Wednesday, August 7, 2013

6 Juli 2013: Indonesian Youth Conference 2013

Cerita ini mungkin sudah termakan waktu. Karena jarak pelaksanaan acara ini dengan saat ketika saya mempublish tulisan ini sangatlah jauh. 6 Juli 2013 - 7 Agustus 2013.

Namun tak apa, anggap saja ini sebagai cerita pengalaman saya mengikuti sebuah acara yang begitu bermanfaat bagi gerakan anak muda.

"IYC 2013: Saatnya Kita Beraksi" ternyata merupakan IYC yang ketiga kalinya. Percaya tidak percaya, info mengenai IYC 1 dan IYC 2 tidak pernah sampai ke pendengaran saya. Entah saya yang tak banyak mendengar kabar, atau informasi acara tersebut yang memang tidak menjangkau sarana-sarana informasi yang dekat dengan saya. Namun tak apalah. Mengikuti IYC tahun 2013 ini sudah merupakan sebuah kegiatan yang menyenangkan diri sendiri.

Awal mula saya tahu acara IYC 2013 ialah berasal dari tweet salah seorang teman saya yang kebetulan menjadi volunteer di acara tersebut. Saya follow twitter IYC 2013, saya turuti prosedur pembayarannya, dan saya pilih sesi-sesi yang ingin saya ikutin. Teman-teman terdekat, semua saya ajak. Namun, hanya satu yang mengiyakan. Cathlin namanya.

Dengan 135.000 rupiah, saya bisa mengikuti rangkaian acara IYC 2013, FULL DAY. Mulai dari Sesi Politik, lalu sesi pilihan pertama (saya pilih sesi Media & Jurnalisme), kemudian sesi pilihan kedua (saya pilih sesi Sejarah). Ada pula Surprise Session yang bisa saya ikuti. Kemudian, malamnya, ada pentas musik dari WSATCC, The Aftermiles, dan Maliq N d'Essentials.

Ketika hari H tiba, fisik saya ternyata lemah. Perut saya terserang. Entah karena apa. Jam makan saya sudah teratur. Makanan yang masuk ke dalam badan saya juga makanan yang (kiranya) sehat. Tapi apa daya. Mungkin fisik saya sudah terlalu lelah, jadi habislah.

Namun, mengingat janji dengan teman, dan keinginan saya yang begitu kuat mengikuti IYC 2013, akhirnya saya berangkat ke UPPERROOM Annex Building, Jakarta Pusat. Dari Depok.

Setibanya di sana, saya menukar tiket dan memburu sesi pertama yang diwajibkan bagi seluruh peserta, yakni Sesi Politik yang menghadirkan Budiman Sudjatmiko dan Yoga Dirga Cahya. Pada sesi ini, saya tidak terlalu mendapatkan banyak hal. Yang saya tau dan saya ingat sebagai anak muda ialah, bahwa sebagai anak muda, kita harus peka terhadap kehidupan politik. Politik mungkin memiliki citra yang amat buruk di mata masyarakat Indonesia, tapi kalau kita tidak mau peka, bagaimana kita bisa mengubah citra politik tanah air? Kurang lebih seperti itu.

Kemudian, di sesi yang kedua, yakni sesi Media & Jurnalisme. Pembicaranya berasal dari AJI, lalu ada Charles Bonar Sirait, dan Teguh Priyanto dari ANTARA. Pada sesi ini, pengetahuan saya mengenai kehidupan media sedikit terbuka. Sesi ini tidak memaparkan cara menjadi jurnalis atau pekerja media yang baik, melainkan menunjukkan pada para peserta bahwa dunia media adalah dunia yang penting dan akan selalu mengambil peran besar dalam masyarakat. Terlebih lagi, pada jaman serba canggih dan berteknologi seperti saat ini. Sesi ini memaparkan data dan fakta mengenai hebatnya perkembangan media jaman sekarang, mengenai banyaknya masyarakat yang menyumbang aktif pada pesatnya arus komunikasi online dan arus masuknya berita. Di sinilah media menampakkan taringnya. (That's why, saya selalu bercita-cita menjadi pekerja media).

Dipotong makan siang yang didapatkan secara gratis, saya bercakap-cakap dengan teman saya menonton IYC. Saya menyantap makan siang saya saat itu sambil menahan sakit perut yang tak kunjung hilang. Ya sudahlah, saya paksakan saja meskipun memang agak sulit.

