Tuesday, April 28, 2015

Olga Elisa - Do Something Indonesia [YPASM TALKSHOW]

Bersama @felixpradipta, @joshuasudihman, dan @aprishiallita, Olga Elisa atau @elisaolga yang bertubuh mungil ini juga hadir sebagai pembicara di sesi pertama. Jujur, ketika pertama kali melihat Olga Elisa yang mondar-mandir mempersiapkan Young People And Social Media talkshow di Conclave kemarin (she's from @dosomething_id and this event was supported by them), yang saya pikirkan adalah: "Kok kelihatannya jutek, ya?". Ternyata, di balik wajahnya yang menurut saya kelihatan jutek itu (maaf ya, mba, hehe), sudah ada sejumlah langkah perubahan yang ia cetuskan sebagai bagian kaum muda. Ia berkecimpung di Do Something Indonesia, salah satu gerakan perubahan global yang juga disuarakan di Indonesia. FYI, negara kita adalah satu-satunya negara di Asia yang menggaungkan gerakan ini, lho!

Olga Elisa dan Do Something Indonesia, melalui website dan media sosial Instagram berusaha untuk memberikan aura-aura positif bagi kaum muda. Mereka mencoba mengajak anak-anak muda yang berusia maksimal 24 tahun untuk mulai peduli dengan apa yang terjadi di sekeliling, mulai melakukan sesuatu yang berguna, dan pastinya bisa menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik.

Do Something Indonesia memiliki tiga hal yang esensial dan potensial.

Pertama, yakni hal SOSIAL. Pada masa sekarang, isu sosial telah mengambil posisi penting dalam masyarakat. Secara perlahan, mulai banyak bermunculan orang-orang, terutama dari kaum muda, yang mulai memperlihatkan kepeduliannya pada permasalahan sosial. Sayangnya, kebanyakan dari mereka belum memiliki ide atau petunjuk tentang bagaimana menciptakan perubahan itu sendiri dan bagaimana bisa mengajak massa yang banyak. Di sinilah, peran Do Something Indonesia. Menciptakan perubahan, sekaligus mengajak kaum muda tadi menjadi agen-agen perubahan.

Kedua, YOUTH. Jiwa dan semangat muda dari kaum muda di jaman sekarang tak bisa diremehkan. Populasi terbesar di dunia diisi oleh kaum muda. Oleh karena itu, Do Something Indonesia, dengan target yang juga adalah kaum muda, berusaha untuk menggerakkan kekuatan kaum muda maha dahsyat ini demi menciptakan perubahan positif.

Ketiga, DIGITAL. Tidak bisa disangkal atau dipungkiri, dunia ini, termasuk Indonesia di dalamnya, secara mantap melangkahkan kaki masuk ke dalam era digital. Semua dilakukan dengan menggunakan sarana digital (digital tools/digital activation). Ini jelas lebih mudah dan mampu menjangkau target dengan lebih luas. Hal esensial yang terakhir ini kemudian juga terkandung dalam tagline Do Something Indonesia: Aksi sosial apapun, kapanpun, di manapun.

Perubahan positif dapat berdampak besar jika dimulai dari hal yang kecil. Oleh karena itu, Olga Elisa sebagai orang dibalik Do Something Indonesia mencoba mempengaruhi kaum muda untuk mau memulai aksinya dari hal-hal kecil, kapanpun dan di manapun. Bagaimana caranya? Nah, di sinilah media sosial berperan. Kekuatan media sosial yang bisa menjamah siapapun dari sudut Indonesia manapun dimanfaatkan secara tepat oleh Do Something Indonesia. Percaya atau tidak, they really do make global impact! Positively!

Wow! Sampai di sini saya sendiripun masih takjub dengan cara orang-orang ini, salah satunya @elisaolga, memanfaatkan media sosial untuk sesuatu yang lebih penting dari sekadar eksis dan gaul. What have I done with all of my social media accounts? *talktomyself*.

Perubahan Positif. Jika dari tadi saya membahas perubahan positif yang dicetuskan Do Something Indonesia tanpa pernah menyebutkan bentuk perubahan itu sendiri, maka sekarang, giliran contoh-contoh perubahan itu yang akan saya tuliskan.

Penggunaan HASHTAG di Instagram

Do Something Indonesia mengajak kaum muda untuk mendukung dan mengapresiasi kaum muda lainnya di Instagram dengan menggunakan hashtag #temankuhebat. Hashtag ini bukan tanpa tujuan. #temankuhebat memiliki misi untuk meningkatkan self esteem dari setiap individu muda, setelah menimbang dan melihat kasus-kasus anak muda yang sering mengalami depresi dari hari ke hari karena tidak percaya diri.

#temankuhebat muncul untuk perlahan mengatasi krisis anak muda tersebut. #temankuhebat merupakan satu langkah kecil di Instagram yang mengutamakan prinsip apresiasi kepada teman sendiri. Dengan menggunakan hashtag tersebut, secara tidak langsung kita ikut membantu meningkatkan self esteem anak muda yang jumlahnya super banyak di luar sana. Saya percaya, langkah kecil campaign #temankuhebat ini akan memiliki dampak yang luas. Sederhana, bukan?

Selain #temankuhebat, Do Something Indonesia juga membuat hashtag #coolwithoutsmoking. Dari artinya saja kita sudah tahu bahwa campaign yang satu ini memiliki kaitan yang erat dengan rokok. #coolwithoutsmoking mengajak kaum muda untuk menyadari bahaya merokok dan tanpa merokok pun, kaum muda bisa jadi cool dan berpengaruh!

AMBASSADOR DAN SPECIAL AGENT

Agar dampak yang dihasilkan oleh hashtag-hashtag sakti tersebut dapat lebih meluas lagi, Do Something Indonesia menggunakan perpanjangan tangan yang dinamakan Ambassador Do Something Indonesia. Mereka terdiri atas anak-anak muda yang sudah melakukan aksi positif untuk perubahan. Dengan pengaruh yang para ambassador tersebut miliki, niscaya pesan yang ingin disampaikan Do Something Indonesia bisa tersebar lebih luas lagi.

Selain Ambassador, Do Something Indonesia juga memiliki Special Agent. Mereka-mereka ini berasal dari anak-anak muda yang memiliki ide-ide campaign kreatif dan tentunya...POSITIF. Mereka bertugas mencari tahu isu untuk campaign apa yang sedang IN, dan mereka juga bisa memberikan idenya untuk direalisasikan. Mereka-mereka sang Special Agent ini juga harus bisa menjelaskan bentuk campaign-nya seperti apa dan manfaatnya apa.

