Wednesday, June 19, 2013

Perjalanan Goa Maria Bukit Kanada - Pantai Anyer.

Sabtu - Minggu, 15-16 Juni 2013.
KUKSA FIB - KUKSA FASILKOM - KMK FH.

Dari Depok menuju Goa Maria Bukit Kanada Rangkasbitung lalu menyambung ke Pantai Anyer.


Dua hari satu malam penuh kenangan. Perjalanan yang baru saja pertama kali diadakan oleh keluargaku, KUKSA FIB UI, sepanjang sejarahnya. Senang!

Berangkat pukul setengah delapan pagi dari Wisma SY, dan tiba pukul setengah 12 siang di Goa Maria Bukit Kanada Rangkasbitung, kita langsung melakukan misa. Setelahnya, dilanjutkan dengan Jalan Salib yang jarang sekali dilakukan sehari-hari. Betul-betul perjalanan iman. Menyegarkan rohani.

Lepas dari Jalan Salib yang dibagi ke dalam tiga kelompok, kami menuju Goa Maria, berdoa. Memanjatkan keinginan serta harapan-harapan ke depan.

Kurang lebih pukul setengah tiga sore, barulah perjalanan REKreasi dimulai. Yeay, Anyer! We're coming!

Kami tiba di Villa Tamaro (villa tempat kami menginap yang, aduhai bagusnya!) ketika langit sudah menuju senja. Sebagian teman yang beruntung, berkesempatan mengabadikan momen senja di pinggir laut itu dengan kameranya masing-masing. Sedangkan aku, tak mendapatkan kesempatan itu. Bukan salah kameraku, atau langitnya. Tapi salah aku yang begitu letih untuk sekedar menjepret. Haha, sudahlah.

pemandangan laut dari atas villa lantai 3
Setelah membagi-bagi kamar, kami mulai menunggu rangkaian acara demi acara yang telah disiapkan oleh panitia. Tentu saja, tak lupa kami memiliki waktu untuk menyantap makan malam dulu. Ternyata, makan malamnya tidak wajar dan tidak biasa. Kami disuguhkan seafood bakar. Lengkap! Ada udang bakar, ikan bakar, dan cumi bakar. Sambal dan lalapan tak tertinggal. Wah sedap! Ku bilang tak biasa karena ini baru pertama kalinya di meja makan sebuah villa tak terlihat daging ayam. Tumben!

Setelah makan, kemudian acara demi acara usai dilakukan, kami pun memiliki waktu bebas. Bebas untuk berbuat apa saja! Ahay! Tak kusia-siakan waktu bebas itu. Aku langsung bergegas menuju lantai tiga villa dan mendapati satu area tanpa atap tempat bintang-bintang dapat ditatap dari dekat! Teduhnya terasa sungguh membuat betah. :D

Aku bertahan di atas sana sampai pukul tiga pagi sebelum akhirnya kantuk melahap otak hingga aku rindu untuk terlelap. Tidur kurang lebih hanya tiga jam saja sebelum akhirnya terbangun untuk melakukan kegiatan hari kedua. Games-games seru dan dinamika kelompoknya membuat kita saling menertawakan satu sama lain. Ya, cukup menghibur.

Selain itu, kami juga berkesempatan menikmati air laut serta ombaknya yang dari pelan-pelan bergerak, berlanjut hingga terlihat mulai ganas. Haha, adrenalin kami dipacu oleh ombak-ombak itu ketika kami berada di tengah laut. 

Ki-ka: Cuni, Emmy, Sisca, Icha, Mala :)

KUKSA FIB reramean :)
Puas bermain air, pasir, serta volly pantai, kami bergiliran mandi untuk kemudian bersiap-siap makan siang, evaluasi, lalu pulang. Kami meninggalkan villa pukul empat sore dan tiba di Depok pukul 22.30 malam. Mengapa? Macet sekali di jalan sepanjang pantai Anyer itu. Terlalu! Hahaha.

Random!
Tapi, biarpun tubuh mengisyaratkan rasa lelah dan tak bertenaga, hati ini cukup puas menikmatinya. Acara ZIAREK yang dipersiapkan dengan sepenuh jiwa raga, akhirnya terlaksana juga! Terima kasih semua panitia, kalian hebat! Proficiat :)

Monday, June 17, 2013

Film: Man of Steel


Clark Kent/Kal-El (Henry Cavill) adalah seorang pemuda yang merasa terasing karena memiliki kekuatan luar biasa.