Setelah makan siang, saya dan Cathlin memilih sesi yang berbeda. Saya memilih topik Sejarah, sementara Cathlin memilih sesi Hukum. Topik Sejarah ini menghadirkan Ridwan Saidi, Asep Kambali, dan Fadli Zon. Semuanya tokoh sejarah hebat (hal ini saya yakini setelah kulik-kulik wikipedia). Pada intinya, di sesi ini saya merasa yakin bahwa setiap orang harus mengetahui sejarah. Sejarah apapun. Untuk apa? Agar kita dapat memperbaiki segala sesuatu yang salah, yang telah terlanjur terjadi di masa lalu. Jadi, saya setuju dengan ungkapan JAS MERAH yang katanya dilontarkan oleh Soekarno. JAS MERAH: Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!

Selesai sesi Sejarah, saya berkeliling-keliling bersama Cathlin, untuk melihat-lihat berbagai hasil karya Pop Art dari para muda-mudi. Ternyata, bagus-bagus banget loh itu pamerannya. KEREN!!!



Ikut sesi-sesi yang dipilih sudah, lihat-lihat Pop Art Exhibition juga sudah, selanjutnya saya dan Cathlin kembali ke aula karena masih ada sebuah surprise lagi. Yakni SURPRISE SESSION.

Tahukah kalian, siapa yang menjadi pembicara di Surprise Session tersebut?

Setelah beberapa lama menunggu-nunggu pembicara yang akan menginspirasi anak muda di sesi iini Ade Rai, ada Handry Satriago, dan ada Adhyaksa Dault. WOW! Mereka benar-benar menjadi penyemangat dan pemberi inspirasi bagi para muda-mudi yang masih di ranah mimpi ini.

Saya mendengarkan kisah inspiratif mereka dan petuah-petuah ajaib mereka. Saya dengar, saya resapi. Saya coba ingat, namun tak kuasa bertahan lama dalam memori. Namun tenang, perjalanan mereka meraih sukses dan cinta mereka akan Indonesia sudah cukup membuat saya terkagum-kagum. Sayang, sebelum saya usai mendengarkan mereka semua berkisah, perut saya makin menjadi-jadi. Sehingga, saya langsung keluar mengambil sertifikat dan ijin pulang pada Cathlin. Tadinya, Cathlin mau menyaksikan special performances dari The Aftermiles, White Shoes and The Couples Company, serta Maliq N d'Essentials, namun nggak tau juga apa alasannya, Cathlin akhirnya ikut pulang sama saya.

Finally, nggak ada yang nonton Special Performancesnya, padahal pasti kece-kece banget penampilannya. :''

IYC IYC IYC 2013, saya menyesal, kenapa saya baru tahu kamu di tahun 2013 ini. Bukan di tahun-tahun sebelumnya saja. Tapi tak apalah, saya senang bisa mampir melihat kamu, IYC 2013. Semoga apa yang saya dapatkan di IYC 2013 ini berguna buat saya dan para teman-teman peserta lainnya. Amin.



Terima Kasih Indonesian Youth Conference 2013!

Saturday, August 3, 2013

26 Juli 2013: White Shoes and The Couples Company. Goethe Institut.

Halo!

Lama tak menulis sepatah duapatah kata cerita di blog ini. Tapi, ide sebenarnya sudah ingin dituangkan sejak lama. 

Kali ini, saya ingin bercerita mengenai pengalaman saya menonton musik hari Jumat, 26 Juli 2013 lalu. 



Lagi-lagi, tak ada rencana. Tak ada informasi sebelumnya.

Bermula dari perbincangan dengan teman kerja sebuah proyek, ia memberitahu bahwa akan ada White Shoes and The Couples Company di Goethe Institut.

Dia mengajak saya untuk melakukan live report via account twitter dari proyek yang kita garap bersama. Saya menyetujui sekaligus menyanggupi.

Akhirnya, pukul 4 sore, saya dengan teman saya berangkat menuju Goethe Institut untuk mengambil tiket terlebih dahulu. Maklum, kapasitas hanya disediakan untuk 300 orang, meskipun tidak menutup kemungkinan untuk menerima lebih dari 300 penonton. 300 orang yang diberikan tiket ini dijamin mendapatkan bangku.

Setelah tiket aman di tangan, saya tinggal menunggu pukul 19.30. Menyaksikan WSATCC yang tak sempat saya saksikan di Indonesian Youth Conference 2013 kemarin karena sakit. 

19.30 tiba. Seorang teman lagi datang. Kami nonton bertiga. Berdua duduk di bangku yang tersedia di tribun, sedangkan yang satu mengambil foto dengan kamera andalannya.

