Thursday, April 24, 2014

Ready...

Sent the email for all those people.

Never know what will be their reactions.

But still believe that my little effort could be 'something big' for me.

Ready for my new adventure!

:)

*short post in my office, 06.45 pm.

Tuesday, April 8, 2014

Nyoblos!

Tinggal satu hari lagi, pesta rakyat itu dimulai.
Langkah kaki harus disiapkan hingga mantap menuju TPS tanggal 9 April 2014 nanti.
Kira-kira, kalian mau nyoblos apa? Atau, siapa?
Adakah yang justru memilih untuk golput?

Saya membuat tulisan ini, karena ingin membagi apa yang ada di dalam pikir saya.

Jika diingat-ingat, baru empat tahun yang lalu, saya resmi menginjak umur 17 tahun.
Terus kenapa? Ya, terus, saya belum pernah tuh, merasakan seperti apa rasanya memegang kertas suara PEMILU. Pernahnya juga PILKADA waktu itu. Kalau untuk memilih siapa yang akan mewakili suara saya di pemerintah sana, sih, seperti yang sudah saya ungkapkan tadi. Apakah saya pernah? Tentu belum, jawabannya.

Akhirnya, PEMILU 2014 datang juga. PEMILU, yang bagi saya merupakan suatu momen di mana saya bisa menikmati pesta (yang katanya) demokrasi untuk pertama kalinya.

Berulang kali saya membayangkan, tanggal 9 April 2014 itu, pagi-pagi pukul tujuh, saya akan siap melangkahkan kaki menuju TPS dekat rumah, mengambil empat lipatan kertas suara, 

Friday, April 4, 2014

Gift from Medan: two boxes of Macarons - La Maison Patisserie - ♥

Hai!

Saya kembali menulis dengan maksud ingin berbagi cerita.
Sepenggal cerita kala saya menikmati selusin macarons dari La Maison Patisserie, Medan. Hmm, yummy... 

Ceritanya, beberapa minggu yang lalu, papa mama saya berencana untuk pulang kampung ke Medan.
Nah, rencana itu akhirnya terealisasi kira-kira beberapa hari yang lalu.
Kalau saat ini sih, papa mama saya sudah kembali ke Tangerang.

Pertama kali saya mendengar papa mama menyebut kata 'Medan', saya yang sedang hangat-hangatnya mencari info tentang La Maison, langsung berkeinginan untuk request ke mama saya untuk beliin slice cakes + macarons di La Maison Patisserie.

Sebelum mama saya berangkat, saya catat di secarik kertas kue apa saja yang saya mau. Mama cuma berangkat dengan meninggalkan pesan
"Mama coba cariin ya. Kalo nggak ada, maaf ya."

Sampai di sana, adik papa yang paling kecil dan baik hati, mau nolongin dan nemenin mama ke La Maison. Yes!

Akhirnya, ketika berada di sana, mama bilang kalau slice cakes yang saya pesan sedang tidak tersedia. Kalau mau pesan, harus minimal 30 pieces. Kecewa. Namun, setidaknya, itulah penjelasan yang saya dapatkan dari mama saya.

Singkat kata,
Akhirnya, mama saya gajadi beliin saya slice cakes, tapi tetap jadi bawain saya macarons. Thank you, mamski!

Akhirnya (lagi), saya berhasil memperoleh 1 box lucu berisikan 12 buah macarons berbagai rasa. 
Oh, HANYA 12? 
Jangan salah! Bagi saya, 12 buah macarons rasanya sudah lebih dari cukup untuk memanjakan lidah dan sistem pencernaan saya.

Secara keseluruhan, rasa dari semua varian macaron-nya enak. Pas.
Tidak terlalu manis di sebagian varian, namun masih sedikit terlalu manis di varian-varian lainnya.
Tak jadi soal besar, lah.

Saya tidak ingat menu apa saja yang saya pesan ke mama. Hanya saja, dengan melihat bentuk dan warnanya, saya rasa, saya mampu untuk menebak-nebak.




