Sunday, April 19, 2015

Teater Koma - Opera Ular Putih: Ketika Siluman Menjadi Lebih 'Manusia'.

Saya makin yakin dengan bisik-bisik yang menghembus kabar bahwa teater, sejatinya adalah sebuah sarana yang efektif untuk menyampaikan isu-isu sosial (dan politik) yang sedang berkembang di masyarakat. Saya juga yakin, teater, dengan caranya sendiri memiliki tujuan mencerdaskan masyarakat terkait isu-isu tersebut. Ah ya, dan juga membuat penontonnya serta penikmatnya, berefleksi karenanya.

Keyakinan saya ini kembali muncul tatkala saya usai menyaksikan pementasan Teater Koma yang kesekian kalinya (mungkin, kali keempat). Setelah sebelumnya saya menyaksikan Republik Cangik yang juga sarat sindiran, maka Opera Ular Putih hasil olahan tangan N.Riantiarno melalui Teater Koma ini juga mampu memaksa saya menghidupkan kepekaan. Banyak hal yang menggelitik ketika mata tertuju pada mereka yang beraksi di panggung. Otak memutar mencoba mengerti jalan cerita plus maksud dibaliknya. Sampai semua duga-duga terekam, jaripun menuangkannya dalam bentuk tulisan.

PARA PEMAIN
SINOPSIS

Dua siluman ular kakak-beradik, ular putih dan ular hijau telah menunaikan pertapaan selama ribuan tahun dan memperoleh kemampuan untuk menjelma menjadi manusia. Sayangnya, hanya ular putih yang bertekad kuat untuk mengubah diri menjadi manusia, sementara si adik menentang. Meskipun demikian, atas nama kesetiaan adik pada kakak, ular hijau setuju juga dengan ide memanusiakan diri. Mereka pun memiliki nama masing-masing setelah hidup sebagai manusia. Putih menjadi Pehtinio dan Hijau menjadi Siocing. Selanjutnya, mereka berdua berkelana dan bertemu seorang lelaki sederhana bernama Kohanbun di tepi danau. Kepada Siocing, Tinio mengungkap bahwa Kohanbun sesungguhnya adalah reinkarnasi dari seorang pemuda yang dulu pernah menyelamatkan Tinio ketika masih berwujud ular dan hendak dijual. Tinio menyampaikan niatnya pada Siocing untuk mempersuami Kohanbun. Meskipun diliputi keheranan yang teramat, Siocing akhirnya merestui pernikahan Tinio dengan Kohanbun. Pernikahan mereka pun dilaksanakan dan mereka pindah ke kota lain untuk memulai usaha toko obat. Malangnya, pembasmi siluman yang diberi mandat oleh langit, dengan giat berusaha untuk mengungkap identitas Tinio pada Kohanbun. Meskipun Tinio tidak pernah berbuat jahat dan justru selalu berusaha melakukan kebaikan, Tinio seakan tidak pernah diakui sebagai bagian dari bangsa manusia. Sampai akhirnya, setelah melahirkan buah cintanya dengan Kohanbun, Tinio tetap harus menerima hukuman.

MENANGKAP-NANGKAP MAKNA

Jika ditelisik secara sederhana, maka saya yakin semua penonton akan menangkap sebuah pesan yang teramat gamblang, yakni tentang bagaimana seharusnya seorang manusia bersikap dan berperilaku. Bagaimana bisa seorang siluman bahkan lebih ‘manusia’ dari manusia itu sendiri?

Baiklah, sebelum membahas pesan yang saya kira menjadi tajuk utama ini, ada baiknya saya sedikit mengupas beberapa bagian menarik nan bermakna yang saya tangkap selama perjalanan cerita berdurasi hampir 4 jam ini.

Pada beberapa adegan Opera Ular Putih, saya menemukan adanya isu ‘perempuan’ yang coba diangkat. Bagaimana kedudukan seorang perempuan bahkan terkadang bisa menggantikan kedudukan seorang lelaki. Maksudnya di sini, peran seorang lelaki dapat digantikan oleh seorang perempuan dan begitupun sebaliknya. Ambil contoh, ketika Tinio pergi melamar Kohanbun. Memang, mereka berdua dicomblangi Siocing, akan tetapi siapa yang melamar dan membiayai pernikahan? Jelas, Tinio lah orangnya. Tinio juga yang akhirnya memberi modal untuk membuka usaha. Kemudian, contoh lain yang tampak adalah ketika Kohanbun jatuh pingsan bahkan hampir sekarat karena menemukan wujud siluman ular di kamar tidurnya malam hari. Tinio rela menghadang bahaya demi mendapatkan rumput sakti yang konon bisa menyembuhkan Kohanbun. Pada bagian ini, saya tentu langsung menangkap kesan bahwa ‘perempuan’ khususnya Tinio, jauh lebih banyak berperan dalam hubungan mereka berdua dibandingkan Kohanbun itu sendiri.

Tinio, Siocing, dan Kohanbun yang sedang tertidur

Pernikahan Tinio dan Kohanbun
Saya memang sebelumnya belum pernah menyaksikan pertunjukan Ular Putih apalagi membaca tentang kisahnya. Terlepas dari adegan ini memang asli dari naskah terdahulu atau justru merupakan improvisasi dari N.Riantiarno, saya menyangka bahwa adegan ini cukup mampu membawa suatu ‘perubahan’ paradigma tentang peran perempuan. Mungkin masyarakat Indonesia telah mengenal tradisi perempuan melamar lelaki dalam adat Minang. Akan tetapi, secara lebih luas lagi, masyarakat Indonesia sepertinya lebih melazimkan pernikahan di mana pihak lelaki lah yang melamar perempuan. Namun, apakah salah jika perempuan yang ‘mengajak’ menikah terlebih dahulu? Saya rasa tak ada yang salah.

Secara subjektif, saya pun melihat adanya permainan karakter perempuan dan laki-laki di sini. Dalam masyarakat Indonesia pada umumnya, saya melihat bahwa karakter ‘mudah menangis’, ‘tidak mudah percaya’ dan ‘penakut’ seringkali diidentikkan dengan kaum perempuan, sementara ‘bijaksana’ dan ‘penuh perjuangan’ disematkan pada kaum lelaki. Dalam Opera Ular Putih, kedua hal ini justru berkebalikan. Tinio ditampilkan sebagai orang yang bijaksana dan penuh perjuangan, tanpa meninggalkan kelemahlembutannya, sementara Kohanbun digambarkan sebagai pihak yang justru lebih lemah, karena diliputi rasa takut dan kecemasan, serta penuh dengan kecurigaan pada sang istri, Tinio. Seingat saya, Kohanbun juga dengan mudahnya menangis. Lantas karena itu, masihkah karakter-karakter tertentu kita percayai hanya untuk jenis kelamin tertentu? Untuk gender tertentu? Buktinya, paradigma semacam yang tersebut barusan mudah dibalik-balik dan ditukar-tukar.

Ada satu peristiwa yang juga bisa saya paksa kaitkan dengan isu perempuan. Yakni pengakuan Siocing yang tidak ingin menikah. Padahal, Siocing pun telah menjadi manusia seutuhnya. Lantas, mengapa ia tak ingin menikah? Saya kira Siocing sudah cukup puas dengan hidup bersama kakak dan dirinya sendiri. Siocing merasa bahwa lelaki hanya bisa berbohong saja dan lelaki dari kacamata Siocing sangatlah membawa aspek-aspek negatif. Hal ini saya rasa mampu memberikan sedikit kekuatan dan justifikasi kepada mereka (perempuan) yang memutuskan tidak ingin menikah. Harus diakui dan disadari, tidak semua perempuan yang tidak menikah memilih status lajang karena terpaksa. Banyak juga yang menganggap itu sebagai pilihan hidup yang sudah diyakini dan dimantapi. Seperti Siocing, misalnya? Kalau hidup tanpa menikah pun sudah bahagia, lantas mengapa perempuan harus dipaksa menikah?

