Showing posts with label campus life. Show all posts
Showing posts with label campus life. Show all posts

Tuesday, February 10, 2015

Jenjang Pendidikan Master/S2: Kebutuhan Atau Keinginan?

Hello!

Bagi kalian yang akhirnya meng-klik link tulisan ini setelah menemukannya di media sosial manapun, saya ucapkan selamat serta terima kasih :). Selamat karena kalian sudah mau saya bikin galau atas pilihan S2 kalian dan terima kasih karena kalian mau membaca sedikit pandangan saya tentang pendidikan S2.

Galau? Hm, sebenarnya saya tidak bermaksud menyebut ini galau. Saya yakin, jikalau kalian sudah mantap dengan pilihan kalian untuk melanjutkan pendidikan S2, kalian tidak akan terpengaruh oleh apapun yang saya tulis di sini. Percayalah, saya tidak ingin menggagalkan apapun. Saya hanya ingin membagi, menyampaikan, ataupun mengemukakan gagasan saya. Boleh ya? Boleh kan, boleh dong*?

*hehe, gaya kan-dong ini sudah lama sekali ya saudara-saudara*

(Dulu) Saya mau S2!

Jujur saja, saya tentu pernah bersinggungan dengan keinginan (cita-cita) untuk menempuh pendidikan S2. Semua bermula ketika saya pertama kali mengunjungi EHEF (European Higher Education Fair) sebuah pameran pendidikan tinggi di Eropa yang memberikan banyak sekali penawaran dari berbagai kampus di Uni Eropa dan sekitarnya pada tahun 2011 atau pada saat saya sedang menempuh pendidikan semester tigaWaktu itu, setelah berkeliling dari ujung ke ujung arena pameran, saya akhirnya jatuh hati pada sebuah kampus bernama SciencesPo. di Paris. Pilihan itu diambil karena saya menemukan bahwa kampus tersebut adalah kampus yang mencetak sebagian besar orang besar di Prancis. Sebut saja Jacques Chirac atau François Hollande. Selain itu, saya menemukan program studi yang saya ingin ambil, yakni S2 Jurnalisme, ada di SciencesPo.

Pulang dari acara tersebut, saya membulatkan tekad dalam diri saya untuk mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang pendidikan S2 di Prancis, terutama pendidikan S2 Jurnalisme yang ingin saya tempuh di L'école de journalisme de Sciences Po. Mulai dari biaya (paling penting!), cara mendaftar, lama pendidikan, biaya hidup, tempat tinggal, dan banyak lagi. Ijin orang tua juga tidak ketinggalan. Setuju tidak setuju, ijin itu bisa dibilang lampu hijau yang paling penting sebelum saya dapat melesat mencari info-info yang saya butuhkan.

Nyatanya oh nyatanya, ijin itu tak kunjung datang. Berbagai alasan mulai dari posisi saya sebagai anak tunggal yang akan membuat rumah semakin sepi jika pergi, kemudian dana perkuliahan yang pasti tidak sedikit, sampai alasan remah-remah seperti umur yang terus bertambah selagi saya berkuliah es duamulai dilontarkan secara terstruktur, sistematis, dan masif (kayak familiar dengan istilahnya, ya?). Lama-kelamaan, niat itu luntur juga seiring dengan ijin yang tak kunjung rilis. Lama-kelamaan, saya hanya sering berkunjung ke laman kampus itu tanpa benar-benar mengorek informasi. Pada akhirnya, sampai saya lulus kuliah di akhir tahun 2013 kemarin, saya sama sekali tidak berhasil mengumpulkan data yang bisa dikatakan berarti. 

Sedih? Tentu. Saya merasa tidak cukup memperjuangkan keinginan saya untuk berkuliah S2. Kecewa? Bisa dikatakan, iya saya cukup kecewa. Di saat teman-teman yang lain mulai dengan mantap menjawab "Iya, gue mau lanjut S2" saat ditanya tentang pilihan S2 atau langsung kerja, saya justru masih mengawang-ngawang di antaranya. Mau S2, belum menentukan di mana. Mau kerja, juga belum tau mau kerja di bagian apa dan di mana. Lalu, akhirnya?

S2/Kerja? Nyatanya, Kerja

Beberapa waktu sebelum saya resmi diwisuda, saya mendapatkan sebuah tawaran pekerjaan dari pembimbing akademis saya. Lantas, beberapa hari sebelum wisuda, saya resmi bekerja sebagai salah satu anggota divisi Marketing sebuah perusahaan yang bergerak di bidang bakery industry. Akhirnya saya bekerja dan bukan sibuk mengurus es dua. 

Selama saya bekerja, ada beberapa hal yang terpaksa ditunda. Salah satunya, jurnal untuk mendapatkan ijazah (untungnya sih, sekarang ijazah sudah di tangan setelah satu tahun wisuda). Selama bekerja itu pula, saya mencoba mencari apa yang saya inginkan. Apakah benar-benar ingin S2? Atau hanya ingin serius bekerja?

Saya mulai mengajukan ijin yang kedua kalinya kepada orang tua saya. Hasilnya? Tetap saja tidak ada ijin untuk S2 di luar negeri. Kalau memang benar ingin S2, dalam negeri saja sudah cukup. Tidak perlu jauh-jauh. Toh gelarnya sama-sama master. Di samping usul itu, orang tua saya mencoba memberikan pengarahan, apakah benar-benar S2 itu kebutuhan saya? Pengarahan tersebut kemudian bukan tanpa contoh. Beberapa nama saudara yang sedang menempuh S2 (bahkan S3) dan belum menikah turut diikutsertakan dalam perbincangan tersebut. Alhasil, selanjutnya saya mencoba untuk berpikir ulang tentang ide menempuh pendidikan S2.

Tidak, Saya Tidak Ingin S2

Saya mencoba berpikir pelan-pelan. Pertama, saya bukan tipe penulis makalah ataupun skripsi yang baik. Lulus dari S1 saja, saya tidak membuat skripsi. Orang boleh bilang kuliah saya hampa tanpa skripsi atau saya tidak mampu menghadapi tantangan hidup karena tidak mau skripsi. Tapi, hey, tantangan hidup tidak hanya pada skripsi *pembelaan*. Kembali ke topik, skripsi saja saya tidak punya, apalagi saya diharuskan membuat tesis? Mungkin bisa lebih dari dua atau tiga tahun itu gelar master baru nempel di belakang gelar S.Hum saya. Kedua, masih terkait dengan alasan menulis, membuat jurnal saja, saya butuh satu tahun untuk benar-benar fokus. Apalagi membuat tesis sambil mencari uang sendiri? Untuk itu, saya teramat salut bagi mereka semua yang berhasil menelurkan sebundel tesis di akhir studi S2 mereka, terlebih bagi mereka yang membuatnya sambil bekerja dan mencari penghasilan. Cool! Ketiga, kalaupun saya menempuh S2 di negeri sendiri, dan saya mengambil pendidikan jurnalisme, saya nggak yakin saya akan betah memaksakan beragam ilmu dan teori itu masuk ke dalam otak saya. Eventhough I really love writing and journalism. Saya nggak ngebayangin berapa banyak jurnal dan tulisan ilmiah yang harus saya buat sebagai seorang mahasiswa es dua. Bukan tulisan dengan genre itu yang saya suka. Nantinya ketika saya beneran jadi reporter atau jurnalis atau wartawan, yang saya tulis juga bukan jurnal ilmiah, tetapi berita. Yang saya tuangkan bukan teori A, atau teori B, akan tetapi kejadian apa yang saya lihat di lapangan. Keempat, ini mungkin alasan yang sangat subjektif. Saya tidak mau menempuh pendidikan es dua hanya karena saya tidak ingin kalah saing dengan teman-teman yang lain. Istilahnya, saya tidak ingin menjadi mahasiswa es dua hanya untuk gaya-gayaan semata. Saya ingin, kalaupun saya benar-benar menempuh pendidikan S2, itu saya lakukan karena saya benar-benar ingin dan benar-benar butuh. Pada akhirnya, renungan saya berujung pada konklusi bahwa, bukan pendidikan es dua yang saya butuhkan, melainkan pengetahuan umum dan pengetahuan yang luas. Sekiranya dapat pula ditambah dengan pikiran yang terbuka, sikap yang berani, mental yang kuat, dan pengalaman yang banyak. Saya lebih tertarik belajar di lapangan daripada belajar di kelas. Saya lebih merasa ujian hidup jauh lebih keras daripada sekadar ujian di dalam kelas. Saya lebih memilih bertemu orang banyak, atau diceramahi beberapa orang yang berpengalaman, dibandingkan harus bertemu dengan dosen yang sama setiap harinya. Saya akhirnya menyadari bahwa saya bukan orang yang suka terikat dengan institusi pendidikan. 

