Tuesday, January 22, 2013

Vakansi di Jogjakarta. (Part I)

Begitu banyak ucapan Terima Kasih yang sebelumnya aku ucapkan kepada mereka yang terlibat dalam serangkaian perjalanan kemarin. Tak cukup rasanya jika tak aku bagi kisah 7 hari itu di sini.
Baiklah akan kumulai kisah ini dari awal sekali.

Hari 1, Senin 14 Januari 2013.
BEGINNING.
Kubuka mataku pukul 08.00 pagi. Kepalaku masih berputar karena biasanya tak sepagi itu aku bangun. Apalagi dalam keadaan libur begini. Tapi, memang harus kukorbankan egoku untuk bangun lebih pagi, karena hari ini, perjalananku akan dimulai. Hore!
Aku mandi dan kemudian mempersiapkan beberapa perlengkapan penting yang sebelumnya belum sempat aku masukkan ke dalam tas.
FIUH! Selesai berbenah, kutelepon salah satu perusahaan taksi untuk memesan satu.

Pukul 10.30, taksi datang dan menunggu depan rumahku. Aku harus memulai perjalananku ke perhentian pertama, halte Shuttle Bus Gading Serpong. Sebenarnya, bisa saja aku menggunakan angkutan umum, tapi mengingat pesan dari ibuku yang khawatir akan keadaanku dengan dua tas di tangan, kuputuskan mengikuti kata-katanya untuk menggunakan jasa taksi.
Sepanjang perjalanan, supir taksi yang kutumpangi tak henti-hentinya mengajakku bercerita. Ramah sekali orang ini, pikirku. Ia berpesan pula agar lain kali aku langsung saja menelepon dirinya jika aku butuh bepergian dengan taksi. Tenang, akan kuingat pesan itu, Pak.
Sampai di Gading Serpong, aku agak malas melangkahkan kakiku langsung ke halte Shuttle Bus. Maka, kuputuskan untuk singgah sebentar di Summarecon Mal Serpong. Aku memesan secangkir coklat dingin untuk menemani pagi hariku. Nyaman rasanya ketika cairan coklat dingin menyentuh tenggorokanku. Selesai dari situ, aku mampir ke toko roti untuk membeli sedikit bekal untuk di perjalanan.

Hap! Selesai sudah waktuku untuk berkeliling di mal. Edith, seorang teman yang berjanji untuk bertemu di halte Shuttle Bus itu sudah mengabariku bahwa ia akan segera sampai. Kulangkahkan kakiku keluar dari mal, dan siap menuju halte Shuttle Bus.

Sampailah aku di perhentian pertamaku. Setelah bertemu dengan Edith dan membeli tiket perjalanan, aku bersama Edith berangkat ke Kelapa Gading dengan menggunakan jasa Shuttle Bus Gading Serpong - Kelapa Gading. 2 jam perjalanan kuhabiskan dengan terlelap. Hanya sebentar aku sempat membuka mata untuk mengamati pemandangan Jakarta dari atas jalan tol.

Sampai di Kelapa Gading, aku bersama Edith berjalan menuju Mal Kelapa Gading, tempat kami berjanji untuk bertemu dengan dua orang teman lainnya, Maltal dan Dimas. Waktu itu kurang lebih sudah pukul 2 siang. Kami berempat segera meluncur ke tempat perhentianku yang ketiga, rumah Maltal. Di sana aku diijinkan untuk makan siang dan mencicipi kue buatan Maltal. Banana Cake dan Carrot Cake. Enak! Maltal ternyata pintar juga memasak kue.

Sembari menunggu sore hari, aku bermain dengan Nabilla, seorang anak perempuan kecil yang tinggal di rumah Maltal. Ia suka bercerita dan ternyata bahasa Inggrisnya bagus juga, meskipun ada saja salah-salah di beberapa kalimat. Tapi, aku nikmati saja percakapan random-ku dengan Nabilla, aku suka bermain dengan anak kecil. Maklum, aku kan tidak punya adik.

Pukul 5 sore, temanku yang lain bernama Aan mengajak kami berempat untuk bersama-sama pergi ke perhentianku yang keempat, Stasiun Senen. Aan, Dimas, Maltal, Edith, serta aku tiba di Stasiun Senen pukul setengah 6 sore. Setelah menukar tiket dan berkumpul dengan seorang teman perjalanan kami yang lain bernama Otheb, kami berenam pun memutuskan untuk mencari makan sambil menunggu teman perjalanan yang terakhir, Stella.