WSATCC terlebih dahulu menampilkan foto-foto perjalanannya saat tur Eropa 2013 kemarin ke empat negara (23 Mei hingga 5 Juni - Helsinki (Finlandia), Stockholm (Swedia), Copenhagen (Denmark), dan Berlin (Jerman) ).

Setelahnya, penampilan WSATCC terbagi menjadi dua sesi. Di tengah-tengahnya, saat 9 lagu selesai dimainkan, mereka memutarkan video yang berisikan rekaman perjalanan dan konser mereka di benua Eropa tersebut.

WSATCC membawakan 20 lagu. Mulai dari Sangkuriang, Roman Ketiga, Windu Defrina sampai berbagai lagu daerah yang mengajak kita lebih kenal Indonesia. Penampilan Aprilia Apsari (Sari) terlihat begitu meluap-luap bahagia. Aksi panggungnya benar-benar bersemangat sehingga kepala sampai kaki saya tak sanggup menahan keinginan untuk menghentak.

Ricky Surya Virgana (RICKY) dan Saleh bin Husein (ALE) menampilkan aksi duo memainkan lagu Kapiten dan Gadis Desa. Menganga saya dibuatnya. Saya tak tahu selain 'keren', apa lagi itu namanya.

John Navid, Rio Farabi, dan Aprimela W yang merupakan personel lain WSATCC juga tak kalah ekspresif dan mengenyangkan kelaparan mata dan telinga saya. Benar-benar luar biasa.

Malam itu, jurnal perjalanan mereka ke Eropa yang terdiri atas 45 halaman penuh gambar dan cerita dirilis. Seturut pendengaran, jurnal tersebut hanya dicetak sebanyak 500 eksemplar. Beruntung, ketika itu teman saya membeli satu. Jadi, saya bisa ikut baca. Tulisannya bermakna dan penuh cerita.

Acara ini berlangsung selama 2 jam full, dari pukul 20.00 - 22.00. Niat saya yang ingin kembali ke Tangerang setelah menonton terpaksa surut, karena mau tidak mau saya harus kembali ke Depok. Namun, hati, pikiran saya kembali segar dengan rasa puas.

WSATCC bagi saya tak pernah setengah-setengah. Penampilan selalu enerjik dan menarik. Tak pernah menurun semangat panggung mereka di mata saya. Salut buat Sari, Ale, Ricky, Rio, John, dan Mela!







Sunday, July 21, 2013

2nd article on KoranSINDO ;)

Postingan terakhir untuk hari ini. Hehe. Udah beberapa hari nggak nulis blog, sekalinya nulis, bikin 3 tulisan yang kesannya curhat semua. Ya, semoga nggak pada bosen aja bacanya. (HARUS BANYAK YANG BACA, EUY!) Hehehe.

Kali ini, gue mau numpahin rasa seneng gue lagi, karena, tulisan kedua gue terbit di KoranSINDO, rubrik GenSINDO! Yeay :):):).

Isinya tentang ajakkan gue buat para muda mudi jaman sekarang, supaya mereka enggak memilih untuk GolPut di pemilu 2014 mendatang. Banyak banget orang-orang di sekitar gue yang terkesan acuh tak acuh dengan kehidupan politik gitu, nah makanya, atas keinginan sendiri dan atas usul koordinator GenSINDO, akhirnya, gue bikin deh tulisan tentang Politik bagi Kaum Muda. Tujuannya, ngajak muda-mudi biar nggak apatis dan apolitis.


Semoga, di pemilu 2014 nanti, kita nggak apolitis ya terhadap kehidupan politik bangsa Indonesia! Amin :)

PS: Buat teman-teman yang ingin menulis juga, ayo terus kirimkan tulisan kalian ke koran-koran (biasanya, kalo tulisan kalian seru, pasti dimuat!), atau daftar jadi volunteer GENSINDO juga boleh, hehe.
@GenSINDO
;)

FILM: PACIFIC RIM.

SINOPSIS

Sejumlah monster, dikenal sebagai Kaiju muncul dari dasar laut. Dimulainya perang yang merenggut jutaan nyawa dan merebut sumber daya yang ada. Untuk melawan raksasa tersebut, sebuah senjata khusus dipersiapkan: sejumlah robot dengan sebutan Jaegers yang dikendalikan oleh dua pilot. Namun Jaegers tak berdaya melawan Kaiju.