Lha, Terus Kenapa Dulu Kuliah S1?

Iya juga ya, kalau saya pada akhirnya berpikir tidak membutuhkan S2, kenapa dulu saya harus kuliah S1? Harus capek-capek menguras otak, membuang waktu dan tenaga hanya demi sebuah gelar sarjana? Harus bela-belain masuk kuliah demi bertemu dosen yang itu lagi itu lagi? Harus berjuang begadang sampai tengah malam demi membuat makalah atau belajar untuk ujian? Harus bersusah payah menghafalkan konjugasi bahasa Prancis yang alamak susahnya?

Inilah uniknya S1 bagi saya. Perkuliahan menempuh gelar S1 tidak hanya memberikan saya teori dan ilmu kaku. Akan tetapi, perkuliahan juga memberikan saya babak baru dalam menempuh hidup. Perkuliahan memberikan saya banyak 'bekal' baru yang mampu membuat saya 'kenyang' di masa depan. Perkuliahan bagi saya merupakan jembatan peralihan dari pola pikir saya yang masih remaja menuju pola pikir dewasa. Oleh karenanya, S1 bagi saya tetap menjadi istimewa meskipun saya harus berjuang sedemikian rupa meraih gelar sarjana. 

Singkat kata (karena bukan bagian ini yang utama), saya merasa S1 tetap penting karena adanya perbedaan-perbedaan signifikan antara pendidikan S1 dengan pendidikan SMA. Mungkin bisa saya jabarkan beberapa.

1. Jadwal
Dari segi jadwal saja sudah berbeda. Di SMA, yang mengatur jadwal seorang siswa adalah sekolah. Masuk setengah tujuh pulang pukul satu. Di kuliah? Yang memilih jadwal adalah mahasiswa. Yang menyediakan jadwal memang masih tim dari program studi. Akan tetapi, mau atau tidaknya seorang mahasiswa memilih jadwal yang sudah disediakan itu sepenuhnya menjadi hak mahasiswa, bukan?

Pada aspek ini,
seorang mahasiswa mulai dikenalkan pada kebebasan,
dan
seorang mahasiswa mulai dikenalkan pada kemandirian.

2. Aktif
Di SMA, semua buku sudah disediakan untuk setiap pelajaran. Di perkuliahan? Meskipun referensi buku sudah diberikan oleh dosen, setiap mahasiswa masih harus mencari tambahan referensi lain demi lebih memperoleh ilmu. Syukur-syukur kalau buku yang menjadi referensi ditulis dalam bahasa Indonesia. Kalau ditulis dalam bahasa Inggris atau bahasa Prancis (bagi saya?), akan lebih sulit bukan?

Pada aspek ini,
seorang mahasiswa mulai diajarkan untuk memiliki inisiatif,
dan
seorang mahasiswa mulai diajarkan untuk berjuang lebih keras dalam memahami mata kuliah yang sedang dipelajarinya.

3. Tugas-tugas Hingga Skripsi
Saya tidak menampik bahwa saya juga menemukan setumpuk PR atau tugas yang diberikan oleh para guru di tingkat SMA. Kadang-kadang malah gurunya tega, PRnya dikasih hari ini, dikumpulkannya esok hari. Masih mending juga tugas-tugas di perkuliahan. Dikasih hari ini, dikumpulkannya bisa minggu depan, atau dua minggu kemudian. Namun eits jangan salah, standar mencapai A jangan dikira rendah. Sudah menulis susah payah saja, kadang-kadang nilai yang dicapai baru B-. Kalau dianugerahi kemampuan menulis karya ilmiah yang baik dan mumpuni, baru deh nilai A dijamin mampu dikantongi. 

Skripsi sebagai salah satu syarat lulus juga merupakan anggota setia dari keluarga karya ilmiah (terima kasih seribu bagi program studi Prancis dan bagi para pembuat kebijakan di UI yang justru memberikan kemudahan mahasiswanya untuk lulus tanpa skripsi). Saya yakin, seseorang yang melewati skripsi akan bisa menghadapi tantangan hidup lainnya. Meskipun di awal tulisan ini saya bilang bahwa tantangan hidup bukan hanya skripsi, akan tetapi orang-orang yang mampu melewati tahapan penulisan skripsi dan bukan melepasnya atau bahkan meninggalkannya di tengah jalan adalah orang-orang yang saya rasa kuat dan hebat!

Bukan berarti orang-orang yang lulus non-skripsi tidak kuat dan hebat. Meskipun tidak skripsi dan hanya membuat jurnal, mereka juga hebat karena mampu menghasilkan sebuah karya ilmiah (iya, kan jurnal juga karya ilmiah, bro!). Mendapatkan tanda tangan persetujuan dari seorang pembimbing jurnal juga bukan sesuatu yang bisa digampangkan loh ya (curhat). 

Ketiga poin di atas mungkin baru segelintir 'bekal mental' yang saya dapatkan selama perkuliahan. Masih banyak pengalaman dan pelajaran lain yang saya kenyam selama saya berjuang mendapatkan gelar sarjana Humaniora. Bukan hanya saya, saya yakin juga beribu-ribu mahasiswa di luar sana yang akhirnya berhasil mendapatkan macam-macam gelar sarjana, telah berhasil menangkap berbagai macam ilmu selain ilmu di dalam kelas. Untuk itu, sekali lagi saya katakan, S1 bukan hanya tempat saya menimba ilmu tetapi juga arena peralihan saya dari yang berpikir ala remaja, menjadi seorang yang mampu berpikir dewasa.

Jadi, apakah S1 penting bagi saya? Jelas, S1 itu penting. 

Kok Bisa S1 Penting, S2 Nggak?

Kalau saya masih membahas ini lebih mendetil lagi, itu tandanya saya akan berputar-putar di satu tempat saja. Inti dari segala inti adalah, saya merasa pendidikan strata satu dan proses perjuangan saya mendapatkan sebuah gelar adalah sudah lebih dari cukup untuk menjadi bekal hidup saya bertahun-tahun ke depan. Sudah saatnya saya mencari arena bermain lain yang berbeda dari sekadar 'ruang kelas' dan lingkup akademis. Sudah tiba waktunya saya terjun ke 'lapangan', belajar dari kejadian, dan berkaca pada realitas. Karena bagi saya pribadi, hal-hal di luar sana akan jauh lebih menarik dan memperkaya diri saya dibandingkan dengan mengejar gelar master saja. 

Setidaknya, saya sudah cukup puas karena pernah diperkenalkan dan diperkenankan bermain di dalam lingkungan akademis yang jauh lebih serius dan menegangkan dari pada hanya sekadar mengejar nilai di sekolah. Setidaknya, saya pernah tahu bagaimana mengurus riwayat akademis diri sendiri, kenal akan susahnya memperjuangkan kata 'lulus' di setiap mata kuliah, serta pernah lulus, memakai toga dan diwisuda.

Saya tidak mengatakan pendidikan S2 tidak penting. Bagi sebagian besar orang, S2 mungkin tergolong sangat penting karena merupakan kelanjutan dari pendidikan S1 yang ia tempuh. Pada beberapa program studi misalnya saja dalam pendidikan kedokteranjenjang S2 tentu dibutuhkan untuk memperoleh ilmu yang lebih spesifik lagi dibandingkan dengan ilmu pendidikan S1 yang lebih umum. Selain itu, pendidikan S2 juga kiranya penting bagi mereka yang ingin menjadi tenaga pengajar atau dosen di universitas. Di sini, posisi S2 menjadi kebutuhan yang benar-benar dibutuhkan.