Pukul setengah 7 malam, kami sudah lengkap bertujuh. Ditemani obrolan singkat dan sedikit kue buatan maltal, kami menunggu menit-menit keberangkatan kami ke Jogja. Tidak sabar rasanya! Jogjakarta, aku akhirnya berkesempatan melihat dirimu.

Tepat pukul 19.30, kami telah menunggu kedatangan kereta kami di pinggir peron. Bunyi 'cuff cuff, cuff cuff' yang biasa terdengar dari kereta rupanya semakin mendekat. Ya, akhirnya kereta yang akan kami tumpangi sampai di depan mata! Kami bertujuh mantap melangkahkan kaki ke dalam kereta. Setelah menemui nomor bangku yang benar, kamipun duduk dengan tenang. AKHIRNYA, kami mantapkan langkah awal kami menuju Jogjakarta!

Tiket pergi ke Jogjakarta. Kereta Bisnis. Senja Utama Yogya.

Di kereta, waktu yang bergulir kami habiskan dengan berbincang, makan, bercerita, mendengarkan lagu, bahkan hanya sekedar diam dan tidur. Hampir 10 jam lamanya kami ada di dalam kereta sebelum akhirnya kami injakkan kaki kami di tanah Jogjakarta. Stasiun Tugu jadi titik awal perjalanan kami di daerah Istimewa ini. AKHIRNYA, SAMPAI juga aku di perhentian terakhirku. Senang!

Stasiun Jogjakarta :)

Pagi itu (atau Subuh itu), kami dijemput oleh adik dari Edith. Ya, di Jogjakarta ini, kami semua akan menginap di rumah Edith yang ditinggali oleh adknya bernama Yoseph. Terima kasih, Edith dan Yoseph :).
Badan yang hampir remuk dan pegal ini akhirnya dapat kami istirahatkan sejenak sebelum kami mulai perjalanan mengarungi Jogjakarta. 2 atau 3 jam mungkin cukup.

Hari 2, Selasa 15 Januari 2013.
KERATON - Warung Makan Bu Ageng - Taman Pelangi - House of Raminten

Susah payah kami semua bangun dari nyenyaknya tidur. Wajar, badan kami memang butuh istirahat, tapi, semangat yang membuncah pada akhirnya bisa membuat kami mandi dan siap untuk memulai perjalanan.

Memutuskan tempat awal yang akan kami kunjungi bukan hal yang memakan waktu lama. Dengan cepat, kami semua memutuskan untuk meluncur ke Keraton Ngayogyakarta. Kami hanya ber7. Yoseph, sayangnya tidak dapat ikut serta dalam perjalanan kami. 

Dulu sekali, waktu aku masih SMP, aku sempat mengunjungi Jogjakarta. Tapi, aku tidak berkesempatan mengunjungi Keraton. Aku hanya sempat mampir ke rumah seorang Sultan pada jaman dahulu. Ah, itu sudah lama sekali, aku sudah tak begitu ingat detil ceritanya.
Kesempatan mengunjungi Keraton kali ini membuat aku girang. Kami tidak langsung mengunjungi Keraton, tapi kunjungan ini diawali dengan melihat pameran benda-benda Jogjakarta. Ada kereta dan mobil jaman dahulu, gamelan dan seperangkat alat musik khas Jawa yang bisa aku nikmati. Sejumlah Rp 5.000,- saja yang aku keluarkan untuk tiket masuk melihat pameran ini plus Rp 3.000,- tambahan untuk mendapat ijin menggunakan kamera. Wisata yang tidak menguras banyak uang menurutku.




Setelah puas berkeliling, ah, hujan pagi turun membasahi Jogjakarta. Aku dan teman-teman hanya bisa duduk-duduk di pinggiran untuk menunggu hujan reda. Maltal memilih untuk menyendiri. Ia tampaknya menikmati hujan. Biarkanlah ia kagumi rintik hujan yang turun, sedang aku, memilih untuk mencari kesibukan lain.
Awan tampaknya mengijinkan kami untuk melakukan perjalanan lebih lanjut, sehingga hujan tidak lagi sederas tadi. Kami ber7 melanjutkan perjalanan ini ke Keraton. Aku lupa berapa uang yang aku keluarkan untuk membayar tiket masuk. Yang aku ingat, untuk menggunakan kamera di Keraton, aku harus menambah biaya sebesar 1000 rupiah. Tak apalah.
Akhirnya, aku bisa melihat isi Keraton. Ada bedug khas jaman dulu, lukisan-lukisan, batik-batik, tempat duduk yang digunakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, dan masih banyak lagi!

