Dan saat ini pun tiba.
Saat, ketika aku harus mengucapkan pisah pada satu kali tiga puluh satu hari lalu yang haru. Saat, ketika aku harus melambaikan tangan, berkata selamat datang pada bulan baru.
Kepada kamu bulan delapan yang aku lalui dengan banyak kegiatan, yang menyumbang padaku banyak kejadian, dan yang membuatku agak lari dari tujuan,
Suka menulis. Suka makan. Suka bepergian. Suka menyaksikan. Suka mendengarkan. Suka membaca. Life is about finding your own happiness.
Showing posts with label writing. Show all posts
Showing posts with label writing. Show all posts
Tuesday, September 1, 2015
Thursday, July 30, 2015
Nikmatilah Lara
Obrolan senja itu akhirnya dibuka dengan sepasang cangkir kopi hangat yang tiba bersamaan dengan menyalanya sebatang rokok di kepit bibir Kemina.
"Jadi kapan kamu akan meninggalkan Bali?"
"Secepatnya. Setelah semua urusan keberangkatanku ke sana diurus, tentu aku akan langsung memulai hidupku yang baru."
"Dan melupakan aku, bukan?"
"Jadi kapan kamu akan meninggalkan Bali?"
"Secepatnya. Setelah semua urusan keberangkatanku ke sana diurus, tentu aku akan langsung memulai hidupku yang baru."
"Dan melupakan aku, bukan?"
Friday, May 22, 2015
Cerita Peniti
Saya punya dua kemeja yang bilamana saya pakai, saya membutuhkan satu peniti untuk disematkan di antara kancing kedua dan kancing ketiga (kancing pertama tentu saja yang terletak pada kerah dan biasanya tak dikancingkan). Hal ini saya lakukan karena kancing kedua terlalu berdekatan dengan kerah sehingga membuat saya tidak begitu merasa nyaman. Tapi kalau seandainya saya melepas kancing kedua, maka nanti saya akan dibilang pamer dada. Makanya, saya membutuhkan peniti untuk disematkan di antara kancing kedua dan kancing ketiga.
Persoalan peniti ini sebenarnya sederhana saja. Dulu, berminggu-minggu yang lalu, saya punya dua buah peniti yang ukurannya sedang-sedang saja. Tidak terlalu besar, tapi tidak terlalu kecil juga. Peniti ini sangat akrab dengan saya, apalagi ketika saya sedang ingin menggunakan salah satu di antara dua kemeja yang butuh peniti. Sayangnya, sekali waktu peniti saya hilang karena kelalaian saya yang lupa meletakkannya entah di mana. Saya mencari peniti itu ke kamar mandi, ke lemari, ke meja belajar, meja rias, tapi tak juga saya temukan. Saya kemudian teringat bahwa saya masih punya satu buah lagi peniti. Ya sudah, saya ikhlaskan saja kehilangan satu peniti.
Tak lama berselang, lagi-lagi karena kelalaian saya, peniti kedua pun turut lenyap. Seingat saya, saya sempat sematkan peniti itu di kemeja saya yang lain, tapi tak juga saya temukan lagi peniti kedua itu. Lagi, saya mencari peniti itu ke kamar mandi, ke lemari, ke meja belajar, meja rias, tapi tak juga saya temukan. Kali ini, saya harus pasrah kehilangan dua peniti.
Dalam beberapa minggu ke depan, pilihan saya hanya dua terkait dua kemeja itu: 1) tidak menggunakannya sama sekali karena tidak ada peniti, dan 2) tetap menggunakannya tanpa rasa nyaman karena harus dikancingkan di kancing kedua. Dan saya memlilih mengambil pilihan yang pertama.
Alangkah senangnya saya ketika dua tiga hari lalu saya main ke daerah Kota, tepatnya di kawasan Pancoran Glodok, saya menemukan abang-abang penjaja barang rupa-rupa. Ada gelas, ada pisau, ada karet untuk kaki kursi dan meja, ada obeng, dan ada peniti! Saya langsung mengambil satu renceng peniti dan ternyata harganya dua ribu rupiah. Beli tiga renceng jadi lima ribu rupiah. Karena kebetulan uang saya di saku celana berupa uang lima ribuan, saya memutuskan untuk sekaligus membeli tiga.
Sejak hari itu sampai hari ini, akhirnya saya kembali menggunakan salah satu kemeja saya. Kemeja yang tak nyaman dengan mengatupkan kancing kedua, namun nyaman dengan peniti di antara kancing kedua dan ketiga. Malangnya nasib peniti itu, di malam hari ketika saya harus berganti baju, saya menjatuhkan peniti itu ke dalam jamban ketika hendak melepaskannya. Saya tak berusaha mengambilnya, karena peniti di kamar saya masih ada dua renceng plus satu renceng minus satu peniti. Mungkin akan berbeda urusannya jika saja peniti yang terjatuh di jamban itu adalah peniti terakhir yang ada pada saya.
Hari ini, kerinduan saya akan kemeja berpeniti satu lagi membuat saya memutuskan untuk menggunakannya kembali. Tentu, satu peniti lagi dari rencengan peniti yang sudah kehilangan satu penitinya, saya ambil untuk disematkan di antara kancing kedua dan kancing ketiga kemeja agar saya tidak dibilang pamer dada. Saya pun merasa gembira karena kemeja itu bisa saya gunakan lagi dan untungnya masih muat! Mengingat, sudah lama kemeja itu tak saya gunakan karena saya tak punya peniti.
Sepulang saya dari bepergian keluar dengan kemeja berpeniti, saya memutuskan untuk berhati-hati ketika hendak berganti pakaian lagi. Saya tak mau peniti saya yang ini harus masuk jamban lagi. Saya lepaskan dari kemeja dengan hati-hati dan saya selamatkan peniti ini untuk sampai di kamar dan kembali pada rencengannya lagi. Melihat dua renceng plus satu renceng minus satu peniti masih teronggok rapi, seharusnya saya tidak perlu khawatir jika peniti hari ini harus hilang dan masuk jamban lagi. Akan tetapi, peniti saya tetaplah peniti, yang saya selalu butuhkan jika ingin menggunakan dua kemeja itu tadi. Mau hanya dua biji atau sekarang sudah ada dua renceng plus satu renceng minus satu peniti, saya tetap butuh peniti. Dan layaknya orang membutuhkan, ke depan nanti seharusnya saya tidak lalai lagi dan tetap menjaga semua peniti yang saya miliki.
Monday, May 18, 2015
Bergandengan Tangan
Hari Minggu sudah tiba lagi. Tapi, saya tetap harus bangun pagi. Ah, rasanya seperti tidak ada hari libur sama sekali saja. Minggu pun harus bangun pagi untuk bisa mengikuti Misa pagi di Gereja. Apa saya tidak boleh berleha-leha 24 jam tanpa ke mana-mana? Bagaimanapun juga, setelah kebiasaan mengeluh pagi-pagi, saya akhirnya beranjak juga dari kasur. Lantas, lekas saya berbenah diri setelah kembali terjaga pukul tujuh tadi.
Saya Anna. Saya tinggal di kosan seorang diri karena jauh dari rumah. Saya pegawai kantoran biasa yang setiap hari masuk kerja pukul delapan dan pulang pukul lima. Tentunya, kecuali hari Sabtu dan Minggu. Bukan-bukan, kecuali hari Minggu saja. Hari Sabtu tak bisa saya hitung libur karena saya kadang juga disuruh masuk kalau ada keperluan mendesak. Benar-benar kantor yang memeras tenaga.