Clark, dikirim ke Bumi dari Krypton, sebuah planet asing yang canggih. Dibesarkan oleh orang tua angkatnya, Martha (Diane Lane) dan Jonathan Kent (Kevin Costner). Clark segera menyadari bahwa memiliki kekuatan super membuat ia justru sulit mengambil sebuah keputusan. Ketika bumi diserang, akankah Clark menggunakan kekuatannya untuk menjaga perdamaian atau digunakan untuk memecah belah? Clark dikenal sebagai 'Superman,' tidak hanya untuk melindungi orang-orang yang ia cintai namun menjadi tumpuan harapan terakhir di Bumi


sumber: http://www.21cineplex.com/man-of-steel-movie,3149,13MOSL.htm

Yeay! Akhirnya kembali merandom bersama Aan, Dimas, dan Sisca.
Karena siang hari ini nggak ada kerjaan apa-apa, jadi kita memutuskan untuk nonton bersama.
Filmnya ya Man of Steel ini.

Gue sih sebelumnya nggak ngikutin film Superman, (sedih ya masa kecilnya, ya?).
Tapi, karena kata temen-temen, film ini nggak ada kaitan yang berarti dengan film-film sebelumnya, akhirnya ya gue oke-oke aja nonton film ini.

Mulai masuk ke sedikit komentar dan celotehan dari gue ya tentang film ini.

Jadi, menurut gue film ini seru! Hanya saja, entah mengapa, di tengah-tengah perjalanan kisahnya, gue ngerasa ngantuk gitu. Ya, nguap-nguap dikit lah. Nggak begitu tau deh ya kenapa. Hehe.
Filmnya nggak jelek! Sama sekali nggak jelek! Komposisinya 80% action, 20% drama lah menurut gue.

Kisah hidup Clark digambarkan dengan adegan-adegan flashback gitu. Gimana masa kecilnya. Gimana kisah dia jadi ini, jadi itu, jadi begini jadi begitu. Jadi, mondar mandir, maju mundur gitu buat tau cerita hidupnya Clark. Kisah keluarganya juga agak dramatis gitu, terlebih pas ngeliat hubungan Clark sama ayahnya ketika di muka bumi ini. Sedih-sedih bikin nangis, (tapi gue nggak nangis sih, terharu aja).

Ceritanya bisa dibilang nggak jauh-jauh tentang kepahlawanan, manusia, persaingan, dan perebutan wilayah. Kurang lebih seperti itulah. Tapi kemasan dan cara penyajiannya aja yang berbeda. Jadi unik dan menarik! Kalo mirip-mirip aja sama yang lain, jadi nggak seru dong ya? Hehe.

Sebenarnya, gue nggak terlalu bisa ngomentarin film ini dari segi naratif dan sinematografisnya. Cuma yang gue bisa bilang adalah, gue nggak nyesel nonton film ini. Efek-efeknya keren. Semuanya keren. Cumaaaa, kapal-kapal yang digunain Jenderal Zodnya itu bikin bingung aja. Kebanyakan. Jadi sebenernya mana yang masih bisa digunain. (Kalo bingung, coba tonton lagi!). Meskipun menurut gue, actionnya kebanyakan dan sedikit bikin gue nguap-nguap jelek, tapi secara keseluruhan, it's worth it to be watched kok. Malah Aan, Dimas, dan Sisca sama sekali nggak kayak gue yang nguap-nguap nahan ngantuk. Mereka suka dengan laga para pemainnya. Gue juga suka kok, beneran deh. Tapi agak bosen pas si orang-orang Kryptonnya nyerang melulu, nggak capek apah? hehe.

Kalo diijinin menginterpretasikan film ini, gue bilang film ini agak menyindir manusia sih. Nggak tau gue juga siapa yang bikin dan punya ide cerita. Tapi, ya menurut gue ada unsur nyindir-menyindirnya. Mungkin akan ngerti kenapa gue bilang ada sindir menyindir, setelah nonton filmnya sih. Gini ya, buat bangsa Krypton, si Jenderal Zod itu aja berani  melakukan apa aja, sampai hal tak terpuji, untuk menyelamatkan bangsa dan penduduknya. Manusia? Dengan hati nurani, akal, dan pikirannya, justru menggunakan itu semua untuk pelan-perlahan menghancurkan bumi tanpa mereka sadari. Coba ya, kalo menurut gue, dari mana tuh pemanasan global jaman sekarang? Manusia-manusia juga kan? Intinya, gue menganggap film ini mau ngajak kita buat sama-sama menjaga dan melestarikan bumi, satu-satunya tempat kediaman manusia di semesta ini. Nggak harus dengan cara tak terpuji seperti Zod, yang terkesan bengis, tapi, cukup dengan saling menghargai dan melakukan sesuatu dengan hati nurani, dan dengan moral yang kita punya. Jangan sampai, bumi tempat manusia ini justru dihancurkan oleh manusia itu sendiri. Zod aja mau nyelametin Krypton. Dia sayang banget sama Krypton. Masa manusia nggak mau pelan-pelan nyelametin bumi? Emang nggak sayang sama bumi? Hehe. *gitu aja*

