Showing posts with label recommended. Show all posts
Showing posts with label recommended. Show all posts

Sunday, May 22, 2016

Wisata Alam Singaraja, Pesona Indah di Bali Utara

Hai! Lama nggak pernah nongol di blog ini lagi, sekalinya nongol saya malah mau ngomongin Bali. Iya, salah satu pulau yang terkenal dengan bule-bule berbikininya, maupun dengan keindahan alamnya yang luar biasa.

Bicara tentang Bali, pastinya yang ada di bayangan kita adalah Kuta, Legian, Sanur, atau paling jauh sedikit adalah Ubud dan Tanah Lot. Karenanya, kawasan-kawasan tersebut memang sudah berpuluh-puluh tahun terkenal akan wisata alamnya yang super indah, kalau nggak bisa kita bilang super memanjakan mata. Bali, yang kerap diberi nama panggil Pulau Dewata memang menjadi daya tarik yang aduhai bagi para wisatawan yang ingin sekadar rileks dan menyegarkan pikiran, plus badan. Semua pasti sepakat, keindahan alam pulau Bali memang tak akan pernah mampu ditolak maupun dielak, bukan begitukah?

Lantas, mengapa ketika semua orang sudah mengetahui tentang Bali, tapi saya masih menulis tentang Bali? Jawabannya sederhana. Karena saya mau memberi pemaparan tentang suatu daerah di Bali yang mungkin masih belum se-hits pantai Kuta atau Seminyak. Namanya, Singaraja.

Tepat! Sebuah daerah di Bali sebelah Utara yang mungkin tidak setenar Uluwatu atau pun Kuta, namun apa yang bisa dinikmati di sana, nggak kalah menarik dari Tanah Lot atau pun Pantai Sanur. Pasalnya di Singaraja, kita bisa bertemu dengan Pantai Lovina, berkenalan dengan Brahma Vihara Arama, bercengkerama dengan Air Panas Banjar, serta bersendagurau dengan Air Terjun Gitgit. Pernah dengar sebelumnya?

Tuesday, December 15, 2015

La Famille Bélier - Mengusik Sisi Perasa

Rasa-rasanya, saya punya sensitivitas berlebihan. Saya menangis ketika yang lain merasa biasa. Saya tersentuh, hanya dengan mendengar kata-kata sederhana. Ah, mungkin saya memang sebegini melankolisnya.

Friday, September 25, 2015

Antologi Rasa > Mengaduk Rasa, Menitikkan Air Mata

Telah lama bersarang di rak buku saya, akhirnya Antologi Rasa karya Ika Natassa bisa juga saya lahap dalam satu hari saja. Sosok Keara, Harris, dan Ruly yang seolah sempurna fisik maupun materi-nya ternyata tak membuat mereka luput dari kejaran teror perasaan. Membuat saya yang tadinya enggan untuk menamatkan semua babnya kurang dari 24 jam, toh akhirnya melanggar dengan sendirinya.

Tuesday, September 22, 2015

Dwilogi "SAMAN - LARUNG" Ayu Utami - Dipaksa Menalar dan Merasa

Lagi-lagi, buku yang selesai dibaca setelah hanya terpajang selama sekian bulan di dalam rak buku saya: Dwilogi Saman dan Larung oleh Ayu Utami.

Usai menamatkan trilogi Parasit Lajang (Si Parasit Lajang, Cerita Cinta Enrico, Pengakuan Eks Parasit Lajang) yang berasal dari penulis yang sama, saya akhirnya memulai babak baru perjalanan membaca saya dengan dwilogi ini. 

Monday, September 21, 2015

Human Bestiality in one of Eka Kurniawan's novels - Lelaki Harimau (Man Tiger)

SYNOPSIS

As he grows up to be a mature guy and leaving his adolescent, a man named Margio feels a tiger live inside his body. Facing the difficulties on his family-life has already been his 'routine' everyday, starting from the very beginning of his life. A father with a very bad attitude to be shown in front of his family, and the depression of her mother owing to the craziness of her husband.

Monday, September 14, 2015

Familienfieber (Family Fever); 2014 - Pelik dan Keluarga

Minggu, 13 September 2015

Hari ini, untuk pertama kalinya, saya menonton film di festival sama mama.

Beberapa hari sebelumnya, ketika saya sedang melihat linimasa Twitter saya, munculah sebuah akun membawa kabar gembira. Katanya, akan ada festival sinema Jerman. Langsung saja saya klik linknya, mengecek film-filmnya, berikut jadwalnya, dan saya langsung mengajak mama. Ia menjawab ia, lantas saya jadi bersukaria.

Hari Minggu, pukul 17.00, bertempat di Goethe-Institut, saya dan mama menonton film berjudul Familienfieber (Family Fever).

Thursday, July 2, 2015

SAIA - Djenar Maesa Ayu: Gelap Gemerlap, Muram, Kelam.

Khas Djenar. Sangat khas Djenar.

SAIA adalah buku Djenar yang keempat yang saya baca. Ceritanya masih berkisar wanita, pria, gairah, narkoba, dan rumah tangga. Semuanya, tidak ada yang bahagia. Meski begitu, saya cukup suka.

Monday, June 29, 2015

Pengakuan Eks Parasit Lajang: Sebuah Pengakuan dan Pencatatan Kesadaran

Berhasil menyelesaikan trilogi Parasit Lajang sepertinya adalah salah satu pencapaian kecil dalam riwayat hobi membaca novel saya.

Yeay!

Trilogi ini mampu mengajak saya berkenalan dengan pikiran-gagasan seorang Ayu Utami. Pun mengenalkan saya pada gaya menulisnya yang halus, namun tegas dan jelas, serta pada perjalanan hidupnya yang (bagi saya) terkesan rumit.

Bagaimana bisa?

Wednesday, May 27, 2015

Cerita Cinta Enrico: Tak Melulu Harus Ikut 'Yang Seharusnya'

Sesuai komitmen saya di tulisan sebelumnya (Si Parasit Lajang: Membaca Perspektif Pernikahan Yang Lain) bahwa saya akan melahap Cerita Cinta Enrico segera setelah saya kenyang "Si Parasit Lajang", maka di sinilah saya sekarang, mencoba menuangkan hasil bacaan saya dalam bentuk ulasan yang, mungkin tak terlalu mendalam, tapi punya cukup gambaran. 

Seperti Apa Kisah 'Cerita Cinta Enrico'?


Thursday, May 21, 2015

Si Parasit Lajang: Membaca Perspektif Pernikahan Yang Lain

Saya ingin menikah. Tentu saja. Karena saya ingin punya anak dari suami yang sah. Tapi dengan keinginan saya yang seperti itu, bukan berarti saya tidak mengagumi karya Ayu Utami yang satu ini. Karya ini adalah karya Ayu pertama yang saya baca. Karya dari seorang penggelut sastra yang, tampaknya punya kendali penuh atas dirinya sendiri. Terutama kendali atas keputusan menikah. Atau tidak menikah.

Apa itu Si Parasit Lajang?

Awalnya, pada tahun 2013 ketika saya membeli buku ini, saya kira Si Parasit Lajang adalah sebuah novel yang menceritakan tentang pilihan mantap seorang perempuan muda urban untuk tidak menikah. NOVEL. Nyatanya, setelah pada tahun ini saya akhirnya membaca, buku ini bukanlah ditulis dalam narasi runut berkonflik seperti layaknya sebuah novel. Buku ini lebih layak disebut sebagai kumpulan cercahan pikiran dan catatan keseharian dari seorang A. A di sini saya duga tak lain adalah Ayu Utami sendiri, selaku penulis. Jadi, membaca ini sama saja dengan membaca pikiran-pikiran Ayu Utami serta jurnal sehari-harinya di era 90-an.

Si Parasit Lajang sendiri adalah sebuah istilah yang berasal dari lontaran seorang feminis Jepang. Di mana yang disebut single parasite atau Si Parasit Lajang adalah wanita berkarir maju yang tidak menikah, yang tetap numpang di rumah orangtua mereka tanpa perlu mengurusi segala sesuatu karena ada orang lain yang mengerjakan hal-hal rumahan. Istilah itu dipakai karena selayaknya ciri-ciri itu, begitulah juga tokoh A menggambarkan dirinya sendiri di dalam buku ini.  

Cewek, Cerdik, Cuek

Tak ada yang lebih menyenangkan dari pada menjadi seorang cewek yang cerdik dan cuek. Begitu yang saya kira. Dan mungkin di sini awal kata sepakat antara saya dan Si Parasit Lajang. Bedanya, kesepakatan antara kita terpisah ketika tokoh A ini lebih memutuskan untuk tidak menikah di akhir usia duapuluhannya. Sementara saya, mungkin di awal usia duapuluhan ini, saya tetap bertahan pada keputusan untuk menikah. Soal calon, itu urusan belakang. Betul?

Lagi, sama seperti apa yang saya sampaikan di awal, memutuskan untuk nantinya menikah bukan berarti bahwa saya tidak suka pada keputusan A untuk tidak menikah. Malahan, saya menjadi disegarkan kembali dan dibuat berpikir, apakah keputusan untuk menikah adalah sesuatu yang tepat? Atau, apakah menikah memang menjadi sesuatu yang saya perlukan? Di buku ini, A menyampaikan 10 + 1 gagasan mengapa ia pada akhirnya teguh untuk tidak menikah. Mulai dari alasan yang sederhana, sampai alasan yang menyertakan rumitnya logika. Salah satu alasan yang menarik, terletak pada kepedulian dan niat baik A untuk menaikkan 'harga' istri jika saja dia tidak menikah. 