Jarak beratus bahkan beribu kilometer dari rumah tidak membuat saya melupakan rutinitas hari Minggu. Semenjak dulu masuk kuliah, saya selalu diingatkan dan secara tidak langsung 'dipaksa' untuk tetap beribadah setiap Minggu. Siapa lagi yang mendesak kalau bukan orang tua. Kadang-kadang, diri terasa sungguh malas untuk berpindah dari kenyamanan tempat tidur menuju ketenangan rumah Tuhan. Namun apa daya, rutinitas ini secara otomatis terlalu melekat dan sulit untuk dielak.
Misa di Gereja dekat kosan saya dimulai pukul delapan tiga puluh pagi. Seperti biasa, pukul delapan teng, saya sudah tiba di Gereja supaya bisa duduk di bagian dalam dan tak perlu berpanas-panasan di luar. Kali ini saya sendiri. Kalau ada teman ya sama teman. Kalau tidak ya, sendiri pun sudah biasa.
Tak lama berselang, sekitar pukul delapan lebih lima belas menit, segerombol keluarga datang dan mengambil tempat duduk di samping saya. Tampak sederhana dan tidak berlebihan. Tokoh ayah berpakaian cukup rapi dengan kemeja abu-abu dan celana panjang hitam. Tokoh ibu berpakaian sangat rapi dengan dress batik warna biru dongker dan tas berwarna senada. Tanpa banyak perhiasan dan tanpa make-up tebal. Tokoh anak-lah yang paling lucu. Anak laki-laki bertubuh sedikit gempal, berkemeja kotak-kotak biru muda, dan bercelana jeans hitam. Pipinya yang bulat, betul-betul menggoda saya untuk mencubit gemas.
***
"Atas petunjuk penyelamat kita, dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa..." ucap Romo yang memimpin Misa pagi itu menandakan bahwa perayaan Ekaristi sudah sampai pada bagian doa (lagu) Bapa Kami. "Bagi yang datang berkeluarga, silahkan bergandengan tangan satu sama lain."
Selalu ketika doa Bapa Kami dilantunkan dalam bentuk nyanyian, saya akan membuka kedua telapak tangan saya dan menghadapkannya ke atas seakan meminta berkat dan penyertaan Tuhan. Saya tak datang berkeluarga, jadi saya tak menggandeng siapa-siapa.
Baru saja lagu Bapa Kami memasukki bagian '...dimuliakanlah nama-Mu,...', tiba-tiba tangan saya diraih oleh anak laki-laki bertubuh gempal tadi. Sontak saya terkejut sekaligus menahan senyum juga. Tangannya yang masih seukuran tangan anak SD mencoba membuat pautan tangan kami semakin erat. Saya yang heran, kemudian beralih pandang dari tangan anak kecil menuju ke wajah ibu si anak. Ibu itu menoleh singkat, kemudian tersenyum.
Dalam hati saya hanya bisa berujar, lucu juga ya digandeng anak kecil yang bahkan saya nggak kenal asal muasalnya ini.
***
Sepanjang bagian Bapa Kami hingga Komuni, saya terus penasaran dan bertanya-tanya tentang hal apa yang membuat anak gempal itu menggandeng tangan saya. Mungkin kelihatannya sederhana, tetapi hal ini betul-betul mengusik dan membuat penasaran. Akhirnya, setelah saya membuat tanda salib usai berdoa pasca Komuni, saya menyenggol pelan perut anak kecil di samping saya dengan siku. Mudah-mudahan perutnya nggak sakit.
"Dek, nama kamu siapa?"
"Tius, kak."
"Kamu datang sama mama papa aja? Kakak-adik mana?"
"Kakak saya kerja di luar kota. Kalau adik, saya nggak punya. Kak, ini kan masih Misa, jangan ajak saya ngobrol dulu ya. Ssst..." ucapnya sambil menempelkan jari telunjuk di kedua bibir yang terkatup.
"Oh, iya iya." balas saya sambil mengambil jarak lagi. Heran, anak kecil ini ternyata cukup cerdas dan pintar untuk tidak menimbulkan kegaduhan di dalam gereja. Justru saya yang mengajaknya ngobrol duluan. Ah, saya jadi malu sebagai orang dewasa. Tapi sungguh, saya penasaran dengan sikap bocah ini. Apa karena kakaknya sedang berada di luar kota, makanya ia menggandeng tangan saya sebagai bentuk kerinduan akan kakaknya? Hmm, mungkin juga. Bisa jadi bisa.
***
Setelah berkat Tuhan lewat Romo diberikan, perayaan Ekaristi hari Minggu itu resmi selesai. Saya menutup dengan doa pribadi, kemudian begitu panjatan doa selesai, wajah saya segera beralih lagi ke bocah di samping saya. Syukurlah, dia belum pulang. Maka, saya buka lagi percakapan yang tadi sempat disudahkan.
"Nah, Misanya sudah selesai. Sekarang sudah boleh ngobrol, Tius?"
"Sudah. Memangnya kenapa sih, kak?" tanyanya dengan wajah yang seakan minta dicubit semalam suntuk.
"Nggak apa-apa kok. Kakak kan mau nambah-nambah temen aja."
"Oooooohh."
"Tius, Tius, kakak mau tanya deh."
"Tanya apa?"
Sebelum bertanya, saya melihat kedua orang tuanya masih berlutut memanjatkan doa penutup. Nah, nggak apa-apa deh ngobrol sama anaknya dulu. "Tadi kamu kok gandeng-gandeng tangan kakak sih?"
"Loh, memang nggak boleh ya kak? Kan kata Romo tadi, yang datang berkeluarga disuruh gandengan tangan. Kata mama aku, kita semua yang ada di Gereja ini keluarga. Kalau bisa, aku malah mau gandeng seeeeeeeeeeeemuanyaaa." Nah loh!
"Berarti setiap minggu, kamu selalu menggandeng orang lain di samping kamu?"
"Hmm, nggak setiap minggu kak. Kakak sepertinya orang kedua yang aku gandeng dan heran. Minggu-minggu sebelumnya, aku cuma gandeng mama dan kakakku. Tapi kakakku kan baru pergi ke luar kota dua minggu lalu. Jadi nggak ada lagi yang aku gandeng di sebelah kanan." usai Tius menyelesaikan pembicaraannya (yang sedikit membuat saya terpana juga), mamanya bangkit dari posisi berlutut dan duduk menoleh serta senyum pada saya.
"Saya memang mengajarkan anak saya begitu, Mba. Semua orang di dunia ini adalah keluarga. Bahkan di luar Gereja ini juga, semua adalah keluarga. Kan nenek moyang kita saja sama ya Mba? Sama-sama Adam dan Hawa. Makanya, saya ajarkan anak-anak saya, kalau mereka harus rendah hati sama semua orang. Setiap orang yang dijumpai, ya keluarga juga. Semua hanya masalah jalinan, dekat sekali atau jauh sekali." ternyata ibu bocah ini langsung berinisiatif menjelaskan dan memaparkan. Saya tertegun sekaligus menahan senyum.
"Wah, ibu nggak takut anaknya kelewat baik sama semua orang?"