Buat gue sih sekian aja tentang film itu. Semoga kalian-kalian yang menonton film ini, bisa menginterpretasikan lebih dan bisa memaknainya sesuai dengan pikiran masing-masing ya! :)

Ciao!

HELATEATER Salihara: Warm (RICTUS, Prancis)

Jumat, 7 Juni 2013, 20.00.

Teater Salihara.


SEKILAS CERITA
Dua penambul (pemain akrobat) dengan penuh bahaya mengimbangkan badan mereka, dan sebuah obsesi: suara perempuan. Tetap berpegangan meskipun di tengah kekacauan, panas, cahaya, cucuran keringat. Sepotong suara membujuk mereka entah dari mana, tetapi dua lelaki itu tetap berpegangan di tengah godaan sensualitas dan ancaman kehancuran. Terperangkap di antara dua dinding cahaya, mereka mengembangkan gerakan saling mengangkat, dari tangan ke tangan, dalam keseimbangan yang kian rapuh, berupaya tetap berpegangan, mengejar di bawah perintah nafsu dan panas yang bergetar tanpa akhir.

Warm adalah instalasi berupa dua dinding cahaya, lelampu yang dalam kekuatan rendah menghasilkan cahaya keemasan, putih kemerahan dan dengan kekuatan yang lebih tinggi menghasilkan cahaya putih penuh pesona sekaligus menyilaukan mata. Suhu selama pertunjukan ini bisa mencapai 45 derajat Celcius sehingga memancing keringat para penambul. Itulah musuh yang akan mereka taklukkan.

PEMAIN
Alexandre Fray & Frédéric Arsenault sebagai penambul

Sha Ine Febriyanti sebagai pemonolog.

TIM PRODUKSI
Instalasi & Sutradara - David Bobee
Penulis - Ronan Chéneau
Penerjemah - Saraswati Wardhany
Penata cahaya & Instalasi - Stéphane Babi Aubert
Penata Musik - Frédéric Deslias
Konstruksi panggung - Salem Ben Belkacem
Manajer panggung - Thomas Turpin
Asisten - Nina Chataigner
Produksi - Rictus
Poduksi bersama Les Subsistances, Lyon, dan L'Hippodrome, Scène Nationale, Douai.
(sumber: buku HELATEATER Salihara)

SEDIKIT KOMENTAR


Begitu masuk ruangan pertunjukkan, hawa panas menyeruak. Tak ada angin. Tak ada hawa dingin. Semua hanya pengap. Uap. Hanya uap air berupa keringat.

Saya memilih duduk agak atas. 5 menit sebelum mulai, penonton sudah ramai menanti. Menanti pertunjukkan hebat di tengah arena yang begitu hangat. Hangat! Terlalu hangat.


Monolog oleh Ine, terasa begitu mulus tanpa terhambat. Penghayatannya sungguh memukau. Dalam panas, dia bermonolog dan berekspresi. Satu kata yang bisa terucap: WOW!

Ine tak sendiri di panggung pentas. Ia didampingi dua orang pria yang menggeliat di tengah panas memanggang. Semua terlihat begitu seru. Pecah!

Gerakan demi gerakan duo penambul membuat mata ingin terus menatap, meskipun memang harus terpaksa beberapa kali harus memicing karena silau dan panas menyerang.

Mengenai monolognya, jujur, saya tidak terlalu bisa memaknai. Bukan karena tak lugas, tapi memang saya kurang bisa menangkap saja arti dibaliknya. Monolog yang sarat makna sepertinya.

