, BreakFast, Healthy Spreads, and Frozen Food. Mudah-mudahan sehat terus deh kalau dekat-dekat BURGREENS. Sepertinyaaa. Hehe :D

Delivery
Tuesday - Sunday 9.30 - 20.30
08788 200 5070
Burgreens.com

Dine - In
Tuesday - Friday 10.30 - 21.30
Saturday - Sunday 10.30 - 22.30
At Songolas
Jl. Flamboyan No. 19, Rempoa
Jakarta Selatan

Instagram : BURGREENS
Facebook : BURGREENS
Twitter : @BURGREENS_

I taste so Naughty but am actually healthy
organic healthy eatery, delivery & health food store
(BURGREENS)

5. Rica Roa


Rica Roa ini menyediakan sambal-sambal khas Manado. Ada berbagai varian kepedasan yang disediakan, tapi semuanya dibuat dari Ikan Roa. 

Waktu Fanya nyobain sambalnya plus nasi campur khas Manado yang dijual di booth ini (IDR 30), dia sampe hampir nangis dan meler-meler saking pedesnya. Katanya sih, sambalnya nampol abis. Gue sendiri cuma cobain sesendok nasi + sayur daun pepaya + ikan cakalang + sambal yang katanya pedas itu. Enak kok.


Paketan Nasi yang dipesan Fanya.
Mungkin karena gue dalam kondisi kelaperan juga kali ya, jadi nasinya yang anget ditambah lauknya yang berbumbu dan enak, serta sambalnya yang pedas berhasil bikin gue menilai makanan ini enak. Eits, tapi sebentar dulu, nasi + lauknya sih enak, tapi rasanya belum terlalu 'Manado' kalau menurut Fanya. Menurut gue sendiri -yang baru mencoba makanan Manado beberapa kali- makanan ini cukup mewakili citarasa Manado, tapi emang agak berbeda dengan yang pernah gue makan sih. Lebih asin sedikit, but I still love it!


Sambal roanya sih mantep! Makan pakai nasi hangat kayaknya seru. Sayang, kemaren gue nggak beli soalnya udah terlalu banyak jajannya. Nanti aja mungkin gue akan pesen online kalau emang lagi pengen. Buat kalian yang mau nyobain si sambal roa ini lebih dulu daripada gue, yuk silahkan:

Available at:
Pasar Organik Jakarta,
Jalan Sunda, Thamrin, Jakarta (Every Sunday)

Jestmart,
Jalan P. Batam No.68, Teuku Umar, Denpasar Barat, Bali

0857 1141 5134
Instagram : RICAROA_ID
Twitter : RICAROA_ID
BBM : 754A8992

6. INDUSTRIEID

Di INDUSTRIEID, gue cuma memesan seporsi Chicken Popcorn (IDR 30) karena kelihatannya enak. Dan bener enak ternyata. Chicken Popcorn ini didampingi sama mayonnaise dan irisan tipis kol merah (seems like that).


Chicken PopCorn!
Sebenarnya, selain si Chick Popcorn yang gue pesan ini, INDUSTRIEID juga menyediakan wonton, brownies, dan nasi loco. Terlepas dari rasanya, menurut gue tekstur dari Chicken Popcorn ini masih kurang lembut dan kurang crunchy. Bisa dimaklumi, mungkin karena pas gue beli, chicken popcornnya bukan yang baru digoreng. Tapi, gue nggak tau juga kalau Chicken Popcorn-nya bener-bener baru diangkat dari penggorengan, rasanya kayak gimana. 

Mungkin, next time, gue akan berkunjung ke gerainya langsung. Soalnya, pas gue buka webnya juga, ternyata menu INDUSTRIEID jauh lebih beragam dari yang dijualin di Jakarta Culinary Passport kemarin. Hmm, see yaaa!!!



Delivery : 021 - 2951 1772
Email : industrie.id@gmail.com
Kebayoran Arcade 2 Blok B3 No.58 Sektor 7
Bintaro, Tangerang Selatan, Indonesia
Twitter, Facebook, Instagram : @INDUSTRIEID


7. Churros La Fonda

La Fonda!
First time gue mengenal makanan asal Spanyol ini adalah ketika di kampus gue ada bazaar, terus salah satu pengisi stand-nya jualan Churros. Boleh dibilang, gue jatuh cinta pada gigitan pertama. Hehe.