Beralih dari isu perempuan yang tak sengaja saya tangkap, saya juga menemukan adanya usaha Teater Koma untuk tetap menyelipkan budaya Indonesia bahkan turut serta di dalamnya isu-isu yang sedang marak di tanah air. Misalnya saja di salah satu adegan, ada dalang yang muncul memainkan wayang orang. Wayang orang ini merupakan salah satu kebudayaan Indonesia, bukan? Kalian tau wayang orangnya siapa? Wayang orangnya tak lain adalah Kohanbun, Tinio, Siocing, juga kakak Kohanbun, Kokiyong. Artinya, sesungguhnya cerita tentang Ular Putih ini pun sedang diceritakan oleh seorang dalang di atas panggung. Dalang inilah yang bertugas membawa kutipan-kutipan lucu yang membuat penonton tertawa. Tugas mulianya yang lain menurut saya adalah menjadi jembatan cerita dari zaman kapan ini menjadi tetap berkorelasi dengan zaman sekarang. Dalang ini menyebut-nyebut soal SNI, kemudian menyebut-nyebut soal dalang politik (kalau mendengar langsung dialog tentang ini, dijamin akan langsung mengacu pada kondisi pemerintah!), dan menyindir-nyindir soal kondisi rakyat yang menyedihkan dan memprihatinkan (yang saya duga kuat mengacu pada rakyat Indonesia). Di sini, salut saya bertambah-tambah pada Teater Koma. Selain mengemas ulang cerita Ular Putih yang sarat latar negeri Cina, Teater Koma juga mampu membawa unsur keIndonesiaan di dalam karyanya. Usaha ini dapat dipandang sebagai upaya untuk menyadarkan masyarakat Indonesia yang ada di bangku penonton akan kondisi negara saat ini. Ah, sangat Teater Koma.

Wayang oleh Dalang

Wayang oleh Dalang (2)
Percaya atau tidak, saya juga menangkap adanya sindiran terhadap kasus eksekusi mati yang akan dilakukan pemerintah Indonesia dari salah satu dialog Tinio. Ceritanya, setelah Tinio memaafkan Gowi atas sikapnya yang tak mengenakkan (mengadu pada Kohanbun tentang siapa sosok Tinio sebenarnya), Siocing mengajukan protes. Siocing heran, mengapa Tinio tak lantas membunuh Gowi saja, mengapa sebaliknya justru dimaafkan? Jawaban Tinio sangat di luar dugaan dan secara spontan (atau terlampau jauh), saya memahaminya sebagai salah satu pesan terhadap aksi eksekusi mati. Tinio berpendapat bahwa pembunuhan tidak selamanya membuat persoalan selesai. Kematian ada di tangan dewa dan dewalah yang berhak menentukan. Dialog Tinio yang berisi pesan ini seakan ingin menyampaikan ‘makna’ lain. Bahwa pada hakikatnya memang hak hidup manusia tidak boleh dicabut oleh sesama manusia. Hanya dewa —Tuhan— yang berhak menentukan. Kalau mau dikaitkan dengan eksekusi mati di Indonesia, ah pasti akan jadi panjang sekali. Intinya, entah disengaja atau tidak, Teater Koma berusaha menyampaikan pesan ‘kehidupan’ dan ‘manusia’ dalam salah satu adegannya. Beruntungnya, saya bisa menangkap hal tersebut.

Gowi yang menghasut Kohanbun
Sebelum membahas makna utama yang saya tangkap, masih ada satu adegan menarik yang bisa saya kaitkan dengan kasus yang belakangan marak terjadi di negeri sendiri. Ketika adegan Tinio mencuri rumput sakti untuk menolong suaminya, Kohanbun yang pingsan hampir mati karena terkejut. Demi menolong makhluk yang tergolong ‘manusia’ pun, Tinio hampir dihukum. Lucunya, saya jadi teringat kasus-kasus orang-orang gaek yang diperkarakan karena mencuri kayu jati, sebonggol pisang, bahkan beberapa buah cokelat. Sesederhana itu untuk menolong orang, masih dihukum (hampir) berat pula. Ya ya, memang pada dasarnya mencuri itu adalah perbuatan tidak terpuji atau tercela. Namun jika dilakukan untuk kebaikan, ah bahkan jika pelakunya tak berdaya? Dilematis memang. Hanya saja, saya jadi ragu sendiri apakah benar hal ini yang hendak ‘diangkat’ Teater Koma? Atau hanya interpretasi saya terhadap adegan curi-mencuri rumput sakti itu yang terlalu jauh? Hmm, setiap orang bebas dalam memaknai, kan?

Pencuri rumput sakti (Tinio) yang sedang memohon ampun dan...diampuni...
Baiklah, sesuai janji saya, cuap-cuap saya di awal bagian ini yang ingin membahas tentang siluman yang lebih manusia, saya akan memulainya dari keinginan Tinio yang teramat besar untuk menjadi manusia. Ini menandakan bahwa memang manusia adalah sosok paling mulia di antara makhluk hidup lainnya. Jadi siluman mungkin bebas berkelana, tetapi menjadi manusia, Tinio dapat merasa. Tinio dapat mencinta, dapat merasa bahagia. Tinio dapat merasakan kesedihan, kesakitan.

Banyak sekali rasa dari pada seorang manusia, ya? Seharusnya, manusia-manusia seperti kita bangga menjadi manusia.

Ketika akhirnya berhasil menjadi manusia, Tinio benar-benar berusaha untuk bersikap penuh lemah lembut, senantiasa berbuat baik, menderma dengan mengobati orang-orang berpenyakit, serta tak lupa memberikan maaf bagi mereka yang menebar aura permusuhan. Tak mudah, Tinio pun berusaha untuk sabar. Hal ini direpresentasikan oleh tutur bicara Tinio yang pelan-pelan dan perlahan seolah menyiratkan keanggunan dan kesabaran secara bersamaan. Di lakon ini, siluman ular putih Tinio benar-benar menunjukkan keinginan yang besar untuk menjadi ‘manusia’. Sosok yang dikenal baik, berakal budi, berhati mulia, dan tidak menebar aura kebencian. Malangnya, Tinio yang bahkan telah terlihat sempurna sebagai manusia, justru masih dikejar-kejar sebagai siluman. Yang mengejar? Tentu manusia-manusia yang katanya pendeta dan murid pendeta. Predikatnya memang mulia, tapi sikapnya? Tak ada yang menjamin. Hidup Tinio toh tetap harus berakhir dengan dikurung dalam pagoda.

Tinio telah dipagodakan oleh Pendeta Bahai dan Kohanbun datang menjenguk...
Hal ini jelas memprihatinkan. Bagaimana bisa seseorang yang memiliki masa lalu yang teramat kelam (sebagai siluman) namun telah berusaha menjadi baik dan bermartabat, dapat dihabisi oleh mereka yang justru mengaku dianugerahi sikap baik dan bermartabat? Saya rasa tidak perlu panjang lebar lagi menganalisis tentang persoalan siluman baik dihabisi manusia (jahat) ini. Kita hanya ingin disadarkan oleh lakon Opera Ular Putih tentang akal sehat dan kecerdasan yang sepatutnya kita miliki, harusnya mampu membawa kita pada penilaian yang sungguh objektif tentang siapa sebenarnya manusia dan yang mana yang harusnya kita golongkan siluman? Saya pribadi menjadi berefleksi pada kondisi sekitar, atau lebih luas, pada kondisi Indonesia.

