Showing posts with label PMKAJ US. Show all posts
Showing posts with label PMKAJ US. Show all posts

Wednesday, November 5, 2014

Wisma SY: Tua namun Teduh. Luas namun Hangat.

5 November 2014.

Sudah 25 tahun umurnya sekarang. Semakin dewasa dan semakin matang.

Namanya Wisma Sahabat Yesus. Orang kebanyakan memanggilnya Wisma SY atau hanya sekadar SY saja.

Empat tahun yang lalu saya berkenalan dengannya. Bermula dari acara Sehari Bersama KMK yang diadakan oleh Keluarga Mahasiswa Katolik Universitas Indonesia, saya menjejakkan kaki ke tempat yang akhirnya menjadi rumah kedua saya. Bahkan, kosan-pun akhirnya menjadi rumah ketiga saya. 

Kesejukkan, keramahan, dan keteduhan yang saya dapatkan. Tidak, jangan salah sangka. Saya tidak bermaksud melambungkan rumah tua nan luas itu. Saya memang beruntung karena berkesempatan mengecap berbagai macam pelajaran di dalamnya. Ditemani keteduhan dan keramahan orang-orang di dalamnya, saya menyerap ilmu yang tak akan pernah saya dapatkan di bangku kuliah.

Tak hanya manusia berkaki dua yang memiliki motto. Bangunan tak bergerak ini juga punya. Katanya, "There are no strangers here, only friends who haven't met". "Tiada orang asing di sini, hanya teman-teman yang belum saling bertemu." Ah, jadi ingin bersenandung rasanya.

Motto itu memang menjadi dasar pertemuan orang-orang yang singgah bahkan bermain dan menetap di dalamnya. Tatapan pertama saya dengan orang-orang yang ada di sana memang asing. Beberapa menit kemudian, sapaan dan teguran pun diluncurkan pada saya, sehingga saya tak lagi merasa asing. Saya nyaman dan terkesan.

Seiring dengan masa-masa perkuliahan yang semakin lama saya jalani, Wisma ini menjadi sahabat baru bagi saya. Menjelang lulus, wajah Wisma-pun kian berubah. Semakin banyak pihak yang sayang dan peduli terhadap keberlangsungan hidupnya. Ia dipoles, dipercantik, dan akhirnya menjadi semakin ramah kepada para penyayangnya.

Tak elok rasanya jika hanya berkata-kata, mari saya tunjukkan wujud rumah ini bagi kalian. Gambar yang akan kalian lihat adalah penampakkan Wisma yang saya abadikan bulan Juni lalu.

1. Halaman depan Wisma


Lahan yang biasanya dijadikan tempat parkir. Langkah pertama disapa oleh pohon-pohon rindang dan angin sepoi-sepoi


Lihat lelaki itu? Namanya Pramono atau Mas Pram. Di hadapannya ada Rooney, anjing lucu keturunan pitbull dengan wajah yang memelas. Kawannya banyak. Ada anjing-anjing lain, Borgo, Verita, Stella, dan Kepo.
2. Sekretariat Wisma SY

Ruangan ini tempat pertama kali saya ikut-ikutan rapat kepanitiaan. Kepanitiaan pertama kala itu yang saya ikuti adalah Porseni PMKAJ Unit Selatan. PMKAJ sendiri singkatan dari Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta. Mungkin kalian yang suka baca post saya sebelumnya, pasti sudah paham akan PMKAJ US itu sendiri.

Tempatnya kecil, namun cukup untuk rapat dan berkumpul. Menginap dan sekedar diskusi pun bisa dilakukan di ruangan ini. Tadinya, ruangan ini penuh barang-barang. Kepedulian (dan himbauan Romo Moderator)-lah yang akhirnya menggiring mahasiswa-mahasiswa untuk sama-sama merapikan, sehingga jadi tampak cantik seperti sekarang.

Tadinya tidak serapih ini. Sekarang sudah jauh lebih menyenangkan untuk disinggahi dan digunakan.
3. Perpustakaan Wisma SY

Tempat membaca. Tempat bertemu kawan. Tempat mengobrol panjang lebar. Tempat menumpang mengisi baterai telepon genggam ataupun komputer jinjing. Tempat menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan. Tempat beraneka ragam buku dan majalah disusun rapi, disediakan bagi para muda-mudi yang haus pengetahuan. Inilah perpustakaan Wisma SY. Tempat di mana ranah intelektual bertumbuh dan berkembang. Inilah bagian intellectual formation Wisma SY.

Lihat pintu abu-abu di sebelah kanan itu? Di dalamnya masih terdapat aneka buku yang dapat kita baca...
4. Aula Atas Wisma SY

Tempat yang digunakan (juga) untuk rapat, misa, atau bahkan penyelenggaraan suatu acara KMK-KMK. Siapa yang tak kenal dia, si Aula Atas dengan berbagai jendela yang menyerap angin bebas? 


Lihat luasnya?
5. Pendopo Wisma SY

Bisa dibilang, tempat ini merupakan primadonanya Wisma SY. Berbagai acara besar, termasuk misa bersama pasti diadakan di tempat ini. Tempat ngobrol, latihan, rapat, kaderisasi, semua pasti dilakukan di sini. Ah, betapa banyak cerita yang kau simpan, Pendopo?