Di ambang kekalahan, pasukan manusia tidak memiliki pilihan selain mengambil alih melawan Kaiju. Seorang mantan pilot (Charlie Hunnam) dan pilot yang belum teruji (Rinko Kikuchi), keduanya adalah harapan terakhir manusia menyelamatkan bumi.


sumber: http://21cineplex.com


Film ini gue tonton minggu lalu, hari Selasa, tanggal 16 Juli 2013. Berawal dari keisengan belaka, karena tanpa rencana. Tapi, yasudahlah. Hehe.
Gue udah pernah liat trailer film ini sebelumnya, dan waktu itu gue tertarik. Mirip-mirip sedikit sih sama film Transformers gitu, tapi ternyata beda. Mungkin emang sama-sama robot-robotan juga, tapi jelas berbeda lah ya robotnya. ;) 

Ceritanya sendiri sedikit rumit dan agak sulit diterima oleh logika. Cuma, lagi-lagi, kan namanya film yah? Jadi, se-nggak masuk akal apapun ceritanya, tetep harus disadari kalau itu hanya fiktif belaka, dan harus bisa dinikmati. Hehe.
Selama film ini berlangsung, gue cuma mikir, kenapa ya itu raksasa dari bawah lautnya gede banget (ya iyalah, namanya aja udah raksasa, gimana sih ente?). 

Film ini bener-bener bikin geregetan. Gue kesel sama Kaiju yang nggak abis-abis keluar dari laut. Tapi, kekesalan gue terobati karena melihat tampang Charlie Hunnam (as Raleigh Becket) yang ganteng banget. Hehe. Dia jagoan banget soalnya di film ini. Terus, yang bikin menganga sih nggak lain dan nggak bukan adalah efeknya. Dan kepintaran film ini. Robot yang gede banget gitu, bisa dikendaliin hanya oleh dua manusia, yang berada cuma di kepala si robotnya. Terus, kedua pikiran pilot bisa disinergikan, sehingga bisa saling baca pikiran gitu. Enak juga sih ya, kalau di dunia nyata, orang yang satu dengan orang yang lain bisa tukeran pikiran gitu, bisa disatuin pikirannya. Haha.

Keseluruhan film ini gue bilang oke dan menarik banget. Menjelang akhir-akhir cerita, ada bagian yang bikin gue terharu banget. Soalnya ada jagoan lain, yang rela mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan orang lain. Untung nggak nangis sih, kalo nangis ya cengeng banget dong yakan yadong. Hehehe.

Naah, untuk pesan yang gue dapet dari film ini, ya mungkin hampir sama dengan beberapa film yang gue tonton sebelumnya. Menurut gue, film ini mengajak kita untuk sama-sama lebih sayang dan lebih peduli dengan planet ini. Nggak mau kan, ada makhluk-makhluk lain kayak Kaiju yang berusaha sekuat mungkin merebut planet ini dari kita? Untuk itu, sebelum planet kita direbut, kita harus bisa jaga. Gimana cara ngejaganya? Ya dengan banyak cara! Film ini mengajak kita juga untuk berani bertindak dan berani melindungi negara serta planet yang kita diami. Buat apa juga kalau sekedar duduk dan melihat kejadian-kejadian sekitar, tanpa berbuat 'sesuatu', iya enggak? Selain itu, film ini juga menunjukkan, betapa manusia bisa menciptakan sebuah ide yang brilian, meskipun sebenarnya sulit untuk diterima oleh akal sehat. Hihihi, manusia mah emang hebat kok ya?

Film ini sama sekali enggak mengecewakan, so, ya tonton aja. Kalau nggak sempet ke bioskop, ya cari cara lain buat nonton, #eh. Hehe.

Selamat menonton :)

selangkah ke seberang (ala gue).

Kalau kata White Shoes and The Couples Company itu,:

Selangkah ke seberang. Arah ciptaku kini.

Tapi, kalau kata gue,

Selangkah ke seberang, arah menulisku kini.

Wah, kenapa tuh?
Hehe, jadi begini gengs, gue mau berbagi kebahagiaan nih. Ya, kalau mau dibilang sombong dikit juga gue nggak mau ngelak deh, hehe.

Ceritanya, sebelum bulan Ramadhan kemarin, di linimasa twitter gue, munculah suatu info bahwa sedang diadakannya proyek menulis dari @nulisbuku. Proyek ini mengajak muda-mudi berbagai kalangan untuk menulis sebuah cerpen yang bertemakan 'Kejutan Sebelum Ramadhan'. Uniknya, proyek menulis ini dibagi ke dalam dua kategori. Pertama, ada kategori kolaborasi, dan kategori perseorangan. Kategori kolaborasi di sini maksudnya, kita akan mengerjakan sebuah cerpen bersama-sama dengan seorang atau lebih rekan lainnya. Nyari rekannya itu bisa milih sendiri, tapi bisa juga random, melalui promosi diri di twitter, nanti di retweet sama @nulisbuku, terus nanti kalau ada yang tertarik, kita ditweet deh sama orang itu. Boleh juga kan tuh idenya? Akhirnya, banyak juga loh yang berpartner dengan orang-orang yang emang belum mereka kenal sebelumnya.