How their booth looks.
Jadi Churros ini dikenal juga dengan istilah donat spanyol. Bentuknya bukan seperti donat yang bulat, tapi justru panjang dan menyerupai belimbing ramping gitu potongannya (lihat saja nanti di gambar ya) hehe.


Voila! Ini dia yang namanya Churros!
Kenapa gue bisa jatuh cinta sama churros ini, soalnya ini enak. Churros ini enak soalnya setelah digoreng, donat ini ditaburin gula. Biasanya pakai gula pasir, tapi ada juga yang pakai gula halus. Atau, selain gula bisa ditaburi juga bubuk cinnamon. Setelah ditaburi bubuk-bubuk ini, kita bisa mencelupkan churros ini ke berbagai pilihan rasa saus (dark chocolate, chocolate, white chocolate, blueberry, strawberry) tergantung dari tempat jualnya.

Nah, kalau di La Fonda sendiri, pilihan sausnya cukup banyak dan harganya terbilang ga terlalu mahal dibandingkan churros di tempat lain. Kita bisa menikmati 10 stick churros dengan taburan gula pasir dan kayu manis (IDR 25) dan kita bisa memilih satu dip (saus pendampingnya) dari berbagai rasa yang ditawarkan dengan menambahkan IDR 5.

Untuk rasa sausnya sendiri terbilang enak, waktu itu Fanya dan gue coba yang rasa blueberry. Ga terlalu asam dan ga terlalu manis. Tapi terasa blueberry.

Kalau untuk churrosnya, cukup garing. Jadi dimakan selagi hangat dan garing itu enak. Cuma kalau udah nggak hangat, jadi nggak enak dan nggak garing lagi. Kurangnya sih satu, ukurannya kecil, jadinya nggak terlalu terasa lembutnya bagian dalam churros, karena hampir satu stick itu garing. Tapi nggak segaring kerupuk sih. Hehe.

Sayangnya, gue belum menemukan contact maupun offline outlet mereka. Pas di sana minta brosur pun belum ada. Padahal churros ini punya harga terjangkau buat makan ramai-ramai dan pilihan dip-nya banyak. Pasti pada nyariin jugaaa, hehe.

Hmmm.. Next, gue gali-gali lagi kali ya infonyaaa...

I WANT CHURROS!
8. KELASI ID

Terakhir, KELASI. Kelasi ini singkatan dari Kelapa Isi. Kelasi ini menyuguhkan es krim kopyor/kelapa gitu di dalam batok kelapa yang udah diserut dan serutannya ada juga di dalam batok kelapanya. Intinya, menikmati es krim kelapa plus serutan daging buah kelapa asli :D. Selain serutan daging buah kelapanya aja, Kelasi juga MUTLAK hukunya ditemani oleh ketan hitam dan peanuts dalam penyajiannya.

Pertama kali gue makan kelasi itu pas di Pop Up Market (sayangnya, ga nulis reviewnya). Kemudian, ketemu lagi di acara ini dan gue rekomendasiin ke Fanya buat nyobain. Dia juga udah tertarik juga sih sebelum gue hasut-hasut. Jadi, dia langsung ngantri dan beli yang paket es krim Coco Cruise-Set (IDR 25). Ini merupakan gabungan dari Coco Boat Set (yang cuma ditemani peanuts and sticky rice, kemudian biasanya dijual senilai IDR 20) plus free additional topping sebanyak maksimal dua jenis (aslinya IDR 4/pc). 


Yeay! With Strawberry topping...
Boleh buat dicoba karena ini unik. Makan es krim kelapa di batok kelapa, kreatif. :D

enquiry.coconutice@gmail.com
Phone : 0815 1053 6036
Instagram : kelasi_id
Twitter : kelasi_id



Selain ke-8 booth di atas, masih banyak booth makanan kece yang bisa dijadikan alternatif jajanan! Ada Addict Tea, Coklat O Yeah, Spiky Smooth, The Lab, Mommilk, The Cluster Couple & Co., PASSIONNEE, Dapur Solo, Rendang Onde Monday, Sate Blasteran, Karokun Yakitori (one who had a super long queue), and many more!!!

Semuanya bisa ditemukan di media sosial maupun ada beberapa yang punya offline outlet-nya.

And for my last word,


BIG THANKS TO JAKARTA CULINARY PASSPORT :D