(Lagi) MENGAPA MEDIA SOSIAL? MENGAPA INSTAGRAM?

Media sosial digunakan karena berkaitan dengan salah satu hal esensial tadi juga, DIGITAL. Sebenarnya, Olga Elisa menjelaskan bahwa Do Something Indonesia memiliki beberapa platform untuk menyuarakan aksinya. Namun, yang paling secara visual membuktikan bahwa sebuah aksi sudah dilaksanakan (everything needs proof right?) adalah (jelas) Instagram. Selain itu, seakan virus yang mudah membelah diri, Instagram adalah salah satu media yang cepat untuk viral. That's why, they work on it. 
Olga Elisa, dengan Do Something Indonesia telah merealisasikan sebuah alat dan kendaraan untuk melakukan AKSI SOSIAL. Tinggal kita yang memutuskan, mau tetap diam atau mulai ikut memberikan aksi kecil kita.
Olga Elisa said...
Start something positive with social media. Aksi atau gerakan perubahan apapun harus dilakukan dengan YAKIN dan penuh konsistensi.
Knowing your target is a must as well.
___________________________________



Felix Pradipta & Joshua Sudihman - KANEKIN [YPASM TALKSHOW]

Sama seperti @aprishiallita, DUO Felix Pradipta dan Joshua Sudihman juga mengisi acara Young People And Social Media di sesi pertama, bersama dengan @elisaolga. Mereka berdua, bagi saya adalah cowok-cowok keren dengan ide-ide kreatif, out of the box, yang totally membawa dampak positif. Apa yang telah mereka buat dan hasilkan (baca: KANEKIN) saya kira benar-benar berguna bagi kemaslahatan orang banyak, terutama orang-orang yang bergelut di industri lokal (pencipta dan penggiat brand lokal). 


Kiri ke kanan: Moderator (Yani), Joshua, Felix 
So, what is KANEKIN?

Berdasarkan informasi yang saya kumpulkan selama duo ini cuap-cuap di depan, KANEKIN ini sebenarnya merupakan Graphic House dan sering menangani urusan-urusan tentang brand. Kemudian, seiring berjalannya waktu, mereka berinisiatif meluncurkan Kanekin Magazine, sebuah majalah yang mengulas tentang brand lokal. Inisiatif ini tentu tidak muncul begitu saja, melainkan punya 'sebab' di baliknya. Joshua mengaku bahwa ia dan Felix memiliki keprihatinan terhadap pengusaha-pengusaha brand lokal yang usahanya naik turun hanya karena kurangnya support terhadap brand lokal. Kebanyakan orang-orang Indonesia sendiri, justru banyak yang nggak percaya diri kalau menggunakan barang-barang dari brand lokal, padahal kalau hal seperti ini dibiarkan, maka roda usaha ini pasti akan terus meredup. Untuk itu, Kanekin Magazine, dengan konsep desain yang minimalis dan eksklusif (nggak kalah sama majalah-majalah mahal keluaran luar negeri) berusaha menjadi satu wadah atau media untuk mengenalkan serta mempromosikan brand dalam negeri yang sebenarnya juga sangat berkualitas bahkan layak untuk bersaing dengan brand dari luar. Kanekin Magazine diciptakan untuk memuat artikel-artikel yang menarik dan mengulas tentang cerita dibalik perjalanan sebuah brand atau entrepreneurship di Indonesia, termasuk bagaimana awalnya brand itu berkembang. Artikelnya dikemas dalam bentuk cerita (story).

Sebegitu menarik konsep dari Kanekin Magazine ini, Joshua dan Felix sampai berhasil mendapatkan satu tawaran yang tidak diduga-duga. Joshua mengibaratkannya seperti menang lotre. Ceritanya, ketika edisi pertama dari Kanekin Magazine ini terbit dan mulai dipromosikan lewat media sosial Instagram, Joshua dan Felix menerima sebuah email masuk yang dikirim oleh seorang ahli IT dari Amerika. Orang tersebut menyatakan ketertarikan dan kesukaannya pada value dan visual yang dibawa oleh Kanekin Magazine. Orang ini pun menawarkan jasanya untuk membuatkan website bagi Kanekin Magazine. Dengan segala kerumitan website yang diajukan oleh Joshua dan Felix, orang ini tetap menyatakan sanggup. Lah, analogi lotrenya di mana? Di sini: website tersebut akan dibuatkan secara GRATIS, padahal nilai pembuatannya sendiri mencapai 100 juta. WOW!

Sampai saat tulisan ini dibuat, website Kanekin Magazine masih dalam proses pembuatan. Nantinya, website ini akan dibuat sedikit berbeda dengan Kanekin Magazine versi cetak. Jika Kanekin Magazine versi cetak ditulis dalam bahasa Indonesia, maka website Kanekin Magazine akan dikembangkan dalam bahasa Inggris. Kemudian, versi cetak Kanekin dengan tagline Indonesian Brand Story itu akan terus memuat ulasan dan cerita dibalik brand lokal berkualitas di Indonesia, sementara versi web-nya akan mulai mengulas juga tentang brand luar (well, strategy) dengan komposisi konten 60%-40% untuk brand lokal. Ah ya, satu perbedaan lagi! Kanekin versi website nantinya juga akan lebih tuntas mengulas profil orang-orang yang ada di balik sebuah brand itu sendiri, sedangkan versi cetaknya akan membahas bagaimana brand itu sendiri dapat berkembang.

Dalam satu bagian Tanya-Jawab, Joshua sempat mengajak semua orang yang memiliki BRAND LOKAL (fashion, restaurant, hashtag, dll) untuk submit profil ke Kanekin Magazine agar dimuat *lumayan, lho!*. Syarat brand yang ceritanya akan dimuat di Kanekin juga tidak terlalu sulit, yakni sebagai berikut:

- brand betul-betul asli buatan sendiri,
- kreativitas tampak secara nyata (harus ada kreativitas-nya!), dan
- berasal dari ide sendiri.

Biaya? Nggak perlu memikirkan biaya karena Kanekin Magazine akan memuat profil brand lokal terpilih secara cuma-cuma alias tidak perlu bayar alias gratis! Nah, kelihatan kan bagaimana Felix, Joshua, dan Kanekin-nya betul-betul ingin mendukung perkembangan brand lokal? It's truly positive

Selanjutnya, pertanyaan yang wajib dan harus ditanyakan:

MENGAPA LEWAT MEDIA SOSIAL? Dan MENGAPA INSTAGRAM?