"Ya nggak, Mba. Saya tentu juga mengajarkan dia untuk selalu berhati-hati dan menjaga diri. Dari kecil harus diajarkan begitu agar dia juga tahu pentingnya melindungi diri. Kalau soal konsep keluarga sih, ya keluarga kandung saja masih ada yang suka punya niat jahat, jadi kuncinya ya hati-hati. Siapapun memang keluarga, tapi keluarga sekalipun belum tentu sepenuhnya baik. Jadi itu kembali lagi ke niat masing-masing orang yang berjumpa dengan anak saya, Mba. Saya bekali dia untuk tidak membeda-bedakan orang lain, sekaligus mengajarkan dia realita yang ada tentang macam-macam sifat orang." sekarang giliran tokoh ayah yang bangkit dari posisi berlutut dan ikutan menoleh serta senyum pada saya.
"Ibu nggak terlalu jauh mengajarkan hal-hal seperti ini? Anak kecil kan masih lugu, bu? Memangnya sudah mengerti?"
"Seharusnya, sudah. Tadi saja Tius gandeng tangan Mba, kan?..."
Belum sempat saya menjawab, tokoh ayah sudah memotong pembicaraan. Saya yakin ia tak sengaja.
"Ayo, Ma. Nanti susah keluar parkirannya."
"Oh iya, Pa." jawab tokoh ibu sambil berdiri dan merapikan dress serta mengambil tas tangannya. "Mari Mba, duluan."
"Eh, iya bu. Mari, mari."
"Dadah kak!"
"Dadah Tius!!!"
***
"Kakak cantik kenapa tadi pas Bapa Kami gandeng tangan aku?" tanya perempuan kecil itu dengan suara yang masih bocah.
"Dek, tadi kan Romo bilang, yang datang berkeluarga sebaiknya bergandengan. Nah, kamu sudah kakak anggap jadi keluarga kakak sendiri. Kita semua di sini kan satu keluarga. Kamu nggak kasihan sama kakak yang datang ke Gereja sendirian, nggak sama siapa-siapa?"
***
Wednesday, May 13, 2015
Pantai
"Apa mimpi terbesarmu?" tanya seorang sahabatku.
"Menginjakkan kakiku ke semua pasir pantai di Indonesia dan merendamkan bagian betisku ke semua air laut di Indonesia."
"Hahaha, bagaimana mungkin? Apa bedanya setiap pantai dan air laut di negara ini? Rasanya semua sama saja."
"Kamu salah kalau begitu. Tak semua pantai di sini ada yang serupa. Ada yang airnya biru jernih, tanpa karang. Ada yang airnya tak jernih, namun pasirnya halus. Ada yang pasirnya berwarna pink. Ada yang ombaknya besar seakan menggoda untuk menggulung. Ah, kau tak akan tahu nikmatnya sebelum kau sambangi semuanya."
"Masa iya begitu? Sekali waktu aku pernah ke Pantai Anyer kemudian melipir ke Pantai Carita. Airnya keruh, banyak sampah dan seakan tak terurus. Begitupun dengan beberapa pantai lain yang kukunjungi namun tak sanggup ku ingat namanya. Sampah berhamburan di mana-mana."
"Itu bukan salah pantai. Itu salah pengunjungnya. Mengapa mereka menyerakkan sampah seakan tak ada tempat pembuangan yang layak? Mengapa mereka seenaknya mengotori alam yang sesungguhnya dapat menjadi kekuatan Indonesia. Ah, aku jadi kesal sendiri dibuatnya. Lantas hanya karena kamu melihat beberapa pantai kita tak terurus, kamu enggan untuk menjenguk yang lain? Betul-betul menyesal kamu nanti."
"Entahlah. Aku tak merasa pantai dan air laut mampu menggoda. Rasanya membosankan. Hanya air dan air. Melulu itu. Kalau tidak air, ya pasir. Apa lagi? Karang? Ah, tak ada yang istimewa."
"Kamu hanya belum menemukan kenikmatannya, Ya. Percayalah, setiap kamu mendengar deburan ombaknya, merasakan pasirnya, halus maupun tidak, kamu akan merasakan sesuatu yang membuatmu menyatu dengan alam. Belum lagi jika kamu membiarkan dirimu tergulung ombak hingga ia membawamu terseret kembali ke bibir pantai, bebas Ya, bebas. Seakan semua bebanmu lepas. Atau misalnya, kamu naik perahu motor untuk melihat lumba-lumba di tengah laut, ketika perahu itu berjalan dan memecah air laut menjadi buih-buih, rasanya itu nikmat tiada tara. Sekelilingmu laut. Luas, seolah tak berujung." ceritaku bersemangat.
"Kamu bercerita seolah kamu sangat akrab dengan pantai dan air laut. Memang kamu bisa berenang? Memang kamu bisa menyelam?"
"Tidak bisa. Lantas mengapa? Tak bisa berenang dan tak bisa menyelam tak semata-mata harus membuatku bermusuhan dengan laut, toh? Aku berani main ke laut yang kedalamannya hanya sampai sedadaku. Atau aku berani sekedar snorkeling pakai pelampung untuk melihat indahnya terumbu karang dan ikan-ikan kecil yang berenang. Aku juga tidak masalah kalau hanya sekadar menikmati pantai dari pinggir laut. Pokoknya, energiku seakan terisi penuh kalau aku lihat pantai. Begitu."
"Ya ya, baiklah, silahkan kamu kejar mimpimu itu."
"Iya pasti. Lantas, apa mimpi terbesarmu?"
"Membantu mewujudkan mimpi terbesarmu."
"..."
Sunday, April 19, 2015
Teater Koma - Opera Ular Putih: Ketika Siluman Menjadi Lebih 'Manusia'.
Saya makin yakin dengan bisik-bisik yang menghembus kabar bahwa teater, sejatinya
adalah sebuah sarana yang efektif untuk menyampaikan isu-isu sosial (dan
politik) yang sedang berkembang di masyarakat. Saya juga yakin, teater, dengan
caranya sendiri memiliki tujuan mencerdaskan masyarakat terkait isu-isu
tersebut. Ah ya, dan juga membuat penontonnya serta penikmatnya, berefleksi
karenanya.
Keyakinan saya ini kembali muncul tatkala saya usai menyaksikan
pementasan Teater Koma yang kesekian kalinya (mungkin, kali keempat). Setelah
sebelumnya saya menyaksikan Republik Cangik yang juga sarat sindiran, maka
Opera Ular Putih hasil olahan tangan N.Riantiarno melalui Teater Koma ini juga
mampu memaksa saya menghidupkan kepekaan. Banyak hal yang menggelitik ketika
mata tertuju pada mereka yang beraksi di panggung. Otak memutar mencoba
mengerti jalan cerita plus maksud dibaliknya. Sampai semua duga-duga terekam,
jaripun menuangkannya dalam bentuk tulisan.
| PARA PEMAIN |
SINOPSIS
Dua siluman ular kakak-beradik, ular putih dan ular hijau telah
menunaikan pertapaan selama ribuan tahun dan memperoleh kemampuan untuk
menjelma menjadi manusia. Sayangnya, hanya ular putih yang bertekad kuat untuk
mengubah diri menjadi manusia, sementara si adik menentang. Meskipun demikian,
atas nama kesetiaan adik pada kakak, ular hijau setuju juga dengan ide
memanusiakan diri. Mereka pun memiliki nama masing-masing setelah hidup sebagai
manusia. Putih menjadi Pehtinio dan Hijau menjadi Siocing. Selanjutnya, mereka berdua
berkelana dan bertemu seorang lelaki sederhana bernama Kohanbun di tepi danau.