Jadi, S2 bukannya tidak penting. Semua itu hanya bergantung pada apa tujuan seseorang menempuh pendidikan S2.

Bagi Saya, S2 Masih Merupakan Keinginan Semata

Segala celotehan di atas sejatinya hanya ingin menunjukkan bahwa, tidak selamanya pendidikan S2 itu menjadi kebutuhan seseorang. Buktinya, saya pribadi hingga sekarang masih merasa bahwa gelar master itu hanyalah keinginan selewat saja, bukan kebutuhan. Hanya berada di tataran keinginan pun belum cukup. Artinya, belum tentu saya akan memperjuangkan gelar tersebut karena bukan pendidikan formal semacam itu yang saya sukai. Bukan gelar tersebut saja yang harus saya pikirkan, melainkan juga kesiapan saya untuk mampu berdamai dengan proses pencapaian itu nantinya. Bagaimana jika saya tidak bisa menikmati prosesnya? 

Ya betul, untuk mencapai suatu tujuan, dalam hal ini gelar master, saya harus mampu melewati semua prosesnya. Namun, jika saya menemukan bahwa gelar master ini bukan tujuan utama yang benar-benar saya inginkan dan butuhkan dalam hidup saya, bukan pula menjadi satu-satunya cara untuk memperoleh tujuan hidup saya yang sebenarnya, apakah saya tetap harus memaksakan diri? Tentu tidak.

Pada akhirnya, saya tetap pada pilihan saya untuk tidak melanjutkan S2.

Kalaupun nanti S2 akan menjadi sebuah kebutuhan mendesak bagi saya, saya mungkin tidak akan mampu melarikan diri darinya. Hanya saja, karena S2 masih di batas keinginan dan belum mendobrak ke dalam batas kebutuhan, saya rasa, saya masih akan belajar dari lapangan saja. So, bye-bye S2!!!

Akhir Kata

Sesuai dengan sub-judul bagian ini akhir kata, saya hanya ingin mengajak teman-teman yang memiliki keinginan menempuh S2 untuk benar-benar memantapkan diri akan pilihannya. Apakah S2 adalah sesuatu yang benar-benar kalian inginkan dan butuhkan? Apakah proses pendidikan S2 akan bisa kalian jalani dan nikmati? Yang terpenting, kalian harus bisa menjawab pertanyaan ini dengan yakin, 'Apa tujuan kalian menempuh pendidikan S2?'


Sumber
PS:

Saya tergelitik untuk melahirkan tulisan ini karena hingga saat ini, saya masih banyak melihat orang lain (sebagian di kalangan teman-teman saya sendiri) yang mampu mendapatkan pekerjaan hebat ketika ia baru lulus dari pendidikan S1. Beberapa bahkan menjadi reporter atau jurnalis (my future job, I wish) tanpa memiliki gelar master di belakang gelar sarjana-nya.

Faktanya, beberapa teman saya yang tidak melanjutkan kuliah S2 atau bahkan mereka yang tidak cerdas di pendidikan S1nya, mampu memiliki wawasan yang lebih luas, serta memberikan saya pelajaran hidup yang amat berharga yang tidak akan saya dapatkan di bangku kuliah. Terima kasih untuk kalian!

Saturday, January 31, 2015

Untuk MFK: Cepat Sembuh!

Memang, nggak akan ada yang pernah tahu kapan seseorang bisa terserang penyakit dan kapan ia akan sembuh. Nggak akan ada yang pernah tahu, wujud penyakit seperti apa yang mungkin saja menyerang. Kita cuma bisa mencegah dan mungkin berjaga-jaga. -sederet kalimat yang entah dicetuskan siapa
Faqih, akhirnya kamu membuktikan kata-kata di atas itu benar adanya. Semua kaget kamu sakit, semua nggak nyangka kamu tiba-tiba tergolek lemas tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Mata kamu terbuka, tetapi kamu tidak menatap pasang mata teman-teman yang datang. Kamu hanya memandang lurus ke atas. Tangan kamu bergerak, tapi tak sedikitpun kamu bisa membalas sentuhan tangan teman-teman yang peduli sama kamu. Kamu hanya menggenggam telepon genggammu dengan erat, itupun karena suster yang menyarankan. Mulut kamu membuka namun kamu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Kepalamu menoleh kiri kanan tapi tak sejenakpun kamu mengalihkan pandanganmu kepada mereka yang datang. Mengapa kamu terlihat begitu kosong, Faq?

Faqih, saya teringat, beberapa waktu lalu kita sempat lebih dari sekali berbalas pesan singkat. Saya memang tak sesering itu mencipta komunikasi dengan kamu, tapi obrolan di pesan singkat itu membuat kita banyak bercerita. Dari obrolan itu, saya tau kamu pernah kena penyakit dan sedang dalam proses penyembuhan. Kamu kuat, loh Faq. Buktinya, kamu berhasil menjalani proses pemulihan hingga hampir lima bulan. Lalu, kamu juga bilang kalau kamu punya keinginan bekerja di Google. Ya ampun, Faq, kamu nggak bisa kerja di Google kalau kamu nggak sembuh dari sakitmu sekarang juga! Masih melalui obrolan singkat itu juga, kita mencoba membuat rencana jalan-jalan singkat kan, Faq? Hang out ala ala anak gaul Jakarta, Faq. Waktu itu saya minta kamu temenin saya ke Citos di saat teman-teman yang lain nggak bisa, tapi kamu juga ikutan nggak bisa, terus kita malah mau jalan-jalan di lain waktu. Ya kan Faq? Isi obrolan singkat yang kita lakukan itu masih saya ingat Faq, meskipun sebelumnya kita super jarang ngobrol kayak gitu.

Faqih, sepulang saya dan Vina jenguk kamu hari ini tanggal 31 Januari, saya kembali buka foto-foto saya pas gladi resik wisuda. Waktu itu, kamu sama Sekar nyamperin saya ngasih selamat. Dengan gaya kamu yang khas dan gaya Sekar yang ceria, kita foto-foto di atas rumput Rotunda. Foto itu sempat kamu upload ke Path dan kamu jadiin profile picture di Line. Wajah kamu yang penuh ekspresi tapi tetap sok cool gimana gitu. 

Faqih, menjelang Natal 2013 dan Tahun Baru 2014 lalu, kita juga pernah kumpul di kosan Sophia buat tukeran kado sama Melyssa, Vina, Sekar. Di situ kita semua mengungkapkan penilaian kita satu sama lain. Di situ juga kita kasih kamu birthday surprise yang salah satu fotonya sudah di-frame sama Sekar dan sudah dipajang di meja tulis kamar saya. Di situ, kamu jadi satu-satunya cowok, terus memegang kue (martabak mini aja kalau nggak salah) dan kamu mengembangkan senyum yang kelihatan gigi rapinya. Kita emang nggak pernah kumpul-kumpul lagi setelah itu, tetapi bagaimana kita mau kumpul-kumpul lagi kayak gitu kalau kamunya sakit, Faq?

Faqih, keluarga kamu sayang kamu, teman-teman juga sayang kamu. Tolong sembuh ya Faq. Jangan nggak ngenalin kita semua kayak sekarang. Jangan susah makan, jangan melihat ke langit-langit kamar terus, jangan diam aja Faq. Gerak ya Faq, ngomong, kenalin kita lagi ya Faq. Jangan tinggal di rumah sakit terus Faq. Kamu pasti bisa sembuh, semua orang membagikan semangatnya untuk kamu biar kamu lekas sembuh. 

Faqih, saya tahu, tulisan ini nggak akan dibaca sama kamu di tengah perjuangan kamu melawan sakit kamu sekarang. Tapi setidaknya, di saat kamu sembuh nanti, kamu bisa baca tulisan ini dan kamu tahu, betapa saya, dan pastinya Sekar, Melyssa, Vina, Sophia, dan juga teman-teman kamu yang lain serta keluarga kamu, begitu sayangnya sama kamu dan mau memberikan dukungannya buat kamu supaya kamu cepat pulih.