Joshua dan Felix, lewat Kanekin, lebih memilih Instagram karena basic mereka berdua yang sama-sama dari jurusan desain visual. Untuk itu, bagi mereka berdua, platform yang lebih mewakili kebutuhan visual adalah Instagram. Selain itu, pertumbuhan komunitas (community) di Instagram juga tergolong cepat. Ini akan jadi salah satu hal menarik jika dikaitkan dengan ilmu strategi. Bukan begitu? Nah, satu lagi alasan yang nggak ketinggalan adalah bahwa Instagram betul-betul sedang happening di masa sekarang ini.  

Dengan menggunakan media Instagram sebagai alat untuk menyuarakan aksinya, Joshua dan Felix juga pernah mengalami minimnya dukungan pada awal Kanekin terbentuk. Namun, secara perlahan tapi pasti, dengan nilai kreatif yang ditunjukkan, serta dengan konsistensi yang Kanekin bangun, banyak juga orang-orang yang mulai mengenal bahkan ingin tahu dan ingin membaca langsung Kanekin magazine.

Kejadian minim dukungan ini juga ternyata tidak hanya dirasakan oleh Kanekin, melainkan dirasakan pula oleh Felix secara pribadi. Felix adalah seorang yang mencetuskan ide untuk menggunakan hashtag #whiteaddict di Instagram. Alasannya sederhana, Felix sangat menyukai foto dan sering mengambil foto yang didominasi oleh warna putih. Kemudian, setelah memiliki ide ini, Felix sering meminta teman-temannya untuk ikut menggunakan hashtag #whiteaddict di Instagram dan responnya beragam. Ada yang dengan senang hati mendukung, namun ada pula yang merasa #whiteaddict itu nggak perlu. Lalu apa yang dilakukan Felix? Ia tetap konsisten mengunggah foto-foto #whiteaddict-nya ke Instagram dan sampai saat ini, foto-foto yang menggunakan hashtag #whiteaddict sudah mencapai 70ribu lebih. Bukan dari Felix seorang, melainkan juga dari banyaknya pengguna Instagram lain yang tertarik. Cool!

Kembali lagi ke Kanekin Magazine, ketika ditanya mengenai profit, duo ini mengaku bahwa mereka nggak mengambil untung sama sekali. Tujuan mereka memang terletak pada value atau nilai yang ada dalam diri Kanekin Magazine dan ingin ditonjolkan.

Sependengaran saya, Kanekin Magazine ini dibanderol dengan harga yang tidak bisa dibilang murah. Satu eksemplarnya bisa diperoleh dengan harga 155ribu rupiah namun begitu, kedua edisi Kanekin Magazine tetap habis terjual. Bahkan orang-orang yang tertarik ingin membaca Kanekin, jumlahnya lebih banyak dari jumlah eksemplar Kanekin Magazine yang dicetak. @elisaolga, sebagai salah satu orang yang membeli Kanekin Magazine ini mencoba mengemukakan alasan atas ketertarikannya pada Kanekin. She said...
Kanekin Magazine ini menarik, hanya digagas oleh dua orang, tanpa dikerjakan oleh tim besar seperti tim majalah di luar negeri namun bisa menghasilkan karya yang berkualitas bagus. Foto-fotonya bagus dan bahan majalahnya sendiri pun bagus. 
Ternyata benar ya, kualitas dan nilai yang dibawa oleh suatu produklah yang paling penting dan dipertimbangkan oleh orang-orang. We see that Kanekin already proved it!


Dalam satu tahun perjalanannya, Kanekin telah menghasilkan dua majalah yang berbobot dan membuktikan dukungannya terhadap brand lokal. Tak hanya suka, duka Felix dan Joshua pun ada. Mereka harus menerima kenyataan bahwa mereka harus mengerjakan semuanya sendiri dan beberapa kali sampai pagi. Walaupun demikian, ketika hasilnya sudah jadi dan membawa manfaat bagi orang lain, pasti rasanya bangga banget ya jadi mereka berdua?
Mereka sudah berani dukung produksi dan karya dari negeri sendiri dengan KANEKIN, lalu kamu (dan saya) berani dukung hal positif apa?
JOSHUA AND FELIX SAID...

Kalau mau membuat dan melakukan sesuatu di media sosial, just keep on posting. Jangan lupa juga untuk cari sekutu sebanyak-banyaknya. Semua bermula dari massa yang kecil, kelompok yang kecil. Minta tolong semua kontak yang ada untuk turut membantu dan percayalah semua akan meluas. That's how networking works. Dan tetap KONSISTEN.
__________________________


Instagram KANEKIN: @kanekin_

Website: on progress

Aprishi Allita - Anti Bullying Movement [YPASM TALKSHOW]

Wanita berparas ayu dan kelihatan jenius ini berkesempatan untuk membagikan ceritanya di sesi pertama acara Young People And Social Media bersama dengan @felixpradipta, @joshuasudihna, dan @elisaolga. Bagi saya, aura seorang Aprishi seakan terpancar keluar dan... POSITIF. Keprihatinan yang ia suarakan pun bukan perkara mudah atau sederhana. Aprishi menaruh perhatian penuhnya pada isu BULLY. Dengan segala yang telah (dan masih) ia lakukan di perjalanan hidupnya, juga dengan semua kisah yang ia bagikan di acara ini, Aprishi mampu menunjukkan bahwa anak muda, mampu berguna. Anak muda mampu menciptakan perubahan. Dan anak muda, mampu menyelamatkan anak-anak muda lainnya yang terkena kasus tak mudah: BULLY

APRISHI (kanan) bersama dengan Moderator (Yani L)
Aprishi atau yang biasa dipanggil Pishy merupakan lulusan jurusan Kesejahteraan Sosial, FISIP Universitas Indonesia. Pada tahun 2009, setelah lulus dari studinya, Pishy pernah bekerja sosial di panti asuhan. Di sana, ia menemukan banyak anak-anak sekolah di bangku SMP dan SMA yang sulit disuruh pergi bersekolah. Selidik punya selidik, ternyata anak-anak itu tidak ingin bersekolah bukan karena rasa malas. Mereka merasa minder karena mereka adalah anak panti, sementara sekolah mereka adalah sekolah umum. Mereka suka dibully oleh siswa-siswa yang lain. Pembullyan inilah yang akhirnya membuat anak-anak SMP-SMA itu malas pergi ke sekolah dan malah lebih memilih bermain di panti.