Luas dan terbuka menjadi alasan bagi setiap orang nyaman di sini. Angin dapat dihirup sebanyak-banyaknya. Hawa sejuk diciptakan oleh pepohonan disekitarnya. Bagaimana bisa tak teduh?

Pendopo menjadi bagian 'Friendship Formation' di Wisma SY.


Arah menuju pendopo. Lelaki yang duduk itu (meskipun gambar sedikit gelap) adalah Mas Henk Tay. Ia juga merupakan seorang yang amat sangat peduli dengan keberlangsungan Wisma SY ini...
Ternyata benar, rimbun tak selamanya seram kan? Wisma ini begitu bersahabat, hey kalian...

Inilah pendopo yang sedari tadi saya gaungkan... Wajah baru pendopo yang dibuat lebih ciamik lagi.
6. Barak Wisma SY

Kelelahan di Wisma SY dan ingin menginap? Barak ini pun disediakan sebagai jawaban (fasilitas) bagi mahasiswa. Barak ini terdapat persis di belakang pendopo Wisma SY.

Mereka yang tak bisa pulang ke rumah atau kosan, dapat menginap di barak (jika mau) dan akan merasakan udara malam Depok yang sejuk (tidak dingin dan tidak panas). Tempat tidur bertingkat disediakan sebagai tempat merebah diri. Kadang, seprai tak akan dipasangkan. Jadi, kita harus melayani diri sendiri. Ingat, orang mandiri adalah orang yang dapat melayani dirinya sendiri. Mau seprai, pasang sendiri dan setelah itu dicuci sendiri. Kebersihanpun harus dijaga sebagai bentuk rasa sayang terhadap Wisma SY.


Barak Wisma SY
7. Ruang Diskusi

Ruangan kecil yang terletak di dekat barak dan pendopo ini cukup memiliki fungsi yang beragam. Fungsi utamanya tentu menjadi ruangan tempat berdiskusi, sama seperti nama yang disematkan padanya. Berbagai fungsi lainnya adalah: tempat perkuliahan dan tempat konsumsi dihidangkan jika ada acara di Wisma SY.

Wangi-wangi makanan pasti sudah sering lalu lalang di ruangan ini. Begitupun dengan ilmu-ilmu keagamaan yang diajarkan dosen ke mahasiswa kelas Agama Katolik.



8. Kapel Wisma SY

Beralih ke ranah 'Spiritual Formation' (ingat ada dua ranah lainnya yang sudah disebutkan), Kapel ini menjadi tempat pribadi kita menghadap Tuhan. Meditasi pagi, Misa pagi, ataupun berdoa pribadi, dapat dilakukan di tempat ini ataupun di Gua Maria.

Lagi-lagi, tempat ini pun sudah dipoles dan diperbaharui. Tadinya tidak secantik sekarang.



9. Gua Maria Bunda Perdamaian

Masih di ranah  'Spiritual Formation' yang diusung Wisma SY, tempat ini adalah tempat pribadi kita memanjatkan doa pada Bunda Maria. Bertempat di area belakang Wisma SY, tempat ini dijauhkan dari suasana ramai yang berada di bagian tengah.

Pribadi-pribadi yang ingin berdoa tentunya dapat mendapatkan keheningan yang diperlukan untuk berkomunikasi personal dengan Bunda Maria.





10. Balai Bengong dan Area Belakang Wisma SY

Area ini dapat dimanfaatkan sebagai tempat mengadakan acara yang berkonsep 'Outdoor'. Dengan kemauan dan kepedulian untuk membuat area ini lebih cantik, dipastikan Garden Party yang menarik akan dapat dilaksanakan di area ini.



11. Pastoran

Mundur sedikit dari area belakang ke depan, pastoran ini biasanya dijadikan tempat berkumpul jika tamu-tamu Wisma SY sedang ramai berkunjung. Romo Moderator akan senantiasa menyantap makan pagi, siang, dan malamnya di sini sambil menonton televisi atau berbincang dengan para tamunya. Sofa dan kulkas menjadi pengisi ruangan ini. 

Pastoran ini berdampingan dengan Kapel Wisma SY, meskipun pintu penghubungnya sudah ditiadakan, sehingga tak lagi ada akses langsung ke Kapel dari Pastoran. 

Dua kamar tidur dilengkapi dua kamar kecil juga menjadi salah satu fasilitas yang disediakan Wisma SY jika ada tamu penting yang menginap. Beberapa kali saya juga pernah merasakan tinggal di kamar ini karena berbagai hal. Nyaman. Ajaibnya, saya selalu nyenyak tidur di sini dan selalu terbangun tepat waktu tanpa terlambat (jika ingin bepergian di pagi hari).





12. OFFICE ROMO

Tempat berjumpa romo moderator. Tempat meminta tanda tangan, menumpang menonton TV, dan tempat menjarah makanan simpanan romo moderator. Aaaah, terlalu banyak kenangan di sini. Dari curhat hingga melontarkan tawa canda.

13. Parkiran dan Toilet Wisma SY

Menempatkan motor. Membuang air kecil. Kedua tempat inilah jawabannya. Dibuat sedemikian bagus melalui proses renovasi kemarin. 


Motor dijejerkan di sini. Kunci ganda adalah hukum wajib. Demi keamanan dan kenyamanan bersama.

Toilet. Rapih. Bersih. Tinggal dijaga oleh pemakainya. Tak asal meninggalkan kotoran ataupun jejak kaki di daerah sini.