MANUSIA ATAU SILUMAN?

Singkat saja, mereka yang sudah bersusah-payah memproduksi lakon Opera Ular Putih ini saya duga hanya ingin memancing urat pikir kita untuk merenungkan sikap dan perilaku diri sendiri sebagai individu. Sudah pantaskah kita disebut manusia? Atau sesungguhnya, kita hanyalah siluman berwujud manusia?

Akhir kata, saya ucapkan SELAMAT bagi pementas dan pencipta. Terus berkarya, teater Koma. Ditunggu produksi selanjutnya.


PS: Kalau bisa, setelah pertunjukan, Budi Ros jangan cepat-cepat turun panggung karena saya ingin foto bersamanya! Ah ya, akting Andhini Puteri sebagai ular hijau sangat luar biasa. SELAMAT!

Friday, March 27, 2015

SUBVERSIF! dari Institut Ungu: Mayoritas Selalu Benar = Tirani Kebenaran!

Tepat 13 hari setelah saya menyaksikan pementasan ‘SUBVERSIF!’, akhirnya tulisan ini rilis juga. Tulisan mengenai apa yang saya saksikan, serta apa yang saya rasakan dan pahami. Saya juga tak ketinggalan menerka-nerka kiranya apa yang ingin Institut Ungu selaku pencipta karya sampaikan kepada penyimaknya.

Sekilas Mengenai ‘SUBVERSIF!’


SUBVERSIF!
Teater yang dimainkan oleh beberapa pemain berikut ini:

Teuku Rifnu Wikana sebagai Dokter Torangga
Ayez Kassar sebagai Walikota Jokarna
Sita Nursanti sebagai Karina, istri Dokter Torangga
Dinda Kanyadewi sebagai Sarita, anak Dokter Torangga
Kartika Jahja sebagai Billy
Andi Bersama sebagai Martin Subrata
Madin Tyasawan sebagai Hary Tamboga
Hendra Yan sebagai Hoemario
Wawan Sofwan sebagai Danuro

merupakan karya pertunjukan teater produksi Institut Ungu yang ke-9, diproduseri dan ditulis naskahnya oleh Faiza Mardzoeki, serta disutradarai oleh Wawan Sofwan. Dikutip dari bagian kata pengantar pada buku acara, di situ dijelaskan bahwa ‘Subversif!’ merupakan naskah terjemahan dan adaptasi dari drama klasik berjudul ‘Enemy Of The People’ karya Henrik Ibsen, dramawan asal Norwegia pada abad 19. Henrik Ibsen merupakan dramawan yang dikenal sebagai the father of realism dan salah satu peletak dasar teater modern di dunia. Karya-karyanya dikenal sangat universal dan melampaui jamannya. Enemy Of The People merupakan salah satu masterpiece Henrik Ibsen yang sudah banyak dipentaskan dan terus dipentaskan hingga sekarang. Oleh Faiza, naskah tersebut diterjemahkan dan diadaptasi bebas ke dalam konteks Indonesia kontemporer dengan judul yang telah disebutkan sebelumnya, ‘SUBVERSIF!’.

SINOPSIS ‘SUBVERSIF!’

Pertunjukan teater ini bercerita tentang kota bernama kota Kencana yang menjadi 'hidup' berkat adanya kehadiran sebuah pabrik milik perusahaan tambang bernama PT Tambang Harapan Gemilang. Seluruh lapisan warga masyarakat di Kota Kencana, mulai dari rakyat kecil hingga pejabat tertinggi sepangkat walikota, semuanya menggantungkan nasib pada PT Tambang Harapan Gemilang. Perusahaan ini seakan tidak tersentuh oleh gangguan apapun sebab semua warga kota Kencana telah meletakkan harapan dan kepercayaan penuh pada kemunculan pabrik tambang itu sampai suatu ketika, sosok Dokter Torangga muncul menghadirkan suatu masalah.

Masalah yang dibuat-buat? Tentu bukan. Melalui penelitian yang dilakukan secara diam-diam terhadap penyakit dengan gejala serupa yang menimpa beberapa pekerja pabrik, serta penelitian terhadap sample air yang hampir digunakan oleh seluruh penduduk kota, Dokter Torangga menemukan kenyataan bahwa kota Kencana sedang terancam bahaya serius. Bahaya itu terdapat pada aliran air kota Kencana dan semua itu diduga muncul karena pencemaran limbah dari PT Harapan Tambang Gemilang. Singkat kata, Dokter Torangga menyimpulkan bahwa seluruh warga kota Kencana berpotensi terkena gangguan kesehatan akibat air yang tercemar itu.

Alih-alih mendukung Dokter Torangga untuk menuntut perbaikan sistem pengairan dan pembuangan limbah, sang Walikota bernama Jokarna —yang juga merupakan kakak dari Dokter Torangga—, pihak media (Hary Tamboga, Hoemario, dan Billy) —yang awalnya berhubungan dekat, serta menyuarakan dukungan terhadap Dokter Torangga—, sampai rakyat sekalipun, pada akhirnya berbalik menyerang Dokter Torangga hingga menjadikannya musuh rakyat.
Dokter Torangga di ruang kerja Billy dan Hoemario
Dokter Torangga 'masih' mendapatkan dukungan
Ketika Dokter Torangga hampir kehilangan dukungan
Beruntung, anak dan istri dari Dokter Torangga tetap mendukung perjuangan Dokter Torangga untuk menghadapi politik kekuasaan yang berhasil memanipulasi kesadaran masyarakat luas. Dokter Torangga yakin bahwa pada akhirnya kebenaran suci lah yang akan menang.

‘SUBVERSIF!’ Dari Kacamata Saya

SUBVERSIF! Apa itu ‘subversif’? Sungguh, saya tidak pernah mendengar kata itu sebelumnya apalagi mengerti dan memahami artinya. Setelah kemudian saya mencari maknanya di dalam kamus bahasa Indonesia, baru saya bisa memberi kata itu sebuah definisi. Definisi dari ‘subversif’ kemudian saya pahami sebagai sebuah upaya pemberontakan yang dilakukan untuk merobohkan suatu struktur kekuasaan. Memang, kesan yang saya tangkap lebih condong ke arah negatif. Dan kesan negatif dari kata ‘subversif’ ini dalam ‘SUBVERSIF!’ dilekatkan pada diri Dokter Torangga semenjak ia mengajukan pemberontakan dan menuntut perombakan sistem pengairan dan sistem pembuangan limbah di kota kelahirannya, kota Kencana. Namun apakah benar, Dokter Torangga melakukan tindakan ‘subversif’?

Pertunjukan berdurasi sekitar 120 menit ini rupanya membawa saya melihat sebuah ‘realita’ yang bahkan sudah diramalkan oleh penulis naskah aslinya, Henrik Ibsen, sejak satu abad silam. Realita yang kerap ditemui meskipun sudah satu abad berlalu sejak karya ini dicipta. Realita yang secara sadar atau tidak, juga terjadi di negara kita, Indonesia. Setidaknya, begitu yang saya kira.