Perhatian saya lebih tertuju pada setiap gerakan dan liuk lekuk para penambul. Mereka terlalu menakjubkan. Bergerak lincah di tengah panas yang tak wajar! Saling menahan dan berusaha seimbang meski peluh tak berhenti bercucuran. Satu tangan menahan satu badan dari tengah ke atas. Satu kepala menahan satu badan dari bawah. Saya kagum. Terpana. Terlalu suka.

Di beberapa bagian menjelang akhir perhelatan, saya mulai merasa ragu mereka masih bertahan. Bagaimana bisa mereka tahan beraksi di suhu seukuran ruang sauna sambil terus berusaha memuaskan para mata? Hebat! Penampilan hebat! Saya (lagi-lagi) tak menyesal datang ke salah satu pementasan dalam HELATEATER ini.
Meskipun ruang begitu hangat dan tangan terus mengipas, penampilannya sungguh membuat puas.
Meskipun monolog dan jalannya saya tidak begitu paham, tapi usaha mereka untuk melawan ancaman kehancuran seperti panas yang mencekam, sungguh patut membuat jempol diacungkan.

Berkesan! Sungguh berkesan!

KETIGA PENAMPIL.

KETIGA PENAMPIL + Sutradara.

Tata Panggung. Kanan kiri, yang lampu-lampu terang, itulah yang menghasilkan panas begitu dahsyat.

about the stars.


Malam ini kamu menghampar,
kamu juga berkelap-kelip.
Jumlah kamu, sungguhlah banyak.
Membuat mata jarang, ah bahkan tak ingin berkedip.
Terlalu senang aku melihat kamu.
Dekat. Terasa dekat dari tempat tanpa atap.
Indah. Senang mataku menatap.
Kamu itu... menarik.
Sayang, kamu jarang menarik perhatianku kala di kota.
Terlalu banyak polusi cahaya.
Terlalu sedikit tempat menatap.
Tapi, janganlah kamu takut.
Aku tahu, kamu akan selalu indah.
Kamu akan... selalu menarik.


Villa Tamaro, Pantai Anyer
dini hari Minggu 16 Juni 2013.

hanya bintang, teman, dan alunan musik.


Malam ini, semua terasa begitu sempurna.
Bintang-bintang hadir berdampingan dalam gelapnya langit.
Tak ada polusi cahaya, sehingga tampilan benda mungil langit itu terlihat begitu kaya. 
Teman-teman ada di sekitar.
Lengkap. Semua terasa lengkap. Semua melengkapi malam ini.
Bercerita. Bergelak tawa. Bersenandung.
Diiringi alunan musik dan lagu-lagu menarik.
Angin berhembus tak kalah menyemarakkan. Deru suara ombak juga sama.


Semua terlihat begitu sederhana, namun nyatanya ini harta berharga nan langka.


Aku masih percaya, momen ini takkan kutemukan di Jakarta.
Beruntunglah, aku mampu dapatkan ini di pinggir kota.

Aku. Sungguh. Suka.


Villa Tamaro, Pantai Anyer
dini hari Minggu 16 Juni 2013.

menikmati sendiri.


Sendiri tidak selalu sepi.
Di sini, dengan buku-kertas berserakkan di hadapan, saya cukup merasa nyaman.
Dengan headset terpasang di kedua telinga,
dengan deretan lagu-lagu yang bergiliran memanjakan,
semua terasa menyenangkan.
Terkadang, saya butuh saat-saat semacam ini. 
Saat tidak ada keriuhan, teriakan, gurauan, dan lawakan.
Hanya ada orang sekitar yang juga duduk dalam diam.
Semua terasa menentramkan.


Perpusat UI, Sabtu 8 Juni 2013.

Saturday, June 15, 2013

Serambi JAZZ: Monita Tahalea and The Nightingales




Goethe Institut, 13 Juni 2013.

Punya kesempatan menonton Monita Tahalea and The Nightingales di Goethe kemarin malam itu rasanya adalah sesuatu yang begitu menguntungkan pendengaran. Tak menyangka, tanpa membayar sedikitpun, telinga ini bisa mengaku begitu terpuaskan.

Sejujurnya, tak ada rencana menonton acara itu hingga H-1. Teman-teman yang katanya mau menemani, akhirnya membatalkan satu persatu hingga akhirnya hanya tersisa satu yang masih meluangkan waktu. Namun begitu, saya tak terlalu merasa terganggu.