Gambar dan kata di atas apakah sudah jadi seragam dan searah sekarang? Pantaskah saya menyebutnya rumah kedua saya jika yang ditawarkan dan disediakan begitu banyak? Percayakah kalian, di umurnya yang baru, semakin ia akan merangkul kita yang belum mengenalnya?

25 tahun umurnya. Penampakannya dulu tak sebaik dan seindah sekarang. Tapi itulah proses yang dilaluinya sedemikian rupa. 

Romo Markus Yumartana, SJ adalah sosok yang ada dibalik semua perubahan wajah Wisma SY ini menjadi lebih cantik. Tentunya dengan dukungan berbagai pihak dan kalangan yang peduli terhadap Wisma SY. Terima kasih Romo, berkat jasa-jasanya membuat Wisma SY hingga seperti sekarang. Terima kasih telah menjadi kepala keluarga di rumah ini, tempat kedua setelah kampus, di mana saya banyak belajar dan mendapatkan banyak hal serta cerita.

Wajah dan umur barunya tentu tak mampu menutupi pengalaman, cerita, dan kisah hidup yang disimpan dalam memori yang tak terhingga. Tentunya banyak proses pendewasaan yang sudah dilalui oleh Wisma SY, hingga tak sedikit orang-orang berhasil yang berguru di dalam raganya. 

Sarana dan prasarana sudah disediakan. Tinggal siapa yang akan menggunakan dan tentunya merawat. Masihkah kita akan melihat Wisma yang seramah, seindah, dan sebaik ini di tahun mendatang? Di umurnya yang ke-30 nanti, ke-35, bahkan ke-50? Wisma tak akan seramah, seindah, dan sebaik ini lagi jika para penyayangnya tak sayang. Jika tak ada orang lagi yang peduli dan memperhatikan. Siapa lantas para penyayang itu? Entahlah, tapi pasti penyayang itu adalah mereka yang pernah dibangun olehnya dan diajak berpelukan dengannya.

Selamat ulang tahun ke-25 wahai sahabatku, Wisma Sahabat Yesus. Sudah sampai di umur perak, perjalananmu kini. Semoga cerita yang kau simpan, keramahan yang kau tawarkan, serta kesejukan yang kau sediakan akan selalu ada di setiap saat ku bertandang.




Thursday, May 8, 2014

Milan Pizzeria Café: When Pizza Meets your Tummy Deliciously.

Pizza...
Italian Bread...
Smoked Sausage Barbeque...

Emm, I finally found them all at the new café in Depok.

Milan Pizzeria Café.


Sekitar dua minggu lalu, gue dikasih tau temen gue kalo ada kafe baru di Depok yang cukup enak makanan maupun tempatnya. Letaknya nggak jauh juga ternyata dari Wisma SY. Kebetulan banget kan, gue kalo ke Depok pasti ke Wisma, jadi pasti bisa iseng-iseng nyobain. Cuma belom tau aja kapannya.

Eh, pas banget ketika kemaren ini gue ke Wisma dalam kondisi belum makan, gue diajakkin sama yang lain buat nyobain ini kafe. Jadi sumringah-lah gue. Penasaran, sih...

Nah, begitu sampe di kafenya (tinggal nyebrang doang dari Wisma SY, tempatnya sederetan Percetakkan ERA dan Lawson Margonda), gue langsung meratiin sekeliling.

Penampakan Kafe dari depan. Agak gelap karena ini malam.
Pencahayaan di dalam kafe ini nggak terlalu terang. Malah cenderung remang-remang. Tapi justru bikin suasana kafe ini jadi ada kesan retro-retro gitu.

Ini kebetulan adik-adik gue di Sastra Prancis. Lagi nongkrong di sini ngerjain tugas. Nyaman, sih.
Interior dan pernak-perniknya juga unik. Banyak aksen Italia dan overall mengusung gaya retro gitu. Mungkin, jadi sedikit mengingatkan kita pada Pizza é Birra, tapi nggak sama dan nggak serupa.

Ada salah satu meja di lantai bawah yang tempat duduknya dibuat serupa ayunan. Jadi ya bisa goyang-goyang. Lucu, deh.

Karena empat orang temen gue (Ganda, Fanya, Tamirin, dan Lia) maunya duduk atas, yaudah deh gue ikutan. Di dinding deket tangga mau naik, mereka bikin kayak quotes2 gitu. Tempat ini pada dasarnya mengambil dua blok ruko. Jadi tangga naiknya juga ada dua sisi. Gue naik dari sisi sebelah kiri dan langsung memilah tempat duduk 3-3.

Quotes. Ada modelnya. (Fanya).
Celingak celinguk kanan kiri, lumayan banyak juga loh orang yang makan di kafe ini. 


Suasana di lantai dua
Mungkin emang rasanya enak kali ya? Gue juga merhatiin ada yang lagi sibuk ngelaptop dan lama nggak beranjak. Keasikan kali, ya? Hehe.




Setelah bolak-balik menu, si Ganda ngusulin buat mesen Family Pack D yang isinya Large Pizza (kita milih Beef Classic), Italian Bread, Smoked Sausage Barbeque, dan 1 pitcher Ice Lemon Tea. Cukup lah, buat berlima.