Hasil tebakkan saya menunjukan bahwa 12 buah macarons yang saya nikmati itu memiliki varian sebagai berikut:

3 Salted Popcorn
3 Nutella
1 Durian
1 Rose Champagne
1 Tiramisu
1 Lavender
1 Hazelnut & Crispy Flakes
1 Green Tea

Sebenarnya, mama membawa 8 buah lagi (1 kotak isi 8 buah).
(1 kotak itu  jumlahnya bervariasi. Ada yang berisi 6, 8, 12, 15, 24 macarons).

8 buah macarons tersebut terdiri atas rasa-rasa berikut:

2 Salted Popcorn
2 Valrhona 70% Chocolate
2 Nutella
1 Green Tea
1 Lavender

1 box macarons isi 8 buah ini saya bawa ke kantor, dan langsung dijadikan obyek foto seketika. Foto yang dihasilkan lumayan. Seperti yang ada di bawah ini:





Photos were taken by Kartika Paramita (Lumia 1020)
Salted Popcorn
Menurut hasil dari kepo-kepo account facebook La Maison Patisserie, Salted Popcorn ini adalah salah satu varian yang menjadi best-seller di La Maison. Pukul 2 atau pukul 3 siang, macarons ini sudah ludes diborong. Waw!

Karena penasaran, akhirnya saya coba juga segigit demi segigit. 
Bagi sebagian orang, mungkin rasanya agak aneh, karena seperti manisnya cream berpadu dengan asinnya popcorn. Cuma, semakin lama digigit dan dikunyah, kok jadi merasa kalau rasa ini super enak dan super unik ya? Terang saja, kalau Salted Popcorn ini jadi best seller di La Maison. Saya makan...3! Haha...

Nutella
Nutella. Kata sebagian orang, Nutella itu diapain aja enak. Bahkan, dicolek-colek pakai jari telunjuk terus dihisap aja, udah enak.
Saya sendiri tidak tahu dan tidak sadar apakah sudah pernah mencicipi Nutella atau belum.
Kalau sudah, maka beruntunglah saya.
Kalau ternyata belum, ya mungkin macarons Nutella dari La Maison ini adalah yang pertama.
Rasanya enak. Ini yang saya bilang selera saya. Rasa cokelat tanpa manis yang berlebihan dan pekat. Ada rasa-rasa kacangnya juga. Favorite! Yummy!

Durian
Ini rasanya bisa dibilang hampir sama seperti makan buah durian beneran. Bedanya, kalau makan buah durian, 3 biji baru pusing. Kalau makan macarons ini, 1 biji udah pusing. Kebayang, kan, pekat banget duriannya?

Rose Champagne
Saya bukan seorang yang tergila-gila dengan rasa manis. Menurut saya, macarons jenis ini enak. Hanya, terlalu manis dan masih ada sedikit rasa kelapanya. Saya tidak tahu, komposisi macarons ini terdiri dari kelapa juga atau tidak, tapi saya masih merasa ada aroma dan rasa kelapanya. Sehingga, saya tidak begitu menjadikan varian ini favorit saya.

Tiramisu
Tak bisa banyak berkomentar mengenai rasa macaron yang satu ini. Enak. Terasa. Nikmat. 
Meskipun demikian, varian ini juga belum berhasil menarik perhatian saya sepenuhnya. Soalnya, nyobainnya cuma satu buah. Hahaha.

Lavender
Jika boleh diberikan urutan, mungkin dari kesemua varian yang saya icip, varian ini akan menjadi pilihan saya yang paling terakhir. Jujur, saya tidak bisa membayangkan sebelumnya rasa dari macaron varian Lavender ini. Tapi, ketika menggigit setengahnya, rasa kelapa (lagi-lagi) menyeruak di indera pengecap saya. Saya suka kelapa, tapi kalau di macarons ini, jadinya sedikit aneh, ya?
Mungkin karena kelapa + macaron bukan perpaduan yang pas untuk lidah saya. Wajar, kan?

Hazelnut & Crispy Flakes
Agaknya sama seperti Tiramisu. Tidak bisa berkomentar banyak karena ketika mengunyah, tidak begitu menghayati rasanya. Mungkin karena sebelum makan jenis ini saya makan yang Durian. Hehehe.

Green Tea
This is one of my favorite! Green Teanya enak. Lembut pula. Pas.

