Showing posts with label love my family:D. Show all posts
Showing posts with label love my family:D. Show all posts

Tuesday, December 16, 2014

The Power of A Good Family: 7 Hari 24 Jam

The Foundation of Everything is A Good Family.

Sepenggal kalimat itulah yang dapat saya temukan dalam serangkaian film 7 Hari 24 Jam, sebuah film bertemakan kehidupan keluarga pasca pernikahan.

Nasib beruntung telah membawa saya pada sebuah tiket gratis yang akhirnya dapat saya boyong ke Metropole XXI. Selembar tiket dari Mba Esty, yang akhirnya dapat saya gunakan untuk menyaksikan aksi adu akting Dian Sastrowardoyo dan Lukman Sardi. Meskipun harus menonton sendiri karena tiket hanya diberikan satu, pun rasanya tidak menjadi persoalan berarti.

Film 7 Hari 24 Jam ini bercerita tentang  kehidupan rumah tangga seorang sutradara sukses yang tengah memproduksi sebuah film dengan seorang wanita karier yang cukup sibuk dan menjadi pekerja andalan oleh atasannya. Mereka adalah Tyo (Lukman Sardi) dan Tania (Dian Sastro). Pernikahan yang sudah diarungi selama lima tahun ini telah menghasilkan seorang anak perempuan bernama Ayla. Ya, lima tahun, satu tahap usia pernikahan yang sering disebut-sebutkan sebagai usia rawan dalam sebuah hubungan.

Pada suatu kali, Tyo yang terlampau sibuk syuting film dari malam hingga pagi terus-menerus selama beberapa hari harus masuk rumah sakit. Di tengah proses syuting, ia tak sadarkan diri. Satu pasang dokter (dokter tua --diperankan Hengky Solaiman-- dan dokter muda --diperankan Verdi Solaiman--) yang ada di rumah sakit menengarai penyakit Tyo sebagai penyakit Hepatitis A.

Berselang beberapa hari semenjak Tyo masuk rumah sakit, Tania juga ikut masuk rumah sakit. Gejala tifus mendera Tania setelah beberapa hari menjadi wanita super. Super karena di waktu yang bersamaan, Tania harus siaga sebagai istri dari Tyo yang sakit, sebagai ibu dari Ayla yang masih kecil, dan sebagai wanita yang sedang menuju puncak karier di pekerjaannya.

Hal tersebut membuat Tyo dan Tania harus beristirahat selama 7 hari di kamar rumah sakit. Cerita selama 7 hari inilah yang membuat saya dapat berkesimpulan, film ini bagus dan layak untuk ditonton. Apalagi untuk mereka yang sudah berkeluarga dan sedang menapaki tahun kelima mereka.

Baiklah, mengapa saya katakan bagus?
Di film ini, saya melihat cerminan sebagian besar wanita jaman sekarang. Wanita yang tidak lagi 'hanya' berperan sebagai ibu rumah tangga yang mengurus anak dan suami, melainkan juga berperan sebagai pengejar karier yang tak bisa diremehkan.

Kemudian, apakah ada salah satu yang harus dikorbankan untuk mencapai salah satu yang lainnya? Bagi film ini, dan saya setuju, jawabannya adalah tidak. Keduanya bisa dijalankan bersamaan asalkan ada dukungan. Dukungan yang terpenting memang dari diri sendiri, tapi ada kalanya, kita tidak bisa menampik bahwa kita juga membutuhkan dukungan dari orang lain. Apalagi, ketika kita sedang berada di posisi yang tidak lagi mampu menyemangati diri sendiri.

Sosok Tania buat saya sudah cukup merepresentasikan gambaran wanita karier yang nyaris sukses membina rumah tangga. Dengan karier yang menuntut banyak waktunya, anak yang harus diurus dan dibacakan dongeng setiap harinya, serta suami yang butuh dukungan dan perhatian, Tania berhasil mengatasi semua itu meskipun sempat diuji dengan beberapa masalah. Bohong saja jika tidak ada satupun masalah yang pernah mampir di kehidupan pernikahan seseorang. Ayah ibu kalian juga pasti pernah mengalami masa-masa itu, kan? Sama, saya juga. Tapi, pesan mendasar yang saya dapatkan adalah, jangan terlalu lemah menghadapi masalah yang ada.

Ada lagi hal lain yang menarik, sosok Ibunda dari Tania digambarkan sebagai seorang wanita yang begitu mengejar karier hingga rela meninggalkan suaminya. Hal ini jelas berbeda dengan Tania yang pada akhirnya bertahan. Namun, kehidupannya juga pasti berbeda signifikan. Ibunda Tania harus hidup sendiri, sementara Tania, bisa mempertahankan kehidupan keluarga kecilnya.

Menurut saya, film ini ingin menampilkan persoalan-persoalan yang begitu lazim dan sering muncul di dalam kehidupan membina rumah tangga. Masalah waktu yang seolah tak cukup mengurus ini itu, masalah karier, juga masalah cemburu-mencemburu. Akan tetapi, masalah ini tidak menjadi persoalan yang berujung perceraian, justru menjadi celah yang dapat dimanfaatkan untuk kembali mengingat komitmen pribadi ketika saling tukar cincin. That's it. Dan di film ini, Tyo maupun Tania menunjukkan bahwa karir akan tetap dapat dicapai, tetap dapat dikejar, selama mereka saling mendukung dan saling memberikan support. Selama mereka mampu membiarkan satu sama lain tetap menjadi diri sendiri dan tidak memaksakan diri untuk menjadi orang lain.

Pada akhirnya, film yang dipenuhi unsur komedi di berbagai adegan ini bagi saya ingin mengirimkan pesan bahwa dukungan dan support masih jadi yang terpenting dalam kehidupan suami istri. Meskipun memang harus dilengkapi dengan bumbu-bumbu lainnya, seperti kepercayaan satu sama lain, kesadaran untuk tetap menjadikan keluarga sebagai prioritas, rasa mengerti dan memahami pasangan, serta kesabaran untuk menghadapi masalah-masalah yang akan terus muncul. Dan semua ini adalah hal mendasar yang harus diraih demi pencapaian lainnya. Kembali lagi seperti sepenggal kalimat di awal, The Foundation of Everything is A Good Family.