Jika perkawinan ibarat pasar, orang-orang yang memutuskan tidak menikah sesungguhnya mengurangi pasokan istri seperti organisasi pengekspor minyak mengatur suplai minyak. Juga, mengingatkan para suami bahwa istri bisa tak bergantung pada dia. Dengan demikian, mestinya harga istri jadi lebih mahal sehingga harus diperlakukan dengan sebaik-baiknya. (Nah, saya peduli dan berniat baik, kan?) - hlm. xv
Alasan-alasan lainnya juga, seolah sama kuat dengan alasan yang saya cantumkan di atas. Dan semua alasan-alasan itu pada akhirnya ya, seperti berhasil untuk menyajikan satu sudut pandang lain tentang keputusan menikah. Perspektif lain yang membawa saya menyelami inti-inti pemikiran A dibalik keputusannya tidak menikah. Tema 'tidak menikah' inilah yang saya simpulkan, sangat mendominasi cerita dan kisah di dalam Si Parasit Lajang.

Saya katakan mendominasi karena pada dasarnya, buku ini tak hanya melulu soal keputusan menikah atau tidak menikah. Di dalamnya, buku yang terbagi atas tiga bagian besar ini (Kedai, Rumah, dan Perjalanan) turut menyampaikan catatan-catatan tentang hal-hal unik menarik yang dialami oleh A. Baik yang berkaitan dengan sahabat-sahabatnya, atau dengan sedikit bumbu hubungan percintaannya, sampai dengan kisah-kisah lucu di balik perjalanan-perjalanan yang A lakukan. Kiprah A di dunia sastra yang membuatnya sempat menginjakkan kaki di Eropa pun terasa menarik setelah dituangkannya dalam sebuah kisah. 

Sudut pandang A yang seringkali berbeda dengan sudut pandang mayoritas membuat saya mendapatkan cara baru dalam berpikir. Berpikir terbalik dan berpikir dari sisi yang tak umum. Misalnya saja, pendapatnya terkait cinta, seks, sampai kodrat seorang manusia yang saya rasa, berbeda dari pendapat kebanyakan. Pendapat mayoritas mana yang mengatakan bahwa sah-sah saja bagi seorang manusia untuk mereparasi tubuhnya? 

Ada beberapa kutipan yang berkesan bagi saya karena maknanya yang 'ngena' dari Si Parasit Lajang.

Tentang kodrat:

Jadi apa itu kodrat sebenarnya? Jika ia hukum, maka ia adalah hukum ketidakabadian. Jika ia bukan hukum, maka kodrat saya kira adalah potensi yang terberi pada kita (hlm.42)
Kesementaraan kodrat adalah kodrat pula (hlm.42)

Tentang cinta:

Dan begitulah jangan-jangan cinta. Seperti bunga. Jika ia tak lekang, berarti ia imitasi. Jika ia asli, maka ia cuma tahan tiga hari. (hlm. 83)
Cuma, cinta itu tidak seperti mawar potong, melainkan seperti pohon mawar. Perlu dirawat agar terus berkembang. Cinta adalah sesuatu yang hidup. (hlm. 83-84)
Tentang menikah:

Saya setuju bahwa manusia harus berkomitmen. Tapi, memangnya satu-satunya bentuk adalah pernikahan? Pernikahan itu bukan harus, melainkan perlu. Perlunya bagi yang membutuhkan saja. (hlm. 192)

Akhir kata...

A tak hanya sanggup merangkai jalinan pikiran yang membuat kita tak hanya membaca, melainkan juga turut masuk untuk berpikir. Meskipun pada akhirnya, jika tak ada sepakat, maka saya tak akan terlalu lama mengingat kata-kata atau pemikiran yang termuat di dalam buku ini. Mungkin bawaan otak yang memang pelupa dan jarang merekam. Akan tetapi, satu hal yang saya ingat adalah, Ayu Utami dalam Si Parasit Lajang mampu melugaskan pikiran-pikiran A dan mampu menyelipkan sisi humor yang kadang membuat saya tertawa meskipun susunan katanya tetap bagus dan tidak asal tulis.

Begitu selesai membaca Si Parasit Lajang, saya menjadi tak sabar untuk meneruskannya ke Cerita Cinta Enrico dan Pengakuan Eks Parasit Lajang, dua buku yang merupakan kelanjutan Si Parasit Lajang dalam sebuah trilogi. Dan begitulah demikian saya, menutup Si Parasit Lajang dan segera membuka lembaran Cerita Cinta Enrico.

Tunggu ulasannya ya :)

Tuesday, April 21, 2015

Filosofi Kopi The Movie: 'Menikmati' Rio Dewanto dan Chicco Jerikho.

Kopi! Ah, saya suka mendengar kata itu. Saya juga suka menyesapnya beberapa kali dengan hikmat secara nikmat. Tapi sayang, perut saya seringkali bergejolak menolak ketika saya sudah mulai meminumnya terlalu banyak. Ah, namun bukan itu yang ingin saya bahas di tulisan ini. Lebih dari secangkir kopi atau sebungkus besar biji kopi, saya ingin membahas tentang karya sastra hasil imajinasi cerdas Dewi Lestari yang diadaptasi ke layar lebar berjudul Filosofi Kopi.

Bagi kalian yang sudah menyaksikan filmnya di bioskop, saya bisa jamin akan sangat sedikit dari kalian yang tidak memujinya bagus (meskipun saya masih yakin semuanya akan sepakat mengatakan jika filmnya sangat bagus).

Bagi kalian yang belum menyaksikan filmnya di bioskop, saya dengan senang hati memaksa kalian secara halus untuk segera menuju bioskop terdekat dan terhemat untuk bisa menyaksikan film ini (kalau film sudah tidak ada di peredaran, kalian bisa tunggu DVDnya rilis! —atau download, hehe…—). Kalaupun kalian tidak berminat setelah membaca sinopsisnya, kalian pasti akan tetap terhibur dengan wajah tampan Rio Dewanto feat Chicco Jerikho ATAU wajah cantik khas Prancis Julie Estelle. Hmm.

Bagi kalian yang sudah membaca cerita Filosofi Kopi di kumpulan cerpen berjudul sama, tetapi belum menyaksikan filmnya di bioskop, saya dengan rendah hati mengingatkan kalian bahwa jalan cerita Ben dan Jody akan cukup berbeda antara buku dan film. Percayalah. Akan banyak penyesuaian-penyesuaian dan penambahan peran baru yang berbeda dengan yang sempat kita temukan di dalam halaman-halaman pertama buku Dee berjudul Filosofi Kopi. Namun, penyesuaian-penyesuaian itu sejatinya mampu menjadi bumbu improvisasi yang menyenangkan sehingga tetap saja, kalian harus menonton Filosofi Kopi The Movie!

http://www.filosofikopimovie.com/
SINOPSIS

Ben dan Jody, sepasang sahabat yang tumbuh besar bersama sedari kecil memutuskan untuk berduet membuka usaha kedai kopi bernama kedai Filosofi Kopi. Ben sebagai peracik kopi handal dan Jody sebagai penghitung keuangan merangkap penyedia kapital. Persahabatan mereka tak lantas membuahkan kekompakan. Perdebatan demi perdebatan datang setiap harinya, berkutat di persoalan obsesi meracik kopi sempurna, ada atau tidaknya layanan WiFi, serta persoalan keuangan yang semakin kritis menipis.

Di saat-saat genting, datang sebuah tawaran —lebih tepatnya tantangan— dari seorang pengusaha kaya untuk seorang Ben. Barista ini diminta untuk meracik kopi terenak senusantara bahkan sedunia yang akan disajikan pada investor incaran sang pengusaha kaya. Nominal taruhannya tentu tidak sedikit. Dalam waktu yang relatif singkat dan sangat terbatas, Ben terus giat melakukan sejumlah penelitian dan eksperimen secara berkepanjangan. Akhirnya, Ben berhasil menciptakan Ben’s Perfecto, sebuah racikan kopi yang diduga “sempurna”.

Di masa keemasan Ben’s Perfecto —saat itu Ben’s Perfecto belum diujikan pada pengusaha kaya plus investor terkait—, datang seorang wanita penikmat kopi bernama Elle yang tanpa sengaja membawa kabar keberadaan kopi Tiwus pada Ben dan Jody. Konon menurut kesaksian Elle, seorang Q-Grader yang bersertifikasi internasional, Ben’s Perfecto masih belum mampu mengalahkan kenikmatan kopi Tiwus yang ditemukan di sebuah sudut Pulau Jawa. Ben’s Perfecto belum mampu membuktikan dirinya sebagai yang paling ‘sempurna’.

Kehadiran kopi Tiwus ternyata tak sekadar berpengaruh pada mood Ben yang hampir menghilangkan obsesinya pada kopi, akan tetapi kopi Tiwus juga membawa perubahan dalam perjalanan hidup Ben, Jody, dan Elle.