Kepada Siocing, Tinio mengungkap bahwa Kohanbun sesungguhnya adalah reinkarnasi
dari seorang pemuda yang dulu pernah menyelamatkan Tinio ketika masih berwujud
ular dan hendak dijual. Tinio menyampaikan niatnya pada Siocing untuk
mempersuami Kohanbun. Meskipun diliputi keheranan yang teramat, Siocing
akhirnya merestui pernikahan Tinio dengan Kohanbun. Pernikahan mereka pun
dilaksanakan dan mereka pindah ke kota lain untuk memulai usaha toko obat.
Malangnya, pembasmi siluman yang diberi mandat oleh langit, dengan giat berusaha untuk mengungkap identitas Tinio pada Kohanbun. Meskipun Tinio
tidak pernah berbuat jahat dan justru selalu berusaha melakukan kebaikan, Tinio
seakan tidak pernah diakui sebagai bagian dari bangsa manusia. Sampai akhirnya,
setelah melahirkan buah cintanya dengan Kohanbun, Tinio tetap harus menerima
hukuman.
MENANGKAP-NANGKAP
MAKNA
Jika ditelisik secara sederhana, maka saya yakin semua penonton akan
menangkap sebuah pesan yang teramat gamblang, yakni tentang bagaimana
seharusnya seorang manusia bersikap dan berperilaku. Bagaimana bisa seorang
siluman bahkan lebih ‘manusia’ dari manusia itu sendiri?
Baiklah, sebelum membahas pesan yang saya kira menjadi tajuk utama ini,
ada baiknya saya sedikit mengupas beberapa bagian menarik nan bermakna yang
saya tangkap selama perjalanan cerita berdurasi hampir 4 jam ini.
Pada beberapa adegan Opera Ular Putih, saya menemukan adanya isu ‘perempuan’ yang coba diangkat.
Bagaimana kedudukan seorang perempuan bahkan terkadang bisa menggantikan
kedudukan seorang lelaki. Maksudnya di sini, peran seorang lelaki dapat
digantikan oleh seorang perempuan dan begitupun sebaliknya. Ambil contoh,
ketika Tinio pergi melamar Kohanbun. Memang, mereka berdua dicomblangi Siocing,
akan tetapi siapa yang melamar dan membiayai pernikahan? Jelas, Tinio lah
orangnya. Tinio juga yang akhirnya memberi modal untuk membuka usaha. Kemudian,
contoh lain yang tampak adalah ketika Kohanbun jatuh pingsan bahkan hampir
sekarat karena menemukan wujud siluman ular di kamar tidurnya malam hari. Tinio
rela menghadang bahaya demi mendapatkan rumput sakti yang konon bisa
menyembuhkan Kohanbun. Pada bagian ini, saya tentu langsung menangkap kesan
bahwa ‘perempuan’ khususnya Tinio, jauh lebih banyak berperan dalam hubungan
mereka berdua dibandingkan Kohanbun itu sendiri.
| Tinio, Siocing, dan Kohanbun yang sedang tertidur |
| Pernikahan Tinio dan Kohanbun |
Saya memang sebelumnya belum pernah menyaksikan pertunjukan Ular Putih
apalagi membaca tentang kisahnya. Terlepas dari adegan ini memang asli dari
naskah terdahulu atau justru merupakan improvisasi dari N.Riantiarno, saya
menyangka bahwa adegan ini cukup mampu membawa suatu ‘perubahan’ paradigma
tentang peran perempuan. Mungkin masyarakat Indonesia telah mengenal tradisi
perempuan melamar lelaki dalam adat Minang. Akan tetapi, secara lebih luas
lagi, masyarakat Indonesia sepertinya lebih melazimkan pernikahan di mana pihak
lelaki lah yang melamar perempuan. Namun, apakah salah jika perempuan yang
‘mengajak’ menikah terlebih dahulu? Saya rasa tak ada yang salah.
Secara subjektif, saya pun melihat adanya permainan karakter perempuan
dan laki-laki di sini. Dalam masyarakat Indonesia pada umumnya, saya melihat
bahwa karakter ‘mudah menangis’, ‘tidak mudah percaya’ dan ‘penakut’ seringkali
diidentikkan dengan kaum perempuan, sementara ‘bijaksana’ dan ‘penuh
perjuangan’ disematkan pada kaum lelaki. Dalam Opera Ular Putih, kedua hal ini
justru berkebalikan. Tinio ditampilkan sebagai orang yang bijaksana dan penuh
perjuangan, tanpa meninggalkan kelemahlembutannya, sementara Kohanbun
digambarkan sebagai pihak yang justru lebih lemah, karena diliputi rasa takut
dan kecemasan, serta penuh dengan kecurigaan pada sang istri, Tinio. Seingat
saya, Kohanbun juga dengan mudahnya menangis. Lantas karena itu, masihkah karakter-karakter tertentu kita percayai hanya untuk jenis
kelamin tertentu? Untuk gender tertentu? Buktinya, paradigma semacam yang
tersebut barusan mudah dibalik-balik dan ditukar-tukar.
Ada satu peristiwa yang juga bisa saya paksa kaitkan dengan isu
perempuan. Yakni pengakuan Siocing yang tidak ingin menikah. Padahal, Siocing
pun telah menjadi manusia seutuhnya. Lantas, mengapa ia tak ingin menikah? Saya
kira Siocing sudah cukup puas dengan hidup bersama kakak dan dirinya sendiri.
Siocing merasa bahwa lelaki hanya bisa berbohong saja dan lelaki dari kacamata
Siocing sangatlah membawa aspek-aspek negatif. Hal ini saya rasa mampu
memberikan sedikit kekuatan dan justifikasi kepada mereka (perempuan) yang
memutuskan tidak ingin menikah. Harus diakui dan disadari, tidak semua
perempuan yang tidak menikah memilih status lajang karena terpaksa. Banyak juga
yang menganggap itu sebagai pilihan hidup yang sudah diyakini dan dimantapi.
Seperti Siocing, misalnya? Kalau hidup tanpa menikah pun sudah bahagia, lantas
mengapa perempuan harus dipaksa menikah?
Beralih
dari isu perempuan yang tak sengaja saya tangkap, saya juga menemukan adanya usaha
Teater Koma untuk tetap menyelipkan budaya
Indonesia bahkan turut serta di dalamnya isu-isu yang sedang marak di tanah
air. Misalnya saja di salah satu adegan, ada dalang yang muncul memainkan
wayang orang. Wayang orang ini merupakan salah satu kebudayaan Indonesia,
bukan? Kalian tau wayang orangnya siapa? Wayang orangnya tak lain adalah
Kohanbun, Tinio, Siocing, juga kakak Kohanbun, Kokiyong. Artinya, sesungguhnya
cerita tentang Ular Putih ini pun sedang diceritakan oleh seorang dalang di
atas panggung. Dalang inilah yang bertugas membawa kutipan-kutipan lucu yang
membuat penonton tertawa. Tugas mulianya yang lain menurut saya adalah menjadi
jembatan cerita dari zaman kapan ini menjadi tetap berkorelasi dengan zaman
sekarang. Dalang ini menyebut-nyebut soal SNI, kemudian menyebut-nyebut soal dalang
politik (kalau mendengar langsung dialog tentang ini, dijamin akan langsung
mengacu pada kondisi pemerintah!), dan menyindir-nyindir soal kondisi rakyat
yang menyedihkan dan memprihatinkan (yang saya duga kuat mengacu pada rakyat
Indonesia). Di sini, salut saya bertambah-tambah pada Teater Koma. Selain
mengemas ulang cerita Ular Putih yang sarat latar negeri Cina, Teater Koma juga
mampu membawa unsur keIndonesiaan di dalam karyanya. Usaha ini dapat dipandang
sebagai upaya untuk menyadarkan masyarakat Indonesia yang ada di bangku
penonton akan kondisi negara saat ini. Ah, sangat Teater Koma.