Source: http://www.mncpictures.com/images/slide/large/slide_1414139704_665px_large.jpg
So, just be good!...

PS: Film ini bagus banget buat ditonton, apalagi aktor-aktrisnya kece-kece daaaan dijamin ngakak terus di setiap adegannya! Konyol, kocak, tapi bermakna. :)

Wednesday, November 5, 2014

Dim Sum Inc Benton Junction: Perut Kenyang di Suasana Remang.

Kamis, 19 Juni 2014.

Waktu itu masih bisa bebas ngedate sama mama karena papa masih di luar kota. Jadinya, pulang kerja, saya sama mama meluncur ke Benton Junction di daerah Karawaci. Persis di dekat Supermal Karawaci. Konsepnya kurang lebih seperti Downtown Walk di Summarecon Mal Serpong atau Kemang Food Festival. 

Nah, dari semua cafe maupun restoran yang memenuhi area Benton Junction ini, saya tertarik untuk mencoba Dim Sum Inc yang konon katanya punya beragam menu dim sum, baik steamed dim sum maupun fried dim sum.



Setelah bolak-balik menu yang sebenarnya cukup sedikit untuk dibalik itu, akhirnya saya sama mama memutuskan untuk memesan sedikit saja pilihan makanan.

Here they are the review!

1. Mix Platter (IDR 99)

8 types of various steamed & fried dim sum, suitable for couple consist of har gau, shiu may, guo tie, dao sa pao, spring roll, crispy prawn ball, bean curd spring roll, and mayo prawn dumpling

Akhirnya memilih menu ini karena terdiri dari banyak macam dim sum. Ada yang dikukus dan ada juga gorengannya. Emang lebih sedikit sih porsinya, karena setiap jenis dim sum yang disajikan hanya terdiri dari dua pieces saja. Mama coba satu, saya juga coba satu. Begitu untuk semua jenis.

Jujur, nggak terlalu mengenyangkan, meskipun dimakan berdua. Jadinya, setelah makan ini, saya menambah seporsi dim sum lagi.


MIX PLATTER!
Untuk pemaparan di bawah ini, harga yang tertera itu adalah harga yang dikenakan kalau kita pesan porsi-an. Terdiri atas 3-4 pcs dim sum/porsi.

a. Har gau (IDR 19.9) --> pojok kanan atas
Thin and translucent dumplings filled with perfectly cooked shrimp
b. Shiu may (IDR 19.9) --> pojok kiri bawah
Small steamed chicken and prawn dumplings inside a thin wheat flour wrappers
c. Guo tie (IDR 19.9) --> pojok kiri atas
Steamed dumplings filled with mixed shrimp, chicken and vegetables
d. Dao sa pao (IDR 19.9) --> pojok kanan bawah
Pluffy steamed buns filled with sweet bean paste
e. Spring roll (IDR 19.9) --> sebelah kiri har gau
Fried prawn and chicken spring rolls wrapped with popiah
f. Crispy prawn ball (IDR 19.9) --> sebelah kiri dao sa pao
Thin sliced - deep fried fried wonton skin with prawn filling
g. Bean curd spring roll (IDR 19.9) --> sebelah kiri spring roll
Bean curd skin spring rolls with prawn and chicken filling
h. Mayo prawn dumpling (IDR 19.9) --> sebelah kanan shiu may
Fried prawn wonton served with mayonnaise

Saya tidak bisa merinci rasanya satu per satu lagi, karena selain lupa, rata-rata semua jenis dim sum ini memiliki bahan dasar yang sama, yakni udang. Sehingga, setiap rasa dari dim sum ini tampak mirip di lidah saya, hanya bentuk penyajiannya saja yang berbeda-beda. Ada yang digoreng berbentuk pangsit kecil-kecil kemudian ditambah mayonnaise, ada yang digoreng kemudian dibentuk bola, ada yang di-steam di dalam kulit khusus, dan ada yang diolah menjadi shiu may.


Add caption
Semuanya enak menurut saya. Pas untuk cemal-cemil berdua dan sebagai pengganti dinner juga (nge-dim sum buat saya selalu menjadi cemilan, bukan makanan kenyang untuk makan malam). Setiap jenis nggak ada yang memiliki tekstur keras dan semua terasa enak kalau dimakan selagi hangat. 

Pada dasarnya, makan dim sum di tempat ini benar-benar pas untuk pencinta dim sum. Pilihannya banyak, terutama yang isi udang. Beberapa pilihan lainnya tentu menyajikan dim sum yang berisi daging ayam atau campuran udang dan ayam.

2. Coriander Prawn dumpling (IDR 19.9)
Steamed dumplings filled with prawn, crabmeat, mushroom and coriander steam. 



Ini yang jadi tambahan saya di luar menu Mix Platter tadi. Sebenarnya, saya juga nggak bisa menemukan perbedaan rasa dari menu ini dengan menu-menu dim sum yang sebelumnya. Tapi, kalau dari campuran, jenis ini memiliki campuran olahan kepiting dan jamur di dalamnya. Enak.

3. Melon-honeydew juice (IDR 24.9)
Meskipun terlalu manis tapi fresh!

Suasana Dim Sum Inc. ini cukup remang-remang dan lebih menyesuaikan suasana malam. Mereka bertumpu pada cahaya seadanya ditambah dengan cahaya lilin yang disediakan di setiap meja. Ngedate lewat makan dim sum di sini kayaknya seru. Baik sama mama, maupun sama temen, terlebih lagi sama pacar. Hehe.

Pilihan makanan di sini, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, cukup banyak. Dim sumnya tergolong lengkap dan beragam. Selain itu, Dim Sum Inc. juga menyediakan menu standar lainnya, seperti nasi goreng, nasi hainam+ayam, bubur, spaghetti, dan masih banyak lagi. Masalah harga, standar Karawaci-lah yaaa. 