Valrhona 70% Chocolate
This.is.really.tasty! Meskipun rasa ini nggak tergabung di box yang isi 12 buah, tapi rasa yang ini berhasil saya icip sedikit dari box yang satunya. Dan. Ini super enak. Coklatnya beda. Suka. :"

Dari kesemuanya, sudah jelas ya kira-kira yang mana yang saya suka dan saya rekomendasikan, dan mana yang saya kurang suka.

Bagi yang penasaran ingin mencicip macarons dari La Maison Patisserie ini, mungkin bisa segera meluncur ke tokonya.

Alamat:
Jalan Biduk No. 66, Medan
Instagram: @lamaisonmedan
Facebook: La Maison Patisserie
Open Hours:
Mon to Sat, 11am – 5.30pm

Delivery Fee:
IDR 30.000 / address applied to an orders below IDR 600.000
They deliver in areas within Medan city only.

Keep Calm and Eat Macarons :)

Thursday, March 20, 2014

Menonton Demonstran, Teater Koma: Demonstran yang tak berdemo.

Blubard blubard blaburd.


blibli.com

Sulit sekali menjadi baik. Blubard blubard blubard. Blaburd blaburd. Blubard.
Demonstran yang berdemo, yang berunjuk rasa, kini tak lagi mencari baik. Mereka mencari menang. Lalu di manakah baik?

Barangkali itu secuil pesan yang dapat saya cerna setelah berkesempatan menonton pentas Teater Koma yang ke -131.

Ceritanya penuh kritik. Begitu yang saya kira. Siapa lagi yang dikritik kalau bukan pemegang kuasa yang dulu pada zamannya muda, sempat berjuang menggulingkan penguasa? Yang sekarang banyak harta, memegang tahta, dan tak kenal apa itu rakyat biasa?


Hmm, berbicara mengenai rakyat, Demonstran juga memuat pertanyaan yang saya kira cukup reflektif. Di zaman bingung zaman panik sekarang, siapa ya rakyat sejati?

Niken, Wiluta, dan Jiran, tiga tokoh pengikut Topan, mantan demonstran pun menanyakan hal tersebut.

Mereka bertiga adalah manusia-manusia yang sudah tua, namun masih punya semangat memperjuangkan hak-hak dan suara rakyat. Tetapi, mereka sendiri akhirnya sadar bahwa mereka tidak tahu rakyat mana yang mereka harus perjuangkan. Mana yang bisa mereka sebut sebagai rakyat sejati. Yang terlihat hanya rakyat. Sejatinya entah bersembunyi di mana.

Kita sendiri tergolong rakyat seperti apa ya di zaman sekarang?

Kisah sang demonstran.

Saya hampir lupa memperkenalkan Topan. Tokoh yang diperankan Budi Ros ini sangat penting dalam perjalanan cerita Demonstran. Topan, sang Demonstran, diceritakan pernah memimpin barisan paling depan dalam menggulingkan pemerintahan duapuluh tahun silam. Berhasil nyatanya. Perjuangannya dielukan di mana-mana. Bahkan, setiap tahun, rekonstruksi gerakan Topan selalu ditampilkan ulang. Tidak ketinggalan, patung Topan serta para rekan dihadiahkan oleh seorang jenderal, (eh atau pejabat?) bernama Pejabat-T. Sungguh hebat bukan seorang Topan itu?
Lalu, di mana Topan sekarang?

Menikmati adegan.

Pertanyaan tadi dijawab oleh adegan demi adegan selama hampir empat jam. Topan kini menjadi pedagang. Punya banyak uang. Sukses dan kaya raya. Istrinya yang cantik, dulu merupakan rekan sesama demonstran. Sama-sama berjuang hingga mencapai titik yang sekarang. Hal ini rasanya memuat pesan yang cukup miris dan membuat saya sedikit berpikir. 

Tentang pikiran.
Pejuang kita yang dulu punya semangat berapi-api, perginya kemana, ya? Untuk apa dulu mereka berjuang? Apakah demi posisi yang mereka nikmati sekarang? Mungkin saya juga tidak tau jawabannya, karena kalau tidak salah, kala itu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Masih lugu. Tidak mengerti apa-apa.




Kesimpulan saya.