| Wayang oleh Dalang |
| Wayang oleh Dalang (2) |
Percaya
atau tidak, saya juga menangkap adanya sindiran terhadap kasus eksekusi mati yang akan dilakukan
pemerintah Indonesia dari salah satu dialog Tinio. Ceritanya, setelah Tinio
memaafkan Gowi atas sikapnya yang tak mengenakkan (mengadu pada Kohanbun
tentang siapa sosok Tinio sebenarnya), Siocing mengajukan protes. Siocing
heran, mengapa Tinio tak lantas membunuh Gowi saja, mengapa sebaliknya justru
dimaafkan? Jawaban Tinio sangat di luar dugaan dan secara spontan (atau
terlampau jauh), saya memahaminya sebagai salah satu pesan terhadap aksi
eksekusi mati. Tinio berpendapat bahwa pembunuhan tidak selamanya membuat
persoalan selesai. Kematian ada di tangan dewa dan dewalah yang berhak
menentukan. Dialog Tinio yang berisi pesan ini seakan ingin menyampaikan
‘makna’ lain. Bahwa pada hakikatnya memang hak hidup manusia tidak boleh dicabut
oleh sesama manusia. Hanya dewa —Tuhan— yang berhak menentukan. Kalau mau
dikaitkan dengan eksekusi mati di Indonesia, ah pasti akan jadi panjang sekali.
Intinya, entah disengaja atau tidak, Teater Koma berusaha menyampaikan pesan
‘kehidupan’ dan ‘manusia’ dalam salah satu adegannya. Beruntungnya, saya bisa
menangkap hal tersebut.
| Gowi yang menghasut Kohanbun |
Sebelum
membahas makna utama yang saya tangkap, masih ada satu adegan menarik yang bisa
saya kaitkan dengan kasus yang belakangan marak terjadi di negeri sendiri.
Ketika adegan Tinio mencuri rumput sakti untuk menolong suaminya, Kohanbun yang
pingsan hampir mati karena terkejut. Demi menolong makhluk yang tergolong
‘manusia’ pun, Tinio hampir dihukum. Lucunya, saya jadi teringat kasus-kasus
orang-orang gaek yang diperkarakan karena mencuri kayu jati, sebonggol pisang,
bahkan beberapa buah cokelat. Sesederhana itu untuk menolong orang, masih
dihukum (hampir) berat pula. Ya ya, memang pada dasarnya mencuri itu adalah
perbuatan tidak terpuji atau tercela. Namun jika dilakukan untuk kebaikan, ah
bahkan jika pelakunya tak berdaya? Dilematis memang. Hanya saja, saya jadi ragu
sendiri apakah benar hal ini yang hendak ‘diangkat’ Teater Koma? Atau hanya
interpretasi saya terhadap adegan curi-mencuri rumput sakti itu yang terlalu
jauh? Hmm, setiap orang bebas dalam memaknai, kan?
| Pencuri rumput sakti (Tinio) yang sedang memohon ampun dan...diampuni... |
Baiklah,
sesuai janji saya, cuap-cuap saya di awal bagian ini yang ingin membahas
tentang siluman yang lebih manusia, saya
akan memulainya dari keinginan Tinio yang teramat besar untuk menjadi manusia.
Ini menandakan bahwa memang manusia adalah sosok paling mulia di antara makhluk
hidup lainnya. Jadi siluman mungkin bebas berkelana, tetapi menjadi manusia,
Tinio dapat merasa. Tinio dapat mencinta, dapat merasa bahagia. Tinio dapat
merasakan kesedihan, kesakitan.
Banyak sekali rasa dari pada seorang manusia, ya? Seharusnya,
manusia-manusia seperti kita bangga menjadi manusia.
Ketika akhirnya berhasil menjadi manusia, Tinio benar-benar berusaha
untuk bersikap penuh lemah lembut, senantiasa berbuat baik, menderma dengan
mengobati orang-orang berpenyakit, serta tak lupa memberikan maaf bagi mereka
yang menebar aura permusuhan. Tak mudah, Tinio pun berusaha untuk sabar. Hal
ini direpresentasikan oleh tutur bicara Tinio yang pelan-pelan dan perlahan
seolah menyiratkan keanggunan dan kesabaran secara bersamaan. Di lakon ini,
siluman ular putih Tinio benar-benar menunjukkan keinginan yang besar untuk
menjadi ‘manusia’. Sosok yang dikenal baik, berakal budi, berhati mulia, dan
tidak menebar aura kebencian. Malangnya, Tinio yang bahkan telah terlihat
sempurna sebagai manusia, justru masih dikejar-kejar sebagai siluman. Yang
mengejar? Tentu manusia-manusia yang katanya pendeta dan murid pendeta. Predikatnya
memang mulia, tapi sikapnya? Tak ada yang menjamin. Hidup Tinio toh tetap harus
berakhir dengan dikurung dalam pagoda.
| Tinio telah dipagodakan oleh Pendeta Bahai dan Kohanbun datang menjenguk... |
Hal ini jelas memprihatinkan. Bagaimana bisa seseorang yang memiliki
masa lalu yang teramat kelam (sebagai siluman) namun telah berusaha menjadi
baik dan bermartabat, dapat dihabisi oleh mereka yang justru mengaku dianugerahi
sikap baik dan bermartabat? Saya rasa tidak perlu panjang lebar lagi
menganalisis tentang persoalan siluman baik dihabisi manusia (jahat) ini. Kita
hanya ingin disadarkan oleh lakon Opera Ular Putih tentang akal sehat dan
kecerdasan yang sepatutnya kita miliki, harusnya mampu membawa kita pada
penilaian yang sungguh objektif tentang siapa sebenarnya manusia dan yang mana
yang harusnya kita golongkan siluman? Saya pribadi menjadi berefleksi pada
kondisi sekitar, atau lebih luas, pada kondisi Indonesia.
MANUSIA ATAU SILUMAN?
Singkat saja, mereka yang sudah bersusah-payah memproduksi lakon Opera
Ular Putih ini saya duga hanya ingin memancing urat pikir kita untuk
merenungkan sikap dan perilaku diri sendiri sebagai individu. Sudah pantaskah
kita disebut manusia? Atau sesungguhnya, kita hanyalah siluman berwujud
manusia?
Akhir kata, saya ucapkan SELAMAT bagi pementas dan pencipta. Terus
berkarya, teater Koma. Ditunggu produksi selanjutnya.
Friday, March 27, 2015
SUBVERSIF! dari Institut Ungu: Mayoritas Selalu Benar = Tirani Kebenaran!
Tepat 13 hari setelah saya
menyaksikan pementasan ‘SUBVERSIF!’, akhirnya tulisan ini rilis juga. Tulisan
mengenai apa yang saya saksikan, serta apa yang saya rasakan dan pahami. Saya juga tak ketinggalan menerka-nerka kiranya apa yang ingin Institut Ungu selaku pencipta karya sampaikan kepada
penyimaknya.