Foto bersama di depan Keraton.

Meja dan kursi yang dulu digunakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VIII

Puas melihat harta sejarah di dalam Keraton ini, kami bertujuh melangkahkan kaki keluar kawasan Keraton, tepat pukul 13.15. Keraton Jogjakarta ditutup untuk wisatawan pukul 13.30.

Perut lapar pun sudah tak bisa ditahan lagi. Kami bergerak ke Rumah Makan yang bernama Warung Makan Bu Ageng atas rekomendasi Aan. Ternyata rumah makan ini milik Mas Butet Kertaradjesa, seniman kawakan itu. Ingin sekali aku berjumpa dengan beliau hanya untuk berfoto bersama dan akhirnya keinginanku terwujud. Aku dan teman-teman mendapatkan kesempatan untuk foto bersama. Senang sekali rasanya.



Di tempat makan itu, aku memesan Nasi Campur Lele Njingkrung. Seporsi Nasi Campur ini berisi abon ikan tuna, keripik kentang, areh, sambal Kutai, kerupuk legendar dan Lele goreng yang waktu itu aku daultakan menjadi lauk utama makan siangku. Nikmat. Untuk minumnya, aku pesan Es Cincau Hijau dan Es Lidah Buaya. Rakus memang, tapi aku rasa kedua minuman ini bermanfaat untuk meredakan panas dalam yang sering aku derita.




Di tempat ini, Nina, yang merupakan teman kami bertujuh, datang untuk menemui kami. Ia membawa seorang teman lain bernama Theo atau yang biasa dipanggil Cungkring. Nina ini tinggal di Solo dan ia datang ke Jogjakarta untuk ikut liburan bersama kami. Senang rasanya, personil kami bertambah ramai. Cungkring juga membantu kami dengan menceritakan tempat-tempat yang asik di Jogjakarta.

Usai makan siang, kami bertujuh plus Nina (Mbak Nun) pulang ke rumah Edith. Cungkring pulang juga namun tidak bersama kami. Di rumah, kami menghabiskan waktu untuk menunggu malam dengan bermain BANG! dan Saboteur. Permainan kartu yang menyenangkan dan lumayan menarik. Ini bisa jadi rekomendasi permainan untuk kalian, loh! 

Malam itu, kami putuskan untuk menyambangi wisata malam 'Taman Pelangi' dan makan malam di 'House of Raminten'. Taman Pelangi ini menyuguhkan bentuk-bentuk menarik yang dihiasi dengan lampu-lampu. Macam-macam karakternya. Dari tokoh kartun, binatang, sampai wajah Presiden. Kami mengitari Taman Pelangi dan menikmati setiap pijaran cahaya dari lampu-lampu yang ada. Menarik.

Contoh karakter di Taman Pelangi. Masih banyak karakter berlampu lainnya!

Wajah mantan Presiden RI: Ibu Megawati di Taman Pelangi


Puas berkeliling memandangi cahaya dan berfoto-foto, perut kami sudah minta diisi. Rasa penasaran kami terhadap House of Raminten pun terjawab pula malam itu. Ya, kami makan malam di House of Raminten. Katanya, tempat makan ini sudah sangat terkenal. Pelayan dan pelayanannya unik. Yang paling penting, harganya murah dan terjangkau! Setelah melihat dan menikmati sendiri, ternyata memang makanan di House of Raminten berpotensi membuat perut kenyang tanpa menyebabkan kantong mahasiswa seperti kami kering. Sego kucing yang aku pesan malam itu harganya hanya 1000 rupiah, lengkap dengan tempe teri serta sambal yang mantap! Awalnya, aku pikir sego kucingnya sedikit, makanya aku pesan sego kucing double. Ternyata, 2 sego kucing saja berhasil membuat perutku tambah maju. Apalagi, aku juga kalap malam itu dengan menambah pesanan sate ayam, sate ati ampla, tahu bacem, serta es krim rasa green tea. Haha. Untuk minumnya, aku pesan jeruk nipis madu hangat. Lagi - lagi untuk menyembuhkan panas dalam.
Di House of Raminten, Cungkring datang lagi untuk meramaikan suasana. Tapi, yang menginap di rumah hanya Mbak Nun, Cungkring pulang lagi setelah itu. Tidak ikut bersama kami.

ice cream green tea dan jeruk nipis madu hangat


Es krim bakar. ENAK!
Malam itu jumlah kami berdelapan plus Yoseph.
BANG! dan Saboteur menemani malam hari kami (lagi). Setelah lewat tengah malam, aku lupa pukul berapa, rasa kantuk sudah tak dapat ditahan lagi. Kami memutuskan untuk tidur.