Secara lugas, namun tetap sedikit tersirat, Demonstran ingin mencari, menemukan, dan (kalau bisa dibilang) menuntut para ex-demonstran yang seolah menutup mata pada keadaan linglung dan bingung sekarang. 

Keadaan dimana siapapun bisa punya kuasa asal ada harta. Siapapun bisa dapat tahta meski otak tak ada. 

Mungkin ada ex-demonstran setia yang tersisa, tapi, apakah saat ini masih merupakan waktu mereka untuk berkata-kata. Yang muda kemana?

Yang muda, ya digambarkan sebagai tokoh yang berjuang untuk menang, bukan untuk bergerak ke arah yang lebih baik dan tenang.
Sosok Topan di zaman panik zaman bingung ini masih dalam pencarian.
(Mungkin) belum ditemukan.


Salah kesimpulan.

Topan akhirnya kembali mau turun. Ketika pikirannya terbuka, nalurinya berkata, ia segera mengambil tindakan. Melaksanakan apa yang ia rasakan benar. Tapi, Topan sungguh malang. Nyawanya hilang.


Ujung-ujungnya Keadilan.

Hilang nyawa Topan akibat tak ada keadilan.

Sedikit kembali ke awal cerita, Demonstran ingin membuat kita mencari lagi di mana sosok 'keadilan' sedang bersembunyi? Sadarkah kita kalau sosok keadilan sudah hampir lenyap? Ya, seperti yang dilihat dan dialami sendiri saja. Masih adakah keadilan?



Di mana bersembunyinya ia?



Penutup.

Saya hanya penonton biasa yang setelah berkata-kata lewat tulisan, ingin mengucapkan selamat bagi sutradara dan pementas. Tak lupa juga pada penikmat yang mau mencoba 'melihat'. Great job! :)

Wednesday, March 19, 2014

Partner.

C'est pas de fleurs. Pas de poupées. Pas de bijoux.
C'est laugh together. Everything is funny. Nothing is boring.
Go everywhere. Ride n'importe quel vehicule,
because every place has their own story.

Eat anything. Cheapest to the most expensive.
Rice to the steak.

Talk about everything.
Debate.
5 minutes of fighting but the rest for loving.
Open. Say positive and negative.
Not egoist. Respect. Not envy.
Keep eyes and ears open, just for listening.
That's the partner should be.
:)

Tuesday, March 11, 2014

Nyanyi Sunyi Kembang-kembang Genjer.

Saya menonton pertunjukan teater. Lagi.
Hmm, tapi kali ini sedikit berbeda.
Nyanyi Sunyi Kembang-kembang Genjer, begitu judulnya.


https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn1/t1/1925219_1466560503556019_527052966_n.jpg
Ceritanya sederhana.
Waktunya juga tidak begitu lama.
Namun sangat berhasil membuat yang hadir terpana.
Pertunjukan ini memang sederhana.
Cukup diperankan enam orang saja.
Cerita yang lama terpendam seakan ditampilkan secara nyata.
Eyang-eyang berumur tua yang berharta derita.
Kala dulu mereka disiksa, difitnah, bahkan terpaksa mendekam di penjara.
Dianiaya.
Jelas saja mereka tak bisa apa-apa, mereka semua tak berdaya.
Siksa itu tentu tak bisa dilupa.
Apalagi oleh mereka yang menderita.
Derita melahirkan di penjara.
Derita disetubuhi di penjara.
Derita kehilangan suami yang dicinta.
Dan juga,
Derita memendam rahasia bertahun lamanya.
Saya memang miris menyaksikannya, tapi saya kagum akan kekuatan para eyang itu di luar sana.
Semua karena harapan mereka masih ada.
Harapan dan cinta yang tumbuh dalam jiwa.
Mereka bisa.
Pasti kita juga bisa, bukan?
Kuatlah, tersenyumlah, pada apa yang mereka bilang kehidupan.
Peliharalah harapan.
Biar boleh kita tuai di masa depan.

Selamat bagi mereka yang terlibat pementasan.
Baik mereka yang tampil di depan maupun bagi mereka yang tak langsung kelihatan.
Terima kasih juga pada kemanusiaan.
Mungkin karena kamu masih hidup, maka pementasan ini tercipta.
Selamat bagi penulis naskah, sekaligus sutradara yang mencipta.