Quote of the post: harga akan pas di kantong kalau di hati dan di perut juga bisa pas! ;)

DIM SUM INC.
24 HR. DIM SUM. BEER
Email : info@dimsum-inc.com
Twitter : @dimsum_inc
Facebook : /dimsuminc

Plaza Festival
H.R. Rasuna Said Kav. C22 Kuningan, Jakarta 12920

T/F +6221 5263178 

Kemang
Jl. Kemang Raya No. 20A

Kemang, South Jakarta
T/F +6221 7182249 

Benton Junction
Benton Junction #20-19
Jl. Boulevard Palem Raya No. 38, Lippo Village
TangerangBanten 15180

Monday, July 14, 2014

Bebek Tepi Sawah: Fisik Jakarta Suasana Bali.

Pergi ke sini (lagi-lagi) tanpa rencana. Tanggal 18 Juni (agak lama juga ya), saya pulang kantor nebeng temen sampai Living World. Tadinya iseng mau jalan-jalan aja sambil makan malam sama mama (ketemuan di sini untuk pulang bareng), tapi akhirnya nggak jadi jalan-jalan malah cuma makan malam di restoran Bebek yang udah terkenal seantero Jakarta. Lumayan.

Cukup sering lalu lalang di depan restoran ini ternyata membuat saya akhirnya tergoda untuk masuk mencoba. Kata temen-temen yang udah pernah, restoran ini enak tapi...menguras tabungan. Seenak apa bebeknya dan sejauh apa mengurasnya ini yang bikin saya penasaran, *dasar aja sok mau coba-coba*.

Berbekal rasa penasaran dan godaan yang selalu datang setiap mampir ke Living World, akhirnya saya dan mama masuk dan memilih tempat duduk dekat jendela pembatas area dalam dan area luar restoran.

Setelah menu dihadapkan di meja, saya dan mama segera menentukan pilihan. Memang, menu bebek yang terpampang di halaman muka ini membuat saya agak terbelalak dengan harganya yang mendekati seratus ribu rupiah satu porsi. Penasaran akan rasanya, saya pesan satu porsi. Iya, semua hanya karena rasa penasaran dan kecintaan...pada bebek...



Langsung saya review saja, ya!


1. Tepi Sawah Crispy Duck (IDR 92.5)

Our signature traditional duck with choices of deep fried or grilled served with rice, Balinese vegetable, and sambals (sambal merah, sambal mattah, sambal goreng)


Satu porsi.
Satu porsi Tepi Sawah Crispy Duck ini terdiri dari bebek 1/2 ekor, nasi, sayur dimasak khas Bali, dan sambal. Kita berhak nyobain tiga sambal dengan tiga rasa yang berbeda. Ada yang pedes banget, pedes biasa, dan nggak terlalu pedes. 

Yang spesial dari bebeknya itu garing di luar, tapi lembut di dalam. Tekstur bebeknya dari luar itu super garing sampai-sampai saya mikir saya nggak bisa makan bebeknya karena keras. Ternyata, ketika bebeknya dikoyak dagingnya, lembut banget. 

The Sambals!
Karena satu porsi terdiri dari setengah ekor, saya bisa bagi dua sama mama saya. Ukuran bebeknya cukup besar dan bumbunya terasa. Saya makan bebeknya dengan sambal yang super pedas. Rasanya super enak! Saya jadi mengerti mengapa harganya sampai bikin kantong tipis. Memang rasanya enak dan suasana restorannya nyaman, mungkin bisa digolongkan ke dalam kategori 'sebanding'. 'Mungkin' loh ya, soalnya kalau boleh jujur, saya rasa memang harganya masih terlalu mahal. Namun, jika menikmati, kenapa tidak mencoba sesekali?

2. Gurame Bakar (IDR 65)

Try our speciality of ikan gurame! With the choices of deep-fried or grilled, served with shrimp paste chilli

The gurame!
Kalau yang ini, gue nggak bisa bilang ini mahal. Harganya dimana-mana hampir mendekati. Mau di rumah makan Sunda, di rumah makan khusus seafood, di rumah makan chinese food, maupun di rumah makan khas masakan Indonesia.

Pesan makanan ini sama sekali nggak rugi. Ikan guramenya enak, nggak amis, terasa fresh, dan yang paling penting bumbunya super kerasa! I couldn't describe it well, but rasa kecapnya terasa banget sampai ke dalam daging ikannya. Ukuran ikannya cukup untuk dimakan dua sampai tiga orang. Silahkan dicoba karena nggak mungkin bikin kecewa :D

3. Signature Mocktail --> Legian (IDR 27.5)

Our signature of mocktail, made from the muddled of whole kiwi, lychee, and fresh lime. Totally refreshing!

Karena makanannya udah dipesan cukup untuk saya sama mama saja, jadi kita beralih ke minuman. Minuman yang berjudul Legian ini isinya ada buah kiwi dan leci. Rasanya manis-manis asam, dan segar! Potongan buahnya juga nggak pelit. Habis makan-makanan berkolesterol tinggi, minuman ini bisa jadi penetralisir. Hehe. 

Setelah melakukan investigasi ke meja-meja di sebelah saya, banyak juga loh yang memesan minuman Legian ini. Kayaknya saya nggak salah pilih. Minuman spesial di sini ternyata.

4. Ice Lemongrass (IDR 30)

Easy way to promote your body detoxification in natural way with lemongrass while enjoy it with our local brown sugar.

Karena ada kata-kata 'detoxification' di deskripsi minuman ini, saya langsung tergoda untuk memesan. Maklum, saat itu sepertinya saya sedang membutuhkan minuman-minuman sehat yang bisa mengeluarkan racun nakal di tubuh saya. Badan saya sedang tidak enak. Butuh yang segar sekaligus sehat. Rasa serai/sereh yang pekat serta sedikit rasa manis menjadi campuran yang menyegarkan lewat minuman ini. Hmm.