Tidak semudah itu ternyata untuk memulai tidur, seorang teman ingin membagi cerita pada malam itu, sehingga kami, berlima dari kaum hawa, tidak tidur hingga menjelang subuh. Memang benar kata orang, wanita-wanita sangat suka bercerita. Haha.

Akhirnya, rasa kantuk sudah mendekati limit kesabaran, sehingga kami mau tidak mau harus tidur. Perjalanan hari ketiga segera menanti. :)

Terima Kasih JOGJAKARTA

Tentu, kesempatan ini tidak datang dua kali.
Kesempatan untuk meninggalkan Jakarta demi sejenak menghirup dan merasakan hawa Jogjakarta.
Kesempatan yang membuatku dapat menikmati suatu keindahan baru bersama teman-teman tersayang.

14-20 Januari 2013

7 hari yang menjadi memori lewat serangkaian cerita.
Ditemani 6 orang teman yang selalu bersama.
Ditambah 3 orang teman lain yang turut ikut serta dalam beberapa bagian dalam serangkaian kenangan ini.
1 hari yang kulewati untuk menikmati perjalanan menuju Jogjakarta.
5 hari yang boleh Tuhan berikan untuk aku nikmati kemegahan Jawa Tengah.
1 hari yang menjadi langkah akhir perjalananku dengan kembali pulang ke Jakarta.

Akhirnya, hanya satu gabungan kata yang dapat kuucapkan kepada kalian semua yang terlibat di dalamnya. Terima Kasih.

Terima Kasih kepada kalian yang mau bersama-sama merencanakan perjalanan ini.

Terima Kasih kepada kalian yang mau berbagi.

Terima Kasih kepada kalian yang mau menyumbangkan berbagai hal dalam 7 hari yang begitu menyenangkan.

Terima Kasih kepada kalian yang mau menciptakan semua kebahagiaan ini. Sungguh, cerita ini akan kucatat dan kusimpan dalam buku harian di dalam otakku.

Terima Kasih kepada kalian semua yang mau membagi cerita.

Terima Kasih kepada kalian semua yang memperlakukanku dengan baik, meski, berbagai rasa manis dan pahit ikut bersatu di dalamnya.

Terima Kasih kepada KAMU yang menyediakan tempat kami semua bermalam, yang menyediakan sarana untuk berkeliling Jawa Tengah.

Terima Kasih kepada KAMU yang kupikir awalnya misterius, tapi sempat meluangkan waktumu untuk sekedar bercerita dan berbagi pengalaman denganku. Sungguh, aku butuh momen-momen seperti itu lagi. Cerita yang KAMU bagi adalah pelajaran baru buatku.

Terima Kasih untuk 7 hari yang menurutku, istimewa.

JOGJAKARTA, Terima Kasih untuk kedua tanganmu yang menyambut kedatangan kami dengan hangat. Untuk bagian-bagian kecil dari kotamu yang senantiasa menerima kami berkunjung.

TERIMA KASIH kepada SEMESTA yang mengijinkan kami melakukan perjalanan ini. 
TERIMA KASIH :)

Saturday, January 12, 2013

Trip to Jogjakarta! Yeaaaaaaaaaaah!

Akhirnya gue punya rencana liburan, setelah sekian lama gue nggak bisa liburan ke tempat yang jauh-jauh. Hahaha.

Gue akan pergi ke JOGJAKARTA! Woohooo!

Gue akan pergi sama temen-temen dari KMK UI. Asiiik!

Semoga liburan ini menyenangkan. Nanti pas balik, gue akan bagi cerita gue di blog ini! :)

CIAO

Be a PO!

Kali ini gue mau cerita tentang perjalanan gue menjadi Project Officer Napak Tilas PMKAJ US 2013. Haha.