Italian Bread
Smoked Sausage Barbeque
Beef Classic Large Size
You know what it is...
Terlepas dari paket, sebenernya di Kafe ini kita bisa menemukan menu Pizza berbagai rasa dan ukuran. Small (4 slices), Medium (6 slices), dan Large (8pcs). Selain menu Pizza, ada Pasta, Snack, Salad, sama Dessert juga.

Karena paket yang kita pesen belom bikin gue kenyang, akhirnya gue nambah pesenan Chicken Wings. Sebenernya, mau nambah Sausage Roll juga sih, keliatannya enak soalnya, tapi nggak jadi.

Kenapa nggak jadi? Soalnya gue milih tambahan menunya itu random. Chicken Wing itu gue kasih kode A dan Sausage Roll gue kasih kode B. Gue minta empat temen gue milih antara A dan B tanpa tau menu apa yang diwakili sama masing-masing kode. Eh ternyata si kode A menang. Yaudah, kita akhirnya pesen si ChickWing aja deh. Next time kali ya nyobain menu yang lain.

Soal rasa, not bad lah. Tidak mengecewakan. Pizzanya nggak abal-abal. Sausage-nya enak. Italian Breadnya terasa gitu menteganya dan gue suka. Chicken Wing-nya juga enak. Oiya, di sini kita bisa minta free cheese sauce buat kita cocol-cocol pake makanan kita. Jadi lebih enak dan yummy-lah.

Soal harga, nggak bisa dibilang sesuai kantong mahasiswa juga sih. Tapi, ditimbang-timbang sama makanan yang masuk perut, worth it lah. Kemaren kita makan berlima itu kena IDR 214.000,-. Perinciannya:

Family Pack D: IDR 163.636,-
Chicken Wing: IDR 30.909,-
Tax: IDR 19.455,-






Mungkin tempat ini cocok buat dijadiin tempat nongkrong pas awal bulan. Kalo tengah bulan, balik ngewarteg aja lah ya. Hehe.
Setelah nongkrong-nongkrong dan foto-foto cantik, yaudah kita pulang lagi deh ke Wisma SY.


Keluarga cemara (?) Haha.
Me, Fanya, Ganda

Jam operasional: Setiap hari, 10.00 - 24.00
Alamat: Jalan Margonda Raya No 514, Depok
Delivery Order: 021 7888 3789 (min.order IDR 50.000,- dan hanya sampai pukul 22.00 WIB)
Pin BB: 7A5B3636

FB: Milan Pizza
Twitter: @milan_pizza
Instagram: @milanpizza


www.milancafe.net

Sunday, February 9, 2014

Akhirnya S.Hum.

Satu set toga itu akhirnya saya kenakan juga pada hari ini.
Saya lulus! Puji Tuhan. Akhirnya. A.k.h.i.r.n.y.a. :)

Melalui tulisan ini, banyak cerita yang ingin saya ungkapkan, bahwa banyak kejadian yang pernah saya alami, bahwa banyak rasa yang bisa maupun yang tak bisa saya ungkapkan.

Ketika hari ini akhirnya datang, memori saya secara sadar dan otomatis langsung memutar kejadian di pertengahan tahun 2010 silam. Saat itu, saya hanyalah seorang mantan siswi SMA yang tidak tahu harus melanjutkan kuliah ke mana. Seorang mantan siswi SMA yang hanya berharap masuk jurusan Farmasi. Seorang lulusan SMA yang memiliki harapan besar masuk perguruan tinggi negeri bergengsi, sehingga tak terlalu mengeruk materi. Perjalanan harapan itu berujung hari ini. Akhirnya.

Meskipun saya bukan lulus menjadi seorang S. Farm, saya tetap bangga. Bangga akan apa yang telah saya lakukan, saya peroleh, dan akhirnya saya syukuri serta nikmati.

Jika saya boleh bercerita, pilihan untuk memulai perjalanan sebagai mahasiswi S1 Paralel Sastra Prancis UI merupakan pilihan yang amat sulit. Memang, ketika Bedah Kampus UI tahun 2009, saya sempat berujar, bahkan boleh dibilang takabur. "Biarin deh, masuknya Sastra Prancis aja, yang penting gue pake Jaket Kuning." Satu ujaran yang tak akan pernah saya lupakan. Ujaran yang akhirnya menjadi kenyataan dan mengantar saya sampai pada gelar S.Hum.

Saya memang bermimpi menjadi mahasiswi jurusan Farmasi, tetapi karena satu dan lain hal, saya malah menjadi alumni dari jurusan Sastra Prancis UI. Bangga? Tentu!

Saya pernah bahagia saat dinyatakan lulus seleksi masuk jurusan Farmasi di UNPAD. Impian saya nyaris menjadi kenyataan. Namun, saya akhirnya tetap memilih Sastra Prancis UI setelah mempertimbangkan berbagai alasan. Dari alasan sepele hingga alasan yang tak lagi bisa dianggap sepele.

Ketakutan itu ada. Ketakutan akan terus masuk kuliah malam karena isunya S1 Paralel itu adalah nama lain dari kuliah malam. Ketakutan akan menjalani tahun-tahun studi bersama mahasiswa-mahasiswa yang sudah kerja karena mengambil kuliah malam. Ketakutan akan menjadi asing. Ketakutan ini ketakutan itu ketakutan semua, tapi....sekali lagi Puji Tuhan, karena nyatanya ketakutan itu tak terbukti.