Kiri: Ice Lemongrass; Kanan: Legian
Secara keseluruhan, Bebek Tepi Sawah ini cocok menjadi restoran keluarga kala makan malam karena menyajikan suasana Bali seperti konsep yang diusungnya. Rasa bebeknya enak dan didukung tekstur daging yang empuk dan kulit yang garing. Guramenya paling juara, malah lebih juara melebihi bebeknya. Sambalnya mantap, pedas, dan nggak bikin moncor.

Harga makanan selain menu bebek-nya cukup bersaing dengan restoran-restoran sejenis, tapi khusus untuk menu bebeknya, memang masih cukup mahal.

Penasaran? Yuk mari dicoba :)

Bebek Tepi Sawah Living World
Living World Mall Alam Sutera Boulevard Kav.21
Serpong, Tangerang - Indonesia
Ph: +62 21 29211919

Bebek Tepi Sawah Restaurant Ubud
Jl. Raya Goa Gajah, Br Teges, Peliatan
Ubud 80571 Bali - Indonesia
Ph: +62 361 975656

Bebek Tepi Sawah Restaurant Tuban
Jl. Raya Tuban, Krisna Wisata Kuliner 2nd Floor
Tuban 80361 Bali - Indonesia
Ph: +62 361 767251

Bebek Tepi Sawah Restaurant Kuta
Jl. Kartika Plaza, Bintang Bali Hotel Arcade
Kuta 80361 Bali - Indonesia
Ph: +62 361 8465717

Bebek Tepi Sawah Cilandak Town Square
Ground floor Cilandak Town Square
Jl. TB Simatupang Jakarta Selatan
Ph: (021) 2904 2818

Bebek Tepi Sawah Pondok Indah Mall 2
Jalan Metro Pondok Indah Blok IIIB, 3rd Floor

Jakarta, Indonesia

http://www.bebektepisawahrestaurant.com/
Instagram: @bebektepisawah

Monday, July 7, 2014

Talaga Sampireun: Sensasi Makan Seafood di Tepi 'Telaga'.

Sebelumnya, gue nggak tau sama sekali kalau tempat makan ini nyatanya 'eksis'. Terletak di kawasan Bintaro, Talaga Sampireun ini ternyata sudah dikenal banyak orang sejak berdirinya tiga-empat tahun yang lalu. Hemm.



Gue sendiri mengenal tempat makan ini dari hasil kepo-kepo semua merchant Jakarta Pass. Iya, Talaga Sampireun adalah salah satu tempat makan yang bekerja sama dengan Jakarta Pass. Sayangnya, Jakarta Pass hanya berlaku weekdays di Talaga Sampireun, sementara weekend nggak berlaku. Lumayan sih, Jakarta Pass bisa membawa 15% discount pas makan di sini.

Talaga Sampireun ini ternyata merupakan bahasa Sunda yang artinya tempat singgah di tepi danau. Tempatnya teduh soalnya dikelilingi danau. Danau buatan sih ya kelihatannya. Di tengah-tengah danau ada air mancurnya. Di sekeliling danau, ada saung-saung yang bisa digunakan sebagai tempat makan dan berkumpul keluarga yang nyaman. Cuma (ada cumanya, nih), untuk makan di saung, kita harus memesan makanan dengan total minimal 800.000 rupiah. Alhasil, karena gue nggak mungkin makan sampai jumlah segitu, jadinya gue memilih untuk duduk di tempat lain yang masih bisa menghadap danau dan terdiri atas 1 meja serta 4 kursi. Cukup kok untuk makan berempat (waktu ke sini, papa gue nggak ikut soalnya :()


Seluas ini...
Talaga Sampireun ini luas banget dan memang pas untuk jadi tempat berkumpul keluarga kecil maupun keluarga besar. Kalau sama teman-teman, mungkin bisa cocok mungkin juga nggak. Yang serunya lagi, di Talaga Sampireun ini disediakan kursi roda. Jadi, Opa gue yang agak kesulitan dalam berjalan sangat amat dimudahkan dengan adanya kursi roda ini. 


Sesyahdu ini...
Lanjut ke pembahasan menu-menu yang gue pesen yaaa...

1. Gurame Terbang (IDR 79)

Gurame goreng yang dibentuk dalam posisi berdiri ini memang sepertinya sudah menjadi favorit semua orang di rumah makan Sunda manapun. Soalnya dimana-mana, menu ini pasti jadi chef-recommendation gitu. Masalahnya tinggal rasa si ikannya aja, cocok atau nggak sama lidah kita.



Di keluarga gue, yang paling suka sama gurame goreng terbang adalah Oma Opa gue. Jadinya gue pesen ini biar mereka bisa makan. Tekstur keseluruhan guramenya ini super garing, tulang-tulang di pinggir sampai ekornya bisa digerogotin kayak kerupuk. Seru banget dimakan sama sambel kecap yang mereka sediain. Cuma, rasa dari ikannya sendiri 'kurang' kalau menurut Oma Opa gue. Mungkin kurang sesuai selera kali ya.

Tapi itu pendapat Opa Oma gue. Gue sendiri sih suka-suka aja, karena emang pada dasarnya, gue suka apa aja yang memang garing. Soal daging ikannya sendiri, menurut gue rasanya juga biasa-biasa aja. Nggak kurang. Nggak enak banget juga. Keunggulan dari menu ini terletak di kesegaran ikannya yang emang terasa. Mungkin aja yang dimasak ini adalah ikan gurame yang lagi berenang-renang, sehingga baru sebaru-barunya. Hehe.

Dari nilai 1-10, menu ini dikasih nilai 7.5. 

2. Ikan Gurame Bakar Bumbu Cobek (IDR 79)

Nggak lengkap kalau makan ikan goreng nggak ada ikan bakarnya juga. Jadilah gue memesan menu ini, Gurame Bakar Bumbu Cobek. Skenarionya, gue sama mama makan yang bakar. Opa sama Oma makan yang gurame goreng. Tapi, memang nggak serius-serius amat jalanin skenario itu, jadi ya semuanya saling comot juga. Opa gue yang paling getol makanin ikan bakar bumbu cobek ini. Salut deh ya, masih kuat makan pedes. Enak sih! Woohoo!