Sembuh ya Faq, kita semua berdoa buat kesembuhan kamu. Sembuh dan wujudkan cita-cita kamu kerja di Google dan cita-cita kamu yang lain. Sembuh ya Faq, FAQIH harus SEMBUH!

*doain Faqih (JIP UI 2010) ya teman-teman supaya dia lekas sembuh. Amin.

Wednesday, November 5, 2014

Wisma SY: Tua namun Teduh. Luas namun Hangat.

5 November 2014.

Sudah 25 tahun umurnya sekarang. Semakin dewasa dan semakin matang.

Namanya Wisma Sahabat Yesus. Orang kebanyakan memanggilnya Wisma SY atau hanya sekadar SY saja.

Empat tahun yang lalu saya berkenalan dengannya. Bermula dari acara Sehari Bersama KMK yang diadakan oleh Keluarga Mahasiswa Katolik Universitas Indonesia, saya menjejakkan kaki ke tempat yang akhirnya menjadi rumah kedua saya. Bahkan, kosan-pun akhirnya menjadi rumah ketiga saya. 

Kesejukkan, keramahan, dan keteduhan yang saya dapatkan. Tidak, jangan salah sangka. Saya tidak bermaksud melambungkan rumah tua nan luas itu. Saya memang beruntung karena berkesempatan mengecap berbagai macam pelajaran di dalamnya. Ditemani keteduhan dan keramahan orang-orang di dalamnya, saya menyerap ilmu yang tak akan pernah saya dapatkan di bangku kuliah.

Tak hanya manusia berkaki dua yang memiliki motto. Bangunan tak bergerak ini juga punya. Katanya, "There are no strangers here, only friends who haven't met". "Tiada orang asing di sini, hanya teman-teman yang belum saling bertemu." Ah, jadi ingin bersenandung rasanya.

Motto itu memang menjadi dasar pertemuan orang-orang yang singgah bahkan bermain dan menetap di dalamnya. Tatapan pertama saya dengan orang-orang yang ada di sana memang asing. Beberapa menit kemudian, sapaan dan teguran pun diluncurkan pada saya, sehingga saya tak lagi merasa asing. Saya nyaman dan terkesan.

Seiring dengan masa-masa perkuliahan yang semakin lama saya jalani, Wisma ini menjadi sahabat baru bagi saya. Menjelang lulus, wajah Wisma-pun kian berubah. Semakin banyak pihak yang sayang dan peduli terhadap keberlangsungan hidupnya. Ia dipoles, dipercantik, dan akhirnya menjadi semakin ramah kepada para penyayangnya.

Tak elok rasanya jika hanya berkata-kata, mari saya tunjukkan wujud rumah ini bagi kalian. Gambar yang akan kalian lihat adalah penampakkan Wisma yang saya abadikan bulan Juni lalu.

1. Halaman depan Wisma


Lahan yang biasanya dijadikan tempat parkir. Langkah pertama disapa oleh pohon-pohon rindang dan angin sepoi-sepoi


Lihat lelaki itu? Namanya Pramono atau Mas Pram. Di hadapannya ada Rooney, anjing lucu keturunan pitbull dengan wajah yang memelas. Kawannya banyak. Ada anjing-anjing lain, Borgo, Verita, Stella, dan Kepo.
2. Sekretariat Wisma SY

Ruangan ini tempat pertama kali saya ikut-ikutan rapat kepanitiaan. Kepanitiaan pertama kala itu yang saya ikuti adalah Porseni PMKAJ Unit Selatan. PMKAJ sendiri singkatan dari Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta. Mungkin kalian yang suka baca post saya sebelumnya, pasti sudah paham akan PMKAJ US itu sendiri.

Tempatnya kecil, namun cukup untuk rapat dan berkumpul. Menginap dan sekedar diskusi pun bisa dilakukan di ruangan ini. Tadinya, ruangan ini penuh barang-barang. Kepedulian (dan himbauan Romo Moderator)-lah yang akhirnya menggiring mahasiswa-mahasiswa untuk sama-sama merapikan, sehingga jadi tampak cantik seperti sekarang.

Tadinya tidak serapih ini. Sekarang sudah jauh lebih menyenangkan untuk disinggahi dan digunakan.
3. Perpustakaan Wisma SY

Tempat membaca. Tempat bertemu kawan. Tempat mengobrol panjang lebar. Tempat menumpang mengisi baterai telepon genggam ataupun komputer jinjing. Tempat menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan. Tempat beraneka ragam buku dan majalah disusun rapi, disediakan bagi para muda-mudi yang haus pengetahuan. Inilah perpustakaan Wisma SY. Tempat di mana ranah intelektual bertumbuh dan berkembang. Inilah bagian intellectual formation Wisma SY.

Lihat pintu abu-abu di sebelah kanan itu? Di dalamnya masih terdapat aneka buku yang dapat kita baca...
4. Aula Atas Wisma SY

Tempat yang digunakan (juga) untuk rapat, misa, atau bahkan penyelenggaraan suatu acara KMK-KMK. Siapa yang tak kenal dia, si Aula Atas dengan berbagai jendela yang menyerap angin bebas? 


Lihat luasnya?
5. Pendopo Wisma SY

Bisa dibilang, tempat ini merupakan primadonanya Wisma SY. Berbagai acara besar, termasuk misa bersama pasti diadakan di tempat ini. Tempat ngobrol, latihan, rapat, kaderisasi, semua pasti dilakukan di sini. Ah, betapa banyak cerita yang kau simpan, Pendopo?

Luas dan terbuka menjadi alasan bagi setiap orang nyaman di sini. Angin dapat dihirup sebanyak-banyaknya. Hawa sejuk diciptakan oleh pepohonan disekitarnya. Bagaimana bisa tak teduh?

Pendopo menjadi bagian 'Friendship Formation' di Wisma SY.


Arah menuju pendopo. Lelaki yang duduk itu (meskipun gambar sedikit gelap) adalah Mas Henk Tay. Ia juga merupakan seorang yang amat sangat peduli dengan keberlangsungan Wisma SY ini...
Ternyata benar, rimbun tak selamanya seram kan? Wisma ini begitu bersahabat, hey kalian...

Inilah pendopo yang sedari tadi saya gaungkan... Wajah baru pendopo yang dibuat lebih ciamik lagi.
6. Barak Wisma SY

Kelelahan di Wisma SY dan ingin menginap? Barak ini pun disediakan sebagai jawaban (fasilitas) bagi mahasiswa. Barak ini terdapat persis di belakang pendopo Wisma SY.

Mereka yang tak bisa pulang ke rumah atau kosan, dapat menginap di barak (jika mau) dan akan merasakan udara malam Depok yang sejuk (tidak dingin dan tidak panas). Tempat tidur bertingkat disediakan sebagai tempat merebah diri. Kadang, seprai tak akan dipasangkan. Jadi, kita harus melayani diri sendiri. Ingat, orang mandiri adalah orang yang dapat melayani dirinya sendiri. Mau seprai, pasang sendiri dan setelah itu dicuci sendiri. Kebersihanpun harus dijaga sebagai bentuk rasa sayang terhadap Wisma SY.


Barak Wisma SY
7. Ruang Diskusi

Ruangan kecil yang terletak di dekat barak dan pendopo ini cukup memiliki fungsi yang beragam. Fungsi utamanya tentu menjadi ruangan tempat berdiskusi, sama seperti nama yang disematkan padanya. Berbagai fungsi lainnya adalah: tempat perkuliahan dan tempat konsumsi dihidangkan jika ada acara di Wisma SY.

Wangi-wangi makanan pasti sudah sering lalu lalang di ruangan ini. Begitupun dengan ilmu-ilmu keagamaan yang diajarkan dosen ke mahasiswa kelas Agama Katolik.