Dari sana, Pishy mulai berpikir bahwa harus ada sebuah pihak yang peduli dengan anak-anak korban bully tersebut. Tak hanya peduli, tetapi juga ikut mendukung dan memberikan semangat bagi korban-korban bully supaya berani menghadapi bully. Pikiran tersebut lantas tak hanya diam di kepala Pishy, melainkan justru membuat Pishy melakukan suatu langkah dan tindakan nyata. Dari sana, muncullah gerakan ANTI-BULLYING dengan Pishy sebagai pencetusnya. Sejak 2009, Pishy mulai meletakkan perhatian lebih dalam isu ini. Ia melakukan penelitian, penyuluhan ke sekolah-sekolah, bahkan pendekatan personal dengan korban-korban bully. Beberapa kali juga Pishy pernah menjadi pembicara di berbagai acara.

Tidak berhenti di situ, Pishy juga menyuarakan perhatiannya ke dalam sebuah buku berjudul Cool In School yang diterbitkan pada tahun 2013. Pishy menulisnya dengan tutur bahasa yang lebih fun dan mudah dimengerti. Menurutnya, buku-buku yang mengangkat isu soal bully selama ini memiliki bahasa dan gaya penulisan yang kaku, sehingga sulit untuk dimengerti. Maka dari itu, Cool In School dihadirkan oleh Pishy dengan gaya yang berbeda.

Source: aprishiallita.com
Menyusul hal tersebut, Pishy juga mengajak beberapa orang untuk mendukung kampanye Say No To Bullying dengan membuat dan mengunggah video bertajuk #CISDance. #CISDance ini adalah gerakan dance gokil yang diciptakan khusus untuk mendukung dan menyebarkan pesan anti-bullying. Beberapa artis yang turut mendukung kampanye ini DAN sudah mengupload videonya adalah Vidi Aldiano dan Soulvibe. Beberapa #CISDance bisa kalian tengok di sini (hasil kepo-kepo, hehe):


Pishy masih terus aktif mengkampanyekan gerakan anti-bullying hingga saat ini. Melalui blog yang dibuatnya sendiri, Pishy bersedia menampung cerita-cerita atau curhatan dari mereka-mereka yang terkait kasus bully. Ada dua cara yang Pishy tawarkan, pertama yakni melalui Kotak Sharing dan kedua, melalui Cerita Kamu. Kalau di Kotak Sharing, orang yang curhat akan secara terbuka menunjukkan identitas aslinya, maka di Cerita Kamu, orang-orang yang ingin curhat ke Pishy dapat mengirimkan ceritanya lewat email terlebih dahulu, baru setelah itu Pishy akan mempublikasikan cerita itu secara anonim, berikut dengan solusi yang sudah diberikan oleh Pishy. Setelah saya kunjungi laman blog Pishy, ternyata selain korban bully itu sendiri, ada juga pelaku pembullyan yang ikut curhat dan meminta saran pada Pishy.  Jadi, nggak hanya korban yang curhat, pelakunya juga! Hehe.

Ketika di acara kemarin, Pishy diminta untuk memberikan contoh kasus-kasus pembullyan. Ada beberapa hal yang seperti terlihat sepele, namun ternyata bisa digolongkan ke dalam kasus bully-membully juga. Misalnya, masalah yang biasanya menimpa kaum cewek itu adalah pembullyan karena rebutan cowok. Kemudian, berbeda dengan cewek, kasus bully yang kerap ditemukan di kaum cowok adalah yang berkaitan dengan fisik serta tawuran. Contoh kasus bully lainnya yang secara umum sering terjadi adalah kasus geng-gengan dan atau senioritas.

Pertanyaan yang paling penting di sini adalah, KENAPA PISHY MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL? Ia pun menjawabnya sederhana. Dulu, selama satu tahun ia 'bergerak', ruangnya sangat terbatas. Ia harus melakukan penyuluhan, penelitian, dan pendekatan ke korban serta orangtua korban secara bersamaan. Korban yang bisa ia tangani secara intensif akhirnya ikut-ikutan terbatas, hanya tiga korban dalam satu tahun. Untuk itu, Pishy berpendapat bahwa tidak mungkin ia mengujungi satu per satu korbannya secara terus menerus. It takes time. Akhirnya, media sosial-lah jawabannya. Dengan aktif di Twitter dan Instagram, Pishy bisa menyuarakan perhatian dan kampanye yang sedang ia lakukan. Pishy bisa menghimpun dukungan yang banyak. Dan dengan BLOG andalannya, Pishy bisa membantu semua orang, dari mana pun. 

Ada suka, ada duka. Gerakan yang merupakan inisiatif Pishy ini pun pernah memiliki cerita kurang mengenakkan. Pishy pernah ditelfon oleh anak yang sudah terlanjur depresi dan mengaku ingin bunuh diri. Terus-menerus ingin bunuh diri. Kalau sudah begini dan tidak bisa ditangani oleh Pishy lagi, maka korban bully dengan kasus semacam ini akan dialihkan ke psikolog.
PISHY sudah selangkah menuju perubahan dengan gerakan SAY NO TO BULLYING-nya. Bagaimana dengan kamu (dan saya)?
PISHY SAID...
Kalau memang mau 'bergerak' atau menciptakan sebuah gerakan, pikirkan niat bikin gerakan itu apa? Tujuannya harus jelas dan jangan patah semangat!
Also, make your brand INTERESTING. Dan sesuaikan dengan anak-anak muda.
__________________________ 


Tuesday, April 21, 2015

Filosofi Kopi The Movie: 'Menikmati' Rio Dewanto dan Chicco Jerikho.

Kopi! Ah, saya suka mendengar kata itu. Saya juga suka menyesapnya beberapa kali dengan hikmat secara nikmat. Tapi sayang, perut saya seringkali bergejolak menolak ketika saya sudah mulai meminumnya terlalu banyak. Ah, namun bukan itu yang ingin saya bahas di tulisan ini. Lebih dari secangkir kopi atau sebungkus besar biji kopi, saya ingin membahas tentang karya sastra hasil imajinasi cerdas Dewi Lestari yang diadaptasi ke layar lebar berjudul Filosofi Kopi.

Bagi kalian yang sudah menyaksikan filmnya di bioskop, saya bisa jamin akan sangat sedikit dari kalian yang tidak memujinya bagus (meskipun saya masih yakin semuanya akan sepakat mengatakan jika filmnya sangat bagus).

Bagi kalian yang belum menyaksikan filmnya di bioskop, saya dengan senang hati memaksa kalian secara halus untuk segera menuju bioskop terdekat dan terhemat untuk bisa menyaksikan film ini (kalau film sudah tidak ada di peredaran, kalian bisa tunggu DVDnya rilis! —atau download, hehe…—). Kalaupun kalian tidak berminat setelah membaca sinopsisnya, kalian pasti akan tetap terhibur dengan wajah tampan Rio Dewanto feat Chicco Jerikho ATAU wajah cantik khas Prancis Julie Estelle. Hmm.