Saya harus dengan lantang mengakui, sesuatu yang namanya takut itu tak kunjung bisa dengan tenang pergi. Setiap akhir semester, saya selalu takut melihat laporan nilai kalau-kalau ada yang tak lulus dan mengecewakan orang tua. Saya selalu takut serta cemas menanti nilai akhir KBP setiap semester. Kalau hasilnya di bawah C sekali saja, dijamin saya tak akan lulus tepat waktu. Saya selalu takut kalau saya harus dihadapkan pada pilihan menempuh studi lebih dari 4 tahun karena hal itu pasti mengecewakan orang tua saya.

Saya takut menyia-nyiakan perjuangan mereka menyekolahkan saya hingga perguruan tinggi, karena apa yang mereka lakukan tak boleh saya anggap sepele. Hal ini yang terus mendorong saya mau belajar dan berusaha agar saya tak pernah mengulang mata kuliah. Jalani sekarang dan jalani nanti ketika mengulang, toh sama saja. Mata kuliahnya sama. Materinya sama. Buat apa saya menjalaninya sampai lebih dari sekali? Hanya ini yang jadi pegangan saya. Hanya hal itu serta doa yang mampu membuat saya seperti sekarang, saya amat takut mengulang. Keinginan terbesar hanya untuk membuat orangtua saya bangga melihat saya berhasil jadi Sarjana.

And finally, I made it.


Tiga setengah tahun yang saya lalui selama menjadi mahasiswa menyisakan begitu banyak cerita.

Saya ingat ketika mama menemani saya di kosan saat hari pertama saya kuliah. Saya ingat minggu-minggu pertama jadi mahasiswa, saya begitu setia dengan julukan KuPu KuPu. Kuliah-selesai kuliah-beli makan-masuk kosan-nonton TV-tidur. Rutinitas yang akhirnya saya abaikan kemudian.

Saya ingat ketika saya mulai menikmati status mahasiswa saya. Tak lagi menjadi KuPu-KuPu, tapi KuMa-KuMa. Pulang kuliah main dan main terus. Makan, nonton, apa saja saya lakukan bersama teman-teman.

Saya ingat ketika saya iseng mencoba peruntungan melalui online shop. Setiap jeda kuliah saya manfaatkan dengan mengurusi online shop saya. Entah beli barang untuk dikirim ke customer ataupun mengirim barang yang telah saya bungkus malam harinya ke JNE di dekat FISIP. Berusaha membagi kedua fokus sama rata.

Saya ingat saat kesel-keselan. Saat iri-irian.
Saya juga teringat ketika saya harus berpindah kosan karena kosan yang lama tak layak lagi saya tinggali.
Saya teringat ketika saya harus tertatih mengikuti pelajaran karena sakit ini sakit itu.
Saya teringat ketika papa mama menjemput saya di kosan dalam kondisi lemah karena ternyata terserang hepatitis. 
Saya teringat ketika mama selalu memarahi saya yang begitu sering pulang malam. Takut saya kelelahan.
Saya teringat ketika diberi kejutan ulang tahun H+30an oleh teman-teman dekat.
Saya teringat ketika harus mencari buku pinjaman hingga ke IFI, dan berjalan kaki dari St. Cikini sampai IFI.
Saya teringat ketika harus menginap di rumah teman demi selesai mengerjakan tugas deadline dan meminta file-file penting darinya.

Namun lebih dari pada cerita-cerita itu, banyak hal lain yang bisa saya anggap sebagai sumber pelajaran saya dan saya rasa telah tiba saatnya saya menyampaikan rasa terima kasih saya.

Teruntuk FIB UI, Kuksa FIB, KMK UI, PMKAJ US, RTC UI FM, IKABSIS, dan CBT.

Terima kasih kepada kalian semua yang telah memberi saya banyak hal.

Terima kasih FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA! Fakultas tempat saya menemukan berbagai macam karakter orang dari A-Z! Menemukan ragam jurusan yang punya khasnya masing-masing. Menemukan orang-orang hebat,orang-orang slengean tapi ternyata berprestasi. FIB UI pernah membuat saya bangun jam 3 pagi untuk turut bergabung dengan kepanitiaan PSA MaBim. Fakultas tempat saya menghabiskan waktu 3,5 tahun ini. Fakultas yang bikin saya bangga dengan makara putihnya. Terima kasih Kansas dan Gedung I - Gedung X -nya. Kita telah membuat cerita.

Terima kasih untuk semua dosen Prodi Prancis FIB UI dengan ciri khas cara mengajarnya masing-masing, terkhusus juga terima kasih untuk Mba Deka, PA paling asoy yang nggak bosen menjadi dosen KBP saya dari KBP I - IV, PA yang juga dengan sigap menyetujui sipresma saya, dan PA yang akhirnya menjadi penyelamat utama saya dari status pengangguran setelah lulus. Terima kasih juga untuk teman-teman seangkatan dan sejurusan di Sastra Prancis, termasuk Ilham,si temen se-PA, temen yang super ngeselin tapi terkadang baik. Terima kasih untuk terus ada dan bersama-sama menjalani rangkaian mata kuliah yang kadang bikin mata perih, perut mual, kepala pusing. Haha, tetapi kita telah memilih untuk menjalankannya, bukan? Dan saya nggak akan juga seperti ini kalau orang-orang di lingkungan belajar saya nggak seperti kalian semua! Terima kasih untuk berbagai cerita, tawa, dan canda ketika di dalam maupun di luar kelas. Sukses untuk kita semua!