Saya...suka...

Sunday, February 9, 2014

Akhirnya S.Hum.

Satu set toga itu akhirnya saya kenakan juga pada hari ini.
Saya lulus! Puji Tuhan. Akhirnya. A.k.h.i.r.n.y.a. :)

Melalui tulisan ini, banyak cerita yang ingin saya ungkapkan, bahwa banyak kejadian yang pernah saya alami, bahwa banyak rasa yang bisa maupun yang tak bisa saya ungkapkan.

Ketika hari ini akhirnya datang, memori saya secara sadar dan otomatis langsung memutar kejadian di pertengahan tahun 2010 silam. Saat itu, saya hanyalah seorang mantan siswi SMA yang tidak tahu harus melanjutkan kuliah ke mana. Seorang mantan siswi SMA yang hanya berharap masuk jurusan Farmasi. Seorang lulusan SMA yang memiliki harapan besar masuk perguruan tinggi negeri bergengsi, sehingga tak terlalu mengeruk materi. Perjalanan harapan itu berujung hari ini. Akhirnya.

Meskipun saya bukan lulus menjadi seorang S. Farm, saya tetap bangga. Bangga akan apa yang telah saya lakukan, saya peroleh, dan akhirnya saya syukuri serta nikmati.

Jika saya boleh bercerita, pilihan untuk memulai perjalanan sebagai mahasiswi S1 Paralel Sastra Prancis UI merupakan pilihan yang amat sulit. Memang, ketika Bedah Kampus UI tahun 2009, saya sempat berujar, bahkan boleh dibilang takabur. "Biarin deh, masuknya Sastra Prancis aja, yang penting gue pake Jaket Kuning." Satu ujaran yang tak akan pernah saya lupakan. Ujaran yang akhirnya menjadi kenyataan dan mengantar saya sampai pada gelar S.Hum.

Saya memang bermimpi menjadi mahasiswi jurusan Farmasi, tetapi karena satu dan lain hal, saya malah menjadi alumni dari jurusan Sastra Prancis UI. Bangga? Tentu!

Saya pernah bahagia saat dinyatakan lulus seleksi masuk jurusan Farmasi di UNPAD. Impian saya nyaris menjadi kenyataan. Namun, saya akhirnya tetap memilih Sastra Prancis UI setelah mempertimbangkan berbagai alasan. Dari alasan sepele hingga alasan yang tak lagi bisa dianggap sepele.

Ketakutan itu ada. Ketakutan akan terus masuk kuliah malam karena isunya S1 Paralel itu adalah nama lain dari kuliah malam. Ketakutan akan menjalani tahun-tahun studi bersama mahasiswa-mahasiswa yang sudah kerja karena mengambil kuliah malam. Ketakutan akan menjadi asing. Ketakutan ini ketakutan itu ketakutan semua, tapi....sekali lagi Puji Tuhan, karena nyatanya ketakutan itu tak terbukti.

Saya harus dengan lantang mengakui, sesuatu yang namanya takut itu tak kunjung bisa dengan tenang pergi. Setiap akhir semester, saya selalu takut melihat laporan nilai kalau-kalau ada yang tak lulus dan mengecewakan orang tua. Saya selalu takut serta cemas menanti nilai akhir KBP setiap semester. Kalau hasilnya di bawah C sekali saja, dijamin saya tak akan lulus tepat waktu. Saya selalu takut kalau saya harus dihadapkan pada pilihan menempuh studi lebih dari 4 tahun karena hal itu pasti mengecewakan orang tua saya.

Saya takut menyia-nyiakan perjuangan mereka menyekolahkan saya hingga perguruan tinggi, karena apa yang mereka lakukan tak boleh saya anggap sepele. Hal ini yang terus mendorong saya mau belajar dan berusaha agar saya tak pernah mengulang mata kuliah. Jalani sekarang dan jalani nanti ketika mengulang, toh sama saja. Mata kuliahnya sama. Materinya sama. Buat apa saya menjalaninya sampai lebih dari sekali? Hanya ini yang jadi pegangan saya. Hanya hal itu serta doa yang mampu membuat saya seperti sekarang, saya amat takut mengulang. Keinginan terbesar hanya untuk membuat orangtua saya bangga melihat saya berhasil jadi Sarjana.