Bagi kalian yang sudah membaca cerita Filosofi Kopi di kumpulan cerpen berjudul sama, tetapi belum menyaksikan filmnya di bioskop, saya dengan rendah hati mengingatkan kalian bahwa jalan cerita Ben dan Jody akan cukup berbeda antara buku dan film. Percayalah. Akan banyak penyesuaian-penyesuaian dan penambahan peran baru yang berbeda dengan yang sempat kita temukan di dalam halaman-halaman pertama buku Dee berjudul Filosofi Kopi. Namun, penyesuaian-penyesuaian itu sejatinya mampu menjadi bumbu improvisasi yang menyenangkan sehingga tetap saja, kalian harus menonton Filosofi Kopi The Movie!

http://www.filosofikopimovie.com/
SINOPSIS

Ben dan Jody, sepasang sahabat yang tumbuh besar bersama sedari kecil memutuskan untuk berduet membuka usaha kedai kopi bernama kedai Filosofi Kopi. Ben sebagai peracik kopi handal dan Jody sebagai penghitung keuangan merangkap penyedia kapital. Persahabatan mereka tak lantas membuahkan kekompakan. Perdebatan demi perdebatan datang setiap harinya, berkutat di persoalan obsesi meracik kopi sempurna, ada atau tidaknya layanan WiFi, serta persoalan keuangan yang semakin kritis menipis.

Di saat-saat genting, datang sebuah tawaran —lebih tepatnya tantangan— dari seorang pengusaha kaya untuk seorang Ben. Barista ini diminta untuk meracik kopi terenak senusantara bahkan sedunia yang akan disajikan pada investor incaran sang pengusaha kaya. Nominal taruhannya tentu tidak sedikit. Dalam waktu yang relatif singkat dan sangat terbatas, Ben terus giat melakukan sejumlah penelitian dan eksperimen secara berkepanjangan. Akhirnya, Ben berhasil menciptakan Ben’s Perfecto, sebuah racikan kopi yang diduga “sempurna”.

Di masa keemasan Ben’s Perfecto —saat itu Ben’s Perfecto belum diujikan pada pengusaha kaya plus investor terkait—, datang seorang wanita penikmat kopi bernama Elle yang tanpa sengaja membawa kabar keberadaan kopi Tiwus pada Ben dan Jody. Konon menurut kesaksian Elle, seorang Q-Grader yang bersertifikasi internasional, Ben’s Perfecto masih belum mampu mengalahkan kenikmatan kopi Tiwus yang ditemukan di sebuah sudut Pulau Jawa. Ben’s Perfecto belum mampu membuktikan dirinya sebagai yang paling ‘sempurna’.

Kehadiran kopi Tiwus ternyata tak sekadar berpengaruh pada mood Ben yang hampir menghilangkan obsesinya pada kopi, akan tetapi kopi Tiwus juga membawa perubahan dalam perjalanan hidup Ben, Jody, dan Elle.

KESANKU PADAMU, FILOSOFI KOPI THE MOVIE

Ada banyak hal yang disajikan dalam film Filosofi Kopi. Berbeda dengan cerita pendeknya yang secara singkat membawa makna “hidup tak ada yang sempurna”, Filosofi Kopi The Movie selain bercerita tentang kopi juga mampu menyeruakkan aroma kecintaan pada alam, kerenggangan hubungan ayah-anak, dan yang paling kental, persahabatan. Film ini sanggup membangunkan sisi kemanusiaan yang mungkin lama tertidur, sadar atau tidak sadar, dalam setiap individu. Film ini mampu “menghidupkan” apa yang terkesan kaku di dalam cerita pendek dalam buku. Entah tangan sutradara atau penulis skenario yang harus diacungi jempol, saya masih merasa terkagum-kagum akan cara pengemasan film ini yang betul-betul (lebih dari) menarik.

Kopi sebagai bagian dari alam, tentu dihasilkan dari tanaman yang ditakdirkan membuahkan biji kopi. Begitupun halnya dengan kopi Tiwus yang juga dilahirkan dari tanaman kopi di perkebunan kopi milik Pak Seno (Slamet Rahardjo). Ya, Pak Seno adalah orang yang dengan sangat tekun dan penuh kasih sayang, terus merawat tanaman kopinya hingga membuahkan biji-biji kopi yang penuh citarasa. Meskipun hanya disajikan dengan cangkir seadanya, serta hanya mampu dinikmati di dalam sebuah kedai kopi berdinding anyaman bambu, nyatanya kopi Tiwus mampu membuat Ben merasa kalah dalam tantangan yang diberikan sang pengusaha. Alih-alih meminta Pak Seno menjelaskan proses pembuatan kopi Tiwus dari masih biji hingga menjadi secangkir kopi enak secara ilmiah dan teoritis, Ben hanya berhasil mendapatkan wejangan kampung sederhana dari sang penanam kopi Tiwus. Kurang lebih wejangannya begini, ‘Merawat tanaman itu susah-susah gampang. Sama halnya dengan mengurus anak sendiri. Harus dirawat dengan penuh kasih sayang hingga menjadi baik tumbuhnya.’ Memang benar begitu seharusnya, bukan? Tanaman atau tumbuhan itu juga kan, makhluk hidup.

Perjalanan mencari kopi Tiwus membuat Jody dan Elle pada akhirnya menjumpai momen di mana mereka saling bertukar cerita tentang ayah yang sudah tiada namun meninggalkan sisa luka. Setelah pertemuannya dengan kopi Tiwus juga, Ben mampu berdamai dengan ayahnya setelah belasan tahun berlalu. Hubungan yang renggang antara ayah dan anak memang secara sempurna menyelimuti kehidupan tiga tokoh utama dalam film ini. Kehidupan Ben, Jody, dan juga Elle. Namun, cerita ayah-anak inilah yang membawa mereka terus berupaya berdamai dengan masa lalu dan salah satu caranya adalah dengan menjelajah bersama kopi.