KESANKU PADAMU, FILOSOFI KOPI THE MOVIE

Ada banyak hal yang disajikan dalam film Filosofi Kopi. Berbeda dengan cerita pendeknya yang secara singkat membawa makna “hidup tak ada yang sempurna”, Filosofi Kopi The Movie selain bercerita tentang kopi juga mampu menyeruakkan aroma kecintaan pada alam, kerenggangan hubungan ayah-anak, dan yang paling kental, persahabatan. Film ini sanggup membangunkan sisi kemanusiaan yang mungkin lama tertidur, sadar atau tidak sadar, dalam setiap individu. Film ini mampu “menghidupkan” apa yang terkesan kaku di dalam cerita pendek dalam buku. Entah tangan sutradara atau penulis skenario yang harus diacungi jempol, saya masih merasa terkagum-kagum akan cara pengemasan film ini yang betul-betul (lebih dari) menarik.

Kopi sebagai bagian dari alam, tentu dihasilkan dari tanaman yang ditakdirkan membuahkan biji kopi. Begitupun halnya dengan kopi Tiwus yang juga dilahirkan dari tanaman kopi di perkebunan kopi milik Pak Seno (Slamet Rahardjo). Ya, Pak Seno adalah orang yang dengan sangat tekun dan penuh kasih sayang, terus merawat tanaman kopinya hingga membuahkan biji-biji kopi yang penuh citarasa. Meskipun hanya disajikan dengan cangkir seadanya, serta hanya mampu dinikmati di dalam sebuah kedai kopi berdinding anyaman bambu, nyatanya kopi Tiwus mampu membuat Ben merasa kalah dalam tantangan yang diberikan sang pengusaha. Alih-alih meminta Pak Seno menjelaskan proses pembuatan kopi Tiwus dari masih biji hingga menjadi secangkir kopi enak secara ilmiah dan teoritis, Ben hanya berhasil mendapatkan wejangan kampung sederhana dari sang penanam kopi Tiwus. Kurang lebih wejangannya begini, ‘Merawat tanaman itu susah-susah gampang. Sama halnya dengan mengurus anak sendiri. Harus dirawat dengan penuh kasih sayang hingga menjadi baik tumbuhnya.’ Memang benar begitu seharusnya, bukan? Tanaman atau tumbuhan itu juga kan, makhluk hidup.

Perjalanan mencari kopi Tiwus membuat Jody dan Elle pada akhirnya menjumpai momen di mana mereka saling bertukar cerita tentang ayah yang sudah tiada namun meninggalkan sisa luka. Setelah pertemuannya dengan kopi Tiwus juga, Ben mampu berdamai dengan ayahnya setelah belasan tahun berlalu. Hubungan yang renggang antara ayah dan anak memang secara sempurna menyelimuti kehidupan tiga tokoh utama dalam film ini. Kehidupan Ben, Jody, dan juga Elle. Namun, cerita ayah-anak inilah yang membawa mereka terus berupaya berdamai dengan masa lalu dan salah satu caranya adalah dengan menjelajah bersama kopi.

Beralih dari hubungan ayah-anak, hubungan persahabatan Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) dalam FIlosofi Kopi The Movie memang benar-benar bisa dijadikan teladan bagi mereka yang mengaku bersahabat. Kepiawaian kedua aktor memainkan peran dan berdialog lugas tanpa terkesan menghafal, berhasil membawa pesan persahabatan itu sendiri. Kesan spontan dan natural membuat saya makin-makin mengagumi seluruh rangkaian cerita yang melibatkan mereka berdua. Adegan demi adegan bertajuk persahabatan Ben dan Jody sanggup membuat saya merasakan betapa hubungan persahabatan yang erat tanpa kemunafikan, tanpa niat jahat dan niat menjatuhkan, nyatanya mampu membuat persahabatan itu sendiri awet selama belasan tahun (dan mungkin selama-lamanya). Mereka menyajikan hubungan persahabatan yang hampir tanpa filter saat berkomunikasi, yang hampir secara terang-terangan mengungkapkan apa yang dirasa —marah ya marah, kesal ya kesal, berontak ya berontak— tanpa berusaha menutup-nutupi dan memanipulasi rasa. Satu kata untuk persahabatan Ben dan Jody (yang dimainkan oleh dua aktor tampan nan memanjakan mata): SUPER!

Terakhir, sepintas dalam Filosofi Kopi The Movie saya juga dapat menangkap pesan perjuangan untuk mewujudkan cita-cita bersama, menyelesaikan berbagai masalah bersama-sama, serta perjuangan untuk mengalahkan ego demi menyelamatkan nasib kedai yang dibangun bersama. Terkadang, hidup memang butuh perjuangan, bukan begitu?

YEAY! MARI MENYAKSIKAN FILOSOFI KOPI THE MOVIE!

Selain makna-makna sederhana yang saya (dan kalian akan) temukan dalam berbagai kepingan adegan, saya juga sangat ingin mengakui bahwa film ini betul-betul menyajikan sesuatu yang tak hanya memanjakan mata, tapi juga mengaduk rasa. Saya dibawanya ke dalam rasa haru, rasa lucu nan menggelitik, serta rasa yang ah bahkan saya pun tak tahu cara mengungkapkannya.

Tak lupa, saya turut mengapresiasi kerja keras seluruh tim di balik layar, terutama sutradara yang (dipastikan) bertangan dingin. Teknik pengambilan gambar yang ciamik —yang tak terlalu saya pahami namun saya kenal sedikit-sedikit—, suara-suara TAK GADUH alias lagu-lagu pengiring —yang sejauh telinga mendengar semuanya enak—, serta lanskap yang acap kali ditampilkan, semuanya keren!

TAPI, sekeren-kerennya sebuah film dibuat, pasti masih ada kekurangannya. Di film ini untungnya saya hanya menemukan satu hal yang cukup mengganggu (nggak tahu kalau penonton lain, ya). Satu hal di mana Joko Anwar, sang sutradara film Indonesia yang terkenal itu, muncul dalam salah satu adegan dan berperan sebagai penagih utang. Betul-betul tidak begitu pas aktingnya. Dialognya secara gamblang berkesan dihafal dan sedang berusaha diingat-ingat. Logatnya setengah Batak setengah Jakarta. Untungnya, Joko Anwar hanya muncul di satu adegan saja dan selanjutnya adegan-adegan di Filosofi Kopi kebanyakan didominasi oleh dialog Ben & Jody yang kerap kali mengundang tawa. Seru, lah!

Filosofi Kopi The Movie bagi saya telah mengajak semua penontonnya untuk:
menikmati Indonesia lewat kopi, menikmati hidup tanpa melulu menuntut sempurna, berdamai dengan masa lalu, dan yang terpenting, mengajarkan arti persahabatan sejati.

Selamat, ibu suri Dewi ‘Dee’ Lestari.

Selamat, Angga Dwimas Sasongko atas hasil karyanya di layar lebar.

*prok prok prok*

Wednesday, March 11, 2015

Selingkuh (Adultério) by Paulo Coelho: Takut Berubah, Takut Pula Bosan

Pada akhirnya saya tergoda oleh karya Paulo Coelho. Pada akhirnya, saya penasaran dengan penulis yang banyak melahirkan karya populer dunia itu. Pada akhirnya, saya membeli satu karyanya yang berjudul Selingkuh (judul aslinya Adultério, dan bukunya ditulis oleh Paulo Coelho dalam bahasa Portugis). Pada akhirnya, saya menghabiskan 4 hari untuk menyelesaikan halaman per halaman Adultério yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa yang pastinya saya mengerti dengan (cukup) baik, bahasa Indonesia. Pada maha akhirnya, saya pernah juga membaca karya Paulo Coelho.
Lalu, akankah saya membaca karyanya yang lain?

SINOPSIS

Adultério bercerita tentang seorang wanita yang memiliki kesuksesan dalam karirnya sebagai jurnalis, mempunyai keluarga yang harmonis, jika belum tentu bisa dikatakan bahagia, dengan seorang suami yang masuk daftar orang terkaya di Swiss, dan dikaruniai dua orang anak. Hidupnya bisa dinilai sempurna dan tak bercela, sebelum akhirnya wanita bernama Linda ini menyadari ada satu bagian dalam hidupnya yang masih kosong. Kesadaran yang timbul setelah ia melakukan sebuah wawancara dengan seorang narasumber yang mementingkan gairah hidup daripada menjadi bahagia. Dari sana, Linda mulai memiliki ketakutan-ketakutan yang sukar dijelaskan, tetapi selalu muncul membangunkannya setiap malam. Pelan-pelan ia menyadari, ia hanya takut pada masa ketika segala yang ia miliki berubah, semisal hilang atau lenyap. Celakanya, ia juga takut bilamana ia hanya selalu menjalani rutinitas yang sama setiap harinya —mengurus suami dan anak-anak, menjadi ibu serta istri dan wanita karir yang hebat— tanpa pernah mencecap adanya sesuatu yang ‘berbeda’. Kekhawatiran akan dua hal yang sama sekali bertolakbelakang ini akhirnya membawa Linda ke dalam petualangan-petualangan hidup, yang bahkan ia sendiri tak pernah sadar ia sanggup melakukannya. Linda mulai jatuh cinta lagi pada cinta monyetnya kala remaja. Dari sinilah semua bermula.