And finally, I made it.


Tiga setengah tahun yang saya lalui selama menjadi mahasiswa menyisakan begitu banyak cerita.

Saya ingat ketika mama menemani saya di kosan saat hari pertama saya kuliah. Saya ingat minggu-minggu pertama jadi mahasiswa, saya begitu setia dengan julukan KuPu KuPu. Kuliah-selesai kuliah-beli makan-masuk kosan-nonton TV-tidur. Rutinitas yang akhirnya saya abaikan kemudian.

Saya ingat ketika saya mulai menikmati status mahasiswa saya. Tak lagi menjadi KuPu-KuPu, tapi KuMa-KuMa. Pulang kuliah main dan main terus. Makan, nonton, apa saja saya lakukan bersama teman-teman.

Saya ingat ketika saya iseng mencoba peruntungan melalui online shop. Setiap jeda kuliah saya manfaatkan dengan mengurusi online shop saya. Entah beli barang untuk dikirim ke customer ataupun mengirim barang yang telah saya bungkus malam harinya ke JNE di dekat FISIP. Berusaha membagi kedua fokus sama rata.

Saya ingat saat kesel-keselan. Saat iri-irian.
Saya juga teringat ketika saya harus berpindah kosan karena kosan yang lama tak layak lagi saya tinggali.
Saya teringat ketika saya harus tertatih mengikuti pelajaran karena sakit ini sakit itu.
Saya teringat ketika papa mama menjemput saya di kosan dalam kondisi lemah karena ternyata terserang hepatitis. 
Saya teringat ketika mama selalu memarahi saya yang begitu sering pulang malam. Takut saya kelelahan.
Saya teringat ketika diberi kejutan ulang tahun H+30an oleh teman-teman dekat.
Saya teringat ketika harus mencari buku pinjaman hingga ke IFI, dan berjalan kaki dari St. Cikini sampai IFI.
Saya teringat ketika harus menginap di rumah teman demi selesai mengerjakan tugas deadline dan meminta file-file penting darinya.

Namun lebih dari pada cerita-cerita itu, banyak hal lain yang bisa saya anggap sebagai sumber pelajaran saya dan saya rasa telah tiba saatnya saya menyampaikan rasa terima kasih saya.

Teruntuk FIB UI, Kuksa FIB, KMK UI, PMKAJ US, RTC UI FM, IKABSIS, dan CBT.

Terima kasih kepada kalian semua yang telah memberi saya banyak hal.

Terima kasih FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA! Fakultas tempat saya menemukan berbagai macam karakter orang dari A-Z! Menemukan ragam jurusan yang punya khasnya masing-masing. Menemukan orang-orang hebat,orang-orang slengean tapi ternyata berprestasi. FIB UI pernah membuat saya bangun jam 3 pagi untuk turut bergabung dengan kepanitiaan PSA MaBim. Fakultas tempat saya menghabiskan waktu 3,5 tahun ini. Fakultas yang bikin saya bangga dengan makara putihnya. Terima kasih Kansas dan Gedung I - Gedung X -nya. Kita telah membuat cerita.

Terima kasih untuk semua dosen Prodi Prancis FIB UI dengan ciri khas cara mengajarnya masing-masing, terkhusus juga terima kasih untuk Mba Deka, PA paling asoy yang nggak bosen menjadi dosen KBP saya dari KBP I - IV, PA yang juga dengan sigap menyetujui sipresma saya, dan PA yang akhirnya menjadi penyelamat utama saya dari status pengangguran setelah lulus. Terima kasih juga untuk teman-teman seangkatan dan sejurusan di Sastra Prancis, termasuk Ilham,si temen se-PA, temen yang super ngeselin tapi terkadang baik. Terima kasih untuk terus ada dan bersama-sama menjalani rangkaian mata kuliah yang kadang bikin mata perih, perut mual, kepala pusing. Haha, tetapi kita telah memilih untuk menjalankannya, bukan? Dan saya nggak akan juga seperti ini kalau orang-orang di lingkungan belajar saya nggak seperti kalian semua! Terima kasih untuk berbagai cerita, tawa, dan canda ketika di dalam maupun di luar kelas. Sukses untuk kita semua!