Teuku
Rifnu Wikana sebagai Dokter Torangga
Ayez
Kassar sebagai Walikota Jokarna
Sita
Nursanti sebagai Karina, istri Dokter Torangga
Dinda
Kanyadewi sebagai Sarita, anak Dokter Torangga
Kartika
Jahja sebagai Billy
Andi
Bersama sebagai Martin Subrata
Madin
Tyasawan sebagai Hary Tamboga
Hendra
Yan sebagai Hoemario
Wawan Sofwan sebagai Danuro
merupakan karya pertunjukan
teater produksi Institut Ungu yang ke-9, diproduseri dan ditulis naskahnya oleh
Faiza Mardzoeki, serta disutradarai oleh Wawan Sofwan. Dikutip dari bagian kata
pengantar pada buku acara, di situ dijelaskan bahwa ‘Subversif!’ merupakan
naskah terjemahan dan adaptasi dari drama klasik berjudul ‘Enemy Of The People’ karya Henrik Ibsen, dramawan asal Norwegia
pada abad 19. Henrik Ibsen merupakan dramawan yang dikenal sebagai the father of realism dan salah satu
peletak dasar teater modern di dunia. Karya-karyanya dikenal sangat universal
dan melampaui jamannya. Enemy Of The
People merupakan salah satu masterpiece
Henrik Ibsen yang sudah banyak dipentaskan dan terus dipentaskan hingga
sekarang. Oleh Faiza, naskah tersebut diterjemahkan dan diadaptasi bebas ke
dalam konteks Indonesia kontemporer dengan judul yang telah disebutkan
sebelumnya, ‘SUBVERSIF!’.
SINOPSIS
‘SUBVERSIF!’
Pertunjukan teater ini bercerita
tentang kota bernama kota Kencana yang menjadi 'hidup' berkat adanya kehadiran
sebuah pabrik milik perusahaan tambang bernama PT Tambang Harapan Gemilang.
Seluruh lapisan warga masyarakat di Kota Kencana, mulai dari rakyat kecil
hingga pejabat tertinggi sepangkat walikota, semuanya menggantungkan nasib pada
PT Tambang Harapan Gemilang. Perusahaan ini seakan tidak tersentuh oleh gangguan
apapun sebab semua warga kota Kencana telah meletakkan harapan dan kepercayaan penuh pada kemunculan
pabrik tambang itu sampai suatu ketika, sosok Dokter Torangga muncul menghadirkan suatu masalah.
Masalah yang dibuat-buat? Tentu
bukan. Melalui penelitian yang dilakukan secara diam-diam terhadap penyakit
dengan gejala serupa yang menimpa beberapa pekerja pabrik, serta penelitian terhadap sample air yang hampir digunakan oleh seluruh
penduduk kota, Dokter Torangga menemukan kenyataan bahwa kota Kencana sedang
terancam bahaya serius. Bahaya itu terdapat pada aliran air kota Kencana dan
semua itu diduga muncul karena pencemaran limbah dari PT Harapan Tambang
Gemilang. Singkat kata, Dokter Torangga menyimpulkan bahwa seluruh warga kota
Kencana berpotensi terkena gangguan kesehatan akibat air yang tercemar itu.
Alih-alih mendukung Dokter
Torangga untuk menuntut perbaikan sistem pengairan dan pembuangan limbah, sang Walikota bernama Jokarna —yang juga merupakan kakak dari Dokter
Torangga—, pihak media (Hary Tamboga, Hoemario, dan Billy) —yang awalnya berhubungan dekat, serta menyuarakan
dukungan terhadap Dokter Torangga—, sampai rakyat sekalipun, pada akhirnya
berbalik menyerang Dokter Torangga hingga menjadikannya musuh rakyat.
Beruntung, anak dan istri dari
Dokter Torangga tetap mendukung perjuangan Dokter Torangga untuk menghadapi
politik kekuasaan yang berhasil memanipulasi kesadaran masyarakat luas. Dokter
Torangga yakin bahwa pada akhirnya kebenaran suci lah yang akan menang.
| Dokter Torangga di ruang kerja Billy dan Hoemario |
| Dokter Torangga 'masih' mendapatkan dukungan |
| Ketika Dokter Torangga hampir kehilangan dukungan |
‘SUBVERSIF!’
Dari Kacamata Saya
SUBVERSIF! Apa itu ‘subversif’?
Sungguh, saya tidak pernah mendengar kata itu sebelumnya apalagi mengerti dan
memahami artinya. Setelah kemudian saya mencari maknanya di dalam kamus bahasa
Indonesia, baru saya bisa memberi kata itu sebuah definisi. Definisi dari ‘subversif’
kemudian saya pahami sebagai sebuah upaya pemberontakan yang dilakukan untuk
merobohkan suatu struktur kekuasaan. Memang, kesan yang saya tangkap lebih condong
ke arah negatif. Dan kesan negatif dari kata ‘subversif’ ini dalam ‘SUBVERSIF!’
dilekatkan pada diri Dokter Torangga semenjak ia mengajukan pemberontakan dan
menuntut perombakan sistem pengairan dan sistem pembuangan limbah di kota
kelahirannya, kota Kencana. Namun apakah benar, Dokter Torangga melakukan
tindakan ‘subversif’?
Pertunjukan berdurasi sekitar 120 menit ini rupanya membawa saya melihat sebuah ‘realita’ yang bahkan sudah
diramalkan oleh penulis naskah aslinya, Henrik Ibsen, sejak satu abad silam.
Realita yang kerap ditemui meskipun sudah satu abad berlalu sejak karya ini
dicipta. Realita yang secara sadar atau tidak, juga terjadi di negara kita,
Indonesia. Setidaknya, begitu yang saya kira.
SUBVERSIF! mempertontokan sebuah
peperangan antara yang benar dan yang berpura-pura benar. Pihak yang pura-pura
benar ini seakan tidak memiliki ketakutan apapun atas kepura-puraan yang ia
lakoni. Mengapa? Jelas, karena ia sudah mengantongi hak milik sebuah senjata
yang sangat ampuh dan ‘mematikan’ bernama KEKUASAAN. Malangnya, pihak yang
justru benar-benar BENAR tidak memiliki senjata berharga itu. Sehingga mau
tidak mau serta suka tidak suka, pihak yang benar ini harus bersedia untuk terus bergerak maju, menerima
kenyataan agar tetap berpijak di atas kedua kakinya sendiri sambil berteriak
lantang membela kebenaran dan terus berusaha mengungkap fakta yang ada, dengan kepala
mendongak ke atas tanpa takut goyah. Senjata mereka adalah keyakinan akan kebenaran. Lantas, siapakah mereka yang ada di pihak ini?
Mereka, segelintir orang yang sering dijuluki sang idealis.
Sosok idealis dalam SUBVERSIF!
hanya diwakili oleh seorang Dokter Torangga. Ah ya, dan sesosok wanita muda
bernama Sarita patut juga dijuluki idealis sebab ia dengan keras dan tegas mempertahankan
dukungannya terhadap Dokter Torangga yang tak lain adalah ayahnya. Sarita
yakin, bahwa ayahnya tidak bersalah, bahwa ayahnya amat cinta pada kota
Kencana, dan bahwa ayahnya hanya ingin menyuarakan kebenaran. Lain halnya dengan
Karina istri Dokter Torangga, wanita ini (tadinya) lebih memilih aman
dan justru berpikiran mengajak Dokter Torangga untuk mengikuti perkataan walikota Jokarna (untuk
tidak mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya kepada masyarakat soal sistem
pengairan dan limbah yang bermasalah).