***

Adultério menggunakan sudut pandang Linda sebagai pencerita, sehingga saya merasa seperti kawan yang mendengar curahan hati Linda secara langsung. Latar waktu yang digunakan sekiranya sudah cukup modern, melihat bahwa perangkat canggih seperti iPad turut disebutkan dalam berbagai potongan cerita. Yang menarik adalah penggunaan latar tempat di dalam novel ini. Linda dalam Adultério berhasil mengajak saya untuk membayangkan suasana kota Jenewa, dan beberapa daerah lainnya di Swiss. Imajinasi saya berhasil diajak ‘main’ untuk memperoleh visualisasi pemandangan yang sejatinya indah dan menenangkan pikiran.

Membaca Adultério membuat saya terkadang geregetan. Saya tidak habis pikir dengan pola pikir seorang Linda yang justru terus mencari cara untuk mencari gara-gara dalam hidupnya. Namun, jika dikaitkan dengan permasalahan yang dia hadapi setiap malam, saya mulai bisa menerima bahwa Linda hanya mencoba mencari cara selain menenggak obat-obatan dan berusaha menggunakan pikirannya sebagai manusia, untuk keluar dari kubangan permasalahan yang ia rasakan dalam hidupnya.

Keputusan yang dianggap Linda merupakan solusi untuk menyelesaikan masalahnya ternyata justru merupakan awal dari munculnya masalah yang lain lagi. Uniknya, hal ini justru menambah semangat Linda, seolah ia siap untuk menghadapi masalah-masalah yang kemungkinan besar dapat menyerangnya setiap saat. Mengapa? Karena melakukan suatu tindakan yang berbeda dari tindakan yang biasa adalah sebuah cara untuk mengatasi permasalahannya, bagi Linda. Kebosanan akan melulu melakukan tindakan dan rutinitas yang sama persis setiap harinya telah membuat Linda menjadi orang yang (sangat) berani. Berani untuk berpaling.

Wawancara dengan seorang politikus yang merupakan mantan kekasih menjadi pintu masuk menduanya Linda dari suaminya. Namanya Jacob, lelaki yang kemudian menjadi pembangkit gairah baru dalam hidup Linda. Linda seperti dibutakan karenanya, ia hampir melakukan tindakan yang bahkan mampu membahayakan hidup orang lain. Dan herannya, ia senang melakukan itu semua. Linda seperti menemukan oase di tengah padang gurun. Linda mendapatkan kembali gairah hidupnya setelah bertemu Jacob. Linda merasa, ia telah menjadi pribadi yang lain, dan untuk hal ini, ia berhasil membebaskan diri dari kegiatan yang sama dan terus sama setiap harinya.

Adultério dari kaca mata saya seperti menampilkan sebuah pemaparan yang mempengaruhi saya untuk kembali merefleksikan hidup dari berbagai aspek kehidupan seorang manusia, seperti pencarian manusia akan rasa aman —termasuk keinginan besar untuk mencoba membahagiakan banyak pihak—, ketidakpuasan manusia akan segala pencapaian yang telah berhasil ditaklukan, hasrat terselubung manusia untuk selalu melakukan sesuatu yang ‘berbeda’ dan ‘menantang’ —tentunya sangat kontras dengan rasa aman yang digadang ingin dimiliki oleh setiap individu—, keinginan kuat manusia untuk menjadi pribadi yang bebas, serta potensi yang dimiliki setiap manusia untuk menyebabkan kondisi hancur.

Kadang kala, manusia memilih untuk tetap berada pada zona nyamannya karena merasa bahwa zona nyaman yang menjadi tempat ia berkubang adalah zona paling aman dan mampu memberikan semua yang dibutuhkan oleh seorang manusia. Itulah yang dialami Linda selama sepuluh tahun pernikahannya. Ia melakukan rutinitas yang sama setiap harinya tanpa pernah berpikiran untuk mengubahnya. Ia menjalani peran sebagai ibu dan istri yang baik demi membahagiakan keluarganya, demi untuk tampil sempurna. Ia tidak berani mencoba sesuatu yang lain karena takut bahwa akan memberikan perubahan keadaan. Akan tetapi, lambat laun Linda menyadari bahwa ia sedang terjebak dalam rasa amannya sendiri dan terperangkap dalam keinginannya untuk terus membahagiakan orang lain.

Lama-kelamaan, ketika seorang manusia —dalam Adultério, Linda adalah contoh— sudah mulai menemukan titik jenuh dalam rasa amannya, maka ia akan mulai merasa bosan dengan hidupnya yang monoton atau berpusar di rutinitas yang sama. Maka, rasa tidak puas dan keinginan untuk mencapai yang ‘lebih’ akan segera mengusik. Namun di sini, Adultério menampilkan bahwa manusia, sebelum memilih keluar dari rasa amannya, akan memiliki ketakutan yang amat besar untuk mengambil risiko bahwa keadaan yang akan ditemui di depan akan jauh berbeda dari keadaan di mana seorang manusia masih berkutat di zona amannya. Linda juga merasa takut bahwa semua akan berubah suatu saat nanti. Linda melewati krisis ini sebelum akhirnya memutuskan.

Lagi-lagi, manusia sulit dimengerti. Ketakutan Linda akan adanya perubahan pada akhirnya kalah dengan keinginannya sebagai seorang manusia untuk melakukan hal-hal yang menantang. Nyatanya, dalam Adultério, Linda berselingkuh. Linda menantang dirinya untuk menjadi seorang yang tidak setia dengan jalan berselingkuh. Berselingkuh baginya mampu membangkitkan dan menimbulkan semangat hidup baru. Linda mencoba menjadi pribadi yang bebas menentukan apa yang ia mau, sekalipun ia harus melewati berbagai tantangan dan mengambil risiko terburuk sekalipun.

Potensi menyebabkan hancur seperti yang saya singgung di atas pun nyata tampak di Adultério. Linda menjadi representasi manusia yang nyaris menyebabkan kehancuran. Setidaknya, kehancuran diri dan hidupnya sendiri. Linda nyaris menjebloskan diri ke dalam pusaran kehancuran, jika ia tidak segera menyadari perbuatannya. Kehancuran yang nyaris menimpa Linda pada akhirnya diselamatkan oleh kasih. Ya, kasih.

Saya lupa menyampaikan di atas bahwa aspek kehidupan manusia juga tidak dapat dipisahkan jauh-jauh dari yang namanya kasih. Adultério cukup banyak berbicara tentang kasih. Nafas kristiani cukup terasa dalam novel ini seiring munculnya beberapa kutipan maupun pembahasan ayat atau peristiwa alkitab di dalamnya. Penopangnya adalah unsur kasih. Bahwa Adultério menunjukkan kasih sebagai satu hal yang sejatinya dimiliki setiap individu dan kasih akan menyelamatkan.

Kasih itu pada akhirnya ditunjukan oleh suami sah Linda. Meskipun langkah Linda tinggal sedikit lagi untuk mengakui semua perbuatannya pada suaminya, dengan kasih yang terpancar dalam kata-kata dan perbuatan sang suami, niat Linda pun urung. Urung untuk mengakui, namun bukan urung untuk memperbaiki.

Menutup pembahasan saya tentang novel ini, Adultério sesungguhnya memiliki gagasan yang sederhana, namun ia mampu menampilkan kerumitan-kerumitan hidup manusia. Kisahnya jelas seputar manusia dan sifatnya, serta turut mengikutsertakan pembahasan manusia dan KASIH.


Adultério cukup membuat saya merenung dan ingin merefleksikan hidup saya sendiri. Bagaimana dengan kamu?

Friday, March 6, 2015

SUPERNOVA: Gelombang - Petualangan Alfa Yang Mempesona

Mendengar bahwa bayi ke-lima Dee dari serial mahacerdas SUPERNOVA akan segera lahir pada bulan Oktober 2014 lalu, saya spontan langsung mencari penyedia karya tersebut dan memesannya. Berselang beberapa hari, bayi berwujud buku setebal 465 halaman yang memiliki nama Gelombang itu akhirnya bisa saya letakkan di gendongan saya. Tak lama menimang pun tak sabar rasanya, segera saja saya mulai melarutkan diri dalam pusaran kisahnya.

SEPENGGAL KISAH

Adalah seorang lelaki bungsu tiga saudara bernama Thomas Alfa Edison Sagala yang merasakan adanya suatu hal baru mulai memasukki tahap kehidupannya setelah ia memasukki usia barunya, yakni usia 12 tahun. Jeda beberapa hari setelah ia mencecap usia keduabelas, Ichon —begitulah Edison dipanggil— mulai diperkenalkan dengan salah satu acara atau ritual yang tak pernah ia saksikan secara langsung sebelumnya di kampungnya, salah satu kampung di Sianjur Mula-Mula, dan setelah hari itu, kehidupan Ichon mulai berubah. Tepat pada hari dilaksanakannya ritual tersebut, Ichon melihat dan menyadari keberadaan sesosok makhluk yang lain daripada manusia, bermata nyalang seperti kucing, dan ditengarai oleh salah seorang sakti di kampungnya bernama Si Jaga Portibi. Semenjak itu, Ichon mulai mengalami mimpi-mimpi buruk yang mengganggu tidur-tidur malamnya. Ichon mulai dipaksa untuk tidak lagi pura-pura tidak tahu akan siapa sesungguhnya dirinya. Ichon mulai ditekan oleh keadaannya untuk segera menemukan jawaban atas misteri kejadian-kejadian yang datang ke mimpinya. Petualangan Ichon remaja yang di kemudian hari lebih sering dipanggil Alfa berlanjut hingga ke benua Amerika. Tak tanggung-tanggung, Alfa juga menginjakkan kaki sampai ke Tibet untuk berjumpa dengan identitas diri yang sesungguhnya.