SUBVERSIF! mempertontokan sebuah peperangan antara yang benar dan yang berpura-pura benar. Pihak yang pura-pura benar ini seakan tidak memiliki ketakutan apapun atas kepura-puraan yang ia lakoni. Mengapa? Jelas, karena ia sudah mengantongi hak milik sebuah senjata yang sangat ampuh dan ‘mematikan’ bernama KEKUASAAN. Malangnya, pihak yang justru benar-benar BENAR tidak memiliki senjata berharga itu. Sehingga mau tidak mau serta suka tidak suka, pihak yang benar ini harus bersedia untuk terus bergerak maju, menerima kenyataan agar tetap berpijak di atas kedua kakinya sendiri sambil berteriak lantang membela kebenaran dan terus berusaha mengungkap fakta yang ada, dengan kepala mendongak ke atas tanpa takut goyah. Senjata mereka adalah keyakinan akan kebenaran. Lantas, siapakah mereka yang ada di pihak ini? Mereka, segelintir orang yang sering dijuluki sang idealis.

Sosok idealis dalam SUBVERSIF! hanya diwakili oleh seorang Dokter Torangga. Ah ya, dan sesosok wanita muda bernama Sarita patut juga dijuluki idealis sebab ia dengan keras dan tegas mempertahankan dukungannya terhadap Dokter Torangga yang tak lain adalah ayahnya. Sarita yakin, bahwa ayahnya tidak bersalah, bahwa ayahnya amat cinta pada kota Kencana, dan bahwa ayahnya hanya ingin menyuarakan kebenaran. Lain halnya dengan Karina istri Dokter Torangga, wanita ini (tadinya) lebih memilih aman dan justru berpikiran mengajak Dokter Torangga untuk mengikuti perkataan walikota Jokarna (untuk tidak mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya kepada masyarakat soal sistem pengairan dan limbah yang bermasalah).

Alasan Karina sesungguhnya sangat wajar, ia hanya tak ingin keluarganya terkena imbas buruk. Walikota Jokarna telah mengeluarkan ancaman bahwa Dokter Torangga akan kehilangan pekerjaan apabila memutuskan tetap melawan. Di sini, pribadi Karina tampil sebagai ibu sekaligus istri yang ingin mengabdi pada kewajibannya menjaga keluarga dari jerat permasalahan cukup serius. Tapi, kadang kala yang luput dari perhatian adalah, apakah tidak akan bahaya juga jika mereka hidup aman namun dalam keadaan terancam? Ya, terancam oleh situasi dan kondisi air yang sangat tidak bersahabat dengan kesehatan, nyatanya? Tidakkah hampir sama bahayanya hidup dalam ancaman kesehatan dan ancaman kekuasaan?

Sampai di sini, ada tiga hal yang ingin saya coba bahas. Pertama, persoalan mengenai sosok idealis; kedua, persoalan mengenai kecenderungan manusia mencari rasa aman yang lebih kelihatan; dan ketiga, persoalan kekuasaan.

Idealis. Jujur, saya dulu sering tertawa sinis menanggapi orang-orang idealis. Betapa mereka dengan yakinnya, pedenya, beraninya, serta dengan segala ketidaktakutannya, mampu untuk menyatakan pendapat, ide, dan hal-hal yang mereka yakini benar. Seorang idealis di mata saya adalah seorang yang tak mampu digoyah apapun. Keras kepala? Mungkin. Mudahnya, seorang idealis seringkali tidak kompromis. Mereka sudah merasa cukup bermodalkan keyakinan bahwa apa yang diyakininya benar. Saya menduga, seorang idealis tidak akan pernah takut berjalan sendirian. Jadi, kalau seseorang masih takut berjalan sendirian di jalur pikirannya sendiri yang dia yakini benar, saya rasa itu bukan sikap seorang idealis.

Menyaksikan SUBVERSIF! membuat saya sedikit berefleksi tentang sikap saya selama ini terhadap sosok idealis. Tanpa ragu sedikitpun, saya menyatakan bahwa saya bukan sosok idealis. Ah, bahkan seringkali kompromis. Namun begitu, Dokter Torangga seakan ‘menyentil’ saya bahwa sosok idealis tidak selamanya membuat sinis. Sikap idealis toh nyatanya dibutuhkan untuk perubahan. Terlebih jika memang ‘sesuatu’ yang diyakini itu berlandaskan pada kebenaran dan fakta. Untuk apa sih takut jika memang benar? Untuk apa sih takut berjalan sendirian dan ditinggalkan jika yang diperjuangkan adalah kebenaran? Eits, di sini saya kira letak masalahnya. Manusia tidak dapat hidup sendirian, begitu katanya. Sehingga, terkadang sikap idealis seseorang goyah karena ketakutan-ketakutan akan ancaman-ancaman yang muncul sebagai dampak sebuah pernyataan sikap. Di situlah seorang manusia yang mengaku idealis diuji oleh keadaan. Sanggupkah ia bertahan pada ‘sesuatu’ yang ia yakini benar meskipun pada akhirnya ia harus sendirian? Atau justru ia terseret ke dalam bentuk-bentuk kompromi yang menghadirkan rasa aman?

Dokter Torangga memilih opsi yang pertama. Ia tetap bertahan pada apa yang ia yakini benar, meskipun seluruh warga kota Kencana, mulai dari lapisan ‘rakyat’ hingga pemimpin yang juga kakaknya sendiri, memusuhinya. Dokter Torangga dengan gagah menerima gelar ‘Musuh Rakyat’ yang disematkan padanya. Karena ia tahu, dan ia yakin, sesuatu yang ia pegang teguh itu adalah kebenaran. Dan kebenaran akan selalu menang. Begitu ‘ide’nya. Di sini, sebuah sisi manis ikut muncul. Sarita —yang memang juga tidak takut akan hal apapun, bahkan tidak mengenal kata kompromi— dan Karina, sebagai dua orang yang berelasi keluarga dengan Dokter Torangga, tetap menyuarakan lantang dukungannya. Meskipun kondisi kehidupan mereka sudah sangat memprihatinkan —kaca rumah ditimpuki batu, pun mereka diusir, Dokter Torangga sudah dipecat—, mereka tetap bersama-sama dan tak terpisah sedikit pun sebagai satu kesatuan utuh bernama ‘keluarga’. That’s what your family is for, right?


Rumah mereka, hancur
Saya kira, keberadaan sosok idealis masih cukup jarang pada masa sekarang. Sebagian besar orang lebih cenderung mencari rasa aman dan berlindung di bawah ketiak yang berkuasa. Adapun mereka yang berjuang hingga titik darah penghabisan, kalah oleh mereka yang duduk di tahta kekuasaan. Apa benar begini? Atau mungkin hanya dugaan saya semata saja? Sebagai bukti, Indonesia masih membutuhkan dan menggadang-gadangkan revolusi mental. Tandanya, mental masing-masing individu sudah memasuki tahap kritis dan harus segera diperbaiki. Mungkin termasuk mental saya juga di dalamnya.

Sebagai seorang manusia, saya kira sangatlah wajar jika masing-masing individu mencari perasaan aman. Bahkan, dengan cara apapun, termasuk di dalamnya dengan berkompromi. Namun saya rasa tidak semua kompromi itu baik adanya. Salah-salah berkompromi, bisa-bisa seseorang dapat terjebak di dalam keputusan yang ia ambil sendiri. Jika Karina bersikukuh memaksa Dokter Torangga untuk menyerah, mungkin mereka akan hidup dalam rasa aman. Aman karena Dokter Torangga tak akan dipecat dan tak akan kehilangan pekerjaan. Hasil kompromi, kan? Tapi jikalau demikian, mereka akan menjadi buta atau pura-pura buta terhadap keadaan air yang tercemar dan sewaktu-waktu dapat menimbulkan dampak yang luas bagi seluruh penghuni kota Kencana. See?