First of all, gue mau ngejelasin apa itu Napak Tilas. Napak Tilas itu adalah perjalanan yang ditempuh menggunakan kaki sendiri dari DEPOK sampai GEREJA KATEDRAL JAKARTA. Nah bayangin aja deh tuh jauhnya kayak gimana, kaki lo pegelnya kayak gimana! Hihi.

Kenapa Napak Tilas diadain? Salah satunya itu sebenernya untuk memperingati tri hari suci dalam agama Katolik. Napak Tilas ini diadainnya ketika malam peralihan dari Kamis Putih ke Jumat Agung. Agak asing ya istilah-istilahnya? Maklum, ini istilah keagamaan soalnya. :D

Naaaah, Napak Tilas ini merupakan salah satu acara yang dirancang oleh suatu unit kegiatan bernama Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta Unit Selatan/PMKAJ US (Seluruh universitas yang tergabung di bagian Selatan Jakarta, kayak UI, UG, UP, PNJ, dll.).

Daaaaaaaaaan, PO Napak Tilas tahun ini adalah gue. Huftw. Akhirnya gue. Haha.

Agak lucu sih sebenernya karena awalnya gue udah berniat dengan teguh, gue nggak mau jadi PO Napak Tilas tahun ini. Terus waktu demi waktu, gue pengen SEDIKIT jadi PO karena gue mau Napak Tilas tetep ada. Ini salah satu acara PMKAJ US yang oke banget! Sayang kalo nggak diadain cuma karena nggak ketemu PO.

Gue masih terus bersikukuh nggak mau jadi PO, terlebih setelah gue kena HEPATITIS. Gue nggak akan boleh kecapean, apalagi harus ngurusin Napak Tilas yang pasti bakalan berat. Gue juga nggak sanggup kalo harus ngedanus/ngamen tiap minggu. Jadinya gue tetep nggak mau jadi PO. Gue menghindari wisma SY. Gue jarang banget ke wisma SY nggak kayak semester lalu yang gue sering banget ke wisma. Ah, pokoknya gue jarang-jarangin main deh. 

Sampe Januari, gue denger dari Titot (Koordinator I PMKAJ US), dia belum dapet PO Napak Tilas. Terus gue juga denger hal yang sama dari Samzlee (Koordinator II PMKAJ US), dia juga masih mencari-cari yang akan menjadi PO Napak Tilas. Gue disitu agak mikir, duh, kalo sampe nggak ada PO gimana. Gue galau-galau gimana gitu deh. Masalahnya, nyokap gue juga waktu itu nggak terlalu ngedukung lagi gue sibuk-sibukkan gitu, kondisi gue kan yaaaaaaaaa, agak rentan ya terhadap penyakit. Jadi awalnya, nyokap gue bilang, abis gue turun dari KOORFAK FIB, gue jangan lagi deh aktif-aktif gitu, kasian badan gue.

Kegalauan gue masih di posisi TIDAK sampai suatu hari gue ketemu si Titot dan dia bilang ke gue, kalo emang bener-bener nggak ada PO Napak Tilas. Bisa aja sih Open Tender gitu buat nyari PO, tapi kan ya agak gimana gitu. Dia ngejelasin lagi panjang lebaaaaaaaaaaaar sambil ngajak gue jadi PO.

Finally, agak murah sih sebenernya, tapi gue akhirnya mau jadi PO. Gue mau Napak Tilas tetep ada, bro! Haha. Keputusan ini juga udah gue bicarain sama nyokap dan dia ngeiyain akhirnya. Intinya, dia mau gue bisa bagi waktu antara kuliah, panitia/organisasi, dan kesehatan gue. Dia nggak mau gue sampe jatuh ke lubang HEPATITIS lagi. Hehe, doain aja gue sehat sentosa selalu yaa! :D

Dulu,tahun pertama gue jadi mahasiswa baru, gue jalan kaki sih di acara Napak Tilas. Tahun kedua gue jadi mahasiswa, gue tergabung ke kepanitiaan Napak Tilas, dipilih jadi Sekretaris. Tahun ketiga alias tahun ini, gue jadi PO, haha.

Mengorbankan waktu liburan buat mencari-cari dan mengumpulkan panitia serta sibuk mikirin proposal sih, tapi, yaaaa, memang ada sesuatu yang harus dikorbankan toh ketika kita memilih sesuatu yang lainnya?