***
Buku yang menyikat hampir seperempat waktu saya dalam sebulan ini dapat dipandang sebagai sebuah kelanjutan cerita yang menarik dari empat buku sebelumnya. Jujur, saya masih belum mampu melihat dan merajut benang merahnya secara utuh, pertama, karena memang buku ini masih memiliki serial lanjutan, kedua, karena memang, di setiap karyanya, Dee mampu membuat pembacanya, terkhususnya saya, melahirkan banyak pertanyaan di benak.

Gelombang mampu menghadirkan bermacam-macam gelombang perasaan yang teraduk-aduk menjadi satu ketika menikmatinya. Rasa kagum terhadap sosok Ichon atau Alfa yang cerdas, terpilih, serta terbukti mampu bertahan hidup di negeri orang. Rasa ngeri ketika membayangkan sebuah ritme kehidupan yang amat jauh dari normal. Apa rasanya tidur hanya dua jam satu hari ditambah tidur-tidur ayam di menit-menit yang lowong? Pun tak ketinggalan, rasa penasaran yang mendera ketika selesai membaca barisan-barisan kalimat pada akhir setiap halaman. Rasa ingin terus membalik-balik dan terus membalik setiap halaman hingga sampai akhirnya, ketika saya tak bisa lagi membalik, saya hanya berharap Dee segera mengeluarkan seri ke-6 SUPERNOVA.

Sebelum berkenalan dengan keutuhan Gelombang, pada bagian awal buku ini, saya diajak kembali untuk mengingat kisah Gio yang sedang mencari wanitanya. Saya diingatkan, bahwa keempat serial buku SUPERNOVA sebelumnya adalah masih berkaitan dengan kisah kelima yang akan saya baca tersebut, Gelombang.

Membaca Gelombang pada awalnya membuat saya dengan amat perlahan mengenal sedikit cerita dari tanah Batak. Latar yang digunakan memang latar kehidupan sosial di Sianjur Mula-Mula, suatu daerah yang diduga sebagai asal-muasal darah Batak, sebelum akhirnya latar negara besar seperti Amerika Serikat dan juga Tibet turut serta dalam cerita.

Jangan harap rajutan kisah di Gelombang bermula dari kehidupan modern seperti sekarang ini. Nyatanya, latar waktu yang digunakan di awal jalannya kisah yakni sekitar tahun 1990. Setelahnya, kisah berkembang hingga pada tahun-tahun 2000an. Ya, kita di bawa merentangi waktu yang cukup panjang dalam novel ini. Mengikuti kisah Ichon, si anak pembaca Koo Ping Ho di bawah pohon hingga menjelma sebagai Alfa yang fasih berbahasa Inggris dengan aksen warga lokal dan mendapatkan pekerjaan di Wall Street. Wow!

Tak hanya berjalan-jalan menempuh tanah Batak, lanjut ke Amerika Serikat, dan ke Tibet, Gelombang juga memperkenalkan pembacanya pada kehidupan di masing-masing tempat tersebut. Bagaimana kehidupan orang-orang Batak yang masih memegang teguh kepercayaan asli Batak, kemudian kehidupan palak-memalak anak muda yang brutal di sebuah apartemen tak terurus di pinggir Amerika Serikat, serta kehidupan spiritual yang sekilas dipaparkan ketika Alfa meraih dataran Tibet.

Seperti yang saya katakan di awal, semua petualangan Alfa dirunut bermula dari perubahan yang terjadi dalam kesehariannya, tanpa ia sengaja dan tanpa ia kehendaki. Persoalan mimpi-mimpi yang seolah selalu siap datang membunuhnya kapanpun menjadi inti dari seluruh kehidupan Gelombang. Nafas Gelombang membawa kita untuk mendalami mimpi, bagaimana mimpi itu dapat amat sangat berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Bagaimana mimpi itu menjadi cara untuk memecahkan misteri-misteri kehidupan yang —bukan tidak mungkin— terkait dengan kehidupan seorang manusia di masa lalu. Bagaimana sebuah mimpi, dapat menjadi jalan masuk seseorang untuk menguak segala pertanyaan yang ada.

Gelombang menggabungkan berbagai pemahaman dan gagasan tentang menjelajah mimpi dan juga tentang pemahaman spiritual yang berumur tua. Gelombang mengkolaborasikan pemahaman-pemahaman serius itu dengan bumbu-bumbu persahabatan, kehidupan keluarga, serta cinta. Gelombang bukan hanya menyajikan cerita dengan satu pokok masalah, akan tetapi ia juga menawarkan kisah perjalanan dan petualangan. Kisah penuh kecerdasan.

Gelombang jelas tampil sebagai suatu karya yang tak sembarangan dihasilkan, melainkan telah melalui sebuah riset mendalam tentang semua unsur yang terkandung di dalamnya. Kejeniusan Dee memang sudah tampak semenjak anak tertua SUPERNOVA pertama kali dilahirkan, yakni Kesatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Karya-karya selanjutnya hingga Gelombang, pun masih mempertahankan keyakinan saya terhadap kehebatan gagasan Dee dalam menghasilkan cerita.

Gelombang —dan juga keempat serial SUPERNOVA pendahulu— masih akan terus menyadarkan saya bahwa di alam semesta ini, masih banyak misteri-misteri yang masih harus ditemukan jawabannya. Banyak pertanyaan yang sering terabaikan dan tak tertemukan jawabannya. Memang terkadang secara kasat mata, hal-hal seperti itu tak nampak, namun SUPERNOVA —termasuk Gelombang di jajaran kelima— pada akhirnya menciptakan gagasan di otak saya bahwa, kehidupan ini hanyalah sebuah jaring besar di mana banyak unsur pendiamnya atau makhluk penunggunya sesungguhnya saling berhubungan dan berkaitan satu dengan lainnya, terhitung pula segala peristiwa yang tercipta dengan caranya sendiri-sendiri.

Tertarik baca SUPERNOVA, juga Gelombang?

Tea For Two by Clara Ng: Kemunculan Sisi Buruk Pernikahan

Membongkar lagi kumpulan buku yang belum saya baca bahkan belum saya sentuh sama sekali sejak membeli, saya menemukan sebuah karya dari Clara Ng di barisan koleksi buku yang saya miliki. Tea For Two, begitu judul yang tertera di halaman depan. Jujur, desain bukunya kurang menarik selera saya untuk membaca karena hanya menampilkan foto wanita berambut pendek mengikuti seorang lelaki di depannya. Warna oranye —sangat bukan warna kesukaan saya— muram mendominasi keseluruhan tampilan buku. Namun, bukan hal itu sebenarnya yang mempengaruhi saya dulu ketika memutuskan untuk membelinya atau tidak. Adalah ceritanya seputar pernikahan dan KDRT yang menggugah saya. KDRT, pernikahan, dan wanita, tepatnya.

SINOPSIS

Seorang perintis perusahaan mak comblang Tea For Two bernama Sassy memutuskan untuk menikah setelah ia menjalani hubungan percintaan yang manis nan romantis bersama seorang pria bernama Alan. Sebelum menikah, Sassy menilai pernikahan adalah sebuah penawaran menggiurkan untuk memasukki tahap kehidupan baru, tahap yang penuh hal manis, penuh sisi baik. Penawaran yang menjadi dasar roda usahanya berputar.
Malang tak dapat dihadang, kehidupan pernikahan Sassy nyatanya amat berbeda dengan apa yang selama ini dibayangkan dalam benaknya. Kehidupan pernikahannya miris. Manis apalagi romantis tak lagi ada, melainkan pukulan, tinju, tamparan, dan kekerasan lain yang didera seorang Sassy. Tak hanya kekerasan fisik saja, batin Sassy pun perlahan turut menderita. Sahabat-sahabat Sassy dilarang mendekat oleh suami yang dulu mengobral kata cinta. Sassy hanya mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Mencoba bertahan dengan pilihan yang sudah ditetapkannya, sebelum akhirnya cahaya kebahagiaan perlahan menggeser pilihan Sassy.
***
Bukan Clara Ng namanya, jika bukunya tidak menawarkan kisah yang berbeda dari kisah roman kebanyakan. Tea For Two adalah buku ketiga Clara Ng yang saya baca. Sebelumnya, The (Un)reality Show dan DimSum Terakhir juga menawarkan rangkaian cerita yang sama sekali unik, berbeda, dan tak diduga.