Coba, saya tunjukan satu contoh lagi di dalam SUBVERSIF!.

Di akhir cerita, saat Dokter Torangga sudah berada dalam kondisi amat terpuruk, datanglah seorang tua bernama Martin Subrata yang juga merupakan ayah dari Karina, istri Dokter Torangga. Dengan menggunakan harta warisan yang tadinya akan diserahkan kepada anaknya, Karina dan cucunya, Sarita, Martin Subrata memilih untuk memborong seluruh saham PT Tambang Harapan Gemilang. Tujuannya, ia ingin meminta Dokter Torangga memanfaatkan borongan saham tersebut sebagai modal untuk memulai hidup yang baru.

Di sini Dokter Torangga ditawarkan kembali ‘rasa aman’ itu. Apakah Dokter Torangga menerimanya? Sekalipun telah diancam oleh Martin bahwa jika saham itu ditolak, Karina dan Sarita tidak akan mendapatkan harta warisan, Dokter Torangga tetap tak bergeming. Surat saham PT Tambang Harapan Gemilang itu berakhir dalam bentuk robekan-robekan kecil.

Karina dan juga Martin Subrata dalam kedua contoh tadi hanya mencoba menawarkan ‘rasa aman’ yang menurut hemat saya, memang dibutuhkan oleh manusia. Namun kadang kala, rasa aman yang ‘kelihatan’ itu bisa saja berpotensi menjebak. Pada bagian ini, saya mendapatkan satu hal. Sebuah langkah kompromistis tidak selamanya memberikan rasa aman yang nyata. Terkadang, dampaknya hanya bersifat semu dan lebih dari pada itu, ada hal lain yang bisa saja jauh lebih mengancam. Adalah tugas seorang individu untuk dapat melihat dan mencari dengan sangat cermat dan jeli, celah untuk menemukan rasa aman menggunakan seminim mungkin pendekatan kompromistis. Berjuang untuk menggemakan yang dirasa diri benar, mungkin?

Hal yang terakhir dan sekaligus menjadi inti berbagai permasalahan yang ada, adalah KEKUASAAN. SUBVERSIF! dengan sangat jelas menunjukkan bahwa mereka yang berkuasa akan dengan sangat mudah mengontrol keadaan. Pihak-pihak yang berkuasa di sini, yakni walikota Jokarna, pemilik media Hary Tamboga, dan jajaran direksi PT Tambang Harapan Gemilang —yang tak pernah dimunculkan— seakan berkongkalikong untuk membentuk opini publik yang menyatakan bahwa kesalahan seutuhnya terletak pada diri Dokter Torangga, bahwa apa yang diteliti Dokter Torangga itu tidak benar, dan bahwa Dokter Torangga sedang berusaha menghancurkan kota Kencana. Saat-saat inilah yang dikatakan sebagai manipulasi kesadaran publik oleh mereka yang berkuasa. 

Ada satu adegan yang lucu terkait dengan kekuasaan. Dalam satu rapat umum terbuka yang diadakan oleh Dokter Torangga untuk mengungkapkan kebenaran terkait kondisi air di kota Kencana, yang memimpin rapat sama sekali bukan dari pihak Dokter Torangga, melainkan dari pihak yang beroposisi, yakni Hary Tamboga. Hal ini dapat terjadi karena dengan kekuasaan dan pangkatnya sebagai ‘WALIKOTA’, Jokarna berhasil mempengaruhi massa yang hadir untuk bersepakat memilih pemimpin rapat dan itu adalah Hary Tamboga.


Setelah bersusah payah merebut kesempatan bicara
Dengan disetujuinya seorang Hary Tamboga menjadi pemimpin rapat, maka peluang bicara Dokter Torangga di acara yang dia helat sendiri pun makin minim. Lucu sekali bukan? Tidak memiliki kebebasan di acara yang diadakan oleh diri sendiri? Begitulah hebatnya ‘KEKUASAAN’. Mampu ‘mempermainkan’ mereka yang tidak banyak tahu, tidak banyak memegang peranan, dan tidak banyak berkuasa.

KEKUASAAN tidak selamanya negatif, memang. Jika KEKUASAAN digunakan sebagai alat yang semestinya, sepatutnya, dan seharusnya, maka ia akan menjadi senjata yang mensejahterakan. Namun jika disalahgunakan? Maka sudah pasti yang bergulat di sana adalah orang-orang opportunis yang menggunakan kekuasaan sebagai alat untuk mencapai kepentingan pribadi. Contoh lagi?

Masih ingat contoh saya di atas mengenai Martin Subrata yang ‘menghadiahi’ Dokter Torangga setumpuk surat saham? Ketika mengetahui hal ini, Hary Tamboga dan dua kroninya, Billy dan Hoemario dengan serta merta langsung mendatangi rumah Dokter Torangga seakan tidak punya malu, dan mereka langsung mencari muka, menjilat, dan mengambil hati. Saya seketika merasa geli dan jijik sendiri melihat adegan ini saat itu. Ada ya, orang yang tidak punya rasa malu begitu?

SINGKAT KATA

SUBVERSIF! memang bukan pertunjukan teater musikal yang dipenuhi musik dan lagu-lagu menarik sepanjang pertunjukan. Bukan pula pertunjukan yang menawarkan kemegahan, kemeriahan, atau dekorasi-dekorasi yang rumit.

Hanya ada tiga hal yang membuat saya ‘mengingat’ pertunjukan ini yakni pertama, tata panggungnya dibuat sedemikian unik dengan eksperimen penggunaan dinding-dinding yang berputar pada suatu poros yang sama untuk menciptakan ruang-ruang panggung. Belakangan diketahui bahwa bentuk panggung ini adalah upaya untuk memvisualisasikan sistem ekspolorasi tambang yang ‘berputar pada satu poros’ ketika melakukan pengeboran. Di SUBVERSIF!, ruang yang dibutuhkan setiap adegan akan tercipta jika dinding set panggung SUBVERSIF! digerakkan memutar. Kemudian yang kedua, saya terkesima dengan akting para pemerannya, terutama dan sangat utama, jelas kepada Teuku Rifnu Wikana selaku Dokter Torangga. Ketiga dan yang paling mengesankan, SUBVERSIF! membuat saya mampu berefleksi, terutama berpikir dalam persoalan individu dengan pergulatannya bersama idealisme, rasa aman, dan kekuasaan, serta berefleksi juga tentang keadaan negara yang senyata-nyatanya di bumi Indonesia.

(Benar-benar) singkat kata, SUBVERSIF! seakan menampilkan betapa opini publik dan pemberitaan sosial dapat dimonopoli oleh para pemengang kuasa. Dan ini mungkin saja benar terjadi pula di Indonesia, di mana banyak media secara terang-terangan memihak pihak-pihak tertentu yang punya kepentingan. Kelihatannya, mereka masih cukup netral atau malah berusaha netral, namun siapa yang pernah tahu? Untuk itu, massa bermahkotakan nama ‘RAKYAT’ harus benar-benar mau menjadi cerdas sebelum menilai suatu hal. Salah-salah menilai, mereka di atas sana bisa-bisa mentertawakan kebodohan kita rakyat-rakyat kecil tak punya pangkat ini, karena telah terjebak ke dalam permainan mereka menciptakan pembodohan massal. So, let's be smart!