Nah, tapi, berhubung gue memilih untuk menunjuk rekan sendiri, akhirnya gue ngajak temen gue waktu di PERSINK dulu, bernama Sisca Utami. Dia mau. Langsung deh, setelah itu kita komunikasi by email untuk tuker-tukeran ide, dan segera menggarap! Nah, karena ternyata @nulisbuku memperbolehkan satu nama untuk ikutan di dua kategori yang disediakan, akhirnya gue ikutan juga di kategori perseorangan. 

Kesulitan mengikuti proyek ini adalah, halaman dan kata yang dibatasi. Yakni maksimal 4 halaman A4 dengan paling banyak 1000 kata. Huft.
Gue akhirnya harus jeli-jeli mengatur dan memilih kata sehingga akhirnya cerpen gue yang perseorangan itu hanya menghabiskan 999 kata. Nyaris!

Periode lomba ini hanya dibuka dari tanggal 1-5 Juli 2013 lalu, jadi emang singkat banget. Pengumumannya diadakan tanggal 13 Juli 2013 a.k.a hari Sabtu minggu lalu di fX, Senayan.

Selama masa-masa menunggu pengumuman, gue sering tuh ngepoin twitter @nulisbuku, dan ternyata, udah banyak banget yang ikutan proyek ini. Mendekati angka 800 karya yang masuk! Busyeeet. Dari segitu banyak, hanya akan dipilih 17 karya terbaik dari masing-masing kategori. Tapi, selain itu, juga akan dipilih 200 karya yang akan turut dibukukan. Karya tersebut adalah karya-karya yang berhasil lolos seleksi juri. Gue emang mengkhayal-khayal gitu kan, mana tau aja, gue bisa masuk 17 besar. Hihi. Tapi, kalaupun nggak masuk, gue cuma berharap masuk lah di antara 200 karya yang akan dibukukan itu.

Pas pengumuman pemenang di fX, dodolnya gue malah lagi di salon sebelah panggung acara. Sambil rambut gue digunting dan diemek-emek sama tuh tukang salon, gue berusaha pasang kuping buat denger pengumumannya. Pas di kategori kolaborasi, karya gue sama Sisca nggak masuk. Pas di kategori perseorangan juga nggak masuk. Sedih, sih. Tapi, ini baru kali pertama gue ikutan lomba cerpen begini, jadi yaudah, sok atuh harus dicoba lagi dan lagi kan ya!

Nah, setelah selesai nyalon kemudian dilanjutkan dengan foto bareng para hadirin yang dateng ke awarding night itu, gue pulang dengan membawa dua buah buku dari @nulisbuku. Satu buku berisi 17 cerpen terbaik dari kategori kolaborasi, dan satu buku lagi, berisi 23 cerpen terbaik (akhirnya ada tambahan 6 karya terbaik) dari kategori perseorangan.

Malamnya, gue buka nulisbuku.com buat liat pengumuman 200 karya yang berhasil dibukukan. Daaaaan, jengjengjengjeng, nggak kebayang senengnya ketika kedua karya gue dari kedua kategori berhasil dibukukan! Yeay! Yang kategori perseorangan, terbit di buku #2 perseorangan, dengan judul cerpen Bintang Sebelas Malam. Yang kategori kolaborasi, terbit di buku #2 kolaborasi, dengan judul cerpen Keripik Pisang (with Sisca Utami).

Inilah yang gue sebut langkah gue maju ke seberang. Dulu, gue cuma bisa bermimpi buat menulis cerpen dan jadi penulis terkenal. Sekarang, gue menemukan titik cerah gue. Meskipun sedikit-sedikit, toh lama-lama mungkin (dan harus bisa) jadi bukit, kan?! Hehehe. Mudah-mudahan, dari 200, bisa masuk ke 100, ke 50, ke 10 terbaik. Intinya, yang harus dilakukan adalah terus menulis, tuangkan ide, dan berani kirimin karya yang udah kita bikin!