Terima kasih KUKSA FIB, tempat saya menemukan kakak-kakak dan adik-adik dengan berbagai karakternya masing-masing. Mereka yang menjadi teman dan keluarga seiman dan sefakultas. Mereka yang memberi kesempatan saya untuk boleh melayani teman-teman ketika Jumatan serta merasakan tampuk koordinator fakultas selama satu tahun. Berbagai suka dan duka. Berbagai tekanan dan pikiran yang saya harus tanggung selama menjadi KoorFak. Berbuah manis ketika saya justru menemukan sahabat dan (pernah juga) cinta. Kalian saya sayang. Pasti selalu saya sayang! 

Terima kasih KMK UI. Tempat saya juga belajar. Menjadi orang yang harus pandai membagi fokus. Menjadi orang yang konsisten dan bertanggung jawab. Menjadi orang yang dengan rela membagi waktu untuk menyiapkan acara-acara demi melayani teman-teman dan demi terus meng'ada'kan KMK. Di sini saya menemukan keluarga saya. Sahabat saya. Saya boleh bekerja dengan teman-teman dengan berbagai macam sifat dan cara kerja yang berbeda. Saya boleh mendapatkan teman RANDOM yang menemani saya mencoba hal baru. Mencoba tempat baru, makanan baru, pengalaman baru, serta berbagi cerita baru. Tanpa ragu saya bagi sayang saya ke kalian! 

Terima kasih PMKAJ US beserta Romo Moderator, Rm. Markus Yumartana, SJ.. Di dalam sini awal mula saya mengenal Wisma Sahabat Yesus. Di dalam sini saya langsung terjun ke dalam kepanitiaan pertama saya semasa Mahasiswa Baru. Berbaur dengan teman-teman dari berbagai macam universitas yang tentu beda tingkah dan lakunya. Cara dan budayanya. Pikiran dan perbuatannya. Di dalam sini saya mengenal solidaritas. Mengenal adanya sesuatu yang dinamakan peka dan inisiatif. Begitu banyak hal yang saya peroleh dan pelajari ketika saya melibatkan diri di dalam sini. Belajar untuk rela dan tak mengharap apa-apa. Belajar untuk berani bertanggung jawab atas apa yang telah dipilih meskipun berat. Belajar memimpin. Belajar berinteraksi. Belajar bekerjasama. Belajar tidak egois. Entah berapa banyak yang saya dapatkan dari tubuh PMKAJ US. Betapa banyak teman yang saya kenal di dalamnya. Terlalu kurang rasanya, tapi untuk saat ini, memang saya hanya dapat mengucapkan terima kasih. Terima kasih telah menemani hari-hari saya. Terima kasih untuk waktu dan tenaga kalian ketika kita sama-sama bekerja dalam sebuah tim. Saya tau saya masih punya tanggung jawab 6 bulan lagi dan saya mencoba untuk terus setia terhadap apa yang sudah saya pilih. Terima kasih! Saya nggak akan kayak gini tanpa kalian semua. :)

Terima kasih untuk UKM Radio Telekomunikasi Cipta. Meskipun saya tak sering hadir. Meskipun saya tak selalu muncul di setiap acara. Saya bersyukur pernah bergabung dengan kalian semua. Saya bersyukur punya pengalaman di per-radio-an bersama kalian semua. Terima kasih telah mengingat meskipun saya jarang sekali hadir dalam setiap kesempatan. Bersama kalian, saya mendapat cukup banyak pelajaran. Many! Terima kasih kalian semua atas ijin dan kesempatan untuk melibatkan diri. Terima kasih!

Terima kasih untuk satu pelatihan yang akan begitu saya ingat.Character Building Training 5 yang boleh saya ikuti. Kesempatan bertemu orang-orang hebat. Bertemu orang-orang yang berani untuk menerima berbagai ilmu demi mengembangkan diri ke arah yang lebih baik lagi. Kesempatan untuk mendengarkan berbagai pengalaman maupun kiat menjalani hidup. Meskipun tak mungkin langsung diterapkan dalam satu atau dua hari, saya yakin, kesempatan yang pernah saya peroleh dan jalani ini akan menjadi bekal seumur hidup saya! Terima kasih.

Terima kasih untuk Sekar, Melyssa, Vina, Sophia, dan Faqih, serta sosok SSP yang sempat menemani saya menghabiskan waktu dan menjadi tempat kesekian saya dalam berkeluh kesah saat menjalani semester terakhir ini.

Akhirnya, di akhir tulisan ini saya hanya ingin kembali menyampaikan terima kasih.

Maklum, saya tak memiliki skripsi untuk saya sumbangkan ucapan berikut di Kata Pengantar-nya, jadi saya rasa tak ada salahnya saya tuangkan segalanya di sini. ;)

Ucapan terima kasih ingin rasanya ditujukan untuk semua. Untuk mereka semua yang menyempatkan waktu hadir di Wisuda hari ini, menyapa saya, mengucapkan selamat, bahkan memberi bunga. Terima kasih untuk kalian yang menemani hingga hari ini. Terima kasih untuk dukungan kalian. Terima kasih untuk hadiah kalian, baik yang terlihat maupun yang hanya bisa diingat.