8. Kapel Wisma SY

Beralih ke ranah 'Spiritual Formation' (ingat ada dua ranah lainnya yang sudah disebutkan), Kapel ini menjadi tempat pribadi kita menghadap Tuhan. Meditasi pagi, Misa pagi, ataupun berdoa pribadi, dapat dilakukan di tempat ini ataupun di Gua Maria.

Lagi-lagi, tempat ini pun sudah dipoles dan diperbaharui. Tadinya tidak secantik sekarang.



9. Gua Maria Bunda Perdamaian

Masih di ranah  'Spiritual Formation' yang diusung Wisma SY, tempat ini adalah tempat pribadi kita memanjatkan doa pada Bunda Maria. Bertempat di area belakang Wisma SY, tempat ini dijauhkan dari suasana ramai yang berada di bagian tengah.

Pribadi-pribadi yang ingin berdoa tentunya dapat mendapatkan keheningan yang diperlukan untuk berkomunikasi personal dengan Bunda Maria.





10. Balai Bengong dan Area Belakang Wisma SY

Area ini dapat dimanfaatkan sebagai tempat mengadakan acara yang berkonsep 'Outdoor'. Dengan kemauan dan kepedulian untuk membuat area ini lebih cantik, dipastikan Garden Party yang menarik akan dapat dilaksanakan di area ini.



11. Pastoran

Mundur sedikit dari area belakang ke depan, pastoran ini biasanya dijadikan tempat berkumpul jika tamu-tamu Wisma SY sedang ramai berkunjung. Romo Moderator akan senantiasa menyantap makan pagi, siang, dan malamnya di sini sambil menonton televisi atau berbincang dengan para tamunya. Sofa dan kulkas menjadi pengisi ruangan ini. 

Pastoran ini berdampingan dengan Kapel Wisma SY, meskipun pintu penghubungnya sudah ditiadakan, sehingga tak lagi ada akses langsung ke Kapel dari Pastoran. 

Dua kamar tidur dilengkapi dua kamar kecil juga menjadi salah satu fasilitas yang disediakan Wisma SY jika ada tamu penting yang menginap. Beberapa kali saya juga pernah merasakan tinggal di kamar ini karena berbagai hal. Nyaman. Ajaibnya, saya selalu nyenyak tidur di sini dan selalu terbangun tepat waktu tanpa terlambat (jika ingin bepergian di pagi hari).





12. OFFICE ROMO

Tempat berjumpa romo moderator. Tempat meminta tanda tangan, menumpang menonton TV, dan tempat menjarah makanan simpanan romo moderator. Aaaah, terlalu banyak kenangan di sini. Dari curhat hingga melontarkan tawa canda.

13. Parkiran dan Toilet Wisma SY

Menempatkan motor. Membuang air kecil. Kedua tempat inilah jawabannya. Dibuat sedemikian bagus melalui proses renovasi kemarin. 


Motor dijejerkan di sini. Kunci ganda adalah hukum wajib. Demi keamanan dan kenyamanan bersama.

Toilet. Rapih. Bersih. Tinggal dijaga oleh pemakainya. Tak asal meninggalkan kotoran ataupun jejak kaki di daerah sini.

Gambar dan kata di atas apakah sudah jadi seragam dan searah sekarang? Pantaskah saya menyebutnya rumah kedua saya jika yang ditawarkan dan disediakan begitu banyak? Percayakah kalian, di umurnya yang baru, semakin ia akan merangkul kita yang belum mengenalnya?

25 tahun umurnya. Penampakannya dulu tak sebaik dan seindah sekarang. Tapi itulah proses yang dilaluinya sedemikian rupa. 

Romo Markus Yumartana, SJ adalah sosok yang ada dibalik semua perubahan wajah Wisma SY ini menjadi lebih cantik. Tentunya dengan dukungan berbagai pihak dan kalangan yang peduli terhadap Wisma SY. Terima kasih Romo, berkat jasa-jasanya membuat Wisma SY hingga seperti sekarang. Terima kasih telah menjadi kepala keluarga di rumah ini, tempat kedua setelah kampus, di mana saya banyak belajar dan mendapatkan banyak hal serta cerita.

Wajah dan umur barunya tentu tak mampu menutupi pengalaman, cerita, dan kisah hidup yang disimpan dalam memori yang tak terhingga. Tentunya banyak proses pendewasaan yang sudah dilalui oleh Wisma SY, hingga tak sedikit orang-orang berhasil yang berguru di dalam raganya. 

Sarana dan prasarana sudah disediakan. Tinggal siapa yang akan menggunakan dan tentunya merawat. Masihkah kita akan melihat Wisma yang seramah, seindah, dan sebaik ini di tahun mendatang? Di umurnya yang ke-30 nanti, ke-35, bahkan ke-50? Wisma tak akan seramah, seindah, dan sebaik ini lagi jika para penyayangnya tak sayang. Jika tak ada orang lagi yang peduli dan memperhatikan. Siapa lantas para penyayang itu? Entahlah, tapi pasti penyayang itu adalah mereka yang pernah dibangun olehnya dan diajak berpelukan dengannya.

Selamat ulang tahun ke-25 wahai sahabatku, Wisma Sahabat Yesus. Sudah sampai di umur perak, perjalananmu kini. Semoga cerita yang kau simpan, keramahan yang kau tawarkan, serta kesejukan yang kau sediakan akan selalu ada di setiap saat ku bertandang.




Sunday, February 9, 2014

Akhirnya S.Hum.

Satu set toga itu akhirnya saya kenakan juga pada hari ini.
Saya lulus! Puji Tuhan. Akhirnya. A.k.h.i.r.n.y.a. :)

Melalui tulisan ini, banyak cerita yang ingin saya ungkapkan, bahwa banyak kejadian yang pernah saya alami, bahwa banyak rasa yang bisa maupun yang tak bisa saya ungkapkan.

Ketika hari ini akhirnya datang, memori saya secara sadar dan otomatis langsung memutar kejadian di pertengahan tahun 2010 silam. Saat itu, saya hanyalah seorang mantan siswi SMA yang tidak tahu harus melanjutkan kuliah ke mana. Seorang mantan siswi SMA yang hanya berharap masuk jurusan Farmasi. Seorang lulusan SMA yang memiliki harapan besar masuk perguruan tinggi negeri bergengsi, sehingga tak terlalu mengeruk materi. Perjalanan harapan itu berujung hari ini. Akhirnya.

Meskipun saya bukan lulus menjadi seorang S. Farm, saya tetap bangga. Bangga akan apa yang telah saya lakukan, saya peroleh, dan akhirnya saya syukuri serta nikmati.

Jika saya boleh bercerita, pilihan untuk memulai perjalanan sebagai mahasiswi S1 Paralel Sastra Prancis UI merupakan pilihan yang amat sulit. Memang, ketika Bedah Kampus UI tahun 2009, saya sempat berujar, bahkan boleh dibilang takabur. "Biarin deh, masuknya Sastra Prancis aja, yang penting gue pake Jaket Kuning." Satu ujaran yang tak akan pernah saya lupakan. Ujaran yang akhirnya menjadi kenyataan dan mengantar saya sampai pada gelar S.Hum.

Saya memang bermimpi menjadi mahasiswi jurusan Farmasi, tetapi karena satu dan lain hal, saya malah menjadi alumni dari jurusan Sastra Prancis UI. Bangga? Tentu!

Saya pernah bahagia saat dinyatakan lulus seleksi masuk jurusan Farmasi di UNPAD. Impian saya nyaris menjadi kenyataan. Namun, saya akhirnya tetap memilih Sastra Prancis UI setelah mempertimbangkan berbagai alasan. Dari alasan sepele hingga alasan yang tak lagi bisa dianggap sepele.

Ketakutan itu ada. Ketakutan akan terus masuk kuliah malam karena isunya S1 Paralel itu adalah nama lain dari kuliah malam. Ketakutan akan menjalani tahun-tahun studi bersama mahasiswa-mahasiswa yang sudah kerja karena mengambil kuliah malam. Ketakutan akan menjadi asing. Ketakutan ini ketakutan itu ketakutan semua, tapi....sekali lagi Puji Tuhan, karena nyatanya ketakutan itu tak terbukti.