Gurame bakar bumbu cobek di TS ini enak. Bumbu bakar-bakarannya (manis, asin, dan bumbu ikannya) terasa di lidah. Udah bumbunya enak, sambel yang melapisi di atas badan ikannya juga pol pedesnya! Jujur, gue jauh lebih suka Gurame Bakarnya dibanding Gurame Gorengnya. Mama dan Opa juga mengakui hal itu. Kalau oma sih, emang nggak doyan ikan bakar. Jadi, nggak nyobain deh.



Dari nilai 1-10, menu ini dikasih nilai 8.5. 

3. Kepiting Bakar Daun TS (IDR 128)

Nggak berhenti di Gurame aja, kita juga mesen Kepiting Bakar. Setiap porsi terdiri dari satu kepiting (kepiting jantan) aja. Ukurannya sih jumbo, jadi puas. 



Kepiting ini dibakar pakai saus-saus dan bumbu-bumbu tertentu, terus dibungkus pakai daun TS. Daun TS ini mungkin maksudnya adalah daun yang tumbuh di sekitar Talaga Sampireun kali ya. Bodohnya aku tak bertanya lebih lanjut. Mhihi. 

Kepiting itu pada dasarnya kan enak ya. Bumbu-bumbunya agak spicy gimana gitu. Tapi yang ngeselin dari makan kepiting itu adalah satu. Yap, BUKANYA RIBET. Hahaha, butuh perjuangan buat bukain cangkang-cangkang itu kan yaa. Tapi, tak apalah, rasanya berbanding lurus dengan kesusahan kita mengumpulkan daging kepiting itu, kok. Hehe.


Dari nilai 1-10, menu ini dikasih nilai 8. 

4. Cumi bumbu mangga (IDR 59)

Akhirnya, hidangan laut lain yang kita pesen adalah cumi dan kita merelakan diri untuk tidak memesan udang lagi. 



Cumi goreng tepungnya enak. Tapi, cuma buat gue doang enaknya. Cuminya lunak dan mudah digigit soalnya. Mangga yang nemenin si cumi bisa digadoin juga, makanya seru. Asem-asem pedes. Beda lagi sama pendapat dari oma dan mama gue. Mereka bilang, cuminya kurang berasa bumbunya. Cenderung nggak ada rasanya malahan. Terus, kebanyakan tepung dan sedikit masih basah alias nggak garing. 

Oma dan mama gue akhirnya sedikit berkesimpulan kalau makanan yang digoreng-goreng di TS ini kurang oke dan kurang sesuai dengan selera mereka. Yang bener-bener jempolan justru yang bakar-bakar dan menu kepitingnya. Itu enak banget, sih.


Dari nilai 1-10, menu cumi ini dikasih nilai 7. 

5. Tumis bunga pepaya (IDR 27)

Cuma satu kata. PAHIT! Gue nggak suka dan nggak bisa makan banyak-banyak. Kalaupun makan, harus ditemenin sambel banyak-banyak. Kalau nggak, ampun deh. Haha.
Ini favorit oma mama dan opa gue banget sih tapi. Beda umur sih, ya... :'



Menu lainnya: 
6. Nasi Putih (IDR 9) -- OMG!
7. Teh Tarik (IDR 19)
8. Es Teh Tawar/ Teh Hangat Tawar (IDR 9) -- OMG juga!
9. Air Mineral (IDR 12)


SPOTTED! Bentuk wastafelnya unik-unik
Terlepas dari makanan-makanannya yang agak mahal, ketika kita memutuskan untuk makan di Talaga Sampireun, yang kita beli nggak cuma makanannya aja. Tapi juga suasanannya, suara gemericik airnya, pemandangannya, serta kegesitan dan keramahan pelayannya.

Di sini juga ada jaminan yang diberikan oleh TS. Kalau makanan yang dipesan datang setelah lebih dari jangka waktu yang ditentukan, maka pemesan berhak mendapatkan 'sesuatu' dari Talaga Sampireun (kalau nggak salah, produk gratis atau diskon)...

Tempatnya recommended abis buat kalian yang mau nyari suasanya syahdu bareng keluarga. Kumpul-kumpul, cerita-cerita, ketawa-ketawa, pas banget! 

Desir angin, gemericik air.
Wiati bulao diluhut hamparan pare
Angin ngahiliwir nyabak kana hate
Batara alam mukakeun gapura hidup
Talaga endah anu nyreset hate

(kutipan dari buku menu)

TALAGA SAMPIREUN

BINTARO
Blok B7/N1 Boulevard Bintaro Jaya
Kawasan Niaga Bintaro Sektor 7
(021) 745 3999; 0857 1159 6323
bb: 7A0DFC78
Reservation: (021) 745 3999 (reservation@talagasampireun.com)

ANCOL
Jalan Lapangan Golf 7 Ancol, Pademangan Utara
(021) 647 00400; 081 299 222 175
bb: 73CF595F 
Reservation: (reservation.ancol@talagasampireun.com)

www.talagasampireun.com
Instagram: @TalagaSampireun
Facebook: Talaga Smpireun

Friday, June 13, 2014

Sinou Kaffee Hausen: Find the Best Cordon Bleu in Town.

Minggu, 1 Juni 2014.

Oma bilang, di SINOU, Cordon Bleunya paling enak. So, hari Minggu kemarin kita LateLunch - EarlyDinner-nya di sini. Oma gue udah beberapa kali menyampaikan keinginannya itu ke gue, sehingga, pas waktunya lagi ada, ya gue sama mama bawa Oma Opa ke sana.

Jujur, kunjungan ini adalah kunjungan yang ketiga kalinya di Sinou Kaffee Hausen. Dua kali sebelumnya pas gue ke sini, ada aja kendalanya buat nyari bahan tulisan di blog (seperti misalnya, gue nggak bisa ambil foto karena hp mati dan lain-lain.)

Akhirnya, di kunjungan ketiga ini, gue bisa nulis juga apa yang ingin gue rekomendasikan.