Beralih dari hubungan ayah-anak, hubungan persahabatan Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) dalam FIlosofi Kopi The Movie memang benar-benar bisa dijadikan teladan bagi mereka yang mengaku bersahabat. Kepiawaian kedua aktor memainkan peran dan berdialog lugas tanpa terkesan menghafal, berhasil membawa pesan persahabatan itu sendiri. Kesan spontan dan natural membuat saya makin-makin mengagumi seluruh rangkaian cerita yang melibatkan mereka berdua. Adegan demi adegan bertajuk persahabatan Ben dan Jody sanggup membuat saya merasakan betapa hubungan persahabatan yang erat tanpa kemunafikan, tanpa niat jahat dan niat menjatuhkan, nyatanya mampu membuat persahabatan itu sendiri awet selama belasan tahun (dan mungkin selama-lamanya). Mereka menyajikan hubungan persahabatan yang hampir tanpa filter saat berkomunikasi, yang hampir secara terang-terangan mengungkapkan apa yang dirasa —marah ya marah, kesal ya kesal, berontak ya berontak— tanpa berusaha menutup-nutupi dan memanipulasi rasa. Satu kata untuk persahabatan Ben dan Jody (yang dimainkan oleh dua aktor tampan nan memanjakan mata): SUPER!

Terakhir, sepintas dalam Filosofi Kopi The Movie saya juga dapat menangkap pesan perjuangan untuk mewujudkan cita-cita bersama, menyelesaikan berbagai masalah bersama-sama, serta perjuangan untuk mengalahkan ego demi menyelamatkan nasib kedai yang dibangun bersama. Terkadang, hidup memang butuh perjuangan, bukan begitu?

YEAY! MARI MENYAKSIKAN FILOSOFI KOPI THE MOVIE!

Selain makna-makna sederhana yang saya (dan kalian akan) temukan dalam berbagai kepingan adegan, saya juga sangat ingin mengakui bahwa film ini betul-betul menyajikan sesuatu yang tak hanya memanjakan mata, tapi juga mengaduk rasa. Saya dibawanya ke dalam rasa haru, rasa lucu nan menggelitik, serta rasa yang ah bahkan saya pun tak tahu cara mengungkapkannya.

Tak lupa, saya turut mengapresiasi kerja keras seluruh tim di balik layar, terutama sutradara yang (dipastikan) bertangan dingin. Teknik pengambilan gambar yang ciamik —yang tak terlalu saya pahami namun saya kenal sedikit-sedikit—, suara-suara TAK GADUH alias lagu-lagu pengiring —yang sejauh telinga mendengar semuanya enak—, serta lanskap yang acap kali ditampilkan, semuanya keren!

TAPI, sekeren-kerennya sebuah film dibuat, pasti masih ada kekurangannya. Di film ini untungnya saya hanya menemukan satu hal yang cukup mengganggu (nggak tahu kalau penonton lain, ya). Satu hal di mana Joko Anwar, sang sutradara film Indonesia yang terkenal itu, muncul dalam salah satu adegan dan berperan sebagai penagih utang. Betul-betul tidak begitu pas aktingnya. Dialognya secara gamblang berkesan dihafal dan sedang berusaha diingat-ingat. Logatnya setengah Batak setengah Jakarta. Untungnya, Joko Anwar hanya muncul di satu adegan saja dan selanjutnya adegan-adegan di Filosofi Kopi kebanyakan didominasi oleh dialog Ben & Jody yang kerap kali mengundang tawa. Seru, lah!

Filosofi Kopi The Movie bagi saya telah mengajak semua penontonnya untuk:
menikmati Indonesia lewat kopi, menikmati hidup tanpa melulu menuntut sempurna, berdamai dengan masa lalu, dan yang terpenting, mengajarkan arti persahabatan sejati.

Selamat, ibu suri Dewi ‘Dee’ Lestari.

Selamat, Angga Dwimas Sasongko atas hasil karyanya di layar lebar.

*prok prok prok*

Sunday, April 19, 2015

Teater Koma - Opera Ular Putih: Ketika Siluman Menjadi Lebih 'Manusia'.

Saya makin yakin dengan bisik-bisik yang menghembus kabar bahwa teater, sejatinya adalah sebuah sarana yang efektif untuk menyampaikan isu-isu sosial (dan politik) yang sedang berkembang di masyarakat. Saya juga yakin, teater, dengan caranya sendiri memiliki tujuan mencerdaskan masyarakat terkait isu-isu tersebut. Ah ya, dan juga membuat penontonnya serta penikmatnya, berefleksi karenanya.

Keyakinan saya ini kembali muncul tatkala saya usai menyaksikan pementasan Teater Koma yang kesekian kalinya (mungkin, kali keempat). Setelah sebelumnya saya menyaksikan Republik Cangik yang juga sarat sindiran, maka Opera Ular Putih hasil olahan tangan N.Riantiarno melalui Teater Koma ini juga mampu memaksa saya menghidupkan kepekaan. Banyak hal yang menggelitik ketika mata tertuju pada mereka yang beraksi di panggung. Otak memutar mencoba mengerti jalan cerita plus maksud dibaliknya. Sampai semua duga-duga terekam, jaripun menuangkannya dalam bentuk tulisan.

PARA PEMAIN
SINOPSIS

Dua siluman ular kakak-beradik, ular putih dan ular hijau telah menunaikan pertapaan selama ribuan tahun dan memperoleh kemampuan untuk menjelma menjadi manusia. Sayangnya, hanya ular putih yang bertekad kuat untuk mengubah diri menjadi manusia, sementara si adik menentang. Meskipun demikian, atas nama kesetiaan adik pada kakak, ular hijau setuju juga dengan ide memanusiakan diri. Mereka pun memiliki nama masing-masing setelah hidup sebagai manusia. Putih menjadi Pehtinio dan Hijau menjadi Siocing. Selanjutnya, mereka berdua berkelana dan bertemu seorang lelaki sederhana bernama Kohanbun di tepi danau. Kepada Siocing, Tinio mengungkap bahwa Kohanbun sesungguhnya adalah reinkarnasi dari seorang pemuda yang dulu pernah menyelamatkan Tinio ketika masih berwujud ular dan hendak dijual. Tinio menyampaikan niatnya pada Siocing untuk mempersuami Kohanbun. Meskipun diliputi keheranan yang teramat, Siocing akhirnya merestui pernikahan Tinio dengan Kohanbun. Pernikahan mereka pun dilaksanakan dan mereka pindah ke kota lain untuk memulai usaha toko obat. Malangnya, pembasmi siluman yang diberi mandat oleh langit, dengan giat berusaha untuk mengungkap identitas Tinio pada Kohanbun. Meskipun Tinio tidak pernah berbuat jahat dan justru selalu berusaha melakukan kebaikan, Tinio seakan tidak pernah diakui sebagai bagian dari bangsa manusia. Sampai akhirnya, setelah melahirkan buah cintanya dengan Kohanbun, Tinio tetap harus menerima hukuman.