Penampilan ini adalah penampilan mereka yang baru pertama kali saya lihat. Saya tak tahu banyak lagu-lagu dari Monita. The Nightingales juga baru saya dengar gaung namanya dari flyer acara ini. Hanya bermodalkan rasa ingin tahu, akhirnya saya putuskan untuk lebih tahu. Saya berangkat ke Goethe, meskipun baru disanalah saya bertemu dengan seorang teman yang menunggu (dalam arti, saya berangkat ke Goethe sendiri).

Sampai di sana dan menyaksikan dengan mata kepala, saya tak menyangka, ternyata mereka begitu mengagumkan. Monita tampak cantik. Suaranya ciamik. Begitupun dengan penampilan musisi-musisi pengiring yang tak kalah apik. Semisal Ricad Hutapea pada saxofon, Yoseph Sitompul pada piano, Chaka Priambudi pada bass, Gerald Situmorang pada gitar, dan Jessi Mates pada drum.

performing beberapa lagu pertama

Selama kurang lebih 2 jam, sedari pukul 19.30 hingga pukul 21.30, mereka membawakan lebih dari 10 lagu. Tidak jelas pastinya berapa, karena telinga dan mata terlalu terkesima. Seingat saya, diantaranya ada Senja, Over the Rainbow, juga Di Batas Mimpi yang tak luput mereka bawakan.

Di tengah pertunjukkan, para penonton diberi satu hal mengejutkan, yakni saat di mana Monita mengundang Indra Lesmana untuk naik ke atas area pentas. Semua bertepuk tangan riuh. Terlebih lagi,  saat mereka kemudian membawakan satu buah lagu, God Bless The Child. Teduh. Sungguh teduh.

Monita, The Nightingales, and Indra Lesmana singing Ingatlah.
Lagu-lagu lain yang dibawakan (selain yang telah disebutkan) tak pernah sanggup membuat mata, hati, dan telinga ini menutup untuk menatap penuh kagum. Dari semua lagu yang mereka suguhkan, salah satu lagu yang menurutku begitu membuat candu adalah yang berjudul Butir WaktuJust let you know, lagu ini merupakan ciptaan dari Chaka Priambudi, sang penakluk Bass.


Penampilan ini sungguh tak mampu membuat bibir berhenti menyunggingkan senyum. Paling tidak tunggu dulu empat hari, baru bisa lupa sedikit. Yang sangat disayangkan adalah, pertunjukkan itu tak lebih dari jam setengah sepuluh. Mereka menutup penampilan  malam itu dengan sebuah lagu berjudul Hope yang dibawakan Monita bersama iringan piano dari tangan lincah Yoseph Sitompul.


Malam itu yang saya putuskan hanya satu. Saya (yang belum pernah menyaksikan Monita secara live) langsung menetapkan diri sebagai pengagum suara manisnya.

--


Saturday, June 8, 2013

HELATEATER Salihara: The Smell of the Soul (Erika Batdorf - Arwinda).

Teater Salihara, 7 Juni 2013, 08.00 pm.
One mission accomplished!

Berangkat dari keinginan melepas penat dari perkuliahan sejenak, saya, Tia, dan Cahya memutuskan untuk menonton salah satu pementasan dari serangkaian acara HELATEATER Salihara (Juni-Juli 2013). Pementasan ini berjudul The Smell of the Soul. Dibawakan oleh ERIKA BATDORF (Kanada) berkolaborasi dengan ARWINDA (Jerman).

Sekilas cerita:

Ini kabaret interaktif tentang maut dan kehancuran, yang lucu sekaligus merongrong pemirsa. Tentang tiga ekor kumbang (Silphidae, Necrophini, Kafer) dan Lacrymosa yang biasa memakan mayat, kini bernafsu memakan manusia yang masih hidup. Sebabnya, mereka menghidu kematian pada manusia yang masih hidup itu. Ketika mereka tidak bisa menghidu jiwa manusia padahal manusia itu masih hidup, itulah saat kematian manusia dan waktunya mereka makan. Mereka mengajak penonton berperan sebagai calon mangsa mereka. Sebuah lakon yang menertawakan maut seraya bernyanyi bersama.
(sumber: Buku Acara HELATEATER Salihara)

Pemain dan tim produksi:

Erika Batdorf sebagai Silphidae
Lisa Schamberger sebagai Necrophini
Christian Bestle sebagai Kafer
Retno Sayekti Lawu sebagai Lacrymosa

Kreator: Erika Batdorf & Arwinda
Sutradara: Erika Batdorf
Penulis: Erika Batdorf
Produser: Sari Madjid & Ines Somerella
Penata Musik: Lisa Schamberger
(sumber: Buku Acara HELATEATER Salihara)