Saya harus dengan lantang mengakui, sesuatu yang namanya takut itu tak kunjung bisa dengan tenang pergi. Setiap akhir semester, saya selalu takut melihat laporan nilai kalau-kalau ada yang tak lulus dan mengecewakan orang tua. Saya selalu takut serta cemas menanti nilai akhir KBP setiap semester. Kalau hasilnya di bawah C sekali saja, dijamin saya tak akan lulus tepat waktu. Saya selalu takut kalau saya harus dihadapkan pada pilihan menempuh studi lebih dari 4 tahun karena hal itu pasti mengecewakan orang tua saya.

Saya takut menyia-nyiakan perjuangan mereka menyekolahkan saya hingga perguruan tinggi, karena apa yang mereka lakukan tak boleh saya anggap sepele. Hal ini yang terus mendorong saya mau belajar dan berusaha agar saya tak pernah mengulang mata kuliah. Jalani sekarang dan jalani nanti ketika mengulang, toh sama saja. Mata kuliahnya sama. Materinya sama. Buat apa saya menjalaninya sampai lebih dari sekali? Hanya ini yang jadi pegangan saya. Hanya hal itu serta doa yang mampu membuat saya seperti sekarang, saya amat takut mengulang. Keinginan terbesar hanya untuk membuat orangtua saya bangga melihat saya berhasil jadi Sarjana.

And finally, I made it.


Tiga setengah tahun yang saya lalui selama menjadi mahasiswa menyisakan begitu banyak cerita.

Saya ingat ketika mama menemani saya di kosan saat hari pertama saya kuliah. Saya ingat minggu-minggu pertama jadi mahasiswa, saya begitu setia dengan julukan KuPu KuPu. Kuliah-selesai kuliah-beli makan-masuk kosan-nonton TV-tidur. Rutinitas yang akhirnya saya abaikan kemudian.

Saya ingat ketika saya mulai menikmati status mahasiswa saya. Tak lagi menjadi KuPu-KuPu, tapi KuMa-KuMa. Pulang kuliah main dan main terus. Makan, nonton, apa saja saya lakukan bersama teman-teman.

Saya ingat ketika saya iseng mencoba peruntungan melalui online shop. Setiap jeda kuliah saya manfaatkan dengan mengurusi online shop saya. Entah beli barang untuk dikirim ke customer ataupun mengirim barang yang telah saya bungkus malam harinya ke JNE di dekat FISIP. Berusaha membagi kedua fokus sama rata.

Saya ingat saat kesel-keselan. Saat iri-irian.
Saya juga teringat ketika saya harus berpindah kosan karena kosan yang lama tak layak lagi saya tinggali.
Saya teringat ketika saya harus tertatih mengikuti pelajaran karena sakit ini sakit itu.
Saya teringat ketika papa mama menjemput saya di kosan dalam kondisi lemah karena ternyata terserang hepatitis. 
Saya teringat ketika mama selalu memarahi saya yang begitu sering pulang malam. Takut saya kelelahan.
Saya teringat ketika diberi kejutan ulang tahun H+30an oleh teman-teman dekat.
Saya teringat ketika harus mencari buku pinjaman hingga ke IFI, dan berjalan kaki dari St. Cikini sampai IFI.
Saya teringat ketika harus menginap di rumah teman demi selesai mengerjakan tugas deadline dan meminta file-file penting darinya.

Namun lebih dari pada cerita-cerita itu, banyak hal lain yang bisa saya anggap sebagai sumber pelajaran saya dan saya rasa telah tiba saatnya saya menyampaikan rasa terima kasih saya.

Teruntuk FIB UI, Kuksa FIB, KMK UI, PMKAJ US, RTC UI FM, IKABSIS, dan CBT.

Terima kasih kepada kalian semua yang telah memberi saya banyak hal.

Terima kasih FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA! Fakultas tempat saya menemukan berbagai macam karakter orang dari A-Z! Menemukan ragam jurusan yang punya khasnya masing-masing. Menemukan orang-orang hebat,orang-orang slengean tapi ternyata berprestasi. FIB UI pernah membuat saya bangun jam 3 pagi untuk turut bergabung dengan kepanitiaan PSA MaBim. Fakultas tempat saya menghabiskan waktu 3,5 tahun ini. Fakultas yang bikin saya bangga dengan makara putihnya. Terima kasih Kansas dan Gedung I - Gedung X -nya. Kita telah membuat cerita.

Terima kasih untuk semua dosen Prodi Prancis FIB UI dengan ciri khas cara mengajarnya masing-masing, terkhusus juga terima kasih untuk Mba Deka, PA paling asoy yang nggak bosen menjadi dosen KBP saya dari KBP I - IV, PA yang juga dengan sigap menyetujui sipresma saya, dan PA yang akhirnya menjadi penyelamat utama saya dari status pengangguran setelah lulus. Terima kasih juga untuk teman-teman seangkatan dan sejurusan di Sastra Prancis, termasuk Ilham,si temen se-PA, temen yang super ngeselin tapi terkadang baik. Terima kasih untuk terus ada dan bersama-sama menjalani rangkaian mata kuliah yang kadang bikin mata perih, perut mual, kepala pusing. Haha, tetapi kita telah memilih untuk menjalankannya, bukan? Dan saya nggak akan juga seperti ini kalau orang-orang di lingkungan belajar saya nggak seperti kalian semua! Terima kasih untuk berbagai cerita, tawa, dan canda ketika di dalam maupun di luar kelas. Sukses untuk kita semua!


Terima kasih KUKSA FIB, tempat saya menemukan kakak-kakak dan adik-adik dengan berbagai karakternya masing-masing. Mereka yang menjadi teman dan keluarga seiman dan sefakultas. Mereka yang memberi kesempatan saya untuk boleh melayani teman-teman ketika Jumatan serta merasakan tampuk koordinator fakultas selama satu tahun. Berbagai suka dan duka. Berbagai tekanan dan pikiran yang saya harus tanggung selama menjadi KoorFak. Berbuah manis ketika saya justru menemukan sahabat dan (pernah juga) cinta. Kalian saya sayang. Pasti selalu saya sayang! 

Terima kasih KMK UI. Tempat saya juga belajar. Menjadi orang yang harus pandai membagi fokus. Menjadi orang yang konsisten dan bertanggung jawab. Menjadi orang yang dengan rela membagi waktu untuk menyiapkan acara-acara demi melayani teman-teman dan demi terus meng'ada'kan KMK. Di sini saya menemukan keluarga saya. Sahabat saya. Saya boleh bekerja dengan teman-teman dengan berbagai macam sifat dan cara kerja yang berbeda. Saya boleh mendapatkan teman RANDOM yang menemani saya mencoba hal baru. Mencoba tempat baru, makanan baru, pengalaman baru, serta berbagi cerita baru. Tanpa ragu saya bagi sayang saya ke kalian! 

Terima kasih PMKAJ US beserta Romo Moderator, Rm. Markus Yumartana, SJ.. Di dalam sini awal mula saya mengenal Wisma Sahabat Yesus. Di dalam sini saya langsung terjun ke dalam kepanitiaan pertama saya semasa Mahasiswa Baru. Berbaur dengan teman-teman dari berbagai macam universitas yang tentu beda tingkah dan lakunya. Cara dan budayanya. Pikiran dan perbuatannya. Di dalam sini saya mengenal solidaritas. Mengenal adanya sesuatu yang dinamakan peka dan inisiatif. Begitu banyak hal yang saya peroleh dan pelajari ketika saya melibatkan diri di dalam sini. Belajar untuk rela dan tak mengharap apa-apa. Belajar untuk berani bertanggung jawab atas apa yang telah dipilih meskipun berat. Belajar memimpin. Belajar berinteraksi. Belajar bekerjasama. Belajar tidak egois. Entah berapa banyak yang saya dapatkan dari tubuh PMKAJ US. Betapa banyak teman yang saya kenal di dalamnya. Terlalu kurang rasanya, tapi untuk saat ini, memang saya hanya dapat mengucapkan terima kasih. Terima kasih telah menemani hari-hari saya. Terima kasih untuk waktu dan tenaga kalian ketika kita sama-sama bekerja dalam sebuah tim. Saya tau saya masih punya tanggung jawab 6 bulan lagi dan saya mencoba untuk terus setia terhadap apa yang sudah saya pilih. Terima kasih! Saya nggak akan kayak gini tanpa kalian semua. :)

Terima kasih untuk UKM Radio Telekomunikasi Cipta. Meskipun saya tak sering hadir. Meskipun saya tak selalu muncul di setiap acara. Saya bersyukur pernah bergabung dengan kalian semua. Saya bersyukur punya pengalaman di per-radio-an bersama kalian semua. Terima kasih telah mengingat meskipun saya jarang sekali hadir dalam setiap kesempatan. Bersama kalian, saya mendapat cukup banyak pelajaran. Many! Terima kasih kalian semua atas ijin dan kesempatan untuk melibatkan diri. Terima kasih!