MENANGKAP-NANGKAP MAKNA

Jika ditelisik secara sederhana, maka saya yakin semua penonton akan menangkap sebuah pesan yang teramat gamblang, yakni tentang bagaimana seharusnya seorang manusia bersikap dan berperilaku. Bagaimana bisa seorang siluman bahkan lebih ‘manusia’ dari manusia itu sendiri?

Baiklah, sebelum membahas pesan yang saya kira menjadi tajuk utama ini, ada baiknya saya sedikit mengupas beberapa bagian menarik nan bermakna yang saya tangkap selama perjalanan cerita berdurasi hampir 4 jam ini.

Pada beberapa adegan Opera Ular Putih, saya menemukan adanya isu ‘perempuan’ yang coba diangkat. Bagaimana kedudukan seorang perempuan bahkan terkadang bisa menggantikan kedudukan seorang lelaki. Maksudnya di sini, peran seorang lelaki dapat digantikan oleh seorang perempuan dan begitupun sebaliknya. Ambil contoh, ketika Tinio pergi melamar Kohanbun. Memang, mereka berdua dicomblangi Siocing, akan tetapi siapa yang melamar dan membiayai pernikahan? Jelas, Tinio lah orangnya. Tinio juga yang akhirnya memberi modal untuk membuka usaha. Kemudian, contoh lain yang tampak adalah ketika Kohanbun jatuh pingsan bahkan hampir sekarat karena menemukan wujud siluman ular di kamar tidurnya malam hari. Tinio rela menghadang bahaya demi mendapatkan rumput sakti yang konon bisa menyembuhkan Kohanbun. Pada bagian ini, saya tentu langsung menangkap kesan bahwa ‘perempuan’ khususnya Tinio, jauh lebih banyak berperan dalam hubungan mereka berdua dibandingkan Kohanbun itu sendiri.

Tinio, Siocing, dan Kohanbun yang sedang tertidur

Pernikahan Tinio dan Kohanbun
Saya memang sebelumnya belum pernah menyaksikan pertunjukan Ular Putih apalagi membaca tentang kisahnya. Terlepas dari adegan ini memang asli dari naskah terdahulu atau justru merupakan improvisasi dari N.Riantiarno, saya menyangka bahwa adegan ini cukup mampu membawa suatu ‘perubahan’ paradigma tentang peran perempuan. Mungkin masyarakat Indonesia telah mengenal tradisi perempuan melamar lelaki dalam adat Minang. Akan tetapi, secara lebih luas lagi, masyarakat Indonesia sepertinya lebih melazimkan pernikahan di mana pihak lelaki lah yang melamar perempuan. Namun, apakah salah jika perempuan yang ‘mengajak’ menikah terlebih dahulu? Saya rasa tak ada yang salah.

Secara subjektif, saya pun melihat adanya permainan karakter perempuan dan laki-laki di sini. Dalam masyarakat Indonesia pada umumnya, saya melihat bahwa karakter ‘mudah menangis’, ‘tidak mudah percaya’ dan ‘penakut’ seringkali diidentikkan dengan kaum perempuan, sementara ‘bijaksana’ dan ‘penuh perjuangan’ disematkan pada kaum lelaki. Dalam Opera Ular Putih, kedua hal ini justru berkebalikan. Tinio ditampilkan sebagai orang yang bijaksana dan penuh perjuangan, tanpa meninggalkan kelemahlembutannya, sementara Kohanbun digambarkan sebagai pihak yang justru lebih lemah, karena diliputi rasa takut dan kecemasan, serta penuh dengan kecurigaan pada sang istri, Tinio. Seingat saya, Kohanbun juga dengan mudahnya menangis. Lantas karena itu, masihkah karakter-karakter tertentu kita percayai hanya untuk jenis kelamin tertentu? Untuk gender tertentu? Buktinya, paradigma semacam yang tersebut barusan mudah dibalik-balik dan ditukar-tukar.

Ada satu peristiwa yang juga bisa saya paksa kaitkan dengan isu perempuan. Yakni pengakuan Siocing yang tidak ingin menikah. Padahal, Siocing pun telah menjadi manusia seutuhnya. Lantas, mengapa ia tak ingin menikah? Saya kira Siocing sudah cukup puas dengan hidup bersama kakak dan dirinya sendiri. Siocing merasa bahwa lelaki hanya bisa berbohong saja dan lelaki dari kacamata Siocing sangatlah membawa aspek-aspek negatif. Hal ini saya rasa mampu memberikan sedikit kekuatan dan justifikasi kepada mereka (perempuan) yang memutuskan tidak ingin menikah. Harus diakui dan disadari, tidak semua perempuan yang tidak menikah memilih status lajang karena terpaksa. Banyak juga yang menganggap itu sebagai pilihan hidup yang sudah diyakini dan dimantapi. Seperti Siocing, misalnya? Kalau hidup tanpa menikah pun sudah bahagia, lantas mengapa perempuan harus dipaksa menikah?

Beralih dari isu perempuan yang tak sengaja saya tangkap, saya juga menemukan adanya usaha Teater Koma untuk tetap menyelipkan budaya Indonesia bahkan turut serta di dalamnya isu-isu yang sedang marak di tanah air. Misalnya saja di salah satu adegan, ada dalang yang muncul memainkan wayang orang. Wayang orang ini merupakan salah satu kebudayaan Indonesia, bukan? Kalian tau wayang orangnya siapa? Wayang orangnya tak lain adalah Kohanbun, Tinio, Siocing, juga kakak Kohanbun, Kokiyong. Artinya, sesungguhnya cerita tentang Ular Putih ini pun sedang diceritakan oleh seorang dalang di atas panggung. Dalang inilah yang bertugas membawa kutipan-kutipan lucu yang membuat penonton tertawa. Tugas mulianya yang lain menurut saya adalah menjadi jembatan cerita dari zaman kapan ini menjadi tetap berkorelasi dengan zaman sekarang. Dalang ini menyebut-nyebut soal SNI, kemudian menyebut-nyebut soal dalang politik (kalau mendengar langsung dialog tentang ini, dijamin akan langsung mengacu pada kondisi pemerintah!), dan menyindir-nyindir soal kondisi rakyat yang menyedihkan dan memprihatinkan (yang saya duga kuat mengacu pada rakyat Indonesia). Di sini, salut saya bertambah-tambah pada Teater Koma. Selain mengemas ulang cerita Ular Putih yang sarat latar negeri Cina, Teater Koma juga mampu membawa unsur keIndonesiaan di dalam karyanya. Usaha ini dapat dipandang sebagai upaya untuk menyadarkan masyarakat Indonesia yang ada di bangku penonton akan kondisi negara saat ini. Ah, sangat Teater Koma.