Terlepas dari ide cerita Clara Ng yang tak bisa tak dibilang menarik itu, saya hanya merasa sedikit terganggu dengan gaya penulisan Clara Ng dalam Tea For Two. Narasi yang diceritakan dari sudut pandang orang ketiga serba tahu tidak disampaikan dengan tata bahasa yang indah. Pilihan kata yang digunakan tidak terlalu bervariasi, melainkan bisa dibilang sangat biasa. Saya seperti membaca roman remaja dengan kata-kata yang sama sekali tidak sulit dicerna. Kemudian, isi dialog dan percakapan antar tokoh terlihat cukup janggal jika dibandingkan dengan percakapan orang-orang Indonesia kebanyakan. Rasanya sangat aneh dan mengingat ini bukan novel terjemahan, saya agak sedikit terganggu dengan cara dialog-dialog itu disampaikan. Misalnya, dialog-dialog yang dilakukan antara tokoh Sassy dengan sahabatnya Naya. Jika saya membayangkan dialognya diucapkan secara nyata, maka akan menjadi sangat “tidak biasa”. Meskipun demikian, dengan mengabaikan pendapat saya yang (memang) subjektif tentang gaya dan cara Clara Ng merajut kisah Tea For Two ini, saya menemukan banyak hal menarik lainnya yang tetap mampu menggoda saya untuk membaca hingga halaman terakhir.

Tea For Two pada beberapa bagiannya mampu membuat saya tertawa sebab Clara Ng mampu menyusupkan aneka unsur komedi ke dalam kisah ini. Setidaknya, Tea For Two berhasil menjadi novel yang tidak membosankan dari segi cerita. Tentu, bukan dari unsur lucunya saja novel ini menjadi menarik, melainkan polemik yang terjadi dalam kehidupan Sassy —ketika lajang maupun sudah menikah— turut menggoda untuk diselami lebih dan lebih dalam lagi. Intinya, problematika kehidupan Sassy sejatinya melahirkan sebuah ide baru dalam kehidupan wanita pada masa-masa yang sedang bergulir sekarang.

Semua pembaca Tea For Two saya yakin sepakat bahwa tokoh Sassy telah membuka mata para wanita tentang rentannya seorang wanita mengalami perubahan jati diri setelah menikah (apakah lelaki juga sama?). Sassy yang telah menjelma menjadi seorang istri perlahan mulai meninggalkan Sassy yang lajang jauh di belakang. Bukan, bukan sesederhana itu perkataan yang saya maksud. Sassy seakan tidak mengenali dirinya sendiri. Sassy dipaksa, dituntut, bahkan ditekan secara fisik berikut mental untuk menuruti keinginan orang lain di luar dirinya. Ya, keinginan suaminya. Sassy didesak keadaan untuk memahami isi otak Alan, lelakinya. Sassy dijerumuskan ke dalam kehidupan pernikahan yang secara total mengubah seluruh hidupnya.

Tea For Two berusaha membuka sisi lain pernikahan yang masih minim terkuak. Pernikahan, sebenarnya seperti dua sisi uang koin. Dan tidak seorangpun bisa menyangka sisi mana yang akan muncul ketika koin tersebut dilemparkan ke udara. Tidak seorangpun menduga sisi mana yang akan menjadi warna pernikahannya. Sisi atas atau sisi bawah? Sisi depan atau sisi belakang? Sisi baik atau sisi buruk?

Seringkali, manusia mengira pernikahan akan selalu memunculkan sisi manis nan romantis. Padahal, ada satu sisi gelap yang jarang menang ketika dilemparkan ke udara. Sisi kelam yang sama sekali tidak manis apalagi romantis. Sisi inilah yang kemudian diangkat ke permukaan oleh Clara Ng dalam Tea For Two. Tea For Two mengenalkan, serta membuktikan pada kita betapa kejamnya sebuah sisi tanpa cahaya dalam sebuah pernikahan melalui isu Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Tak tanggung-tanggung, kekerasan fisik sekaligus kekerasan mental-psikologis ditimpakan pada Sassy, seorang wanita pendamba kehidupan pernikahan manis nan romantis.

Tea For Two bagi saya berhasil menjadi sarana komunikasi yang baik terhadap para lajang —terutama wanita— untuk menyampaikan gagasan bahwa menikah tidak selamanya indah. Menikah itu pilihan, begitupun dengan tidak menikah. Pilihan apapun yang diambil pada akhirnya akan sama-sama memunculkan hanya satu sisi mata uang ketika dilemparkan. Ambil pilihan menikah, seseorang harus tau bahwa di hadapannya belum pasti terbentang kehidupan pernikahan yang ideal seperti apa yang diharap imajinasi di kepala. Seseorang harus siap dengan apapun yang akan terjadi di ujung sana, sepahit atau semanis apapun kelanjutan pilihannya ke depan.

Akhir kata, Tea For Two adalah bacaan menarik (lagi-lagi saya tekankan, dari segi ceritanya), terlebih bagi mereka yang (akan) berencana menikah. Berminat?

Tuesday, February 24, 2015

Kebinatangan Manusia Dalam Novel Lelaki Harimau - Eka Kurniawan

SINOPSIS

Seorang lelaki dua bersaudara bernama Margio merasakan bahwa ada harimau bersemayam di dalam tubuhnya ketika ia mulai beranjak dewasa meninggalkan remaja. Lika-liku kehidupan keluarga yang carut-marut sudah menjadi makanan sehari-harinya, bahkan semenjak ia berusia bocah. Sebut saja kekerasan seorang ayah terhadap anak dan keluarganya hingga kemurungan seorang ibu yang berujung kesintingan kemudian berakhir perselingkuhan dengan tetangga. Selingkuhan ibunya yang dipikir mampu membuat bahagia tak lebih dari seorang pecundang mata keranjang. Cinta akan ibunya membuat harimau dalam lelaki ini bertindak menghabisi nyawa sang perebut hati ibunya dengan cara yang paling brutal.

CUAP-CUAP MENGULAS

Sudah lama saya nggak pernah baca novel dengan begitu serius. Meskipun nyatanya saya harus menghabiskan waktu hampir seminggu, novel berbobot 190 halaman ini habis juga saya lalap.

Alasan pemilihan novel ini sebagai salah satu anggota di daftar buku yang akan saya baca sebenarnya cukup sederhana. Pertama, rangkuman cerita di cover bagian belakang novel ini cukup menarik dan unik. Membuat saya penasaran untuk mendalami kisahnya. Kedua, novel ini saya rasa bukanlah sebuah novel percintaan remaja yang dulu menjadi makanan saya saat SMA. Ketiga, saya ingin mencoba mencicipi sebuah bacaan yang lumayan ‘berat’, atau setidaknya mampu membuat otak saya sedikit bekerja untuk mencerna kata per kata hingga rajutan kalimat di setiap paragrafnya. Dan saya rasa, Lelaki Harimau cukup mampu membebani otak saya dengan ceritanya yang rumit dan penuh kejutan.

Ketika mata dan otak saya berusaha bersinergi memahami permulaan cerita di halaman pertama, di situ saya langsung merasa lelah. Bahasa dan diksi yang digunakan terkesan cukup ‘jadul’. Latar yang digunakan juga tidak kalah kuno. Tidak ada penggunaan gadget. Hanya ada layar tancap bersama di lapangan. Latar tempat hanya di perkampungan (yang disebutkan sebagai kota) dan latar waktu sepertinya adalah masa-masa kala sinema Cintaku di Kampus Biru masih berjaya. Demi menghabiskan halaman-halaman selanjutnya, mau tidak mau saya harus menyesuaikan diri dan berusaha memahami gaya penulisan yang digunakan sang pengarang, Eka Kurniawan.

Seorang pembaca yang memberikan pengakuan di cover belakang novel ini menyebutkan bahwa novel ini serupa dengan kesimpangsiuran dan ketumpangtindihan bahasa-bahasa Byron, Kafka, Virgina Woolf, Edgar Alan Poe, Faulkner, Marquez, dan juga Morrison. Siapa mereka? Saya sendiri bahkan hanya pernah mendengar namanya namun tidak begitu tahu pasti seperti apa bahasa mereka. Yang pasti, novel ini dengan kerumitannya yang tak terbantahkan, mampu membuat saya tenggelam larut dalam kisahnya.

Dengan alur campuran yang digunakan, saya seolah dipermainkan sekali maju sekali mundur kemudian maju lagi, mundur beberapa langkah ke belakang, kemudian maju lagi hingga saya mencapai akhir cerita. Hebatnya, saya tidak pernah merasa dipermainkan dengan tak layak. Perpindahan setiap bagian kisahnya terlalu (atau bahkan sangat) halus. Penghubung antar kisah dibuat sedemikian saru sehingga saya kadang tidak sadar bahwa saya sedang dipaksa mundur ketika saya berada di satu peristiwa ataupun sebaliknya. Uniknya, titik awal dan titik akhir kisah ini hanya bertumpu pada satu peristiwa, yakni pembunuhan yang dilakukan Margio dengan begitu sadis —kemudian diketahui bahwa harimau di dalamnya lah yang berperilaku—.

Keseluruhan kisah yang dituangkan Eka di dalam novel ini membuat saya menganga begitu selesai membaca. Seluruh kekecewaan, kesadisan, kesedihan, berikut juga kesengsaraan bahkan nafsu birahi seperti dicampuradukkan menjadi satu rentetan kisah yang mencengangkan. Singkatnya, semua bermula dari hilangnya rasa suka ibu Margio karena tidak pernah dikirimi surat oleh ayah Margio saat mereka berdua sedang menjajaki hubungan jauh sebelum menikah, hingga pada akhirnya ibu Margio menjadi orang yang sangat kaku jika tidak bisa dijuluki sinting setelah menikah dengan lelaki yang kemudian menjadi ayah Margio, menyebabkan adanya perselingkuhan ibu Margio yang lanjut berbuah hati yang akhirnya mati, dan pada akhirnya si penanam benih ikut-ikutan dihabisi.