Alasan Karina sesungguhnya sangat
wajar, ia hanya tak ingin keluarganya terkena imbas buruk. Walikota Jokarna
telah mengeluarkan ancaman bahwa Dokter Torangga akan kehilangan pekerjaan apabila
memutuskan tetap melawan. Di sini, pribadi Karina tampil sebagai ibu
sekaligus istri yang ingin mengabdi pada kewajibannya menjaga keluarga dari
jerat permasalahan cukup serius. Tapi, kadang kala yang luput dari perhatian
adalah, apakah tidak akan bahaya juga jika mereka hidup aman namun dalam
keadaan terancam? Ya, terancam oleh situasi dan kondisi air yang sangat tidak
bersahabat dengan kesehatan, nyatanya? Tidakkah hampir sama bahayanya hidup
dalam ancaman kesehatan dan ancaman kekuasaan?
Sampai di sini, ada tiga hal yang
ingin saya coba bahas. Pertama, persoalan mengenai sosok idealis; kedua,
persoalan mengenai kecenderungan manusia mencari rasa aman yang lebih
kelihatan; dan ketiga, persoalan kekuasaan.
Idealis. Jujur, saya dulu sering
tertawa sinis menanggapi orang-orang idealis. Betapa mereka dengan yakinnya, pedenya, beraninya, serta dengan segala ketidaktakutannya,
mampu untuk menyatakan pendapat, ide, dan hal-hal yang mereka yakini benar.
Seorang idealis di mata saya adalah seorang yang tak mampu digoyah apapun.
Keras kepala? Mungkin. Mudahnya, seorang idealis seringkali tidak kompromis.
Mereka sudah merasa cukup bermodalkan keyakinan bahwa apa yang diyakininya
benar. Saya menduga, seorang idealis tidak akan pernah takut berjalan
sendirian. Jadi, kalau seseorang masih takut berjalan sendirian di jalur
pikirannya sendiri yang dia yakini benar, saya rasa itu bukan sikap seorang
idealis.
Menyaksikan SUBVERSIF! membuat
saya sedikit berefleksi tentang sikap saya selama ini terhadap sosok idealis. Tanpa
ragu sedikitpun, saya menyatakan bahwa saya bukan sosok idealis. Ah, bahkan
seringkali kompromis. Namun begitu, Dokter Torangga seakan ‘menyentil’ saya
bahwa sosok idealis tidak selamanya membuat sinis. Sikap idealis toh nyatanya dibutuhkan untuk perubahan.
Terlebih jika memang ‘sesuatu’ yang diyakini itu berlandaskan pada kebenaran
dan fakta. Untuk apa sih takut jika
memang benar? Untuk apa sih takut
berjalan sendirian dan ditinggalkan jika yang diperjuangkan adalah kebenaran?
Eits, di sini saya kira letak masalahnya. Manusia tidak dapat hidup sendirian, begitu katanya.
Sehingga, terkadang sikap idealis seseorang goyah karena ketakutan-ketakutan
akan ancaman-ancaman yang muncul sebagai dampak sebuah pernyataan sikap. Di
situlah seorang manusia yang mengaku idealis diuji oleh keadaan. Sanggupkah ia
bertahan pada ‘sesuatu’ yang ia yakini benar meskipun pada akhirnya ia harus
sendirian? Atau justru ia terseret ke dalam bentuk-bentuk kompromi yang
menghadirkan rasa aman?
Dokter Torangga memilih opsi yang
pertama. Ia tetap bertahan pada apa yang ia yakini benar, meskipun seluruh
warga kota Kencana, mulai dari lapisan ‘rakyat’ hingga pemimpin yang juga
kakaknya sendiri, memusuhinya. Dokter Torangga dengan gagah menerima gelar ‘Musuh
Rakyat’ yang disematkan padanya. Karena ia tahu, dan ia yakin, sesuatu yang ia
pegang teguh itu adalah kebenaran. Dan kebenaran akan selalu menang. Begitu ‘ide’nya. Di sini, sebuah sisi manis ikut
muncul. Sarita —yang memang juga tidak takut akan hal apapun, bahkan tidak mengenal
kata kompromi— dan Karina, sebagai dua orang yang berelasi keluarga dengan
Dokter Torangga, tetap menyuarakan lantang dukungannya. Meskipun kondisi
kehidupan mereka sudah sangat memprihatinkan —kaca rumah ditimpuki batu, pun
mereka diusir, Dokter Torangga sudah dipecat—, mereka tetap bersama-sama dan
tak terpisah sedikit pun sebagai satu kesatuan utuh bernama ‘keluarga’. That’s what your family is for, right?
Saya kira, keberadaan sosok
idealis masih cukup jarang pada masa sekarang. Sebagian besar orang lebih
cenderung mencari rasa aman dan berlindung di bawah ketiak yang berkuasa. Adapun
mereka yang berjuang hingga titik darah penghabisan, kalah oleh mereka yang
duduk di tahta kekuasaan. Apa benar begini? Atau mungkin hanya dugaan saya
semata saja? Sebagai bukti, Indonesia masih membutuhkan dan
menggadang-gadangkan revolusi mental. Tandanya, mental masing-masing individu
sudah memasuki tahap kritis dan harus segera diperbaiki. Mungkin termasuk
mental saya juga di dalamnya.
| Rumah mereka, hancur |
Sebagai seorang manusia, saya
kira sangatlah wajar jika masing-masing individu mencari perasaan aman. Bahkan,
dengan cara apapun, termasuk di dalamnya dengan berkompromi. Namun saya rasa
tidak semua kompromi itu baik adanya. Salah-salah berkompromi, bisa-bisa
seseorang dapat terjebak di dalam keputusan yang ia ambil sendiri. Jika Karina
bersikukuh memaksa Dokter Torangga untuk menyerah, mungkin mereka akan hidup
dalam rasa aman. Aman karena Dokter Torangga tak akan dipecat dan tak akan
kehilangan pekerjaan. Hasil kompromi, kan?
Tapi jikalau demikian, mereka akan menjadi buta atau pura-pura buta terhadap
keadaan air yang tercemar dan sewaktu-waktu dapat menimbulkan dampak yang luas
bagi seluruh penghuni kota Kencana. See?
Coba, saya tunjukan satu contoh
lagi di dalam SUBVERSIF!.
Di akhir cerita, saat Dokter
Torangga sudah berada dalam kondisi amat terpuruk, datanglah seorang tua
bernama Martin Subrata yang juga merupakan ayah dari Karina, istri Dokter
Torangga. Dengan menggunakan harta warisan yang tadinya akan diserahkan kepada
anaknya, Karina dan cucunya, Sarita, Martin Subrata memilih untuk memborong
seluruh saham PT Tambang Harapan Gemilang. Tujuannya, ia ingin meminta Dokter
Torangga memanfaatkan borongan saham tersebut sebagai modal untuk memulai hidup
yang baru.
Di sini Dokter Torangga ditawarkan
kembali ‘rasa aman’ itu. Apakah Dokter Torangga menerimanya? Sekalipun telah diancam
oleh Martin bahwa jika saham itu ditolak, Karina dan Sarita tidak akan
mendapatkan harta warisan, Dokter Torangga tetap tak bergeming. Surat saham PT
Tambang Harapan Gemilang itu berakhir dalam bentuk robekan-robekan kecil.
Karina dan juga Martin Subrata
dalam kedua contoh tadi hanya mencoba menawarkan ‘rasa aman’ yang menurut hemat
saya, memang dibutuhkan oleh manusia. Namun kadang kala, rasa aman yang ‘kelihatan’
itu bisa saja berpotensi menjebak. Pada bagian ini, saya mendapatkan satu hal.
Sebuah langkah kompromistis tidak selamanya memberikan rasa aman yang nyata.