Wayang oleh Dalang

Wayang oleh Dalang (2)
Percaya atau tidak, saya juga menangkap adanya sindiran terhadap kasus eksekusi mati yang akan dilakukan pemerintah Indonesia dari salah satu dialog Tinio. Ceritanya, setelah Tinio memaafkan Gowi atas sikapnya yang tak mengenakkan (mengadu pada Kohanbun tentang siapa sosok Tinio sebenarnya), Siocing mengajukan protes. Siocing heran, mengapa Tinio tak lantas membunuh Gowi saja, mengapa sebaliknya justru dimaafkan? Jawaban Tinio sangat di luar dugaan dan secara spontan (atau terlampau jauh), saya memahaminya sebagai salah satu pesan terhadap aksi eksekusi mati. Tinio berpendapat bahwa pembunuhan tidak selamanya membuat persoalan selesai. Kematian ada di tangan dewa dan dewalah yang berhak menentukan. Dialog Tinio yang berisi pesan ini seakan ingin menyampaikan ‘makna’ lain. Bahwa pada hakikatnya memang hak hidup manusia tidak boleh dicabut oleh sesama manusia. Hanya dewa —Tuhan— yang berhak menentukan. Kalau mau dikaitkan dengan eksekusi mati di Indonesia, ah pasti akan jadi panjang sekali. Intinya, entah disengaja atau tidak, Teater Koma berusaha menyampaikan pesan ‘kehidupan’ dan ‘manusia’ dalam salah satu adegannya. Beruntungnya, saya bisa menangkap hal tersebut.

Gowi yang menghasut Kohanbun
Sebelum membahas makna utama yang saya tangkap, masih ada satu adegan menarik yang bisa saya kaitkan dengan kasus yang belakangan marak terjadi di negeri sendiri. Ketika adegan Tinio mencuri rumput sakti untuk menolong suaminya, Kohanbun yang pingsan hampir mati karena terkejut. Demi menolong makhluk yang tergolong ‘manusia’ pun, Tinio hampir dihukum. Lucunya, saya jadi teringat kasus-kasus orang-orang gaek yang diperkarakan karena mencuri kayu jati, sebonggol pisang, bahkan beberapa buah cokelat. Sesederhana itu untuk menolong orang, masih dihukum (hampir) berat pula. Ya ya, memang pada dasarnya mencuri itu adalah perbuatan tidak terpuji atau tercela. Namun jika dilakukan untuk kebaikan, ah bahkan jika pelakunya tak berdaya? Dilematis memang. Hanya saja, saya jadi ragu sendiri apakah benar hal ini yang hendak ‘diangkat’ Teater Koma? Atau hanya interpretasi saya terhadap adegan curi-mencuri rumput sakti itu yang terlalu jauh? Hmm, setiap orang bebas dalam memaknai, kan?

Pencuri rumput sakti (Tinio) yang sedang memohon ampun dan...diampuni...
Baiklah, sesuai janji saya, cuap-cuap saya di awal bagian ini yang ingin membahas tentang siluman yang lebih manusia, saya akan memulainya dari keinginan Tinio yang teramat besar untuk menjadi manusia. Ini menandakan bahwa memang manusia adalah sosok paling mulia di antara makhluk hidup lainnya. Jadi siluman mungkin bebas berkelana, tetapi menjadi manusia, Tinio dapat merasa. Tinio dapat mencinta, dapat merasa bahagia. Tinio dapat merasakan kesedihan, kesakitan.

Banyak sekali rasa dari pada seorang manusia, ya? Seharusnya, manusia-manusia seperti kita bangga menjadi manusia.

Ketika akhirnya berhasil menjadi manusia, Tinio benar-benar berusaha untuk bersikap penuh lemah lembut, senantiasa berbuat baik, menderma dengan mengobati orang-orang berpenyakit, serta tak lupa memberikan maaf bagi mereka yang menebar aura permusuhan. Tak mudah, Tinio pun berusaha untuk sabar. Hal ini direpresentasikan oleh tutur bicara Tinio yang pelan-pelan dan perlahan seolah menyiratkan keanggunan dan kesabaran secara bersamaan. Di lakon ini, siluman ular putih Tinio benar-benar menunjukkan keinginan yang besar untuk menjadi ‘manusia’. Sosok yang dikenal baik, berakal budi, berhati mulia, dan tidak menebar aura kebencian. Malangnya, Tinio yang bahkan telah terlihat sempurna sebagai manusia, justru masih dikejar-kejar sebagai siluman. Yang mengejar? Tentu manusia-manusia yang katanya pendeta dan murid pendeta. Predikatnya memang mulia, tapi sikapnya? Tak ada yang menjamin. Hidup Tinio toh tetap harus berakhir dengan dikurung dalam pagoda.

Tinio telah dipagodakan oleh Pendeta Bahai dan Kohanbun datang menjenguk...
Hal ini jelas memprihatinkan. Bagaimana bisa seseorang yang memiliki masa lalu yang teramat kelam (sebagai siluman) namun telah berusaha menjadi baik dan bermartabat, dapat dihabisi oleh mereka yang justru mengaku dianugerahi sikap baik dan bermartabat? Saya rasa tidak perlu panjang lebar lagi menganalisis tentang persoalan siluman baik dihabisi manusia (jahat) ini. Kita hanya ingin disadarkan oleh lakon Opera Ular Putih tentang akal sehat dan kecerdasan yang sepatutnya kita miliki, harusnya mampu membawa kita pada penilaian yang sungguh objektif tentang siapa sebenarnya manusia dan yang mana yang harusnya kita golongkan siluman? Saya pribadi menjadi berefleksi pada kondisi sekitar, atau lebih luas, pada kondisi Indonesia.

MANUSIA ATAU SILUMAN?

Singkat saja, mereka yang sudah bersusah-payah memproduksi lakon Opera Ular Putih ini saya duga hanya ingin memancing urat pikir kita untuk merenungkan sikap dan perilaku diri sendiri sebagai individu. Sudah pantaskah kita disebut manusia? Atau sesungguhnya, kita hanyalah siluman berwujud manusia?

Akhir kata, saya ucapkan SELAMAT bagi pementas dan pencipta. Terus berkarya, teater Koma. Ditunggu produksi selanjutnya.


PS: Kalau bisa, setelah pertunjukan, Budi Ros jangan cepat-cepat turun panggung karena saya ingin foto bersamanya! Ah ya, akting Andhini Puteri sebagai ular hijau sangat luar biasa. SELAMAT!