Karya gue sih kalo dibaca, bukan karya-karya serupa sastrawan sastrawati yang membahas isu-isu yang serius. Karya gue membahas hubungan percintaan. Drama. Cuma, gue yakin, setiap penulis, punya cara menulisnya masing-masing. Jadi, meskipun temanya (lagi-lagi) percintaan, dengan cara menulis yang khas, kita bisa kok, bikin cerita yang 'beda'! Dan yang paling penting lagi, gue yakin, gue belom boleh puas cuma dengan ini! Gue harus coba lomba-lomba yang lain, ataupun ya gue harus terus menulis! Buat kalian pun yang berkenan baca postingan gue kali ini, gue mau bilang, ayo kita terus menulis! Kalo emang kita suka nulis, jangan pernah takut gagal dan gampang nyerah. Gue bukan mau sok bijak, tapi gue selalu inget kata-kata nyokap gue. Dia orang yang selalu ngeyakinin gue, kalo gue bisa. Dan, gue cuma mau nularin semangat itu ke kalian. Kalo kalian suka nulis, kalian bisa nulis, kalian bisa menghasilkan karya yang akan dibaca orang lain. Itu yang selalu gue inget. Dan gue yakini.

So, mari menulis! :)
Btw, pesan dan beli yaaaaa buku #2 kolaborasi dan buku #2 perseorangan -- PROMOSI DIKIT BOLEH DONG, HEHE. Check this link. --> Daftar Lengkap Buku #ProyekMenulis ‘Kejutan Sebelum Ramadhan’ + Cara Pesannya.

Thank you for reading ;)

Wednesday, July 17, 2013

TORICO: Japanese Noodle & Rice. fX Sudirman.


Pernah coba makanan Jepang yang super duper murah di tempat yang sedikit 'berkelas'?
Bagi gue, fX salah satu yang lumayan berkelas, loh.

Nah, jadi ceritanya, Sabtu yang lalu, tanggal 13 Juli 2013, gue ada urusan di fX. Pertama, gue mau menghadiri pengumuman pemenang lomba #ProyekMenulis dari @nulisbuku (cerita lebih lanjut mungkin di postingan selanjutnya ya ;)). Selain itu, kedua, gue juga ada acara team building Marcomm RTC di sana.
Hemm.

Nah, karena gue laper, jam setengah 4 sore itu gue sama nyokap (doi lagi mau nemenin) nyari tempat makan, dan tergiurlah kita dengan Torico si Japanese food ini.

Pas masuk, duduk, dan melihat menu, harganya standard banget. Gue pikir kan mahaaaaaal banget gitu kan. Yaudah, mesen lah gue seporsi sushi bernama Torico Roll, dan memesan Salmon juga Dory Yaki.

Pas dateng, kita pikir, porsinya kecil-kecil. Ternyata, ngenyangin banget tuh 3 jenis makanan, dengan kata lain, porsinya nggaj pelit! Haha, gue sama nyokap sampe heran, ini restoran salah ngasih harga atau nggak? Tapi, dengan penuh syukur yaaa, gue lahap abis juga itu makanannya. Tentunya, bagi dua sama nyokap. Minumnya juga cenderung manusiawi, air mineral diberi harga 5000, beda sama tempat-tempat lain yang biasa melabel air mineral 330 ml dengan harga 7000 sampai 10000. Haha.


Restoran ini rekomen banget deh! ;)

Dory Yaki
Torico Roll - Salmon

Sunday, July 7, 2013

HELATEATER Salihara: Cinta Phaedra (Saturday Acting Club).

Sinopsis
Ini lakon tentang silang-sengkarut cinta dan kematian. Adalah Phaedra, Sang Ratu, yang menikah dengan Theseus, tapi ia tidak melihat suaminya sejak malam pernikahannya. Dia memiliki seorang putri, Stropi, dan dia memiliki anak tiri, Hipolitus, seorang biseksual. Dia jatuh cinta dengan Hipolitus, dan dia berhasrat secara seksual dengan anak tirinya itu, tapi Hipolitus menolaknya. Stropi berusaha supaya ibunya melupakan Hipolitus. Phaedra putus asa dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Akhirnya, dia bunuh diri dan meninggalkan catatan bahwa seolah-olah Hipolitus telah memperkosanya dan membunuhnya. Atas tuduhan itu, Hipolitus dipenjara. Lantaran kematian istrinya itu, Theseus akhirnya membunuh Hipolitus. Stropi berusaha mengatakan kebenaran bahwa kakak tirinya tidak bersalah, tapi Theseus juga membunuh Stropi. Ia dianggap telah membela pembunuh dan pemerkosa ibunya. Theseus melihat mayat-mayat itu bergeletakan di tanah. Ia menggorok tenggorokannya sendiri.