Terima kasih untuk Echa, Terra, Chev, Harris, Liestya, Adrian, Inggit, Evan, Eufrasia Erika, Kak Wawan, Kak Sally, Nikita Natasya, Bina, Ginta, Norman, Arkhe, Michelle, Dimas, Edith, Maltal, Erika, Ciskah, Kent, Nana, Stella, Beatric, Kak Anne, Kak Maga, Nico, Titot, San San, Eko, Janet, Rika, Ganda, Lia, Ajeng, Icha, Gia, Jane, MaReg, Ivo, Kak Temmy, Kak Vi, Kak Lena, Kak Jenny, Vina, Sophia, Sekar, Melyssa, Ester Cahaya, Amadea, Les Bencongs, Ilham, Kak Mita, Faqih, Yura, Annida, Jonas, Danty, Nini, Ceka, Ntum, Haris, dan semua nama yang mungkin terlewat tercatat tapi pasti saya ingat. Nama-nama yang membuat bahagia dengan ucapan selamatnya lewat berbagai media. Terima kasih.

Terakhir, namun tetap utama, juga paling, dan super penting, terima kasih untuk Tuhan Yesus serta untuk kedua orang tua saya, Mama dan Papa yang selalu mendukung, selalu memberi perhatian, selalu menghargai pilihan saya, dan yang selalu membuat saya bangga. Tanpa kalian, semua yang saya tulis, ungkap, dan ceritakan di atas jelas tak akan pernah ada. Terima kasih! :)

PS: Selamat untuk kalian yang lulus sehingga kita bisa saling berselamat. Selamat untuk Eka, Atma, Putri Myra, dan Cidus. Selamat untuk kakak-kakak senior SasPer. Selamat untuk Kak Aan, Melvin, Esi, Cathlin, Arum, Gisel, Erwin, dan untuk semua wisudawan!


PROK PROK PROK ;)


I decided long ago, never to walk in anyone's shadows
If I fail, if I succeed
At least I'll live as I believe
No matter what they take from me
They can't take away my dignity
Because the greatest love of all
Is happening to me
I found the greatest love of all
Inside of me
The greatest love of all
Is easy to achieve
Learning to love yourself
It is the greatest love of all

Wednesday, August 7, 2013

Character Building Training (CBT) 6. 31 Juli - 5 Agustus 2013.

Halo!

Kali ini saya mau menceritakan seonggok kisah mengenai Character Building Training..

Jadi ceritanya, acara ini diadakan oleh KOMRETNAS (Komunitas Retret Nasional) bersama dengan PMKAJ (Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta). Acara yang diselenggarakan dan ditujukan bagi kaum muda Katolik, sebagai sarana pelatihan diri, pembentukan karakter, dan penunjang pergerakan kaum muda Katolik cinta Indonesia.

Acara ini berlangsung selama 6 hari 5 malam, bertempat di Rumah Retret Canossa, Bintaro. Untuk CBT 6 (CBT yang diadakan di tahun 2013 ini) acara dihelat tanggal 31 Juli - 5 Agustus 2013. Lalu, apa peran saya di CBT 6 ini? Saya menjadi salah satu bagian dari Organizing Committee (OC). Saya masuk di divisi Acara, bersama dua orang teman lainnya, yakni Belle dan Ginta.

Tadinya, saya ragu-ragu untuk mendaftar kepanitiaan ini atau tidak, tapi pada akhirnya saya memutuskan untuk bergabung. Saya pilih divisi Acara untuk menantang diri saya sendiri yang biasanya begitu alergi dengan divisi Acara.

Lalu, mengapa saya bisa tergabung dalam OC? Tentu, karena saya pernah mengikuti CBT angkatan 5 (CBT 5) yang diadakan pada 24 - 29 Januari 2012 bertempat di Canossa juga.

Persiapan acara CBT 6 ini dilakukan sejak Februari 2013. Mulai rapat SC, rapat OC, sampai rapat gabungan SC OC hampir menyita beberapa kali weekend orang-orang yang terlibat di dalamnya. Namun, saya sendiri menikmati prosesnya. Mulai dari yang jarang rapat --padahal divisi saya adalah divisi yang cukup krusial--, ditambah dengan koordinator divisi Acara yang cukup sulit ditemui karena begitu sibuk, sampai tiba-tiba pekerjaan divisi Acara yang datang menumpuk beberapa waktu sebelum hari H. Hahaha, emang enak jadi anak Acara? Ya, enak! Apalagi pas hari H! ;)

Menjadi bagian dari kepanitiaan ini cukup menyenangkan bagi saya. Saya menikmati bagaimana saya harus memaksa otak saya berpikir kreatif dan kritis terhadap susunan acara. Saya juga harus memaksa diri saya menjadi pribadi yang cepat tanggap ketika ada permintaan-permintaan ataupun peringatan positif dari teman-teman SC (Steering Committee).

Kira-kira 2-3 minggu sebelum hari H, divisi Acara sedikit 'ngebut' untuk mempersiapkan rangkaian acara CBT 6. Ya, kala itu kami berharap-harap cemas, semoga acara-acara yang dihadirkan di CBT 6 dapat berlangsung dengan baik adanya.

Ketika tiba hari H, saya berangkat duluan ke Canossa menjadi tim Advance. Saya berangkat dari Depok tanggal 30 Juli 2013 menggunakan KRL Commuter Line. Di sana, saya mulai mendata apa-apa saja yang saya butuhkan untuk keberlangsungan acara. Pembagian kelompok, persiapan Ice Breaking, dan lain sebagainya. Cukup mengasyikkan menjadi tim Advance begini.