SELAMAT!
“Mayoritas selalu benar adalah tirani kebenaran! Mayoritas selalu benar adalah kebohongan sosial! Setiap manusia merdeka dan berakal sehat harus memberontak terhadapnya”
“Aku manusia merdeka dan terhormat. Sekalipun bumi runtuh, aku tak akan tunduk.” - Dokter Torangga
“Untuk mendapatkan kemenangan dan kebebasan, selalu dibutuhkan pengorbanan.” – Dokter Torangga

Thursday, March 12, 2015

"Turun, lu!"

“Kota ya, bang!” Ibu-ibu itu berteriak namun tidak ikut naik ke dalam angkutan umum saya. Mungkin seorang perempuan muda yang baru saja naik ini adalah kerabatnya, jadi ibu-ibu tadi hanya menemani saja.

Perempuan muda itu menjadi penumpang saya yang pertama di hari ini. Memang, hari sudah tidak terlalu pagi sementara saya tadi dipaksa istri untuk menyelesaikan makan pagi sebelum pergi. Ya, jadi saya baru saja berangkat dan baru saja mulai berusaha sepenuh hati mencari rejeki. Beruntunglah, tak lama keluar rumah, saya sudah mendapatkan penumpang. Semoga hari ini lancar. Amin. Doa saya dalam hati.

Sesungguhnya, saya baru dua minggu menjadi supir angkutan umum. Sebelumnya, saya mengais rejeki dari profesi sebagai tukang ojek. Penghasilan menjadi tukang ojek sebenarnya lumayan. Lagipula, motor yang dipakai adalah motor milik sendiri, tidak seperti angkutan umum ini. Saya dulu juga berhasil mendapatkan beberapa langganan yang sudah percaya sama saya. Setidaknya, saya punya perkiraan berapa banyak uang yang minimal bisa saya dapatkan dalam satu hari. Sayangnya, saya menjadi salah satu korban pembegalan. Motor saya raib padahal tinggal sedikit lagi saya melunaskan cicilan.

Sedih rasanya jika mengingat kembali peristiwa itu. Waktu itu sudah pukul 10 malam dan saya baru saja mengantarkan seorang penumpang. Ketika saya hendak pulang ke rumah, saya melihat seorang perempuan muda berdiri di depan sebuah warung tenda dengan tas ransel tersampir di pundaknya —saya kira ia baru pulang kuliah atau main, entahlah— melambaikan tangan ke arah saya.

“Ojek, pak?”
“Iya, ke mana Mba?”
“Ke daerah Cengkareng, pak.”
“Wah, jauh amat. Saya sudah mau pulang Mba. Cuma sampai sekitaran Teluk Gong saja. Maaf ya, naik taksi saja Mba.”
“Yah, pak. Tolong ya Pak, saya belum sempat ambil uang dan supir saya masih di jalan karena ban mobilnya pecah. Dari tadi juga saya belum melihat ada taksi lewat sini.”
“Mari saya antar sampai ke pangkalan taksi saja kalau begitu.”
“Ngg, sampai rumah saja ya Pak?” perempuan muda bertas ransel itu memohon dan wajahnya terlihat cemas. Saya jadi ingat anak saya yang sedang bersekolah di kampung. Saya kemudian mengangguk sambil mengira-ngira apa yang akan saya katakan pada istri saya jika saya pulang amat larut.

Ketika perempuan muda itu sudah menyebutkan alamat lengkapnya —yang saya tidak paham betul—, saya langsung tancap gas. Saya sudah meminta perempuan itu untuk mengarahkan saya ke tujuannya karena saya tidak mau membuang-buang waktu untuk pura-pura tahu alamat namun nantinya tersesat. Rekan-rekan saya sesama tukang ojek sepertinya banyak yang begitu. Pura-pura tahu alamat, namun akhirnya berputar-putar karena kesasar, dan lalu justru meminta ongkos lebih pada penumpangnya. Kalau saya, tidak tega rasanya.

Setelah sampai ke alamat perempuan muda itu —yang perjalanannya cukup memakan waktu—, saya langsung melesat kembali menuju rumah saya yang masih jauh letaknya. Untung saja, saya masih ingat jalan pulang dan kalau tidak salah, ada satu jalan pintas yang pernah saya lalui dulu sekali. Saya memutuskan untuk lewat jalan itu, dan apesnya, di situlah motor saya dirampas oleh dua orang tidak bertanggung jawab. Kondisi jalanan sudah cukup sepi dan memang keberadaannya sedikit jauh dari kawasan perumahan. Saya hampir celaka. Saya mencoba melawan dengan sekuat pertahanan diri yang saya miliki namun ternyata mereka membawa alat-alat yang mengerikan —pedang dan pisau lipat kalau saya tidak salah lihat—. Saya yang sudah lelah, tak sanggup lagi melawan, akhirnya pasrah menyerahkan motor saya. Profesi tukang ojek ternyata juga tidak bisa dijadikan senjata, melihat lokasi saya diserang cukup jauh dari kampung tempat tinggal saya.

Saya sudah lapor polisi, tapi saya tak cukup peduli dan berani untuk menuntut keadilan. Wong saya tidak tahu banyak tentang lapor-melapor kejahatan begitu. Jadi, lebih baik saya memikirkan cara untuk tetap menyambung hidup tanpa kehadiran motor satu-satunya itu. Saya sudah ikhlas dan pasrah. Mana tahu, suatu saat nanti saya akan diberikan rejeki yang lebih baik lagi. Aduh, saya malah ngawur dan sok bijak begini.

Beberapa saat kemudian setelah kejadian, ketika saya bingung harus bekerja apa, ada-ada saja keberuntungan memihak. Tetangga saya mengajak saya bergelut di pekerjaan sebagai supir angkutan umum ini. Karena jasa yang ditawarkan hampir serupa, yakni sama-sama jasa transportasi, saya setuju dan menerima tawaran tersebut. Kemudian di sinilah saya sekarang, di balik kemudi angkutan umum berwarna merah yang beroperasi di sekitar Jakarta Utara.

Saya membunyikan klakson beberapa kali dan selalu berjalan lambat ketika melihat seorang atau segerombolan orang berdiri di pinggir jalan. Mungkin saja mereka ingin menumpang angkutan saya. Kadang-kadang, jika melewati pasar, saya bisa mengangkut beberapa penumpang. Namun pagi ini, saya baru berhasil mengangkut si perempuan muda dan satu orang ibu-ibu tua mengenakan baju tidur rumahan. Saya kemudian melihat jam kecil yang ada di atas dasbor mobil saya ini, dan menyadari bahwa hari sudah meraih pukul setengah sebelas. Jam-jam bagi orang-orang kantoran untuk duduk menghadapi pekerjaan dan jam-jam bagi ibu-ibu rumahan memasak makan siang bagi anggota keluarganya. Wajar kalau angkutan saya cukup sepi.

Saya memperhatikan penumpang perempuan muda yang sedang duduk diam mengamati keadaan dari balik kaca jendela. Saya juga memperhatikan ibu-ibu tua dengan aktivitas serupa. Keduanya duduk dalam diam dan sama-sama melihat sekitar. Penumpang-penumpang yang kesepian. Mengapa mereka tidak bercengkerama saja satu dengan yang lainnya? Ah, pasti akan aneh rasanya jika berbicara dengan orang yang tidak dikenal, bukan begitu?

Pandangan saya melihat lagi ke depan dan dari arah berlawanan, saya melihat angkutan dengan nomor sama perlahan mendekat ke arah angkutan saya, dan lajunya diperlambat. Supirnya ternyata si Oji, seorang laki-laki berkumis berjanggut tipis, wajahnya sedikit sangar, namun orangnya sangat baik sebenarnya. Ketika angkutan kami bersisihan, ia berhenti total sambil mengeluarkan tangan yang memegang selembar uang lima puluh ribuan. Saya juga mau tidak mau ikut berhenti dan membiarkan antrean kendaraan di belakang saya bertambah-tambah.