Pertama kali tau Sinou Kaffee Hausen itu ketika awal-awal gue masuk kuliah, which is itu tahun 2010 atau tahun 2011. Saat itu, gue belum berkesempatan langsung ke Sinou sehingga harus menunggu beberapa lama untuk nyoba makan di sini. Pertama kali ke sini, itu pas gue lagi nggak sengaja nyasar ke daerah Panglima Polim. Tiba-tiba ketemu Sinou, yaudah kebetulan juga kan udah lama ingin mencoba.

Setiap gue berkunjung ke Sinou, suasanannya selalu sepi dan tidak banyak pengunjung. Mungkin karena gue biasanya mengunjungi Sinou sekitar pukul dua atau tiga siang, jadi sudah bukan lagi jam makan siang.

Sinou Kaffee ini memiliki desain interior yang menarik. Gue sulit menebak konsep apa yang ingin dibawa. Retro klasik mungkin. Di depan pintu masuk Sinou Kaffee ini, kita bisa melihat vespa antik warna kuning. Kemudian, ornamen-ornamen di dalam Sinou Kaffee Hausen ini juga lebih ke barang-barang antik atau kuno-kuno klasik begitu. Pencahayaannya tidak begitu terang, melainkan cukup redup. Cukup nyaman, namun lagi-lagi untuk foto agak kesulitan karena terkesan remang-remang.


Vespa kuning Eye Catching
Karena kemarin gue mengunjungi tempat ini sama Oma Opa dan Mama, akhirnya kita memesan 1 Appetizer, 3 Main Course, dan 4 Drinks.
Here they are, the reviews!


1. Chicken Cordon Bleu (IDR 53)
Cordon Bleu -seperti yang sempat gue jelaskan di post terdahulu- adalah filet ayam yang digulung bersama ham dan keju, biasanya berbentuk tebal agak lonjong dan digoreng dilapisi tepung.




Soal ukuran, Cordon Bleu di Sinou cukup besar dan padat banget dagingnya. That's why, Opa Oma gue cukup memesan satu porsi untuk bagi dua. Gue sendiri nggak pernah memesan Cordon Bleu di Sinou, cuma minta sepotong-potong sama Oma Opa, hehe. Rasanya enak banget sih emang. Ayamnya nggak hambar. Keju dan hamnya berasa. Terus karena disertai Mayonnaise juga, jadi makin lengkap deh makan Cordon Bleunya ini.

Karena Oma Opa gue terus-terusan makan Cordon Bleu kalau ke sini, makanya Oma Opa gue lebih tau sensasinya kalau menikmati Cordon Bleunya dalam porsi yang pas. Kalau gue kan icip-icip aja. Hehe.

2. Fish and Chips (IDR 53)
Fish and Chips juga sebenarnya menu yang bisa kita jumpai di mana saja. Umumnya, merupakan filet ikan goreng tepung (biasanya ikan Dory), kemudian disajikan bersama kentang goreng dan dikasih mayonnaise juga.



Nah, Fish and Chips di sini rasanya cukup standar. Enak banget juga nggak, nggak enak juga nggak. Filet ikan di sini terkesan lembut, bumbunya pas kalau kata nyokap gue, dan teksturnya renyah dan -krenyes-.

Kalau ukuran sih, pas buat satu orang dan dijamin kenyang. Tapi, nggak kekenyangan juga. Buktinya, nyokap gue masih muat makan yang lain. Hehe.

3. Spaghetti Marinara (IDR 49)
Spaghetti yang dilumuri saus berwarna merah ini memiliki rasa asam-manis yang dominan. Isinya ada seafood (cumi - udang) dan ukurannya (juga) pas buat satu orang.


Karena saus spaghettinya cukup banyak dan memang terasa sekali rasa asam-tomatnya, gue rasa spaghetti ini kurang pas sama lidah-lidah yang nggak suka asam.

Kalau nggak pas sama rasa asam-tomat di pilihan spaghetti yang ini, banyak spaghetti pilihan lain kok yang (mungkin) enak-enak. Hehe.

Oiya, kalau suka keju, di Sinou ini kita bisa minta keju parmesan tambahan. Free. Gue sih kemarin minta itu buat ditaburi di atas spaghettinya. Jadi ada rasa asam-tomat plus rasa kejunya. Enak!

4. Mayo Cheese Fries (IDR 36)

Menu ini harusnya sih jadi Appetizer, cuma karena kita maunya isi perut pakai yang kenyang-kenyang dulu, jadinya si kentang goreng ini kita makan belakangan.



Namanya kentang goreng, apalagi kalau punya tekstur yang renyah tapi isinya ga kering, itu enak banget. Nah di menu ini, kentang gorengnya kan enak, terus ditambahin keju parmesan, ditambahin mayonnaise, dan dilapisi sama keju di atasnya. No need to describe the taste-lah. Enak. FYI, mayonnaise sama keju parmesannya itu langsung dicampur di kentangnya dan lelehan kejunya cukup banyak. Hmm.

5. Green Tea Latte (IDR 35)
Masuk ke jenis minuman, Green Tea Latte-nya sih pada dasarnya enak. Susunya terasa dan green tea-nya juga. Cuma, minuman ini terlalu encer. Jadi gue kurang suka.

6. Ice Oreo Choco Caramel (IDR 35)
Nah, kalau yang ini enak. Oreonya terasa. Coklatnya juga. Caramelnya apalagi. Dan nggak encer minumannya. Rasanya manis-manis pahit gitu. Mungkin, ada campuran kopinya, tapi gue nggak konfirmasi lagi bener/nggak. Kata nyokap, mungkin pahit itu berasa dari oreonya.

7. Ice Tea (IDR 27)
Standar es teh biasa. Terpisah sama gula cairnya.
Ice Oreo Choco Car - Ice Tea - Green Tea

Overall, suasana Sinou Kaffee Hausen ini enak dan nyaman. Rasa makanannya juga enak. Dan untuk varian menu, selain Main Course yang gue pesen, ada makanan lain yang manis-manis seperti Pancake. Salad juga ada.