Terima kasih untuk satu pelatihan yang akan begitu saya ingat.Character Building Training 5 yang boleh saya ikuti. Kesempatan bertemu orang-orang hebat. Bertemu orang-orang yang berani untuk menerima berbagai ilmu demi mengembangkan diri ke arah yang lebih baik lagi. Kesempatan untuk mendengarkan berbagai pengalaman maupun kiat menjalani hidup. Meskipun tak mungkin langsung diterapkan dalam satu atau dua hari, saya yakin, kesempatan yang pernah saya peroleh dan jalani ini akan menjadi bekal seumur hidup saya! Terima kasih.

Terima kasih untuk Sekar, Melyssa, Vina, Sophia, dan Faqih, serta sosok SSP yang sempat menemani saya menghabiskan waktu dan menjadi tempat kesekian saya dalam berkeluh kesah saat menjalani semester terakhir ini.

Akhirnya, di akhir tulisan ini saya hanya ingin kembali menyampaikan terima kasih.

Maklum, saya tak memiliki skripsi untuk saya sumbangkan ucapan berikut di Kata Pengantar-nya, jadi saya rasa tak ada salahnya saya tuangkan segalanya di sini. ;)

Ucapan terima kasih ingin rasanya ditujukan untuk semua. Untuk mereka semua yang menyempatkan waktu hadir di Wisuda hari ini, menyapa saya, mengucapkan selamat, bahkan memberi bunga. Terima kasih untuk kalian yang menemani hingga hari ini. Terima kasih untuk dukungan kalian. Terima kasih untuk hadiah kalian, baik yang terlihat maupun yang hanya bisa diingat.

Terima kasih untuk Echa, Terra, Chev, Harris, Liestya, Adrian, Inggit, Evan, Eufrasia Erika, Kak Wawan, Kak Sally, Nikita Natasya, Bina, Ginta, Norman, Arkhe, Michelle, Dimas, Edith, Maltal, Erika, Ciskah, Kent, Nana, Stella, Beatric, Kak Anne, Kak Maga, Nico, Titot, San San, Eko, Janet, Rika, Ganda, Lia, Ajeng, Icha, Gia, Jane, MaReg, Ivo, Kak Temmy, Kak Vi, Kak Lena, Kak Jenny, Vina, Sophia, Sekar, Melyssa, Ester Cahaya, Amadea, Les Bencongs, Ilham, Kak Mita, Faqih, Yura, Annida, Jonas, Danty, Nini, Ceka, Ntum, Haris, dan semua nama yang mungkin terlewat tercatat tapi pasti saya ingat. Nama-nama yang membuat bahagia dengan ucapan selamatnya lewat berbagai media. Terima kasih.

Terakhir, namun tetap utama, juga paling, dan super penting, terima kasih untuk Tuhan Yesus serta untuk kedua orang tua saya, Mama dan Papa yang selalu mendukung, selalu memberi perhatian, selalu menghargai pilihan saya, dan yang selalu membuat saya bangga. Tanpa kalian, semua yang saya tulis, ungkap, dan ceritakan di atas jelas tak akan pernah ada. Terima kasih! :)

PS: Selamat untuk kalian yang lulus sehingga kita bisa saling berselamat. Selamat untuk Eka, Atma, Putri Myra, dan Cidus. Selamat untuk kakak-kakak senior SasPer. Selamat untuk Kak Aan, Melvin, Esi, Cathlin, Arum, Gisel, Erwin, dan untuk semua wisudawan!


PROK PROK PROK ;)


I decided long ago, never to walk in anyone's shadows
If I fail, if I succeed
At least I'll live as I believe
No matter what they take from me
They can't take away my dignity
Because the greatest love of all
Is happening to me
I found the greatest love of all
Inside of me
The greatest love of all
Is easy to achieve
Learning to love yourself
It is the greatest love of all

Wednesday, January 15, 2014

Saya dan 2013.

SELAMAT TAHUN BARU 2014!


Yeay! Akhirnya tahun yang dilalui sambil menjalani semester 6 dan semester 7 perkuliahan ini terlewati juga.

Hmm, dan FINALLY, gue nulis blog lagi! Ini postingan pertama semenjak udah lama nggak nulis-nulis lagi. Hahaha, maklum, selama kuliah kan emang super minim banget waktunya buat nulis di sini. 

RESOLUSI 2013

Pertama-tama, mau review dulu ah resolusi gue di 2013 kemaren apa kabarnya ya?

Resolusi 2013 gue ada 14 poin. Ya, hasil akhirnya menunjukkan ada 5 poin-lah yang gagal! Sedih, sih... Yang lainnya juga nggak bisa dibilang sukses-sukses amat gitu. Hehe.

Begini resolusinya:

Resolusi yang ditulis di agenda yang super setia :3
1. ngelakuin peran di tiap kepanitiaan dan organisasi yang dipilih dengan baik, penuh tanggung jawab.

Hasil: Bisa dibilang LUMAYAN BERHASIL, nih. Di tahun 2013, meskipun gue udah semester-semester akhir, gue tetep muree aja diajakkin kepanitiaan dan organisasi ini itu.

Di awal tahun, gue mengiyakan jadi PO Napak Tilas. Periode kerjanya ya dari Januari sampai Maret 2013. Acaranya sekarang sudah selesai dan saatnya menemukan penerus yang akan jadi PO Napak Tilas 2014. Ehehehe.

Setelah itu, gue mengiyakan juga menjadi anak buah di bidang Acara dalam perhelatan Character Building Training 6. Periode kerjanya dari Mei - Agustus 2013. Di kepanitiaan ini juga gue mencoba bekerja dengan baik dan penuh tanggung jawab. Ya, meskipun harus diakui masih ada kekurangan juga di sana sini. :)

Selanjutnya, gue memutuskan juga terlibat di kepanitiaan FestiFrance 2013 as PJ divisi Bazaar. Perhelatan ini diadakan bulan November 2013, tapi persiapannya udah dari Agustus 2013. Kebayang nggak ribetnya gue di tengah tahun. Capek!

Selain 3 kepanitiaan itu, gue juga terlibat di La Semaine de la Francophonie (meskipun super gabut di divisi Workshop), FesBud UI 2013 sebagai bagian dari divisi GSR (sama gabutnya!), dan yang terakhir turut membantu Kaderisasi KMK UI 2014 (yang disiapin dari 2013, tapi dilaksanakan 2014).

Bisa dibilang, gue berhasil menunaikan tugas-tugas gue di kepanitiaan-kepanitiaan itu. Tapi, malang tetep nggak bisa dihindari toh? Jadi, yaaa, tetep aja ada kekurangan-kekurangan yang tentunya membuat gue semakin belajar!

Oiya, yang gue sebutin di atas kan baru kepanitiaan aja. Dari ranah ke-organisasi-an, gue masih terlibat di RTC UI FM as Head of Public Relation (Marcomm Division), lalu di PMKAJ US (sebagai HUMED di awal tahun dan sebagai Koordinator 2 per-September 2013 --> jabatan ini diperoleh melalui tindakan galau yang amat sangat loh. Malu!), di KMK UI sebagai Sekretaris, dan di KUKSA FIB UI sebagai pendamping Koordinator Fakultas yang baru.