Sedikit komentar dan pengakuan:

Saya tidak kecewa, justru merasa senang.
Secara keseluruhan, pementasan ini lucu dan menyenangkan, serta penuh dengan kritik. Kritik-kritik halus yang menyiratkan kebenaran. Kritik terhadap perilaku manusia yang tidak pernah mencoba bersahabat dengan makhluk lainnya. Kritik yang mengangkat permasalahan mengenai hubungan manusia dengan bumi yang ditinggalinya, bumi sang ibu pertiwi. As we know, permasalahan manusia ini memang tidak akan pernah selesai jika kesadaran manusia itu  sendiri tidak juga muncul. The Smell of the Soul adalah pementasan yang sarat dengan dialog-dialog kecil nan menggelitik, sehingga membuat otak dengan lekas mencerna pesan di baliknya.

Adapun beberapa penggalan dialog menarik yang saya sukai: "We (the bugs) know you, human, better than you know your self", "We don't try to kill you, but you kill us easily", "Human kill easily", etc. Dialog-dialog kecil yang menancap. Dialog-dialog yang buat pikir tumbuh mengembangkan pikiran. "Kill or not to kill?"

Dalam pementasan ini, dikisahkan bahwa mereka, para kumbang, pula meragukan keberadaan jiwa dalam diri manusia. Dari awal hingga akhir pertunjukkan, mereka mencoba menemukan "smell of the soul from the human", but they didn't find itThey can't smell it. Mereka merasa bahwa manusia-manusia ini sudah mati. Manusia-manusia ini tidak punya jiwa. Mereka telah mati. Paling tidak, mereka telah mati sebagian. Partially

Hal lain yang membuat pementasan ini beda dari pementasan-pementasan yang pernah saya tonton sebelumnya adalah: bahwa sepanjang pementasan, mereka, para kumbang, dengan lincah mencoba berinteraksi dengan para manusia yang datang menonton.

Hal paling mencengangkan lainnya dari The Smell of the soul datang dari suara pemeran Silphidae dan Necrophini. Necrophini memainkan akordeonnya dengan sangat indah. Suara  Silphidae dan Necrophini ketika menyanyikan beberapa lagu juga sungguh tak kalah dengan pementas dalam negeri. Sungguh, ini pertunjukkan musikal yang amat memanjakan telinga. 

Menariknya lagi adalah ketika para kumbang itu menantang manusia-manusia ini untuk tidak membunuh seekor binatang kecil-pun malam ini dan malam-malam seterusnya. Bisakah?

Pada akhirnya, dapat disimpulkan bahwa inti dari segala cerita ini menurut saya adalah, bahwa manusia harus memulai persahabatan. Dengan alam. Juga bersahabat dengan binatang-binatang kecil yang ada, seperti kumbang misalnya, atau juga mungkin binatang 'menggelikan' lainnya. Satu pemahaman terpenting yang harus ditanamkan segera ialah, bahwa mereka semua tetap makhluk pendamping manusia. Begitu katanya.

Manusia, sebagai makhluk berjiwa, harus juga menghargai keberadaan makhluk pendamping lainnya. Sekalipun the bugs.

Dialog-dialog dalam The Smell of the Soul disajikan dalam bahasa Inggris, meskipun ada juga beberapa dialog yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. 
Musik - Penampilan - Dialog - Cerita - Pesan dari pementasan ini dipadukan dengan begitu apik. Interaktif, karena penonton pun diajak ikut berdialog dan terlibat.
Meskipun ada yang sedikit mengganjal (kurang tek-toknya percakapan antara Silphidae dan Lacrymosa/ kerumitan pada salah satu dialog Kafer yang disampaikan dalam bahasa Jerman -tak disertai terjemahan- misalnya), namun pementasan ini rasanya memuaskan. Tidak menyisakan penyesalan telah jauh-jauh datang menghabiskan malam.

NEXT: WARM (Teater-Sirkus) by Rictus (Prancis). 14 - 15 Juni 2013. 08.00 pm. Teater Salihara. (Amin, semoga jadi dan nggak batal)

sumber and more infohttp://salihara.org/event/2013/03/26/helateater-salihara-2013

Bonus:

Terlebih lagi, yang lebih lebih menyenangkan adalah, "bisa foto bersama para pemain"! Yeay!



left - right: cahya, Retno, Batdorf, Tia, Schamberger, Bestle, me.