Kekurangannya terletak pada harga. Kurang merakyat memang. Hehe. Cuma untuk Cordon Bleu dan Fish and Chips-nya masih bisa dimaklumi karena worth it ya. Kalau untuk Spaghetti dan minuman-minuman yang gue pesen, it seems pricy.

Tapi, memang harus dipahami, lokasinya aja di PangPol. South Jakarta broo. Jadi, ya rata-rata harganya segituan juga.

Kalau memang penasaran sama Cordon Bleu yang menurut Oma gue paling enak ini, yuk mari mampir :)


Sinou Kaffee Hausen

Jalan Panglima Polim V No. 26
Jakarta, Indonesia 12190
021 7258 568
sinou_kaffee@yahoo.com
Twitter: @SinouCoffee
Facebook: https://www.facebook.com/SinouKaffee


-NEW UPDATE!-
Akhirnya, untuk keempat kalinya gue ke Sinou lagi. Ketemu sama admin Twitter-nya yang baca review gue dan really appreciate itGot free sesuatu juga, ihiy asik!

Kali ini, ada satu menu baru yang gue cobain di sini. MIE JAWA (IDR 49). Kenapa mesen ini? Soalnya lagi nggak pengen makan yang ala bule-bule gitu. Hehe.

Mie Jawa!
Mie Jawanya gue minta yang goreng, tanpa kol dan pedas. Yang rebus juga sebenarnya ada. 

Bentuk mi-nya kayak spaghetti gitu. Halus teksturnya. Rasanya biasa aja kalau belum ditambahin bumbu-bumbu lain. Satu porsi Mie Jawa ini akan ditemani oleh jeruk nipis, sambal, dan kecap manis. Nah, lo bisa berkreasi sendiri deh nih dengan menggunakan bumbu-bumbu ini.

Gue sendiri, menambahkan kecap manis sama sambalnya. Tenang, nggak terlalu pedas kok sambalnya! Jeruk nipis gue kasih sebanyak-banyaknya biar segerrr. Karena ada tomat juga, jadi tambah seger dan JAWA banget juga jadinyaaa. Makan mi-nya enak soalnya teksturnya bule (mirip spaghetti) rasane Jowo. Boleh lah buat variasi sekali-kali.
*ps: harga cukup tinggi, jadi sekali-sekali aja nyobain yang ini* :) 

Untuk minuman, gue pesen Mango Milk Shake (IDR 33). Milk Shake di Sinou rasanya smooth dan nggak terlalu manis. Gue suka! Gue inget, dulu pernah pesen Banana Milk Shake, dan enak juga. Milk Shake di sini emang menurut gue lumayan juara. Nggak kemanisan, plus susunya terasa! Kalau nggak mau makan berat, bisa mesen minuman ini aja. :)

Karena pas di sini ada debat Capres dan gue sama mama opa oma mau nonton inian, akhirnya, gue memesan satu minuman lagi, yakni Iced Hazelnut Latte (IDR 34). Rasanya standar es kopi susu biasa, tapiiiii, ada hazelnutnya. Untuk yang ini, so soryy, gue nggak begitu suka, hehe. Pertama, gue hanya cocok dengan rasa kopi (maupun variasi kopi lain) tertentu. Kedua, sirup hazelnutnya nggak terlalu berasa :(.

Sekian update review-nya, semoga bermanfaat!

SINOU KAFFEE HAUSEN, LOVE THIS PLACE!

Friday, May 30, 2014

Makan malam di Yuan Mongolian Restaurant: The Shabu Cuisine...

Gagal diet detected. -,-

Seminggu menjalani diet ketat ternyata berujung tak sempurna.
Minggu malam (25/5) akhirnya semuanya runtuh seketika ketika akhirnya gue sama mama papa oma opa memutuskan makan malam di sebuah restoran di Alam Sutra.

Nama restorannya Yuan, Mongolian Restaurant. Mongolian Food yang ditawarkan membuat gue akhirnya penasaran. No googling-googling, No kepo-kepo, langsung aja menuju TKP dan lihat menunya langsung...

Penampakan restorannya... Cukup... Nyaman untuk keluarga...
Restoran ini ternyata sudah berdiri mulai November 2011. Karena kurang memperhatikan atau kurang menonjol dibanding restoran-restoran di dalam The Flavor Bliss yang ada tepat di seberangnya, gue sama keluarga nggak begitu sadar dengan ke-eksis-an restoran ini. Baru sadar ketika waktu itu kita makan di Pho24 Vietnamese Pho Noodle  dan melihat ke arah seberang. Nah, terlihat deh si YUAN ini.

Begitu masuk, aroma MSG-nya merebak. Entah sih, MSG beneran atau justru wangi kaldu yang memang aduhai enaknya. Cuma, begitu masuk restorannya, aseli bikin perut langsung bermain gendang.

Gue langsung duduk di tempat paling dekat pintu masuk. Lihat-lihat menu dan akhirnya memutuskan untuk pesan makanan porsi-an. Selain porsi-an, sebenarnya kita bisa memilih menu shabu-shabunya. Untuk menikmati shabu-shabu ini juga ada dua pilihan. Mau bayar per-pilihan aja (daging, seafood, ball, and vegetables) atau All You Can Eat. Hmm.


Spoiler penampakan meja gue. *bingung caption*
Untuk yang bayar per-pilihan...
Pertama, lo harus pilih dulu mau kuah rasa apa (House Special Original Broth, House Special Spicy Broth, Half Half -Original and Spicy Broth-, House Special Cooling Broth, dan Half Half -Cooling Broth and Spicy Broth)
Kedua, lo bisa pilih menu untuk shabu-shabunya (The Meat -daging sapi dan domba-; The Balls, Raw La Mian and Wonton; The Vegetable, Mushroom, and Tofu). Pilihan-pilihannya beragam sekali. Setiap jenis punya harganya masing-masing begitu.


Ini pilihan-pilihan kuahnya
Penampakan menu, di halaman pilihan daging-daging...
Ketiga, tunggu semua pesanan datang dan, your shabu-shabu is ready!!! Tinggal beraksi cemplung-cemplungin bahan-bahannya ke dalam panci yang akan dipanaskan di tengah-tengah meja lo.