Terkadang, saya benci dengan adat supir-supir angkutan umum ini. Padahal, saya salah satu di antaranya. Mereka (dan juga saya) gemar berhenti sesuka hati ketika ada penumpang yang hendak naik maupun hendak turun. Atau ya dalam kondisi sekarang ini misalnya. Ketika Oji ini ingin menukar uang, ia langsung berhenti saja tanpa peduli kendaraan di belakangnya menumpuk menunggu giliran untuk lewat. Membuat saya harus berlaku serupa.

Saya mengeluarkan kumpulan uang yang terlipat, lusuh, lecek, serta tercampur dari berbagai nominal dari kantung kaos supir saya, berusaha mengumpulkan uang hingga berjumlah lima puluh ribu, sehingga bisa saya tukarkan dengan lembaran lima puluh ribuan yang Oji acungkan.

“Wah, Ji, uang gue nggak nyampe lima puluh ribu nih.” ucap saya sambil menghitung ulang. Dan memang benar, uang saya tidak sampai lima puluh ribu.

Tepat ketika Oji hendak menarik tangannya, sebuah motor muncul di antara saya dan Oji. Berusaha melewati jepitan angkutan umum saya dan angkutan umum milik Oji. Saya tahu, celahnya sangat kecil sehingga akan lebih baik sebenarnya jika motor itu bersabar di belakang mobil saya. Namun, ia tetap memaksa menyerobot sehingga timbul bunyi hentakan —seperti ada sesuatu yang terserempet— dan sontak kepala Oji muncul keluar jendela —bukan lagi tangannya— seraya mengumpat setengah berteriak,

“Woy, anjing lu! Sini lu balik!” segera setelah mengumpat, Oji langsung membuka pintu dan turun dari mobilnya. Membuat antrean kendaraan tambah-tambah macet saja. “Turun lu, bangsat!” Oji melanjutkan.
Saya melongokkan kepala saya ke luar jendela,
“Kayaknya punya gue yang berantakan ya, Ji?”
“Bukan, punya lu nggak kenapa-napa. Itu punya gue tuh yang kebaret panjang! Sial!” Oji berucap sambil melompat naik lagi ke dalam mobilnya. Kepalanya menoleh ke belakang —ke arah kaburnya motor— sekitar dua sampai tiga kali sebelum akhirnya ia benar-benar bersiap akan menjalankan kendaraannya kembali.
“Anjing emang itu orang Ji.” saya menimpali.

Sangat bukan saya. Namun, saya mencoba memposisikan diri sebagai Oji. Mengumpat orang yang menimbulkan masalah, saya rasa adalah jalan terbaik untuk menunjukkan pada Oji betapa saya memahami kejengkelannya. Walaupun pribadi saya mengatakan, tak sepenuhnya insiden barusan merupakan kesalahan si pengendara motor yang menyalip. Yang salah justru Oji (dan saya) karena justru berhenti seenak jidat memaksa motor itu untuk menyelipkan diri di celah yang teramat sempit. Hah, kejadian kecil begini bisa-bisanya membuat saya pusing.

Saya sempat melihat ke spion tengah untuk melihat keadaan antrean kendaraan di belakang saya yang sudah cukup menumpuk, sekaligus melihat keadaan penumpang saya. Perempuan muda itu, tentu saja terang-terangan menyiratkan kejengkelan meskipun dalam diam. Mungkin ia lelah melihat kelakuan supir-supir angkutan umum ibu kota. Beralih ke penumpang satunya, ibu-ibu tua itu justru sebaliknya. Ia tetap diam seolah kejadian barusan sudah berulang kali ia saksikan.

Saya tidak ingat betul berapa lama mobil saya dan mobil Oji berhenti dan bersisihan sehingga menahan laju kendaraan lainnya di belakang kami masing-masing. Saya juga tidak ingat berapa banyak bunyi klakson yang berbunyi membising selama kami berhenti. Yang saya ingat, saya mulai melaju kembali ketika Oji juga mulai berjalan, tanpa mendapatkan tukaran uang lima puluh ribuannya.

Sepanjang jalan, kepala saya seolah memaksakan diri untuk memusingkan hal remeh-temeh gara-gara kejadian barusan. Saya hanya mencoba meyakinkan diri akankah saya masih kuat dengan kehidupan Jakarta yang keras begini? Mulai dari pembegalan hingga perlunya saya berwatak keras dan sangar demi bertahan begini? Pekerjaan supir angkutan umum sekiranya membutuhkan mental petarung, juga tidak takut apapun. Mental pembalap gadungan yang nyalip-nyalip tidak takut diumpat. Saya? Sama begal saja keok. Apa saya sanggup? 

Saya kembali melihat ke spion tengah untuk melihat keadaan penumpang-penumpang saya yang masih duduk dalam diam. Perempuan muda itu masih dengan raut wajah jengkelnya. Ibu-ibu tua itu masih dengan raut wajah datarnya. Saya kembali melihat ke depan dan ada seorang laki-laki tua memegang sebatang rokok menghentikan kendaraan saya. Asap rokok menyeruak di dalam angkutan umum saya berbarengan dengan naiknya laki-laki tua itu ke dalam angkutan umum saya dan seketika timbul keinginan saya untuk merokok juga.

Saya berhenti di pinggir sebuah warung, untungnya kali ini tak menyebabkan kemacetan seperti tadi, membeli sebatang rokok saja hanya untuk mengisi rongga pernafasan, kemudian kembali melajukan kendaraan. Penumpang yang baru saja naik, dan kemampuan saya membeli rokok barusan menyadarkan saya satu hal. Hidup saya tetap harus berjalan, di manapun. Untuk saat ini, mungkin saya harus berjuang di Jakarta. Selanjutnya, mungkin saya dan istri bisa kembali ke kampung, tinggal bersama ibu mertua saya dan dua anak saya yang saat ini masih bersekolah.


Jakarta, saya tidak akan menyerah.

Wednesday, March 11, 2015

"Kota ya, bang!"

Saya turun dari mobil ketika hujan mulai merintik. Setelah melambaikan tangan tanda perpisahan pada teman yang memberikan tumpangan, saya kemudian berjalan ke halte terdekat untuk menunggu angkutan umum yang lewat. Dari jalan Utan Jati di bilangan Jakarta Barat —tempat saya menunggu kala itu—, saya hendak bertolak ke kawasan Kota Tua. Menurut internet, saya bisa menumpang mikrolet nomor M13 yang memiliki rute Kalideres – Kapuk – Kota, dan melewati Utan Jati.

Setidaknya, ada lima menit saya menunggu sebelum akhirnya angkutan yang saya nanti-nanti itu lewat di depan mata dan berhenti menunggu saya naik.

“Bang, ini ke stasiun Kota?”
“Bukan. Sudah nggak sampai sana lagi. Tapi naik aja dulu, nanti nyambung sekali lagi.”

Merasa tak ada pilihan, saya memutuskan bertahan. Bertahan untuk tetap naik ke dalam angkutan umum berwarna biru muda itu, pasrah sekaligus cemas karena tidak tahu akan ke mana saya dibawanya. Saya duduk dalam diam, membaca buku yang saya bawa dari rumah, sekaligus berkala mengamati jalan-jalan yang dilalui si angkutan.

Sejenak ketika mata saya sudah mulai lelah membaca buku, situasi jalanan yang bergelombang juga rasanya tak akan berdampak baik bagi mata saya kalau terus memaksa membaca —gerak angkutan menjadi tidak stabil, maksudnya—, akhirnya saya memutuskan untuk konsisten mengamati sekitar saja.