Pemain
Lita Pauh Indrajaya sebagai Phaedra
Jamal Abdul Nasir sebagai Hipolitus
Eka Nusa Pertiwi sebagai Stropi
Kedung Darma Romansha sebagai Dokter
Ucog Djunaedi Lubis sebagai Pendeta
Rukman Rosadi sebagai Theseus

Tim Produksi
Penyelia - Rukman Rosadi
Sutradara - Jamal Abdul Nasir
Penulis - Sarah Kane
Penerjemah - Yudi Aryani
Asisten Sutradara - Che Racerai
Pemimpin Produksi - Basundara Murba A.
Asisten - Muhammad Khan
Manajer Panggung - Fandicore
Penata Lampu - Pungkas Nugroho
Penata Musik - Bagus Masazupa
Penata Artistik - Dhani Brain & Pendi
Penata Kostum & Make Up - Intan Mond
Penata Rias - Dhani Brain
Dokumentasi - Satriaditya Laksono
Desainer Grafis - Amadeus Rembrandt & Robotjeruk Design Studio

Sepenggal opini
Rasanya belum lengkap, jika saya hanya pernah membaca Phèdre karya Jean Racine, tanpa pernah sekalipun melihat adaptasi ceritanya di panggung teater. Cerita yang terinspirasi dari Mitologi Yunani ini ditampilkan oleh Saturday Acting Club dengan begitu bertumpu pada dialognya. Apik.

Sayang, selama menonton pertunjukkan, saya harus berperang melawan rasa sakit yang bergejolak di bagian perut. Tak tahu juga apa sebabnya, yang pasti, mungkin karena saya sedikit kelelahan, ditambah lagi dengan angin-angin yang menumpuk di badan, sehingga kemungkinan besar, penyakit masuk angin sudi sekali mampir di raga. Hal ini membuat saya sedikit tidak dapat menikmati pertunjukkan. Dialog-dialognya banyak yang tertinggal oleh indera pendengaran saya. Penyesalan lalu hinggap belakangan. Sudahlah, mau diapakan lagi.

Untungnya, beberapa dialog yang tertangkap oleh telinga masih bisa otak saya olah dengan baik. Dialog-dialog jenaka yang dihadirkan oleh tokoh Hipolitus, menyiratkan ketakpeduliannya sebagai seorang anak raja, Theseus. Hobinya bermain seks. Tapi, ia sendiri mengaku bosan dengan hobinya tersebut. Ia mengaku bahwa ia melakukan segala sesuatu hanya untuk menghilangkan kebosanannya, tapi lama-lama segala sesuatu yang ia lakukan membuatnya bosan. 

Isu yang diangkat oleh cerita ini, jelas mengenai percintaan. Cinta terlarang antara ibu dan anak tirinya, permasalahan batin yang sulit untuk dielakkan mengingat Phaedra adalah istri seorang raja. Batin yang tersiksa inilah yang akhirnya menyebabkan Phaedra bunuh diri. Ia lebih baik mati daripada tersiksa oleh rasa cintanya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa cinta bisa sebegitu sakitnya hingga mampu membunuh seseorang. Isu lainnya terkait dengan kehidupan negara. Bagaimana sebuah keluarga terpandang harus menjaga nama baiknya di depan orang banyak, meskipun harus menjadi munafik sekaligus.

Selama pertunjukkan, saya berpikiran bahwa tata panggungnya begitu sederhana, seperti kurang persiapan. Tapi, ternyata, setelah berkesempatan mewawancarai sang sutradara, ia mengaku bahwa semuanya dibuat sederhana karena kekuatan cerita ada pada dialog dan karakter yang dibawa oleh para tokohnya. Oleh karena itu, hal tersebut rasanya wajar. 

Andai saja, sakit ini tidak menyiksa, mungkin saya akan lebih menikmati penampilannya. Tapi, yasudahlah. 

Selamat untuk Saturday Acting Club untuk pementasannya! :)

Friday, July 5, 2013

Masih ada TITIK TERANG.


Berikan kami Titik Terang
Bukakan kami jalan benderang
Kekasih hati genggam tanganku
Tataplah mataku menembus pusat jantungku



Titik Terang-Sidang Rakyat Dimulai.
Karya Ratna Sarumpaet - Satu Merah Panggung.
Rabu, 3 Juli 2013. 20.00. Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.