Sebenernya, yang mau gue bagi disini adalah, ya, jangan takut buat mengambil suatu keputusan. Emang sih, Napak Tilas ini belum terlaksana, tapi berikanlah diri lo untuk sesuatu yang bener-bener membutuhkan lo. Mungkin nantinya kepuasan yang lo alami ketika acara ini berhasil terlaksana adalah kepuasan yang bener-bener nggak bisa lo cari di manapun (ya, semoga berhasil yaaa! hehe. amin).

Semoga acara Napak Tilas ini tetep lancar ya pelaksanaannya kayak tahun lalu ketika yang jadi PO adalah Samzlee. Hehe. Semoga pilihan gue menjadi PO adalah pilihan yang benar. 

We'll see and we'll pray :D

Selamat Liburan
!!!

Wednesday, January 9, 2013

SOCIAL MEDIA dan ASAL MUASAL AAHHCCIII

Oke, ini post terakhir gue untuk hari ini. Post terakhir dari keroyokan post-post gue hari ini. Hehe.
Gue cuma mau share id-id socmed gue kok, mana tau kalo ada yang mau ngepoin gue lebih lanjut, bisa langsung nge-add. Hehe.

Id gue nggak susah kok, cuma punya 1 username untuk semuaaaaaaaaaaa socmed. Haha.

Twitter, Instagram, LINE, Path, Pinterest, Tumblr: @aahhcciii
Foursquare, Facebook: Jeanett Verica
YM: girlz_chemical
MSN: vericaicha@hotmail.com
Google+: vericaicha@gmail.com  

Kalo ada yang nanya, kenapa 'aahhcciii'? Sebenernya jawabannya panjaaaaaaaaaaang banget. Intinya, aahhcciii itu adalah ICHA (nama panggilan gue) yang dibalik jadi AHCI. Hurufnya tadinya mau didouble jadi AAHHCCII, tapi karena ada satu dan lain hal ke-error-an, jadilah huruf 'I' jadi 3. Begitu.

Selamat meng-add gue, yaaaaaaaaa! Thank you!
:D

Be a WRITER!

Oke,
Ini udah post ke-3 gue pada hari ini. Sekalinya nulis, banyaaaaaaaaaaak banget postnya. Sekalinya nggak nulis, sepiiiiiiiiiiiiiiiiiii banget blognya. HAHA, Itulah gue!

Tapiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii, salah satu resolusi tahun 2013 gue adalah LEBIH RAJIN NGEBLOG! Percuma dong di Social Media lain eksis banget, tapi di BLOG malah sepi. Makanya, gue mau jadi gue yang rajin NGEBLOG, jadi orang yang blog-nya punya post yang bermutu dan nggak muncul keroyokan kayak yang udah-udah. GUE HARUS MULAI RUTIN NULIS BLOG INI.

Di tahun 2013 ini, gue juga pengen lebih rajin nulis hal lain selain BLOG. Nulis apapun di sela-sela kegiatan kampus gue. Gue pengen jadi penulis. Selama ini, gue punya ide, tapi gue nggak punya keberanian buat nuangin itu jadi suatu karya utuh. Untuk itu, tahun ini gue harus punya karya! Gue harus bisa nuangin ide-ide itu jadi sebuah tulisan.
Nggak cuma nulis BLOG, gue mau menghasilkan sebuah karya. Karya apapun. Bagus atau enggak juga ya gue nggak peduli, yang penting gue harus punya karya. Doain aja ya. 
:D

My 20th Birthday ...

Akhirnya, 6 Januari 2013 kemarin, gue resmi berumur 20 tahun. Alangkah syenangnya menjadi lebih dewasa. Alangkah syedihnya, makin banyak aja deh rintangan dalam hidup gue. Hehe!

Yap, setelah melewati perjalanan panjang menghadapi berbagai cobaan (as I have told before), seperti sakitlah, nilai UTS jelek lah, inilah itulah, gue akhirnya berhasil menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Yakin? Yakin dong! :D

Umur 20 bukan sekedar angka 2 dan angka 0. Buat gue, 20 itu berarti menjadi lebih dewasa, menjadi lebih bijaksana, pandai bersikap, pandai mengenal situasi, pandai mengendalikan diri, termasuk mengendalikan emosi dan perasaan. 20 bukan sekedar angka setelah 19 dan sebelum 21 buat gue. 20 itu hebat! Gue berhasil ngelewatin 20 tahun di dunia ini dengan berbagai cara dan peristiwa. 