Cukuuuuuuuuuuuuuuuup menguras tenaga dan menyita waktu juga sebenarnya. Apalagi harus pinter bagi waktu dengan kuliah. Hm, tapi akhirnya, 2013 berakhir dan gue udah melewati itu semua! Uhuy! Jujur, di ranah organisasi, gue masih banyak skip dan bolong-bolong. Apalagi di RTC. Nggak konsen euy bagi fokusnya. Tapi satu hal yang bisa gue banggakan adalah, gue nggak meninggalkan tanggung jawab gue. Hehehe.

Saran: JANGAN AMBIL BANYAK KEGIATAN, CAPEK SENDIRI HAHA.

2. IP dan IPK semester 6 dan semester 7 harus lebih besar dari 3,60.

Hasil: GAGAL! Boro-boro di atas 3,60! IP semester 7 gue aja IP yang paling rendah sepanjang peradaban gue kuliah. Hihi, bodo amat yang penting lulus 7 semester, ihiy!

3. Menghasilkan karya! Cerpen kek, novel kek, apapun!

Hasil: SEDIKIT BERHASIL :):). Kenapa dibilang sedikit? Hmm, karena memang belum terlalu banyak yang gue hasilkan.

Juli 2013, gue iseng ikut proyek menulis cerpen dari #nulisbuku yang bertemakan Kejutan Sebelum Ramadhan. Ada dua kategori di lomba ini, kategori perseorangan dan kategori kolaborasi. Puji Tuhan, keduanya akhirnya berhasil lolos untuk dibukukan! Seneng! Meskipun belum berhasil menang dan masuk jajaran 17 besar pemenang, tapi gue punya karya yang bisa dibaca banyak orang. Mungkin ada yang tertarik baca? Yuk pesen bukunya! Karya perseorangan gue bisa dibaca di Kejutan Sebelum Ramadhan #2 dan karya kolaborasi gue bisa dibaca di Kejutan Sebelum Ramadhan #2. Cara pesan klik di sini.

Selanjutnya, liburan semester 6 kemarin gue apply jadi volunteer di rubrik GenSINDO KoranSINDO. Hasilnya? Gue berhasil menerbitkan 4 artikel di 4 edisi berbeda KoranSINDO. 

Daftar artikel yang gue tulis:
1. Titik terang bagi Rio Dewanto
2. Politik bagi kaum muda: menarik atau menakutkan?
3. Pendidikan di luar negeri dan di dalam negeri.
4. Liputan Mughal E Azzam.

Huaaa! Senang! Semoga di 2014 bisa jadi jurnalis beneran ya. Amin. Hehe.

4. Rajin nulis blog! Rutinlah, jadi apa yang pengen ditulis nggak basi!

Hasil: Masih LUMAYAN BERHASIL. Maklum, nulisnya kan cuma pas ada waktu. Kalo kuliah, hiks nyari waktunya aja susah banget. Tapi, bisa dibilang lumayan berhasil karena di 2013 lumayan banyak juga loh tulisan gue di blog ini. Baik yang dipublish atau cuma berakhir jadi draft. Ehehehe.

5. Liburan tengah tahun bisa magang!

Hasil: BERHASIL! Magang di satu tempat aja sih nggak sih. Cuma, ada beberapa kerjaan yang gue lakuin pas liburan. Horray! Terima kasih banget buat yang namanya KESEMPATAN. 

Gue bisa ngerasain gimana bosennya dan susahnya nyari lokasi pas ngawas SIMAK UI dan SBMPTN. Gue bisa ngerasain gimana serunya kerjaan seorang jurnalis pas jadi volunteer di GenSINDO. Gue juga bisa ngerasain perjuangan untuk selalu sabar ngajarin dua orang cewek (yang satu SMA, yang satu SMP) berbahasa Prancis. Selain itu, kerjaan gue lainnya adalah jadi interviewer di LITBANG KOMPAS. Kerjaannya nelfonin orang buat ditanya-tanya beberapa pertanyaan. Hahaha, liburan buat nyari duit banget! ;)

6. Ke Jogja, ke Bali, ke luar negeri (minimal Singapura!)

Hasil: 75% BERHASIL! Ke Jogja berhasil di awal tahun. Tanggal 14 - 19 Januari 2013. Ke Bali-nya yang nggak kesampean (Semoga kesampean di 2014). Ke Singapuranya juga berhasil tanggal 25 -30 Desember 2013 kemaren. Yippie!

7. Punya pacar (Hehe, boleh kali pengen!).

Hasil: belum. *Jangan tanya kenapa. Males jelasinnya. Doain aja ya 2014. Haha.

8. Ngirim karya gue atau tulisan gue (cerpen, novel, artikel, tips) ke majalah (seperti GoGirl!) dan diterima!

Hasil: GAGAL! Karena nggak ada satupun karya gue yang dikirim ke majalah. Mhihi. Mudah-mudahan 2014!

9. Ngurusin badan!

Hasil: Sama aja GAGALnya! Sempet sih sejak Agustus 2013 terobsesi dengan berat 48 kg. Sampe taruhan sama Aan Dimas. Taruhannya itu Poke Sushi pulak! Alhasil, sampe menjelang akhir Desember, badan gue nggak kunjung berubah, melainkan segini-segini aja. Jadilah gue kalah taruhan. Tabungan ambles. Haha. :(:(
*Volcano di Poke Sushi rasanya dewa banget! Wajib coba!

10. Nggak kena sakit hepatitis lagi, jadi harus jaga badan dengan baik!

Hasil: BERHASIL! Puji Tuhan, di 2013, gue nggak pernah menderita sakit yang parah-parah banget. Paling radang, kecapean, pilek, batuk, dll. Syukurlah ya masih sehat-sehat :)

11. Rajin mandi, hehe.

Hasil: BERHASIL! Biasanya mandi cuma sekali sehari mungkin, tapi di 2013, frekuensi mandi gue meningkatlah dalam sehari. Hihi.

12. Peduli lingkungan, peduli sampah! Ga buang sampah sembarangan.

Hasil: BERHASIL! Di tahun 2013 gue sangat amat menahan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan. Sampah kayak gimana sebisa mungkin gue bawa terus sampe ketemu tong sampah. Yuk teman-teman yang baca postingan ini, kita budayakan buang sampah pada tempatnya! ;)

13. Lebih prihatin terhadap masyarakat kecil dan orang-orang yang susah!

Hasil: CUKUP BERHASIL. Alasan: Tidak perlu dijelaskan. Sekian.

14. Nggak pernah telat kuliah!

Hasil: GAGAL! Hampir di semester 6 dan semester 7, 80 % dari total kehadiran gue (apalagi yang masuk jam 08.00 pagi) pasti terlambat. Bangga? Bangga nggak bangga sih. Haha, setidaknya gue nggak alim-alim amat jadi mahasiswa. Ehehe.

Itulah ke-14 resolusi yang gue bikin di awal tahun dan gue review di hari ini, 14 Januari 2014. Hehehe.

2013 di mata gue.

2013. Hemm, tahun penuh kekhawatiran. Penuh lika-liku kehidupan. Tahun penuh pelajaran. Tahun kelulusan. Hehe.

Puji Tuhan banget bisa selesai studinya di 2013. Meskipun melewati deg-degan yang amat sangat karena KBP 7 nggak wajar banget susahnya! :( Tapi bersyukur banget bisa lulus. Meskipun tanpa skripsi dan nggak pernah ngerasain sidang. Tapi bersyukur banget bisa hemat uang kuliah satu semester. Hehe.

Doakan ya bisa dapat kerja yang baik, karier bagus, syukur-syukur impiannya tercapai. Belum kepikiran buat S2 sama sekali sih, tapi who knows kalo KESEMPATAN kembali berbaik hati? Yang penting sekarang saatnya gue melanjutkan 2014 dengan membuka lembaran baru. Hehe.

*dadah-dadah cantik sama tahun 2013 sambil tetap menyimpan segala pelajaran yang telah diberikan. :)
*maaf yaaaa kurang foto :(