Terima kasih KUKSA FIB, tempat saya menemukan kakak-kakak dan adik-adik dengan berbagai karakternya masing-masing. Mereka yang menjadi teman dan keluarga seiman dan sefakultas. Mereka yang memberi kesempatan saya untuk boleh melayani teman-teman ketika Jumatan serta merasakan tampuk koordinator fakultas selama satu tahun. Berbagai suka dan duka. Berbagai tekanan dan pikiran yang saya harus tanggung selama menjadi KoorFak. Berbuah manis ketika saya justru menemukan sahabat dan (pernah juga) cinta. Kalian saya sayang. Pasti selalu saya sayang! 

Terima kasih KMK UI. Tempat saya juga belajar. Menjadi orang yang harus pandai membagi fokus. Menjadi orang yang konsisten dan bertanggung jawab. Menjadi orang yang dengan rela membagi waktu untuk menyiapkan acara-acara demi melayani teman-teman dan demi terus meng'ada'kan KMK. Di sini saya menemukan keluarga saya. Sahabat saya. Saya boleh bekerja dengan teman-teman dengan berbagai macam sifat dan cara kerja yang berbeda. Saya boleh mendapatkan teman RANDOM yang menemani saya mencoba hal baru. Mencoba tempat baru, makanan baru, pengalaman baru, serta berbagi cerita baru. Tanpa ragu saya bagi sayang saya ke kalian! 

Terima kasih PMKAJ US beserta Romo Moderator, Rm. Markus Yumartana, SJ.. Di dalam sini awal mula saya mengenal Wisma Sahabat Yesus. Di dalam sini saya langsung terjun ke dalam kepanitiaan pertama saya semasa Mahasiswa Baru. Berbaur dengan teman-teman dari berbagai macam universitas yang tentu beda tingkah dan lakunya. Cara dan budayanya. Pikiran dan perbuatannya. Di dalam sini saya mengenal solidaritas. Mengenal adanya sesuatu yang dinamakan peka dan inisiatif. Begitu banyak hal yang saya peroleh dan pelajari ketika saya melibatkan diri di dalam sini. Belajar untuk rela dan tak mengharap apa-apa. Belajar untuk berani bertanggung jawab atas apa yang telah dipilih meskipun berat. Belajar memimpin. Belajar berinteraksi. Belajar bekerjasama. Belajar tidak egois. Entah berapa banyak yang saya dapatkan dari tubuh PMKAJ US. Betapa banyak teman yang saya kenal di dalamnya. Terlalu kurang rasanya, tapi untuk saat ini, memang saya hanya dapat mengucapkan terima kasih. Terima kasih telah menemani hari-hari saya. Terima kasih untuk waktu dan tenaga kalian ketika kita sama-sama bekerja dalam sebuah tim. Saya tau saya masih punya tanggung jawab 6 bulan lagi dan saya mencoba untuk terus setia terhadap apa yang sudah saya pilih. Terima kasih! Saya nggak akan kayak gini tanpa kalian semua. :)

Terima kasih untuk UKM Radio Telekomunikasi Cipta. Meskipun saya tak sering hadir. Meskipun saya tak selalu muncul di setiap acara. Saya bersyukur pernah bergabung dengan kalian semua. Saya bersyukur punya pengalaman di per-radio-an bersama kalian semua. Terima kasih telah mengingat meskipun saya jarang sekali hadir dalam setiap kesempatan. Bersama kalian, saya mendapat cukup banyak pelajaran. Many! Terima kasih kalian semua atas ijin dan kesempatan untuk melibatkan diri. Terima kasih!

Terima kasih untuk satu pelatihan yang akan begitu saya ingat.Character Building Training 5 yang boleh saya ikuti. Kesempatan bertemu orang-orang hebat. Bertemu orang-orang yang berani untuk menerima berbagai ilmu demi mengembangkan diri ke arah yang lebih baik lagi. Kesempatan untuk mendengarkan berbagai pengalaman maupun kiat menjalani hidup. Meskipun tak mungkin langsung diterapkan dalam satu atau dua hari, saya yakin, kesempatan yang pernah saya peroleh dan jalani ini akan menjadi bekal seumur hidup saya! Terima kasih.