Sebelum cuap-cuap mengulas yang entah jelas atau tidak ini saya sudahkan, saya ingin memasukkan pemikiran seorang Bapak (atau Romo) yang sekali waktu saya ceritakan bahwa saya sedang membaca novel ini. Beliau menyampaikan bahwa dari judulnya, sepertinya novel ini akan menampilkan sisi ‘kebinatangan’ manusia. Dan ternyata memang begitu adanya. Sifat ‘kebinatangan’ yang bertindak tanpa berotak, diam karena tidak mampu (tidak mau) bersuara, mengamuk tanpa bisa diredam, juga mengabaikan akal sehat ketika birahi memuncak. Sifat ‘kebinatangan’ yang sadar atau tidak sadar, mungkin saja turut tinggal di dalam diri setiap manusia yang katanya makhluk paling bermartabat dan merupakan citraan penciptanya.

Lelaki Harimau berhasil menguliti sisi ‘kebinatangan’ manusia ini dengan sedemikian halus namun gamblang. Selain itu, Lelaki Harimau sarat pula dengan pesan moral yang bertema besar keluarga. Betapa nasib sebuah keluarga ditentukan dari sang nahkoda rumah tangga. Carut marut kah atau bahagia kah?

Lebih lanjut lagi kalau ditarik lebih jauh hingga ke akarnya, kesimpulan singkat yang bisa saya rangkum dari keseluruhan kisah ini adalah bahwa betapa sakralnya sebuah keterbukaan. Berbagai masalah datang silih berganti hanya karena tidak adanya keterbukaan. Ketidaksiapan seseorang membagi penatnya dan memutuskan untuk menyimpannya rapat terbukti justru jadi malapetaka yang maha dahsyat. Memancing sisi ‘kebinatangan’ dari seekor manusia keluar menampilkan kebuasannya. Bahagia pun sejatinya menjadi lenyap karena 'diam' sedemikian didewakan.

Memilih untuk membaca novel ini sama sekali bukanlah pilihan yang tidak tepat. Kita akan dibawa ke suasana amat lain dari suasana kehidupan penuh hiruk pikuk kendaraan, masuk dan menelusuri kehidupan yang amat terperikan, penuh kepedihan dan teramat kelam.


Kiranya apakah kalian berminat menjelajah kisah Margio?

Tuesday, February 17, 2015

Jupiter Ascending: Where Symbols Represent The Reality

Pernah terbayangkah oleh kalian (dan saya) bagaimana sosok atau rupa sebuah kekuatan Maha yang mengatur skenario kehidupan di bumi ini? Sebagian percaya, bahwa Ia adalah yang kita kenal dengan Tuhan. Sebagian lagi, justru lebih percaya akan teori-teori ilmiah atau sains yang menjabarkan asal-muasal kehidupan atau proses berlangsungnya kehidupan dari sudut pandang atom atau partikel.

Terlepas dari basa basi saya di atas, kita semua seharusnya telah sadar bahwa pada dasarnya, semua hal yang terjadi di bumi ini masih merupakan misteri. Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya pengendali dunia ini. Pengendali nafas kehidupan di sebuah planet bernama bumi. Ya, kenapa bumi? Kenapa manusia? Kenapa nafas? Kenapa hidup? All things are still a mystery for us, humans. Karena tak ada jawaban yang dapat memuaskan hasrat ingin tahu manusia seratus persen, mari kita biarkan misteri demikian tetap menjadi misteri dan manusia tetap pada hakekatnya mencari.

Pencarian akan sebuah pengendali bumi mungkin justru berbuah imajinasi kreatif dari The Wachowskis. Dalam film Jupiter Ascending yang dirilis pada tahun 2015 (I randomly watched it a few days ago), The Wachowskis seakan sangat leluasa bermain dalam kreasi yang berporos pada manusia, kehidupan, dan bumi. Jupiter Ascending bagi saya menjadi sebuah karya yang lahir dari peleburan sel cerita yang sedikit rumit dipahami, diaduk dengan campuran efek sinematografis yang canggih, serta disempurnakan oleh pemeran utama yang menyilaukan mata hati. Channing Tatum and Mila Kunis


Sumber
SINOPSIS

Jupiter Ascending menampilkan 'pemilik bumi' dari sudut pandang dan pemikiran yang berbeda. Film ini menceritakan tentang kehidupan sosok wanita muda bernama Jupiter Jones, seorang pekerja bersih-bersih toilet yang setiap pagi hari mengatakan "I hate my life" sebelum akhirnya bangun dari tempat tidur. Ia tinggal bersama ibu dan keluarga ibunya karena ayah Jupiter sudah tewas dibunuh pada suatu kejadian perampokan sebelum Jupiter lahir.

Penggalan kisah lain muncul ketika sebuah keluarga yang tinggal di tataran luar angkasa mulai masuk ke dalam jalannya cerita. Namanya keluarga Abrasax. Keluarga Abrasax terdiri dari tiga orang anak yang sudah ditinggalkan oleh ibunya karena mati dibunuh. Masing-masing anak yang bernama Balem, Kalique, dan Titus ini mengambil alih planet yang berbeda sebagai wujud dari harta warisan yang ditinggalkan sang ibunda. Bumi, sebagai planet yang hidup, berkembang, dan berpopulasi, dikisahkan menjadi hak penuh seorang Balem. Malang bagi Balem, Bumi yang terlalu menggiurkan tersebut perlahan juga ingin direbut oleh seorang Titus yang tak lain adalah saudara Balem sendiri. 

Seorang Balem meyakini, bahwa ibunya yang sudah tiada itu telah menjelma menjadi seorang manusia biasa setelah melalui proses reinkarnasi. Dengan melakukan penyelidikan yang dieksekusi oleh kaki tangannya, Balem menemukan bahwa adalah seorang perempuan bernama Katharine Dunlevy yang menjadi reinkarnasi dari ibunya. Sadar bahwa gen Abrasax berdiam dalam diri Katharine Dunlevy dan keadaan tersebut akan mengancam status kepemilikannya akan Bumi, Balem memerintahkan bawahannya untuk menghabisi nyawa Katharine. 

Di sisi lain, seorang Jupiter sedang ingin membeli sebuah teleskop, namun ia tidak memiliki cukup uang. Saudara sepupu Jupiter menawarkan sebuah pekerjaan menarik agar Jupiter dapat memperoleh uang. Wanita ini harus menjual sel telurnya dan ia akan mendapatkan imbalan sebesar USD 5.000. Merasa tawaran tersebut sangat menarik, Jupiter memutuskan untuk merelakan sel telurnya. Demi kelancaran prosedur penyerahan sel telurnya, Jupiter menggunakan nama samaran temannya yang tak lain adalah Katharine Dunlevy.

Pada saat prosedur operasi mulai dijalankan, ternyata agen-agen medis yang ada di ruang operasi Jupiter justru berusaha membunuh Jupiter dengan memutus aliran oksigen yang ada. Agen-agen medis ini kemudian diketahui merupakan agen-agen utusan Balem yang menyamar menjadi manusia. Sebelumnya, agen-agen ini telah berusaha membunuh Katharine Dunlevy yang sebenarnya. Hanya saja, karena adanya perbedaan gen antara Katharine dan Jupiter (dan agen-agen Balem tersebut dapat mengenali perbedaan tersebut), maka pembunuhan akan Katharine yang asli tidak berhasil. Kemudian, agen-agen Balem tersebut segera mendapatkan bahwa target mereka sebenarnya adalah Jupiter Jones. 

Sesaat ketika Jupiter hampir kehilangan nyawa, seorang Caine Wise makhluk dengan genetika campuran masuk mendobrak ruang operasi dan menggagalkan proses penghilangan nyawa tersebut. Caine Wise-lah orang yang di dalam film ini menjadi penyelamat Jupiter dalam berbagai situasi dan kondisi yang mengancam. Caine Wise sesungguhnya adalah utusan seorang Titus yang ditugaskan untuk menemukan keberadaan Jupiter dan membawa Jupiter ke hadapan Titus. Akan tetapi, setelah menemukan Jupiter, Caine justru tidak melaksanakan tugasnya untuk menghantarkan Jupiter ke Titus. Ia malah menemani dan mendampingi Jupiter bahkan saat ia mengklaim gelar Abrasax-nya gelar yang memungkinkan Jupiter untuk mengambil alih planet Bumi dari tangan Balem.

Ancaman hidup bagi Jupiter bukan berasal dari pihak seorang Balem saja, melainkan juga dari sisi Titus. Terlebih ketika Jupiter telah mendengar dari Kalique tentang siapa sesungguhnya ia dan kemudian memutuskan untuk melakukan klaim atas kepemilikannya terhadap bumi, Titus makin gencar ingin membunuh Jupiter. Rencana Titus, begitu ia tau Jupiter telah menjadi pemilik sah atas planet Bumi, ia akan menikahi Jupiter dan membunuh Jupiter setelahnya. Tujuannya jelas, Titus ingin agar Bumi menjadi miliknya seutuhnya.