Untuk yang memilih All You Can Eat...

Lo akan dikenakan biaya IDR 148.000,- per orang. Peraturannya? Ada...

1. Setiap meja harus memesan menu makan sepuasnya yang sama
2. Silahkan menghabiskan makanan yang sudah dipesan.
3. Untuk makanan yang tersisa akan dikenakan biaya sebesar 1 porsi dari harga ALA CARTE
4. Pelanggan diberikan waktu maksimal 2 jam.
5. Anak 12 tahun dihitung setengah harga.
6. Hanya berlaku untuk makan di tempat.
7. Tidak dapat digabungkan dengan promosi lainnya.

Nah, untuk pilihan All You Can Eat, rasa-rasanya, nggak semua pilihan menu bisa dinikmati. Hanya pilihan-pilihan tertentu aja yang bisa diikutsertakan ke dalam tipe All You Can Eat ini. Kenapa gue tau? Soalnya di kertas pesanan yang gue peroleh, nggak semua menu ada kolom quantitynya. Hehe...

Hmm, penasaran juga sih sama shabu-shabunya.
Tapi kita terlanjur memilih menu paket-an. Dan akhirnya, pilihan kita (gue mama papa oma opa) jatuh pada beberapa menu di bawah ini...



1. Minced Beef La Mian With Mix Ball - untuk papa (IDR 32)
Tidak sempat mencicip. Hiks.




2. Minced Beef La Mian With Fish Ball - untuk mama (IDR 32)
Tidak sempat mencicip punya papa, tapi sempat mencicip punya mama. Nama menunya sama, bakso yang menemani aja yang beda. Punya papa, baksonya campur. Ada sapi dan ikan. Nah, di pesanan mama, baksonya cuma bakso ikan aja.

Setelah mencicip, jujur gue kurang suka. Rasanya biasa aja. Kurang asin-asin pedas gurih gitu deh. Mungkin emang belum gue tambah-tambahin bumbu lagi sih, tapi rasa aslinya emang datar aja gitu...



3. You Po Mian With Lamb - untuk gue (IDR 30)
Nah, ini the best lah. Gue emang nggak suka Minced Beef La Mian-nya, tapi You Po Mian ini gue suka! Soalnyaaa, bumbunya langsung dicampur di mangkok mi-nya. Jadinya gurih. Bayangkan, rasanya itu seperti bumbu mi instan/ bubuk kaldu dicampur bubuk cabe dicampur kecap asin.Wuidih!




Bentuk mi-nya juga nggak biasa. Melainkan unik luar biasa. Bukan mi halus-halus kayak bakmi. Bukan juga mi lebar atau kwetiau. Tapi, mi-nya ini diserut alias mi serut. Bentuknya kasar-kasar nggak beraturan. Pas dikunyah juga agak kenyal dan nggak mudah hancur di mulut. Tapi, gue suka yang begini-begini... Hehe. Agak padat sih. Terlalu padat bahkan. Makanya, gue bilang diet gue gagal. Huh.

Daging dombanya gue suka. Ternyata, rasanya itu antara campuran rasa daging kambing dan daging sapi. Lebih soft juga teksturnya dan lebih creamy. Seolah-olah ada kandungan susunya gitu di daging ini. Hmm...

Makan mi ini didampingi semangkok kuah kaldu lagi. Jadi lebih segar dan nikmat aja gitu di mulut. Nggak cuma pesanan gue aja yang didampingi kuah, tapi Minced Beef La Mian itu juga ditemani kuah, kok.

4. Seafood Fried Rice - untuk opa oma (IDR 28)
Biasa, mereka bagi dua karena nggak bisa makan banyak-banyak. Selain makan nasi goreng ini, mereka juga dapat mi dari mama, mi dari gue. Jadi, mereka juga mencoba menu-menu lainnya. Yeay! :D



Gue nyobain nasi gorengnya satu sendok. Bumbunya pas dan cukup terasa. Nggak kekurangan rasa atau tawar, apalagi kelebihan bumbu. Enak di lidah meskipun nggak perlu pakai banyak kecap seperti nasi goreng di tempat lain. Uhuy lah pokoknya...

5. Pan Fried Dumpling with Lamb - untuk rame-rame (IDR 38)
Papa yang mesen. Kita habisin sama-sama. Bentuknya kayak dumpling biasa, tapi ini isinya daging domba. Terus digoreng di atas pan gitu. Satu porsi isinya delapan buah. Cukup enak. Daging dombanya dihalus-halusin dan ditambah daun bawang. Ya, mirip-mirip suikiaw/shrimp dumpling/pangsit lah.



6. Lamb Satay - untuk rame-rame (IDR 36)
Satenya tanpa bumbu kecap, tanpa bumbu kacang, tanpa bumbu lah. Disajikan begitu saja tanpa saus apa-apa. Seperti daging bakar biasa. Rasanya bolehlah. Recommended kok. Kurang manis aja jadinya kurang lezat deh. Haha, soalnya kan gue cinta semuanya yang dibakar-bakar pakai kecap (ingat cerita-cerita gue sebelumnya?)



7. Oolong Chinese Tea for 5 (@IDR 12 )
Ini nggak recommended. Cukup high price yaaa. Hehe.

Nah, dari keseluruhan menu itu, yang paling the best emang pesanan gue. Sama Lamb Sataynya cukup enak lah.
Soal harga, kalau makan bareng keluarga, harus siap-siap uang sekitar IDR 300.000,-. Kalau makan sendiri atau berdua, agaknya IDR 100.000,- sampai IDR 150.000,- cukup. Kecuali ya mau All You Can Eat

Yuk ah yang penasaran nyobain Mongolian Food dan Shabu-Shabu dengan banyak pilihan, langsung aja ke Yuan! 

Yuan The Shabu Cuisine: Jalan Alam Sutra Boulevard Blok 10E No. E1-E2 Serpong.

See yaa next pengunyahan!