Setelah semua pekerjaan dan persiapan anak acara telah selesai dipersiapkan, saya berangkat tidur. Saya siap menyambut hari pertama CBT 6!

Menurut saya, hari pertama sampai hari terakhir berjalan dengan lancar. Hanya saja, tetap ada beberapa kendala. Misalnya saja, kami bertiga dari tim acara hampir tidak pernah melakukan rapat/pembicaraan khusus selama perjalanan CBT 6. Alhasil, kami bekerja sedikit bar-bar. Hahaha. Dan, yang paling riskan, saya sendiri mengalami miskoordinasi dengan ibu koordinator Acara, maupun dengan beberapa pihak lainnya. Hal ini sungguhlah membuat saya merasa sedikit gagal. Tapi, namanya juga belajar. Kalau nggak gagal, nggak akan bisa jadi anak acara yang profesional, kan? ;)

Dari segi materi, saya cukup tersegarkan kembali. Materi-materi serupa yang saya dapatkan ketika CBT 5 dulu (yang katanya bisa membentuk karakter saya), sekiranya sudah terbang-terbang entah kemana. Jadi, tentu saya butuh sekali apa yang namanya penyegaran.

Percaya enggak percaya, selama mengikuti CBT 6 ini, saya sedikit merasa seperti belum pernah mengikuti CBT. Flashback setahun kebelakang, saya merasa masih banyak yang kurang dari diri saya. Seharusnya, setelah mengikuti CBT 5 tahun lalu, hal-hal tersebut bisa saya atasi. Contoh kecil saja: ketakutan akan kegagalan dan juga kesulitan mengambil keputusan. Ternyata, hal-hal itu diajarkan di CBT 6. Lalu, saya kemana? Kok, sifat-sifat semacam itu masih melekat?

Untunglah, saya bisa belajar dan berlatih banyak dari CBT 6 yang saya ikuti ini. Semoga kali ini saya benar-benar bisa menjadi peserta CBT yang sukses menyerap ilmu-ilmu dari CBT (meskipun di CBT 6 sesungguhnya saya bertindak sebagai panitia).

Satu hal yang menarik dari CBT adalah sesi Tipologi Jung. Sesi ini mengungkapkan ciri-ciri setiap pribadi manusia. Saya sendiri memiliki tipe ESFJ (Extrovert, Sensing, Feeling, dan Judging).
Sebenarnya, menurut tipologi itu, ada 16 tipe kepribadian manusia. 16 tipe tersebut merupakan gabungan dari ke-empat karakteristik ini:

Extrovert >< Introvert
Sensing >< Intuiting
Feeling >< Thinking
Judging >< Perceiving

Bicara mengenai hal lainnya, selama mengikuti CBT 6 ini, perut saya sejahtera banget loh. Ada berbagai macam snack yang diberikan 2 kali sehari, serta makanan kenyang 3 kali sehari. Mungkin, setelah pulang dari CBT ini (sekarang nih) berat saya sudah naik 2 kg. Hahaha.

Hal menarik lainnya, saya bisa berkenalan dengan 53 peserta CBT 6 (beberapa di antaranya udah kenal sih, soalnya berasal dari PMKAJ US juga). Selain yang dari PMKAJ US, ada yang dari PAJ, PMKAJ UB, PMKAJ U.Teng, juga dari PMKAJ UT. Anak-anaknya rame dan kocak-kocak. Makanya, selepas CBT 6 usai, saya langsung follow-in twitter-nya satu-satu biar nggak putus hubungan.

api unggun. api persaudaraan.
Satu hal lagi, satu deh janji kok satu lagi. Hal yang paliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing menarik adalah saat-saat api unggun, pada malam terakhir. Di sana, saya bisa nonton 5 penampilan dari 5 kelompok yang berbeda-beda. Ada yang nampilin FTV, cerita daerah, parodi iklan tentang lingkungan, video clip, dan juga tari daerah. Semuanya kreatif dan seru-seru! Kangen kangen kangen kalian anak-anak CBT! Para OC juga nggak mau kalah kan pas malam api unggun itu, akhirnya kita mempersembahkan sebuah lagu, yang judulnya Kita Satu, ciptaan Regina Lusi, alumni CBT 3. Lagunya oke banget. Easy Listening!!! :)


Biarpun rata-rata lama tidur saya nggak pernah lebih dari 3 jam per harinya (ditambah curi-curi tidur selama acara berlangsung), saya tetap senang menjadi bagian dari CBT 6 ini. Saya bangga. Saya senang. Saya kembali belajar.

Semoga, dengan curi-curi ikut sesi di CBT 6 ini, ingatan saya akan pelajaran-pelajaran berharga yang saya dapatkan selama CBT 5 dapat segar dan pulih kembali. Sehinggaaaaaaaaaaaaaaa, saya bisa benar-benar menjadi pribadi yang berkarakter, dan tau cara menentukan sikap! Berani ambil keputusan, berani menanggung konsekuensi atas keputusan yang diambil, serta menjadi pribadi yang berani menghadapi kegagalan! Yoi, nggak? Hehehe.;)

aan. me. dimas
gila-gilaan OC di kamar OC.
para peserta CBT 6
temu kangen CBT 5 di malam api unggun CBT 6
TERIMA KASIH CBT 6 ;)