Dengan keinginan yang besar untuk melawan berbagai rencana jahat itu, Jupiter dibantu oleh Caine berjuang untuk mempertahankan kepemilikan Bumi di tangannya. Intrik dan konflik selalu muncul secara bergantian di film ini hingga pada akhirnya Jupiter ditampilkan berhasil mencapai tujuannya. Ia tetap menjadi pemilik sah Bumi yang diakui oleh pemerintahan ruang angkasa (tidak secara gamblang ditampilkan). Namun begitu, Jupiter kembali ke Bumi dan menjalankan hidupnya seperti biasa.

Mengapa Bumi Seolah Begitu Menggiurkan?

Dari sudut pandang keluarga Abrasax, Bumi dipandang sebagai satu lahan peternakan super besar yang menjadikan manusia sebagai hasil ternak paling utama. Kehadiran manusia dalam jumlah banyak merupakan sebuah keuntungan besar bagi keluarga Abrasax, terutama Balem dan Titus. Manusia dianggap sebagai komoditas utama perdagangan intergalaksi karena dari manusia-lah, bangsa makhluk luar angkasa (alien) termasuk Abrasax, dapat menjadi awet muda dan terus memperpanjang masa hidupnya.

Bagaimana bisa manusia menghidupi alien? Tentu saja, semua berasal dari sebuah imajinasi. Imajinasi mampu untuk menghasilkan apa saja. Termasuk imajinasi The Wachowskis menciptakan metode serum sebagai 'makanan' bagi para alien dalam film tersebut. Sayangnya, satu tabung berisi serum memperpanjang umur itu baru dapat dihasilkan dari seratus ekor manusia. Tentu saja, satu tabung serum tidak mungkin cukup bagi para alien yang saya sendiri tidak tahu ada berapa jumlahnya dalam film itu. Dengan demikian, Bumi sebagai penghasil manusia terbanyak di ruang angkasa ini kendatinya menjadi sumber 'kehidupan' yang begitu menggiurkan.

Cara berpikirnya mudah saja. Jika bahan utama pembuatan serum itu dalam hal ini manusia dikuasai oleh keluarga Abrasax, dan keluarga Abrasax dapat menciptakan bertabung-tabung serum, kemudian menjualnya kepada para alien yang membutuhkan, berapa keuntungan yang akan mereka dapatkan? 

Kehidupan dan keuntungan kemudian menjadi dua unsur yang mengikat dalam satu rantai kehidupan. Pihak yang memiliki keuntungan, tentu memiliki kapital untuk menghasilkan sesuatu untuk terus mempertahankan kehidupan. Ibaratnya, manusia butuh uang untuk membeli makanan untuk menyambung hidup, sementara Abrasax (dan makhluk-makhluk aneh lainnya, mungkin) butuh manusia untuk hidup. Karena populasi manusia paling meledak di planet Bumi, maka tak heran, Bumi menjadi begitu 'lezat' di mata mereka.

Pandangan Singkat

Di film ini, saya dipaksa untuk mengerti dan memahami permainan simbol yang digunakan. Waktu, manusia, planet, bumi, alien, bahkan serum. Dan secara otomatis, saya mencoba berusaha menggali makna yang hendak dibawa. Entah pada akhirnya makna yang saya tangkap adalah benar makna yang The Wachowskis hendak sampaikan pula atau malah salah, saya tidak tahu. Yang saya tahu, saya bebas berinterpretasi.

Betapa Berharganya Sebuah Waktu
Ada satu bagian di dalam film tersebut yang membuat saya terkesan. Adegan tersebut menampilkan Kalique yang sedang menjelaskan kepada Jupiter yang sesungguhnya adalah reinkarnasi ibunya tentang hal yang paling berharga dalam hidup bangsa mereka,

"For Abrasax Industries, the single, and most valuable commodity, is not oil, gas, or electricity, but time"

Film ini menjadi menarik ketika bukan lagi sumber daya alam yang menjadi daya tarik utama, melainkan waktu. Manusia di kehidupan nyata mungkin masih mendewakan komoditi seperti yang disebutkan di atas oil, gas, and electricity—. Tetapi manusia, kita, lupa akan satu hal, waktu. Waktu terus berjalan dan kadang-kadang kita tidak pernah sadar sudah berapa lama waktu yang kita habiskan untuk melakukan sesuatu. Berbeda dari pandangan tersebut, Abrasax dkk justru tidak akan pernah mau kehilangan waktu. Waktu bisa menjadi komoditi yang dapat diperdagangkan. Komoditi yang jika dirunut asal-muasalnya, akan bermuara pada manusia yang pada imajinasinya diceritakan sebagai bahan dasar pencipta 'waktu'. 

Bila boleh saya artikan simbol 'waktu' dalam film ini, saya menemukan bahwa 'waktu' tak ubahnya adalah 'makanan' bagi para alien yang berkeliaran di luar angkasa sana. Sedang manusia, tak ada bedanya dengan tingkat piramida paling bawah dalam piramida kehidupan untuk kehidupan luar angkasa sana.

Pentingnya 'waktu' bagi para alien itu bagi saya seakan menjadi sentilan terhadap kehidupan manusia yang seringkali mengabaikan waktu. Mengabaikan masa hidupnya, lama hidupnya. 

Saya pribadi merasa diingatkan akan kehadiran sosok waktu yang pada hakekatnya tidak boleh tidak harus diperhatikan. BUKAN diabaikan. Jika waktu berhenti, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Jika waktu kita habis, kita sudah berbuat apa?

Keserakahan

Perebutan bumi antara Titus dan Balem hanya menunjukkan dua kekuatan yang tidak pernah puas akan apa yang sudah mereka miliki. Mereka bahkan memiliki rencana untuk membunuh seseorang yang ditengarai adalah reinkarnasi ibunya sendiri. Dengan kata lain, keserakahan terlalu lihai bermain dalam benak mereka. Bahkan dalam hubungan persaudaraan atau keluarga yang idealnya harmonis.

Jika di dunia ini di bumi tempat para makhluk yang namanya manusia menjalankan hidup, kita bisa menyaksikan adanya drama perebutan lahan, perebutan sumber daya, eksplorasi sumber daya alam secara besar-besaran untuk memuaskan hasrat serakah pihak-pihak tertentu, maka di dalam film Jupiter Ascending, sumber daya yang diperebutkan bukan lagi lahan atau alam, melainkan adalah manusia. Meskipun seolah-olah lingkup 'aksi serakah' yang dilakukan lebih luas lagi dari hanya sekadar satu planet bumi saja, intinya hanya satu, keserakahan hanya berujung petaka. Bijaknya, jangan jadi serakah, jangan gelap mata, apabila tidak ingin celaka. 

Pesan sederhana yang bisa indera saya tangkap hanya satu. Keserakahan hanya berujung kehancuran. Dalam hal apapun, dalam kondisi apapun, dalam kehidupan di manapun. Terbukti, di akhir cerita ini Titus diindikasikan sebagai pihak yang akan menerima ganjaran atas rencana jahatnya membunuh Jupiter. Balem sendiri terbunuh karena terjatuh dalam pertengkarannya dengan Jupiter. Keserakahan itu kejam, saudara-saudara. Tak kenal siapa dan bagaimana hubungannya, sekali serakah menghajar masuk, maka habislah. 

Pengendali Bumi Tetap Misteri

Saya tidak tahu apakah pandangan saya yang terakhir ini dapat dipahami atau tidak. Yang pasti, pada akhirnya saya masih merasa ada satu rahasia yang tidak terungkap. Yakni mengenai siapa yang menguasai alam semesta. Jupiter boleh saja menguasai bumi. Namun jika memang benar lingkup cerita ini hanya sebagai perluasan representasi apa yang terjadi sebenarnya di bumi, maka tetap tidak ada seorangpun yang tahu siapa pengendali alam semesta —sebuah simbol yang saya pahami sebagai representasi dari bumi itu sendiri—. 

Saya harap kalian tidak bingung dengan apa yang saya jabarkan karena saya juga tidak ingin terjebak dalam kebingungan yang kalian bingungkan. Jadi, pada akhirnya dalam film ini, saya dapat menyimpulkan bahwa 'waktu' merupakan simbol 'makanan', 'manusia' menjadi simbol 'produsen makanan', dan 'Abrasax' menjadi simbol 'manusia'. Kalau boleh saya menerka-nerka lagi, sekiranya dinasti Abrasax ini juga dapat dipahami sebagai sebuah simbol. Jupiter Jones sebagai reinkarnasi seorang Ibu dari Balem, Kalique, dan Titus dapat dipandang sebagai 'Bumi' itu sendiri. Ketiga anaknya dapat dilihat sebagai simbol dari beragam bangsa yang mendiami bumi. Dan planet-planet yang dikuasai setiap anaknya, saya lihat sebagai simbol dari lahan-lahan di atas bumi itu sendiri. Ada lahan yang 'menghasilkan'. Ada lahan yang 'kurang menguntungkan'. Untuk merebut yang 'menghasilkan' tersebut, timbulah 'kompetisi'. Hati-hati terjebak sosok serakah, kompetisi itu mungkin saja tidak berujung suka.

Nah, terlepas dari pemahaman beraneka simbol dalam film ini, lantas siapa yang menjadi simbol penguasa alam semesta yang selama ini kita yakini mengendalikan bumi? Yang pasti, bukan The Abrasax, karena yang saya pahami, Abrasax adalah justru manusia itu sendiri.

Still, all things are a mystery for us, humans. Nobody can explain it precisely.