Anyway, di ulang tahun yang ke-20 kemarin, gue dan keluarga ngerayain bareng dengan makan-makan di Imperial Lamian (untuk yang kedua kalinya). Makanannya yaaa masih aja seputar lamian, bebek panggang, dan Babi. Hehe, enak banget sih yaaa soalnyaa...

Setelah makan, gue sekeluarga ya kumpul-kumpul aja di rumah. Hmm, emang sih menurut gue perayaannya nggak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Kalo tahun sebelum-sebelumnya, gue pasti jalan-jalannya seharian, ini nggak. Tapi seneng aja gue. Udah umur 20 loh sekarang! Udah bukan anak kecil lagi, udah bukan mahasiswa taman kanak-kanak lagi kayak yang dibilang Oma sama Opa gue. Haha, gue orangnya childish banget emang kalo udah kumpul sama keluarga.

Finally,

Gue bersyukur untuk umur 20 di tahun 2013 ini. 20 itu GUE! Haha, dan gue, harus bisa ngelewatin umur 20 ini nanti dengan baik. Harus, nggak pake tapi-tapi!



Finally - Bersyukur :D

Finally, gue punya HP baru! Android haha... (bulan lalu)

Finally, tahun 2013 dateng dan nggak jadi kiamat. Yeay! (9 hari yang lalu)

Finally, umur gue memasukki kepala 2. Gue umur 20 coy! (3 hari yang lalu)

Finally, gue sudah lengser dari jabatan gue sebagai Koordinator KUKSA FIB UI (1 hari yang lalu)

Finally, gue mengiyakan untuk jadi PO Napak Tilas PMKAJ US (1 hari yang lalu)

Finally, gue beli notes baru *ga penting* (beberapa jam yang lalu)

Finally, finally, finally! Cuma kata ini yang bisa gue ucapin buat mengungkapkan kelegaan gue atas segala sesuatunya. Kata "finally" nggak bikin gue lupa buat ngucapin kata pendampingnya, yakni "bersyukur". Meski beda bahasa, menurut gue, di mana ada "finally" harus ada ungkapan "bersyukur". Kenapa? Karena ketika kita mengucapkan "finally", kita sudah berhasil melakukan sesuatu, menyelesaikan sesuatu, bahkan mengakhiri sesuatu dengan baik. Bener dong kata gue kalo kita harus bersyukur? Jadiii, gue bersyukur buat semua yang udah gue peroleh di tahun 2012 kemarin! SUPER BERSYUKUR!! Hehe.

Akhirnya, gue udah ngelewatin tahun 2012 yang bagi gue merupakan tahun yang berat. Tahun di mana untuk pertama kalinya gue jadi pemimpin. Pemimpin sebuah organisasi berbasis kekeluargaan Katolik dengan berbagai tantangan, rintangan, masalah, hambatan, suka duka, senang sedih, daaaaaaaaaaan masih banyak lagi. Tahun di mana gue mendapatkan banyaaaaaaaaaaaak banget cobaan yang akhirnya gue yakini sebagai ujian dari Tuhan untuk mempersiapkan gue menyambut umur baru gue yang ke-20 tahun. Tahun di mana akhirnya tubuh gue terkena penyakit hepatitis. Tahun di mana gue pertama kalinya mendapatkan nilai 4,25 di UTS salah satu mata kuliah. Tahun di mana gue menghabiskan sebagian besar waktunya dengan menjomblo ria. Dan tahun yang lagi-lagi menghasilkan banyak pelajaran baru dalam perjalanan hidup gue yang penuh warna ini.

Gila, 2012 berwarna banget buat gue! Air mata banyak banget keluar dari mata gue tahun ini. Tenaga, pikiran, bahkan materi, semua turut dikeluarkan dari diri gue tahun ini.
Yaaah, itulah hidup, harus dijalanin dengan ikhlas, apapun rencana Tuhan yang ada, baik maupun buruk.

FINALLY, gue berhasil ngelewatin tahun ini dengan selamat sentosa sejahtera bahagia pada penghujung tahunnya! Yeay, ini suatu kebanggaan dan kepuasan loh buat gue.

Sekarang, di umur yang ke-20 ini, tiba saatnya gue untuk menjalani tahun 2013 ini dengan lebih penuh warna lagi. Pasti akan ada masalah yang lebih berat dan tantangan lebih besar. Tapi, tahun lalu aja gue bisa, masa tahun ini enggak?
Anyway,

 
=D