Entah apa yang membawa pikiran saya ingin sekali menonton pertunjukan ini.
Bermula dari kicauan Rio Dewanto di twitter beberapa waktu lalu yang menampilkan poster pementasan Titik Terang, saya langsung tertarik dan mencari teman yang juga ingin menonton. Setelah mendapatkan kawan yang akan menemani saya menyaksikan perhelatan ini, saya akhirnya tinggal menunggu tanggal.


Entah apa pula yang membawa saya pada suatu keberuntungan untuk hadir dalam jumpa Pers Titik Terang, Selasa, 25 Juni 2013 lalu. Rasanya, hasrat makin menggelora untuk menyaksikan pertunjukan yang akan digelar empat hari ini. Melalui jumpa Pers itu, saya mendapatkan gambaran mengenai apa isi cerita yang akan diceritakan. Ternyata, mengenai kehidupan suatu negeri yang begitu kaya akan hasil alam, namun rakyatnya masih mengalami kemiskinan. Ternyata, mengenai pemerintahan suatu negeri yang dirasa sudah carut marut, dan saatnya rakyat menampilkan kekuatannya untuk berontak.

Entah apa juga yang akhirnya membawa saya dan seorang teman sampai berhasil dan tak terhalang suatu apapun untuk menyaksikan TITIK TERANG pada hari pertama, Rabu 3 Juli 2013 kemarin. Sayangnya, karena kondisi saku yang harus disesuaikan, kami hanya dapat menyaksikan dari posisi kursi balkon. Namun tak apalah, toh penampilan selama kurang lebih dua jam itu masih bisa saya nikmati.

Titik Terang-Sidang Rakyat Dimulai adalah produksi pertama dari Satu Merah Panggung yang saya tonton. Sebelumnya ya, belum pernah.

Melalui Titik Terang ini, saya mulai mengagumi keberanian Umi Ratna dalam mengangkat dengan jujur dan apa adanya mengenai kondisi rakyat negeri tercinta. Kemiskinan, keterpurukan rakyat, korupsi, bahkan pelanggaran HAM yang menimpa para perempuan, TKI, dsb. Mengenai manipulasi politik, kebungkaman penguasa, dan berbagai kecurangan lainnya yang merugikan bangsa.

Saya merinding saat melihat tokoh Arma, putri seorang koruptor yang bahkan tak tahu kalau ayahnya koruptor. Saya termangu melihat keberanian tokoh Eddy yang membuat suatu pengakuan mengenai negaranya tercinta (yang kita tahu negara apakah itu). Saya melempar tawa saat melihat tokoh Ria, sang lonte yang cerdas menghadirkan kesaksiannya yang sarat akan isu. Saya tak berkedip menyaksikan jaksa muda pembela rakyat yang dihadirkan dalam sosok Arman, terlepas dari Rio Dewanto yang memerankannya. Saya terpukau melihat sesosok nenek tua yang yakin bahwa masih ada Titik Terang untuk negara ini.

Miris memang, ketika seseorang sadar bahwa satu-satunya jalan keluar mengakhiri penderitaan hanyalah kematian tanpa perlawanan. Sedangkan, pilihan untuk memperjuangkan hidup hanya membuat penderitaan semakin menyengsarakan. Lalu, apa yang harus dilakukan mereka yang tertekan bahkan tertindas? Ratna menjawabnya dengan sidang rakyat. Ya, bahwa kekuatan rakyat yang berdaulat dan kemudian bersatu melawan adalah kekuatan yang patut diwaspadai oleh mereka yang menganggap dirinya paling memegang kuasa.

"Berhati-hatilah pada amarah rakyat, karena ketika semua rakyat bersuara dan bertindak, habislah." adalah serangkaian kalimat yang dihasilkan oleh pikiran saya setelah menyaksikan pertunjukan ini.

Artistik yang apik, suara nyanyian anak-anak kecil yang begitu merdu, serta lagu yang mengiringi Titik Terang hanyalah bonus saja untuk saya sebagai penikmat. Namun, keberuntungan utama yang saya dapatkan terletak pada kesadaran yang kemudian muncul, serta mata yang mau membuka menyaksikan kondisi sebenarnya negeri ini. Kondisi-kondisi yang disalurkan Umi Ratna lewat dialog-dialog lugas para tokoh yang rasanya pasti membuat penonton menganga dan menganggukan kepala tanda setuju.

Akhir kata, saya, sebagai penonton yang menikmati karya Satu Merah Panggung 3 Juli kemarin, hanya ingin menyampaikan selamat. Selamat pada mereka semua yang bersama-sama, telah berhasil mencipta Sidang Rakyat ini. Selamat, selamat!