Terima kasih untuk Sekar, Melyssa, Vina, Sophia, dan Faqih, serta sosok SSP yang sempat menemani saya menghabiskan waktu dan menjadi tempat kesekian saya dalam berkeluh kesah saat menjalani semester terakhir ini.

Akhirnya, di akhir tulisan ini saya hanya ingin kembali menyampaikan terima kasih.

Maklum, saya tak memiliki skripsi untuk saya sumbangkan ucapan berikut di Kata Pengantar-nya, jadi saya rasa tak ada salahnya saya tuangkan segalanya di sini. ;)

Ucapan terima kasih ingin rasanya ditujukan untuk semua. Untuk mereka semua yang menyempatkan waktu hadir di Wisuda hari ini, menyapa saya, mengucapkan selamat, bahkan memberi bunga. Terima kasih untuk kalian yang menemani hingga hari ini. Terima kasih untuk dukungan kalian. Terima kasih untuk hadiah kalian, baik yang terlihat maupun yang hanya bisa diingat.

Terima kasih untuk Echa, Terra, Chev, Harris, Liestya, Adrian, Inggit, Evan, Eufrasia Erika, Kak Wawan, Kak Sally, Nikita Natasya, Bina, Ginta, Norman, Arkhe, Michelle, Dimas, Edith, Maltal, Erika, Ciskah, Kent, Nana, Stella, Beatric, Kak Anne, Kak Maga, Nico, Titot, San San, Eko, Janet, Rika, Ganda, Lia, Ajeng, Icha, Gia, Jane, MaReg, Ivo, Kak Temmy, Kak Vi, Kak Lena, Kak Jenny, Vina, Sophia, Sekar, Melyssa, Ester Cahaya, Amadea, Les Bencongs, Ilham, Kak Mita, Faqih, Yura, Annida, Jonas, Danty, Nini, Ceka, Ntum, Haris, dan semua nama yang mungkin terlewat tercatat tapi pasti saya ingat. Nama-nama yang membuat bahagia dengan ucapan selamatnya lewat berbagai media. Terima kasih.

Terakhir, namun tetap utama, juga paling, dan super penting, terima kasih untuk Tuhan Yesus serta untuk kedua orang tua saya, Mama dan Papa yang selalu mendukung, selalu memberi perhatian, selalu menghargai pilihan saya, dan yang selalu membuat saya bangga. Tanpa kalian, semua yang saya tulis, ungkap, dan ceritakan di atas jelas tak akan pernah ada. Terima kasih! :)

PS: Selamat untuk kalian yang lulus sehingga kita bisa saling berselamat. Selamat untuk Eka, Atma, Putri Myra, dan Cidus. Selamat untuk kakak-kakak senior SasPer. Selamat untuk Kak Aan, Melvin, Esi, Cathlin, Arum, Gisel, Erwin, dan untuk semua wisudawan!


PROK PROK PROK ;)


I decided long ago, never to walk in anyone's shadows
If I fail, if I succeed
At least I'll live as I believe
No matter what they take from me
They can't take away my dignity
Because the greatest love of all
Is happening to me
I found the greatest love of all
Inside of me
The greatest love of all
Is easy to achieve
Learning to love yourself
It is the greatest love of all

Friday, January 17, 2014

Malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya.

Juaranya jelas.
Tunggu dulu, jangan pikir ini kompetisi atau pertandingan bergengsi.
Jangan pula menyangka bahwa emas 1 kilogram atau mobil mewah berpintu dua yang jadi primadonanya.
Kamu salah, sangat salah.
Sebuah atau seorang juara dapat kapan saja disebut sebagai juara, bukan?
Dan tanpa kompetisi atau pertandingan bergengsi, dia memang juara.
Bahkan, malaikatpun sudah tau lama.
Sekarang, siapa yang mencibir kalau ia jadi juara? Tak ada rasanya.
Lalu, mengapa kalau ia juara?
Ya, tak apa. Memang kenapa? Memang pantas ia jadi juara.