Waktu itu masih pagi sekitar pukul sembilan setengah sepuluh. Saya melihat cukup banyak kendaraan roda dua maupun roda empat berdesak-desakkan di jalanan. Mungkin mereka sedang tergesa menuju tempat kerja. Begitu yang saya kira. Jalanan berlubang, berbatu, juga berbecek sepertinya sangat mendominasi. Truk-truk juga tak kalah saing menghiasi jalanan pagi hari. Saya heran, truk besar ini mengapa diperbolehkan melalui jalanan kecil begini, pagi-pagi lagi.

Jakarta semakin macet saja, pikir saya.

Semakin lama saya memperhatikan jalanan, semakin gerah saya merasa. Saya lagi-lagi terjebak di kemacetan ibu kota. Nasib, nasib. Saya putuskan mengecek telepon genggam saja, mana tahu ada pesan singkat atau kalau tidak, saya bisa membaca-baca portal berita online. Lagi-lagi, saya justru merasa pusing, pelipis mata saya seolah berdenyut lelah dan pada akhirnya saya mengembalikan lagi telepon genggam saya pada salah satu celah di dalam tas.

Di tengah padatnya kendaraan, angkutan saya yang berjalan pelan-pelan ini sekali waktu berhenti total karena ada seorang ibu-ibu yang menyetop. Perawakannya sedikit gemuk, dengan jilbab biru serta kostum pakaian formal warna senada, lengkap. Rok dinasnya terangkat sampai ke lutut, mungkin karena ia baru saja turun dari motor, namun karena ia menggunakan celana hitam di balik rok yang terangkat, auratnya tetap tertutup rapat.

Dengan agak susah, beliau naik ke dalam angkutan dan duduk di sebelah saya. Angkutan biru muda yang saya tumpangi untungnya tidak terlalu penuh, sehingga ketambahan satu orang juga tidak terlalu signifikan. Kebiasaan saya untuk memperhatikan orang kadang kala suka keterusan. Sejak ibu ini naik hingga sekarang duduk di samping saya, saya tanpa sadar terus mengamati gerak-geriknya. Wajahnya masih terlihat segar, bisa saja karena masih pagi. Tangannya sibuk menurunkan kembali roknya yang terangkat dan setelah semuanya kembali rapi, ibu ini duduk dalam diam. Mungkin bingung dengan kemacetan Jakarta, atau malah sudah terlampau terbiasa.

Angkutan biru muda ini tak lama lagi sepertinya akan keluar dari kemacetan. Melihat gerak-gerik supir yang siap-siap mengambil pilihan untuk belok ke kanan, saya pun sumringah karena akan keluar dari padatnya kendaraan. Namun ketika angkutan ini akan berbelok, saya sedikit heran karena angkutan ini mengambil jalur yang tidak semestinya. Supir angkutan ini berbelok ke kanan dengan melewati jalan putaran yang seharusnya digunakan oleh kendaraan dari arah berlawanan. Dengan agak tancap gas dan menyiapkan recehan untuk membayar dua orang ‘pak Ogah’ yang berjaga —satu yang mengijinkan supir ini lewat di jalan yang tidak semestinya, satu lagi yang menjaga kendaraan agar tidak memotong ketika angkutan ini sedang bergerak—, supir angkutan ini berhasil menuntun kendaraannya hingga sampai pada jalan yang lain yang terbebas dari kepungan kendaraan.

Hawa kota Jakarta masih membuat gerah dan saya, yang saat itu benar-benar sama sekali tak punya gambaran sedang berada di mana, hanya bisa berharap angkutan ini akan cepat sampai di tempat yang menyediakan angkutan langsung ke Kota. Saya masih terus acuh pada dua penumpang lain di dalam angkutan ini dan mata saya hanya terus memandang ke luar jendela.

Betapa sumpeknya Jakarta ini, ya. Macet dan panas di mana-mana, euy! Saya membatin.

Tak lama setelah berbelok-belok dan menyalip-nyalip kendaraan lain —saya tak heran jika pengendara kendaraan pribadi sampai takut pada angkutan umum—, akhirnya supir angkutan yang saya tumpangi ini menghentikan laju kendaraan dan turun memungut ongkos. Wanita muda yang tadinya duduk berhadapan dengan saya ternyata sudah turun tanpa saya sadari. Tinggallah saya dan ibu-ibu rapi berjilbab yang masih bertahan di samping saya.

“Mba, nanti di depan sambung angkot 06 aja ya.” ucap si supir penagih ongkos sebelum akhirnya bangku depan diisi oleh supir baru.
“Langsung ke Kota, pak?” tanya saya ragu. Supir itu kemudian turun sambil mengangguk dengan memegang segepok uang di tangan kirinya. Saya kemudian sedikit lega karena saya semakin dekat dengan tujuan saya.
“Mba mau ke Kota? Emangnya dari mana?” Ibu di samping saya tiba-tiba bersuara.
“Eh, iya bu. Saya tadi dari Daan Mogot.” jawab saya sambil menyimpulkan senyum tipis.
“Kenapa si mba nggak naik dari Kalideres aja, kalau nggak salah kan ada Metro Mini 84 yang langsung ke Kota.”
“Oh, iya ya Bu?” saya bertanya dengan nada dan raut muka polos.
“Iya, ngapain ini jauh banget muter-muter dulu.”
“Nggak apa-apa lah Bu, sekalian liat-liat Jakarta. Hehe.”
“Jakarta mah apa yang diliat. Begini aja terus setiap hari, macet, sumpek.”
“Hehe, iya ya Bu.”
“Yaudah, nanti jangan lupa naik angkot merah nomor 06 ya mba, kayak gitu tuh…” ucapnya sambil menunjuk ke arah angkot yang dimaksud dari arah berlawanan, “…tapi naiknya dari arah ini ya. Sekolahan ya, bang!”

Mengira bahwa ibu ini akan segera turun dan saya akan segera menjadi satu-satunya penumpang yang tersisa, saya memilih untuk turun mengikuti ibu ini. Toh, saya harus berganti angkutan lagi juga.

“Nah, itu ada angkot 06 di belakang truk itu. Nanti naik itu ya mba, turunnya di terminal Kota aja.” Ibu-ibu ini berkata lembut sambil menunjuk truk yang dimaksud. Benar saja, di belakangnya ada angkutan umum berwarna merah mengikuti, mungkin itu benar angkutan umum nomor 06. Yang mengherankan, jalanan cukup kosong, sepi kendaraan, namun ibu-ibu —yang saya duga adalah seorang guru— itu tak kunjung menyeberang menuju sekolahan.

Angkutan umum 06 itu kemudian saya berhentikan dengan sekali lambaian tangan, dan ibu-ibu di samping saya langsung berseru,

“Kota ya, bang!”, setelah itu ibu-ibu ini tersenyum pada saya dan berujar, “Hati-hati ya, Mba.”
“Terima kasih ya Bu.” saya tersenyum, terharu —mengingat saya mudah tersentuh dan terenyuh—, kemudian naik ke atas angkutan merah itu, dan menyadari bahwa saya kembali menjadi satu-satunya penumpang yang menumpang. Ibu-ibu tadi menyeberang ke sekolahan setelah angkutan saya beranjak perlahan.

Kota sumpek ini masih punya orang baik. Pikir saya sambil tak sadar mengembangkan senyum di dalam angkutan umum nomor 06 yang pelan-pelan bergerak menuju Kota.