Terkadang, dampaknya hanya bersifat semu dan lebih dari pada itu, ada hal lain
yang bisa saja jauh lebih mengancam. Adalah tugas seorang individu untuk dapat
melihat dan mencari dengan sangat cermat dan jeli, celah untuk menemukan rasa
aman menggunakan seminim mungkin pendekatan kompromistis. Berjuang untuk menggemakan yang dirasa diri benar, mungkin?
Hal yang terakhir dan sekaligus
menjadi inti berbagai permasalahan yang ada, adalah KEKUASAAN. SUBVERSIF!
dengan sangat jelas menunjukkan bahwa mereka yang berkuasa akan dengan sangat
mudah mengontrol keadaan. Pihak-pihak yang berkuasa di sini, yakni walikota
Jokarna, pemilik media Hary Tamboga, dan jajaran direksi PT Tambang Harapan
Gemilang —yang tak pernah dimunculkan— seakan berkongkalikong untuk membentuk
opini publik yang menyatakan bahwa kesalahan seutuhnya terletak pada diri
Dokter Torangga, bahwa apa yang diteliti Dokter Torangga itu tidak benar, dan bahwa Dokter Torangga sedang berusaha menghancurkan kota Kencana. Saat-saat inilah yang dikatakan sebagai manipulasi kesadaran publik oleh mereka yang berkuasa.
Ada satu adegan yang lucu terkait
dengan kekuasaan. Dalam satu rapat umum terbuka yang diadakan oleh Dokter
Torangga untuk mengungkapkan kebenaran terkait kondisi air di kota Kencana,
yang memimpin rapat sama sekali bukan dari pihak Dokter Torangga, melainkan
dari pihak yang beroposisi, yakni Hary Tamboga. Hal ini dapat terjadi karena
dengan kekuasaan dan pangkatnya sebagai ‘WALIKOTA’, Jokarna berhasil
mempengaruhi massa yang hadir untuk bersepakat memilih pemimpin rapat dan itu
adalah Hary Tamboga.
Dengan disetujuinya seorang Hary
Tamboga menjadi pemimpin rapat, maka peluang bicara Dokter Torangga di acara
yang dia helat sendiri pun makin minim. Lucu sekali bukan? Tidak memiliki
kebebasan di acara yang diadakan oleh diri sendiri? Begitulah hebatnya ‘KEKUASAAN’.
Mampu ‘mempermainkan’ mereka yang tidak banyak tahu, tidak banyak memegang
peranan, dan tidak banyak berkuasa.
| Setelah bersusah payah merebut kesempatan bicara |
KEKUASAAN tidak selamanya negatif,
memang. Jika KEKUASAAN digunakan sebagai alat yang semestinya, sepatutnya, dan
seharusnya, maka ia akan menjadi senjata yang mensejahterakan. Namun jika
disalahgunakan? Maka sudah pasti yang bergulat di sana adalah orang-orang
opportunis yang menggunakan kekuasaan sebagai alat untuk mencapai kepentingan
pribadi. Contoh lagi?
Masih ingat contoh saya di atas
mengenai Martin Subrata yang ‘menghadiahi’ Dokter Torangga setumpuk surat
saham? Ketika mengetahui hal ini, Hary Tamboga dan dua kroninya, Billy dan
Hoemario dengan serta merta langsung mendatangi rumah Dokter Torangga seakan
tidak punya malu, dan mereka langsung mencari muka, menjilat, dan mengambil
hati. Saya seketika merasa geli dan jijik sendiri melihat adegan ini saat itu.
Ada ya, orang yang tidak punya rasa malu begitu?
SINGKAT
KATA
SUBVERSIF! memang bukan pertunjukan
teater musikal yang dipenuhi musik dan lagu-lagu menarik sepanjang pertunjukan.
Bukan pula pertunjukan yang menawarkan kemegahan, kemeriahan, atau
dekorasi-dekorasi yang rumit.
Hanya ada tiga hal yang membuat saya ‘mengingat’ pertunjukan ini yakni pertama, tata panggungnya dibuat sedemikian unik dengan eksperimen penggunaan dinding-dinding yang berputar pada suatu poros yang sama untuk menciptakan ruang-ruang panggung. Belakangan diketahui bahwa bentuk panggung ini adalah upaya untuk memvisualisasikan sistem ekspolorasi tambang yang ‘berputar pada satu poros’ ketika melakukan pengeboran. Di SUBVERSIF!, ruang yang dibutuhkan setiap adegan akan tercipta jika dinding set panggung SUBVERSIF! digerakkan memutar. Kemudian yang kedua, saya terkesima dengan akting para pemerannya, terutama dan sangat utama, jelas kepada Teuku Rifnu Wikana selaku Dokter Torangga. Ketiga dan yang paling mengesankan, SUBVERSIF! membuat saya mampu berefleksi, terutama berpikir dalam persoalan individu dengan pergulatannya bersama idealisme, rasa aman, dan kekuasaan, serta berefleksi juga tentang keadaan negara yang senyata-nyatanya di bumi Indonesia.
Hanya ada tiga hal yang membuat saya ‘mengingat’ pertunjukan ini yakni pertama, tata panggungnya dibuat sedemikian unik dengan eksperimen penggunaan dinding-dinding yang berputar pada suatu poros yang sama untuk menciptakan ruang-ruang panggung. Belakangan diketahui bahwa bentuk panggung ini adalah upaya untuk memvisualisasikan sistem ekspolorasi tambang yang ‘berputar pada satu poros’ ketika melakukan pengeboran. Di SUBVERSIF!, ruang yang dibutuhkan setiap adegan akan tercipta jika dinding set panggung SUBVERSIF! digerakkan memutar. Kemudian yang kedua, saya terkesima dengan akting para pemerannya, terutama dan sangat utama, jelas kepada Teuku Rifnu Wikana selaku Dokter Torangga. Ketiga dan yang paling mengesankan, SUBVERSIF! membuat saya mampu berefleksi, terutama berpikir dalam persoalan individu dengan pergulatannya bersama idealisme, rasa aman, dan kekuasaan, serta berefleksi juga tentang keadaan negara yang senyata-nyatanya di bumi Indonesia.
(Benar-benar) singkat kata,
SUBVERSIF! seakan menampilkan betapa opini publik dan pemberitaan sosial dapat
dimonopoli oleh para pemengang kuasa. Dan ini mungkin saja benar terjadi pula
di Indonesia, di mana banyak media secara terang-terangan memihak pihak-pihak
tertentu yang punya kepentingan. Kelihatannya, mereka masih cukup netral atau
malah berusaha netral, namun siapa yang pernah tahu? Untuk itu, massa
bermahkotakan nama ‘RAKYAT’ harus benar-benar mau menjadi cerdas sebelum
menilai suatu hal. Salah-salah menilai, mereka di atas sana bisa-bisa
mentertawakan kebodohan kita rakyat-rakyat kecil tak punya pangkat ini, karena telah terjebak ke dalam permainan mereka menciptakan pembodohan massal. So, let's be smart!
| SELAMAT! |
“Mayoritas
selalu benar adalah tirani kebenaran! Mayoritas selalu benar adalah kebohongan
sosial! Setiap manusia merdeka dan berakal sehat harus memberontak terhadapnya”
“Aku
manusia merdeka dan terhormat. Sekalipun bumi runtuh, aku tak akan tunduk.” -
Dokter Torangga
“Untuk
mendapatkan kemenangan dan kebebasan, selalu dibutuhkan pengorbanan.” – Dokter Torangga
Subscribe to:
Posts (Atom)